(Freelance) Oneshot : The Destiny

The DestinyThe Destiny

Artposter and Story by Nawafil

PG – 13

 Oneshoot

Romance, sad

Starring by GG’s Yoona – EXO’s Sehun

Disclaimer : All cast belong to God , the plot of this story is mine. If you don’t like don’t read. Don’t bash Please. This is just a fiction and forever will be a fiction.

A/N : Enjoy Reading Guys. Maaf cerita pasaran🙂

Takdir.

Satu kata sederhana yang menentukan jalan hidup seorang. Bagaimana ia lahir, memulai kehidupannya, berteman, bermain dan segala bentuk kejadian di dunia ini disebut takdir.

Kau tahu, bagaimana mengerikannya ‘takdir’ itu bagi sebagian orang? Saat kehidupannya hancur, dan mereka sebut hal itu dengan takdir. Saat seseorang yang ia sayangi harus pergi meninggalkannya, dan lagi – lagi itu adalah sebuah takdir.

Beberapa orang diluar disana sangat membenci jalan hidup mereka.

Ya, mereka membenci takdir hidup mereka.

Tapi syukurlah, aku bukan salah satu dari mereka.

Aku sangat bersyukur dengan takdir yang aku miliki. Bahkan kata ‘bersyukur’ saja tak cukup untuk menyampaikan rasa terima kasihku pada tuhan. Bagaimana dengan indahnya kami bertemu, menghabiskan waktu bersama, melihat senyum manisnya.

Oh tuhan, bahkan aku tak bisa membayangkan bagaimana jadinya hidupku tanpa ada dia di dalamnya.

Dia adalah bagian terbaik dalam hidupku, dan selamanya akan begitu.

This destiny, thank you.

Yoona berjalan menghampiri Sehun yang sedang memasak makanan kesukaannya—Well, kemampuan memasak Sehun patut diacungi jempol, jauh berbeda dengannya. Ia memeluk prianya dari belakang dengan manja, menghirup aroma tubuh yang akan selalu ia sukai.

“Kau tidak lelah, huh?” Tanya Yoona.

Sehun tersenyum. “Kau kan baru saja selesai—“

Yoona menggembungkan pipinya “Ayolah, bukan itu yang aku tanyakan” rengeknya.

Kemudian Sehun tersenyum lagi.

Gadis ini sangat menggemaskan.

“Baiklah, apa yang kau inginkan, sayang?” Sehun membalikkan badannya dan menatap manik mata Yoona.

Jangan bilang kau ingin memasak, Im Yoona.

Well, karena jika aku memasak kau pasti akan ketagihan, maka aku ingi—“ Tatapan Yoona menajam dan ia menghentikan ucapannya.

YAK! OH SEHUN!” Ayolah, apa yang sedang ditertawakan Sehun? Tidak ada yang lucu.

Sehun membungkam mulutnya dengan tangan. “Ani, aku tak menertawakan apapun” elaknya.

Yoona memutar bola matanya kesal “Baiklah, pokoknya kau harus memasak dengan sangat lezat atau tidak—“ Sehun mendorong tubuh Yoona dan mempersilahkannya duduk.

“Nona Im, kau hanya tinggal duduk manis di sini dan menunggu masakan kekasihmu yang rupawan ini selesai, okay?”

Yeah, whatever”

Sehun berjalan dengan riangnya menuju masakannya “Memasak untuk Im Yoona, memasak untuk Im Yoona” senandungnya beberapa kali.

Akhir – akhir ini, aku maupun Yoona selalu sibuk dengan pekerjaan masing – masing. Dan di sinilah kami berakhir, melepas penat dengan berada di atas atap.

“Kau tahu, berapa kalipun aku memikirkannya, ini tetap saja gila. Berada di atas atap rumah jam 2 pagi begini. Yang benar saja” Sehun menganggukkan kepalanya menjawab kalimat Yoona.

Hm, dan berapa kalipun aku memikirkannya, aku tetap sangat mencintaimu, Im Yoona” Yoona tersenyum manis, prianya ini benar – benar lucu.

“Aaaah, rasanya segar sekali” Sehun meregangkan otot – otot lengannya yang berakhir dengan lengan kanannya merangkul pundak Yoona.

