(Freelance) After Sunrise

poster30

 Poster by junghara  [Thanks <3] 

After Sunrise 

written by Nikkireed 

Cast 

Luhan and Im Yoona with Oh Sehun

Dear Luhan,

Sudah lama kita tidak bertemu ya. Bagaimana kabarmu disana? Sekarang aku sudah bisa ‘melihat’ matahari dengan sempurna loh! Jika aku pulang nanti kita harus rayakan bersama dengan Sehun juga. Oh ya, bagaimana kabar Sehun disana? Apa dia masih memintamu mentraktirnya bubble tea? Atau apakah dia masih sibuk berlatih skateboard? Kau tau, Lu, disini banyak sekali remaja seumuran Sehun yang bermain skateboard, sekali-kali kalian harus ikut beradu dengan mereka disini.

Aku menunggu emailmu. Rinduku untukmu selalu.

Im Yoona.

Begitu email yang Luhan baca dari laptop di depannya. Yaa, betul. Yoona sedang di San Fransisco. Jauh. Di Amerika sana.

Hyung? Kau belum tidur?” Sehun masuk ke kamar tanpa mengetuk pintu, tidak sopan seperti biasanya. Luhan reflek langsung me-minimize emailnya.

“Ya! Kau harus mengetuk pintu dahulu. Ba… bagaimana jika aku sedang mandi?” omel Luhan setelah mendecak kesal pada Sehun walaupun ia sedikit terkejut dari lamunannya.

“Tidaklah Hyung, kau tidak akan mandi di jam seperti ini. Kau sedang…..Kau sedang merindukan Yoona Nunna, iya kan?” Sehun berseru setelah mengintip isi laptop Luhan, dan menunjuk-nunjuk ke layar laptop.

Foto Luhan dengan Yoona diambil secara candid. Yoona cantik, seperti biasa. Sedang tertawa bahagia entah menertawakan apa dengan Luhan yang disampingnya juga tersenyum malu.

Luhan yang salah tingkah langsung menutup laptopnya, “Ish, apa-apaan sih kau Sehun.”

“Aku juga rindu Yoona Nunna. Bagaimana kabarnya disana?” Sehun malah menghempaskan dirinya diatas kasur Luhan lalu tidur terlentang.

“Entahlah.” Jawab Luhan cuek mengangkat bahu.

Hyung, bagaimana kalau kita menyusulnya kesana?” Sehun tiba-tiba terbangun dari tidurnya dengan mendadak.

“YA! Kau pikir San Fransisco itu sedekat Myeongdong hah?” Sehun benar-benar tidak masuk akal.

Sehun kembali menghempaskan dirinya dikasur. “Tidak Hyung. Aku hanya rindu padanya. Kapan ia kembali ke Seoul?”

Mwolla.” Luhan mengendikkan bahu.

Aku juga rindu padanya. Tapi aku tidak berani menanyakan kapan ia kembali, Sehun-ah. Bahkan aku terlalu pengecut untuk mengakui aku merindukannya, lebih daripada yang aku tunjukkan. Batinnya.

Heels 3 cm warna putih berdetak dengan irama lancar dengan lantai bandara. Yoona berjalan dengan hati gembira setelah mendarat di Incheon International Airport. Dengan kemeja berkerah V warna pink dan celana panjang putih yang ia kenakan, ia menyeret sebuah koper berwarna hitam dan menenteng sebuah tas berwarna senada dengan kemejanya. Membuatnya terlihat lebih… hidup.

Eomma!” seru Yoona begitu ia menemukan sosok yang ia cari sedari tadi. Karena hidup di San Fransisco dengan Appa-nya tidaklah terlalu menyenangkan.

Yoona langsung memeluk Ibunya dengan lembut. Appa membantu menyeret koper Yoona.

Gwenchana, Yoong?” Tanya Ibunya pelan memeriksa keadaan putrinya.

Yoona mengangguk gembira dan tersenyum lebar, memeluk Appa dan Eomma seerat mungkin. “Gumapta, Eomma-Appa. Berkat kalian, aku sudah bisa melihat. Dengan jelas.”

