Roxanne chapter IV

roxanneROXANNE

Chapter IV

Cerfymour a.k.a Quorralicious

PG17+ || Romance

Yoona SNSD as Roxanne (Yoona’s english name) dan Tao EXO as Edison (Tao’s english name)

It’s my imagination, MINE! so don’t be ridiculous say that my fanfic is yours the cast is belong to their parents,agencies, and god.

Kay at shinelightseeker.wordprees.com

WARNING NO PLAGIARISM, DON’T BASH, DON’T COPY without my permission. Typo bertebaran

a.n: Semoga suka ^^

Previously

Edison membalikkan badanku pelan, ditatapnya mataku yang juga ternyata mengeluarkan airmata. Karena masih bisa kuingat betapa hangatnya cinta yang dia suguhkan, tanpa sebuah tuntutan yang mengekang kebebasanku. Bibirku dan bibirnya mulai mendekat, dia mengecupku perlahan dan seakan ingin menautkan bibirnya padaku dikecupan kedua. Tiba-tiba saja aku mendengar suara yang tidak asing lagi, suara yang serak dan dipenuhi rasa amarah. Sehun terlihat menggeram.

“Apa yang sedang kalian lakukan? Hah?!” pekiknya.

 

Chapter IV

 

Sehun POV

Aku tidak suka caranya memandangi Edison dari kejauhan. Separuh hatiku sakit melihatnya begitu penuh kelembutan dan melepaskan semua kelegaan yang begitu terlihat. Aku sangat tahu betapa emosiku yang terlalu meledak-ledak. Tak cukupkah diriku untuknya? Karena itulah, sebelum hal buruk benar-benar terjadi dan berakhir dengan adu mulut yang terjadi antara aku dan Roxanne seperti dulu lagi. Dengan berat hati aku pun melangkahkan kaki, dengan enggan aku mencoba mencari temanku yang lain yang bisa kuajak bicara dan meninggalkan Roxanne sendiri. Tetapi sepertinya dia malah menikmati kebebasan yang baru saja kuberi padanya.

Hatiku yang enggan tetap membiarkan sepasang mata hazelku ini mengawasinya. Sakit untuk bisa kuakui bahwa dia sudah berpaling pada yang lain, namun jika ku utarakan semua yang kurasakan maka berakhir juga kisahku dengannya. Orang-orang yang kuajak bicara sama sekali tidak menyadarinya sedari awal aku hanya membuat topik pembicaraan yang baru tanpa sedikitpun memerhatikan isi pembicaraan mereka, perhatianku sepenuhnya melekat pada gadis manis yang mengenakan dress panjang berwarna broken white.

“Aku permisi dulu sebentar ya teman-teman,” ujarku menarik diri dari pembicaraan yang sepertinya membosankan itu. Kuangkat gelas champagne ku yang sudah habis untuk aku jadikan alasan. Terburu-buru aku melewati semua orang yang menghalangi pandanganku untuk mencari wanitaku itu, sia-sia sudah semuanya sosok Roxanne tak dapat kutemukan hingga saat ekor mataku sekelebat melihat ekor dressnya terlihat dari jendela balkon tak jauh dari awal dia berdiri.

Tergesa-gesa akupun melangkah kearahnya. Tapi dia tidak sendiri, lagi-lagi lelaki itu bersamnya dan bahkan berani-beraninya dia mencium wanitaku, Roxanne. Menahan semua panas yang ada, semua api cemburu sudah terlanjur berkobar didalam dadaku. Akupun menggeram menahan semuanya. Karena amarahku sudah mencapai ubun-ubun suaraku pun perlahan seperti menghilang dan menjadi serak tidak seperti biasanya.

“Apa yang sedang kalian lakukan? Hah?!” pekikku, yang mengagetkan keduanya yang terlihat kembali akan berciuman. Persetan dengan semua harga diri yang ada pada diriku sebagai seorang pria. Pria manapun akan menangis jika melihat semua ini. Dan begitupun dengan diriku, tak kuasa menahan tangis yang mewakili remuk redamnya hatiku melihat semuanya. Tak apa jika dulu dia melakukan kesalahan dengan sengaja, tapi untuk kali ini untuk yang satu ini tak bisa kubiarkan. Roxanne melakukannya dengan segenap hatinya yang sudah terbawa pergi.

