FACE OFF [6]

req-fn

author : FN

main cast : Park Chanyeol, Im Yoona, Mun Joo Won

other cast : Lay, Baekhyun, Seohyun, Sehun and others

genre : action, family, marriage life, little romance, friendship, hurt and others

length : chapter

rating : PG 15

poster : arin yessy @ indo ff arts

desclaimer : di cerita ini author terinspirasi dari 3 film barat dan 1 drama korea. judul filmya Face Off, Enemy Of The States dan Taken (1 & 2). buat dramanya dari drama Korea judulnya Ghost (drakor favorit author, yang castnya Soo Ji Sub <= salah satu aktor fav author ini xD).

author’s note : di cerita ini mungkin cukup jauh dari kata romance antara main cast tapi romancenya tetep ada dan mungkin agak sedikit lebih fokus ke main cast namjanya. mianhe jika ada typo dan kesalahan teknis lainnya 🙂

—-

“kau berbohong padaku?! kau mengatakan padaku bahwa kau tidak hujan-hujanan tapi kenapa kau sekarang hujan-hujanan?! Bajumu semua basah! Bagaimana jika kau sakit?! Bagaimana kita akan menemukan Seohyun jika kau sakit?!”, pertanyaannya menghujamku

“kau—mencintaiku?” bisikku padanya, dia tak menjawabku melainkan hanya diam sambil tetap memegangi payungnya agar aku dan dia tak basah karena air itu tapi setelah beberapa saat, aku mulai merasakan punggungku basah, aku merasakan titik-titik air hujan itu turun mengenai pakaian yang aku gunakan sekarang dan sebuah tangan kekar itu membalas pelukanku, bahkan lebih erat daripada yang aku lakukan saat ini

“tak cukupkah kita hidup bersama selama ini untuk membuatmu percaya jika aku benar-benar mencintaimu?”

—-

Aku terdiam menengarnya, aku belum berniat membuka mulutku, entah kenapa perasaanku menjadi sangat sakit ketika dia mengatakan hal tadi

“gumawo” kataku pelan, “grrtktk”

Chanyeol langsung melepas pelukanku dan menatapku yang aku yakini mulai memucat ditambah tabrakan gigiku dan juga gidik ngeri dari leherku. Dia langsung menggendongku tanpa mengatakan apa-apa dan membawaku masuk kedalam mobilnya. Dia lalu memberiku jasnya dan juga mantel hangatnya. Dia mengatur posisi dudukku agak sedikit merebah dan langsung menyalakan penghangat

Aku benar-benar kedinginan sekarang tapi itu tak berangsur lama karena penghangat mobil ini juga bau mantel dan jas milik Chanyeol yang membiusku hingga aku benar-benar tertidur pulas di mobil.

Author pov

“miris sekali hidupmu, bahkan kedua orang tuamu pun tak menginginkanmu hidup”

“aits, mereka justru bahagia karena mereka berdua hanya menyayangi anak keduanya yang dibunuh oleh bos 3 tahun yang lalu”

Gadis kecil itu hanya diam menatap semua orang yang ada disana geram sambil menangis. Dia sedang disandera oleh bawahan orang yang membunuh Lio, adiknya dulu. Apa itu artinya dia juga akan dibunuh?

“lihatlah, malang sekali kau Park Seohyun, kedua orang tuamu tak ada yang menyayangimu. Eommamu peduli padamu hanya karena kedok yang diusulkan appamu”

“kau hanya anak terbuang tanpa kasih sayang dari kedua orangtuamu!”

Mereka semua langsung tertawa terbahak satu sama lain sedangkan Seohyun, jantungnya benar-benar berdegup kencang. Air matanya terus mengalir dan sudut bibirnya berdarah karena tadi dia mencoba melawan untuk melepaskan diri, hingga untuk hukumannya dia ditampar hingga berdarah dan membiru

“kalian kurang kerjaan, untuk apa kalian mengurusi anak terbuang sepertinya?” tanya seseorang yang baru saja tiba dan menatap Seohyun penuh amarah lick, “kau disini hanya sebagai umpan agar appamu mendekat dan-BOM—tamatlah sudah karir detektif sekaligus polisi kebanggaanmu itu”

“appaku akan membunuhmu lebih dulu!” teriak Seohyun

Plak!

“jaga bicaramu nona terhina!” desis wanita disamping lelaki itu menatap Seohyun garang

Seohyun menunduk menangis, pipi kanannya sakit karena tamparan tadi, tamparan tadi jauh lebih keras dari yang dilakukan appanya dulu dan serangkaian kata-kata yang diucapkan oleh mereka itu teringat di pikiran Seohyun

‘apa benar appa dan eomma hanya menyayangi Lio bahkan ketika Lio sudah tiada?’

