No One Knows

NOK

No  O n e  Knows

by
Clora Darlene

Main Casts
Im Yoon Ah | Oh Sehun

Supporting Cast
Calista Im

Rating | Length | Genre
PG-15 | Vignette | Romance, School Life

Kembali terdengar di telinga Yoona dan membuat perempuan itu kembali menghela nafas. “Perutmu kembali berbunyi”

“Kau telah mendengarnya berkali-kali dan masih saja berjalan layaknya Putri Raja. Cepatlah, Im Yoona-ssi” Oceh Sehun. Sungguh, ia kesal sekali dengan temannya yang satu ini.

“Kau menyuruhku menemanimu makan di kafetaria, sedangkan aku masih kelelahan karena baru saja selesai berolahraga dan sekarang kau memaksaku? Lihatlah, kau bahkan tidak memberikanku waktu untukku berganti baju. Kau sangat kejam, apa kau tahu itu?” Yoona mendengus kasar lalu nafasnya menderu tidak beraturan.

Apa mengelilingi lapangan sekolah sebanyak tiga belas kali dan push-up sebanyak lima seri tidak cukup untuk hari ini? Dan Yoona masih harus berurusan dengan ‘paksaan’ Sehun? Yoona kembali mendengus. Betapa sialnya ia hari ini.

“Kau mengoceh seperti nenek-nenek, Yoong” Gumam Sehun tanpa melirik Yoona.

“Apa?” Yoona berhenti melangkah. Well, amarahnya kini sudah mencapai ubun-ubun. Ia sedang tidak ingin bercanda―ia sudah cukup lelah―dan Sehun bertindak semaunya tanpa memedulikannya. Sehun menyadari Yoona tak lagi berjalan mengikutinya, membuatnya akhirnya berbalik dan menatap Yoona. “Seperti nenek-nenek, kau bilang?” Suara Yoona tiba-tiba meninggi.

Sehun menghela nafas lalu dengan satu langkah besar ia menghampiri Yoona. “Kau cepat sekali marah, Yoona-ssi. Sangat kekanak-kanakan. Membuatku lebih kelaparan dan ingin memakanmu” Lalu menarik tangan Yoona dan berlari. Yoona terlonjak kaget saat Sehun tiba-tiba menariknya dan ia harus berlari mengimbangi langkah Sehun, well jika tidak ia akan terjatuh dan―persetan dengan rasa sakit yang akan dirasakannya―itu akan menjadi sangat memalukan.

Sehun mendorong pintu kafetaria dengan lebar lalu berhenti berlari. Bel baru saja berbunyi dua menit lalu namun kafetaria sudah sangat sesak seperti ini―Sehun benci tempat ramai. Ia berkacak pinggang lalu memerhatikan antrian pengambilan makanan. “Kau lapar?” Tanya Sehun.

Tapi, tak terdengar jawaban Yoona. Entahlah, Yoona tidak menjawab pertanyaannya atau keadaan kafetaria yang bising membuat suara perempuan bermata Rusa itu tenggelam.

Sehun melirik Yoona. Perempuan itu terlihat meringis sembari mengusap pergelangan tangannya yang tampak memerah. Mulut Sehun lalu terkatup rapat, matanya tertuju pada pergelangan tangan Yoona lalu ia meraih tangan Yoona, tapi Yoona menepisnya dengan cepat. ‘Jangan pernah menyentuh tanganku dengan tangan kasarmu itu’ setidaknya seperti itulah yang diucapkan mata Yoona kepada Sehun.

“Ada apa dengan tanganmu?” Lagi, Yoona memilih bungkam. Membuat Sehun melangkah mendekat―dekat sekali―dan akhirnya dengan paksa meraih tangan Yoona. Sehun memerhatikan dengan jeli pergelangan tangan perempuan tersebut, pergelangan tangan yang ia tarik secara kasar tadi. “Apa sangat sakit?”

Yoona masih bungkam. Bibir tipisnya masih tertutup rapat. Tapi, kedua iris berbeda warna itu saling beradu pandangan secara lekat. Mulut Yoona bisa saja tidak menjawab pertanyaan Sehun, namun matanya tidak dapat melakukannya. Dan itulah yang Sehun tengah lakukan―menyelam dalam lautan kecil madu untuk mencari jawaban yang ia cari.

