4th Unperfect

unperfect4
.

UNPERFECT

by chiharu

Cast

Im Yoona | Xi Luhan | Annalise Dync (OC) | Kim Jongin | Oh Sehun

Genre

Psycho | School-life | Romance | Friendship | Drama

Rating

PG15

Disclaimer

Pure mine, don’t claim this as yours.

copyright 2014 chiharu

Kafetaria sedang dalam masa ramai-ramainya. Hampir semua murid berada disini untuk menikmati makan siangnya. Yoona benar-benar mengutuk kakinya yang telah berjalan hingga sejauh ini—dan inilah hasilnya, sampai di kafetaria dengan seorang lelaki bernama Oh Sehun.

Ia sedikit merasa asing dengan keadaan kafetaria, karena tidak biasanya ia berada disini. Dan lihatlah sekarang, lelaki berkacamata tebal itu berhasil membawanya kesini. Sehun tahu, Yoona tidak suka berada disini, bisa dilihat saat ia mengajaknya tadi, gadis itu memasang wajah tidak minat seperti biasanya. Oh ayolah, Im Yoona, untuk apa kau hidup jika diam saja. Nikmati masa-masa sekolahmu yang suatu saat nanti akan berakhir.

Setelah mereka mendapatkan makan siang, kedua orang itu duduk di bangku pojok dekat jendela. Sehun mengerti bahwa Yoona suka duduk dekat jendela—entah karena apa.

Tanpa membuka suara sedikitpun, Yoona langsung melahap ramen dengan cueknya—sesekali ia mengedarkan pandangannya ke jendela, entahlah—mungkin pemandangan di luar lebih indah ketimbang harus melihat orang-orang bergerombol di dalam ruangan ini.

“Hai semuanya! Apa kabar, kalian?”

Dalam beberapa detik, hampir perhatian semua murid tertuju pada seorang gadis yang baru saja berteriak dengan lantang dan errr… agak cempreng khas seorang gadis. Gadis itu ditemani oleh teman gadisnya yang lain.

“Kang Seulgi sangat cantik, ya?”

Dengan reflek mata Yoona mengekor pada seorang Oh Sehun. Barusan, lelaki itu berbicara tanpa menatapnya—melainkan menatap gadis bersuara nyaring tadi—bahkan, Sehun belum mengalihkan pandangannya dari gadis berambut karamel itu.

“Ow—”

Yoona menghela nafas ketika ia tidak sengaja menjatuhkan sendoknya, dan itu berhasil membuat Oh Sehun tersadar.

“Ma…maafkan aku.” ucap Yoona setelah ia mengambil sendoknya. Oh Sehun terlihat agak nervous—ayolah, maafkan Yoona, bahkan Yoona benar-benar tidak berniat untuk mengganggu lamunan Oh Sehun. Sungguh.

///

Entah karena keberanian apa, Yoona sedang berdiri menyandar pada tembok toilet siswi. Ia terlihat menimang-nimang apa yang akan ia lakukan.

Oh, mungkin ini terdengar gila. Tapi ia tidak bisa menampik bahwa ia sangat ingin melakukan sesuatu pada Anna. Ia pikir, tidak akan ada yang melihatnya karena ini adalah jam pelajaran. Kebetulan sekali kelasnya sedang kosong, dan untung saja Sehun tidak sok care atau bertanya ini itu padanya.

Ia mendengar langkah dari dalam toilet, ia bisa memastikan itu adalah Anna.

“Hai.” Yoona menyapanya dengan senyuman sangat manis, sengaja Yoona buat semanis mungkin.

Kening gadis itu terlihat mengerut, “Ada apa ini?”

“Aku akan memberikan hadiah padamu.” kata Yoona sambil melangkah maju untuk lebih dekat dengan Anna. Seolah menyelaraskan, gadis itu ikut mundur karena heran dengan tingkah laku Yoona yang seperti ini. “Ohya, perihal gambar itu, aku sudah merelakannya. Tapi biarkan aku menghabisimu sekarang.”

“Ap…a yang kau lak…ukan, Yoona!” ucap gadis itu karena Yoona memegang dagunya dengan tekanan yang sangat kencang.

PLAK!

“Auw!”

Yoona mundur selangkah setelah ia menampar gadis itu. Emosinya begitu tersulut saat ini, bukankah sudah sangat lama ia ingin mencakar wajah itu? Tentu saja. Tapi tiba-tiba wajahnya terlihat syok saat ia melihat pipi Anna yang sangat menyala, berwarna merah bekas tamparan tangannya.