Keluarga itu melenggang pulang kerumah mereka dengan bahagia.

Hyung! Hyung!” Seru Sehun begitu ia memasuki kamar Luhan, menemukan hyung-nya sedang tertidur, memeluk guling dan bantal didalam selimut.

Sehun mencoba menggoyang-goyangkan tubuh Luhan, “Hyung, bangun, ireona.”

Luhan dengan seluruh kekuatannya mengumpulkan nyawa untuk membalas Sehun dengan gumaman tidak jelas, “Hmm, Sehun-ah, waeyo?”

Ireona, Hyung. Aku ada kabar gembira.” Sehun semakin bersemangat membangunkan hyung-nya yang masih malas itu.

“Ini hari minggu, Sehun-ah. Dan ini masih.. pagi.” Luhan berbicara asal menebak bahwa ia merasa dunia ini masih pagi.

“Yoona Nunna.” Ujar Sehun pelan, “Yoona Nunna sudah kembali.”

Sontak, kedua mata Luhan yang masih tertutup malah langsung terbuka.

Ppali, ppali. Kita harus mengunjunginya, Hyung.” Sehun melanjutkan membangunkan Luhan.

Luhan mencoba bersikap biasa saja. Tapi ia terbangun duduk. “Kau tau darimana?”

Eomma mengatakannya padaku. Tadi pagi begitu Eomma sedang berkebun, melihat keluarga Im baru pulang. Dan ada Yoona Nunna. Tapi aku belum bangun, jadi aku juga belum bertemu Yoona Nunna.” Jelas Sehun.

Luhan menenggelamkan dirinya kembali di kasur empuknya.

Ppali, Hyung. Ajak Yoona Nunna berjalan-jalan. Ia sudah sembuh.”

Kali ini Luhan kembali membelalakan matanya. Ia langsung bangkit berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.

Sehun tersenyum melihat hyung-nya.

“Selamat datang kembali, Yoona.”

“Ini untukmu, Sehun-ah.” Yoona memberikan sebuah syal pada Sehun. Syal berwarna navy blue dengan rajutan San Fransisco .

Sehun menerima dengan wajah sumringah dan mengangguk berkali-kali, “Gumawo, Nunna.” Sehun bahkan terlihat seperti hampir memeluk Yoona karena terlalu senang, “Eh, mian. Aku terlalu bahagia, Nunna-ya. Aku bahagia kau sudah kembali ke Seoul dan sembuh.”

Luhan yang duduk disamping Luhan terlihat cuek atau mungkin cemburu karena sikap adiknya yang terlalu memaksa.

Yoona menyadari kecemberutan Luhan memakaikan sebuah snapback berwarna abu dengan gambar lego seorang polisi dengan tulisan LA.

Luhan terkejut karena sikap Yoona, membuatnya merasa canggung karena jarak mereka yang terlalu dekat.

“Eh, Yoona-ssi.” Luhan terlihat jelas salah tingkah.

Wae? Kau tidak suka snapback? Kukira kau mengoleksinya.” Suara Yoona diakhiri dengan nada sedikit kecewa saat Luhan seperti ingin melepaskan topinya.

Luhan semakin salah tingkah lalu memakai kembali snapback abu tersebut, “Gumawo, Yoona.” Ia tersenyum pada Yoona dengan canggung.

Sehun diam-diam menertawakan hyung-nya yang tertangkap salah tingkah. Tapi Yoona hanya berbalas senyum pada mereka.

“Yoona?” Panggil Appa-nya dengan pelan. Mereka – Eomma, Appa dan Yoona sedang makan malam bersama dirumahnya.

Yoona yang sedang asik menikmati makan malamnya mendongak ke arah Appa-nya.

“Kau harus mengucapkan terima kasih pada Dr. Lee, kau tahu. Ia yang sangat membantu dalam kesembuhan matamu.” Appa, sambil menikmati makan malamnya nampak berbicara serius.

“Dr. Lee?” Yoona bertanya.

