(Freelance) Before Sunset

before-sunset

Poster by Sifixo@Artfantasy {Thanks! } 

Before Sunset

written by Nikkireed 

Cast

Im Yoona and Luhan with Oh Sehun and Lee Seung Gi  

“Kiriman Anda sudah diterima Nona Im, Pak.” Seorang asisten masuk ke ruangan setelah mengetuk pintu kayu dengan tulisan ‘dr.Lee’.

“Oh, benarkah?” Lelaki yang awalnya sedang duduk itu langsung berdiri dan girang. Seperti ia yang menerima kiriman. “Baguslah. Anda sudah bekerja dengan baik. Terima kasih.”

Asisten itu keluar setelah membungkukkan badan dengan sopan dan dr. Lee itu berjalan menuju lemari bukunya. Mengambil sebuah kotak kecil beludru berwarna merah, yang sudah dipastikan isi didalamnya adalah sesuatu yang berharga, sesuatu yang disiapkannya untuk seseorang disana.

Ia tersenyum memandangi isi kotak beludru itu.

Lalu ia beralih ke meja kerjanya dan menekan tombol di intercom, “Siapkan perjalananku ke Seoul, besok.”

Besok, Dok?” Suara dari intercom membalasnya, “Tapi besok Anda ada—

“Batalkan semua jadwal. Aku akan terbang menuju Seoul dan jangan lupa mengenai kapal laut yang sudah aku pesan dari jauh hari itu. Aku tidak mau ada kesalahan. Mengerti?” dr. Lee berkata dengan tegas.

“Ye. Saya mengerti.” Sambungan di intercom terputus.

  1. Lee dengan semangat kembali mengamati kotak beludru tersebut dan tersenyum.

‘Kau siap, Im Yoona-ssi?’

‘Ya, tentu saja. Aku sudah tidak sabar ingin melihat. Aku ingin mewujudkan mimpiku jika sudah melihat nanti.’

‘Oh? Apa mimpimu jika aku boleh tahu?’

‘Aku ingin menjadi nahkoda. Aku ingin melihat matahari terbit dan matahari tenggelam dari atas kapal. Itu mimpiku.’

‘Ah begitu ternyata. Baiklah kita mulai.’

“Yoong?” panggil Appa-nya dari luar kamar Yoona.

Yoona yang di dalam kamarnya sedang menguncir rambutnya dengan rapi di depan lemari kaca, “Ye, Appa. Tunggu sebentar.”

Akhirnya beberapa menit kemudian Yoona keluar dari kamarnya. Ia memakai gaun kemeja selutut berwarna biru navy, lengan panjangnya digulung sesiku. Rambutnya dikuncir  satu dan ia terlihat manis. “Siapa yang datang sebenarnya, Appa? Kau membuatku penasaran saja.”

Appa-nya sedikit terkesiap dan tersenyum melihat putri tunggalnya itu. “Kau tunggu saja. Sebentar lagi ia sampai.”

TINGTONG

Detik itu juga bel pintu rumah berbunyi. Mimik wajah Appa langsung berubah senang begitu mendengar suara bunyi bel tersebut, “Nah mungkin itu dia.”

Yoona yang sibuk memeriksa keadaannya, memastikan tidak ada yang salah dengannya. Karena menurut Appa, tamu ini adalah seseorang yang istimewa.

Eomma yang sibuk di dapur menuju pintu depan dan menyambut tamu yang dianggap istimewa tersebut.

Aigoo, Seung Gi-ah.” Eomma berseru begitu melihat dr. Lee datang kerumahnya. dr. Lee datang dengan kemeja yang berwarna senada dengan Yoona, entah sengaja atau tidak sengaja.

Setelah dr. Lee memberi salam pada Eomma, Eomma langsung mengajaknya masuk ke rumah dengan membantu membawa barang bawaan dr. Lee.

Eomma mempersilahkan dr. Lee duduk di sofa berwarna coklat muda tersebut.

Di saat yang sama, Appa mengajak Yoona menuju ruang tamu. Dan akhirnya mata Yoona dengan mata dr. Lee bertemu.

  1. Lee membungkukkan badan sopan memberi salam pada Appa. “Ini dr. Lee yang mengobati matamu, Yoong. Dia baru saja terbang dari San Fransisco.”