Rude. Aku suka lagu itu, Yoong” tiba – tiba sehun mengatakan hal itu, ia ingin bercerita, mungkin?

Why you gotta be so rude? Don’t you know I’m human too. Why you gotta be so rude. I’m gonna marry her anyway. Marry that girl. Marry her anyway” Sehun menyanyikan penggalan dari lagu itu.

Yoona tertawa sangat kencang dan mulutnya terbuka sangat lebar “Sehun-ah, bayangkan jika isi dari lagu itu benar terjadi. Maksudku, kau melamarku dan ayahku menolakmu. Oh tuhan, itu sangat lucu” Yoona tak bisa menahan tawanya. “Apa yang akan kau lakukan?”

Sehun juga tersenyum—tak tertawa lebar seperti Yoona.

“Seperti kata lagunya, membawamu pergi mungkin?” Sehun menjawabnya ringan.

Eodi-ya?” Tanya Yoona .

“Dasar, kau ini. Tentu saja ke galaksi lain!” Dan lagi, Sehun benar – benar sukses membuat gadis manisnya tertawa.

“Haha, kau serius?” Tanya Yoona, masih dengan tawanya yang belum bisa terkendali.

“Tentu saja. You’re in love with me, right? Dan pasti kau akan ikut kemanapun aku pergi” jawab Sehun dengan sombongnya—walaupun memang benar adanya.

“Oh kau percaya diri sekali tuan Oh. Tapi, sepertinya hal itu takkan terjadi, karena ini!” Yoona mengacungkan sebuah amplop, dan Sehun mengambilnya.

“Apa ini?” Sehun membuka amplopnya dan membaca surat yang ada di dalamnya.

“APA?! TUAN IM MENGUNDANGKU?!”

“Yap! Luar biasa, bukan?”

Sehun masih mengatur deru nafasnya “Yeah, sangat menakjubkan” ucapnya tak percaya.

Aku tak habis pikir. Maksudku, ini semua benar – benar menakjubkan!

Aku memang mengira semuanya akan berjalan lancar.

Tapi aku tak mengira akan semudah ini.

“Baiklah, siapa namamu?” Tuan Im memulainya secara langsung dan to-the-point. Sehun, Yoona, dan tentunya tuan Im yang notabene ayahnya Yoona berada disalah satu restoran terkenal di Seoul. Blabaaaa.

“O-Oh Sehun imnida” Ya tuhan, untuk mengucapkan namanya saja Sehun butuh banyak tenaga.

Tuan Im tersenyum ramah “Tenang saja, aku tidak mengerikan. Dan satu lagi, panggil aku abeoji. Aku ini calon ayah mertuamu”

“Bersikaplah senormal mungkin” bisik Yoona dan Sehun mengangguk.

Im Yoona, tidakkah kau tahu betapa gugupnya aku sekarang.

“Lalu, apa pekerjaanmu?” lanjut tuan Im.

“Saya presdir Oh Cooperation, abeoji” dan dengan jawaban singkat Sehun itu, mata Tuan Im terbelalak kaget.

“Kau? Dengan usiamu yang baru menginjak 25 tahun? Kau benar – benar hebat!” Suasana mulai mencair saat Tuan Im melontarkan berbagai pujian begitu juga Sehun. Keduanya seperti sudah kenal bertahun – tahun saja.

“Ah, bukan sesuatu yang patut dibanggakan, abeoji. Tapi, terima kasih” Terlihat jelas sekali Sehun tersipu malu. Ia berulang kali tersenyum pada calon mertuanya ini.

“Dia juga sangat pintar, appa. Dia selalu masuk kategori murid teladan, bahkan ia sering mendapat penghargaan akan kepintarannya Itu. Dan yang paling menakjubkan, dia menyabet semua penghargaan pada saat kelulusan SMA! Tak ada yang tersisa! IA MENERIMA SEMUA PENGHARGAANNYA! SEMUANY—” Yoona menghentikan ucapannya saat menyadari semua pasang mata yang ada di sana menatapnya. Semuanya.

Yoona tersenyum kikuk “Jweseonghamnida” ia mengangguk dan masih tersenyum.