“Im.. Yoon..A..” Aku memanggilnya dengan airmata yang memenuhi pipiku yang sesekali aku coba menghapusnya namun tetap saja mereka berjatuhan.

Terkesiap mendengar panggilanku kepadanya, Roxanne mencoba mendekat. “Sehun-ah,” tak kuasa melihat reaksiku yang menangis seperti itu, Roxanne pun terlihat menangis dan memelukku erat mendekapku. “Sehun-ah,”gumamnya pelan.

“KAU!” tunjukku pada Edison yang masih berdiri memerhatikan pertengkaran kecil kami. “Kau sepertinya sudah diluar nalarmu. Tidakkah kau tahu Roxanne adalah milikku?! MILIKKU!” saking kuatnya menahan amarahku hari ini, bibirku sampai bergemeretak bergetar. Edison menatap mataku dengan congkaknya, “Kalau dia milikmu seutuhnya, dia tidak akan goyah olehku. Kau harus mengakuinya, Roxanne sudah tidak menyisakan cinta untukmu.”

Deg!

Kalimatnya benar-benar membuatku tertohok. Aku pun mendekat kearahnya dengan tangan terkepal bersiap melayangkan tinjuku kembali pada Edison. Baru beberapa langkah kuambil Roxanne sudah menghentikanku, dia mendorongku hingga pada ujung taman yang cukup memberi jarak untukku dan Edison berkelahi. “Hentikan Sehun-ah. Kau bisa menyakitinya.” Ucap Roxanne terserang panik kembali. “Kau.. Kau.. kembali tergoyahkan kembali olehnya,” ucapku terbata.

“A-aku, aku tidak tahu Sehun-ah,” tangisan Roxanne semakin terlihat.

“Aku sudah memaafkanmu, aku bahkan ingin mengulang kembali semua kisah yang kita lalui sebelumnya. Tapi Edison, aku tidak tahu kenapa hatiku masih memikirkan dirinya. Hanya sekejab yang kulalui bersamanya, maafkan aku. Tapi aku benar-benar tidak tahu yang aku rasakan. Kau tahu kan betapa aku mencintaimu sepenuh hati. Meskipun aku terus mengatakan bahwa hal ini tidak benar untuk terus memikirkan lelaki lain, aku bisa merasa bahwa aku tidak bisa mengabaikannya lagi dan berpura-pura selalu disampingmu sementara aku memikirkannya.” Pengakuan Roxanne benar-benar memporak porandakan hatiku. Tangannya yang menahan tanganku saat aku ingin memukul Edison tak lagi terkepal, tanganku seketika menjadi lemas.

“Bisakah aku memastikan perasaan ini terlebih dahulu?” pinta Roxanne sambil memegangi bibirnya. Aku sudah tak tahan lagi melihatnya. “Kau benar-benar keterlaluan untuk kali ini Roxanne,” geramku padanya.

Edison terlihat senang mendengar pembicaraan antara kami berdua, jelas terlihat dia yang memenangkannya untuk kali ini. Dengan tidak sabar aku menarik tubuh Roxanne yang tak jauh dariku, aku mendekapnya erat dan mempertemukan kedua bibir kami.

“Sehun, jangan,” tolak Roxanne yang langsung menarik bibirnya yang sudah sebagian aku lumat. Ekor matanya masih khawatir memandang kearah Edison yang masih berdiri. Aku tak tahan lagi, kalaupun aku berpikir rasional aku tidak akan membiarkan diriku hilang kendali dihadapan seorang wanita dan membiarkan bibirku ini kembali mencari bibir Roxanne dan kembali mendekatkan tubuh kami berdau yang dikuasai oleh otot-otot lenganku yang kekar.

“Sehun-ah,” tolak Roxanne lagi. “Diamlah!” ucapku agak menaikkan nada suaraku membuat Roxanne mengerjap kaget. Aku kembali mencium bibirnya, mulutku menyentuh lembut mulutnya. Sengaja aku menggerak-gerakan kan mencari posisi yang pas tapi hanya diriku yang dengan sepenuh hati melakukannya. Akupun kembali tersadar, sedari tadi hanya aku yang mengalirkan rasa cintaku padanya Roxanne hanya terdiam merasakan bibirnya dilumat olehku yang diliputi nafsu cemburu.

