Okay [4]

zzzzzzzzzzzzzzzzz

Presented By Cicil

Yoona with EXO

Genre: Romance, angst, hurt

Rated: SU

Length: Chapter

Disclaimer: I dont own the cast, but the story is actually mine.

 

{Terima kasih…}

 

Segalanya terjadi dengan cepat. Yoona baru menyadari, kadang dia tidak mengerti apa yang telah Tuhan rencanakan. Kadang dia tidak mengerti kenapa harus seperti ini. Kadang dia tidak ingin mengerti saat waktu selalu melangkah.

Jimin dan Euni memberitahunya, mereka memberikan kesempatan sehari untuk mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa dan surat-surat kepindahan. Dan Bibi Hong bilang dia akan segera pulang besok. Dia yakin Yoona kurang mengerti tentang seluk-beluk akte kelahiran dan beberapa hal yang bersangkutan.

Tepat jam dua siang, Jimin dan Eunji pamit pulang. Mereka bahkan memastikan sekali lagi bahwa mereka akan datang kembali esok harinya dan menjemput Luhan.

Keadaan terbanting jauh menjadi datar, ketegangan juga mau tidak mau mengisi kosongnya suasana. Ada sembilan anak, beberapa diantara mereka bermain petak-umpet, ada juga yang membantu Chanyeol mencuci baju. Walaupun sebenarnya bukan ‘membantu’ tapi bermain air dan saling melempar busa sabun. Sisanya bersama Yoona di ruangan Baekyun, bermain tebak-tebakan.

Siang itu Yoona dan Chanyeol tidak memberitahu anak-anak tentang perpisahan kecil yang akan terjadi besok. Keduanya sepakat untuk merahasiakan hal ini sampai nanti malam. Lagipula, ketika sepasang orangtua muda itu pergi meninggalkan mereka, tidak ada satu anak pun yang menanyakan tujuan kedatangan dua orang asing tersebut.

Mereka bertindak seolah tidak terjadi apa-apa, mereka seakan telah melewati kejadian ini berkali-kali sehingga semuanya terasa wajar dimata. Mereka selayaknya orang yang sering mengalami pertemuan baru dan perpisahan singkat. Anak-anak itu seakan telah tidak lagi peka jika ditinggalkan.

Tapi Yoona tidak pernah menghadapi keadaan seperti ini.

Dia tidak bisa menahan air matanya ketika Minseok, Yixing, Sehun, dan Luhan bermain tebak-tebakan binatang di atas karpet, sambil suara Barney di teve mendengung gembira tanpa ada yang menontonnya. Baekhyun sedang tidur siang di box bayinya, terlelap tenang dalam mimpi indah, sementara dirinya sendiri tidak bisa fokus terhadap sesuatu.

Sampai terlihat Sehun mendorong Yixing tanpa alasan yang jelas. “Hyung, kau salah, sudah aku bilang dari awal kalau binatangnya tidak mungkin gajah!” Sehun kelihatan sinis sekali, dia tampak begitu membenci Yixing lewat tatapan matanya yang tajam. Tadinya Yoona ingin langsung melerai keduanya, sebelum ada sesuatu yang menohok hati dan pikirannya.

Oh Sehun tidak pernah bertingkah sekasar ini. Dia tidak pernah mendorong anak lain seperti yang dilakukan Zitao atau Jongin. Dia lebih sering diam atau mengandalkan teriakannya. Sehun berbeda jauh siang itu.

Yoona hanya bisa bergeming melihat kejadian barusan. Di depannya, Luhan dan Minseok sedang berusaha memisahkan pertengkaran tersebut, dengan satu menarik Sehun menjauh dari Yixing.

“Kau seharusnya bekerja sama dengan Minnie hyung, bukan denganku. Aku… tidak menyukaimu, hyung.” Desisan panjang menekan begitu keras kalimat terakhir Sehun, sarat kesal dan geram berkumpul dalam kalimat anak kecil itu. Matanya menyorot Yixing begitu tajam, menusuk.

Dan kali ini Yoona tidak bisa tinggal diam untuk melihat mereka bertengkar seperti para remaja sekolah.

Mereka masih terlalu polos untuk mengucapkan kata ‘aku tidak menyukaimu’ apalagi kata-kata itu terasa begitu asing untuk dikeluarkan dari mulut Sehun. Dia anak baik yang penurut, kadang bersungut-sungut kalau dibangunkan saat pagi tapi dia tidak pernah berbicara dengan nada seperti barusan.