Dan demi tuhan, ingin sekali rasanya Sehun tertawa terbahak – bahak sekarang. Ah, sungguh sayang. Andai saja ia punya kesempatan. Pasti suara tawanya sudah menggema ke seluruh penjuru restoran ini.

“Kau tahu, kau sangat terlihat bodoh saat ini” bisik Sehun tepat ditelinga Yoona.

“Diam!” balas Yoona.

“Ini semua gara – gara kau, Sehun” lanjutnya.

“Maklumilah. Yoona memang sering lepas kendali jika terlalu bahagia” Sehun kembali menatap tuan Im yang mengeluarkan suaranya.

“Gwaenchasseumnida, abeoji”

Appa” Rengek Yoona.

Tuan Im terkekeh pelan, detik berikutnya ia melihat jam yang melingkar ditangannya. “Sudah jam 8 malam, lebih baik appa pulang sekarang. Sehun, tolong jaga dan antarkan Yoona pulang ya” Tuan Im bersiap – siap pulang.

“Hati – hati di jalan, abeoji” ucap Yoona dan Sehun bersamaan, mereka membungkukkan tubuhnya 90o.

Pertemuan singkat itu hanya terjadi sekitar 15 menit saja.

Tuan Im meninggalkan putrinya dengan Sehun di restoran itu. Setelah tuan Im pergi, Sehun dan Yoona melanjutkan makan malamnya.

“Bagaimana?” Yoona bertanya dengan antusias.

Sehun mengunyah dengan tenang makanan dimulutnya, lalu ia meminum ……… “Bagaimana apanya? Untuk bernafas saja sangat sulit”

Lagi, Yoona menertawakan prianya itu. Ayolah, kau pasti gugup saat bertemu orang tua gadismu kan? Begitu juga Sehun.

“Sudah ku duga” jawab Yoona.

Dan malam itu, mereka menghabiskan waktu berdua hingga larut malam—bahkan hingga restoran ini tutup.

Sehun berlari kencang memasuki Lamborghini miliknya. Ia menancap pedal gasnya. Sekarang pukul 6 pagi, dan bahkan ia belum menyentuh tempat tidurnya itu semenjak ia selesai mengerjakan tugasnya diluar kota dan kembali baru saja. Jangankan memikirkan hal itu, yang ada dipikirannya adalah bagaimana keadaan Yoona sekarang.

Ia bergegas keluar dengan cepat saat ia sampai di kediaman Yoona. Memasuki rumah gadisnya dengan sedikit tergesa – gesa dan langsung menuju kamar Yoona.

“Yoong!” Sehun berteriak dan menghampiri Yoona.

“Bagaimana keadaanmu? Apa sakit? Dimana yang sakit? Ini? Atau ini? Yang mana?” Sehun bertanya bertubi – tubi, ia tak memberikan kesempatan Yoona bahkan hanya untuk menyapanya.

“Aku hanya demam, Sehun” Yoona mengingatkan Sehun. Ia-hanya-demam. Sehun tak perlu sepanik ini.

Sehun menempelkan punggung tangannya didahi Yoona “Suhu tubuhmu sangat panas. Ayo ke rumah sakit!” Sehun menarik tangan Yoona dengan sedikit kasar.

“Ah” Yoona mendesah pelan saat tarikan Sehun menyakiti tubuh lemahnya.

Sungguh, Sehun sangat panik hingga ia melupakan bahwa Yoona sedang sakit. Kekhawatirannya sangat besar.

Don’t be panic, calm down” Yoona mendudukkan Sehun di sebelahnya.

“Lihat, aku baik – baik saja. Hanya saja suhu tubuhku tidak normal. Yang harus ku lakukan hanya istirahat dan aku akan sembuh. Okay?” Sehun mulai bisa menenangkan pikirannya.

Mungkin karena aku merindukannya, jadi aku bersikap berlebihan.

“Bahkan pria tampan ini belum sempat melepas pakaian kerjanya” Yoona melepas jas yang Sehun kenakan dan menyimpannya di sebelahnya.

“Wajahnya saja masih terlihat sangat lelah. Lihatlah kantung mata ini. Apa kau baik – baik saja di sana?” Tanya Yoona pada akhirnya.