“M-mmaafkan aku,” tertegun dibuatnya. Baru kali ini aku harus meminta maaf kepada kekasihku sendiri karena menciumnya.

 

Author POV

Edison terdiam melihat keduanya berciuman, meski sangat jelas hanya Sehunlah yang melakukannya. “Aku tidak bisa membiarkanmu memastikan semua perasaanmu itu. Aku hanya tidak bisa membiarkanmu melangkah menjauh dariku,” ucap Sehun setelah menyelesaikan ciuman sepihaknya. Untuk kedua kalinya Sehun menarik pergelangan tangan Roxanne menjauhkannya dari Edison dan kembali berbaur dengan suasana pesta seakan semuanya tidak terjadi sama sekali.

“Annyeonghaseyo, Sehun-ssi.” Sapa Kyungsoo yang tanpa diduga mendekati Sehun dan Roxanne. Kyungsoo tidak bisa melihat keadaan mereka berdua yang masih bertengkar.

“Eoh, Annyeonghaseyo sajangnim.” Jawab Sehun dengan hormat dan membungkuk.

“Eii, tak usah begitu formal padaku. Lagipula kau yang lebih tua dariku,” tolak halus Kyungsoo yang merasa canggung mendengar ucapan terllau formal dan sopan dari Sehun. Meski Sehun adalah bawahannya yang akan membantunya, tetapi tetap saja Sehun lebih senior dibanding dirinya. “Ah, ne. Baiklah Kyungsoo-ah?” ucap Sehun lagi. Kyungsoo tersenyum mendengarnya dan menepuk pelan pundak Sehun. “Aku akan menganggapmu dongsaeng mulai dari sekarang, ne?”

“Please take care of me,” ucap Kyungsoo kembali mengagetkan Sehun dengan sikapnya.

Tidak lama kemudian keduanya langsung terlibat percakapan yang cukup serius mengenai project berikutnya yang besar dan menentukan langkah perusahaan kedepannya. Roxanne mulai bosan mendengarkan keduanya berbincang-bincang, dan hendak membawa sedikit camilan yang disediakan oleh pihak hotel. Baru beberapa langkah saja, tiba-tiba seorang wanita yang sangat dikenalnya dengan cepat mencegat dirinya. “Krystal-ssi?”

“Kenapa kau terlihat kaget melihatku?” ucap Krystal dengan sikap angkuhnya, kedua tangannya terlipat di dada. “Kau tidak pantas berada disini. Wanita murahan sepertimu akan mengotori lantai marmer yang indah ini, tch! Perebut pria orang lain. Jika bukan karena kau, aku dan Sehun seharusnya sudah menikah karena perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtua kami. Bagaimana bisa kau masih bisa terlihat angkuh, dimana letak wajah murahanmu itu? Tidakkah kau merasa malu?” Ucapannya membuat pipi Roxanne memanas menahan malu yang harus ditanggungnya, betapa tidak bukan lagi hanya dia yang mendengar ocehan Krystal tetapi juga beberapa tamu undangan lainnya. Alkohol terasa menyengat dari tubuh Roxanne yang baru saja menerima segelas red wine yang diarahkan pada tubuhnya oleh Krystal.

“Cukup Nona!”

Roxanne dan Krystal terperanjat mendengar teriakan lelaki yang kini sudah berada diantara mereka. “Kai?”

“Annyeong Roxanne-ah,” Kai tersenyum riang ke arah Roxanne.

“Kau tidak berada diposisi yang pantas untuk mengatai tamu pesta, Roxanne pun termasuk tamu disini. Apa tujuanmu sebenarnya wanita manis? Apa kau benar-benar ingin merusak acara pertunangan calon adik iparmu? Apa kau ingin calon besan keluargamu merasakan malu yang sangat karena ulahmu?”

“Ba-bagaimana kau bisa tahu?” ucap Krystal tergagap. Sebenarnya sejak awal hanya keluarganya yang tahu siapa jati diri Sehun sebenarnya dan dengan asal pria yang tidak dikenal dihadapannya ini membeberkan semuanya tanpa dosa.

