Fading Love

Two Deers presents

Fading Love

Starring


tumblr_n9tsx0o40e1spwfcso1_500

Yoona SNSD Girls Generation High Cut Beauty GIF (5)

///

Bunyi layar handphone yang berirama itu perlahan membangunkannya. Matahari belum muncul, dan satu-satunya sumber penerangan di kamar mereka hanyalah lampu kamar redup dan cahaya dari layar handphone si pria. Yoona –nama gadis itu- mengerjapkan kelopak matanya, silau karena cahaya handphone yang menusuk matanya.

Pria itu tidur membelakanginya. Ya. Siapa lagi kalau bukan kekasihnya, Jongin? Jongin dengan punggung bidangnya, rambutnya yang agak berantakan sehabis bangun tidur dan wangi deterjen yang samar dari piyamanya. Jongin yang sekarang sibuk berkutat dengan smartphone di tangannya, tak menyadari bahwa kekasihnya sudah terbangun sejak tadi.

Mulut Yoona baru saja membuka, ingin menyebut nama kekasihnya. Tapi ia urungkan niatnya saat rangkaian kata di layar handphone itu tertangkap oleh penglihatannya.

Jongin-ah, aku merindukanmu.

Yoona kembali mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Sekarang jantungnya berdebar cepat, melihat Jongin yang mengetik di layarnya dengan lincah. Yang ia nantikan sekarang adalah jawaban Jongin pada pesan singkat itu.

Aku lebih merindukanmu, bey.

Bey. Bey. Yoona mengernyit, merasa ada sesak di dadanya. Bey, panggilan kesayangan dari Jongin baginya. Bagi Yoona. Yoona selalu menyukai cara Jongin memanggilnya ‘bey’ dengan nada manja yang menggemaskan. Dan bukan Yoona namanya kalau tidak luluh. Karena tak peduli seberapa tangguhnya seseorang, selalu ada orang yang menjadi kelemahan mereka. Bagi Yoona, kelemahannya adalah Jongin.

Handphone Jongin bergetar. Yoona kali ini ikut memfokuskan pandangannya kesana. Ia berusaha membaca nama pengirim pesan itu, tapi gagal.

Kau berjanji akan datang ke apartemenku kan? Aku sudah menunggumu begitu lama.

Yoona bisa membayangkan raut wajah wanita itu yang ditekuk, kesal pada Jongin kemudian akan menghiraukannya. Dan selama 3 tahun mengenal Jongin, Yoona tahu betul kalau Jongin bukan orang yang tahan didiamkan seperti itu. Jongin akan memohon-mohon sampai orang itu akan memaafkannya. Dan itu salah satu dari ratusan bahkan ribuan hal yang Yoona sukai dari Jongin.

Maafkan aku, Yoona jadi sangat manja akhir-akhir ini.

Yoona menahan nafasnya. Mereka sedang membicarakan dirinya. Jongin dan gadis selingkuhannya. Selingkuhannya.

YaTuhan. Yoona bisa merasakan rasa sesak yang semakin menjadi di dadanya. Seakan ada sebuah batu besar yang tersangkut disana, membuat tenggorokannya tercekat. Kedua bola matanya memanas, membentuk genangan air di sudut ekor matanya.

Bukannya oppa sudah berjanji akan memutuskan hubungan dengan wanita itu?

Yoona menggigit bibir bawahnya, berharap Jongin tak menyadari nafasnya yang semakin berat. Separuh otak Yoona seolah melayang, dan gadis itu tak dapat berpikir dengan jernih sekarang. Yang menjadi pusat perhatiannya sekarang adalah kalimat yang dikirimkan gadis itu barusan. ‘sudah berjanji’? Yoona tak tahu harus berbuat apa, dan masih memandang lurus-lurus ke layar handphone Jongin.

Maaf. Aku akan segera melakukannya. Kau tahu bagaimana sifatnya dia kan?

Jongin mengirimkan pesan itu pada wanita yang bahkan tak Yoona tahu namanya, seakan Yoona dan wanita itu sudah mengenal satu sama lain. Padahal namanya saja pun Yoona tak tahu. Jongin mengganti nama kontak itu dengan sejumlah emoticon yang tak dapat Yoona amati jelas. Perhatian Yoona kini teralih pada balasan dari gadis itu.