“Kau makan teratur ‘kan? Apakah tidurmu nyenyak? Kau tidak memforsir tubuhmu untuk selalu bekerja, bukan? Kau bukan robot, tubuhmu perlu waktu istirahat” Yoona tersenyum menatap Sehunnya.

Sungguh ia sangat merindukan sosok Sehun.

Sudah berapa lama ia tak melihat wajah rupawan ini?

1 tahun?

2 tahun?

Mengapa waktu berjalan sangat lambat?

Sehun memeluk Yoona, ia mengeratkan pelukannya.

“Sudah ku bilang kau harus baik – baik saja di sini” desah Sehun.

Yoona membalas pelukan Sehun. “Sudah ku bilang, aku hanya demam”

“Efek merindukanku, kan?” Yoona tertawa pelan.

“Ya, mungkin—maksudku, sebenarnya iya” batin Yoona

Sehun melepaskan pelukannya, ia memegang pipi Yoona dengan lembut “Maafkan aku karena telah meninggalkanmu dan tak memberimu kabar sebulan ini. Karena pekerjaan sialan itu aku bahkan tak memperhatikan gadisku. Aku berjanji hal seperti ini tak akan terjadi lagi”

“Janji?”

“Ya, aku berjanji”

D – 5.

5 hari lagi adalah salah satu hari bersejarah dalam hidupku.

Hari dimana satu – satunya sosok yang ku cintai lahir ke dunia ini.

Menjalani takdirnya untuk menjadi pasangan hidupku.

Sehun menyesap secangkir coffe latte yang baru saja ia pesan. Menatap lalu lalang kendaraan dan orang – orang diluar sana.

Ia sangat menikmatinya.

Menikmati secangkir kopi hangatnya.

Dan juga suasana tenang ini.

“Hey” pandangannya teralihkan pada seseorang yang baru saja memanggilnya dan duduk dihadapannya.

Sehun melirik jam tangannya. “Sekarang pukul 6 pagi lewat 45 menit 53 detik. Kau terlambat 12 menit 33 detik. Aku mengatakan padamu datang pukul 6 lewat 33 menit 20 detik, sayang. Kau ingat?”

“Konyol. Kau bahkan menghitung detiknya dengan tepat sekali” Yoona meletakkan tasnya di atas kursi yang berada di hadapan Sehun

“Bagaimana keadaanmu? Lebih baik?” Tanya Sehun.

“Ice Americano” Yoona memesan minumannya.

“Hm, berkat kau” jawab Yoona.

“Maksudmu aku ini obat yang paling ampuh, kan?” Sehun selalu saja menggoda Yoona.

“Yah, apa boleh buat. Kau bisa bilang begitu” Yoona menyesap ice Americano yang ia baru pesan.

“Setelah sarapan di sini, kita akan langsung menuju bandara”

“Uhuk!” Yoona tersedak. “Apa maksudmu? Kita akan kemana? Aku harus bekerja, Sehun”

“Kau kira aku bodoh? Aku sudah mengatur cutimu untuk beberapa hari ke depan. Percayalah padaku” Mata Yoona makin terbelalak ketika mendengar penjelasan Sehun.

“Cepatlah, atau kita akan ketinggalan pesawat” Sehun menarik lembut tangan Yoona yang bahkan baru mencicipi minumannya satu teguk saja.

Busan, Korea Selatan-05.43 pm Korea Standard Time

D-4

Sudah hampir 24 jam tepat setelah Sehun memberikan sebuah kejutan untuk Yoona. Well, saat Sehun tiba – tiba mengajak Yoona pergi itu merupakan sebuah kejutan, bukan?

Yoona membuka jendela kamarnya yang memamerkan keindahan panorama pantai Haeundae yang sedang ia kunjungi. Tentu saja bersama Sehun.

Yoona memalingkan pandangannya pada seorang pria yang masih terlelap dengan wajah seimut bayi. Ia tersenyum tipis lalu mengembalikan pandangannya pada hamparan laut dihadapannya.

“Apa yang kau lakukan?”

Ah, Sehun terbangun.

“Tidurlah. Kau pasti lelah” Terdengar suara langkah mendekati Yoona, dan itu pasti Oh Sehun.

