(Freelance) Married Without Love (Chapter 3)

yoonaaMarried Without Love

By                   : DeerBurning

Main Cast        : Im Yoona SNSD as Im Yoona dan Wu Yi Fan as Kris Wu

Other Cast       : Kwon Yuri SNSD as Im Yuri, Kim Jong In EXO as Kai, Park Chanyeol, Kim Junmyeon as Suho, Byun Baekhyun, Choi SooYoung, Do Kyungsoo as D.O, Kim Min Ji (OC)

Genre              : Marriage life, Family, Romance and Comedy (maybe)

Author’s note : Hallo.. Aku kembali bawa part 3 nya.. Adakah yang menunggu? Maaf terlalu lama nge post nya. Tapi yang pasti, kemungkinan besar aku bakal tetap nyelesain ff ini ko, walaupun telat, hehe.Oya seperti biasa, maaf untuk typo yang bertebaran….

Oke, langsung aja ya…

Hope you’ll enjoy it..

Chapter 3

Author P.O.V

Yoona terus tertawa sambil memegangi perutnya yang mulai terasa kaku. Ia mengelus kepalanya yang terasa sedikit pening akibat terbentur kepala Kris. Sesekali ia menoleh kebelakang, melihat Kris yang sedang memegang kepalanya kesakitan.

“siapa?” teriaknya sambil memutar knop pintu dan menariknya kedalam. Ia tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya ketika mengetahui siapa orang yang berada di balik pintu. “Ya!Neo!” ia membeku, sedikit tak percaya dengan apa yang ia lihat. -Im Yuri- satu-satunya kakak yang ia miliki datang bersama suami serta anaknya-Kim Minji-, dan… Tunggu! Siapa itu? Kenapa ada banyak orang disana?

Yoona mulai mendapati kesadarannya, ketika merasakan tubuhnya terpelanting kesamping dan memberikan celah untuk Yuri masuk. Sekarang ia bisa melihat dengan jelas orang-orang yang berada dibelakang kakaknya. Tunggu! Apakah dia tak salah lihat? Mereka adalah Park Chanyeol, Kyungsoo, Suho, Baekhyun dan.. Choi Sooyoung? Ya tuhan… Firasat Yoona benar-benar buruk sekarang.

Ia memandang tak percaya satu persatu orang yang masuk melewatinya, lalu memandang kearah Kris yang masih sibuk mengelus kepala, pandangannya beralih pada kertas yang berada diatas meja. Seperti tersengat listrik, kesadarannya mulai kembali. Ia berlari sekuat tenaga, dengan cekatan menyambar kertas tersebut dan segera membawa lari untuk menyelamatnkannya dari segerombolan orang –yang dianggap Yoona- berbahaya.

Semua mata beralih menatap Yoona heran, kenapa Yoona bertingkah aneh. Biasanya ia akan berteriak dengan keras, lalu bertingkah manja seperti anak anjing ketika tahu para oppa nya datang.

Yoona berlari cepat kearah tangga. Entah bagaimana caranya, ia bisa melewati dua anak tangga sekaligus. Nafasnya tak beraturan. Ia celingukan mencari tempat –yang mungkin- aman untuk menyembunyikan surat perjanjiannya dengan Kris, raut lega nampak menghiasi wajah cantik Yoona ketika berhasil menutup pintu lemari yang ia gunakan sebagai tempat persembunyian lembaran berharga itu.

.

.

Semua mata tertuju pada Yoona, saat gadis itu telah berhasil menuruni anak tangga terakhir. “wae?” tanyanya polos.

Mereka semua menghela nafas tak percaya, bukankah seharusnya mereka yang bertanya seperti itu? “seharusnya kami yang bertanya padamu Yoong. Kenapa kau berlari seperti itu? Apakah kami hantu?” celetuk Chanyeol, lalu mendudukkan bokongnya keatas sofa kulit berwarna hitam.

Yoona mengedikkan bahunya acuh sambil terus berjalan kearah kakaknya- Im Yuri- lalu mencomot kembang gula yang yang berada ditangan gadis cilik di gendongan Yuri. “Eonni, kenapa kau kesini? Dan kenapa harus mengajak mereka semua?” Tanya Yoona sambil menunjuk satu persatu teman Yuri yang sedang berebut tempat duduk, ia lalu mencomot kembang gula Minji untuk yang kedua kalinya.

Yoona mencubit pipi gembul gadis kecil itu gemas. “Minji-ah, bagaimana kau bisa secantik ini? Kau benar-benar mirip eooni.”

Yuri masih mengawasi tangan Yoona yang dengan seenaknya masih berkeliaran di kembang gula milik anaknya.“kau tahu jawabannya? Jelas karena Minji memiliki gen super dari ayah dan ibunya.” Balas Yuri ketus, lalu menghindarkan kembang gula dari –aksi- mencomot yang dilakakukan Yoona.

Dengan cepat Yuri memukul tangan Yoona yang berhasil mencomot kembali benda manis berwarna pink dari tangan Minji. “Ya! Aku hanya minta sedikit. Kau ibu yang pelit Im Yuri!”

“Ya! Kau bocah nakal Im Yoona!”

