(Freelance) Catastrophically (Prolog 3)

request

Park Nukyeon’s present

Catastrophically

staring

Im Yoona, Oh Sehun and Huang Zi Tao

Also

Choi Minho, Wendy Son, Lu Han and Kim Jongin as supported cast

 

PG17// Chaptered // Fantasy, Romance, Friendship

Thank you to Cassandra Clare for the inspiration and poster goes to imjustagirl @ artfantasy

All of the cast are belongs to God // This fanfic isn’t for a sider // Also published in Adara Ambrose

Catastrophically

Prolog 3

Sehun’s side

London Institute, November 1999

 

“Stephan, kau diam disitu. Mom mohon jangan bersuara,” ucap seorang wanita sambil mencium pipi Stephan.

 

“Stephan, kau harus dengarkan perkataaan mom-mu barusan, jangan keluar dari sana sebelum dad suruh,” lanjut sang ayah. Stephan hanya mengangguk dan sembunyi di lemari tua itu.

 

Di dalam sana gelap, sempit serta pengap. Tapi, anehnya Stephan masih bisa bernafas. Padahal, tidak ada lubang udara sedikitpun. Stephan berada dalam keheningan yang menyelimutinya. Hingga, ia mendengar suara teriakan ibunya. Stephan bergegas keluar. Tidak peduli apa yang ibunya dan ayahnya katakan kepada Stephan. Ia tetap keluar dari lemari itu dan mengambil pedang perak diatas kasur ayahnya dan keluar dengan lagak seperti tidak takut dengan apa yang ia hadapi.

 

“Jangan sakiti ibu dan ayahku,” teriak Stephan sambil menodongkan pedangnya.

 

“Stephan,” ucap lemas ibunya.

 

“Stephan, apa yang kau lakukan,” teriak ayahnya. Stephan gemetaran. Sang iblis menghampirinya dengan tawanya yang meledak.

 

“Wah, ternyata kedua nephilim ini mempunyai anak,” tawa sang iblis menggelegar di institut.

 

“Jangan mendekat atau kubunuh kau,” ucap Stephan ketakutan.

 

“Kau bodoh, iblis Yanlou sepertiku tidak takut dengan ancaman bocah kecil.” Yanlou menangkis pedang Stephan dengan sekali jentikan. Stephan ketakutan bukan kepalang. Yanlou telah membunuh semua penjaga. Kini hanya tersisa Stephan, ibunya dan ayahnya. Melihat Stephan, rencana Yanlou berubah. Ia tidak jadi langsung membunuh Oh Kyungsoo dan Clarissa Bloom, ia berencana untuk menyiksa mereka. Lewat putra kecil mereka. Yanlou mengikat Stephan di kursi. Ia menaruh Stephan di depan kedua orang tuanya yang juga di ikat. Yanlou memulai aksinya menyiksa Stephan. Ia menyuntikkan racun iblis atau Yinfen ke Stephan. Efeknya langsung menghanguskan pembuluh darah Stephan dan mengoyakkan pikirannya. Stephan samar-samar mendengar teriakan ibunya. Dua hari. Dua hari Stephan keluar masuk dunia mimpi dan halusinasi. London yang terbakar, dunia tenggelam dalam darah, jeritan-jeritan orang sekarat. Setiap beberapa jam, Stephan kembali ke dunia nyata hanya untuk melihat orang tuanya menjeritkan namanya.

 

[Catastrophically]

 

Stephan terjaga penuh. Tetapi, ia hanya mendengar teriakan ayahnya. Ibunya telah dibungkam. Suara ayahnya kering dan serak seperti tidak pernah diberi minum. Ayahnya memanggil namanya. Bukan nama Inggrisnya. Ia memanggil Stephan dengan nama Koreanya. Nama lahir yang diberikan oleh ayahnya. Oh Sehun. Stephan atau Sehun bersyukur masih bisa mendengar suara ayahnya. Tapi, diselingan kebahagian Stephan bahwa kedua orang tuanya masih hidup, iblis itu datang lagi. Ia lagi-lagi menyuntikkan Yinfen ketubuh Stephan.

 

[Catastrophically]

 

London Institute, December 1999.