“Kau gila, Im Yoona!”

Tiba-tiba kaki Yoona melemas dan tubuhnya mulai berkeringat karena gemetar.

Apa yang kau lakukan?!!!

///

Annalise tengah terbaring sambil memainkan ponselnya. Ia tahu, saat ini ia harus menghubungi keluarganya. Menurutnya, keluarganya harus tahu karena anak sang pamebantu sangat berani padanya.

Ia juga tidak habis pikir bahwa Yoona akan menyerangnya seperti itu.

Tapi, Bukankah itu bagus? Anna memang ingin Yoona menyerangnya, kan? Ya, ia ingin Yoona terjerumus dalam masalah. Tapi setidaknya, ia juga merasakan rasa shock dan sakit ketika tangan Yoona dengan keras menampar pipinya.

Ketikan tangan Anna terhenti saat seorang lelaki berdiri diambang pintu UKS dan menatapnya—lantas, Anna menatap lelaki itu dengan tatapan kaget, lalu ia mengubah wajahnya dengan raut wajah yang sangat sedih. Iywh.

“Luhan oppa?”

///

Yoona tidak habis pikir tentang apa yang telah ia lakukan. Sekarang ia sangat kelimpungan karena kemungkinan besar ibunya akan dipanggil oleh sekolah, entah itu besok atau kapan.

Dan itu sama saja ia membunuh dirinya sendiri.

Ia sendiri sedang berada di lapangan sekolah dan mengenakan papan dari kardus bertuliskan ‘Aku Tidak Akan Berkelahi Lagi’

Oh dear, itu sangat memalukan, bukan?

Dengan image Yoona yang dipandang tidak disukai di sekolah tambah membuat reputasinya terjatuh. Bayangkan saja, ia berkelahi dengan Anna—orang yang menyebarkan kebohongan tentangnya.

///

Bel tanda pelajaran telah berakhir baru saja terdengar. Permulaan sekolah memang cukup menyenangkan, tapi untuk selanjutnya, lihat saja nanti.

Kai berjalan menyusuri koridor sambil menenteng tasnya. Hampir semua gadis yang melihatnya berdecak kagum dan tersenyum-senyum padanya.

Ia memang pangeran, bukan?

Bukan sombong, tapi ia memang terkenal hampir di semua kalangan remaja wilayah ini.

Matahari sore hari ini cukup terik juga, walaupun tidak sepanas tadi siang. Kai memutuskan untuk duduk sejenak di salah-satu bangku yang ada di koridor.

“Bolehkan aku duduk disini?”

Kepala Kai mendongkak saat ada perempuan yang meminta izin untuk duduk. Tidak masalah, ia membiarkan perempuan berambut karamel itu duduk disampingnya—tapi tidak terlalu dekat juga.

“Apa kau mau minum?”

Fine. Kai menerima botol yang disodorkan gadis itu lalu meneguknya hingga tersisa setengah botol. “Terima kasih.” ucapnya sambil meletakkan botol itu.

“Namaku Kang Seulgi, kau bisa panggil aku Seulgi.”

Kai menoleh dengan tatapan yang boleh dibilang terkejut. Gadis berambut karamel itu tersenyum sambil mengulurkan tangan padanya dan ia bisa menangkap kalau gadis itu ingin berkenalan dengannya. Baiklah.

“Aku Kai, cukup panggil aku dengan nama itu, jangan yang lain.” balas Kai sambil menyambut uluran tangan gadis bernama Seulgi itu. Beberapa saat kemudian, Kai melihat Seulgi terkekeh. Lantas, ia mengerutkan keningnya.

“Aku bahkan sudah tahu namamu.”

Oh gosh! Kai tertawa, rupanya ia melupakan sesuatu. “Rupanya aku benar-benar terkenal, ya.” sombong Kai.

“Seulgi-ya! Ikut aku kemari!”

Seorang gadis dengan tergopoh-gopoh kini berada diantara mereka. Gadis itu benar-benar tidak menyadari jika seorang lelaki terkenal tengah berbincang dengan sahabatnya.

“Ada apa, Irene?” Kang Seulgi memutar bola matanya kesal.

“Kau harus lihat ke lapangan sekarang juga.”