Yoona berjalan ke sofa sambil menghentak-hentakkan kakinya kesal. Ia memilih duduk diatara Chanyeol dan SooYoung. “minggir!”

Soo Young berteriak tak terima dengan aksi spontan yang dilakukan Yoona. Gadis ini selalu saja bertindak sesuka hatinya. “Ya! Kau menyebalkan sekali Yoong!”

Yoona merengut, lalu mengeluarkan senyum jahilnya. “tapi Chanyeol oppa menyukainya eonni” Yoona menghadap Chanyeol dan bergelayut manja dilengan pria jangkung itu.”benarkan oppa?”

Chanyeol gelagapan mendapat reaksi spontan dari Yoona. Ia memang biasa mendapat tingkah manja Yoona, tapi itu dulu, dulu sebelum ia mengenal Soo Young. Dan lagi ia sudah berjanji untuk menjalin hubungan serius dengan Soo Young.

Yoona masih bergelayut manja di lengan Chanyeol, dengan sekali-kali menggoyangkannya kekanan dan kekiri. “oppa lihatlah, calon istrimu ini benar-benar galak. Aku jadi ragu, apakah oppa benar-benar akan menikahinya? Aku rasa oppa harus mempertimbangkannya kembali.” Kedua mata Soo Young melebar, tak terima dengan apa yang Yoona katakan. “Ya! Apa katamu?” Protes Soo Young. Hampir saja ia melayangkan pukulan kepundak Yoona, tapi niat itu ia urungkan karena ia tidak ingin merusak citranya didepan kekasih serta sahabat kekasihnya. Ia menghela nafas berat lalu menghembuskannya perlahan.

Yoona mengalihkan pandangannya kebelakang. Melebarkan kedua matanya. “apakah aku salah? Eonni memang galak. Apakah eonni tahu, dulu Chanyeol oppa pernah menyuk..” belum sempat Yoona melanjutkan kata-katanya, sebuah tangan kekar telah berhasil membungkam mulutnya. Ia berontak tak terima, tapi apa daya tangan itu terlalu besar untuknya.

Dengan segera Yoona membalikkan tubuh menghadap orang yang telah lancang berani membekapnya. Dan orang itu ternyata Chanyol yang sedang tertawa salah tingkah. “bantulah Kyungsoo di dapur.” Perintah Chanyeol. Sepertinya ia sedikit tidak nyaman jika Yoona menceritakan masa lalunya pada Soo Young. Pada kenyataanya ‘memang’ benar dulu ia pernah menyukai Yoona, tapi itu dulu. Dan semua sahabatnya juga tahu akan hal itu, tapi bukankah itu hanya masa lalu? Sekarang dia sudah memiliki Choi Soo Young. Gadis yang akan menjadi pendamping hidupnya. Lagi pula bagaimana bisa Yoona bertingkah seperti itu dihadapan suaminya –Kris-.

Yoona ingin mengajukan protes pada Chanyeol, tapi pria jangkung itu telah menyelanya terlebih dahulu. “Cepat pergilah bantu Kyungsoo.” Perintah Chanyeol cepat mencoba menyembunyikan kegugupannya. “dan lihatlah, sedari tadi Kris memasang wajah masam. Sepertinya dia keberatan jika kau bertingkah manja padaku.” Chanyeol menunjuk kearah Kris lalu melemparkan senyum menggoda padanya dan sukses membuat kedua mata pria blesteran itu membulat.

“aku?”

“Ne, memangnya siapa lagi diruangan ini yang bernama Kris?” Chanyeol cekikikan, diikuti seluruh teman-temannya.

Yoona hanya bisa mendengus sebal. Ia melempari chanyeol dengan bantal sofa. “Ya!” Ia tak menghiraukan teriakan protes yang Chanyeol lontarkan dan memilih berlalu menuju dapur untuk membantu Kyungsoo. “Dasar menyebalkan!” gerutu Yoona.

.

“wow kau sangat cocok menggunakan celemek itu oppa.” Kata Yoona pada pria bermata bulat yang tengah asik dengan aksi memotong sayur di meja. Kyungsoo, pria bermata bulat itu menoleh kearah Yoona dan melemparkan senyum khasnya. “aku memang selalu cocok menggunakan apapun Yoong.”

Yoona berjalan kearah kulkas, mengambil 2 kaleng soda lalu meletakkan satu kaleng dihadapan Kyungsoo dan ikut duduk didekatnya. “kau memang selalu tampan oppa.” Teriak Yoona sambil mengacungkan kedua jempolnnya. “kau mau memasak apa?”

Kyungsoo mengambil wortel lalu memotongnya. “sup seafood dan sayur, kau pasti suka. Mau membantu?” tawar Kyungsoo.

“sebuah kehormatan bisa membantu seorang chef tampan sepertimu oppa.” Kyungsoo terkekeh mendengar jawaban yang lebih mirip seperti rayuan ditelinganya, ia menyodorkan kecambah dan memintaYoona untuk menghilangkan akarnya.

