It Was Always You

cropped

It Was Always You

by
Clora Darlene

Main Casts
Im Yoon Ah | Oh Sehun

Supporting Casts
Xi Luhan | Tiffany Hwang | Others

Length | Rating | Genre
TwoshotsPG-15 | Romance, Marriage Life

“Aku ingin menikah dengan Sehun, appa, eomma” Hanya bermodalkan tekad yang kuat ia memberitahukannya. Membuka mulut manisnya namun matanya tak mampu menatap orangtuanya.

Ayahnya bangkit dari sofa lalu membanting koran yang tengah ia baca. Ibunya juga ikut berdiri di sebelah ayahnya. Raut wajah keduanya berbanding terbalik―ayahnya tampak marah, sedangkan ibunya terlihat ketakutan. Ibunya takut jika hal yang sama akan kembali terjadi.

“Apa yang kau katakan?”

Yoona menelan salivanya lalu mendongak. Membalas tatapan tajam ayahnya. “Aku ingin menikah dengan Sehun, appa

Eomma antar kau kembali ke kamar, Yoong―”

Yoona menepis tangan ibunya. “Tidak, eomma. Aku akan diam di sini” Yoona memalingkan wajahnya, kembali menatap ayahnya. “Aku akan menikah dengan Sehun, dengan persetujuan appa dan eomma ataupun tidak”

PLAK!!

“APA KAU SUDAH GILA?!! KAU INGIN MEMPERMALUKAN KELUARGAMU SENDIRI, YOONA-YA?!!”

“Aku mencintainya, appa!” Balas Yoona tak kalah besar. Setitik, dua titik, air matanya tidak bisa ia kendalikan. Rasa sakit yang ia rasakan bukanlah karena tamparan ayahnya―tamparan yang biasa ia dapatkan jika menyebutkan nama laki-laki itu―tapi ada di dalam hatinya. Di bagian terdalam hatinya. Ada retakan besar di dalamnya.

“KAU AKAN MENIKAH DENGAN LUHAN MINGGU DEPAN!! TIDAK DENGAN LAKI-LAKI MISKIN ITU! CAMKAN BAIK-BAIK, NONA MUDA!!”

Apa mempertahankan seseorang yang kita cintai selalu sesakit ini?

            Yoona duduk di pinggir ranjangnya. Sesekali ia merapihkan poninya yang menutupi kening. Kakinya menjulur ke bawah dan menunggu dentingan jam berikutnya. Jam sudah menunjukkan lewat tengah malam―sudah malam sekali dan Yoona masih menunggu sebuah pesan masuk. Tangannya masih setia menggenggam ponselnya, hingga akhirnya benda tersebut bergetar.

 

From: SH

            Keluarlah.

 

Yoona segera meraih sebuah tas ranselnya yang sudah terisi penuh dengan berbagai macam barang yang ia butuhkan untuk aksinya kali ini.

Aksi terakhirnya untuk mencapai mimpinya.

Yoona membuka jendelanya lebih lebar dari biasanya. Di bawah sana ada Sehun yang mengenakan Tuksedo Hitam dengan dasi kupu-kupu―tampan sekaligus lucu, pikir Yoona. Yoona memberikan isyarat bahwa ia akan melempar tasnya lalu dilemparnya begitu saja. Well, untung saja Sehun cepat menangkapnya.

Yoona segera naik pada kerangka jendelanya. Kini gilirannya. Tidak, dia tidak akan melemparkan dirinya lalu ditangkap Sehun seperti ia melemparkan tasnya tadi. Tidak. Harus Yoona akui bahwa ia berterimakasih kepada ayahnya karena telah―memaksanya―memasukkannya ke dalam sebuah klub rock climbing tiga tahun terakhir tanpa alasan yang jelas. Latihannya selama ini tidak sia-sia dan sedang ia buktikan dalam aksinya kali ini.

Kabur dari rumah.

Ya, Yoona memilih untuk meninggalkan rumahnya yang sebesar istana. Meninggalkan seluruh kenyamanan di dalamnya.

“Kau terlihat mengagumkan” Gumam Sehun lalu tertawa kecil memamerkan deretan gigi putihnya sembari berjalan bersama Yoona menuju mobil bututnya.

“Oh, astaga, kau baru menyadarinya? Dan kenapa kau sudah memakai bajumu? Aku bahkan belum memakai gaunku” Ucapnya.

“Aku tidak sabar” Jawabnya.

Yoona menyeringai. “Kau selalu seperti itu”

Sehun menarik tangan Yoona lalu menyelipkan jemarinya di antara jemari Yoona. “Kau tahukan kita harus cepat? Para tamu undangan sudah menunggu lama”

            “Yuri, bantu aku” Yoona membalikkan badannya dan meminta Yuri untuk mengacingkan bagian belakang gaun putihnya. “Apa aku telat?” Yoona merapihkan gaunnya yang hanya sepanjang lutut dan mengenakan platform putihnya.