“buka mulutmu” perintah seseorang, Seohyun mendongak dan menatap wanita angkuh didepannya ini sambil tersenyum smirk, “aku tak sudi makan makanan haram dari kalian!” jawab Seohyun

Tangan putih mulus itu hampir saja ingin menghajar Seohyun tapi seorang laki-laki menahan tangannya dan merebut piring yang sedang dibawa oleh wanita angkuh itu

“jangan membuat korban lain” katanya tajam, wanita angkuh itu langsung berjalan pergi meninggalkan Seohyun dan lelaki itu. lelaki itu duduk berjongkok menyamai posisi duduk Seohyun. Dia tak menatap Seohyun tajam, dia hanya menatap Seohyun iba

“aku tahu kau membenci kami tapi setidaknya biarlah kami memberimu makan, kau tak bisa untuk tidak makan terus-terusan selama hampir 4 hari ini” kata lelaki itu, Seohyun tak menjawabnya bahkan menatap wajah lelaki itu pun dia tak sudi

“aku bukan bermaksud jahat saat ini tapi tolong isilah perutmu, ini juga demi kesehatanmu—ehm—jika kau tak mau apa aku perlu memberimu teman disini?” tanya lelaki itu

Karena Seohyun tak segera menjawab lelaki itu menarik nafasnya panjang, “jadi kau benar-benar ingin memiliki teman disini? Seperti Yonghwa? Tapi jika kau menginginkannya berada disini jangan harap dia bisa keluar dengan keadaan bernyawa” kata lelaki itu memberi pilihan

Mendengar itu, tubuh Seohyun bergetar hebat, tangannya mulai meraih piring yang ada didepannya dan memakannya sambil menangis sesenggukan. Dia tak mungkin mengorbankan orang lain didalam urusan pribadinya

“nah, itu jauh lebih baik, pastikan saja kau menghabiskannya” kata lelaki itu mengulum senyum dan meninggalkan Seohyun sendirian dikamar itu

Mianhe.

—-

Baekhyun bergegas keruangan Joo Won tapi ketika sampai disana Joo Won tak berada disana, hanya sekertarisnya saja yang berada diluar. Karena tak mendapati bosnya didalam, Baekhyun segera saja mengitari seluruh perusahaan itu tapi tetap saja tak menemukan. Jika dia bisa menghubungi Joo Won, dia akan melakukan hal itu sejak tadi tapi ponsel Joo Won tak aktif. Ah? Detektif Park Chanyeol?

“detektif Park?”

“…”

“ne? Zhang Yixing?” tanya Baekhyun bingung, bagaimana ponsel detektif Park bisa ditangan orang lain

“…”

“ah…ini Byun Baekhyun, bawahan Joo Won sajangnim, apa anda sedang bersama Joo Won sajangnim?” tanya Baekhyun

“…”

“ah… gamsahamnida” jawab Baekhyun hendak menutup teleponnya tapi terpotong karena Baekhyun langsung terdiam dan mendengarkan perkataan Yixing aka Lay lewat telepon

Setelah selesai, Baekhyun langsung bergegas lari ketempat parkir dan menjalankan mobilnya secepat yang dia bisa. Sesampainya ditempat yang dikatakan bawahan detektif Park tadi Baekhyun langsung masuk dan mendapati detektif Park bersama Joo Won tengah berdiri melipat kedua tangannya beradu argumen. Lay yang mengetahui kedatangan seorang tamu langsung memutar kursinya dan mendekati Baekhyun

“annyeong, Zhang Yixing imnida, kau bisa memanggilku Lay” kata Lay menyalami Baekhyun, Baekhyun langsung menyambut uluran tangan itu, “Baekhyun imnida” jawab Baekhyun

“mereka sudah sejam seperti ini. beradu argumen tanpa menemukan solusi yang jelas” kata Lay menatap bosnya dan cracker itu bergantian

“hyung” panggil Baekhyun, Joo Won mendengar itu langsung menoleh, “kapan kau sampai? Apa informasi yang kau dapat?” tanya Joo Won to the point

“jika detektif Park tak segera menyerahkan diri maka Park Seohyun akan dibunuh sama seperti saat Mun Ji Won atau Oh Sehun mencoba membunuh detektif Park dulu atau mungkin jauh lebih parah daripada yang dulu Oh Sehun lakukan” jelas Baekhyun, “denah lokasi terakhirnya mereka berada masih berada di kota Seoul tapi ketika aku mulai melacaknya lagi tadi, sinyalnya menjadi rusak dan bercabang di banyak tempat di Seoul dan soal bom. Bom itu masih tetap aktif, kita bisa menghentikannya tapi hanya detektif Park saja yang diizinkan” lanjut Baekhyun

“maksudmu, harus detektif Park yang melakukannya?” tanya Joo Won

“ne, setidaknya itu yang mereka katakan lewat email yang mereka kirim tadi pagi” jawab Baekhyun

Chanyeol dan Joo Won terdiam, mereka menatap satu sama lain. Joo Won bisa menjinakkan bom tapi Chanyeol? Ayolah, Chanyeol hanya seorang polisi lokal yang merangkap sebagai detektif di kantornya dengan bawahan terpercayanya Lay. Dia bukan seorang anggota penjinak bom, dia bukan anggo SWAT dan dia bukan salah satu orang yang tergabung dengan hubungan kepolisian internasional

