(Freelance) Oneshot : My First Love

myfirstloveMy First Love

By. FLYers

Main Cast(s) : Im YoonA | Xi Luhan

Support Cast(s) : Jung SooJung | Seo JooHyun | Kris Wu | Oh Sehun | Kim JongIn

Genre : Romance – School Life – Sad

Rating : PG-15+

 

Haihai… aku lagi ubek-ubek data lama ketemu ama fanfic yang seingat aku di tulis pas kelas 9 SMP. Hahaha, lumayan lama. Dari pada tinggal berdebu(?) mending aku bagi kekalian fanfic abal yang kelewat abal ini :3. Walupun ini udah lama aku inget kok ini aku tulis pas abis nonton film Thailand dengan judul yang hampir sama (First Love) untuk kesekian kalinya. Boleh dibilanglah ini terinspirasi dari film yang dibintangi si cakep Mario Maurrer itu. Pasti taukan filmnya? oke, gak banyak bacot.

Happy Reading !!!

*****

Mata rusa, kulit putih, rambut kecoklatan, hidung yang tak terlalu mancung, semua sempurna di tempatnya masing-masing. Tubuh yang tak begitu tinggi di antara teman-temannya namun memiliki postur badan yang cukup ideal dengan ototnya yang tak terlalu besar. Jangan lupakan bibir tipis yang menambah nilai plus bagi wajahnya yang bisa dibilang imut atu mungkin polos? Entahlah …

Ia adalah kapten tim sepak bola di sekolah kami. Dengan kemampuan yang sangat hebat dalam mengolah si kulit bundar. Selain lihai, menghabiskan waktu berdua dengan benda bulat tersebut sudah menjadi salah satu hobinya yang entah sejak kapan dimulai.

Dia tampan …

Dia hebat …

Dia cool dan manis disaat yang bersamaan …

Dia Xi Luhan, menggiring bola melewati lawan mainnya hingga berada pada titik akhir di mana tendangan kerasnya mengarah ke gawang yang menganga. Tak butuh sedetik sorak sorai terdengar begitu jelas di telingaku. Lelaki yang ku ketahui asli China itu telah berhasil memporak-porandakan pertahanan lawan.

Aku tersenyum, karena dapat kulihat ia yang menampilkan wajah bahagianya akan gol yang tercetak untuk ketiga kalinya hari ini. Kilirik papan skor di pinggir lapangan yang baru saja berubah kedudukan 4-1 atas sekolah kami. Ya, hari ini adalah pertandingan final olympiade olahraga antar sekolah yang tiap tahun terlaksana. Final untuk bola volly baru selesai beberapa menit lalu, dan kini adalah sepak bola di mana sekolahkulah yang menjadi salah satu finalisnya dengan kedudukan 4-1.

1 gol dari Oh Sehun dan 3 gol dari Xi Luhan…

Ia memang selalu menjadi yang terbaik. Selalu … karena di mataku hanya ada dia … dia … dia … dan dia … tak ada yang lain. Titik fokus mataku hanya mampu tertuju pada lelaki itu, hanya dia. Karena memang cuma ada dia, Xi Luhan.

“Im Yoona!!!” aku tertegun, sebuah suara dengan jelas menyebut namaku disertai tepukan pelan di pundak kananku. Aku menoleh dan mendapati seorang gadis yang orang banyak berasumsi bahwa kami adalah saudara dikarenakan wajah kami yang katanya mirip –namun nyatanya tidak –dia Jung Soojung, tersenyum manis ke arahku dan lantas mengambil tempat di sana –duduk bersamaku di tribun penonton.

“kau… benar-benar penggila bola rupanya, sepak bola” ucapnya membuatku agak bingung hingga aku yakin kerutan halus muncul di keningku –aku mengernyit- dan hanya di balasnya dengan senyuman santai. Jemarinya kemudian beralih ke dalam tas selempangnya, mengeluarkan dua botol soda untuk kami berdua.

“Buktinya kau selalu hadir di setiap pertandingan sepak bola, dan menghilang di waktu yang lain. Semisal volly mungkin” ucapnya seakan mengerti apa yang aku pikirkan.

Aku mengalihakan pandanganku kembali ke lapangan di mana Xi Luhan berlari dengan keringat membanjiri tubuhnya. Aku yakin kini seulas senyum menghiasi bibirku. Sebenarnya alasanku cukup sederhana untuk berada di tempat ini. Duduk dalam kurun waktu kurang lebih 2×45 menit dengan mata yang hanya mengarah pada satu orang.

“Kau benar, aku suka olahraga ini. Mungkin karena terbiasa dengan kakakku. Kami sering bermain bersama dulu”

“Ahhh ya, aku hampir lupa bahwa kau adalah adik seorang Im Siwan. Pemain bola nasional yang keren itu. Astaga…” SooJung menepuk jidatnya, cukup keras hingga aku yang fokus pada lapangan mengalihkan pandanganku ke arahnya.