Sehun menghela nafas kasar. “Dasar manja. Ada peningkatan dalam skill beraktingmu” Sehun melepaskan tangan Yoona.

Stupid” Desis Yoona lalu menggeram. Sehun pergi begitu saja meninggalkannya untuk mengantri mengambil makanan. Yoona akhirnya memilih menduduki meja makan yang berada di tengah ruangan. Ia mengusap pergelangan tangannya sembari menunggu Sehun.

Stupid. Batinnya lagi.

Sehun bodoh. Laki-laki yang dielu-elukan oleh seantereo Asia Pacific International School karena pintar diberbagai bidang akademik ataupun non-akademik ternyata tidak sepintar dugaan mereka. Pergelangan Yoona benar-benar terasa perih dan laki-laki itu dengan percaya dirinya mengatakan bahwa ia sedang berakting? Oh, astaga. Iris madu Yoona berputar. Ingin sekali rasanya ia memukul kepala Sehun untuk meluapkan kekesalannya.

“Kau sungguh tak makan? Akan kuambilkan jika kau lapar” Ucap Sehun yang baru saja menaruh cafeteria tray-nya di atas meja.

Yoona berdecak. “Cepatlah makan. Kau membuang waktuku”

Sehun menaikkan kedua bahunya. “Baiklah jika kau sedang tidak ingin makan” Ia duduk di hadapan Yoona lalu meraih sumpitnya. “Omong-omong, besok adalah hari ulang tahunmu”

“Lalu?” Sergah Yoona.

Sehun melirik Yoona lalu mulai menyantap makanannya. “Kau tidak ingin hadiah dari diriku?”

“Biar kutebak apa yang akan kau berikan padaku besok. Boneka Ted seperti yang kau berikan pada Tiffany? Bunga Mawar seperti yang kau berikan pada Seohyun? Parfum limited edition seperti yang kau berikan pada Taeyeon?”

Yoona mencoba mengingat lebih banyak lagi, tapi Sehun akhirnya menyelanya. Sudah cukup harga dirinya diturunkan dengan cara sadis seperti itu. “Aku memberikan Boneka Ted kepada Tiffany sebagai hadiah ulang tahun karena keluargaku mengenal baik keluarganya. Dan Bunga Mawar―well, Seohyun yang memintanya saat kami pulang makan malam bersama d―”

“Kau makan malam bersama dengannya?” Tanya Yoona. Keningnya mengerut dan alis kirinya terangkat.

Sehun menatap Yoona. “Ya,” Lalu Sehun mengangguk. “Aku dan Seohyun di―”

“Hanya kalian berdua saja? Tidak ada yang lain?” Potong Yoona.

Sehun menghela nafas. “Oh, astaga. Kau tidak memberikanku kesempatan untuk bicara, Yoong. Aku dan Seohyun pulang bersama dari pesta ulang tahun Sooyoung”

“Kau tadi mengatakan ‘makan malam’, dan sekarang mengapa tiba-tiba menjadi ‘pesta ulang tahun’?” Tanya Yoona tak mengerti lalu menggeleng.

“Dan parfum limited edition―itu hadiah ulang tahun untuk Taeyeon karena dia teman sekelasku. Apa aku salah memberikan hadiah ulang tahun kepada teman sekelasku sendiri?” Tanya Sehun balik. “Dan bagaimana bisa kau mengetahui semua hadiah itu, Yoona-ssi?”

“Kau membeli semua hadiah tersebut bersamaku, bodoh” Jawab Yoona to the point.

“Ah,” Sehun mengangguk kembali lalu memakan santapannya. “Aku baru mengingatnya. Jadi, apa yang kau inginkan untuk hadiah ulang tahunmu besok?”

Yoona memandang iris pure hazel Sehun. Tidak jelas apa yang diinginkan Yoona. Matanya terlihat kosong, seperti hanya ada ruang tanpa isi di dalamnya. Mata Yoona refleks melirik seorang perempuan berambut cokelat terang dengan highlights emas lewat di hadapannya. Berjalan tepat di belakang Sehun namun cukup jauh dari pandangan Yoona.

Sahabat karibnya.

“Aku ingin kau membuat video untukku” Jawab Yoona lalu kembali menatap Sehun.

