(Freelance) Catastrophically (Prolog 2)

request

Park Nukyeon’s present

Catastrophically

staring

Im Yoona, Oh Sehun and Huang Zi Tao

Also

Choi Minho, Wendy Son, Lu Han and Kim Jongin as supported cast

PG17// Chaptered // Fantasy, Romance, Friendship

Thank you to Cassandra Clare for the inspiration and poster goes to imjustagirl @ artfantasy

All of the cast are belongs to God // This fanfic isn’t for a sider

Also published in Adara Ambrose

Prolog 1

 

Catastrophically

Prolog 2

Tao’s side

Qindao, November 1999

 

Tao histeris melihat jiejienya di bunuh oleh iblis itu. Iblis hijau yang tidak sengaja Tao lepaskan dari kotak yang mengurungnya kini merampas nyawa sang jiejie.

 

“Kini, semua orang yang mencintaimu akan tersiksa,” kutuk sang iblis dan meninggalkan Tao sendirian. Tao menangis layaknya anak berumur 3 tahun, ya, walaupun ia masih berumur 11 tahun.

 

“Baba,” teriaknya histeris. Lalu seorang lelaki memasuki ruangan itu.

 

“Apa yang terjadi?” Lelaki itu kaget melihat anak perempuannya sudah terkulai lemah dipangkuan Tao.

 

“Ia melindungiku dari iblis hijau yang tidak sengaja aku lepaskan dari kotak itu,” isaknya sambil menunjuk kotak yang telah terbuka. Lelaki itu atau yang biasa disebut baba oleh Tao mendekati anak perempuannya yang terbaring lemah itu. Ia mengendong anaknya itu dan berdiri.

 

“Tidak,” hanya itu yang keluar dari mulut sang papa.

 

“Apakah ia baik-baik saja?” Tanya Tao, tapi sang baba tidak menjawab ia hanya menunduk dan keluar dari ruangan itu.

 

[Catastrophically]

 

Hari ini, hari dimana pemakaman kakak atau jiejie Tao berlangsung. Hari dimana Tao merasa bersalah. Hari dimana ibunya dan adiknya tidak berhenti menangis. Tao tidak harus apa. Ia hanya teringat akan kutukan sang iblis. Ya kutukan itu. Tao teringat akan kutukan itu. Ide gila menyerangnya.

 

“Ba, aku pulang duluan ya,” ujar Tao. Sang ayah hanya mengangguk.

 

Tao berjalan sendirian. Rasa bosan menyerangnya. Ia mulai menendang-nendang kerikil yang berada dijalan. Ia senang sekaligus sedih dengan idenya ini. Akhirnya ia sadar bahwa sedari tadi seorang lelaki yang mengikutinya dari belakang.

 

“Apa yang kau lakukan?” Tanya Tao.

 

“Aku disuruh menemanimu sampai ke rumah oleh tuan Yifan,” ujar seorang lelaki yang ternyata ajudannya sendiri.

 

“Sudahlah, kembali sana,” perintah Tao. Sang ajudanpun menurutinya dan meninggalkan Tao sendirian. Tao berjalan hingga sampailah ia ke rumahnya. Ia memasuki kamarnya dan berkemas. Tao berencana pergi. Pergi dari China dan pindah ke Korea. Ke institut yang berada di Korea agar jauh dari keluarganya. Agar keluarganya tidak tersiksa karena masih menyayanginya.

 

Tao yang notabenya anak dari seseorang yang penting. Dengan hanya memberitahukan namanya, ia bisa mendapatkan tiket pesawat gratis. Ia pergi meninggalkan China dengan cepat.

 

[Catastrophically]

 

“Kenapa kau kembali?” Tanya baba Tao alias Huang Yifan.

 

“Tuan Tao menyuruhku kembali tuan,” ucapnya.

 

“Sudah kubilang ikuti dia,” ucap Yifan. “Ah, kau ini menyusahkan,” lanjut Yifan. Yifan langsung saja menaiki kereta kudanya dan pulang ke rumah. Saat ia sampai di rumah, ia mendapati Tao sudah tidak ada. “Sudah kukira,” ujar Yifan.

 

Tepat saat itu juga, mama Tao pulang.

 

“Ada apa?” Tanyanya.

 

“Tao pergi,” ujar Yifan.

 

“Kemana?” Tanyanya lagi.

 

“Mungkin ke institut yang berada di Korea, karena hanya institut itu yang terdekat dari sini,” jelas Yifan. Kaki mama Tao melemas. “Kita beristirahat saja dahulu, baru suatu suatu saat kita akan menyusulnya,” lanjutnya.

