(Freelance) My Prince (Chapter 1)

photoMy Prince

by deersnow

main cast Oh Sehun – Im Yoona

other cast Tiffany Hwang – Xi Luhan – Jessica Jung – Park Chanyeol – Oh Hayoung – Park Chorong

genre School Life – Fluff – Romance

rating PG-15

disclaimer Cast belong’s God. I just borrowed the names of characters and places.

Please keep RCL – Hope you like it

Happy reading!

[Maaf kalau tidak sesuai dengan ekspektasi anda]

2014©deersnow

 

“Kucing itu lucu ya,”

Sebal. Bisa-bisanya dia malah membicarakan kucing tak bersalah yang lewat depan rumah di saat penting dan amat jarang terjadi seperti ini.

Aku menatap kesal ke arah Sehun, pacarku—yah, setidaknya dulu kupikir begitu. Saat ini kami sedang berada di beranda rumahku, hanya berdua. Tanpa Chanyeol, kakakku yang juga teman dekatnya Sehun dan juga alasan utama Sehun hampir setiap hari datang kerumahku. Ia tak pernah datang untukku. Sekarang, Chanyeol sedang sibuk dengan tetangga baru yang berselang 2 rumah dari rumahku yang memiliki anak gadis yang—menurutnya—sangat cantik dan superseksi. Tak heran melihat Chanyeol yang langsung melesat saat mobil pindahan lewat di depan rumah.

Jadi, disinilah Sehun, yang ditelantarkan Chanyeol. Mereka punya janji main PS3 sore ini. Saat ia datang kerumahku, dengan menyesal—hanya 1%, sisanya senang bukan main—kukatakan bahwa Chanyeol tak ada di rumah. Dan tak kusangka, ia malah duduk di beranda rumah bukannya pulang!. Tapi semua jadi terasa asing saat aku ikut duduk di sebelahnya. Aku sadar bahwa aku tak pernah duduk bersebelahan dengannya sejak 3 bulan lalu.

Namun begitu aku mendengar komentarnya tentang kucing tadi, aku berubah kesal. Aku tak mau menjawabnya dengan menunjukan bahwa aku marah. Tapi, sepertinya Sehun tidak menyadari itu. Oh, kapan ia menyadari sesuatu soal diriku.

“Bulunya juga kelihatan lembut,” gumam Sehun, masih memandangi kucing yang kini sedang mengorek tempat sampah. Ew.

La-lu-apa-yang-ha-rus-ku-ka-ta-kan? Apa dia tak tahu, aku disini menunggu pertanyaan manis seperti ‘Bagaimana kabarmu?’ atau kalimat lain? Ya tuhan, sampai pertanyaan basic seperti itu tak pernah diucapkan oleh pacarku ini. Apalagi yang lebih buruk?

“Yoong, kau kenapa? Sakit gigi?” Sehun ternyata menangkap ekspresi masam di wajahku.

Walaupun ia salah mengartikan dengan sakit gigi, aku tetap senang. Artinya dia peduli padaku—walau hanya basa-basi ku yakin—dan tanda bahwa ada peningkatan di hubunganku dengan Sehun karena sebelumnya ia tak pernah bertanya seperti ini. Yah, walaupun hanya seperti itu, tetap saja ada peningkatan.

Aku memang gadis paling menyedihkan di dunia.

“Tidak. Emm… Mau minum?” aku mencoba menawarkan minum karena Sehun terlihat kehausan—dan untuk mengalihkan pembicaraan tentunya.

Sehun menghela nafas, tampak lega. “Ku kira aku akan mati dehidrasi di sini.”

Aku tersenyum untuk membalas cengirannya yang jail, lalu masuk ke dalam untuk mengambil minum. Setelah sampai batas aman—Sehun tak dapat melihatku lagi—aku melangkah sambil menari-nari.

Mengapa dia terlihat sangat keren, sih?Kenapa dia bisa menghilangkan rasa kesalku padanya hanya dengan satu senyuman?