“Dr. Lee, putra tunggal Mr. Lee di San Fransisco. Memangnya kau belum kenal? Bukankah ia dokter yang mengobatimu?” Kali ini Eomma seperti bertanya kembali kepada Yoona.

Yoona hanya terkekeh pelan, “Aku lupa. Mungkin besok.” Jawab Yoona cuek lalu melanjutkan makanannya.

“Hari ini, Yoona hari ini. Kabarkan bahwa kau sudah di Seoul dengan baik. Berterimakasih tidak harus ditunda.” Appa… Appa seperti memaksa kali ini.

Ye.” Gumam Yoona pelan, “Nanti setelah makan malam aku akan menelepon.”

Eomma tersenyum melihat Yoona yang begitu menurut.

“Luhan-ssi!” Panggil Yoona, begitu Luhan keluar dari pintu rumahnya. Kebetulan sekali Yoona yang juga baru beberapa detik keluar dari rumahnya.

Luhan yang dipanggil berbalik menghadap Yoona, tersihir sedikit karena Yoona… cantik. Seperti biasa. Kaus polo berwarna kuning dan celana training abu selutut serta sepatu lari warna putih-kuning yang membuat kakinya terlihat tinggi. Ditambah dengan kunciran rambut Yoona yang terkesan asal.

“Kau mau pergi jogging? Boleh aku ikut?” Yoona bertanya pada Luhan dengan senyum.

“Eh… ne.” Luhan yang tidak menyadari bahwa ia sedikit melamun memandangi Yoona terlalu lama.

Kajja.” Ajak Yoona. Dan mereka saat mereka ingin mulai berlari, “Tunggu! Tunggu aku!” Sehun. Tentu saja. Sehun berlari ke arah mereka dengan terburu-buru, membuat mereka berbalik.

Aigoo kalian tidak menungguku.” Gerutu Sehun dengan muka sebalnya saat ia sampai menghampiri Luhan dan Yoona.

“Yah! Kau sudah bangun, Sehun-ah? Tadinya kupikir kau masih tertidur.” Jawab Luhan, dengan tawa mengejek.

“Memang aku baru bangun, Hyung. Kenapa kau tidak membangunkanku?” Sehun yang sedikit kesal malah menyalahkan hyung-nya.

Luhan mendecak sambil menahan senyumnya, “Kau yang terti—“

“Sudahlah. Sehun kau ikut?” Tahu-tahu Yoona sudah berlari sekitar ujung komplek dan memanggil mereka. Yoona tersenyum sambil memandang kedua kakak-adik itu.

Ne.” Jawab Luhan dan Sehun berbarengan lalu menyusul Yoona yang sudah berlari hampir keluar komplek.

Saat matahari telah mencapai batas waktu yang disebut pagi, sekitar pukul 8 pagi, mereka – Luhan, Yoona dan Sehun duduk di taman. Terakhir mereka berkumpul seperti ini adalah sehari sebelum Yoona berangkat ke San Fransisco waktu itu, ada sedikit ucapan perpisahan dan Luhan tidak ingin mengingat hal tersebut.

Sehun berdiri setelah mengeluh terlalu lelah, “Aku.. aku beli minum dulu ya. Kalian mau apa, Hyung, Nunna?”

“Air putih saja. Jangan dingin. Gumawo, Sehun-ah.” Yoona sedikit mendongakkan kepalanya untuk menatap Sehun yang berdiri di sampingnya.

Lalu Sehun beralih pada Luhan, “Aku juga.” Hanya itu yang Luhan ucapkan.

Dan Sehun sedikit berlari pada kedai minuman terdekat dan berbicara pada pemiliknya.

Gwenchashimikka?” Luhan mengawali pembicaraannya dengan Yoona.

Yoona mengangguk sebentar, “Aku senang malah bisa kembali ke Seoul dan bertemu kalian. Aku merindukanmu, hey, kau tidak membalas email terakhirku.” Yoona berbicara sepanjang itu karena ia baru mengingat bahwa Luhan memang tidak membalas emailnya.