“Apa yang kau maksud?” tanya Seulgi tidak mengerti. Sebenarnya ia hanya tidak ingin waktunya dengan Kai segera berakhir. Sejenak, ia menoleh pada Kai seolah meminta izin untuk pergi.

“Silahkan.” ujar Kai seolah-olah mengerti.

Setelah itu, Seulgi keburu melesat dibawa oleh temannya yang bernama Irene. Ia hanya menatap botol yang masih tersisa tadi. “Kebetulan, aku cukup haus sore ini.”

///

Langkah Kai terhenti saat ia melihat seorang gadis ditengah lapang yang menjadi perhatian banyak murid. Matanya agak menyipit untuk memastikan kalau ia pernah bertemu dengan gadis itu.

Secara tiba-tiba gadis itu berjalan kearah pinggir lapang. Kai bisa melihat tatapan-tatapan benci dari hampir seluruh murid tertuju pada gadis itu.

Benar saja! Itu adalah ‘Freak Girl!’

Ya, gadis aneh yang bertemu dengannya di taksi dan juga tadi pagi. Kenapa gadis itu?

///

Annalise sudah pulang sebelum pelajaran berakhir. Yoona tahu kalau ia akan dihukum untuk menuliskan kalimat-kalimat ini 200 baris.

Benar-benar malapetaka!

Tapi, bagus juga. Ia bisa menghindari ibunya yang juga siap untuk memberi hukuman padanya. Setidaknya berdiam diri di sekolah sampai petang adalah pilihan terbaik.

Yoona bangkit untuk mengambil kertas lain karena kertasnya sudah penuh.

‘Aku Tidak Akan Berkelahi Lagi.’

Setidaknya itulah kalimat yang ia tuliskan sejak tadi. Yoona benar-benar bosan karena harus meliuk-liukkan tangannya demi kalimat yang sama. Sekiranya hanya bunyi goresan pensil dan kertas yang terdengar di kelas yang sunyi ini.

“Kau masih disini rupanya.”

Yoona mendongkak sambil terbelalak kaget.

“Boleh aku masuk?” Yoona hanya mengangguk dan membiarkan lelaki itu duduk dimeja sebelahnya.

Sialan! Apa Luhan mengetahui kasusnya yang satu ini? Bisa mati ia. Arrrrgh ini benar-benar malapetaka!

“Apa aku harus menghiburmu lagi?” Luhan mulai bersuara membuat Yoona tidak konsentrasi akan tulisannya. “Aku sudah mengetahui semuanya. Bahkan, aku tidak mengerti kenapa kau melakukan ini semua.”

Yoona berhasil berhenti dan menoleh pada Luhan, mata mereka bertemu—lelaki itu menatapnya dengan tatapan kecewa. Maaf!

“Kau bahkan tidak perlu menghiburku. Ini semua memang murni kesalahanku.” Yoona merasa melemas dan hatinya terasa jatuh seketika.

“Benarkah, apa semua ini tidak ada sebabnya? Kau melakukan itu pasti dengan sebab yang jelas.” Luhan menatapnya dengan tatapan seolah meminta Yoona memaparkan semuanya.

“Akan memakan waktu yang sangat lama jika harus ku jelaskan. Aku hanya perlu menyelesaikan tugasku agar aku bisa segera pulang.” Yoona menyangkal, padahal ia tidak mau pulang ke rumah karena takut oleh ibunya.

“Ya sudah, biarkan aku membantumu.” ucap Luhan dan dengan cepat ia meraih satu lembar kertas dan mulai menuliskan kalimat yang sudah Yoona tuliskan.

Yoona hanya bisa menatap Luhan dengan hati yang sangat berterima kasih. Benar-benar malaikat!

“Kau kan temanku.”

Teman?

///

Luhan melempar tasnya dengan asal ke sofa. Ia agak terperanjat melihat sang nenek tengah siaga didepan tangga. Wajah sang nenek terlihat kesal padanya. Lantas, Luhan membungkuk lalu berjalan kearah nenek tersayangnya itu.

“Maafkan aku, nek.” ucap Luhan sambil memberi senyum termanisnya.

“Sudahlah, tidak perlu menyogokku. Dari mana saja kau? Ini sudah pukul 7 malam dan kau baru pulang, tidak seperti biasanya.” neneknya mendecik karena kesal.