Tunggu, aku punya jawabannya. Jawabannya, karena Sehun adalah namja yang sangat keren dan memiliki senyuman terindah sejagat raya. Tak ada yang bisa menolak auranya, bahkan si penggila-pakaian-mini yang kecentilan, Chorong, sekalipun.

Oh ya, tentang yeoja yang satu ini. Selama 2 bulan terakhir, dia habis-habisan mencoba untuk mencelakaiku, setelah mengetahui bahwa aku sudah resmi berpacaran dengan pria kelas dua-belas yang menang polling “The SOVTA 1’s most wanted male” di mading sekolah. Aku tak henti-hentinya menatap foto Sehun yang terpampang di mading tersebut setiap melewatinya. Dia tampak luar biasa mengagumkan dengan rambut hitam yang menutupi sebagian dahinya dan kaus dance kesayangannya. Aku tak pernah bosan menatap foto itu walaupun hampir tiap siang dan malam bertemu dengannya di rumah. Kurasa aku harus berterimakasih kepada orang yang telah memotret Sehun dengan angle yang sangat tepat. Difoto candid seperti itu, membuat Sehun terlihat nyaris lebih keren dari yang asli.

Dengan dua kaleng soda, aku melangkah ringan ke beranda. Sebelum menampakan diri, aku menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Ini selalu kulakukan supaya aku bisa rileks.

“Ini…” Aku belum menyelesaikan kata-kataku ketika mendapati Chanyeol sudah duduk di tempat dudukku. Aku akan membunuhnya! Well, mungkin nanti malam saja. Aku tak ingin dilihat Sehun berlumuran darah Chanyeol. Dia pasti tak mau berurusan dengan pembunuh.

“Wah, kau pengertian sekali, Yoong!” seru Chanyeol begitu aku muncul.

Chanyeol tentu jelas tak mengerti arti dari pengertian itu sendiri. Aku memasang wajah termasam yang kupunya, tapi Chanyeol tak menyadarinya dan malah menyambar dua kaleng soda yang kupegang. Salah satunya ia berikan kepada Sehun. Satunya lagi dibukanya dengan kejam tepat di hadapanku, lalu isinya diteguk banyak-banyak. Awas saja kau nanti malam.

“Hun, benar, aku tidak bohong!” seru Chanyeol tiba-tiba.

Ternyata sudah ada percakapan selama aku pergi mengambil soda—yang seharusnya milikku dan Sehun.

“Dia sangat cantik! Seksi lagi! Aku saja tadi hampir menjatuhkan lukisan kesayangan Appa-nya!”

Sehun tidak menanggapi—syukurlah—dan hanya menenggak minumannya.

Saat kupikir dia tidak tertarik dengan topik itu, dia berkata,”Lalu?”

Aku berharap dia melakukannya hanya untuk menghargai Chanyeol. Demi Tuhan, aku berharap Sehun tidak akan tertarik pada gadis berdada besar atau berbetis sangat kecil atau ciri lain yang sama sekali tidak ada di diriku. Kali ini aku akan mengorbankan segalanya asal yang kuharapkan benar.

“Lalu? Ya aku berkenalan dengannya! Apalagi selain itu?” sahut Chanyeol histeris. Dia selalu histeris jika membicarakan gadis cantik. “Ah!” seru Chanyeol sok misterius. “Apa kalian tahu bagian terbaiknya?”

Aku dan Sehun tidak menunjukan tanda-tanda ingin menjawab pertanyaan Chanyeol. Tapi Chanyeol terlihat tidak peduli dengan hal itu, dia malah makin menyerocos.

“Dia akan masuk ke sekolah kita! Dia sekelas sama kamu, Yoong!”

Aku-tidak-bisa-biasa-saja. Jika yeoja cantik dan seksi bertambah di kelasku, maka nilai tubuhku—yang dinilai para namja di kelas tentunya—yang sebelumnya menyedihkan, akan menurun drastis. Bayangkan saja, seorang yeoja dinilai 4,5 untuk bentuk tubuhnya. Padahal menurut Eomma-ku, tubuhku termasuk langsing dan bagus. Tapi kan setiap ibu pasti selalu memuji anaknya!

