3rd Unperfect

unperfect3
.

UNPERFECT

by chiharu

Cast

Im Yoona | Xi Luhan | Annalise Dync (OC) | Kim Jongin | Oh Sehun

Genre

Psycho | School-life | Romance | Friendship | Drama

Rating

PG15

Disclaimer

Pure mine, don’t claim this as yours.

copyright 2014 chiharu

“Dari mana saja?”

Yoona menoleh dan mendapati ibunya tengah duduk di kursi meja makan–bersama dengan catatan yang selalu dibawanya.

“Aku tidak dari mana-mana, hanya saja aku malas untuk masuk ke dalam.” jawab Yoona sambil berlalu dan menyimpan tasnya ke kursi. Ibunya hanya mendecik dan kembali fokus dengan catatan yang penuh dengan angka.

Diluar masih hujan dan Anna belum juga pulang. Sepeninggalnya dari taksi tadi, Yoona belum melihatnya lagi. Sebenarnya kemana gadis itu? Jangan sampai dia melakukan hal yang aneh-aneh. Semoga.

“Kemana nona Anna?”

Baru saja Yoona sadar jika ibunya tidak menanyakan perihal gadis itu, huft. “Aku tidak tahu.” jawab Yoona santai sambil menghampiri ibunya dan duduk disalah-satu kursi disana.

Ia memperhatikan ibunya yang begitu serius menghitung angka-angka itu. Kening wanita itu berkerut dan matanya terfokus pada kalkulator berwarna coklat tua.

Sudah berapa lama ibu berkutat dengan benda itu?

Yoona sering kali merasa prihatin dengan kehidupannya, apalagi dengan kehidupan ibunya. Ayah Yoona telah meninggal saat Yoona masih berusia 7 tahun. Pahit. Ini semua memang pahit, tapi mau bagaimana lagi.

“Ibu, apa kau pernah berpikir untuk berhenti bekerja sebagai asisten rumah tangga di keluarga Annalise?”

“Apa maksudmu?”

Yoona bisa menangkap reaksi terkejut dan wajah ibunya yang tiba-tiba terlihat sarkastis.

“Aku hanya bercanda.” elak Yoona setelah melihat ekspresi sang ibu, ia merengut. Tanpa pikir panjang lagi, Nyonya Im kembali berkutat dengan kalkulator dan catatan angka itu.

“Sebenarnya berapa hutang kita?” Yoona kembali bertanya.

“Aku sudah bilang bahwa hutang kita itu sangat besar. Kau tahu kan, bahwa biaya sekolahmu dan biaya yang lainnya sangat mahal.” jelas ibunya tanpa mengalihkan perhatiannya, masih sama seperti tadi. Kalkulator dan catatan angka.

Lagi-lagi Yoona merengut. Selalu saja itu yang ibu katakan setiap kali ditanya tentang hutang. Sudah sering ia bertanya seperti ini, tapi tetap saja itu yang ia dapat.

“Bagaimana kalau aku berjanji, aku akan melunasi semua hutang-hutang kita dan Ibu hanya tinggal diam dirumah dan tidak perlu jadi asisten rumah tangga lagi.” Yoona berkata dengan mata yang berbinar-binar dan nada yang antusias, namun ibunya hanya membalas dengan decikan kecil.

“Jangan paksa aku untuk berhenti, kau tidak tahu apa-apa.”

“Tapi aku tidak mau ibu bekerja bersama Annalise.” tukas Yoona cepat dan membuat ibunya mendongkak dan menatap serius padanya.

Yoona tahu, tatapan itu adalah tatapan untuk menghentikannya. Yoona tidak suka ibu bekerja seperti itu, apalagi dengan Annalise.

///

Jongin mendaratkan bokongnya dengan malas, setelah itu ia buka sepatunya dengan asal. Matanya tertuju pada seorang wanita paruh baya yang tengah duduk dan memandangnya dengan tatapan marah.

“Apa kau tidak bisa bersikap lebih baik sedikit?”

Jongin mendecik pelan dan memijat keningnya. “Apa yang kulakukan selalu salah, bukan?” Jongin mengatakannya sambil terkekeh.