 

[Catastrophically]

 

“Dimana institut itu?” Gumam Tao sendirian. Bulan telah menerangi malam itu tapi Tao tak kunjung menemukan institut itu. Orang-orang di sekitarnya menatapnya aneh. Ya, bagaimana seorang bocah berumur 11 tahun keliling Korea dengan tas besar yang digendongnya.

 

Ada sesuatu yang menarik pandangan Tao. Gereja tua. Itulah yang menarik pandangan Tao. Tao berencana istirahat disana. Ia berjalan menuju gereja tua itu. Tapi, semakin dekat ia dengan gereja itu. Bangunannya seperti berubah pelan-pelan. Akhirnya, Taopun sampai di depan gereja tua itu. Tapi, yang ia lihat bukan sebuah gereja, melainkan sebuah bangunan tua besar seperti istana.

 

“Demi Malaikat Raziel, terima kasih,” ucap Tao. Tao menyentuh pagar itu dan otomatis pagar itu terbuka. Karena hanya darah setengah malaikatlah yang bisa membuka pagar itu. Ia mengetuk pintu itu dan terlihatlah seorang wanita membukanya.

 

“Nuguya?” Ucap sang wanita.

 

“Euh…” Jawab Tao karena ia tidak mengerti bahasa Korea. Sebenarnya, ia mengerti tapi hanya sedikit.

 

“Tak bisa bahasa Korea?” Tanya wanita itu dengan bahasa Inggris. Tao hanya mengangguk. “Kau siapa?” Lanjut wanita itu.

 

Wo shi Huang Zi Tao from Qindao, wo jiao Tao,” jawab Tao.

 

“Oh, dari China rupanya, aku tahu marga Huang,” kata wanita itu. “Mari masuk,” ujarnya. Tao memasuki bangunan itu.

 

“Wah besarnya,” gumam Tao. Walaupun Tao tinggal di tempat yang cukup besar juga. Tapi, tempat ini jauh lebih besar. Langit-langit gedung itu sangatlah indah. Apalagi untuk Tao yang mencintai kemewahan. Tempat itu sangat indah baginya. Wanita itu mengajak Tao duduk.

 

“Berapa umurmu?” Tanyanya.

 

“11 tahun,” jawab Tao.

 

“Daebak,” ucap wanita itu.

 

“Xiexie,” balas Tao.

 

“Kau mengerti bahasa Korea?” Tanya wanita itu.

 

“Sedikit,” ucap Tao.

 

Wanita itu tersenyum, “Namaku Cho Seulgi, aku kepala institut ini.”

 

“Seulgi noona,” dengan otomatis Tao memanggilnya noona.

 

“Pertama, panggil aku Seulgi. Nephilim tidak seformal kelihatannya,” jelas Seulgi. “Kedua, ni shi bushi Shanghai ren?” Tanyanya.

 

Wo bushi Shanghai ren, wo shi Qindao ren,” jawab Tao.

 

“Oh,” ucap Seulgi. “Siapa nama orang tuamu?”

 

“Huang Yifan,” kata Tao.

 

Seulgi seperti mendengar nama seseorang yang sudah mati, “Bukankah ia yang menikahi manusia dan berhenti menjadi shadowhunter?”

 

Tao hanya mengangguk lemas, “Iya,” jawabnya.

 

“Sudah, lebih baik kau istirahat,” kata Seulgi. “Krystal,” teriak Seulgi. Lalu, datanglah seorang pelayan kecil.

 

“Ne, ada apa?” Jawabnya.

 

“Tolong antarkan Tao ke kamarnya,” ucap Seulgi. Krystal hanya mengangguk. Sungguh, ia mengagumi wajah Tao yang sangat tampan walaupun ia hanya bocah berumur 11 tahun. Sesungguhnya, Krystalpun baru menginjak 11 tahun. “Ikuti saja dia,” kata Seulgi. Tao hanya mengangguk dan berdiri mengikuti Krystal.

 

Sungguh, institut ini sangat luas bagi Tao. Tao sedari tadi memandangi Krystal yang hanya diam. Sebenarnya, Krystal notabenya hanya seorang pelayan. Jadi, ia tidak berani membuka mulut sedikitpun. Dengan dihantui dalam keheningan, akhirnya Tao sampai pada kamarnya. Kamar itu tidak terlalu luas. Kasur putih berada di pojok ruangan. Lagi-lagi tanpa alasan Tao terdiam di depan kamar itu memperhatikan isinya.

 

Krystal bingung dengan terdiamnya Tao, “Tenang saja, kamar ini tidak dikutuk. Disini hanya sedikit gelap saja,” akhirnya Krystal membuka mulut.