“Satu menit” Jawab Yuri melirik arlojinya tetapi tetap mengancingkan gaun Yoona dengan cepat. “Sudah”

“Bungaku!”

“Oh, astaga, Yoong!” Yuri segera berlari kecil menuju sudut ruangan yang lainnya lalu kembali dan menyerahkan sebuket Bunga Fressia. “Kau siap?”

“Aku tidak pernah sesiap ini” Jawab Yoona dengan sebuah senyuman yakin. “Baiklah, kita mulai”

Yoona berdiri di depan sebuah pintu yang masih tertutup. Sedangkan Yuri sudah berdiri di sebelah pintu tersebut lalu akhirnya ia menariknya. Yoona dapat melihat para tamu undangannya langsung berdiri saat pintu tersebut dibuka. Dan Yoona dapat melihatnya―berdiri di ujung sana dengan Tuksedo Hitam dan dasi kupu-kupu yang membuatnya terlihat tampan sekaligus lucu.

Ia melangkahkan kakinya pelan, hingga ia dan Sehun berdiri berdampingan di hadapan seorang Pendeta yang tengah membacakannya berbagai ayat Alkitab, hingga Pendeta meminta keduanya untuk saling berhadapan dan saling menggenggam tangan.

“Apa Anda, Saudara Oh Sehun, menerima Saudari Im Yoon Ah sebagai istri Anda di kala senang maupun sedih, kaya ataupun miskin, sakit ataupun sehat, hingga maut memisahkan?”

“Ya, tentu saja aku menerimanya” Jawab Sehun dengan sebuah senyum manis. Ia menatap manik madu Yoona dalam, manik madu kesukaan Sehun.

Ingin rasanya jantung Yoona keluar saat Sehun tersenyum manis kepadanya dan menatap dalamnya. Yoona dapat melihatnya pada iris pure hazel Sehun―kebahagiaan. Betapa bahagia dirinya saat ia bisa bersama Sehun, betapa bahagia dirinya selama bersama Sehun selama ini. Yoona dapat melihatnya, seperti menonton pada iris pure hazel Sehun.

“Apa Anda, Saudari Im Yoon Ah, menerima Saudara Oh Sehun sebagai suami Anda di kala senang maupun sedih, kaya ataupun miskin, sakit ataupun sehat, hingga mau memisahkan?”

“Aku takut jika mautpun tak dapat memisahkan kita” Gumamnya membuat Sehun dan para tamu lainnya tertawa. “Ya, aku menerimanya dengan senang hati”

Tanpa basa-basi Sehun tiba-tiba langsung mencium bibir pink tipis Yoona. Melumatnya dengan manis dan dalam, membuat para tamu undangan bersorak untuk kebersamaan mereka yang akan tercatat ‘selamanya’ dimulai dari hari ini.

“Aku mencintaimu”

“Aku juga mencintaimu”

            Yoona membenci sinar matahari di pagi hari. Itu adalah fakta.

Ia membenci matahari karena sinar itu akan masuk ke dalam kamarnya melalui jendela dan celah tirai lalu menerpanya. Membuat tidurnya terusik dan akhirnya ia terbangun di tengah lautan kantuk.

Seperti saat ini.

Ia masih mengantuk sekali tetapi sinar matahari itu dengan lancangnya menyentuhnya. Yoona mencoba membuka kelopak matanya yang berat, mencoba beradaptasi dengan cahaya kamarnya yang tidak terlalu besar namun hangat.

Tapi, ada yang berbeda pada pagi ini.

Ia tidak mengomel betapa kesalnya ia karena harus bangun, tetapi kini senyumnya mengembang tipis. Bangun di pagi hari dan menemukan alasan mengapa hidupnya kini sangat bahagia―Sehun. Laki-laki itu masih tertidur di sebelahnya dengan rambut yang acak-acakan. Well, setelah acara pernikahan, mereka beserta para tamu undangan yang notabene adalah kerabat Sehun dan Yoona party hard. Wajar bila keduanya kini kelelahan. At least, semuanya bahagia.

Yoona kaget saat tangan Sehun menariknya lebih dekat dan mendekap Yoona. “Kau sudah bangun?” Tanya Sehun tidak membuka matanya.

“Baru saja” Jawab Yoona pelan.

Sehun hanya menggumam pelan namun matanya masih tertutup. Yoona dapat merasakan terpaan nafas Sehun pada permukaan kulitnya. Halus sekali, pikirnya.

“Kau ingin sarapan?” Tanya Yoona.

Sehun membuka matanya. Oh, iris pure hazel-nya terang sekali. “Kau memintaku memasak sepagi ini?”

“Aku yang akan memasak” Timpal Yoona.

Alis kiri Sehun terangkat. “Kita baru saja menikah dan sekarang kau ingin membunuh kita berdua?”