“hyung, kau tak bisa menggantikannya” kata Baekhyun yang mengetahui raut wajah Joo Won, “hanya ini satu-satunya cara agar menghentikan mereka, membersihkan nama baikku dan mengetahui alasan kenapa mereka mengincar keluarga detektif Park” jawab Joo Won

“kau lupa hyung? Mereka sama cerdasnya denganmu” kata Baekhyun, “tidak! Tak ada yang bisa melebihi kecerdasaanku disini, bahkan polisi dan agen nasional pun tertipu dengan trik yang aku gunakan” jawab Joo Won

“mereka bawahan adikmu, kau jangan melupakan point itu”

“brengsek! Mereka sengaja melakukan ini karena mereka tahu detektif Park tak akan bisa menghentikan bom itu” gumam Joo Won

Mereka berempat langsung terdiam satu sama lain, Lay berdiri memasukkan kedua tangannya ke sakunya, Joo Won mondar-mandir memikirkan cara, Chanyeol berusaha tetap berpikir agar dia bisa menemukan jalan yang tepat sedang Baekhyun (yang sepertinya sudah memiliki cara) menatap mereka ragu

“sebenarnya ada satu cara” sahut Baekhyun pelan, mendengarnya Chanyeol, Joo Won dan Lay langsung menatap intens kearah Baekhyun

“apa cara itu?” tanya Chanyeol

“kalian harus bertukar wajah”.

Chanyeol pov

Bertukar wajah?! Operasi?! Gila! Apa dia sudah diluar batas pikirannya?! Apa dia sudah gila?! Bagaimana bisa Joo Won memiliki bawahan tak memiliki akal sehat seperti itu?!

Flashback

“mwo?! kau gila?!” pekikku keras menatap tajam ke arah Baekhyun

“hanya itu satu-satunya cara menurutku, teknologi mereka tak kalah berkembangnya dengan kami! Joo Won hyung bisa menjinakkan bom itu dan dia bisa menggunakan komputer jauh lebih hebat dari yang kau lakukan. Jika kalian bertukar wajah maka Joo Won hyung bisa langsung kesana, menghentikan bom dan menyelamatkan anakmu yang dijadikan sandera oleh mereka” jawab Baekhyun

Aku menatap kearah Lay dan Joo Won yang sedang berpikir keras. Di misi ini hanya Lay yang aku beritahu sedangkan para polisi dan detektif yang lain tak ada yang aku beritahu. Aku sudah banyak melanggar peraturan dan sekarang? Aku harus melanggar peratuan lagi? Tidak! Aku hidup disini bertahun-tahun dan ketika mereka tahu aku melanggar maka dengan secepat kilat mereka akan mengeluarkanku

“tidak, aku menolak, aku menolak ide gila itu!” kataku tegas

“hanya itu detektif, kau ingin memaksakan dirimu datang kesana? Kau justru membunuh anakmu sendiri”

Ketika Baekhyun menyebut nama Seohyun, otakku terasa memanas. “aku MENOLAK!” tegasku sekali lagi dan pergi dari gudang tua itu.

Flashback off

Tentu saja, aku menolak ide gila yang dilontarkan oleh Byun Baekhyun tadi. Wajah?! Dia pikir aku akan rela melihatnya berduaan bersama istriku, oke niatnya memang hanya untuk membersihkan namanya dan juga sekalian membebaskan anakku tapi wajahku akan ditukar dengannya?! TIDAK! Aku tak akan rela menukar apapun dan memilih melihat istri yang aku cintai bersama dengan orang lain

“Chanyeol?” panggilnya lembut, “wae? Kenapa melamun sejak tadi?” tanya Yoona yang menatapku

“kenapa kau justru belum tidur?” tanyaku balik, dia mengangkat bahunya tak tahu, “bagaimana tentang Seohyun?” tanyanya

Aku tersenyum lembut menatapnya, “kau jangan melakukan apapun, aku akan membereskannya secepatnya” jawabku, “aku ingin membantumu” katanya, “andwe, aku bisa melakukannya, aku bisa menemukan anak kita. Kau tenang saja dirumah” jawabku

“aku merindukannya, sungguh. Ketika aku pulang kerja, dia biasanya menungguku diruang tengah tapi sekarang aku tak melihat sosoknya lagi disekitarku. Tak cukupkah kita kehilangan Lio? Apa mereka menginginkan tebusan hingga mereka berbuat hal ini?”