“Ya lalu?” kataku, seolah tak peduli.

“Yak, Yoong! Kau itu belum mengerti ya? Kalau dia akan sekelas denganmu, maka aksesku ke dia akan betambah! Kau juga bisa menjadi penghubung cintaku dengannya! Ide bagus, kan?”

“Mwo? Penhubung?! Aku tak mau!” sahutku sengit. Apa-apaan Chanyeol? Memangnya aku Aphrodite?

“Huh. Kau memang tidak bisa diandalkan. Percuma aku mendengarkan ceritamu setiap hari,” aku tau kata-kata yang diucapkan Chanyeol ini hanya bercanda. Tapi aku tak tidak peduli, aku sudah emosi sekarang.

Tanpa pamit ke Sehun, aku berderap masuk ke rumah . Bisa-bisa aku meledak kalau terus-terusan meladeni Chanyeol. Dan kalau sudah meledak, aku akan terlihat jelek. Aku tak mau terlihat jelek oleh Sehun.

Meskipun aku yakin dia sama sekali tak peduli.

{{o}}

Chanyeol dan Sehun sudah naik menuju kamar Chanyeol yang letaknya berseberangan dengan kamarku. Mereka bisa menghabiskan waktu sekitar 5 jam nonstop jika sudah berhadapan dengan kotak hitam berisi ratusan kabel yang ku anggap sebagai alat pembodohan itu. Adit menyebutnya kotak ajaib. Ya, si Play Station 3 itu. Aku bahkan juga tak mengerti mengapa Sehun sangat tertarik untuk bermain bersama Chanyeol di rumah ku yang jelas tidak sebanding dengan rumah mewahnya sendiri. Mungkin dia kesepian di rumahnya. Atau mungkin alasan lain, aku tak tahu.

Dibanding dengan kotak canggih hitam itu, aku lebih senang menghabiskan waktu ku di depan komputer atau layar smartphone-ku, menjelajahi dunia maya daripada berteriak-teriak kepada TV seperti yang sering kali Chanyeol dan Sehun lakukan. Seperti orang bodoh saja.

Akupun memutuskan untuk memainkan smartphone-ku dan mengecek aplikasi Kakao Talk-ku.

Ternyata ada pesan. Dari Tiffany, sahabat dekatku. Aku tak mengerti, apa lagi yang ingin ia katakan di K-Talk mengingat kami sudah bertemu di sekolah setiap hari. Tapi selalu saja ada pembicaraan setiap kami bertemu, entah penting ataupun tidak.

*KAKAO TALK*

Tiffany Hwang: Yoong!

Im Yoona: Ada apa, Fany?

Tiffany Hwang: Aku ada kabar baik untuk kita!

Im Yoona: Jinjja? Apa itu?

Tiffany Hwang: Ini tentang si centil Chorong! Ku dengar, dia akan pindah sekolah ke Amerika!

Im Yoona: Benarkah? Oh Tuhan, akhirnya aku bisa hidup dengan tenangJ

Tiffany Hwang: Yippie! Oh ya, bagaimana hubunganmu dengan Sehun? Dia masih suka menghiraukanmu?

Im Yoona: MasihL

Tiffany Hwang: Sebaiknya kau lebih agresif, Yoong. Agar dia tahu kalau kau butuh perhatian

Im Yoona: Aku juga inginnya seperti itu. Oh Fany-ah, aku ada kabar buruk untukmu

Tiffany Hwang: Jangan bilang kalau Yeollie sakit, aku bisa ikut sakit kalau begitu

Im Yoona: Lebih dari itu. Dia sudah punya gadis incarannya. Namanya Jessica, tetangga baruku yang superseksi dan calon teman sekelas kita. Selamat sedihL Oh ya, jangan lupa mengerjakan tugas Kim Sonsaengnim, aku tak mau makan sendiri karena kau di hukum.

Oh yeah, kalian jangan bingung. Tiffany memang sudah cukup lama menyukai Chanyeol. Saat pertama kali melihatnya dirumah ku sekitar 5 bulan yang lalu tepatnya. Dan aku tak bisa membayangkan melihat Fany pingsan di kelas saat mengetahui bahwa Chanyeol menyukai Jessica jika tidak kuberitahu sekarang.