Bolamata Yoona terputar. Ayolah, masakannya tidak seburuk itu. “Kau terlalu berlebihan” Yoona baru saja ingin beranjak dari ranjangnya, tapi terhenti. Sialan, batinnya. Ia melirik Sehun.

“Apa?”

“Tutup matamu”

Wae?” Suara Sehun meninggi.

“Tidak bisakah kau langsung menutup matamu saja tanpa banyak bertanya, Tuan Muda?”

Sehun mendengus lalu menutup matanya. “Aku sudah melihatnya semalaman”

Yoona bergumam tidak jelas lalu lari secepat mungkin masuk ke dalam kamar mandi yang terdapat di dalam kamarnya. Well, alasan mengapa ia menyuruh Sehun menutup matanya adalah ia full-naked. Telanjang.

Yoona mengenakan pakaiannya―kaus berwarna biru langit dan hotpants putih―dan menyempatkan diri untuk membasuh mukanya. Ia memutar knop pintu lalu menemukan Sehun yang kembali mendengkur halus. Perempuan ini hanya menyuruhnya untuk menutup mata dan berakhir dengan tertidur?

Akhirnya Yoona memutuskan untuk melangkah menuju dapur.

Sandwich?” Tanyanya pada dirinya sendiri. Ia pernah membuat SandwichSandwich Tuna, lebih tepatnya. Dan, juga, Sandwich mudah untuk dibuatnya. Pikirnya. Well, walaupun setiap membuat Sandwich Yoona akan menaruh mayonnaise yang sangat banyak di dalamnya.

“Okay, Sandwich” Ucapnya pada dirinya sendiri seakan menjawab pertanyaan yang ia ajukan untuk dirinya sendiri.

Ia mengeluarkan semua bahan yang ia perlukan dari dalam kulkas. Menaruh di atas meja lalu mengenakan celemeknya.

Pagi pertama menjadi seorang istri. Senyumnya berkembang kecil, begitu juga dengan matanya. Yoona tidak dapat membohonginya―dan sebenarnya ia juga tidak berminat untuk berbohong―bahwa ia bahagia. Sangat.

“Selamat pagi” Sehun tiba-tiba datang dan memeluk Yoona dari belakang lalu mencium pipi perempuannya. Yoona terlihat terlonjak dan Sehun merasakannya, itu mengapa laki-laki dengan rambut berwarna tembaga tersebut tertawa.

“Apa yang kaulakukan?” Tanya Yoona.

“Melakukan scene kesukaanmu di setiap film roman yang kau tonton” Jawab Sehun lalu tertawa. Tentu saja, Yoona menyukai sceneback-hug’ di setiap film yang ia tonton. Seperti ini.

“Yang benar saja” Timpal Yoona lalu tertawa.

“Kau tidak ingin membunuhku dengan sandwich-mu itu, bukan?”

“Aku akan membunuhmu dengan ini” Geram Yoona lalu mengangkat pisaunya.

Sehun terkekeh pelan, kembali membuat kulit Yoona merasakan deru nafasnya. “Aku mengerti, aku mengerti” Sehun melepaskan pelukannya lalu meraih sebuah Apel dan duduk di kursi makan. “Orangtuamu pasti sedang mencarimu saat ini. Mereka pasti kaget”

Tangan Yoona yang sedari tadi lincah memotong Tomat, kini terhenti. Raut wajahnya berubah. Garis rahangnya mengeras dan mulutnya terkatup. Sinar matanya redup secara tiba-tiba. “Kenapa mereka harus kaget?”

“Karena kau tidak ada di kamarmu saat ini”

“Aku tidak akan berada di sana untuk seterusnya lagi”

“Kau yakin?”

“Kau meragukanku?” Punggung Yoona rasanya kaku sekali hanya untuk berbalik dan menatap wajah sempurna Sehun.

“Aku tidak meragukanmu”

“Kau terdengar meragukanku”

“Aku tidak meragukanmu. Aku hanya berpikir bagaimana dengan Luhan”

“Kurasa dia baik-baik saja”

“Tidak ada laki-laki yang ‘baik-baik saja’ jika calon istrinya kabur dan menikah dengan laki-laki lain” Ucap Sehun lalu membuat Yoona tertawa kecil.

“Kurasa kau benar” Timpal Yoona lalu berbalik dan menaruh sebuah piring di atas meja. Ada dua Sandwich di atasnya.

Sehun adalah orang pertama yang mengambilnya, lalu memakannya tanpa basa-basi. Baru saja menggigit dan menguyah, rahangnya berhenti bergerak.

Wae?” Kening Yoona mengerut. “Apa rasanya aneh?”

“Terlalu banyak mayonnaise. Seperti biasa” Jawab Sehun lalu menelannya.

“Kau harus mulai menyesuaikan seleramu dengan seleraku” Perempuan ini kembali tertawa. “Apa yang akan kau lakukan setelah ini?”

“Kau ingin pergi ke pantai?” Tanya Sehun balik.

            “Bagaimana jika keluargamu menemukan kita?”