“kau mencoba berselingkuh dariku?” Yoona menoleh kebelakang, dilihatnya seorang pria berkulit putih susu yang berjalan mendekat, tak lama kemudian dengan seenaknya pria itu menaruh dagunya di bahu Yoona,”aku bukan kekasihmu. Jadi bukan suatu kejahatan jika aku bersama dengan pria lain.” lalu mengedikkan bahunya kasar. Pria itu- Suho- hanya tertawa, lalu melangkah kearah rak piring dan menaruhnya diatas meja.

“ah.. aku mendapat penolakan lagi. Kau tahu Yoong? Saat ini hatiku benar-benar sakit.” Suho sedikit mendramatisir perkataanya, ia juga memegang dada sebelah kiri untuk menambah keyakinan pada aktingnya. Yoona tak memperhatikan Suho, ia malah asyik menatap pizza yang Suho bawa. “wah.. pizza..” katanya dengan mata berbinar.

“ya! Kau tak memperhatikanku? Kau tahu, aku sudah berakting sangat bagus tadi.” Suho mengeluarkan pizza dari kotak, lalu menaruh semuanya keatas piring. Ia mengambil satu potong dan menyuapkan pada Yoona. “apakah itu enak?” Yoona mengangguk layaknya anak kecil. Dan mereka –Suho dan Kyungsoo- hanya terkekeh memandang tingkah kekanakan dari dongsaeng kesayangannya itu.

“kenapa kau selalu menolakku? Bukankah aku juga tampan?” Suho mendesah frustasi.

Yoona meringis. Ini memang bukan yang pertama kalinya ia mendengar Suho seperti itu, ia tahu jika Suho hanya ingin bercanda. Tapi siapapun orang yang mendengarnya, pasti akan mengira jika Suho memang benar-benar menyukai Yoona. “apa karena kau masih menunggu cinta pertamamu?” hampir saja Yoona memuntahkan pizza yang memenuhi rongga mulutnya. Dengan sigap Kyungsoo memberikan air putih pada Yoona.

“Ya! Kau membuatnya tersedak pabo!” teriak Kyungsoo, ia mengelus pelan punggung Yoona untuk menghentikan aksi ‘batuk-batuk’.

“oppa, aku tersedak.” Protes Yoona. Wajahnya memerah menahan malu. Dan Suho tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu.

“wae? Kau sudah melupakannya? Ya! Bagaimana bisa.” Pura-pura tak percaya.

Yoona mendongakkan wajahnya. “ak.. aku tak melupakannya!”

Senyum kemenangan nampak diwajah Suho. Ia terlihat senang karena umpan yang sedari tadi ia pasang berhasil Yoona tangkap. “waw.. jadi kau tak melupakan pria Cina itu?” Tanya Suho antusias. Ia bertepuk tangan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya takjub. “waw.. kau benar-benar keren Yoong. Sudah hampir 5 tahun dia meninggalkanmu, dan bahkan sekarang kau sudah menikah, tapi kau tetap mencintai pria itu. Ahh.. aku jadi kasihan pada Kris.” Suho memasang wajah prihatin. Diliriknya Yoona sekarang yang mencoba meminta pertologan Kyungsoo.

Yoona menarik-narik lengan baju Kyungsoo dan memasang wajah memelas. “Oppa.. bantu aku, Suho oppa benar-benar jahat, pria jelek ini terus menggodaku.” Rengek Yoona. “oppaa…”

Arasseo-arrasseo.. Ya! Jangan menggodanya terus. Lihat! Pizzamu sudah mendingin.” Tariak Kyungsoo. Sepertinya Suho masih ingin menggoda Yoona, tapi akhirnya ia memilih diam dan menata pizza ketiga di piring saji ketika melihat tatapan mematikan dari Kyungsoo.

Melihat itu, Yoona menjulurkan lidahnya pada Suho, dan kembali memeluk lengan Kyungsoo meminta perlindungan.

.

.

Sofa ruang tamu penuh dengan manusia dan makanan. Kris, Baekhyun, Chanyeol dan Soo Young duduk diatas sofa. Sementara Yuri dan suaminya Kai, berdiri sambil menggendong Min Ji.

“ah.. kalian membuatku iri. Aku juga ingin segera memiliki anak.” Celetuk Baekhyun yang berhasil mengundang seluruh perhatian teman-temannya. “wae? Apa ada yang salah? Bukankah aku juga harus menikah?”

Chanyeol nampak menggelengkan kepalanya. Ia mengalihkan pandangannya dari Baekhyun kearah Kris yang berada di ujung sofa. Ia tesenyum evil sebelum melontarkan pertanyaan yang seketika membuat Kris tersedak soda yang ia teguk. “lalu.. Kapan kau akan memberikan kami keponakan?” semua mata tertuju pada Kris, menunggu jawaban dari pria tampan itu.

“aku?” tanyanya tak percaya. Ia salah, ia tak memprediksikan pertanyaan ini.

Chanyeol mengangguk membenarkan. “hem, siapa lagi? Aku? Aku belum menikah Kris” ia masih menuntut jawaban yang tak kunjung keluar dari mulut pria dingin itu.

“Ya! Jangan katakana kau belum menyentuhnya!” Teriak Yuri yang memang sedari tadi memilih untuk diam dan mendengarkan teman-temannya. “kau belum melakunnya?” ulangnya lirih.