Aku memutar tubuhku hingga menatapnya, tanganku mengelus rambut cokelatnya dan tersenyum. “kau percaya padaku, bukan?” tanyaku, dia mengangguk, “jadi, percayalah jika aku akan membawa Seohyun pulang dengan keadaan baik-baik saja” kataku lagi

Aku menangkup wajahnya dan menciumnya, aku rasa aku melakukannya dengan pelan tapi entah kenapa aku mulai sedikit kasar, tubuhku sudah beralih menindihnya. Jujur saja pikiranku masih terkait dengan ucapan Baekhyun tadi tapi jika aku menyetujui soal operasi ini maka aku akan melepaskannya, aku tak mau dan aku tak bisa

“Chanyeol, apa yang terjadi denganmu?” tanya Yoona menghentikan kegiatanku tadi, aku menatapnya diam, “tolong, hanya ikuti apa yang aku inginkan malam ini” jawabku kembali melakukan semua yang aku inginkan padanya.

Author pov

“hyung” panggil Baekhyun yang menatap Joo Won yang masih berpikir sejak tadi, “idemu gila, Baekhyun” jawab Joo Won tak menatap Baekhyun

Baekhyun menghela nafasnya, “hanya itu caranya hyung, detektif itu tak bisa menjinakkan bom dan kau, kau bisa melakukannya bahkan wawasan tentang teknologi kau jauh lebih hebat darinya. Jika aku jadi dia, aku tak akan menolak ide ini” kata Baekhyun

“kita bisa menggunakan HT?” tanya Joo Won yang terlihat sangat bodoh dimata Baekhyun

“hyung, apa kau benar-benar seorang mahasiswa yang lulus diumur 22 tahun? Apa dosenmu dulu tak salah memberimu nilai? Bukan menghina hyung tapi mereka tak akan terkecoh dengan alat-alat polisi seperti itu” jawab Baekhyun berdecak pinggang

Joo Won mengacak rambutnya, “ne, kau benar tapi untuk masalah perjanjian bukan masalah itu dia menolak tapi ada hal lain” jawab Joo Won menatap kearah luar ruangannya

“kau pulanglah, kita bahas ini besok lagi” kata Joo Won, Baekhyun membungkuk singkat dan berjalan keluar

‘apa yang sedang direncanakan Sehun sebelumnya?’

‘kenapa mereka tetap melanjutkan rencana itu meskipun Sehun sudah mati?’

‘apa—aku perlu ke panti asuhan tempat Sehun dirawat?’

‘ne, aku akan melakukannya besok’.

Keesokan harinya Joo Won pergi ke sebuah panti asuhan dipinggiran kota, panti asuhan itu masih berdiri kokoh hanya bangunannya saja yang terlihat tua tapi tetap terawat. Didepan panti itu ada beberapa anak sedang bermain disana sedangkan yang lain tampak seperti sedang membaca buku. Joo Won melangkahkan kakinya masuk kepekarangan itu, ketika sampai didepan pintu yang terbuat dari kayu ex itu, dia mendorongnya pelan dan kemudian seorang wanita berpakaian hitam dan putih mendekatinya sambil tersenyum simpul

“ada yang bisa kami bantu tuan?” tanyanya ramah, “bisakah aku bertemu dengan kepala?” tanyanya, wanita paruh baya itu mengangguk dan menunjukkan tempatnya pada Joo Won. Joo Won masuk kedalam ruangan sederhana tapi rapi tersebut dengan tenang, ada seorang wanita yang bisa dipastikan itu adalah kepala panti sedang berdiri menyambutnya tersenyum

“silahkan duduk tuan” katanya ramah, Joo Won langsung duduk di kursi yang disediakan dan menatap kepala panti itu diam

“ada yang bisa saya bantu tuan?” tanya kepala panti ramah

“ehm—bisakah aku bertanya tentang seseorang yang pernah tinggal disini?” tanya Joo Won

“siapa nama anda tuan?”

“Mun Joo Won” jawab Joo Won, “aku kemari karena ingin menanyakan tentang namja ini” lanjut Joo Won mengeluarkan beberapa lembar foto dari sakunya dan memberikan pada kepala panti didepannya

“apakah namja itu pernah tinggal disini?” tanya Joo Won

Kepala panti itu menatap Joo Won tersenyum, “ne, dia tinggal disini hingga umurnya 20 tahun tapi setelah itu dia pergi dan kadang dia masih sering mengunjungi kami” jawabnya

“apakah namanya Oh Sehun?” tanya Joo Won, kepala panti itu mengangguk, “ne, Oh Sehun, dia namja yang sangat cerdas” puji kepala panti

“ehm—nyonya, apakah Oh Sehun meninggalkan barang-barangnya disini?” tanya Joo Won pelan

“barang?”

“ne, barang apa saja. Apa Sehun pernah meninggalkan sesuatu disini?”

“ada apa anda mencari Sehun?” tanya kepala panti curiga

“sebenarnya saya adalah hyungnya, saya kemari ingin memastikan sesuatu” jawab Joo Won tenang

“bagaimana bisa anda membuktikannya?”