“Oh, jinjja?” Yoona sedikit terkejut karena baru menyadari dokter yang menyembuhkannya adalah seseorang yang seperti ini. Wajahnya bahkan lebih cocok menjadi seorang actor kdrama atau penyanyi dibanding menjadi seorang dokter. Apalagi melihat dari barang bawaannya yang hanya sebuah koper dan tas kerja, kurasa ia tidak bermaksud lama-lama disini. Batin Yoona pada dirinya sendiri.

“Hmm, apa kau ada menelepon dr. Lee untuk mengucapkan terima kasih?” Tanya Appa tiba-tiba mengejutkan lamunanku.

Oh! Aku bahkan lupa! Aku hanya menggeleng dan tersenyum canggung.

“Tidak apa, Im Ahjussi. Aku tahu Yoona sibuk.” dr. Lee tersenyum menampilkan giginya. Oh apa dia penyanyi itu? Tapi ia mirip sekali dengan –

“Ah, Seung Gi-ah. Kau berencana berapa hari disini? Ajumma bahkan belum menyiapkan kamarmu.” Eomma datang dengan empat cangkir teh diatas nampan dan sekaleng biskuit.

“Oh, aniyo, Ajumma. Aku menginap dihotel bersama rekan kerjaku. Aku hanya mengunjungi saja.” Syukurlah jika ia hanya mengunjungi kami, batin Yoona. Aku tidak mau terlalu menghabiskan waktu dengan dr. Lee yang tidak kukenal ini.

“Ah, tak apa, Seung Gi-ah. Yoona akan menemanimu selama disini. Iya kan, Yoong?” Appa bertanya padaku. Terpaksa aku menampilkan senyum pemaksaanku yang paling bodoh.

Hyung, menurutmu itu siapa?” Tanya Sehun pada Luhan. Mereka sedang berada di balkon lantai dua kamar Luhan. Mengamati seseorang yang baru saja turun dari taxi dan langsung disambut oleh Im Ajumma.

Luhan hanya mengendikkan bahu, “Mungkin teman Im Ahjussi.”

Sehun semakin menyipitkan matanya untuk melihat, ia merasa aneh, “Apa Im Ahjussi tidak terlalu.. tua memiliki teman yang seperti itu?”

“Oh! Apa jangan-jangan itu teman Yoona Nunna?” Sehun mengagetkan Luhan tiba-tiba.

“Oh! Atau itu LSG?” Sehun lagi-lagi bertanya dengan mengagetkan Luhan.

“ISH, Sehun-ah!” Akhirnya Luhan bersuara. Sedikit kesal dengan sikap adiknya yang begini.

Ppalli, Hyung kita tanya Yoona Nunna.” Sehun menarik tangan Luhan ingin bergegas pergi.

“Jadi, dr. Lee. Bagaimana pekerjaanmu di Amerika sana?” Appa membuka topik yang menurut Yoona membosankan.

Ya, mereka. Appa, Eomma, Yoona dan dr. Lee itu sedang makan malam bersama. Kenapa Yoona harus ikut? Karena Yoona adalah mantan pasien dr. Lee yang Appa-Eomma banggakan itu. Kenapa Yoona mau ikut? Tidak. Ini terpaksa.

dr.Lee yang sedang memotong daging steak tersenyum pelan dan melirik Yoona sebelum menjawab. “Yeah, baik. Aku sudah meminta asistenku untuk meng-handle semuanya disana.”

Appa-Eomma tersenyum. Eomma, yang dengan jelas mengerti yang terjadi pada Yoona. Bosan. Dan terserah jika ini termasuk hitungan tindakan kurang sopan atau apa, yang jelas Yoona tidak menikmati makan malam bersama ini. Lebih baik aku menghabiskan waktuku dengan Luhan atau bermain PSP dengan Sehun. Batinnya.

Dan benar! Seperti takdir. Apa yang baru Yoona pikirkan, langsung terwujud. Suara nada dering handphone Yoona berbunyi (yang sengaja tidak ia silent) dan Yoona buru-buru mengeluarkan handphone dari handbag. Dengan girang ia mengangkat panggilan tersebut setelah melihat siapa yang menelepon.

“Ya, Luhan-ah. Ada apa?” Katakan jika Yoona tidak sopan karena dengan sengaja mengangkat telepon disaat momen formal seperti ini.

Yoona langsung bangkit berdiri. Memberikan isyarat kepada orangtuanya bahwa ia harus mengangkat panggilan ini diluar. Lalu Yoona pergi meninggalkan meja tersebut.