“Luhan, tolong bawa Yixing dan Minnie keluar sebentar, ya. Nuna mau bicara berdua dengan Sehun.”

Yoona berbisik di sebelah telinga Luhan yang sedang menarik Sehun kuat-kuat supaya dia tidak lagi berjalan ke arah Yixing dan mendorongnya. Bocah itu mengangguk, lantas beranjak melepaskan tangan Sehun. Sebelum kemudian ketiganya mulai menghilang di balik pintu.

Mungkin Yoona tidak tahu Sehun bisa se-emosional ini. Bisa saja karena pendalaman diri masing-masing selama dua hari ini belum cukup untuk mengetahui sifat-sifat asli mereka. Yoona hanya melihat Sehun sebagai anak yang lucu dan penurut, dia suka main petak umpet atau berbincang bersama Yixing(tapi baru tadi anak itu mendorong Yixing sampai jatuh.) dan Sehun begitu tidak suka ditinggal sendiri, dia ingin semuanya berkumpul dan menjadi satu.

“Hunnie..” Yoona menggenggam kedua tangannya, mereka duduk di atas karpet hanya berdua dan suara Barney di teve sudah dimatikan sejak tadi. Gadis itu berusaha mengontrol emosinya untuk tidak ikut-ikutan marah seperti Sehun, karena itu ia memanggil Sehun tanpa penekanan kata sedikit pun.

Sehun membuang mukanya ke samping, terlihat sedang menyembunyikan mimik wajahnya. Seraya Yoona memanggil anak itu sekali lagi, matanya mencari mata Sehun untuk mereka saling bertatapan dan mengungkapkan apa yang sedang terjadi. Apa yang seharusnya mereka lakukan bukanlah saling bertengkar atau menyalahkan. Kenapa atmosfer yang seharusnya riang menjadi kacau-balau begini.

“Hunnie, dengarkan nuna.” Yoona menarik tangan anak itu supaya wajahnya tidak lagi disembunyikan. Tapi Sehun memaksa tetap pada posisi tersebut dan tidak mau bergerak meski Yoona sudah menariknya. Anak itu tetap bepijak terguh dalam keras kepalanya.

“Hei, laki-laki. Bersikaplah sedikit manly, oke? Hadapi masalahmu, bukannya menghindar.” Entah kata-kata itu berasal dari mana, Yoona mengucapkannya dengan gamblang, tanpa berpikir bahkan dia sendiri terkejut bisa mengatakan hal seperti itu pada Sehun.

Yoona pikir dia akan membuat anak laki-laki itu menoleh dan menyerah. Karena Sehun pasti tidak ingin menjadi lembek seperti perempuan, dia ingin manly ‘kan?

Beberapa detik mereka membisu tanpa gerakan apapun. Dan pikiran Yoona seratus persen salah, lantaran bocah itu masih tidak mau menatap matanya secara langsung. Dia masih setia dalam posisinya.

“Ya ampun, bisa tidak kau melihatku sebentar saja? Aku tidak akan menyalahkanmu karena telah mendorong Yixing. Aku mengerti dirimu, Hunnie. Aku tahu ini bukan kau yang sebenarnya, pasti ada yang mengganjal dan membuatmu berlaku kasar.”

Yoona sampai terengah, melengos sedemikian rupa dan tersenyum kecil ketika akhirnya Sehun melunak dan berkata dengan getar dalam setiap aksarannya. Matanya penuh kaca air yang hendak tumpah dan wajahnya merah seperti stroberi.

“Nuna kau mengerti diriku?” dia beranjak memeluk Yoona erat-erat, menangis di sana sampai napasnya kedengaran satu-satu. Yoona hanya bisa mengangguk walaupun dia tahu Sehun tidak melihatnya, dia menepuk-nepuk punggung kecil yang rapuh itu. Sambil berharap tangisnya akan meluapkan seluruh emosi yang tersimpan dan terpendam dalam hatinya.

Yoona mendengar setiap cerocosan Sehun yang tidak beraturan, dia mengucapkan semuanya dalam satu kalimat dan memang ada saat di mana setiap huruf yang ada tidak mampu mengungkapkan apa yang kau rasakan. Semuanya diluar ekspetasi dan tidak terdeteksi.