“Mereka tidak akan menemukan kita” Yoona melirik Sehun yang berjalan pelan di sebelahnya sambil bergandeng tangan di bibir pantai.

“Kau yakin sekali” Tambah Sehun. Jujur saja, sebenarnya ia takut. Tidak masalah jika dirinya terluka, tapi sosok di sebelahnya ini―ia takut jika Yoona-lah yang terluka karena tindakan mereka sendiri.

“Percayalah padaku, mereka tidak akan menemukan kita” Yoona tersenyum manis lalu masuk ke dalam dekapan Sehun. Laki-laki itu melingkarkan tangannya pada pinggul kecil Yoona lalu kembali melangkah.

“Kau ingin mempunyai berapa anak?” Tanya Sehun merubah topik pembicaraan. Dan―akui saja―membuat Yoona kaget dan ingin tertawa.

“Aku ingin punya anak kembar” Jawab Yoona. “Laki-laki atau perempuan tak masalah untukku”

“Bagaimana dengan tiga pasang anak kembar? Terlihat sangat seru” Sehun tersenyum lembar, menampakkan gigi-gigi putih berderet sempurna miliknya.

“Enam anak?” Suara Yoona meninggi.

“Sebenarnya aku ingin mempunyai delapan anak” Aku Sehun.

Mata Yoona membulat. “Delapan?”

“Ya. Tiga laki-laki dan lima perempuan, atau empat laki-laki dan empat perempuan. Delapan perempuan juga tidak buruk”

“Sekarang kau yang terdengar ingin membunuhku” Timpal Yoona mengundang tawa bebas Sehun. Coba dengarkan. Tawa Sehun yang besar dan deru ombak menabrak karang-karang besar―Yoona membeku sejenak. Menatap sosok sempurna miliknya di sebelahnya ini. Ia terpaku. Waktu terhenti sejenak, memberikan Yoona kesempatan untuk menikmatinya. Menatapnya, lalu merekamnya di dalam otaknya dan tidak akan pernah menghapus setiap memori dimana Sehun berada di dalamnya.

Lalu, senyumya mengembang. “Baiklah, delapan tidak masalah”

            Hingga di sepuluh hari pertama mereka menjadi sepasang suami-istri, tawa-tawa itu masih mengelilingi mereka dan memenuhi rumah kecil nan hangat itu seperti kunang-kunang. Mereka akan pergi berjalan-jalan bersama, memasak bersama―jika Sehun tidak malas―lalu dilanjutkan dengan menonton film bersama. Membicarakan jalan mereka ke depannya.

Keadaan ini persis seperti apa yang keduanya bayangkan.

Yoona. Sehun. Dan bahagia.

“Baiklah, sudah cukup. Sekarang kita tidur” Sehun mematikan TV dengan remote control lalu menarik Yoona yang masih ingin menonton masuk ke dalam kamar dan berbaring di atas ranjang.

“Selamat malam” Sehun mengecup kening Yoona lalu tenggelam di dalam selimut.

Well, kecupan Sehun biasanya membawa mimpi yang indah untuk Yoona―itu mengapa setiap malam Yoona meminta Sehun untuk mengecup keningnya.

 

2:13 PM KST.

 

“SEHUN!!!”

Sehun terlonjak saat Yoona berteriak memanggil namanya. Membuatnya membuka mata lalu menegang.

“SEHUN!!”

“YOON―”

“Diam kau!” Seorang dengan topeng hitam menjulurkan pisaunya, mengarah pada leher Sehun dan membuatnya untuk mengatupkan mulutnya. Tetapi matanya masih menjalar menatap Yoona yang diseret oleh dua orang laki-laki lainnya. Perempuan itu masih memiliki tenaga yang cukup untuk memberontak, lalu berhasil lepas tetapi kembali tertangkap.

“YOONA!!!!” Teriak Sehun saat seorang laki-laki itu memerlakukan Yoona dengan kasar, sebagai balasan karena Yoona berani memberontak dan mencoba kabur―laki-laki itu menampar wajah mulus Yoona lalu membenturkan kepalanya pada lemari kayu. Sehun dapat melihat setitik darah pada pelipis Yoona, lalu semakin lama semakin banyak. “Jangan pernah kau menyentuh istriku dengan tangan kotormu!” Gertak Sehun.

BUGH!

Sebuah tonjokan keras mendarat pada pipinya, pengelihatannya kini menjadi berbayang. Tidak fokus. Pusing itu ada, berakar dan mulai menjalar di kepalanya. “Tutup mulutmu!”

“Kita harus kembali” Seseorang membuka suaranya.

“Cepatlah”

“SEHUN!!!”

Sehun dapat melihatnya. Yoona. Yoonanya dibawa pergi. Perempuan itu menangis dan meraung. Merintih memanggil namanya.