“Aku sibuk di sekolah. Mana mungkin cucu tersayangmu mengecewakanmu, huh?” ucap Luhan yang kali ini berhasil membuat senyum neneknya mengembang.

“Kau benar-benar pandai menggombal Xi Luhan! Sangat berbahaya jika kau dekat dengan seorang gadis!”

“Tapi aku banyak dekat dengan seorang gadis.” timpal Luhan lalu keduanya tertawa.

///

Sudah disangka, Yoona memang benar-benar akan dihujani oleh omelan-omelan ibunya. Saat ini ia tengah berada didepan tv yang dimatikan.

“Bagaimana ibu bicara pada majikan ibu di London? Bahkan, mereka berpesan pada ibu jangan sampai Nona Anna kenapa-napa, dan kalau mereka tahu putrinya terluka karenamu? Bisa mati aku!” Nyonya Kim terlihat frustasi dengan memegang keningnya.

“Tapi siapa suruh mereka menitipkan anaknya disini? Bahkan anak itu sangat menyebalkan!” Yoona membuka suara dengan nafas yang begitu memburu. Tentu saja itu membuat Nyonya Kim melotot padanya. “Auw!”

Yoona meringis kesakitan karena kepalanya dipukul. Benar-benar hari yang sangat com-pli-ca-ted. Bahkan, ia belum mengganti seragamnya.

“Satu lagi, kau menambah masalahku.” Nyonya Kim terlihat pasrah sambil memegang keningnya.

Keduanya menoleh pada telepon yang berbunyi diatas nakas. Dengan agak malas, sang ibu mengangkat telepon itu dan meletakkan gagang telepon ditelinganya.

“Hey! Where is Anna? Is she fine?”

Tiba-tiba saja gagang telepon itu terjatuh.

-continue-

.

.

Hai!

Tolong Dibaca!

Hai kalian, gimana dengan part yang ini? Mungkin masih kependekan kaliya hahaha. Aku tau banyak yang gak puas sama part sebelumnya, tapi ya aku berusaha memberikan yang terbaik.

Dan ya, aku ada rencana kalau part berikutnya akan di protect. Gak kenapa-napa sih, cuman pengen tahu aja. Dan kalian yang benar-benar ingin membaca ff aku yg satu ini bisa minta passwordnya, gak ada syarat2 tertentu kok, tenang aja. Tapi mungkin nanti di part akhir, aku bakalan protect juga dan tentunya beserta syarat2 kalo mau minta password.

Dan kalaupun part selanjutnya di password, kalian bisa minta lewat sini.

@chiharuu98

dan lewat situ juga aku pengen tahu readers2 disini itu siapa aja, yg suka baca ff aku itu siapa aja, intinya pgn lebih saling mengenal, hehe😀

seeya!

57 thoughts on “4th Unperfect

  1. sebenernya Luhan ada perasaan gak sih sama Yoona:'(
    huweeeee..
    njirr. itu Anna jadi orang makin nyebelin aja-_-
    oke,,ijin baca yang 5th yah Thorrrr:’)
    Keep Writing and Fighting^^

  2. Ishhh yoona kasiannnn apabgt si itu anna. Pulang gih sono lu ke london penasaran ntr yoona sm luhan apa kai ya hmm next part ijin baca ne thorrr

  3. apa luhan oppa bnran cuma nganggap yoona eonni teman ??
    Ada Kai… apa dia bakan masuk di kehidupan yoona eonni ??

    thu shi anna emg ngejengkelin…
    spa thu yg nelpon ?? orangtuany anna kh ?? apa yoona eonni bkln kena masalah ??

    d tunggu klnjutannya thor..

  4. duuuuuuuuuuh kesel banget sama Anna, maaf ya di part dsebelumnya ga koment, bingung mau komen apa lagi karena ini benar – benar perfect!! uuhh jinjja, ga ada kah yg lebih menyebalkan dari ini? rasanya kayak bener – bener jadi Yoona disini, kalo aku jadi Yoona, aah ga tau mau diapain lagi si Anna, mungkin udah ku bunuh dia ? *sadiss*

    next chapter ditunggu banget, dari awal aku suka banget sama ff ini !! fighting!!

  5. Omg kerenn😀
    Luhan perhatian bgt ya sama yoona ><
    Buru jadian sana hehehe xD
    Makin kesel sama anna huff –"
    Chapter slanjutnya bkalan di protect thor?
    Cara mintanya cuma mention di twitter?

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s