Joo Won tersenyum simpul dan mengeluarkan sebuah surat beserta foto Sehun ketika masih kecil dan dia menyerahkan kepada kepala panti. Setelah melihatnya kepala panti sedikit berdehem dan menatap Joo Won

“memang sedikit mirip ketika memperhatikan wajah anda lebih jelas” kata kepala panti tersenyum simpul

“hmm—mianhe tuan, saya tak begitu mengetahui tentang barang yang ditinggalkan oleh Sehun tapi mungkin salah satu suster disini bisa memberitahumu sebab dia yang membersihkan kamar yang Sehun tempati”

“bisakah aku bertemu dengannya?” tanya Joo Won muai semangat, “ne” jawab kepala panti itu tersenyum.

“annyeonghaseo, Mun Joo Won imnida” kata Joo Won memeperkenalkan diri, suster didepannya ini mengangguk lembut, “Choi Sulli imnida” jawab suster itu tersenyum, “ehm—apakah suster yang mengurusi kamar Sehun setelah Sehun pindah dari sini?” tanya Joo Won pelan

“ne, saya yang membersihkannya” jawab suster Choi itu tersenyum, “apakah Sehun meninggalkan beberapa barang-barangnya?” tanya Joo Won, “apa hubungan anda dengan Oh Sehun?” tanya suster Choi

“sebenarnya saya adalah hyungnya, kami sudah bertemu sejak 10 tahun yang lalu” jawab Joo Won, suster Choi itu tersenyum, “ne, dia meninggalkan beberapa barang disini, akan aku ambilkan, tunggu sebentar” kata suster Choi beranjak pergi.

Beberapa saat kemudian suster Kim datang dengan membawa sebuah kardus berukuran sedang dan meletakkan kardus itu dimeja didepan Joo Won duduk, “hanya ini benda yang aku temukan saat Sehun pergi dari panti” jelas suster Choi

“bolehkah aku membawanya pulang?” tanya Joo Won

“ne, tentu saja” jawab suster Choi

“Apa suster sudah tahu tentang kematian Sehun?” tanya Joo Won pelan, suster Choi mengangguk, “ne, kami sudah mengatahuinya” jawab suster Choi

Joo Won beranjak, membungkuk singkat pada suster Kim dan berpamitan pergi. Entah kenapa ketika Joo Won membawa kardus ini perasaannya mengatakan bahwa dia tak seharusnya membawa kardus ini dan membukanya.

Joo Won pov

Setelah mendapatkan kardus milik Sehun yang berada dipanti aku segera membawanya kembali ke rumahku—lebih tepatnya langsung kekamarku. Rumah besar ini hanya aku tempati sendiri bersama 3 orang pembantu, 2 orang tukang kebun dan 2 orang supir yang kebanyakan sekarang menganggur karena tuan rumahnya hanya aku. aku membuka kardus itu dan mulai mengeluarkan isinya satu persatu

Isi kardus itu hanyalah beberapa mainan untuk anak-anak, sebuah buku bergambar, sebuah topi dan juga ada beberapa lembar foto hitam putih yang aku yakini itu fotonya bersama-sama dengan semua teman pantinya dulu. Aku mengamati semua foto itu dan perhatianku tertuju pada sebuah foto yang memperlihatkan anak-anak panti itu bersama seorang laki-laki dan perempuan berpakaian formal dan juga ada gadis kecil menggunakan sebuah gaun pesta ditengahnya. Diatas foto itu terdapat tulisan ‘Happy Birthday’ bisa dipastikan jika keluarga itu mengadakan acara ulang tahun putrinya di panti asuhan tempat tinggal Sehun dulu

Aku mengamati foto Sehun yang tepat berdiri disamping gadis kecil itu sambil bergandengan tangan. Mereka berdua sangat lucu. Semakin lama aku mengamati foto gadis kecil itu, aku merasa ada sesuatu yang aneh dengannya, segera saja aku meletakkan foto itu dan mencari foto yang mungkin ada gadis itu didalamnya. Aku menemukan 5 foto, 3 foto foto bersama-sama dan mereka berjejer berdua dan 2 foto hanya mereka berdua

Aku benar-benar mengamati foto itu lekat-lekat hingga aku melihat sebuah buku berwarna merah terselip disana. Aku mengambil buku itu dan membukanya. Isinya tak seberapa, hanya sebuah cerita dari Sehun tentang kehidupannya di panti dan juga keinginannya untuk memiliki orang tua angkat. Karena aku pikir tak ada kaitannya dengan informasi yang aku cari jadi aku melemparkannya bersama barang-barangnya yang lain kesisi sebelah kananku tapi ketika aku melemparnya aku melihat ujung sebuah foto terlihat keluar dari buku merah itu. karena penasaran aku mengambilnya

Ya Tuhan!

Segera saja aku membalik foto berwarna itu, ‘Oh Sehun dan—Im Yoona’?!

Apa karena ini Sehun melakukan hal sampai sejauh ini?

Tapi jika mereka berdua saling mencintai bagaimana bisa Yoona menikah dengan Park Chanyeol?