“Selamat tinggal, Oh Sehun-ssi

“SEHUN!!” Teriak Yoona saat ia melihat dengan mata kepalanya sendiri laki-laki bertopeng hitam itu menusukkan sebuah pisau pada perut Sehun lalu pergi. Meninggalkan Sehun sendirian, berdarah di atas ranjang tanpa ada pertolongan.

            “BERANI-BERANINYA KAU KABUR DARI RUMAH, YOONA-YA!!”

PLAK!

Tamparan itu untuk kesekian kalinya tepat mengenai pipinya. Membuatnya memerah panas. Dan kembali terisak.

Sakit sekali.

“APA KAU INGIN MENJATUHKAN NAMA KELUARGAMU SENDIRI?!!”

Yoona menggeleng pelan, air matanya masih mengalir seperti sungai dan tangannya menutupi pipinya yang baru saja ditampar ayahnya.

“Sudahlah, yeoboya. Yang terpenting adalah Yoona baik-baik saja, dia sudah pulang” Ucap ibunya, mencoba meredakan emosi ayahnya yang meluap. Ibunya lalu mendatanginya, memeluknya dengan hangat dan membelai surai cokelatnya yang berantakan.

APPA TIDAK INGIN LAGI KAU BERHUBUNGAN DENGAN LAKI-LAKI MISKIN―”

“NAMANYA SEHUN APPA!”

PLAK!

“KAU AKAN SEGERA MENIKAH DENGAN LUHAN DAN JANGAN PERNAH SEKALI-KALI KAU KABUR LAGI!!”

            Yoona duduk di hadapan kaca riasnya. Seorang hair-stylist terkenal diundang pagi ini untuk merangkai surai-surai sutranya.

“Kau terlihat sangat cantik, Nona Yoona” Perempuan itu tersenyum kagum menatap Yoona.

Yoona hanya dapat tersenyum kecil sebagai balasan atas pujian yang diberikan untuknya. Lihatlah di cermin. Make-up yang ringan, bibir pink yang merekah, dan rambut yang disanggul ke atas lalu ada tiara kecil di atas―Yoona terlihat sempurna.

“Tuan Luhan sangat beruntung” Tambah perempuan tersebut.

Dan lagi, Yoona hanya dapat tersenyum kecil.

Sudah seminggu ini Yoona tidak banyak berbicara, hampir tidak pernah berbicara. Suara yang keluar hanyalah sebuah rintihan. Saat menangis. Saat dirinya kembali teringat kejadian malam itu.

Malam dimana mata kepalanya sendiri melihat Sehun tertusuk.

Berita terakhir yang ia dengar mengenai Sehun adalah dari ibunya. Bahwa laki-laki itu sudah tidak ada lagi. Yoona ingat betapa kerasnya dirinya untuk menolak berita tersebut. Tapi, mata ibunya tidak dapat berbohong kepadanya. Yoona tahu persis mata itu―karena matanya juga seperti itu.

Laki-laki itu tidak akan pernah ada lagi untuk selanjutnya.

Pertanyaan selanjutnya adalah, seberapa benci Yoona kepada ayahnya? Ayahnya sendirilah yang menyuruh orang-orang kejam itu untuk membunuh Sehun dan menyeretnya kembali ke rumah.

 

“Dimana dia? Eomma, dimana Sehun?!”

“Dia sudah tidak ada lagi, Yoona-ya”

“DIMANA SEHUN, EOMMA?!!!”

“Jasadnya telah dikremasi dan abunya sudah dibuang ke laut, sayang”

 

“Nona Yoona?”

“Nona?”

Yoona melirik periasnya dari cermin. “Ne?” Tanyanya pelan.

“Sudah waktunya”

Luhan menutup pintu lalu menguncinya. Orangtua istrinya baru saja berkunjung untuk melihat rumah mereka―Luhan dan istrinya―dan akhirnya pulang. Luhan melangkahkan kakinya pelan menuju ruang tengah. Ia tidak menemukan siapa-siapa dan hanya TV yang masih menyala bising.

Luhan kembali melangkah, kini menuju kamar istrinya lalu mengetuk. “Yoona-ya? Keluarlah, kita makan bersama”

“Yoona?”

“Yoong?”

“Kau belum makan”

Luhan menghela nafas. Ini sudah biasa terjadi, bahkan setelah satu minggu pernikahan mereka. Ya, istrinya adalah Yoona. Im Yoona―si anak perempuan sematawayang dari pasangan Tuan dan Nyonya Im yang merupakan pemilik sekaligus pendiri I’m, Inc. yang dijodohkan dengannya. Luhan tak masalah jika ia dijodohkan karena masalah bisnis orangtua, toh pada akhirnya ia memang sudah jatuh hati untuk Yoona saat pertama kali mereka bertemu. Ya, kau benar, love at first sight.

“Keluarlah, Yoong. Jeb―”

Cklek.

“Kau sangat ribut” Tukas Yoona dingin. Yoona melemparkan tatapan tajamnya dari balik matanya yang sayu.