“Im Yoona. Kau sangat tidak sopan.” Begitu komentar Appa ketika mereka sudah berada dalam mobil. Sepanjang perjalanan pulang, Yoona habis dikomentari gerak-geriknya selama makan malam bersama dr. Lee tadi, terlebih Appa.

“Aku hanya mengangkat teleponku, Appa.” Yoona sedikit membantah. Karena ia duduk di jok belakang, ia menyender ke dekat jendela dan memandang jalanan diluar.

“Sudahlah, yeobo. dr.Lee juga tidak mempermasalahkannya.” Eomma memang membelanya, tapi Eomma juga terlihat kecewa dengan sikap Yoona yang mengangkat telepon dengan sengaja di depan dr.Lee seperti yang ia lakukan tadi.

“Tapi, Yoona-ah. Tidak perlulah kau mendekati Luhan dan Sehun itu lagi. Kau sekarang—“

“CK!” Eomma mendecak memotong pembicaraan Appa. Kali ini Yoona tertarik dengan orangtuanya yang bersikap aneh.

“Sekarang apa?”

Appa menjadi gelisah dan bingung seperti salah bicara, “Ah tidak. Aku hanya tidak suka kau terlalu banyak bergaul dengan anak tetangga kita itu.”

Waeyo? Mereka baik.” Hanya itu komentar Yoona.

“Mereka memang baik. Tapi kau sudah—“

“CK!” Eomma lagi-lagi mendecak.

Eomma! Appa! Kenapa kalian jadi aneh seperti ini?” Yoona berteriak sedikit dalam mobil tersebut. Ia merasa orangtuanya menyimpan sesuatu darinya.

“Yoongie-ah. Tidak seperti itu. Kami—“

Eomma. Kau harus memberitauku.” Eomma sedikit memiringkan badannya untuk melihat Yoona di jok belakang. Yoona masih dengan sengaja mendesak agar orangtuanya yang bersikap aneh ini memberitahunya.

“Kau akan mengetahuinya nanti. Secepatnya.” Appa berbicara mendadak.

‘Luhan-ah?’

‘Yoong? Maaf meneleponmu disaat seperti ini. Aku tahu ini mengganggumu.’

‘Ah, tidak. Ada apa, Luhan-ah?’

‘Jadi begini, aku dan Sehun baru pulang dari rumah Chanyeol, tapi saat kami pulang, aku melihat ada seorang Ahjussi seperti mengintip rumahmu.’ Luhan mengangguk-angguk seperti Sehun disebelahnya mengangguk-angguk. ‘Kami takut terjadi apa-apa dengan rumahmu, jadi kami bermaksud bertanya dengan Ahjussi itu.’

‘Hmm, lalu?’

‘Ia hanya menitipkan sebuah kunci. Tapi kurasa ini bukan kunci ruangan atau kunci mobil semacamnya.’ Luhan meneliti kunci tersebut. ‘Ini seperti kunci rahasia, Nunna!’ Sehun berteriak di corong handphone Luhan yang membuat Luhan terganggu dengan teriakannya.

Yoona kembali memikiran hal itu. Sebuah kunci. Ia tidak mau memberitahu orangtuanya. Jika orangtuanya menyembunyikan sesuatu, ia juga. Jika orangtuanya memberitahunya nanti, ia juga.

Setelah janjian dengan kedua kakak-beradik tersebut, Yoona menyelinap keluar diam-diam dari rumahnya.

“Ini kuncinya. Ahjussi itu bilang, ’ini dari LSG untuk nona Im’.” Sehun meniru suara Ahjussi itu dan segera memberikan kuncinya.

Kunci itu memang tidak seperti kunci ruangan seperti yang Luhan katakan. Membuat Yoona semakin penasaran dengan LSG dan kunci ini.

“Menurutmu, ini kunci apa?” Yoona bertanya begitu ia meneliti kunci ditangannya. Dua buah kunci dengan gantungan pita berwarna merah dan ada tulisan ‘The Serenity’.

Luhan dan Sehun sama-sama mengendikkan bahu dan saling melihat.

“Siapa LSG ini sebenarnya?” Teriak Yoona tiba-tiba. Ia benar-benar sudah greget dengan sosok LSG yang suka meneror atau katakanlah suka memberi kejutan yang aneh. “Aku ingin tahu… apakah..”

“OH, Nunna! Mungkin LSG itu..” Sehun menyela.