Aku kembali mengobrak-abrik buku Sehun, berusaha menemukan foto-foto yang mirip dengan foto itu—aku hanya menemukan dua lagi diantara foto-foto bersama anak-anak. Yoona dan Sehun menggunakan baju SMU yang sama, mereka berdua sedang duduk (yang aku yakini) ditaman sekolah mereka dulu. Aku kembali berinisiatif membalik fotonya lagi

‘2006.05.30. confession’

Dan juga foto kedua, difoto itu mereka berdua tampak cukup dewasa, bukan lagi seorang remaja SMU, Yoona disana tampak membawa sebuket bunga

‘2012.05.30. Happy Birthday and Happy 6th Anniversary, dear’

Mwo?! 6th Anniversary?! Jinjayo?! Yoona dan Sehun adalah sepasang kekasih, mereka berhubungan sangat lama, difoto yang aku temukan mereka sudah berhubungan selama 6 tahun. Aku menemukan sebuah alasan kenapa Sehun berniat membunuh Chanyeol, Yoona, itu karena Yoona, dia mencintai Yoona dan aku masih tak tahu bagaimana bisa Yoona menikah dengan Chanyeol. Apa—mereka dijodohkan? Jika iya, kenapa Yoona tak menolak perjodohan itu dan meninggalkan Sehun?

Aku mengambil buku merah Sehun tadi dan melihat hampir seluruh halamannya, aku menemukan sebuah tulisan di tengah-tengah halaman kosong

‘aku mencintaimu, sungguh dan untuk perasaanku selama ini akan tetap aku perjuangkan selamanya karena yang aku tahu kau juga mencintaiku dan kau adalah milikku’

Oke, untuk masalah ini aku sudah sedikit menemukan titik terangnya, jika aku ingin tahu selengkapnya aku harus menanyakan ini pada Yoona langsung, tak ada cara lain, jika pun aku bertanya pada Chanyeol, itu semua percuma karena disini bukan Chanyeol main castnya. Aku mengambil ponselku dan mengirim sebuah pesan pada Yoona, agar aku bisa bertemu dengannya besok—err—juga sedikit mengancam jika dia mengatakan tak bisa aku akan langsung datang kerumah sakitnya.

Siang hari saat makan siang, aku pergi ke restoran tempatku biasa bertemu dengannya. Energiku sedang banyak hari ini maka dari itu aku berangkat lebih awal. Lima menit kemudian aku melihat Yoona tengah berjalan masuk kedalam restoran dan menghampiriku sambil tersenyum canggung

“ada apa ingin bertemu denganku?” tanya Yoona

Aku menatapnya intens dan mengeluarkan sebuah foto dari saku jasku dan memberikan padanya, “apa—kau tahu tentang foto ini?” tanyaku, dia mengamati foto itu lekat dan kemudian menggeleng

Aku mengeluarkan foto kedua, “foto ini?” tanyaku lagi dan responnya sama, dia menggeleng

Aku menghela nafaksu pelan dan mengambil foto saat Sehun mengatakan cinta padanya, “jika—foto ini?”

BINGO!

Yoona langsung terdiam melihatnya, lama-kelamaan aku melihat tangannya mulai bergetar, dia menunduk menatap foto itu. aku mengeluarkan dua foto yang lain dan menaruhnya diatas meja cokelat itu dan melipat tanganku menatapnya

“jadi, kau adalah kekasih Oh Sehun?”

Yoona tak segera menjawabnya, dia tertunduk dan meletakkan kembali foto itu—foto kenangannya. Dia mendongak menatapku—dia menangis

“apa yang kau inginkan?” tanyanya dingin

“aku ingin menkonfirmasi sesuatu” jawabku, “kau benar-benar kekasih Oh Sehun?” tanyaku ulang

“apa urusanmu kau ingin tahu tentang hal itu?” tanyanya sinis

“karena aku adalah hyungnya Sehun, aku kakak laki-laki dari namja yang kau cintai selama itu” jawabku dingin

“mwo? hyung? Sehun tak pernah memiliki keluarga”

“memang, karena semua keluarganya di London bersamaku. Sehun dibuang oleh kedua orang tuaku dan dititpkan di panti agar mereka merawatnya” jawabku

Aku melihatnya tertunduk sambil terisak pelan. Sakit sebenarnya mengetahu semua ini, mulai dari detektif Park yang ternyata suami Yoona dan sekarang adikku sendiri, Oh Sehun, dia adalah kekasih Yoona yang bahkan tega melakukan ini untuk balas dendam

“itu mungkin sudah sekitar 17 tahun yang lalu” katanya membuka suara, “setelah kami merayakan hari jadi kami yang ke-6…”

Flashback

Yoona pov

“Happy Birthday and Haapy 6th Anniversarry, dear!!”