 

Dikutuk.

 

Tao mengingat kembali. Bahwa ia dikutuk, dikutuk oleh iblis hijau sialan itu. Tidak boleh ada orang di institut yang sayang padanya.

 

“Aku tidak takut gelap. Sekarang kau bisa tinggalkanku,” ucap Tao sinis. Dan menutup pintu dengan keras.

 

“Juteknya,” protes Krystal. Tanpa Krystal tahu, bahwa ialah yang salah ucapan. Ialah yang memulai sifat Tao yang dingin dan tajam itu.

 

[Catastrophically]

 

Tao pergi ke ruang makan. Ia melihat Seulgi tersenyum padanya.

 

“Kau duduk disini,” ucap Seulgi. Lalu Seulgi memperkenalkan semua yang ada di institut.

 

“Ini Kim Jongin, lalu ini suamiku Cho Kyuhyun, ia Wendy Son dan ini Luhan,” jelas Seulgi. “Luhan juga dari Tiongkok, tepatnya Beijing,” lanjut Seulgi. Tao hanya mengangguk.

 

“Kau tampan sekali,” ceplos Wendy.

 

“Memang, terimakasih,” jawab Tao singkat. Seulgi tersenyum melihat Tao. Sebenarnya, ia kaget juga. Apakah itu sifat asli Tao? Dingin, cuek dan tajam.

 

[Catastrophically]

 

Seoul Institute, December 1999.

 

“Tao, Tao, ayo keluar temui orang tuamu,” bujuk Seulgi.

 

“Tidak mau.” Tao menangis sambil meringkuk dibawah ranjangnya.

 

“Ayolah Tao, jebal,” pinta Seulgi lagi.

 

“Kubilang tidak mau, kau bebal, usir mereka sekarang juga,” ucap Tao.

 

Seulgi kaget bukan kepalang. Iapun menyerah. Ia keluar dengan tampang lesu. Dan bilang pada orang tua Tao bahwa ia tidak ingin menemui mereka dan menyuruh mereka pergi. Yifan kaget mendengar anaknya kenapa menjadi seperti ini. Iapun memutuskan untuk pergi dengan istrinya meninggalkan institut itu. Seulgi kembali ke kamar Tao.

 

“Mereka sudah pergi,” ucap Seulgi.

 

“Sekarang kau yang pergi dari kamarku,” balas Tao.

 

Walaupun ia baru sebulan bertemu Tao, tapi ia sudah menganggap Tao anaknya sendiri, “Baiklah,” jawab Seulgi. Iapun keluar dan menutup pintu meninggalkan Tao yang meringkuk dibawah kasur.

 

[Catastrophically]

 

Seoul Institute, February 2000.

 

Semua penghuni Institut sedang bersantai di ruang itu. Tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu.

 

“Siapa itu?” Bingung Jongin.

 

“Molla,” balas Luhan. Mereka semua beranjak menuju pintu. Krystal membuka pintu. Dan terlihatlah seorang namja tinggi yang kurus kering.

 

“Annyeong haseo, Oh Sehun imnida,” kata namja yang bernama Sehun itu sambil membungkuk. Entah kenapa, jiwa Tao seperti terhubung dengannya.

 

“Annyeong Sehun, silahkan masuk,” ucap Seulgi.

 

THE END

 

P.s :

 

Baba : ayah, harusnya itu pake tone tapi aku males aja. Terus, kalau di hanyu (bahasa mandarin) ba itu dibaca ‘pa’ jadi baba kalau dibaca sama aja papa.

 

Jiejie : kakak perempuan.

 

Wo shi Huang Zi Tao from Qindao, wo jiao Tao : Aku adalah Huang Zitao dari Qindao. Aku dipanggil Tao.

 

Ni shi bushi Shanghai ren : apakah kau orang Shanghai?

 

Wo bushi Shangha ren, wo Qindao ren : aku bukan orang Shanhai, aku orang Qingdao.

 

Well, prolog Tao panjang banget yah. Ceritanya FF ini kaya EXO kebanyakan teaser tapi hasilnya menakjubkan. Apasih aku #plak. Nah, ini FF keduaku yang kukirim ke YoongEXO (brisik ni author). Jadi, prolog ketiga itu nanti Sehun. Dan aku mohon 1 comment saja sangat berharga bagiku.

24 thoughts on “(Freelance) Catastrophically (Prolog 2)

  1. Keren… semakin ke sini bikin penasaran.
    Penasaran gmn yoona, tao, sehun bs ketemu
    Ditggu part selanjutnya. Hwaiting

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s