“Hal ini bukanlah hal yang tidak sulit untuk seorang Kai mengetahui semuanya.” Jawab Kai sambil melihat keadaan Roxanne yang berantakan. “Kau baik-baik saja Roxanne?”

“Ayo ikut aku!” ajak Kai yang tidak tahan lagi melihat sikap Roxanne yang hanya diam dirinya diperlakukan begitu tidak adil.

.

.

.

“Menangislah,” ucap Kai saat keduanya hanya berduaan di kamar mandi. Di salah satu bilik Roxanne tengah sibuk mengganti dressnya dengan dress pinjaman yang didapatkan Kai untuknya. “Kau seharusnya bisa membalas setiap ucapan jahat yang keluar dari rubah betina itu,” ucap Kai lagi yang masih belum bisa mengendalikan rasa kesalnya. Semuanya terjadi begitu cepat setelah Edison pulang lebih awal karena merasa sakit disekujur tubuhnya. “Kemana pangeran berkuda putihmu?” tanya Kai lagi saat melihat Roxanne sudah keluar dengan dress yang berbeda.

“Dia terlalu sibuk untuk mengetahui tuan putrinya dilecehkan?” ucap Kai sarkas.

“Tidak, tadi dia bersamaku. Hanya saja aku menyelinap untuk membawa camilan.” Sergah Roxanne, berharap Kai tidak lagi memikirkan yang keterlaluan terhadap Sehun.

“Hari ini terlalu berat untuk ku melaluinya dengan tenang,” ucap Roxanne pelan. “Hati ini tidak tahu mengarah pada siapa, membuatku cukup bingung dan membuat kesalahpahaman menjadi semakin besar diantara kami bertiga,” ucap Roxanne yang sedikit lega setelah mengatakannya pada Kai.

“Ouh maksudmu antara Kau, Sehun dan Hyungku?”

Baru saja Roxanne ingin menjawab dan melanjutkan curahan hatinya, tiba-tiba kamar mandi pojokan menjadi ribut oleh suara ketukan pintu, lebih tepatnya seseorang mneggedor pintu kamar mandi. “Roxanne, kau tidak apa-apa?!”

“Ah, rupanya dia baru mengetahui apa yang terjadi pada tuan putrinya.” Desah Kai pelan dengan senyuman penuh arti diwajahnya, dia bersender pada dinding kamar mandi.

“Tunggu,” jawab Kai. Sehun terbeliak mendengar suara lelaki yang keluar dari kamar mandi, beberapa tamu yang menyaksikan tadi dengan jelas mengatakan bahwa kekasihnya berada di kamar mandi untuk berganti baju, dan sekarang dia bersama lelaki lagi? Telinganya tentu tidak salah menangkap suara bukan?

Sebelum Roxanne benar-benar pergi meninggalkan Kai, sepintas Kai bisa melihat dengan jelas gelang dengan aksen khas di pergelangan tangan wanita cantik itu. ‘Ah, bukankah itu gelang yang selalu Hyung kenakan?’ ucap Kai dalam hati setelah mengingat dimana sebelumnya dia pernah melihat gelang yang sama. Belum sempat Kai menanyakan perihal gelang tersebut Roxanne sudah melenggang pergi dengan daun pintu yang tertutup otomatis.

.

.

.

“Hyung!” panggil Kai pada Edison yang tengah asyik ditengah kerumunan para tamu undangan lainnya. Edison berbalik kearah dimana Kai memanggilnya. “Kau kemana saja hyung?”

“Aku tadi hanya mencari udara segar,” kilah Edison menutupi apa yang telah terjadi padanya beberapa waktu yang lalu. “Hyung apa kau masih ingat? Pembicaraan kita saat waktu pertama kali kau mmutuskan untuk mengikuti jejak paman dan menjadi seorang dokter. Aku masih penasaran akan hal itu, mungkin ini waktu yang tepat untuk menjelaskannya?” ucap Kai sambil mengangkat pelan gelas yang dia ambil dari pelayan yang baru saja melewati keduanya.

“Kau dari tadi kemana saja?” Edison malah balik bertanya dan seakan ingin mengalihkan pembicaraan yang baru saja Kai awali, Kai yang merasa Hyungnya itu menghindari pertanyaan dengan cepat kembali mengulang pertanyaannya.