“Nuna tahu…? aku tidak pernah suka dengan keadaan ini, aku benci mereka semua, aku benci pada Yixing, atau Luhan, atau Jongin, atau Zitao, atau siapa pun yang selalu bermain bersamaku. …mereka semua akan pergi, mereka meninggalkan aku sendirian, mereka tidak mengert—“

Gadis muda itu tidak bisa berbohong kala air matanya menerjang deras, Sehun mengatakan semua yang ada dalam hatinya. Dia seperti sedang mendengar suara perasaannya sendiri, karena Yoona benci ditinggalkan. Untuk apa dia mengenal seseorang dan mencintainya kalau mereka akan pergi, menyisakan dirinya sendiri dengan luka berdarah dalam batin.

Semua klise.

Ini hanya perpisahan tentang anak kecil dan saudaranya. Kejadian umum yang bahkan tidak mampu menarik perhatian orang-orang, karena mereka tidak merasakannya. Berpisah untuk kebaikan adalah wajar, namun tidakah kau pernah merasakan bahwa ini tidak baik untukmu? Rasanya kau ingin memeluknya setiap detik dan tidak akan melepaskannya, karena jika kau melepaskannya maka dia akan pergi.

Satu jam berlalu, hari agak menggelap. Setelah keram dengan posisi berpelukan dan menangis, mereka sama-sama terdiam dalam pandangan kosong. Kemudian Sehun mulai bercerita tentang masa lalunya, termasuk masa lalu anak-anak di sini. “Beberapa bulan yang lalu, ada seseorang yang pergi dari antara kami. Dia diambil, meski kami tidak mau. Dia pergi dan meninggalkan kami.”

“Ap—“

“Namanya Kris hyung. Aku menyayanginya lebih dari apapun di dunia ini. Sama seperti aku menayangi Luhan.” Sehun menyerobot bahkan sebelum Yoona mulai bertanya, dia mengucapkan semuanya dengan pandangan kosong namun sarat akan kesedihan.

“Aku tidak suka seperti ini, nuna…”

 

Yoona memesan pizza untuk makan malam mereka. Dia sedang tidak berselera dalam hal memasak semenjak hatinya dipenuhi mendung begini. Setengah jam setelah memesan, tumpukan kardus yang wanginya membangunkan para cacing di perut itu datang, kemudian mereka langsung membukannya dan memakannya.

Semua tidak berebutan seperti saat makan kue kering, karena Yoona memesan tujuh paket malam itu. Lebih dari cukup untuk dirinya, Chanyeol, dan anak-anak. Makan malam dipenuhi canda dan tawa, lelucon polos milik Chen memecahkan kotak gembira dalam diri mereka. Apalagi sosok Chanyeol ikut berbaur mengacaukan.

Yoona berteriak agak keras tentang menyuruh anak-anak untuk tidak segera beranjak dari meja makan setelah menghabiskan pizza mereka. Dia menarik napas dengan cepat sebelum berkata, “Luhan akan pergi besok,” sejenak matanya berkelana mengitari ruangan, dalam hati ia memohon agar tidak ada yang terluka dengan situasi ini. Namun siapa juga tahu kalau ini tidak bisa dibilang ‘tidak-terluka’.

Ia melihat Junmyoon terdiam di ujung sana, dengan senyum hambar yang dipaksakan. Jongin menunduk dalam-dalam di sebelahnya, sampai Yoona sama sekali tidak mampu melihat wajahnya. Sehun diam, membeku seperti es, kendati satu yang Yoona tahu; anak itu sudah menduga semua ini akan terjadi. Kyungsoo memamerkan mata bulatnya yang berkaca-kaca, mulai merah dan bibirnya dia tekuk sampai titik paling bawah.

Zitao langsung lari ke kamarnya sedetik setelah Yoona berbicara tadi, tanpa minta ijin atau bilang apapun pada yang lainnya. Minnie tampak terlonjak sedikit, matanya berkedip beberapa kali mengatakan ia belum sepenuhnya mengerti. Yixing ada di samping Luhan, mengelus punggung anak laki-lak itu yang agak membungkuk, sebelum Luhan minta ijin ke kamar mandi.

Yoona tidak bisa berbohong kalau dia ingin menangis lagi. Chanyeol meremas lengannya sambil memeluknya, berusaha memberitahu bahwa dirinya bisa dijadikan tempat untuk menumpahkan segala sesak dalam dada Yoona.

Gadis itu mengusap matanya terburu-buru, “Tidak apa-apa, kita akan menghabiskan banyak waktu malam ini dan tidur dalam satu kamar, oke? Masih ada sepuluh jam lebih untuk kita habiskan.” Belum termasuk tidur.