Aku terpukau melihatnya berdiri tak jauh dariku dengan sebuah balon ditangannya. Sehun menatapku sambil tersenyum lebar. Dia benar-benar terlihat tampan malam ini, dengan setelan kemeja berwarna hitam serta dasi yang juga berwarna hitam itu membuatnya menawan

“lihat kebelakang!” teriaknya, “lihatlah kebelakang, Yoong!” teriaknya lagi sambil menunjuk-nunjuk

Aku menurutinya dan memutar tubuhku, tepat saat aku berputar balon-balon berterbangan, balon-balon berwarna-warni itu benar-benar indah ditambah ada beberapa lampion terbang juga disana. Aku masih tetap menatap balon-balon yang mengudara itu hingga aku merasakan sebuah tangan melingkar dipingganggu dan sebuah kepala bersandar dibahuku

“indah bukan?” tanyanya

“ne, bahkan ini diluar dugaanku” jawabku terkesima menatap langit malam yang bercahaya karena lampion terbang itu

“aku tak menyangka sudah 6 tahun hubungan kita dan sejak pertama kali kita bertemu di panti”

“ne, kau sangat diam diantara semua anak disana tapi aku tak menyangka justru aku lebih mudah dekat denganmu daripada yang lainnya” jawabku tersenyum

“sekarang, tulis apa saja yang kau inginkan” katanya memberiku sebuah kertas dan pulpen, “maksudmu?” tanyaku, “keinginan dan harapanmu, tulislah disini” jawabny

Aku menurutinya dan menulis beberapa kata disana

‘aku ingin bersama orang yang aku cintai sampai akhir hidupku. I Love You Oh Sehun’

Dia menatapku dan mencium pipiku lembut, “sekarang, kita tali di balon ini dan kita terbangkan”. Aku memberi lubang ditengah kertas itu dan memasukkan tali ke lubang itu dan menalinya

“hana dul set!” teriak kami bersamaan dan menerbangkan balon itu sambil tersenyum senang.

Malam itu aku menghabiskan waktuku bersama Sehun, hari ini selain hari jadiku yang keenam, hari ini juga bertepatan dengan ulang tahunku. Aku tak menyangka dulu ketika pertama kali bertemu dengannya dipanti dan saat kami SMU, kami bertambah dekat hingga dia mengatakan jika dia mencintaiku tepat pukul 12 saat hari ulang tahunku

“aigo, shampoo apa yang kau gunakan?” tanyanya mencium rambutku berulang kali, “shampoo yang aku gunakan? Hanya shampoo seperti biasanya” jawabku aneh, “tercium sangat wangi, atau jangan-jangan kau menggunakan sebotol hari ini?”godanya

Aku mencubit perutnya dan itu sontak membuatnya melepaskan pelukannya, “dasar, percaya diri” dengusku

Tit tit tit tit tit

“ne, yeoboseyo?” jawabku sambil tetap tersenyum

“…”

“mwo? appa ini bercanda kan?” tanyaku meyakinkan

“…”

“ne, aku akan kesana secepatnya!” jawabku

“waeyo, Yoong?” tanya Sehun, “aku harus kerumah sakit, eommaku, penyakit eommaku kambuh” jawabku bergegas pergi tapi Sehun menarik tanganku

“aku antar, kau pergi bersamaku tadi” katanya menarik tanganku.

Sesampainya dirumah sakit, aku langsung masuk kedalam ruangannya tapi Sehun tidak, dia memilih menunggu diluar karena dia ingin memberi ruang antara aku dan kedua orang tuaku. Aku menatap eommaku yang melemas diatas ranjang sedangkan appaku berdiri disampingnya sambil mengelus tangannya

“Yoona” panggil eommaku lirih, aku langsung menggenggam tangannya, “bisakah kau menuruti perkataan eomma untuk yang satu ini?” tanyanya, aku mengangguk tanpa ragu, “apa eomma? Aku akan menurutinya, apapun itu” jawabku

“menikahlah dengan Park Chanyeol”

DEG!

“eomma mohon, menikahlah dengan anak dari keluarga Park”

Aku menatap eommaku menangis, aku tak bisa, aku mencintai Sehun! aku mencintai Sehunku! Aku tak mungkin meninggalkannya tapi—tapi eommaku—aku juga menyayanginya, aku menyayangi eommaku

“Yoona, hanya itu permintaan eomma, eomma ingin melihatmu bersama Chanyeol” kata eommaku yang membuatku semakin menangis keras

“ne, eomma. Aku akan menikah dengan Chanyeol”.

“wae?! Kenapa kau melakukan hal ini?! apa arti hubungan kita selama 6 tahun ini?! kau hanya anggap mainan?! Aku benar-benar mencintaimu, Yoong!”

“aku tahu, aku tahu, Sehun, tapi jika ini bisa membuat eommaku senang aku harus melakukannya” jawabku

“kau tak mencintaiku lagi? He? Kau sudah tak mencintaiku lagi?!” tanyanya

“aku mencintaimu, sungguh, aku benar-benar mencintaimu Sehun tapi aku berat dengan eommaku” jawabku mulai terisak

“persetan dengan semuanya!” bentaknya dan melemparkan sebuah kotak kecil tepat didepanku

“Yoong, kau—kau menghancurkan hidupku. Aku ingin menjadikanmu milikku selamanya tapi—kau—kau mengkhianatiku!”