“Video?” Alis kiri Sehun terangkat. “Video?” Tanyanya lagi.

Ne

“Video macam apa? Video porno kau dan aku sebagai bintangnya? Aku tidak keberatan dengan permintaanmu yang satu itu” Gumam Sehun tanpa berekspresi.

“Ya!” Yoona menepuk bahu Sehun dan berhasil membuat laki-laki itu meringis. “Dasar mesum”

“Kau tidak menyebutkan dengan jelas video macam apa yang kau inginkan, Yoona-ya. Oh, astaga, bahuku. Kau perempuan berlengan pria, Yoong. Sangat mengerikan” Celoteh Sehun tidak habis-habisnya.

“Aku ingin kau berduet dengan Calista. Suaranya sangat bagus, dan kau pintar bermain gitar. Tidak sulit, bukan?” Yoona tersenyum lebar.

“Kau benar-benar menginginkan hal tersebut menjadi hadiah ulang tahunmu?” Tanya Sehun. Suaranya merendah dan mengecil. Tidak ada tawa ejekan atau ringisan candaan yang terpampang pada wajahnya.

Yoona mengangguk semangat. “Tentu saja. Kutunggu hadiahmu besok, Oh Sehun-ssi” Yoona memberikan senyuman termanisnya lalu bangkit dan menghilang dari hadapan Sehun. Ia melangkahkan kakinya sendirian menyusuri koridor kembali ke kelasnya dengan tatapan kosong tidak berpenghuni.

Calista. Calista Im.

Perempuan itu akan senang bukan jika Sehun menghampirinya dan mengajaknya berduet menyanyikan sebuah lagu? Terserah lagu apapun, tapi Calista akan tetap senang, bukan?

Perempuan itu mencintai Sehun. Calista sudah telanjur jatuh cinta kepada Sehun.

Keluarga Calista sudah sangat cukup membantu Keluarga Yoona dalam hal apapun. Katakan saja, bahwa Keluarga Yoona memiliki hutang budi kepada Keluarga Calista.

Yoona merogoh sakunya dan meraih ponselnya. Ada sebuah pesan masuk.

 

From: Calista Im

            Oh, astaga, Yoong! Sehun baru saja mengajakku untuk membuat video dan berduet dengannya!

 

Jadi, Yoona hanya dapat membayar hutang budi tersebut dengan cara membuat Calista senang. Yoona akan membiarkan Calista jatuh cinta kepada Sehun sehebat apapun, sedahsyat apapun, di saat ia juga mencintai sahabat laki-lakinya itu dalam mulut terkatup.

            “Jadi, kau ingin menyanyikan lagu apa?” Tanya Calista, mempersilakan Sehun duduk di sofa empuknya.

Lucky” Jawab Sehun sembari mengeluarkan gitar cokelatnya. “Kau tahu?”

“EXO?”

Sehun mengangguk. “Ne

So lucky to be your love?” Calista menyanyikan sebaris liriknya untuk memastikan.

Sehun menjentikkan jarinya. “That’s right” Ia kembali menyetel gitarnya. Sesaat, keduanya sibuk dengan kegiatan masing-masing―Calista mencari lirik lagu di Google, sedangkan Sehun memetik senar gitarnya untuk memastikan tidak ada nada yang salah.

“Mengapa kau memilih lagu ini, Sehun-ah?” Tanya Calista memecah keheningan.

“Aku merasa beruntung karena memilikinya. Apa kau tidak merasa beruntung karena memilikinya sebagai sahabatmu?” Tanya Sehun balik dengan sebuah senyuman kecil.

Calista tertawa kecil. “Kau benar. Aku beruntung, dia adalah sahabat yang hebat”

“Dan juga, Yoona sedang menyukai lagu ini. Lagu ini berada di playlist pertamanya” Sehun kembali tersenyum simpul. “Dia mendengarkan lagu ini setidaknya sembilan belas kali setiap harinya”

“Wow” Calista memandang Sehun. “Kau begitu mengenal Yoona dengan baik”

“Aku tidak mengenalnya dengan baik, tapi Yoona sangat mudah sekali untuk dibaca semua orang” Timpal Sehun santai lalu diikuti kedua bahunya yang naik. “Kau sudah menguasai lagunya?”