“Kau benar-benar tidak sopan, Jongin!” pekik neneknya dengan marah. Tentu saja, nenek selalu marah seperti ini jika berhadapan dengan Jongin—perlu diingat, beliau bukan berhadapan dengan Luhan yang selalu membuat senyumnya terkulum.

“Terserah nenek saja, aku akan melakukan apapun. Tapi biarkan aku bebas, jangan paksa aku untuk tinggal disini.”

Nyonya besar Kim membuang nafas berat dan menggelengkan kepalanya. “Baik, aku akan mengirimmu ke sekolah baru.”

///

“Dimana tugas menggambarku?!”

Im Yoona masih saja meracau tidak jelas dikamarnya. Jam dindingnya sudah menunjukkan pukul 7 kurang 10 menit. Oh gosh! Ia bisa terlambat hari ini. Lantas apa yang harus ia lakukan? Tugas menggambar dari Kang songsaengnim harus dikumpulkan hari ini juga. Dan sekarang? Lihatlah, bahkan tugas itu tidak ada. Ia yakin ia sudah membuatnya semalam. Tidak mungkin jika ia harus membuatnya lagi.

“Apa kau sudah selesai? Kau bahkan belum sarapan, Im Yoona.” tegur sang ibu yang sedang berdiri diambang pintu kamarnya.

“Tugas gambarku hilang, Bu.” jawab Yoona sambil terus mondar-mandir dan mengacak-ngacak laci dan meja yang ada di kamarnya.

“Lihat, kau hampir terlambat. Kau harus sekolah! Jangan buang-buang uang.”

///

Huh. Beruntung sekali Yoona dapat menghindar dari keterlambatan. Walaupun sangat pas-pasan, ia berhasil bebas dari hukuman yang diberikan oleh Guru Jung didepan gerbang.

Bel baru berbunyi saat ia menginjakkan langkah pertamanya di koridor. Yoona benar-benar menyedihkan saat ini. Ia berkeringat dan nafasnya tersenggal-senggal karena ia sangat kelelahan. Oh gosh! Ini bahkan masih pagi!

Sial sekali pagi ini. Semuanya gara-gara tugas menggambar yang hilang itu. Itu benar-benar membuatnya pusing.

Ia segera bergegas ke loker luar. Sepertinya ia harus menata lagi penampilannya.

Aku pinjam tugas menggambarmu, sangat bagus! Kau pasti mengizinkanku, kan?

-Anna-

///

Sebuah mobil sedan mewah baru saja memasuki arena sekolah Jaeil. Sepertinya bel sekolah ini sudah berbunyi, halaman bahkan sudah sepi. dengan kedua headset yang masih menyumpal telinganya, Jongin atau Kai terlihat santai dan tidak mau ambil pusing tentang semua ini.

Sekolah baru sudah biasa untuknya. Mungkin sebentar lagi ia akan ditarik keluar dari sekolah ini. Begitulah pikirnya, ia tersenyum dengan sebuah smirk sambil menatap langit.

“Tuan, kita sudah sampai.”

Kai melotot karena kaget, dan beberapa saat kemudian ia melepas kedua bendulan headsetnya dan keluar dari mobil.

Ia mengenakan seragam baru sekolah ini, Jaeil High School. Kai terlihat tampan hari ini dengan almamater kebanggan. Rambutnya tersisir keatas dengan rapi.

Ia harus melakukan penipuan, bukan?

Ini adalah hari pertamanya sekolah disini, maka dari itu ia berpenampilan rapi terlebih dulu. Ya, bersama Luhan dan dengan hal-hal yang pasti akan membosankan nantinya. Jaeil High School yang katanya sekolah ketat dan elit akan coba ia taklukkan.

///

“Tunggu diluar hingga pelajaranku selesai.”

Yoona tidak menjawab dan hanya membungkuk kecil. Ia tidak bisa melakukan apa-apa. Ia malas berdebat dengan Guru Kang apalagi disaksikan oleh teman-temannya. Dengan langkah santai, ia melengos keluar dan bersandar di dinding kelasnya.

Sebenarnya ini salah siapa? Tentu saja Anna. Yoona bisa menjamin itu.