Luhan memandang kejauhan ke arah Sehun ketika Yoona mendongak ke arahnya, “Aku senang kau kembali dengan sehat, Yoona-ssi.”

Sekarang giliran Yoona yang tersenyum mengikuti arah pandang Luhan yang jauh melihat Sehun ketika Luhan menatapnya. Lalu Yoona tertawa keras.

“Baiklah baiklah. Lupakan, lupakan segala hal yang formal, Luhan-ah. Kau bisa memanggilku Yoong, kau tahu.” Yoona tertawa sebentar lalu tersenyum memandang Luhan.

Luhan tersenyum memandang tanah, “Aku tahu. Ni-Eomma sering berbicara tentang Yoong itu.” Lalu Yoona tertawa kembali.

Dan di saat itu juga, Sehun datang dengan membawa tiga botol air di pelukannya. “Kalian membicarakanku?” Dengan senyum-percaya-diri-nya ia membagikan botol air tersebut pada Yoona dan Luhan.

Luhan dan Yoona segera menerima botol air tersebut dan meneguknya.

“Ah segarnya! Aku haus sekali.” Yoona sudah menghabiskan ⅔ air di botol tersebut tapi Luhan sudah menghabiskan air di botolnya.

Yoona terheran memandangi Luhan asik meminum airnya.

Hyung jago minum, Nunna-ya.”Sehun tertawa dan di detik itu juga Luhan tersedak di tegukan terakhirnya menandaskan isi botol tersebut. Lalu terdengar suara tawa memenuhi taman tempat mereka duduk.

Sampai mendekati rumah mereka, masih terdengar suara canda-tawa mereka. Seperti celoteh beberapa orang secara ramai dan tertawa lepas, padahal hanya ada Luhan, Yoona dan Sehun.

“Iyah, lalu sejak saat itu Chanyeol tidak mau lagi minum greentea. Karena sebenarnya itu greentea asli tanpa gula yang bau nya menyengat sekali, aku ingat sekali wajah Chanyeol yang berkali-kali meludah. Hahahahahahaha.” Mereka kembali tertawa saat Sehun selesai bercerita.

“Yoong, ini ada paket untukmu.” Ibu Yoona, yang sedang berdiri didepan kotak pos rumahnya memanggil Yoona. Yoona menghampiri Ibunya yang memanggil.

“Apa? Dari siapa?” Yoona menerima sebuah kotak yang dibungkus dengan kertas dan dilapisi plastik.

Sehun dan Luhan juga berlari menuju Ahjumma Im, “Annyeonghasseo Ahjumma.” Mereka memberi salam dan membungkukkan badan pada Ibu Yoona.

Ibu Yoona tersenyum melihat mereka datang, “Luhan Sehun. Kalian mau masuk dulu?” ajak Ahjumma Im sambil berjalan ingin masuk ke rumah.

Mereka menggeleng dan menolak secara ramah, lalu beralih pada Yoona ketika Im Ahjumma sudah masuk ke rumah.

“LSG? Siapa LSG?” Sehun bertanya ketika ia membaca tulisan pengirim di kotak yang dipegang Yoona.

Yoona mengangkat bahu dan menatap Luhan dan Sehun bergantian, “Entahlah. Tapi ini pasti dikirim dari sangat jauh, kurasa. Karena sampai dibungkus plastik seperti ini.”

“Kau buka saja dulu apa isinya, Yoong. Nanti baru ketahuan siapa pengirimnya.” Luhan memberi usul seperti itu.

Sehun mendongak pada hyung-nya, menangkap ucapannya barusan, “Yoong? Wah kau sudah memanggil Yoona Nunna dengan nama panggilan? Kalian semakin akrab woooooooh.” Sehun menggoda mereka sambil berlari masuk ke rumahnya di sebrang.

Luhan yang merasa dijahili mengejar Sehun sampai di halaman depan. Lalu berbalik pada Yoona dan tersenyum, “Aku masuk dulu ya.”