 

Brak

 

Para enklaf atau pasukan Shadowhunter memasuki ruangan. Iblis Yanlou itu panik. Tapi, dengan cekatan mereka menyerang iblis Yanlou itu. Tapi, dasarnya Yanlou itu iblis kuat. Ia tidak bisa dengan mudah dibunuh. Yanlou melarikan diri. Para enklaf menemukan Oh Kyungsoo dan Clarissa Bloom sudah tewas. Sedangkan Stephan ditemukan menjerit-jerit, mengigau tak karuan. Para enklaf panik. Institut sudah hancur. Dimana-mana bergeletakan mayat. Dan hanya satu yang hidup. Hanya Stephan. Para enklaf membawa Stephan ke Saudara Hening atau Silent Brother. Karena hanya Saudara Hening lah penyembuh paling hebat di dunia shadowhunter. Para Saudara Hening menyembuhkan Stephan dengan sekuat tenaga mereka. Tapi, ada satu yang tidak bisa diperbaiki oleh mereka. Stephan sudah kecanduan. Kecanduan racun iblis itu. Tubuhnya tergantung pada racun itu. Seperti narkoba yang mencandui tubuh pecandunya. Para enklaf mencoba membuat Stephan untuk tidak kecanduan racun iblis atau Yinfen lagi. Mereka mencoba menyapihkan Stephan dari racun itu. Tapi, bagi Stephan hidup tanpa Yinfen membuatnya merasakan sakit yang sangat luar biasa. Bahkan, para enklaf bisa menghalangi rasa sakit yang Stephan rasakan oleh mantra warlock. Tetapi, tubuh Stephan berada di ambang kematian karena tidak ada racun itu.

 

[Catastrophically]

 

London Institute, January 2000.

 

Setelah berminggu-minggu para enklaf melakukan segala percobaan untuk Stephan. Mereka memutuskan untuk membiarkan Stephan dan racun iblis itu. Sudah tidak ada yang bisa dilakukan lagi. Hidup Stephan tergantung racun itu. Padahal, racun itu sendiri ialah kematian perlahan Stephan. Tapi, tanpa racun itu berarti kematian cepat.

 

[Catastrophically]

 

London Institute, February 2000.

 

“Kau ingin menetap di London atau tidak?” Tanya seorang lelaki tua.

 

“Tidak,” jawab Stephan tegas.

 

“Kenapa?” Tanya lelaki tua itu lagi.

 

“Tinggal disini sama saja menyiksa batinku,” jawab Stephan.

 

“Lalu kau ingin kemana?” Lelaki tua itu membuang puntung rokok yang ia hisap.

 

“Korea, Institut di Korea,” ujar Stephan.

 

“Tapi itu sangat jauh Stephan,” gumam sang lelaki tua.

 

“Tapi, darisanalah ayahku berasal Kek. Dan, kumohon jangan panggil aku Stephan lagi. Panggil aku Sehun. Oh Sehun. Mulai detik ini, aku tidak akan menggunakan nama Stephan lagi. No more Stephan Bloom. Jika mengingat itu, aku seperti tinggal di mimpi buruk yang selalu mencekamku,” jelas Stephan. Sang kakek hanya mengangguk saja. Kini, nama Stephan Bloom hanya kenangan belaka yang sungguh kelam. Ia menggantinya menjadi Sehun. Nama yang ayahnya buat untuknya.

 

“Baiklah Sehun,” ucap sang Kakek. “Kapan kau angkat berangkat?”

 

“Malam ini juga,” ucap Sehun.

 

“Kau gila ya? Mana ada pesawat malam ke Korea,” cerewet sang Kakek.

 

“Tidak bisakah aku menggunakan portal?” Tanya Sehun.

 

“Kau masih dibawah umur bocah ingusan,” ucap sang Kakek.

 

“Yasudah temani aku,” kata Sehun singkat.

 

Sang Kakek kaget mendengar kegigihan cucunya,”Baiklah.”

 

Sehun berjalan menuju kamarnya. Kamar inilah tempat dimana Sehun besar. Ia mengemas barangnya. Semua baju-bajunya. Semua mainannya. Bagaimanapun, semengerikan kehidupannya. Ia masih bocah 11 tahun yang perlu mainan. Lalu, ia membuka night stand-nya. Srek. Terdengarlah suara laci dibuka. Dan, terlihat sebuah kotak. Kotak ini terbuat dari emas, lidahnya bertatah glasir dengan seorang perempuan langsing dalam jubah putih, bertelanjang kaki dan memegang kertas papirus panjang. Sehun membuka kotak itu perlahan. Dan terlihat sebuah abu keperakan tebal yang berwana perak terang. Sehun seperti mencintai dan membenci obat atau Yinfen itu. Ia menutup kotak itu lagi. Dan memasukannya ke tas yang akan dia bawa. Ia beralih ke meja kecil di dekat jendela. Disitulah foto kecilnya berada. Lalu, padangan Sehun terpaku pada sebuah patung kecil dewa Zeus pemberian ayahnya.