Ya, aku tahu. Anyway, selamat pagi.Love you.

Padahal biasanya Yoona adalah orang yang mengucapkan ‘selamat pagi’ pertama pada Jongin. Memang wanita itu tak mengucapkannya secara langsung, tapi tetap saja Yoona merasa tersaingi. Padahal harusnya itu dia. Tapi gadis itu seolah mengambil tempat yang selama ini Yoona anggap takkan pernah hilang darinya.

Love you more, bey.

“Jongin-ah..”

Yoona dapat melihat jelas pundak Jongin yang bergedik kaget, dan raut wajahnya saat pria itu berbalik menghadap Yoona. Walau cahaya redup, Yoona bisa melihat jelas sepasang alis tebalnya berkerut dan bola mata coklatnya yang membelalak terkejut. Lidah Jongin mendadak kelu dan tak dapat merespon panggilan kekasihnya.

“Jongin-ah.” Ulang Yoona sekali lagi, sambil memeluk tubuh Jongin yang besar dengan kedua lengannya. Kini tak ada jarak diantara mereka sama sekali. “Jongin.” Ucap Yoona dengan nada yang lebih pelan.

Jongin tak membalas pelukan Yoona, enggan mengusap kepala gadis itu seperti pagi-pagi yang lain. Tangannya seakan kaku, tak mampu balas memeluk tubuh mungil yang kini merengkuh tubuhnya. Wangi sampo Yoona yang pekat membuatnya semakin kaku.

“Yoong.” Ucap Jongin akhirnya, lalu menelan air liurnya cepat. “sudah bangun dari tadi?” tanyanya, lalu kini meletakkan telepon genggamnya diatas meja.

Yoona mengikuti pergerakan tangan Jongin, lalu tersenyum kecut. Ia menggeleng. “barusan. Aku masih mengantuk, Jongin-ah.” Gumam Yoona pelan seraya menggeliat, makin memperkecil jarak antara tubuh mereka berdua.

Keduanya diam dalam posisi itu untuk sementara. Saling merasakan kehangatan tubuh mereka yang berpindah melalui setiap inci kulit mereka yang saling bersentuhan. Yoona mempererat pelukannya, membuat Jongin akhirnya memberanikan dirinya untuk mengelus puncak kepala gadis itu. Jongin menciumi puncak kepala Yoona, lalu memejamkan kedua matanya.

love ya, bey.”

Deg.

Jantungnya sedikit berdebar lebih cepat. Bukan karena bagaimana kata-kata manis itu dilontarkan dari bibir kekasihnya. Tapi karena ia tahu, tak sampai beberapa menit yang lalu, Jongin baru mengumbar kata itu pada gadis selain dirinya.

Yoona bisa merasakan nafas hangat Jongin di puncak kepalanya. Kehangatan Jongin yang menjalar diseluruh tubuhnya membuatnya nyaman, tapi sekaligus perih. Kehangatan Jongin yang awalnya selalu ia rindukan, kini bagi duri yang melilit di sekujur tubuhnya. Kehangatan Jongin yang biasanya selalu ingin ia dapatkan, kini bagai belati yang perlahan mengiris nadinya.

Perih, bukan? Saat Jongin berada dihadapannya, begitu dekat tapi begitu jauh. Yoona tahu, di sudut hati Jongin yang terdalam, ada nama gadis lain yang terselip disana selain nama dirinya. Dan hanya berpikir tentang itu membuat kedua bola matanya memanas.

Jongin mencintai gadis lain.

Jongin mencintai gadis lain.

Jongin mencintai gadis lain.

Sepotong kalimat itu terus beresonansi di benak Yoona, terulang seperti gema yang memilukan. Dan Yoona tak pernah menyangka kalimat itu akan terlintas di pikirannya. 2 tahun. 2 tahun ia bersama Jongin, dan baru kali ini kata-kata tersebut dapat tersusun menjadi kalimat yang membuat dadanya sesak.

Jongin punya banyak teman perempuan. Boeun, teman sekampusnya yang sering menumpang pulang. Jiyoung, tetangga depan rumahnya yang juga teman sepermainannya. Atau Jina yang berstatus sebagai sahabat karibnya sejak SMP. Tapi Yoona mengenal semuanya. Dalam hubungan mereka, tak pernah ada rahasia (kecuali saat Jongin menyiapkan kejutan ulang tahun Yoona).