Yoona terkekeh melihat tingkah kedua kakak-beradik tersebut dan sambil membawa paketnya ia melangkah masuk ke rumahnya juga.

Setelah selesai mandi dan berkeramas, Yoona keluar dari kamar mandinya dengan kaus putih dan celana pendek, serta handuk yang menggulung di kepalanya.

Ia menghampiri kasur empuknya dan penasaran dengan paket yang ia terima. Ia kembali mengamati nama pengirimnya.

Seseorang yang bernama LSG. Apa ini sebuah inisial nama seseorang?

Dan ditujukan pada Yoona dengan alamat lengkapnya. Ini pasti seseorang yang sudah mengetahui bahwa aku sudah pindah dari rumah lamaku. Siapa?

Karena terlalu penasaran ia mengambil gunting di mejanya lalu dengan sigap merobek paket tersebut. Setelah berkutat selama beberapa menit membuka bungkus paketnya, akhirnya paket itu adalah sebuah kaus sweater berwarna putih gading dengan gambar rusa. Sebuah sweater yang indah! Cukup indah untuk seorang Yoona.

Ia mencoba sweater berbahan kaus tersebut dan berjalan pada lemarinya. Kaca di lemarinya memantulkan dirinya yang tersenyum cantik dengan sweater tersebut.

“Lalu siapa yang memberiku sweater ini?” Yoona terdiam dan senyumannya hilang. Ia segera melirik plastik paket yang ia terima.

“Yoong, ini hadiahku untukmu karena kau sudah sembuh. Kuharap kau menyukainya. – LSG”

“Siapa sih LSG ini?” gerutunya, lalu ia melepaskan sweater tersebut. Tanpa sadar, Yoona telah menyukai sweater tersebut tanpa diminta pengirimnya.

Malam itu, entah memang sudah direncanakan atau bagaimana, kedua orangtua Luhan dan Sehun pergi keluar kota karena urusan dinas di kantor (kebetulan Appa bekerja di perusahaan milik Haraboji dan Eomma membantu Appa karena satu divisi) dan Yoona mengajak Luhan dan Sehun makan malam di rumahnya. Sekaligus untuk merayakan kebersamaan karena Yoona sudah sembuh.

“Yoona Nunna, aku sudah meminta ijin pada Ahjumma. Kita akan bermain sampai pagi.” Begitu kata Sehun pada Yoona setelah mereka selesai makan makan, dan setelah Sehun pulang kerumah sebentar untuk mengambil segala keperluannya. (Ia mengambil sleeping bag, makanan ringan, kartu mainan, monopoli dan PSP)

Sehun begitu bersemangat ketika kembali ke rumah Yoona dengan segala keperluannya. Yoona dan Luhan yang menunggunya hanya tersenyum.

“Ya, orang sepertimu masih main PSP, Sehun-ah?” Tanya Yoona begitu ia mengeluarkan PSPnya.

Sehun dengan semangat mengangguk, “Ne, dulu jika Seohyun Nunna datang kerumah, ia sering bertaruh denganku.” Begitu selesai dengan kalimatnya, Sehun terdiam. Lalu melihat ke arah hyung-nya.

Luhan yang tadinya penuh senyum mendadak terdiam lalu melihat ke arah Yoona saat Sehun menatapnya. Tapi Yoona malah bingung dengan keadaan canggung seperti itu.

“Seohyun? Siapa? Temanmu?” Tanya Yoona dengan senyum bingungnya itu.

Sehun kali ini tidak berani terlalu bicara, ia menatap hyung-nya, “Ne. Seohyun Nunna teman Luhan hyung, dulu.” Lalu Sehun kembali mengurus PSPnya.

“Baiklah. Ayo kita bermain sampai pagi! Ada rencana apa?” tiba-tiba Yoona bertanya. Semangatnya luar biasa sekarang karena ada malam kebersamaan bersama Luhan dan Sehun. Ditambah dengan ijin Eomma mereka boleh menginap disini mengingat orangtua Luhan dan Sehun tidak pulang karena tugas dinas.