Semua orang mendekat kerah Kris, menunggu jawaban yang keluar. Mereka mendengus tak percaya karena tak segera mendapat jawaban yang mereka inginkan. “jadi… kau benar-benar belum melakukannya?” Tanya Yuri lagi, ia sedikit tak percaya. Bagaimana bisa pria ini tak menyentuh adiknya? Bukankah Yoona adalah gadis yang cantik? Belum lagi lingerie yang memang sengaja ia persiapkan saat malam pertama mereka sangat menggoda? Apa lagi jika Yoona yang memakai, gadis itu pasti terlihat cantik dan seksi. Ahh.. Tunggu? Atau mungkinkah Kris seorang gay? Yuri membulatkan kedua matanya. “Ya! Kau gay?!”

Dengan cepat Kris mengalihkan pandangannya kearah Yuri. Ia sedikit tak terima dengan kesimpulan tak berdasar yang dilontarkan sahabat sekaligus kakak istrinya.

Chanyeol berpindah kedekat Kris, memukul pundak pria itu pelan. “Ya! Bagaimana bisa? Apa benar kata Yuri? Kau gay?” Kris mengerutkan keningnya. “maksudku, apakah kau penyuka sesama jenis hingga tak tertarik dengan gadis secantik Yoona.”

Semua orang tapak antusias menunggu jawaban Kris. Baekhyun berteriak tak sabar karena Kris tak kunjung menjawab. Tubuhnya menegang, wajahnya merah padam. Ia tak habis fikir, bagaimana bisa mereka bertanya hal sesensitif itu secara vulgar.

“aku pria normal bodoh!” Kris berkataa pelan, lalu memukul pundak Chanyeol. Ia memang belum menyentuh Yoona, tapi bukan karena ia penyuka sesama jenis, tapi ia memang tak ingin menyentuh gadis itu, ah maksudku berusaha tak menyentuh gadis itu karena ia tak ingin menjadi pria bejat. Karena ia tahu betul mereka hanya akan bersama selama enam bulan, tidak lebih.

“lalu apa alasanmu tak menyentuhnya? Kau takut?” kejar Chanyeol. Semua mata memancarkan keantusiasan yang semakin besar. Jujur, saat ini Kris sedikit panik. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Tapi lihatlah, semua mata memandangnya penasaran. Ia takut semua mata akan lepas jika terus menatapnya seperti itu. Kris berdehem pelan untuk menghilangkan kegugupannya.

“oppa! Apakah kalian ingin buah? Aku akan mengupaskan untuk kalian.” Teriak Yoona dari arah dapur.

Sesaat Kris bisa bernafas lega, karena semua perhatian teralih kearah Yoona yang berada di dapur. “Ya! Jangan ganggu kami!” teriak Soo Young sebal.

Kai segera berlari kearah dapur, dan memberikan Min Ji pada Yuri. “Ya! Yoong kau tak boleh memegang pisau! Kau bisa terluka.”

Semua orang kecuali Kris tersadar, lalu mengalihkan pandangannya kearah dapur. “Jong In-ah jangan biarkan dia memegang pisau!” teriak Baekhyun nyaring.

.

.

Kris POV

Jujur saat ini aku merasa sedikit gugup. Bagaimana tidak? Semua orang mengejarku dengan pertanyaan konyol seperti itu. Aku bingung harus menjawab apa. Haruskah aku jujur? Tidak mungkin. Itu sama saja dengan bunuh diri. Tapi lihatlah?! Bagamana cara mereka memandangku?! Aish dasar.

“oppa! Apakah kalian ingin buah? Aku akan mengupaskan untuk kalian.” Teriak Yoona dari arah dapur. Tanpa sadar senyuman terulas dibibirku. Aku sedikit lega ketika semua perhatian teralih kearahnya.

“Ya! Jangan ganggu kami!” teriak Soo Young sebal. Aish kenapa kekasih Chayeol ini sangat menyebalkan? Ia sama persis dengan Yoona. Sama-sama menyebalkan.

Kai segera berlari kearah dapur, dan memberikan Min Ji pada Yuri. “Ya! Yoong kau tak boleh memegang pisau! Kau bisa terluka.”

Aku heran, kenapa semua orang bertingkah berlebihan seperti itu. Bukankan wajar mengupas buah menggunakan pisau? Lagi pula gadis itu sudah dewasa, kenapa harus melarangnya menggunakan pisau? Sungguh kekanak-kanakan. “Jong In-ah jangan biarkan dia memegang pisau!” teriak Baekhyun nyaring.

Aku harus memanfaatkan kesempatan ini, dengan segera aku bangkit dari sofa dan mengambil Min Ji dari gendongan Yuri. “bolehkah aku menggendongnya?” Yuri tak menjawab, ia hanya menyerahkan anaknya padaku. “Min Ji-ah, bermainlah dengan Kris samchon, oke?” kata Yuri pada Min Ji. Oh lihatlah betapa manisnya gadis kecil ini.

.

Aku memang sengaja mengajak Min Ji ke taman samping rumah. Bukannya tanpa alasan aku mengajaknya bermain disini, aku hanya tidak ingin diserang oleh mereka dengan pertanyaan-pertanyaan bodoh itu lagi.