“Aku hanya ingin kau makan” Bantah Luhan.

“Kau terlalu banyak bicara”

“Aku tidak ingin jatuh sakit, Yoong!” Suara Luhan meninggi.

“Jangan berteriak di hadapanku” Tambah Yoona. Nada suaranya masih rendah, tidak menunjukkan ketertarikan atau emosinya meninggi. “Kau sangat berisik”

“Apa aku salah jika tidak ingin istriku jatuh sakit?!” Kini suara Luhan lebih meninggi. Hampir seperti membentak Yoona.

Mata Yoona yang awalnya sayu, kini kelopaknya terangkat. Memperlihatkan keseluruhan iris madunya yang kelam. Yang sudah tidak lagi menggambarkan adanya jiwa di dalam raga Yoona. “Istrimu? Nugu? Aku?”

Luhan terdiam. Kaget dengan respon Yoona.

“Aku tidak pernah menjadi istrimu. Kita tidak pernah menikah. Aku tidak pernah menerima perjodohan kita” Garis rahang Yoona menegas. Suaranya lebih terasa dingin dari sepuluh detik lalu.

“Tapi, aku tetap mencintaimu”

“Aku mencintai Sehun” Bantah Yoona.

“Dia sudah tidak ada. Apa kau tidak bisa―”

“Ya, aku tidak bisa” Yoona menelan salivanya dengan susah payah. Matanya beradu pandang dengan mata rusa Luhan. Bukan perih yang diakibatkan tidak berkedip, tapi bayangan itu tiba-tiba lewat di hadapannya dan memaksanya untuk melihat lagi saat ia mengatakan bahwa ia masih mencintai Sehun. Masa lalunya. Bersama Sehun. Matanya berkaca-kaca tipis.

“Sehun sudah tidak ada lagi, Yoong. Lupakanlah dia, bagaimanapun caranya”

“Aku melihatnya mati dengan mata kepalaku sendiri. Bagaimana bisa aku melupakannya?!” Yoona berteriak lalu setetes air matanya jatuh mengartikan ia tidak bisa lagi menghadapi pernyataan yang mengatakan Sehun telah tiada dan merupakan kenyataan yang harus diterimanya seumur hidupnya.

“Aku bisa menggantikannya. Aku mencintaimu, dan yang perlu kau lakukan adalah mencintaiku”

“Tetaplah bermimpi, Xi Luhan-ssi

“Suatu hari nanti kau akan mencintaiku, aku berani bersumpah, Xi Yoona-ssi!”

Yoona mendesis lalu matanya menyipit tajam. “Aku tidak suka nama baruku” Gumamnya lalu berbalik dan kembali masuk ke dalam kamarnya dan mengunci.

Satu bulan.

Tiga bulan.

Lima bulan.

Delapan bulan.

Sinar matahari. Betapa Yoona membenci hal yang satu itu. Yoona mengerang lalu meringkuk di atas ranjangnya. Kembali, ia terpaksa bangun karena sinar bodoh itu. Batinnya. Sedetik kemudian, badannya menegang. Lehernya memutar kaku hanya untuk memandang bantal di sebelahnya.

Laki-laki itu seharusnya berada di sebelahnya.

Bangun di sebelah laki-laki itu membuat Yoona mencintai sinar matahari juga. Namun, kini, tidak lagi. Yoona kembali membenci sinar matahari. Tidak ada lagi sosok laki-laki itu di sebelahnya saat ia pertama kali membuka matanya ataupun saat ia akan menutup matanya. Tidak ada lagi kecupan yang membawa mimpi indah itu, melainkan kini hanya tersisa mimpi buruk terburuknya yang datang.

Ia menghindari segala hal yang bersangkutpaut dengan Sehun. Ia tidak lagi pergi ke pantai, ia memutuskan untuk tidak akan memakan Sandwich lagi, ia tidak lagi menyukai sceneback-hug’ di setiap film yang ia tonton.

Yoona memutuskan untuk berubah.

Yoona duduk di dekat jendela kamarnya. Sudah sedari tadi malam datang. Jam sedang menunjuk pukul 2:12 AM, sudah lewat tengah malam.

Hari ini tepat delapan bulan sejak kejadian itu terjadi.

Delapan bulan tepat sejak Sehun sudah tidak ada lagi.

Dan mengapa Yoona baru menyadarinya? Setelah delapan bulan berlalu, mengapa perempuan ini baru sadar sekarang?

Yoona tidak dapat memungkirinya, namun ucapan Luhan semuanya benar.

Sehun tidak akan kembali.

Sehun benar-benar mati.

Yoona memandang sebuah cincin yang sudah lama tak ia pakai lagi. Selalu tersembunyi di balik laci meja riasnya. Diam di sebuah kotak usang yang berdebu yang tidak pernah disentuhnya. Lalu Yoona mengelusnya, merasakan dinginnya cincin pernikahannya dengan Sehun. Appa dan eomma-nya, beserta Luhan hingga saat ini tidak tahu jika ia sudah menikah dengan Sehun. Dan Yoona berharap sampai kapanpun mereka tidak akan pernah tahu.