“Kita main Go Stop.” Ajak Sehun lalu mengambil posisi strategis dan duduk di lantai berkarpet halus di ruang tamu Yoona. Ia tersenyum melihat Luhan dan Yoona, terang-terangan mengajak mereka ikut duduk di sekitarnya.

Luhan dan Yoona ikut bergabung dengan Sehun duduk di lantai karpet tersebut dengan menahan tawa.

Permainan Go Stop Luhan, Yoona dan Sehun sangatlah heboh, bahkan ketika jam menunjukkan pukul 23.45. Tiada semenitpun mereka lewatkan dengan hening kecuali saat mereka berpikir akan melepaskan kartu apa. Tentu ini permainan yang seru. Sampai sebentar mereka main sebentar mereka tertawa.

“Aku ingin minum, Nunna. Kau punya minuman apa?” Tanya Sehun ditengah-tengah permainannya.

“Hmm, seperti Eomma menyimpan beberapa binggrae. Sebentar biar aku lihat ke dapur.” Yoona bangkit berdiri hendak beranjak ke dapur, lalu ia terhenti sebelum jauh, “Kalian jangan curang mengintip kartuku, eoh.” Yoona melayangan telunjuknya dengan senyum judgement.

Sehun meng-enak-kan posisinya dengan tiduran lepas di karpet tersebut. Ia tertidur terlentang memandang langit ruang tamu rumah Yoona.

Luhan hanya menyenderkan diri pada sofa terdekat dan menghela nafas.

Hyung.” Panggil Sehun pelan, Luhan yang duduk tersandar melipat lututnya dan memeluk kakinya, mendongak ke arah Sehun.

“Aku salah membicarakan Seohyun Nunna di depan Yoona Nunna, eh. Mian. Jinjja mian, hyung. Aku tidak sengaja.” Sehun seakan takut dengan Luhan yang akan marah padanya karena kembali membahas Seohyun.

Luhan kembali menghela nafas, “Aniyeo, Sehun-ah. Toh Yoong tidak mempermasalahkannya.” Ia mengendikkan bahunya, lalu menidurkan kepalanya di sofa, mengikuti Sehun yang memandang langit-langit ruang tamu rumah Yoona.

Sehun segera terduduk, seakan sesuatu terlintas di pikirannya.

Hyung, siapa LSG itu? Kau tidak penasaran? Apa ia pacar Nunna? Atau kekasih gelapnya? Atau penggemarnya?” Sehun semakin melantur.

Luhan hanya terdiam dan tersenyum dengan mata tertutup.

Hyung, kau harus bertanya padanya. Atau setidaknya, kau perlu tau LSG itu siapa.” Sehun begitu bersemangat memaksa hyung-nya. Sebenarnya, entah Luhan yang terlihat terlalu cuek atau Sehun yang terlihat begitu ingin mengetahuinya, tapi percayalah, keduanya benar-benar penasaran.

Luhan menegakkan lehernya dan menatap Sehun tengah berpikir, “Bagaimana? Bukankah itu tidak sopan? Bagaimana jika ia tahu—“

“Tahu apa?” Tanya Yoona begitu ia datang dan segera bergabung kembali dengan Luhan dan Sehun. Tangannya membawa empat botol binggrae dalam satu renceng dan beberapa bungkus chocopie, matdongsan serta beberapa mangkuk plastik kecil berisi pudding dalam pelukannya. Yoona seperti sehabis menyerbu supermarket hanya untuk snack.

Sehun dan Luhan bohong jika tidak terkejut dengan kemunculan Yoona yang tiba-tiba. Tidak. Bukan Yoona yang tiba-tiba datang, tapi mereka yang terlalu serius.

Nunna, aku ingin bertanya.” Sehun melirik hyung-nya sebelum ia berbicara pada Yoona. Tangannya mengambil chocopie dan langsung membuka bungkusnya.

Yoona yang sibuk menusukkan sedotan di binggrae tersebut hanya, “Ne?” lalu memberikan binggrae itu pada Luhan dan Sehun. Lalu untuk dirinya sendiri dan ia langsung minum.