Junmyoon mulai beranjak, kepalanya terangguk berkali-kali seperti sedang menahan tangisnya dan berusaha tegar. Dia menarik Jongin dan Sehun disisinya, kemudian merajut langkah menuju ruang Baekhyun. Mereka suka sekali berada di sana akhir-akhir ini, dibandingkan menonton di ruang teve.

Chanyeol bilang dia ingin ke kamar dan mengecek keadaan Zitao, memastikan anak itu tidak berbuat yang macam-macam. Kepala Yoona tergeleng sesaat, pikirnya untuk mengusir argumen-argumen tidak jelas dan prasangka tidak enak dalam otaknya. Karena, Im Yoona harus tersenyum malam ini, menghabiskan seluruh tawanya.

Film ‘The Spongebob Squarepants Movie’ yang memakan waktu dua jam agaknya kurang mengalihkan perhatian mereka. Kadang Jongin dan Zitao berebut popcorn, Kyungsoo termenung sambil memainkan tangan mungil Baekhyun, juga Yixing yang sudah ketiduran di sisi sofa paling pojok. Meski semuanya ada dalam kendali.

Chanyeol memeluk Yoona, keduanya duduk bersisian. Bahkan meski ada anak-anak di dekatnya, Chanyeol tidak pernah tahan untuk tidak berada di dekat gadis itu. Tangannya merangkul pundak Yoona, sesekali meremas lengannya pelan. Berharap gadis itu tetap tegar, dan tidak kelihatan rapuh.

Sementara Yoona seperti membeku dalam dunianya sendiri, pandangannya hanya mengawasi Luhan dan Sehun. Dia hampir lupa kalau kedua anak itu dilahirkan dihari yang sama, tempat yang sama, tahun yang sama. Mereka kembar.

Betapa bodohnya saat Yoona bertanya-tanya sendiri kenapa Sehun bertingkah agak aneh hari ini. Semuanya terjadi bukan lagi dengan alasan ‘sahabat’. Mereka adalah saudara, ikatan yang kuat selalu menjadi penghubung utama keduanya.

Bagaimana jika Luhan nanti pergi? Bagaimana cara Sehun bisa hidup sendiri tanpa ada seseorang yang sudah menemaninya bahkan sejak sebelum ia lahir? Yoona berjengit sendiri membayangkan perasaan itu. Ditinggalkan adalah urutan daftar paling akhir yang ingin ia alami.

Yoona akhirnya beranjak dari sofa, ia butuh waktu sendiri. Ia membutuhkan sebuah tempat sunyi untuk menenangkan pikirannya, untuk lari dan sekadar melepas sejenak beban yang ada di pundaknya.

Balkon di kamar Baekhyun tidak terlalu kecil untuk melihat pemandangan malam. Walaupun hanya gelap yang menghiasi langit.  Yoona menenggerkan kedua tangannya pada railing yang ada (yang berfungsi untuk menjaganya tetap aman dari jatuh), seraya menarik napas dalam dan cepat.

Kepalanya terdongak, menghirup sekian udara malam yang dingin. Yoona mengusap lengan bajunya untuk mendapat sepercik kehangatan. Tangannya tak ayal bersedekap, berusaha melepas rasa gugup yang datang entah mengapa, seperti ketika dia sedang presentasi di depan kelas. Tapi gugup yang satu ini berbeda, sedikit lebih ke rasa takut dan sesal.

Bayang-bayangnnya berputar, seakan memenuhi seluruh ruang yang ada dalam pikirannya. Penuh dan sesak. Dia muak seharian terus begini, yang dia harapkan hanya besok semuanya selesai. Semua beban yang terasa amat berat menarik punggungnya.

Inikah akhirnya?

 

 

 

 

Pagi menjelang, hari itu hari sabtu. Sabtu pagi yang sejuk. Bibi Hong sudah tiba sejak jam lima pagi tadi. Wanita itu membantu Yoona menyiapkan sarapan dan air hangat untuk anak-anak mandi.

Keduanya bercerita apa saja, tentang profesi seorang wanita sampai bagaimana cara mencuci piring yang cepat sekaligus bersih. Mereka asyik berbincang, tawa sesekali menyambar dan Yoona merasakan sedikit keringanan dalam pundaknya.

“Hunnie—“ Yoona berhenti melangkah masuk ke kamar sebelah kanan, matanya melebar cukup terkejut, sesuatu yang dia lihat menghentikan ucapannya. Tadinya dia ingin menyuruh anak itu untuk bergabung dengan yang lain, supaya bisa diawasi dengan baik. Namun karena matanya menangkap suasana hening yang tercipta, bahkan dari jarak dua meter dia bisa mendengar apa yang sedang dua anak itu bicarakan. Sehun dan Luhan. Yoona memilih diam di tempatnya.