“Apa yang ingin kau lakukan di sini?” Sehun memeluk tubuh Yoona dari belakang, lalu menyesap aroma peach dari tubuh Yoona. Yang bahkan wanginya tetap sama meski saat gadis ini baru saja terjaga.

“Ayolah, kau yang mengajakku ke sini. Tidakkah kau ingat itu?” Sehun menyunggingkan senyumnya mendengar gadisnya mengoceh.

“Jadi?” Tanggap Sehun.

Yoona memutar bola matanya “Tentu saja kau yang akan mengatur jadwal kita”

“Baiklah”

Dan keduanya terdiam.

Sejenak menikmati sunrise dan kebersamaan mereka.

Tiba – tiba Yoona beranjak dari posisinya, yang tentu saja membuat tangan porselen Sehun terlepas dari pinggangnya.

“Hey”

Yoona hanya tersenyum dan tak menanggapi Sehun.

“Im Yoona”

Dan tetap, Yoona terus saja tersenyum dan mengambil handuk.

“Aku akan mandi. Kau tahu”

Dan Sehun menyerah.

“Baiklah”

“Sehun-ah”

“Hm” gumam Sehun.

“Kenapa kau tiba – tiba mengajakku berlibur?” Yoona melontarkan pertanyaan yang sedari kemarin terpendam dipikirannya.

Honeymoon, babe”

Oh my god, you’re not even marrying me”

“And I will”

Jawaban Sehun membuat Yoona tersenyum lembut.

Yoona menyukainya.

Saat pria itu mengatakan hal simple seperti itu.

Entahlah, Yoona hanya menyukainya.

Bayangan saat ia dan Sehun berdiri di altar saat mengucapkan janji sehidup semati. Bayangan menghabiskan sisa hidup mereka bersama, memiliki keturunan, menua bersama. Bayangan itu, terasa sangat indah.

“Apa yang kau lamunkan, sayang?” Yoona terlonjak kaget ketika melihat Sehun sudah berada tepat dihadapannya, dan err.. mukanya terlampau sangat dekat.

“em, bi..sakah kau menjauh sedikit?”

“Tidak bisa”

“Aku mohon”

“Tidak bisa”

CHU~

Dan detik selanjutnya, Sehun kembali pada posisi sebelumnya. Memasang wajah tak berdosanya.

Yoona hanya mendengus kesal, namun senyum tak luput juga ada diwajah cantiknya—kau tak berpikir bahwa Yoona tidak menyukai hal itu, bukan?

Sesaat hening menyelimuti mereka, keduanya terlalu sibuk memperhatikan deburan ombak di depan mereka. Jika tadi pagi mereka bersama untuk melihat sunrise, maka saat ini mereka berdua sedang melihat sunset.

Melihat proses alam ini terjadi.

Sangat Menarik.

“Apa kau mengajakku ke sini hanya untuk melihat sunrise dan sunset, Sehun-ah?” Yoona membuka suara lebih dulu.

“Yang benar saja. Aku tidak sekonyol itu” timpal Sehun

“Lalu?” Yoona mendesak agar Sehun menjawab dengan pasti pertanyaannya.

“Aku hanya ingin menghabiskan waktu berdua denganmu hari ini. Tanpa melakukan apapun. Menjauh dari semua hiruk pikuk keramaian dan hanya ada kita.”

Jawaban Sehun cukup puas untuk Yoona.

Yoona beranjak berdiri dan mengulurkan tangannya, Sehun menoleh “Ayo pulang, udara malam tidak baik” ujar Yoona.

D – 3

Semuanya masih berjalan baik hingga sekarang. Yoona belum menyadari ini adalah kejutan Sehun untuk ulang tahunnya. Dan semoga Yoona tak pernah menyadarinya hingga saatnya nanti.

Keduanya telah menghabiskan waktu sekitar 2 hari berada di Busan.

Contohnya saja hari ini. Pagi – pagi sekali mereka sudah meregangkan otot – otot mereka dengan berjogging berkeliling pantai. Berada di sini benar – benar menyenangkan, ditambah lagi bukit Dalmaji yang melengkapi indahnya pantai ini.

Setelah itu, siang hari mereka membeli gaun dan tuxedo untuk nanti malam, untuk menghadiri pesta pernikahan salah satu relasi kerja Sehun. Dan untuk itu pula, Sehun menahan rasa bosannya disalon karena Yoona.