Tiffany Hwang: YAK YOONG! BISA-BISANYA KAU MENYURUHKU MENGERJAKAN TUGAS SETELAH MEMBERITAHUKU BAHWA KAKAK MU MENGINCAR JESSICA TETANGGA BARUMU YANG SUPER SEKSI BUKANNYA AKU YANG ULTRA SEKSI! AKU TAK MASUK BESOK!

Aku terdiam membaca pesan Fany, tapi kemudian sedapat mungkin bersimpati. Yah, mungkin keterlaluan. Sekarang mataku sudah tertancap pada sebuah pesan lain yang masuk ke kotak masuk ku. Seingatku, aku tak mempunyai kontak yang bernama Secret. Lalu ini siapa? Karena rasa penasaranku lebih tinggi dari rasa takutku, aku pun membuka pesan itu.

Secret: Looking at you, make me feel warm and safe… Staring at you, make me feels good like never before… Gazing at you, feels like it’s the first time i knew how to breathe.

Siapa ini? Aku punya penggemar rahasia? Tapi Siapa?

Namanya Secret. Tapi siapa yang menamai dirinya sendiri Secret?

Aku membaca tulisan itu dua-belas kali lagi. Sangat romantis….. Andaikan saja Sehun yang mengirimnya untukku.

Tunggu dulu. Mungkinkah? Mungkinkah itu Sehun?

Aku tahu Sehun tak mungkin bisa mengatakan hal-hal seperti ini padaku. Tapi belum tentu dia tidak bisa menulis. Ya Tuhan, aku akan memberikan apa pun bila benar Sehun adalah pengagum rahasia-ku.

{{o}}

Sudah pukul setengah delapan. Aku turun untuk makan malam. Perutku pun sudah berbunyi sejak tadi. Ternyata semua sudah berkumpul di ruang makan, termasuk Sehun.

“Yoong, ayo makan,” kata Eomma sambil meletakkan sup jagung di hadapanku. Aku segera duduk di sebelahnya lalu mulai makan.

“Kamu juga, Hun. Makan yang banyak. Oh ya, tadi belajar apa?” tanya Appa polos.

Sup yang sedang kuhirup hampir saja keluar dari mulutku kalau saja tidak ku tahan dengan tangan. Chanyeol tak sengaja menyenggol gelas sehingga airnya membahasi meja makan. Appa segera menasehatinya.

Aku yakin Chanyeol sengaja melakukan itu untuk menghindari pertanyaan Appa selanjutnya. Apanya yang belajar? Belajar memasukkan bola ke gawang digital?

Keributan itu terjadi sekitar dua-belas detik, kemudian Appa sama sekali lupa dengan pertanyaanya. Dia sekarang sudah mengobrol dengan Eomma tiri-ku, karena Eomma kandungku sudah meninggal tiga tahun lalu. Oh ya, Chanyeol adalah kakak tiriku. Tapi aku tidak pernah menganggap bagian ‘tiri’-nya . Well, pernah beberapa kali saat ia mengacau di kamarku.

Aku makan sambil sesekali menatap Sehun. Hal itu telah menjadi kebiasaanku setiap malam. Sehun memang makan malam di rumahku hampir setiap hari karena kebiasaannya main PS3 yang rutin dengan Chanyeol, yang disangka Appa sebagai kegiatan bersama. Kurasa aku wajib berterimakasih kepada Chanyeol. Karena dia dan PS-nya, aku bisa melihat Sehun setiap hari. Jadi aku tak pernah berniat mengadukan ini pada Appa.

Sehun terlihat sangat imut jika sedang makan. Oke, dia selalu imut—memang begitu sebenarnya—jika sedang bersama keluarganya dan keluargaku, karena ia tak menunjukan sikap “dingin”-nya kecuali di sekolah. Poninya sudah hampir panjang dan hampir menyentuh alisnya. Aku jadi ingin bersyukur kepada Tuhan karena telah menciptakan sesuatu yang sesempurna dia.