“Kau ingat apa yang Kris hyung katakan sebelum dia meninggalkan kita?”

“Dia menyuruhku minum banyak susu biar cepat tinggi,”

Luhan menggeleng pelan seiring telinganya mendengar jawaban itu.

“Waktu itu Kris bilang seperti ini padaku, tepat jam sembilan pagi. Mungkin pesannya untuk setiap kita berbeda. Kau ingin mendengar punyaku?”

“Hmmm,”

“Aku bertanya ke mana dia akan pergi, dan dia menjawab bahwa dia sendiri masih belum tahu. Tapi setelah itu dia bilang padaku kalau sebenarnya dia tidak benar-benar meninggalkan kita. Dia hanya berada di sisi yang berbeda di dunia ini,”

Sehun bergeming di sana, pegangan tangannya pada Luhan semakin erat. Mungkin setelah ini dia tidak akan melepaskan genggaman itu agar Luhan tidak pergi.

“Jadi aku akan bilang ini juga padamu. Sehun, aku tidak benar-benar meninggalkan kalian..” Luhan menatap iris di depannya lurus, menarik napasnya sejenak sebelum kembali melanjutkan, “Aku dan Kris hanya berada di tempat yang jauh dengan kalian, kita tetap satu meski aku atau siapa pun pergi, karena kata ‘meninggalkan’ tidak pernah cocok untuk kita.”

Entah Luhan mendapat kata-kata itu darimana. Tapi ketika Yoona mendengarnya, dia terheran bagaimana bisa anak sekecil itu mengucapkan semuanya, semua tentang kata ‘meninggalkan’ atau eksistensinya pada hati mereka.

Dia menjelaskan tentang apa itu bersama, tentang bahwa sebenarnya mereka tidak benar-benar berpisah, mereka hanya terpaksa berada jauh dari genggaman.

 

 

Yoona memaksa supaya dia diberi sedikit waktu oleh Bibi Hong untuk berbincang sebentar dengan Eunji. Dua perempuan cantik jelita itu duduk di ruang tamu, hanya berdua. Kedengaran seperti perbincangan mereka adalah hal yang penting, lagi harus dirahasiakan.

“Eunji eonni, maaf aku lancang bertanya mengenai hal ini. Tapi sesuatu terus mendorongku untuk menanyakannya.” Ya, sesuatu itu adalah hatiku. Eunji menjawab dia tidak akan marah, matanya menyorot Yoona dengan teduh dan penuh ketenangan.

“Apa Eunji eonni sudah mengetahui bahwa Luhan dan Sehun…” Yoona sudah menimang hal ini sejak kemarin malam, apalagi beberapa menit yang lalu ia sempat memergoki kedua anak kecil itu saling berpelukan. Seperti enggan melepaskan, dan memang begitu kenyataannya.

Dia tidak sadar dia telah menggantungkan kata-katanya, pikirannya hanya sibuk berputar kembali seperti film dan jauh melayang entah ke mana. Eunji menungu untuk lebih lanjutnya, namun dia tahu apa yang dimaksud Yoona mengenai Luhan dan Sehun. Dia tahu apa yang harus dia jelaskan bahkan sebelum Yoona menyelesaikannya.

“Aku tahu mereka kembar,” kembar yang bukan identik. Yoona menggelengkan kepalanya sambil mengkerutkan kedua alis, dia masih tidak mengerti ada seseorang yang tega memisahkan dua saudara seperti Eunji. Apa ini namanya kejam?

“..Aku tahu ini sejak berbulan-bulan yang lalu. Tepatnya beberapa bulan yang lalu, temanku mengajaku kemari untuk melihat-lihat dan memberikan sedikit sumbangan. Tapi ternyata dia telah mengurus surat-surat kepindahan seorang anak dan kami mengambilnya hari itu. Waktu itu aku baru menikah, dan seperti yang aku ceritakan padamu; bahwa aku sudah ditetapkan tidak bisa memiliki anak sejak belia. Aku berniat mengikuti jalur yang sama dengan temanku, apalagi dia ikut mendesak dan memberiku berbagai alasan mendukung.”

Yoona hanya mengedipkan matanya, dia melihat Eunji berhenti bercerita sebentar dan menyeruput secangkit teh hangat yang telah disediakan. Sebelum wanita muda itu kembali melanjutkan—

“Aku jatuh hati padanya, Im Yoona. Saat pertama kali datang ke sini, aku tidak bisa mengalihkan perhatianku dari Luhan. Anak itu seolah memiliki aura tersendiri yang terus menariku untuk melihatnya.”