Satu hal yang terlintas dibenak Sehun.

Perempuan benar – benar merepotkan.

“Sudah selesai?” Tanya Sehun acuh.

“Ayolah, kita baru 30 menit berada ditempat ini”

Ugh, rasanya seperti 5 jam.

“Lagipula aku bukan perempuan yang gila fashionkan, kau tahu itu” Yoona berulang kali melihat tatanan rambutnya dicermin.

Menyadari prianya yang sudah benar – benar bosan, ia segera mengambil tasnya setelah menyelesaikan pembayaran dan keluar dari salon itu.

“Jangan cemberut seperti itu. Kita akan menghadiri pesta teman kerjamu”

“Ya, aku tahu” jawab Sehun dengan seulas senyum menghiasi wajahnya.

Dari semua hari yang sudah ia lalui bersama Yoona. Hari inilah yang paling membosankan, jiwa perempuan itu bangkit. Hari ini dia benar – benar merapikan dirinya dari ujung rambut sampai ujung kaki.

“Selesai!”

“Lama sekali” gerutunya. Walaupun sebenarnya ia senang sekaligus kaget melihat tampilan Yoona yang sedikit berbeda dari biasanya.

Ia, sangat cantik.

Sepanjang perjalanan Sehun fokus mengemudi dan tak melontarkan sepatah katapun pada Yoona. Begitu pula sebaliknya. Hingga mereka sampai disebuah gedung dan Sehun membukakan pintu untuknya.

Belum sempat Sehun menggenggam tangan gadisnya untuk memasuki gedung, seorang gadis yang entah siapa menghampirinya dan memberi kecupan dipipi kanan.

“Sehun-ah, wah kau semakin tampan ya. Ayo kita masuk bersama” tanpa panjang lebar gadis itu menggandeng tangan Sehunnya. Dan Sehun? Apa yang dia lakukan?! HANYA-DIAM-SAJA.

Yoona menghela nafasnya. Well, mungkin ciuman tadi hanya sebagai bentuk salam pertemuan saja, pikirnya. Dan ia pun berjalan mengikuti Sehun dari belakang.

Oppa!

Oh ayolah, kenapa ada wanita lagi?

Hey, sudah lama tak bertemu”

Dan.. lagi?

“Kau harus menikmati pesta ini, Im Yoona. Jangan kesal” Berulang kali ia mengucapkan itu pada dirinya. Ia pun berlalu pergi menjauh dari Sehun.

.

.

.

Cklek.

Sehun membuka pintu kamar hotelnya dengan perlahan. Dan dilihatnya Yoona sudah terlelap—atau mungkin tidak.

Sehun berjalan menghampiri Yoona, mengelus surainya lembut “Kau marah, ya?” gumam Sehun.

“Tapi tak seharusnya kau pulang sendiri, kau tahu aku mengkhawatirkanmu” ucapnya lembut.

“Aku tidak yakin kau masih terjaga, tapi, tadi itu hanya teman – teman lamaku. Kebetulan kami bertemu di sana. Dan kau tahu mereka bukan siapa – siapa, bukan? Maaf karena telah merusak malam ini, tidurlah yang nyenyak” Sehun mengecup puncak kepala Yoona.

Kelopak mata Yoona terbuka, memamerkan iris madu kepunyaannya yang memancarkan kekecewaan.

“Seharusnya kau tidak mengacuhkanku seperti tadi hanya karena teman lamamu”

D – 2

Nothing Special.

Seharusnya Sehun menghabiskan hari ini untuk mengambil hati Yoona, dan itu juga yang telah direncanakan Sehun.

Tapi sayangnya, pekerjaan tak memperbolehkan hal itu terjadi.

Dan di sini, di kursi ini, Yoona duduk menghadap jendela. Melihat indahnya pantai Haeundae yang rasanya baru saja kemarin mereka berlari mengelilinginya.

Ekspresi wajahnya datar. Tidak, bahkan ia tidak sanggup hanya untuk menangis.

Berbagai pertanyaan muncul dibenaknya.

Apakah Sehun selalu seperti itu pada teman perempuannya?