 

Flashback

 

April 1997.

 

“Selamat ulang tahun Stephan.” Clarissa mencium pipi anak satu-satunya. “Mom memberikanmu buku-buku ini, kau harus membacanya yah,” lanjutnya. Sehun yang notabenya tidak suka membaca hanya tersenyum dan memeluk ibunya. Bagaimanapun juga itu pemberian ibunya.

 

Lalu ayahnya menghampirinya, “Ini untukmu Sehunnieku.”

 

Sehun senang akan pemberian ayahnya. Ia memeluk ayahnya dengan erat.

 

“Kau harus menjadi seperti dewa Zeus, tangguh, kuat dan tidak terkalahkan,” ucap Oh Kyungsoo sambil mengacak-acak rambut Sehun.

 

Flasback end

 

“Maafkan aku dad, aku tidak bisa memenuhi keinginanmu. Aku lemah. Hidupku bahkan tergantung dengan benda sialan itu,” umpat Sehun. Bagaimanapun juga, kejadian itu benar-benar mengubah sifat Sehun. Dari nakal menjadi baik. Dari kekanak-kanakan menjadi dewasa. “Akhirnya selesai juga,” ujar Sehun. Ia keluar untuk menemui kakeknya.

 

“Kek, ayo berangkat,” ujar Sehun.

 

“Kakek tidak ikut, kamu sendiri saja melewati portalnya, warlock Jackson akan membantumu,” kata sang Kakek. Sehun hanya mengangguk. Ia mengikuti apa yang warlock Jackson bilang. Lalu terbukalah sebuah pintu besar di dalam Institute.

 

“Sebutkan tujuanmu,” kata sang warlock.

 

“Institut Seoul,” jawab Sehun.

 

“Sekarang lompat ke dalam,” teriak warlock Jackson. Sehun menengok kebelakang dan melihat kakeknya melmbaikan tangan. Sehun tersenyum kepada kakeknya dan melompat.

 

Splash

 

Sehun jatuh di rerumputan.

 

“Ouch, seperti inikah rasanya menggunakan portal,” gerutu Sehun. Ia berdiri dan membersihkan bajunya. Ia berjalan menuju pintu Institut dan mengetuknya. Tidak berapa lama kemudian, ada seorang wanita yang membukannya. Sehun bak melihat keluarga. Banyak sekali orang yang menjemputnya.

 

“Annyeong Haseo, Oh Sehun imnida,” bungkuk Sehun.

 

“Annyeong, mari masuk,” sang wanita tersenyum melihat Sehun. Sehun memasuki Institut itu. Tidak jauh berbeda dengan yang berada di London. Seorang pelayan kecil menyuruh Sehun duduk di sofa.

 

“Annyeong Sehun, aku Cho Seulgi, kepala Institut ini,” ujar Seulgi memperkenalkan diri. “Kau berasal darimana?”

 

“Institut London,” jawab Sehun.

 

“Stephan Bloom?” Kata seorang lelaki. Sehun mengangguk. “Aku Cho Kyuhyun, masih ingatkah kau?” Lanjutnya.

 

“Kau parabatainya dad bukan?” Ucap Sehun.

 

Kyuhyun mengangguk, “Apakabar dengan Kyungsoo? Apakah ia baik-baik saja? Rune parabataiku sudah 3 bulan sakit sekali, seperti terputus.”

 

“Dad sudah tewas,” kata Sehun. Kyuhyun melongo mendengarnya. Pantas saja rune-nya bulan-bulan terakhir ini sakit. Parabatai-nya telah meninggalkannya.

 

“Tewas kenapa?” Ucap Kyuhyun.

 

“Coba tanya istrimu saja,” kata Sehun lembut.

 

Seulgi yang tadi terdiam akhirnya membuka mulut, “Sehun, kau bisa ke kamarmu dahulu. Tao, tolong antarkan Sehun ke kamarnya, kamarnya tepat di sebelah kamarmu.”

 

Sehun memandangi seorang bocah yang sepertinya umurnya sama seperti Sehun. Bocah itu mengajak Sehun mengikutinya. Sementara Seulgi menceritakan semuanya, tentang iblis Yanlou dan lainnya. Tentang seluruh kepala institut harus mencari obat untuk Stephan Bloom atau sekarang Oh Sehun.