Tiba-tiba Sehun menggerakan kepalanya untuk mengambil kimchi sambil menyibakkan poninya. Oh Tuhan, kurasa aku akan pingsan. Sehun sadar kalau aku sedang mengawasinya dengan wajah pucat. Dia tersenyum kecil seperti yang selalu dia lakukan setiap kali aku kedapatan menatapnya. Aku tak membalas karena tubuhku tak punya tenaga lagi, bahkan untuk sekedar menggerakan otot bibirku. Aku-sangat-lemas.

Aku mencoba menyelesaikan makan malamku tanpa suara, sambil memikirkan tentang pengagum rahasiaku. Apa benar itu Sehun? Tapi tampaknya Sehun bersikap biasa saja. Yang kumaksud biasa di sini adalah, tidak bicara kecuali ditanya. Yah, dia bicara, sih. Tapi tak pernah menyangkut hubunganku dengannya. Paling-paling hanya tentang cuaca aatu sekedar bertanya tentang waktu. Tapi mungkin saja dia pengagum rahasiaku. Mungkin, karena dia tidak berani bicara langsung, dia mengirim pesan itu.

Aku tersenyum sendiri, lalu menyuap kimchi banyak-banyak ke dalam mulutku. Nafsu makanku kembali secara mendadak.

“Kau kenapa sih, Yoong? Seperti orang gila saja, senyam-senyum semdiri,” celetuk Chanyeol heran.

Appa dan Eomma segera memberhentikan obrolannya, lalu segera menatapku.

Aku menutup mulutku. Pasti aku tampak bodoh dengan kimchi di dalam mulutku dan bibir yang tertarik ke atas, walaupun aku juga tak peduli kalau yang menganggap bodoh itu keluargaku.

Tapi… Sehun ada di depanku. Sehun! Seharusnya aku tidak bertindak bodoh di depan namjachingu-ku.

Ya ampun, aku ini. Memangnya dia peduli?

{{o}}

Setelah makan malam, biasanya Sehun tidak langsung pulang ke rumahnya. Namun, tidak dengan hari ini. Setelah semua selesai makan, Sehun langsung beranjak pulang, ditemani Chanyeol ke depan gerbang sambil mengobrol. Eomma dan Appa sudah beranjak dari ruang makan dan menuju ke kamar mereka.

Karena aku bingung harus berbuat apa, maka aku memutuskan untuk kembali ke kamarku.

“Yoong,” panggil seseorang

Aku pun berbalik. “Sehun? Ada apa? Bukannya tadi kau sudah mau pulang?”

“Aku…..”

To Be Continued…

Author’s Note:

Halohaaaa! I’m Back! Gimana chap 1-nya? Disini aku belum mau masukin konfliknya juga momentnya, jadi chap 1 ini kayak pembukaan gituu.. Oh ya, maaf banget ya yg udah komen di teaser dengan ekspetasi yang tinggi banget buat chap 1 ini, gak begitu terpuaskan. Tapi mudah-mudahan selanjutnya ff ini makin baikk

Aku juga masih minta saran nih sama kalian, apakah ini kepanjangan, atau malah pendek banget, supaya next chapnya bisa makin mendekati keinginan kaliann

Maaf ya posternya belum jadi nih hehe jadi pake foto seadanya aja dehh

Dan maaf banget juga kalo aku updatenya lumayan lama soalnya masih banyak tugas nihh, mohon pengertiannya yaa^^

Yaudah deh segitu aja cuap-cuap ku disini, semoga kalian suka yaaaa! Bye~

75 thoughts on “(Freelance) My Prince (Chapter 1)

  1. Bagus sehun cueknya mnta ampun. Ya ampun klo aku puc pcr kyak gt aku bisa gila pcran sm batu hahahaha
    Oh yg secret it sp y? Apa bner sehun hmm ku rasa tidak deh

  2. Bagussss banget, penasaran sama chapter selanjutnya minn, pas kok min, nggak kepanjangan juga nggak kependekan, semangat miinn, jangan lama-lama yaaa

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s