Apa Sehunnya tak peduli lagi akan dirinya?

Apa Sehun tidak menghargai keberadaannya?

Dan.. apa mungkin Sehunnya mencintai wanita lain?

Ia memejamkan matanya, kemudian beranjak dari tempat duduknya.

Tidur adalah pilihan terbaik saat ini.

D – 1

Entah sejak kapan itu, tapi yang pasti pagi – pagi sekali sudah terdengar suara seseorang di dalam kamar mandi sana, membuat sang putri cantik terbangun dari tidurnya.

“Sehun-ah, apa itu kau?”

“YA, INI AKU!” Sehun berteriak dari dalam sana.

Yoona menanggalkan selimut yang menghangatkannya, berjalan menuju meja makan untuk melihat apakah sarapan pagi mereka sudah ada atau belum. Seharusnya sih sudah ada.

Tapi nyatanya masih belum datang. Ia memegang perut malangnya, sudah dari kemarin perutnya tak diisi apapun.

“Sarapan sudah datang daritadi, ku letakkan disebelah tempat tidur jika kau memperhatikannya” Sehun keluar dari kamar mandi dan menggosok rambut basahnya.

“Terima kasih”

“Kenapa kau tak makan kemarin?”

“Aku makan diluar”

“Ayolah, kenapa kau tidak makan?”

“Sudah ku bilang aku makan di luar, Sehun-ah”

“Baiklah. Kalau begitu kau harus makan hari ini, hm?”

“Ya”

Sehun menghela nafasnya. Setelah selesai mengenakan pakaian dan jasnya ia mengambil beberapa roti dan menciup kening Yoona.

“Mungkin aku akan pulang terlambat. Jangan tunggu aku, ya? Jangan tidur larut malam”

Yoona mendongak. “Kau mau kemana?”

“Bekerja”

Yoona memutar bola matanya. Bahkan disaat waktu liburan mereka Sehun selalu saja mementingkan pekerjaannya. Hei! Sebenarnya siapa yang mengajak liburan?!

“Lagi?” Wajah Yoona menyiratkan kesedihan. Sehun tahu perubahan ekspresi wajah Yoona, ia sangat menyadarinya. “Aku akan berusaha pulang cepat”

“Hati – hati dijalan, Sehunku

15.00 PM Korea Standard Time.

Selalu saja begitu. Sehun memang workaholic. Dimanapun dan kapanpun ia bisa bekerja. Yoona bahkan heran sisi menarik apa yang membuat prianya itu sangat menikmati pekerjaannya. Aneh.

Ia memakai baju santai untuk keluar. Lagipula ia hanya berdiam diri melihat orang – orang bermain pasir pantai dan bermain air.

“Aku akan tidur sendiri lagi malam ini. Ya tuhan, liburan yang membosankan” ocehnya.

Noona!” Yoona menoleh.

“Aku?” Yoona menunjuk dirinya sendiri, bisa saja anak ini memanggil orang lain.

“Kenapa noona sendirian? Noona tidak punya pacar, ya?” Aish, nada bocah ini sangat mengejek.

“Siapa bilang? Aku punya” Yoona menjawabnya santai. Dan bocah itu beralih menjadi duduk disebelah Yoona.

Noona, aku juga punya. Tapi kami baru saja putus beberapa jam lalu” Yoona tersenyum puas. “Tentu saja, mana ada gadis kecil yang mau dengan bocah ingusan sepertimu”

Bocah itu protes, suaranya naik satu oktaf. “Aku ini cassanova, tahu!” Yoona hanya cengengesan. Mana mungkin? Anak seperti dia? Mustahil.

“Kau tidak percaya?”

Yoona mengedikkan bahunya “Aku percaya”

Oppa!”

Bocah itu mengubah ekspresinya menjadi sangat manis dan menoleh pada seorang perempuan kecil yang memanggilnya “Hai, darimana saja kau? Kau tahu aku mencarimu daritadi”

Gadis kecil itu tersenyum “Aku hanya berkeliling. Dan tebak, aku menemukan penjual es krim. Kita beli, ya? Jebal

Bocah itu tersenyum “Baiklah, tapi tunggu sebentar ya” Ia menoleh dan berbisik tepat pada telinga Yoona “Semoga cepat dapat pacar, noona

Yoona mendelik sebal. Memangnya wajahnya sejelek itu hingga bocah itu tak percaya ia punya pacar? Dasar.