“Hm, baiklah. Ada hal yang harus kau ketahui dan melibatkan rahasia keluargaku.”

“Apa itu?” potong Kai merasa tak sabar.

“Aku, bukanlah anak kandung dari orangtuaku yang selalu kau sebut paman dan bibi. Karena itulah untuk membalas budi mereka aku menjadi dokter dan mengikuti keinginan mereka berdua.”

Kai terlihat tidak terkejut sama sekali,”Pantas saja kau terlihat begitu kesusahan untuk segera lulus di jurusan kedokteran tidak tampak seperti tipikal keluarga besarku sama sekali,” ujar Kai bercanda untuk mencairkan suasana. “Sejak itu pula kau mulai menggunakan gelang beraksen aneh bukan?”

Pertanyaan Kai kali ini melesat jauh dari perkiraan Edison, dia kira Kai akan menanyakan perihal lainnya yang lebih serius, tetapi dia salah Kai rupanya lebih tertarik membahas gelang milik satu-satunya saudara yang sedang dia cari, adik kandungnya. “Ini milik-“

“Ya baiklah semuanya kini sudah saatnya berdansa. Mari berdansa.” Suara yang keluar dari mikropon menghentak keduanya, membuat Kai dan Edison mengalihkan perhatian mereka dengan beberapa pasangan yang sudah siap berdansa mengikuti alunan lagu waltz yang sengaja dipersiapkan panitia acara. Sekelebat Kai bisa melihat Sehun dan Roxanne yang berdansa dengan tenangnya, dia bahkan hampir lupa akan insiden yang menimpa Roxanne barusan akibat ulah Krystal. Matanya tertuju kembali pada gelang yang dikenakan Roxanne.

Berbeda dengan Kai, Edison justru sibuk memerhatikan ekspresi yang terpasang jelas di wajah wanita yang berhasil mencuri perhatiannya. Roxanne. Dua sudut bibirnya tertarik dan menyimpulkan senyuman lega, entah mengapa.

Suara gaduh membuat lamunan yang membuainya kedalam kedamaian membuatnya menoleh kearah dimana hal gaduh terjadi. Edison bisa dengan jelas melihat kegaduhan yang melibatkna Roxanne, Sehun dan wanita lainnya. Baru saja Edison akan melangkah mendekati ketiga orang itu, langkah kakinya berhenti melihat Kai yang juga mendekat kearah tiga orang yang bertikai dengan terang-terangan.

PLAAAK!

Kini Roxanne terlihat kesakitan sambil memegangi pipinya yang kemerahan akibat ayunan tamparan kuat dari seorang Krystal yang menatapnya dengan penuh kebencian. Edison kembali melangkah namun langkahnya kembali terhenti melihat Sehun yang membalas menampar Krystal didepan semua orang sembari berteriak,

“Wanita sepertimu tidak pantas untuk dihormati!” Sehun terlihat kesal sekali hingga dia melewati batasnya sebagai lelaki dengan tanpa ampunnya menampar seorang wanita. Bukan Roxanne saja yang terisak, isakan kecil terdengar pula dari bibir kecil seorang Krystal. “Berani-beraninya kau menampar calon ibu dari anakmu, Sehun-ah!” seru Krystal yang membuat seorang terbelalak dibuatnya karena isi pernyataan dari teriakannya barusan.

“A-Apa? Anakku?” jawab Sehun tergagap, akal sehatnya terlalu terkejut untuk menerima kenyataan tersebut. Ekor mata Sehun menangkap kesedihan di raut wajah wanita disampingnya. Roxanne.

.

.

.

To be continued

p.s: kepokah?

 

23 thoughts on “Roxanne chapter IV

  1. Daebak!! Tapi sebenarnya aku rada gak suka sama nama lain yoona dan tao..
    Dan sayangnya, kenapa dari kebanyakan ff yang aku baca, krystal menjadi orang ketiga? Jadi makin kesal aja sama tuh anak.. Oke deh.. Ditunggu cerita selanjutnya…

    Annyeong ^^

  2. salam kenal……..
    ahh suka critanya pertama bca lngsung suka
    aduhh jdi penasran sma siap ntar yoona nya……..
    ditunggu klanjutanya ya

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s