Jongin mencintai dirinya. Yoona tahu. Dari cara Jongin menatapnya lama, dan tersenyum seolah Yoona adalah hal terindah didalam hidupnya. Dari cara Jongin berhenti menciumi bibir gadis itu karena tak dapat menahan senyuman bahagianya. Dari cara Jongin mengaitkan lengan mereka begitu erat, dan Yoona menyukai kekasarannya yang lembut itu. Dari cara Jongin memeluk gadis itu dari belakang dan menciumi leher Yoona hingga ia kegelian. Dari cara Jongin memperlakukan Yoona dengan hati-hati, seolah gadis itu adalah boneka porselen yang akan pecah kapan saja.

Tapi kali ini realita menghantamnya keras, tanpa membiarkan Yoona menyadari situasinya. Ia kira, dari semua orang yang ada disampingnya, hanya Jongin yang akan tetap tinggal. Saat kedua orang tuanya bercerai, dan membiarkan Yoona tinggal di apartemennya sendiri. Saat sahabat-sahabatnya mulai terbelah menjadi 2 kubu, dan ia tak tahu harus memilih yang mana. Saat neneknya meninggal karena kanker payudara tahun lalu. Yoona mengira Jongin akan tetap tinggal. Akan tetap tinggal disaat orang lain memutuskan untuk meninggalkannya.

Dan kini, Yoona mempererat pelukannya pada tubuh Jongin yang hangat. Kepalanya ia sandarkan pada dada Jongin yang bidang sangat dekat, hingga ia dapat mendengar detak jantung Jongin. Sangat dekat hingga ia bisa merasakan nafas hangat Jongin yang mengenai puncak kepalanya. Sangat dekat hingga wangi tubuh Jongin memabukkan penciumannya. Sangat dekat hingga Yoona mengira pria itu takkan jauh.

Tapi Jongin jauh. Sangat jauh.

Yoona meneteskan air matanya perlahan. “Love you more.” Gumamnya pelan, “Jongin-ah.”

Jongin merasakan air mata Yoona yang jatuh ke bajunya dan mempererat pelukannya. Entah ia atau Yoona yang salah. Untuk saat ini, biarkan saja. Biarkan keduanya memilih, untuk bertahan atau melepaskan disaat cinta hanya tinggal janji-janji kosong belaka.

///

A/N: HIIIIIIIII!!!! maaf ya buat semua pembaca setia yoongexo, khususnya buat yang selalu nunggu Revenge sama Saudade. (kayaknya) aku gaakan fokus bikin itu bulan ini. Too many things happened in such a short period of time. Mulai dari Jessica yang mutusin buat out, disusul sama Luhan. Gosh, that’s unpredictable. And the saddest thing is how i ship YoonSic and LuYoon at the same time. Mereka udah kayak OTP utama aku dan tiba-tiba jadi kayak gini. For fellow fawns and yoonsicretives out there, let’s face it together🙂

(p.s.: if you find any grammatical errors, please tell me asap. I find it hard to concentrate editing this fic because i didnt intend to upload it here, but i just feel like it. And, enjoy!😉 )

36 thoughts on “Fading Love

  1. omg omg
    oke jam berapa ini? 8:25 di balikpapan
    dan aku nangiss..
    whoaaaaaa cengeng bgt ya? emang
    duh ff nyaa ga kebayang jadi yoona gimana
    bagus thor, lanjutkan perjuanganmu!
    KEEP WRITING THOR’_’)9

  2. Yaampunnn pegen sequel dehh sebenernya jongin gmn sih? Elahh kasian yoona uu
    Ah sama thor aku jg luyoon ship sedhnya kebanget bangetan pas dia ou:”’ *curhat._.

  3. ini FF knapa sih?
    kan ngeselin gitu Jongin nya? itu dia beneran ngeduain Yoona? jahat banget hiks -_-
    udah seneng2 pas bawa awal, kok malah jadi gitu sih😦
    pas lah FF ini dibaca pas lagi ujan2 kayak gini :p

    dan aku bernasib sama kyk kakak yg ngeship LuYoon tapi jadinya kyk gini .-.
    keep writing ya say❤

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s