08.05 PM Korea Standard Time.

Yoona kembali ke hotelnya pukul 8 malam. Rasanya menyenangkan mengelilingi pantai dan berbicara dengan orang di sana. Ia pun merebahkan tubuh lelahnya dan mulai memejamkan matanya.

Well, walaupun tak ada Sehun di sampingnya.

23.59 PM Korea Standard Time.

“Sayang. Im Yoona, bangunlah. Ayo buka matamu. Tidakkah kau ingat ini hari apa?” Samar – samar Yoona mendengar suara seseorang berbisik ditelinganya, sedikit menggelikan sebenarnya.

“Siapa kau?” gumam Yoona masih bergelung dengan selimutnya.

“Tentu saja kekasihmu nona Im. Memangnya siapa yang kau harapkan?”

Yoona tersenyum asal “Siapa sajalah. Yang pasti aku ingin tidur” Yoona semakin menenggelamkan tubuhnya dalam kenyamanan benda yang disebut ranjang itu.

CHU~

Kurang dari satu detik membuka matanya. Pandangan tajamnya langsung mengarah pada orang yang duduk tak jauh darinya.

“Oh Sehun, kau mau mat—“

Saengil chukkahamnida, my girl” mata Yoona mengerjap beberapa kali. Maksudnya, tanggal berapa sekarang hingga Sehun mengucapkan hal itu?

“Dasar, kau bahkan lupa ulang tahunmu” Sehun mencubit pipi Yoona gemas.

“Apa yang kau lamunkan? Cepat tiup lilinmu” lanjutnya lagi.

Yoona tersenyum bahagia, dan tanpa ragu ia meniup lilin yang menunjukkan angka 24 tahun—usia barunya sekarang. Yoona memejamkan matanya dan memanjatkan permohonan pada tuhan.

“Terima kasih, Sehun” ucapnya dalam dan sangat berarti. Sehun menarik Yoona ke dalam dekapannya. “Lain kali, jangan lupa hari bersejarahmu, ya?”

Yoona tak menghiraukan ucapan Sehun “Jadi teman – teman perempuanmu dan kau yang mengacuhkanku adalah skenario untuk ulang tahunku?”

Sehun tersenyum ringan “Sebenarnya tidak”

“MWO?!” Hampir saja Yoona melepaskan pelukannya tapi Sehun menahannya.

“Untuk teman lamaku, ya itu memang rencanaku tapi, untuk bekerja sayangnya tidak” Sehun terkekeh menjelaskan hal itu.

“Dasar kau ini”

Sejenak keheningan mengisi kebersamaan mereka.

Yoona mengeratkan pelukannya dan membuka pembicaraan “Gomawo Sehun-ah, Jeongmal Gomawo-yo

Dan Sehun mendengar isakan kecil dari bibir mungil Yoona. “Ayolah, kau selalu saja cengeng”

Yoona melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya “Aku menangis bahagia tahu” Sehun mendekapnya lagi, kemudian melepaskannya dan mengambil kedua tangan Yoona, menciumnya lembut dan penuh arti.

“Im Yoona, aku Oh Sehun pada pukul 24.06 PM akan mengucapkan sesuatu yang harus kau ingat selamanya. Dengarkan baik – baik” Sehun menarik nafasnya.

Will you be my wife and be with me for the rest of my life?”

“Yes, I will”

END

48 thoughts on “(Freelance) Oneshot : The Destiny

  1. AAAAAAAAA OMG ><
    Gila ini romantis banget :'D
    Dari dulu udah ngarepin ada ff yg pairingnya kesukaan trus ga ada konflik yg ribet..
    Dan ternyata ff author bener2 nyenengin hati :'D
    Momentnya yoonhun disini feelsnya dpt banget, sampe senyum2 sendiri bacanya :3
    Maaf ya thor baru comment sekarang, trs cuma ngelike doang..
    Soalnya setiap mau baca pasti ketiduran😐
    Good job thor! Ditunggu ff lainnya yg keren2😀

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s