Aku menoleh kebelakang ketika mendengar seseorang menggeser pintu kayu dibelakangku. Aku melihat Yoona datang dengan mulut penuh sambil menggendong sebuah cup besar berisi eskrim. Tak lama kemudian ia duduk disampingku. “Min Ji-ah eonni punya eskrim, kau mau?” aku melihat Min Ji berlari kearah Yoona sambil tertawa girang. Tak lama kemudian sendok eskrim yang berada dimulut Yoona sudah berhasil beralih tempat ke mulut gadis kecil itu. Dan tunggu, apa dia bilang? Eonni? Bagaimana bisa gadis ini berkata seperti itu.

wae?” Tanya Yoona ketika tanpa sadar aku memandangnya lekat. Aku menggelengkan kepala. “eonni? Bagaimana bisa kau mengajari anak kecil sepert itu?”

wae? Apakah ada yang salah? Aku memang masih muda. Dan masih pantas dia panggil eonni.” Yoona kembali fokus pada Min Ji, sesekali ia menghapus eskrim yang berada diantara sudut bibir Min Ji.

“dasar choding.”

“Ya! Aku bisa mendengarmu.” Teriak Yoona tanpa menoleh padaku, lihat! Dia berebut eskrim dengan Min Ji? Ya! Gadis ini, benar-benar kekanakan.

Dengan segera aku mengalihkan pandanganku darinya. Ia menyodorkan sesendok penuh eskrim berwarna coklat. Reflek kujauhkan tubuhku darinya. “aku tidak memakan makanan manis.”

Dapat kulihat raut kekecewaan darinya. “padahal ini enak.”

Hah gadis ini, benar-benar. Apa bagusnya benda beku itu? Aku berani bersumpah, aku tak akan menyentuh apa lagi memakan benda itu.

“oppa..” panggil Yoona lirih.

“hem..” aku menjawab tanpa mau menoleh.

“oppa..”

“hem..”

“Oppaaaa..”

Aish, gadis ini benar-benar mengganggu. Ia bahkan telah berani menarik lengan bajuku. Benar-benar menjengkelkan! Baiklah aku akan mengalah padamu Yoong. “ap..” belum sempat aku menoleh penuh, aku merasakan ada sesuatu yang menusuk mulutku, tak lama kemudian indera perasa ku mulai bisa merespon, manis dan.. dingin..

Aku menoleh penuh pada Yoona, ia menatapku dengan kedua mata yang melebar. Sedetik kemudian senyum bodoh menghiasi wajahnya. “eotte? Mashitta?” tanyanya berbinar.

Kupejamkan kedua mataku. Ingin rasanya aku meledak, “bukankah aku sudah mengatakannya tadi? Aku tidak SUKA dan tidak MAKAN eskrim!”

Tidak takut, Yoona malah terkekeh.

“aak..” perintah Yoona sambil menyodorkan sesendok penuh berisi eskrim didepan mulutku. “ayo buka mulutmu oppa, tanganku sakit.. Aak..” perintahnya lagi.

“tidak!”

“oppaa..”

“tidak Yoong!”

“oppa…” ia terus merengek. Bahkan saat ini ia benar-benar mirip dengan Min Ji..

Melihat wajah polosnya, hatiku sedikit luluh. Aku memilih mengalah dari pada harus mendengar rengekannya. Aku sedikit membuka mulitku “lebih lebar oppa!” perintahnya. Dan dengan bodohnya aku menuruti perintahnya lagi. Aku menutup kedua mataku dan kembali membuka mulutku lebih lebar sehingga bisa memberikan aksen lebih untuk benda beku ini masuk.

Lidahku mulai bisa merasakannya, hem.. rasanya tidak buruk. Bisa dibilang.. enak. Aku sedikit menyesali hidupku, bagaimana bisa aku melewatkan hidupku tanpa mencicipi benda seenak ini.

“enak kan?” ia menjejali mulutku lagi dengan eskrim. Tidak seperti tadi, kali ini ia menyuapiku dengan isi yang penuh, lalu ia mengambil sesendok untuk dirinya sendiri. Aku menatapnya curiga, bisa kulihat dia menatapku dengan tatapan.. errr… seperti menggoda, ia menggigit ujung sendok dan menatapku nakal. “wae?”

Ia terkikik,”apa oppa tidak menyadarinya?”

Dahiku berkerut.”maksudmu?”

ia mendekatkan tubuhnya kearahku. “apa oppa benar-benar tidak tahu? Sendok yang baru saja oppa gunakan, telah aku pakai. Dan itu artinya secara tidak langsung kita baru saja…” Yoona menggantungkan kalimatnya, ia semakin mencondongkan tubuhnya kearahku. Lalu menaruh tangannya di dekat telinga. “berciuman.” bisiknya.. lalu ia menjauhkan tubuhnya dan tertawa.

Ya! Apa yang gadis ini bicarakan? “berciuman hidungmu?!” Aku benar-benar tak habis fikir. Bagaimana bisa seorang gadis berbicara seperti itu pada pria.

“Ya! Apakah oppa tidak pernah melihat drama?”

Hah gadis ini, apakah dia fikir hidup itu seperti drama? Benar-benar tidak masuk akal.”apakah kau tidak pernah berciuman?” tanyaku memancing.