Sekarang bergantian Luhan dan Yoona yang mendongak ke arah Sehun, “Mungkin LSG itu teman Im Ahjussi yang kemarin datang?”

Hening.

Menit berlalu.

Angin malam berhembus. Ketiga orang ini berdiskusi di depan rumah dan tidak menghiraukan malam. Sibuk berpikir.

“Yoongie-ah? Sedang apa kau diluar malam-malam begini?”

Akhirnya diskusi tersebut diakhiri dengan Yoona yang dipanggil masuk kerumah oleh Appa. Sedangkan Luhan dan Sehun masuk kerumah mereka juga dengan diam.

Tapi Yoona sudah memegang kunci tersebut. Dan yang ia minta, agar kedua orangtuanya tidak mengetahui soal kunci ini.

Yoona menyimpan kunci ini diam-diam. Sampai akhirnya ia menyadari sesuatu.

Setelah pamit selamat malam dengan Appa-nya ia masuk ke kamar dan membongkar hasil medisnya. Memeriksa nama dokter yang menangani matanya.

Ia curiga dengan dr.Lee. Apa dr. Lee ini LSG? Batinnya.

Dan setelah berhasil membuka semua surat tentang hasil medisnya, ia menemukan sebuah nama. Lee Seung Gi.

Yang berarti ia adalah LSG.

Yang berarti ia yang memberikan kejutan bertubi-tubi ini pada Yoona.

Yang berarti ia tahu ini kunci apa.

Hyung. Panggilan untukmu.” Sehun membuka kamar Luhan tanpa mengetuk seperti biasa. Ia hanya muncul sedikit dibalik pintu. Suara Sehun terdengar datar. Tumben sekali ia tidak menerobos masuk? Pikir Luhan dan menerima telepon wireless yang diberikan Sehun.

Selamat siang, benar dengan Mr. Luhan saya bicara?

“Ya, saya sendiri.”

Mr. Luhan, kami dari California Institute of Arts. Kami telah menerima email formulir pendaftaran Anda. Dan kami ingin menginformasikan bahwa Anda, Mr. Luhan telah kami terima sebagai salah satu kandidat untuk mahasiswa berbeasiswa.”

Luhan termenung sebentar. Ia memang pernah mendaftarkan diri di luar negeri lewat email. Tepatnya di Amerika. Dengan alasan jelas yaitu agar bisa dekat dengan Yoona – yang ia pikir akan tinggal di Amerika selamanya. Tapi Luhan tidak menyangka bahwa Yoona kembali secepat ini dan sudah sembuh.

Dan bagaimana ini? Ia sudah hampir diterima di Institute of Arts di Amerika, beasiswa. Suatu kesempatan indah untuk studi di luar negeri yang mungkin susah didapatkan.

Mr. Luhan?

“Oh ye. Te-terima kasih untuk informasinya. Tapi akan saya pikirkan kembali.” Luhan menjawab dengan terbata-bata. Otaknya penuh dengan kebimbangan.

Baik. Kami tunggu jawabannya satu minggu dari sekarang. Karena peraturannya jika lewat dari seminggu, kandidat tidak memberi kabar, maka kami akan memberikan beasiswa ini kepada kandidat yang lain.

“Baiklah. Terima kasih sekali lagi.”

Terima kasih, Mr. Luhan. Selamat siang.” Telepon terputus.

Detik itu juga pintu kamarnya terbuka dan Sehun berdiri terpaku di depan pintu. Tidak masuk menerobos. Dengan tatapan kaku menatap ke arah Luhan.

“Sehun-ah? Kau kenapa?” Tanya Luhan bingung dengan Sehun yang begitu.

Hyung akan pergi?” Sehun masih tetap ditempatnya. “Maksudku, kau akan menerima beasiswa tersebut?”

“Ba-bagaimana kau tahu?” Luhan bingung karena Sehun bertindak aneh dan Luhan bingung karena Sehun tahu darimana hal ini. “Kau menguping?”

Aniya. Aku –“

“Masuklah.” Ajak Luhan. Ia risih melihat adiknya yang super-jahil itu tiba-tiba diam dan aneh seperti ini.

Sehun masuk dengan langkah gontai. Menutup pintu dibelakangnya dan duduk di ranjang Luhan.

“Kenapa kau mendaftar diam-diam, Hyung? Appa-Eomma sudah mengetahuinya?” Tanya Sehun dengan pelan.