Membiarkan rahasia kecil ini tetap menjadi miliknya seutuhnya.

            “Kau menyukainya?” Tanya Luhan.

“Ini lebih manis dari yang kukira, tapi aku tetap menyukainya” Yoona tersenyum manis, well ia lebih terlihat seperti seorang anak kecil ketimbang seorang istri. “Gomawo

“Aku senang jika kau menyukainya” Ucap Luhan yang baru saja kembali dari toko permen untuk membelikan lollipop dengan berbagai rasa untuk Yoona.

“Kau mau? Kurasa kau akan menyukai Berry Blast dan Tropical Splash. Sebentar” Yoona sibuk mencari-mencari dua lollipop itu di dalam sebuah plastik yang penuh dengan permen kesukaannya.

“Yoong, aku ingin―”

“Ta-da!” Yoona mengeluarkan sebuah lollipop berwarna biru―Tropical Splash. “Kujamin kau akan menyukainya. Sungguh” Yoona menyodorkannya kepada Luhan lalu laki-laki itu meraihnya.

“Ada yang ingin kukatakan padamu” Beritahu Luhan. Nada suaranya merendah mengartikan ia serius kali ini. Oh, astaga. Yoona menjadi begitu ‘menghafal’ Luhan.

“Ada apa?” Tanyanya sembari memainkan stick putih lollipopnya.

“Mengenai keturunan kita―”

“Kau merusak mood-ku, Lu” Yoona bangkit dari kursinya lalu berjalan menjauh, meninggalkan Luhan tanpa berpikir panjang.

Luhan tidak bisa duduk begitu saja, ia berlari kecil lalu meraih tangan Yoona dan memutar tubuh perempuan itu. “Apa topik pembicaraanku salah?” Tanyanya.

“Tidak, mak―”

“Lalu?” Potong Luhan.

Luhan tidak salah mengangkat topik pembicaraan tersebut. Hanya saja, Yoona tidak pernah siap untuk hal yang satu itu.

Anak? Melahirkan anak Luhan?

Yoona terdiam, tidak tahu mau menjawab apa. Bolamatanya bergerak tidak bisa diam menolak untuk menatap mata Rusa milik Luhan.

“Yoong?”

“Aku tidak tahu, Lu” Akhirnya Yoona menyerah. Ia memang tidak tahu. Ia sudah menjawabnya dengan jujur. Kini ia tengah melewati masa-masa sulitnya―masa dimana ia harus mencoba melupakan Sehun dan akhirnya masa itu datang. Sekarang. Siap atau tidak, Yoona harus melewatinya. Ia tidak bisa terus berada di masa lalunya, bukan? “Maafkan aku”

“Tidak apa-apa” Luhan menarik Yoona ke dalam pelukan hangatnya lalu mengelus punggung Yoona dengan pelan.

            10 tahun kemudian.

“Ini data pimpinan D&O Inc. Tuan dan Nyonya Xi” Seorang perempuan menyerahnya sebuah map di atas meja Luhan.

“Kami akan memeriksanya nanti” Beritahu Luhan lalu diikuti anggukan bawahannya tersebut yang akhirnya mempersilakan dirinya untuk keluar dari ruangan Luhan. “Kita harus segera menjemput Daniel, bukan?” Luhan melirik arlojinya.

“Ya, kau benar” Jawab Yoona.

Kajja” Luhan bangkit lalu Yoona segera merangkulkan tangannya pada lengan Luhan.

“Besok kita akan meeting bersama pimpinan D&O Inc.” Beritahu Yoona.

Luhan mengangguk. “Aku tahu. Aku sudah pernah bertemu dengan pimpinannya. Sangat ramah, Tuan Do”

“Kudengar mereka memiliki anak laki-laki”

“Do Kyungsoo” Jawab Luhan cepat.

“Kau pernah bertemu dengannya?” Tanya Yoona memandang Luhan yang baru saja membukakannya pintu mobil.

“Hanya sekali” Jawab Luhan.

            Dengan sekali tarikan terakhir, akhirnya dasi tersebut sudah rapih. “Sudah selesai” Beritahu Yoona lalu meraih jas hitam Luhan.

“Jam berapa meeting dimulai?” Tanya Luhan lalu mengenakan jasnya.

“Satu jam lagi. Kita harus cepat” Yoona mengultimatum. “Biar kulihat” Yoona memutar badan Luhan lalu memerhatikan penampilan suaminya. Ia menyapukan tangannya pada pundak Luhan. “Tampan”

“Wow” Ucap Luhan terkejut. “Seharusnya aku merekamnya. Jarang sekali kau memujiku seperti itu”

Yoona tertawa ringan. “Aku akan sering memujimu seperti itu jika kau lebih sering membelikanku lollipop”

Luhan merangkulkan tangannya pada pundak kecil Yoona. “Kau ingin lollipop sebanyak apa? Sebutkanlah, asal kau tetap memujiku seperti itu”

“Oh, astaga. Kau haus pujian sekali, Tuan Xi”

“Ya, aku haus pujian darimu, Nyonya Xi” Luhan tertawa lalu diikuti tawa Yoona. Well, pagi mereka selalu berawal seperti ini.