Kupicingkan mataku saat melihat ekspresi terkejut sekaligus gugup darinya. “yy..ya.. bagaimana bisa aku belum pernah berciuman? Aku bahkan sudah berusia 24 tahun.” Bingo! Aku tahu kau berbohong Yoong. Jadi benar dia belum pernah berciuman? Aku hanya bisa tertawa dalam hati. Baiklah aku akan memulainya, bersiap-siaplah Yoong.

Aku menggeser tubuku mendekat .“benarkah?”kulihat dia semakin menundukkan kepalanya sambil bergumam tak jelas.

“seperti ini?” aku mengangkat kepalanya perlahan, dan semakin mendekatkan kepalaku kearahnya. Aku bisa melihatnya, ia begitu gugup. Wajahnya benar-benar merah sekarang. Ya! Aku benar-benar tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Lihatlah wajahnya itu. Aku semakin mendekatkan wajahku, saat ini aku mulai bisa merasakan hangat nafasnya menerpa pipiku. Sedikit lagi Kris, teriakku dalam hati. Semakin dekat dan dekat. Bahkan saat ini aku bisa merasakan kegugupannya.

Huufft..

Aku meniup matanya, lalu mencubit kedua pipinya gemas. “Ya! Gadis bodoh! apa yang kau fikirkan? Kau benar-benar menggemaskan.” Kataku sambil terus mencubit pipinya.

Yoona menatapku dengan kedua mata melebar, aku sampai takut jika kedua bola matanya keluar. Wajahnya semakin memerah, bahkan sampai ketelinga. Kulihat dia memejamkan kedua matanya, tak lama kemudian dia menatapku tajam. “Ya! Ahjussi! Lepaskan!” dia terus berteriak kearahku.

“apa katamu? Ahjussi?”

Dia terus memberontak kekanan dan kekiri, mencoba melepaskan diri. “Aw! Appo!” teriakku, saat ini Yoona berhasil menggigit pergelangan tanganku. “lepaskan gadis bodoh! Kau melukai tanganku!” teriakku lagi, Yoona tak kunjung melepaskan gigitannya, bahkan saat ini ia semakin keras menggigitku. “Lepas.. Aw!”

“Eonni.. Samchon.” Yoona baru mau menghentikan aktifitas ‘menggigitnya’ ketika mendengar suara Min Ji memanggilku dan Yoona. Aku hampir lupa, jika ada Min Ji disini.

Aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan, dengan segera aku berlari kearah Min Ji dan menggendongnya, lalu berlari untuk menghindari Yoona. “Minji-ah awas, imo mu akan menggigit.” Teriakku sambil membawa Min Ji menghindari kejaran Yoona.

“Ya! Apa kau bilang? Kau mengajarkan hal buruk pada anak kecil.” Yoona mulai bangkit dan berlari mengejarku. “awas kau Kris..”

Yoona terus mengejarku, aku berlari kekanan dan kekiri untuk menghindari tangkapannya. Sesaat, aku bisa melupakan semuanya. Bahkan aku bisa melupakan penghianatan masa lalu yang pernah merobek habis hatiku selama bertahun-tahun. Dan apakah kalian tahu? Malam ini kuhabiskan dengan Yoona dan Min Ji, berlari dan tertawa bersama. Melakukan hal-hal yang belum pernah aku lakukan sebelumnya. Melakukan hal kekanakan dengan gadis choding. Im Yoona.

Kris POV End

.

.

.

Yoona POV

“sudah menunggu lama?”

Aku menatap pria dihadapanku yang mulai berjalan mendekat dan duduk tepat didepanku. Tanpa rasa bersalah dia mengambil alih coffee latte ditanganku dan meneguknya higga tersisa setengah. “apakah itu enak?”

Ia menggaruk belakang lehernya lalu menyengir bodoh. “apakah kau sudah pesan sesuatu?”

Aku menatapnya tajam. Tak bisakah ia mengatakan ‘maaf’ karena telah membuatku menunggu lama? Aku sudah menunggumu lebih dari 30 menit tuan Oh. Aku memukul kepalanya dengan buku menu. “Ya! Yoong appo!” Teriaknya. Menatapku sekilas lalu mengelus kepalanya.

“sakit? Apakah itu sakit? Tak bisakah kau meminta maaf karena telah membuatku menunggu?” aku sudah bersiap-siap akan memukulnya lagi. Tapi pria itu –Sehun- lebih dulu menggenggam pergelangan tanganku.

arasseo-arrasseo.. mianhae Yoongi-ah. Maaf telah membuatmu menunggu.” Sehun menurunkan tanganku dan menunjukkan wajah memelasnya. “hem.. kau tidak mau memaafkanku? Ayolah Yoong, kau tahu kan Seoul sangat macet”

Aku memang masih kesal. Tapi melihat puppy eyes nya benar-benar membuatku tidak tahan. Ah ayolah, bukannya aku ‘gampangan’ tapi coba kalian lihat ekspresinya sekarang. Apakah kalian akan tahan?

“aish.. kau ini, benar-benar.”