Mwolla. Aku mendaftar karena kupikir waktu itu –“ Luhan berhenti sebentar, “Karena kupikir waktu itu….” Dan Luhan tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Karena memang alasannya mendaftar adalah Yoona.

“Yoona Nunna?” Sehun tersenyum singkat. Wajahnya sedikit ada kecerahan.

Luhan terdiam. Ia masih malu mengakui perasaannya pada Yoona, bahkan untuk mengatakannya pada Sehun adiknya sendiri ia masih malu.

“Akui saja, Hyung. Kau mendaftarkan sekolah di Amerika karena kau pikir akan bertemu Yoona Nunna yang lama disana kan?” Bahkan disaat galau seperti ini, Sehun masih bisa menjahili hyung-nya. Ia terkikik.

Luhan tersenyum mengakui, “Ne. Kupikir ia akan lama disana. Jadi…” Luhan menggantung kalimatnya.

“Jadi kau menyukai Yoona Nunna?” Sehun bertanya dengan ketidak-penasaran karena ia sudah tahu jawabannya, “Tentu saja. Siapa yang tidak menyukai Yoona Nunna.” Jawab Sehun girang. Ia sudah menjadi Sehun yang normal.

“Yak Sehun-ah! Kau menjebakku agar mengakuinya ‘kan?” Luhan merasa sebal karena merasa dijebak adiknya agar mengakui perasaannya.

“Tenanglah, Hyung. Aku tidak akan memberitahu Yoona Nunna, kecuali..” Sehun menggantung kalimatnya.

Luhan mendongak ke arah Sehun agar ia melanjutkan kalimatnya.

“Kecuali kau mentraktirku bubble tea sekarang. Atau akan kuberitahu Yoona Nunna sekarang juga!” Sehun berlari keluar dari kamar Luhan. “Bubble tea atau kuberitahu Yoona Nunna sekarang juga.” sorak Sehun berkali-kali.

“YAK! SEHUN!” Luhan berteriak hendak mengejar adiknya itu.

Sore itu, saat Luhan kembali setelah mentraktir Sehun bubble tea tersebut, mereka melihat orang itu menunggu didepan rumah Yoona.

Hyung, bukankah itu orang kemarin yang datang disambut dengan Im Ahjumma?” Sehun bertanya berbisik pada Luhan. Orang itu berpakaian formal. Rapi dengan jas hitamnya.

“Ya, kurasa.” Acuh Luhan sambil kembali menyedot bubble teanya.

“Oh, itu Yoona Nunna ‘kan?” Seru Sehun melihat Yoona keluar dari rumahnya. Dengan gaun berwarna kuning cerah dan menyandang sebuah tas kecil, Yoona keluar dengan senyum buatan.

Mereka berjalan menuju rumah dengan mata tertuju pada kedua orang tersebut. Saat mata Yoona menangkap Sehun dan Luhan, ia bersorak, “Luhan-ah! Sehun-ah!” Yoona melambaikan tangannya.

Kedua kakak-adik  itu tersenyum canggung. Dan yang membuat suasana semakin canggung adalah saat Yoona berlari ke arah dua kakak adik tersebut dan melewati orang tersebut. Sehingga orang tersebut yang awalnya tersenyum pada Yoona setelah melihat Yoona berlari pada mereka, senyumnya lenyap dan ekspresinya bingung.

Luhan tahu saat Yoona berjalan kearahnya, Yoona mengedipkan matanya. “Ah dr. Lee. Kenalkan, ini Luhan-ssi. Dan ini Sehun-ssi.” Begitu Yoona mengenalkan Luhan dan Sehun pada dr.Lee.

Mereka berjabat tangan dan saling membungkuk. Yoona mengerti dengan raut wajah ke-tidak-sukaan-nya Sehun pada dr. Lee ini. “Luhan imnida.” “Sehun imnida.”

“Lee Seung Gi imnida.” Setelah mendengar perkenalan dr. Lee, Sehun merubah raut wajahnya menjadi kaget.

Setelah perkenalan singkat tersebut, dengan segala kekuatan yang Yoona punya, ia memaksa kedua kakak-adik itu ikut dengannya. Karena kali ini, dr. Lee bermaksud untuk mengajak Yoona liburan. Tentu saja Yoona menolak ajakan tersebut mentah-mentah!