 

Mereka berjalan dalam keheningan, tidak ada satupun yang mengeluarkan suara. Hingga akhirnya, bocah yang menemani Sehun berjalan membuka mulut.

 

“Siapa namamu?” Tanyanya.

 

“Oh Sehun,” jawab Sehun.

 

“Tapi kenapa Kyuhyun memanggilmu Stephan Bloom?” Tanyanya lagi.

 

“Itu nama Inggrisku atau nama dari ibuku. Ibu dan ayah berbeda kebangsaan. Ibuku American sedangkan ayahku Korean,” jelas Sehun.

 

“Oh, aku Huang Zi Tao, senang mengenalmu,” ucap bocah yang ternyata bernama Tao itu. “Umurku 11 kau?” Tanya Tao.

 

“Sama.” Sehun membuat senyum simpul. Entah kenapa, Sehun seperti merasa tersambung dengan Tao. Saat mereka hampir sampai, kaki Sehun melemas. Ia kolaps, ia tidak kolaps sepenuhnya ia setengah sadar. Ya, Sehun membutuhkan racun iblis itu. Tao panik bukan kepalang. Ia menarik tubuh Sehun ke kamarnya. Lalu, ia menidurkan Sehun di ranjangnya. Untung, tubuh Tao lebih besar dari Sehun.

 

“Kotak emas di tasku,” ucap Sehun lemah. Tao segera membuka tasnya. Ia mengacak-acak tas Sehun hingga ia menemukan kotak emas itu. Tao memberikan kotak itu ke Sehun. Tao tidak mengerti, entah Sehun menghirupnya atau meminumnya. Sehabis meminum itu Sehun tertidur. Tao yang melihat Sehun tertidur merasa iba. Ia membereskan semua barang-barang Sehun. Ditata dengan rapih. Lalu, ia menaruh kotak itu persis di samping Sehun. Saat ia membereskan barang-barang Sehun, ia menemukan banyak buku. Tao mencintai buku. Ia meninggalkan Sehun untuk beristirahat dan kembali ke ruangan tadi.

 

“Tao kau kenapa?” Tanya Luhan.

 

“Sehun, ia aneh, tiba-tiba ia menghirup atau meminum sebuah abu aku tidak mengerti dan tiba-tiba tertidur,” jelas Tao. Seulgi mengangguk. Seulgi menceritakan semuanya ke penghuni Institut itu. Ia bagaikan seorang ibu yang menceritakan dongeng ke anak-anaknya. Semuanya memperhatikan seksama. Memperhatikan kisah Sehun yang sebenarnya.

 

[Catastrophically]

 

Seoul Institut, March 2001.

 

Tao dan Sehun. Mereka seperti saudara. Bahkan melebihi saudara. Tao menyayangi Sehun, begitu pula sebaliknya. Mereka bukan saudara. Tapi mereka bahkan melebihi saudara. Sehun, ialah kelemahan Tao. Akhirnya, keduanya memutuskan untuk mejadi parabatai. Dimana 2 orang yang lebih dekat bahkan dari saudara mereka sendiri dan saling melindungi satu sama lain. Dimana sering dikenal sebagai 2 orang yang hampir menyerupai 1 orang. Diikat melalui upacara dan hanya bisa memilih 1 parabatai untuk seumur hidup dan bersumpah untuk melindungi satu sama lain.

 

Entreat me not to leave thee,

Or return from following after thee

For whither thou goest, I will go,

And where thou lodgest, I will lodge.

Thy people shall be my people, and thy God my God. 

Where thou diest, will I die, and there will I be buried. 

The Angel do so to me, and more also,

If aught but death part thee and me.

 

Itulah sumpah yang Tao dan Sehun ucapkan. Lalu dibuatlah rune parabatai di tangan mereka masing-masing.

 

THE END

 

P.s : AKHIRNYA YEHET prolog yang bertele-tele ini selesai jugaaahhh. Jadi, cuman 3 yah. Prolog Yoona, Tao, Sehun. Kan banyak nih yang nanya hub Yoona sama Taohun apa. Di prolog belum ada. Karena mereka emang belum pernah ketemu. Terus pada ngerti kan kenapa aku awalnya ceritain ‘Stephan’ bukan Sehun HEHE. 1 comment sangat berharga dalam mendukung FF ini kkk

24 thoughts on “(Freelance) Catastrophically (Prolog 3)

  1. Keren miiinnn, sepertinya konflik nya akan muncul wqwq, semangat ngelanjutin ke cerita selanjutnya miiinnn, semangattt, sampe the end okeee

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s