“Sehun, bukan, bukan begitu” jawabku menarik tangannya, “berbahagialah dengannya” katanya meninggalkanku

Hatiku hancur mendengarnya, hatiku sakit melihatnya, ketika aku melihat sebuah cincin silver cantik itu terpaut dengan manisnya ditempatnya. Sehun—dia akan melamarku hari ini tapi—tapi semua sirna ketika aku menyetujui permintaan eomma. Bunuh aku Ya Tuhan! Bunuh aku SEKARANG!!.

Flashback off

“apa kau masih mencintai Sehun sampai saat ini?” tanyaku

“dia cinta pertamaku dan dia kekasih pertamaku, aku tak akan pernah melupakannya, meskipun aku tahu Chanyeol mencintaku dan aku mencintai Chanyeol”

Oh…ya, baiklah

Aku menelan salivaku pelan dan mengangguk. Alasan Sehun membantai keluarga Park adalah Chanyeol yang menikah dengan Yoona, padahal hari itu tepat dimana Sehun akan melamarnya. Sehun ingin membunuh Chanyeol tapi justru Lio, anak bungsu mereka yang mati dan setelah kejadian penembakan itu Chanyeol memburu Sehun dan berhasil membunuhnya dan ketika bertemu denganku, status Sehun yang meninggal diganti menjadi buronan karena Sehun menggunakan topeng wajahku

“Joo Won?” panggilnya yang membuyarkan lamunanku, aku langsung menatapnya dingin, “gumawo, kau sedikit meluangkan waktumu untuk menajwab pertanyaanku” jawabku

“tapi—darimana kau tahu tentang itu semua?” tanyanya

“tsk, itu perkara mudah untukku, Yoong. dia adikku jadi lumrah jika aku mengetahui tentang hal ini” jawabku tersenyum, “aku pergi dulu, aku ada rapat setelah ini. annyeong” kataku melambai kearahnya yang masih terdiam ditempatnya

Setidaknya aku tahu salah satu alasan Sehun melakukan ini tapi jika hanya dendam karena Yoona menikah dengan Park Chanyeol, kenapa dia harus memasang bom dibeberapa tempat di Seoul? Bukankah dengan membunuh Park Chanyeol saja cukup?

Aku merasakan ponselku bergetar disaku celanaku, aku langsung membukanya

From : Baekhyun

Hyung, mereka meledakkan panti

Mwo?!.

Author pov

Joo Won mengendarai mobilnya dengan brutal, dia tak peduli dengan klakson mobil yang kian bersautan memintanya agar tak berkemudi seenaknya. Dipikirannya hanya satu, panti itu, panti tempat tinggal Len. Len? Apa dia anak Joo Won? tidak, dia bukan anak Joo Won tapi suster disana pernah mengatakan pada Joo Won jika wajahnya dan Len sangat mirip, itu yang membuat Joo Won menyayangi anak itu meskipun dia tak terlalu dekat dengannya.

Sesampainya disana, bangunan nan rindang dan indah itu sudah berubah menjadi puing-puing hitam dengan asap yang masih terkepul. Joo Won segera mendesak berusaha untuk masuk tapi ketika dia akan sampai, polisi menghadangnya

“biarkan aku masuk! Aku ingin bertemu siapa yang selamat!” teriak Joo Won

“mianhe, tuan, tapi tuan tidak bisa masuk ke TKP, korban disebelah sana” jawab polisi itu menunjuk kearah samping yang terlihat banyak sekali orang bertutup dengan kain putih. Joo Won berusaha mencari-cari dimana Luhan tapi dia tak menemukannya bahkan kepala panti pun juga ikut mati bersama anak-anak mereka

“permisi”

Joo Won menoleh dan mengangguk, “apa hubungan anda dengan panti asuhan ini?” tanya orang itu yang ternyata petugas polisi, “aku setiap hari datang kemari” jawabnya

“apa anda dekat dengan semua orang yang ada disana?” tanyanya lagi, “tentu saja” jawab Joo Won malas, “ada seseorang yang selamat dari ledakan maut tadi” terang polisi itu yang membuatku mendongakkan kepalaku. “akan saya tunjukkan” tawarnya

Joo Won tak menjawab hanya diam mengikuti arah petugas polisi itu pergi. Joo Won dibawa kesebuah mobil ambulans yang berada tak jauh dari sana. Dia melihat seorang anak kecil tengah dibalut selimut dan menunduk diam sambil memainkan kakinya. Joo Won sedikit menyipitkan matanya untuk memastikan siapa lelaki kecil itu

“Len?”

Lelaki kecil itu langsung mendongakkan wajahnya dan menatap Joo Won dengan tatapan polosnya, Joo Won langsung berlari dan memeluknya. “gwenchana?” tanyanya, Len mengangguk pelan

“sekarang kau tinggal bersama ajhussi, ne?”, Len mengangguk. Joo Won langsung menggendong Len menuju mobilnya dan membawanya pergi.

 

TBC

RCL, please…

See Ya!!

and Ganbattee!!!!

😀😀😀

31 thoughts on “FACE OFF [6]

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s