Baiklah, ia akan melakukan sesuatu yang tak terduga pada gadis itu. Tunggu saja, Princess Annalise.

Yoona mengeluarkan ponselnya dari saku.

“INI GILA! Kai akan bersekolah disini! Di Jaeil High School. Ya tuhan, terima kasih telah mengabulkan doaku.”

“Tidak menyangka akan ada satu lagi pangeran tampan disekolah ini selain Xi Luhan!”

Hosh. Yoona mendengus melihat beberapa update-an teman-temnnya di Talkingbook. Siapa lelaki itu? Apa akan ada murid baru di sekolah ini? Seterkenal apa lelaki itu? Bahkan Yoona tidak mengetahuinya.

“Hei, apa kau sedang dihukum?”

///

Dengan malas, Yoona duduk di koridor bersama lelaki ini. Entah mimpi apa ia semalam, hari ini begitu sial. Ia tahu murid baru itu adalah lelaki menyebalkan berkulit tan. Lelaki yang bernama Kai.

“Kita bisa bertemu lagi.” ucap Kai yang tiba-tiba membuat Yoona menoleh padanya, kemudian ia menghindar lagi karena lelaki itu tersenyum gila padanya. Tch! “Kau bahkan wanita yang sangat aneh. Aku baru tahu kalau SMA Jaeil punya murid seaneh dirimu. Sangat disayangkan!” Kai terkekeh.

“Apa katamu?” Yoona menatapnya tajam dengan serius. Ow! Bahkan tatapannya itu mampu membakar kekehan Kai. Lelaki itu menelan ludahnya sambil bersedekap. Rupanya ia salah bicara dengan gadis ini.

Benar-benar gadis yang aneh.

“Aku hanya bercanda.” tukas Kai diikuti dengan senyuman canggung.

Yoona tidak menanggapinya dan malah memilih bangkit. Rupanya kelas Guru Kang sudah selesai. Mungkin masuk kelas adalah pilihan terbaik saat ini—daripada harus duduk bersama murid baru yang sangat menyebalkan.

“Masuk ke kelasmu, jangan mentang-mentang kau murid baru disini.” ucap Yoona sebelum ia mulai berlalu ke kelasnya.

‘Dia terlihat seperti preman untukku.’

.

continued

.

Aku tahu ini aneh banget dn mengecewakan. Maaf udah nunggu lama apalagi buat salah-satu reader yg udah komen dua kali, aku minta maaf sebesar-besarnya. Aku bener-bener sibuk belakangan ini. Dan tolong jangan tanyakan tentang panjang part ini, mohon dengan sangat.

Ditunggu komennya ya!

41 thoughts on “3rd Unperfect

  1. Ko gaada moment luyoonya thor? Ditungg moment luyoonya jgn kaiyoon mulu._. Anna gausah di pairing sm siapa2 deh ya thor gondok sm dia wkwk

  2. bagus eon…
    kyaknya disni sikap yoona eoni agak jutek ya…
    tpi suka…
    penasaran ma kisahnya luhan yoona dan kai ntar…
    apa bkal ada cinta segitiga.

  3. Si Anna itu emang nyebelin ya? Gara2 dia Yoona harus di hukum.

    Kayaknya perlu di balas tuh anak. Heheh

    luhan ngga muncul?
    Dimana bang??
    Malah si Item Kkamjong yg muncul.
    Maunya LuYoon ya beb!

  4. hai thor. mian aku komennya di chap 4 dulu baru ke chap 3. masih penasaran couple sebenarnya dalam ff ini siapa???? siapa aja deh asal yoongexo.

  5. thor boleh protes dikit nggak?
    ini kurang panjang thoorr huaa😀😀
    lagi enak2nya baca tibatba langsung continued…aigoo pengen banting laptop rasanya :3

  6. Anna rese banget.
    Penasaran kenapa ibunya yoona gak mau berhenti dari pekerjaannya, alasannya kenapa?
    Ditunggu next chapternya thor

  7. Kurang panjang thor -.- next chapter harus lebih panjang lagi yah
    oh yaa konfliknya harus semakin memanas
    terus buat kai suka sama yoona

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s