Pergi berlibur dengan seseorang yang… ia anggap stranger, orang asing, sok misterius atau apalah sebutannya. Yoona juga belum menemukan kesempatan untuk bertanya tentang LSG ke dr. Lee ini, karena menurutnya, ia akan mendapatkan kesempatan bagus nanti untuk bertanya tentang LSG ini.

Kembali ke soal liburan, “Tentu tidak Eomma! Aku tidak mau pergi berdua saja dengannya.” Teriak Yoona dari kamarnya. Setelah menggedor pintu kamar putrinya (yang sengaja Yoona kunci), Eomma akhirnya mengatakan sesuatu yang membuat Yoona membuka pintu kamarnya.

“Ya sudah. Kalau begitu, kau ajak Luhan dan Sehun saja.” Sepuluh detik setelah kalimat itu dicerna Yoona, ia membuka pintu kamarnya dengan wajah sumringah seperti mendapatkan jackpot.

Jinjja? Aku senang! Kalau begitu, aku akan menelepon Luhan dan mengata –“

“Ssssttt! Jangan sampai Appa-mu tahu tentang ini.” Bisik Eomma menaruh telunjuknya didepan bibir dan berbicara dengan pelan.

Waeyo?” Wajah girang Yoona berubah menjadi penasaran dan bingung.

“Kurasa, nanti ia yang akan memberitahumu.”

Author’s Note :
Dear all the readers, ini lanjutan Sunrise-Sunset tetralogi yang
sempat ke-pending karena tugas kuliah (Salahkan kuliahku!). Aku tahu
ini pendek, aku sedang berusaha membuatnya menjadi panjang, seriously
coz of my study, ff aku jadi terbengkalai. Tapi aku usahain tetralogi
ini aku selesaikan sebelum tahun baru. Janji!!!! Mengenai ceritanya,
kalian readers hebatlah ya, ketebak deh itu LSG siapa, endingnya
gimana, dan imajinasi kalian gimana. Hebat *prok prok* Jadi, aku masih
minta komentar kalian nih mengenai ceritaku ini. Supaya buat next
project, aku bisa lebih baik lagi. Thanks for reading ^^
XOXO, nikkireed

18 thoughts on “(Freelance) Before Sunset

  1. Maunya LuYon.
    Dan aku ngga suka YoonGi.
    Hahaha

    Yoona kelihatan banget ngga nyaman sama seunggi.. Malah sukanya sama HunHan.
    Kayaknya sih Babenya Yoona mau mempersatukan Yoona dan seunggi deh.. Oh My.. Haha

    LuYoon Jjang/

  2. Ini emang sih pendek banget sihh, tapi ngerti lah ya emang tugas ngeselin bangett. Menurutku nnt yoona sama seunggi disatuin gitu ya sama ortu mereka? Tapi aku pengennya luyoon sih, tapi terserah author dehh
    Semangatt!

  3. Ortuny yoona gaje nih.wkwkw
    Kykny appa ny yoona nyimpan sesuatu deh.
    Jdi pnsaran,,atu dia ngk ska yoona dket
    sma hunhan?dn brniat mnjodohkn yoona
    dngn seung gi?
    Apakh lulu,mnerima beasiswa ny?smoga ngk🙂
    Ff ny daebak,mnrik,bkin pnsaran,, ska ska ^^

  4. Greget niiii luhan lom nyatain prsaannya ma yoona..
    Trus msh pnsrn jg yoona suka gk ma luhan…
    Jgn2 yoona mau dijodhn sma LSG….
    Pkok’y buat luyoon brstu thror dan bnykn moment luyoon donk…
    Ditunggu part slnjtnya..
    Faighting

  5. Waa keren thor😀
    Masih bingung apa yg disembunyiin sama orang tuanya yoona deh:\
    Ditunggu ya thor klanjutannya, critain smua tntng liburan yoona sama luhan, sehun, lsg
    kalo bisa sama ada moment luyoon :p
    hehehe

  6. Mau sma luhan atau seunggi terserah author aja deh..
    yang penting ceritanya makin seru..😀
    Tapi kok aq berharap yoonhun ya..hehehe..(jiwa shipper kumat)
    d tunggu kelanjutanya thor..
    Hwaiting..🙂

  7. Sebagai fawns (cielah) aku pgn luyoon bersatu. Buat moment romance luyoon donk chingu pas acara liburan mereka berempat nanti. Luhan jd berani dan agresif ke yoona. Jgn smpe jd cinta terpendam. Hwaiting chingu

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s