Ia tertawa senang, lalu menepukkan kedua tangannya tanda bahagia. Seperti itulah ekspresi seorang Oh Sehun saat bahagia. Sungguh kekanakan bukan?

.

“bagaimana hubunganmu dengan pria itu?”

Pertanyaan Sehun barusan berhasil menghentikan tanganku untuk menyuapkan sesendok nasi dalam mulut. “hubunganku? Maksudmu?”

Ia masih mengunyah makanannya, lalu mulai berbicara. “sejak kapan kau menjadi bodoh seperti ini Yoong? Bagaimana hubunganmu dengan pria itu, suamimu, apakah semuanya baik-baik saja?”

Aku mengaduk-aduk nasi kare dihadapanku, lalu kembali menyuapkannya kedalam mulut. “semuanya berjalan dengan baik. Tapi..” aku menggantungkan kalimatku. Bimbang akan melanjutkan atau tidak.

Sehun mengerutkan dahinya. “tapi apanya?”

“dia menyebalkan…” aku menaruh sendokku. “dia fikir dia siapa? Apakah kau tahu, bahkan dia memanggilku bodoh. dan…” aku menggantungkan kalimatku. Masih mengingat-ingat ‘olakan’ lain yang pria itu buat untukku.

“dan? Kau lupa?”

Aku menatapnya sebal karena berhasil menebak semuanya dengan benar. “ah aku ingat! Dia juga menyebutku otak ayam dan otak burung, apakah aku sebodoh itu? Bagaimana menurutmu? Bukankah dia sangat menyebalkan?”

Sehun melakukan hal yang sama, ia menaruh sendoknya di ujung piring. “jangan terlalu membencinya. Kau bisa jatuh cinta nanti.” Sehun mengacak rambutku pelan, lalu kembali melanjutkan acara makannya.

Tubuhku membeku. Hatiku berdesir merasakan sentuhannya. Ya tuhan.. apa yang terjadi? Kenapa jantungku berdetak seperti ini? Aku memegang dada kiriku. Aku rasa aku bisa terkena serangan jantung jika terus seperti ini. Dan.. Omo! Lihatlah.. Senyuman itu! Ya Oh Sehun! Hentikan senyum bodohmu itu! Apakah kau ingin membunuhku?

“minggu depan hyung akan pulang.”

hyung?” sungguh pertanyaan bodoh.

ia hanya bergumam sebagai jawaban. “hem.. Apa kau tidak tahu? Hyung tidak pernah menghubungimu?”

Aku terdiam. Sebenarnya otakku masih belum bekerja maksimal karena sentuhan ringan pria bodoh dihadapanku ini, sehingga aku tak terlalu bisa merespon semua ucapannya dengan cepat. “jangan bilang kau sudah melupakannya nona Im.” Sehun menatapku lekat. “apakah kau sudah jatuh cinta pada suamimu hingga melupakan hyung ku?”

Aku menoleh kearahnya. “ne?” linglung. “yaa.. Bag.. Bagaimana bisa aku melupakannya tuan Oh. Aku hanya.. Masih terkejut.”

Aku bisa menangkap tatapannya. Kecewa atau.. Entahlah, aku tidak begitu yakin. “aku tahu.. Kau hanya mencintainya, dan tidak akan pernah mencintai yang lain. Kau memang tipe gadis yang setia” Aku hanya bisa tertawa canggung saat sekali lagi ia mengacak rambutku gemas. Ya Oh Sehun bunuh saja aku!

Yoona POV End

.

.

.

Author POV

Dua minggu telah berlalu. Seperti malam-malam sebelumnya, Yoona selalu terbangun tengah malam karena mimpi buruk yang kembali datang. Dan seperti biasanya, ia berakhir disini. Di ruang tamu dengan ditemani semangkuk besar eskrim dan berbagai snack yang memenuhi seluruh sudut meja.

Ia mengambil buku sktetsanya, dan dengan perlahan tapi pasti ia mulai menggoreskan berbagai warna dari pensil diatasnya. Inilah kegiatan rutin yang Yoona lakukan ketika ia terbangun tengah malam.

“ah.. aku bosan.” Yoona menguap, ia melirik jam besar yag tergantung di atas Tv.. “masih pukul 3? Aku ingin cepat-cepat pagi.”

Ia membuka laptop dan memutar beberapa kartun favoritnya, ia tertawa terbahak-bahak saat melihat tingkah konyol larva red dan larva yellow saling menunjukkan kebolehannya untuk menarik perhatian larva wanita. Melakukan kompetisi renang dan berakhir dengan larva yellow yang menjadi pemenang. Ia benar-benar tak bisa menahan tawanya ketika melihat ekspresi kekalahan dari larva red, bahkan ia sampai mengeluarkan air mata berkat tingkah konyol kedua mahluk animasi itu.

Hampir satu jam ia menonton, rasa bosan kembali menyelimutinya. Ia heran, biasanya ia akan terlelap sesaat setelah melihat kartun favoritnya ini, tapi sekarang tidak. Matanya terasa berat tapi tak kunjung lelah dan terlelap. Akhirnya, ia memutuskan untuk menjelajah melihat isi laptopnya.