Eunji tahu ini bukan alasan logis untuk mengambil hanya satu dari dua anak kembar yang ada. Alasan ini terlalu egois untuk dipandang mata dan didengar telinga. “Lagipula Jimin setuju karena marga Luhan adalah Xi dan itu sama persis dengan marganya. Kami tidak perlu repot-repot mengurusi akte kelahirannya dan semua urusan tidak akan terlalu berbelit.”

Oh Sehun dan Xi Luhan memang saudara, tapi mereka memiliki marga yang berbeda. Semua ini disebabkan oleh secarik kertas yang tersemat di antara keduanya ketika Bibi Hong menemukan mereka. Kertas itu memberikan informasi tentang nama lengkap beserta asal-usulnya.

“Eonni, kau bisa mengambil keduanya, bukan?” aku tidak akan menyuruhmu mengambil kesepuluh dari mereka semua, aku hanya ingin dua saja. Yoona menahan semua itu dalam hatinya, bahkan kalau ia melanutkannya akan kedengaran seperti memohon dan mengemis, dia masih tahu sopan santun kepada yang lebih tua dan dia tidak ingin dicap sebagai anak kurang ajar.

Eunji menggeleng pelan, senyumnya lenyap ditelan angina dan mimiknya bertukar menjadi sendu. “Tidak ada yang menginginkan anak kembar dari seluruh keluarga kami. Bahkan terus terjadi begitu sepanjang keturunan sehingga mereka menetapkannya selayak sebuah aturan.”

Yoona tidak perlu bertanya untuk tahu bahwa sebenarnya Eunji juga tidak tega. Kenyataannya dia bukanlah satu dari antara orang yang Yoona pikir tidak berperasaan. Eunji hanya terpaksa, dan itulah yang harus Yoona terima.

 

 

Sore itu agak gerimis, sosok Jimin yang tegap dan berperawakan gagah dengan lugas memindahkan barang-barang yang ingin dibawa Luhan. Mereka tersenyum sedih, saat pintu gerbang bagian depan telah dipenuhi anak-anak dan payung warna-warni. Saat suara mesin mobil menyala, Yoona tidak menemukan Sehun bersama mereka. Entah anak itu pergi kemana.

Namun yang pasti ketika Luhan masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangan lewat kaca, Sehun tidak ada untuk memberikan kontak mata terakhir. Yoona bahkan tidak perlu bertanya kenapa anak itu menghilang, karena sebenarnya; kalau dia masih tidak cukup dewasa untuk menghadapi semua ini, dia juga akan pergi dan bersembunyi di balik pintu bersama seluruh rasa pahit dalam hatinya, berharap semua ini hanya mimpi.

Yoona menatap mobil Ford warna keunguan itu melanju menjauh, Bibi Hong langsung menyuruh anak-anak masuk, lantaran takut mereka terserang virus flu karena terlalu lama berada di bawah gerimis, apalagi payung tidak akan melindungi tubuh mereka sepenuhnya.

Wanita itu menyeduh teh hangat, kemudian menyiapkan air hangat untuk mandi. Hawa makin mendingin akhir-akhir ini, dan Im Yoona maupun Park Chanyeol harus pulang besok. Tidak ada lagi alasan yang mendukung mereka untuk tetap di sana, tidak sama sekali.

Satu yang ingin Yoona sampaikan kepada Luhan hari itu, dan dia telah berhasil mengatakannya sesaat sebelum Luhan beranjak masuk ke dalam mobil. Dia membisikannya pelan, dengan senyum lega dan haru; Terima kasih telah menjadi bagian dari rumah ini, Luhan.

 

This is the pre-final chapter:)

And my second bonus pic.-.

s_calendar2013_ist_april_luhan21(1)

32 thoughts on “Okay [4]

  1. Maaf ya thor,aku telat banget bacanya..jujur aja,ff ini feel-nya dapat bangeettt,aku sampai nangis bacanya apalagi yg terakhir itu..huhuhu…

  2. Yehet….
    Smpe nangis nih. Jd ingat dan sakit lg karna lukris hrs prg… semua terjadi gt aja… jd ngerasain perasaan sedihnya sehun… ini part favorit aku.. keren bgt ff nya… Exo hwaiting, Snsd hwaiting, authornim hwaiting…

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s