“Ya,” Calista mengangguk pelan. “Lagunya mudah dikuasai, ear-catching

“Aku tidak salah, bukan?” Sehun lalu tertawa.

“Kurasa kau tidak pernah salah” Bibir tipis itu tidak henti membuat Bulan Sabit indah yang menggantung. Matanya berbinar-binar saat sosok itu selalu ada di sebelahnya, duduk ataupun melakukan apasaja. Selalu berhasil membuat terpesona dengan mudahnya.

“Seharusnya aku merekamnya” Lagi, Sehun tertawa sembari membenarkan letak tripod yang di atasnya sudah ada kamera. “Kau siap?”

“Kapan saja”

Sehun duduk di sebelah Calista. Membuat jarak itu lama-kelamaan menipis. “One, two, one, two, three

Gateun narae taeeonaseo gateun eoneoro mareul haeseo. Cham haenguniya, cham dahaengiya. Sesange dangyeonhan geon eobseo…

Oh, sialan. Umpat Calista. Ia tidak bisa menelan salivanya karena bau khas Sehun menyengat hidungnya dan membuatnya hampir melupakan nada lagu. Calista melirik laki-laki yang duduk di sebelahnya. Laki-laki yang mengenakan jaket hitam dengan rambut berwarna tembaga gelap, garis rahang yang tegas, bibir mungil dan kulit porselen―Calista mencintai setiap inchi Oh Sehun.

Dan detik ini, cintanya semakin menjadi-jadi. Debaran jantungnya tidak bisa memelan, begitu menggebu-gebu, takut jika suara petikan gitar itu tidak bisa meredam suara detak jantungnya yang berpacu.

            “So lucky, my love so lucky to have you. So lucky to be your love, I am…

“Whoa” Yoona bertepuk tangan pelan setelah video tersebut berakhir.

“Kau menyukainya?”

Senyum Yoona berkembang. “Sangat. Calista menyanyikannya lebih baik dari versi aslinya. Aku menyukainya”

“Kau sudah bertemu Calista?” Tanya Sehun berbasa-basi.

Yoona mengangguk. “Aku sudah bertemu dengannya. Dia adalah orang pertama yang memberikanku ucapan selamat ulang tahun”

Mata Sehun membulat. “Bukankah aku orang pertama yang memberikanmu ucapan selamat ulang tahun?”

Aniya. Calista adalah yang pertama” Bantah Yoona yakin.

“Jadi, aku yang kedua?”

“Sebenarnya, ketiga. Setelah Kai” Jawab Yoona ringan.

Sehun mendengus. “Si Kai Sialan itu” Umpatnya dan berhasil membuat Yoona tertawa keras. Membuat kening Sehun mengerut dan bertanya. “Ada apa?”

“Tanyalah itu kepada dirimu sendiri, Sehunnie” Yoona masih tertawa. Ia menutupi tawanya dengan telapak tangannya.

“Ada apa denganku?”

Yoona tertawa kecil. “Tenang saja, kau adalah orang pertama yang mengucapkanku ucapan selamat ulang tahun” Yoona membuka lengannya lebar. “Gomawo atas hadiahnya, Sehun-ah” Yoona lalu memeluk Sehun. Mencium aroma khas Sehun yang selalu membuatnya mabuk kepayang.

“Aku senang jika kau senang, Yoong” Sehun tersenyum simpul lalu melingkarkan tangannya pada pinggang kecil Yoona. Memeluk Yoona hangat, mendekap perempuan yang ia cintai.

THE END

Author’s Note: Hey, uda lama banget rasanya gak nulis FF. Sekalinya nulis malah hasilnya jadi begini. Sebenernya mau jadiin ini drabble, tapi malah jadi vignette. Maaf banget kalau jelek banget ini FF-_-

95 thoughts on “No One Knows

  1. Oh My God!! Sehun emang jago kalo soal yang romantis-romantis gini😀 Kukira kalau ada sequelnya pasti banyak konfliknya. Banyak yg harus dikorbanin. Perasaan Sehun, Calista, Yoona. Tapi Yoona suka sama siapa? ._.

  2. Aku selalu suka sm ff mu kak.. tapi kok yg ini ngegantung ya? soalnya belom jelas nih hubungan Seleniters ini gimanaa.. kan sayang mereka udh saling mencintai, pengen dibikin sequel nya masa hihihi…

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s