Tawa.

Luhan langsung menancap gas menuju gedung perusahaannya yang kini telah menjadi satu dengan perusahaan keluarga Yoona dan mengganti namanya menjadi I’m X, Inc.. Luhan dan Yoona tidak perlu repot mengantar Daniel ke sekolahnya jika dalam ‘keadaan genting’ seperti ini. Mereka sudah menyiapkan supir pribadi untuk anak angkat mereka itu.

Ya, Daniel Hyunoo Xi adalah anak angkat Xi Luhan dan Xi Yoona.

Jangan tanya jawaban atas pertanyaan mengapa mereka mengadopsi Daniel.

“Pihak D&O, Inc. sedang dalam perjalanan, Tuan, Nyonya” Beritahu sekretaris perusahaan―Lee Sunkyu.

“Kau sudah menyiapkan semua berkasnya?” Tanya Luhan. Luhan tampak berbeda sekali jika sudah masuk ke dalam pekerjaannya. Dia terlihat tegas, pancaran matanya pun berbeda. Dia menganut ‘keprofesionalismean’ itu.

“Sudah, Tuan Xi. Semuanya sudah berada di ruang meeting” Jawab Sunkyu as known as  Sunny.

“Baiklah. Gomawo” Luhan tersenyum manis lalu melangkah masuk ke dalam ruang meeting bersama Yoona. Beberapa rekan kerjanya yang lain sudah ada di dalam ruangan. Mereka berdua pun membungkuk, memberikan salam formal sesopan mungkin.

“Apa Tuan Do biasanya datang sendirian?” Tanya Yoona berbisik.

“Biasanya dia bersama setidaknya satu orang dari perusahaannya. Entah itu asisten, sekretaris, presiden komisaris, atau siapapun”

“Bagaimana dengan anaknya? Do Kyungsoo?” Yoona mengutuk dirinya sendiri yang tidak membaca profile pemimpin D&O, Inc. itu karena seharian kemarin ia pergi berjalan-jalan bersama Luhan dan Daniel. Dan, Luhan, untuk apa laki-laki itu membaca profile Tuan Do jika mereka sudah sering bertemu sebelumnya?

“Setahuku, Kyungsoo tidak tertarik dengan dunia bisnis. Dia memiliki suara yang bagus. Kurasa dia bercita-cita menjadi penyanyi” Jawab Luhan yang terlihat masih ragu.

Yoona mengangguk pelan. “Apa Kyungsoo memiliki kakak? Adik?”

“Dia anak tunggal. Sama sepertimu”

“Ah, anak tunggal” Yoona mengangguk mengerti. “Dia pasti sangat kesepian karena sendirian”

“Kau kesepian?” Alis kiri Luhan terangkat. Wajahnya kini lebih terlihat seperti sedang menggoda Yoona. Oh, ayolah, mereka berdua berada di dalam ruang meeting.

“Bukankah kau akan selalu menemaniku agar aku tidak kesepian, Xi Luhan-ssi?” Yoona balik menggoda lalu tertawa.

“Maafkan kami karena terlambat, Tuan dan Nyonya”

Suara itu berhasil mengalihkan perhatian Luhan dan Yoona. Pemilik suara yang sedari tadi ditunggu oleh seluruh orang yang berada di dalam ruangan tersebut―Pimpinan D&O, Inc.

“Oh Sehun imnida

T B C

96 thoughts on “It Was Always You

  1. Yawla akupun pembacanya masih belom rela sehun mati &endingnya ternyata sehun masih hidup WOAW
    bagus thor, ditunggu kelanjutannya. Apaa alasan sehun gak nyari yoona selama ini? kasian luhannya juga?
    next next~!!

  2. Hah 10th sehun baru muncul,,aduuuh kasian luhan dooong.. Gag dpt hati yoona and gag punya anak sm yoona berati mreka selama 10th ngapain ajah?? Haddeeehh,,kkkkk

  3. Huwaaaaa..ngeri banget. eh berarti Sehun belum mati yah? Kasihan juga si Luhan yg nggak bisa mendapat hatinya Yoona, tapi maaf Yoona hanya untuk Sehun. Uhuk😀 Semoga YoonHun !

  4. udah seneng2 yoona sehun bahagia eh ada aja halangannya, apa nya yoona ko jhat banget si sama sehun. hm berharap sehun masih beneran idup ya. yoona nikah sama luhan? ah pasti terpaksa kekeke. semoga endingnya SeYoon ya

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s