Ia melihat beberapa koleksi sketsa gaun pengantin yang ia rancang untuk acara fashion show pertamanya dua setengah bulan lagi, ia terlihat puas melihat beberapa desain yang ia buat. setelah puas, ia kembali melihat beberapa file yang ada didalam folder. Ia menemukan beberapa foto dirinya dengan keluarga. Beberapa foto ia ambil saat merayakan ulang tahun Minjii yang kedua setahun lalu. Seulas senyum nampak diwajahnya, ia senang melihat kakaknya –Im Yuri- bahagia, walaupun terkadang ia terlihat jahat ketika bertemu kakak dan kakak iparnya. Tapi dalam hati kecilnya ia merasa bersyukur kakaknya mendapatkan pria sebaik Jong In.

Memang benar, terkadang ada ‘sedikit’ rasa benci ketika mengingat Jong In menghancurkan masa depannya, karena pada kenyataannya Yurilah yang seharusnya menerima perjodohan ini, bukan Yoona. Jika bukan karena Yuri hamil, saat ini Yuri yang akan mendampingi Kris, dan Yoona pasti telah bersama orang yang sangat dicintainya, bukan malah bersama pria dingin itu.

Tapi perasaan benci itu berubah seketika saat ingatannya menjelajah pada kejadian beberapa tahun yang lalu, kenyataan bahwa dialah penyebab utama kehancuran mimpi serta masa depan kakaknya –Im Yuri-. Dan dia, Yoona sangat bersyukur sekaligus berterima kasih pada Jong In, karena berkat dirinyalah senyum ceria kakaknya kembali terukir.

Yoona mengusap matanya cepat saat merasakan ada sesuatu yang mendorong untuk keluar. Ia menarik nafasnya dalam, “terimakasih Oppa, dan.. Maafkan aku eonni.” Ia kembali tersenyum saat membuka sebuah folder yang ternyata isinya adalah bebrapa video ia bersama teman kakaknya. Ada Chayeol, Suho, Bekhyun, Kyungsoo, Yuri, Jong In dan Hyoyeon tengah merayakan hari jadipernikahan mereka yang kedua di tempat karaoke. Mereka menggila, menari dan bernyari bersama. Ia merindukan saat-saat itu.

Oh.. Apa ini? Sepertinya Yoona lupa dengan yang satu ini. folder dengan tanda titik (.) sebagai namanya. Ia membuka folder itu, dan betapa terkejutnya dia ketika mendapati foto masa lalu. Ada foto dirinya dengan Sehun di tepi danau, ia lupa kapan ia mengambil gambar ini. tapi ia sedikit ingat, sepertinya ia mengambil gambar ini saat berusia 10 atau 11 tahun. Saat itu ia sedang marah dengan kakaknya, lalu memilih kabur dari rumah. Dan akhirnya, disinilah dia. Ditepi danau belakang sekolah dengan ditemani sahabat terbaiknya Oh Sehun.

Yoona sedikit tersenyum ketika memorinya menjelajah masa lalu. Ia ingat, hanya Sehunlah orang yang bisa menghiburnya. Sehun bahkan rela tak menjajankan uang sakunya hanya demi membelikannya se cup besar eskrim untuk Yoona. Sungguh sahabat yang baik bukan?

Dadanya bergemuruh saat membuka gambar selanjutnya, didalam foto itu terdapat seorang pria berusia sekitar 12 tahun yang masing-masing tangannya dirangkul oleh dua wanita cantik yang berusia sama. Salah satu gadis itu adalah Yoona. Dan satu lagi… Hye Sung. Tubuhnya sedikit bergetar, keringat dingin mulai membanjiri permukaan kulit tubuhnya. “Hyesung-ah..” lirihnya. “Hyes….” tenggorokannya tercekat, ia tak bisa melanjutkan. Air mata yang sedari tadi mati-matian coba ia tahan mulai berlomba keluar dari pelupuknya.

Rasa bersalah itu mulai muncul kembali. Tubuhnya bergetar hebat, seluruh tulangnya terasa patah dan tak bisa menompang tubuh yang mungkin tak terlalu berat. “Hyesung-ahMianhae.” Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba meredam ledakan tangis. Tapi hal itu sia-sia, pada akhirnya tangisnya pun pecah, semua usaha yang ia lakukan sedari tadi hancur sudah. Air mata terus menganak sungai, membasahi kedua pipi pucatrnya.

.

.

To Be Continued…

Hay.. Hay…

Gimana nih ceritanya? Aneh? Ga sesuai dengan yang rider’s pengenin?

Aku mau ngucapin banyak terimakasih buat para readers yang uda mau baca apalagi ninggalin jejak di dua part sebelumnya. Dan aku juga mau minta maaf, karena uda telaaaaaattt banget ngepost part 3 ini. Maklum, mahasiswa tingkat akhir.. keke~

Terakhir.. Mohon tinggalin jejak ya….

49 thoughts on “(Freelance) Married Without Love (Chapter 3)

  1. Part sebelumnya yg mimpi hyesung terus sekarang kayaknya pada protektif bgt sama yoona… Yoona kamu kenapaa trus yg yuri juga jadi takut dulu yoona pernah kenapa2 ,,, Tapi jng sedih2 yah author ceritaanya yoonaaaaaa

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s