LSG itu siapa?” Tanya Sehun setelah menggigit chocopie-nya. Sehun benar-benar…penasaran.

Yoona terdiam. Memandang Luhan dan Sehun bergantian. Ini adalah detik-detik ketakutan Sehun, menunggu Yoona Nunna menolak bercerita tentang LSG dan membuat suasana menjadi canggung.

Tapi tidak. Yoona malah tersenyum, “Kalian tunggu disini.” Yoona kembali beranjak lalu menuju kamarnya.

Sehun memandang Yoona masuk kamar lalu beralih pada hyung-nya, “Hyung, apa dia marah? Aku salah bicara?” Sehun meletakan chocopie-nya.

Luhan yang menikmati binggrae-nya hanya mengendikkan bahu.

Tidak sampai satu menit, Yoona kembali keluar, memakai sebuah sweater. Dan kedua kakak-adik itu melihat Yoona dengan lama.

LSG itu memberikanku ini, dan ini.” Yoona mengeluarkan secarik surat dari kantong sweaternya. “Yoong, ini hadiahku untukmu karena kau sudah sembuh. Kuharap kau menyukainya. LSG.”

Mwo?”

“Kau menyukainya?”

Tanya Sehun dan Luhan berbarengan.

Yoona mengangguk dan tersenyum, “Tentu. Aku suka. Dan aku tidak tahu apakah ia temanku, jelasnya belum ada temanku yang mengetahui bahwa aku sudah pindah. Seingatku, tidak ada temanku yang berinisial LSG, kurasa.”

“Wah, Nunna punya penggemar rahasia.” Sehun tepuk tangan bahagia seperti menang lotre dan membuat suasana yang tadinya hening menjadi heboh.

Aniya. Aku masih belum tahu. Apa aku perlu mencari tahu?” Yoona malah bertanya.

“Tentu.” Jawab mereka berbarengan lagi.

“Tapi tunggu,” Sehun menenangkan suasana. Sesuatu seperti terlintah lagi di kepalanya. “Yoong? Surat itu memanggilmu Yoong?” Sehun tersenyum mendongak pada Luhan. Terang-terangan menggoda hyung-nya, “LSG itu kau? Kau mau mencoba misterius dengan mengirimkan paket pada Nunna? Aigoooo, Hyung. Kau romant—“

Mwo?” Luhan menggeleng keras, “Tidak. Aku tidak mungkin mengumpat-ngumpat seperti itu, jika ada sesuatu yang ingin kuberikan, akan kuberikan langsung padanya –“ Luhan melirik ke Yoona yang sedang tersenyum.

“Ah, jadi kau berencana memberikan apa untuk Nunna?” Kali ini Luhan skakmat. Ia seperti dipojokkan oleh Sehun. Sehun senang sekali menggoda hyung-nya soal Yoona, tentu saja.

Luhan hanya terdiam melihat ke arah Yoona. Seperti meminta bantuan Yoona agar Sehun berhenti menggodanya.

“Sudah-sudah. Lupakan soal LSG itu. Kita lanjutkan Go Stop. Sampai dimana kita?” Yoona berusaha membantu Luhan agar Sehun berhenti menggodanya.

Author’s note :
Dear all the readers, ini lanjutan Sunrise – Sunset yang rencana aku bikin tetralogi.
Maaf ya kalo jalan ceritanya jadi ngelantur begini.
Maaf juga kalo karakter Sehun disini aku bikin jahil hehehet, tapi dia tetep ganteng kog ^^ malah tadinya Sehun disini mau aku bikin nikung hyung-nya gitukan, tapi setelah dipikir lagi ga jadi, nanti kayak ff curhatan authornya hahahahaha.
Mengenai cast LSG-nya harusnya kalian bisa nebak siapa hehehet author boleh iseng dikitlah ya.
Masih terima komen dari kalian ya. Thanks for reading.
XOXO, nikkireed

23 thoughts on “(Freelance) After Sunrise

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s