“ck.. sebenarnya kau mengenalku sejak kapan?” aku memutar mataku bosan.

“biar ku ingat! Kalau tidak salah saat aku menjadi siswa baru di Junior High School. Benarkan?” ia berujar semangat. Kupikir ia sedang bernostalgia dengan ingatannya.

“Tapi sebenarnya bukan itu alasan utamaku untuk tetap berada di sini” ujurku dengan membuka kaleng soda yang tadi di berikannya –menyesapnya sedikit dan kembali menatap lapangan.

“Lalu apa?” dapat kurasakan nada antusias dari cara berbicaranya. Namun aku membiarkan pertanyaan itu mengambang tanpa jawaban hingga beberapa saat.

“Apa Yoona?” desaknya mengguncang bahuku pelan. Aku heran, ini adalah hal yang sungguh tak penting untuk dipertanyakan.

“Karena ini final! Dan sekolah kita masuk!” bohong –tapi tidak sepenuhnya bohong. Itu salah satu alasannya namun bukan alasan utama. Aku tak mungkin frontal dengan berkata jujur bahwa alasannya adalah Xi Luhan. Karena aku yang ingin melihatnya, karena aku yang mencintainya –ya, mencintai lelaki bermarga Xi itu.

“Kau yakin itu alasannya?” ia terdengar kecewa. Kenapa?

“Tentu, menurutmu apa lagi?”

“Kupikir kau menginginkan salah satu dari mereka” tunjuknya ke arah para pemain di lapangan.

Aku mendengus pelan “Lalu apa pentingnya?”

“Tentu saja penting nona Im yang terhormat. Bukankah itu berarti kau telah menemukan cinta pertamamu. Hahaha, tak dapat kubayangkan seorang gadis Senior High School tingkat 2 sepertimu masih belum pernah merasakan apa itu cinta” SooJung tertawa puas akan ucapannya yang entah berada diposisi mana –menasehatiku atau mengolokku. Okey, gadis ini memang cukup dekat denganku hingga hampir mengetahui segala sesuatu tentangku. Bahkan kami selalu duduk berdampingan di kelas. Tapi harus ku tekankan kata ‘hampir’ tentang pengetahuannya akan diriku.

“Lalu kau sendiri kenapa kemari? Bukankah kau benci sepak bola?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Mungkin aku sedang berusaha menyukai apa yang dia sukai” ujarnya agak bimbang setelah menghentikan tawa kakunya. Ia menatap seorang pemain di lapangan hijau – itu Kim JongIn – kekasihnya yang baru berjalan sekitar 3 bulan.

“Jangan memaksakan dirimu. Untuk bersama tidak harus sama, kadang perbedaan dibutuhkan” aku menepuk pelan punggungnya sebelum kembali menyesap sodaku.

“Ciih, kau seperti sudah berpengalaman saja dengan cinta.”

***

Seperti hari-hari sebelumnya, aku melangkahkan kakiku menuju perpustakaan sekolah di saat jam pulang baru saja berbunyi. Aku senang ke sana, menghabiskan waktu selam kurang lebih 2 jam untuk berkutat dengan buku-buku yang menjadi favoriteku. Kata orang banyak itu membosankan, namun untukku ini adalah kesenangan terlebih ada dirinya di sana –pasti, aku yakin itu.

Setelah memilih buku yang akan menemaniku kali ini, aku kembali melangkah bangku yang biasa kutempati – bukan karena tak ingin di tempat lain, tapi ini karena dia. Dia yang serasa akan membuatku terhuyung tanpa melihatnya sehari saja.

Aku tersenyum, dugaanku tepat sekali. Dia –Xi Luhan – tepat berada di sana, di depan rak buku ke dua dari belakang. Duduk nyaman di bangku yang berhadapan dengan bangku yang sekarang menjadi tumpuanku. Berjarak sekitar 7 meter, cukup jauh namun menjadi jarak terdekat untukku selama ini dapat melihatnya.

Earphone hitam yang tersambung langsung dengan MP3 di atas meja terlihat bertengger manis di kedua telinganya. Matanya focus menatap pada buku yang berada di hadapannya. Aku kembali tersenyum, perlahan tanganku terangkat memegang earphone yang juga terpasang di telingaku.

Sungguh sulit dipercaya, namun aku baru saja menyadari sebuah fakta bahwa kami ini sama. Aku dan Luhan… aku dan si lelaki bermarga Xi yang selama setahun terakhir ini menjadi pusat perhatianku – cinta pertamaku – rasa suka yang hanya kupandam seorang diri sejak duduk di tingkat I SHS.

Kami yang sama-sama menyukai sepak bola.

Kami yang sama-sama memiliki mata rusa.

Kami yang sama-sama berambut cokelat.

Atu kami yang sama-sama senang membaca dengan earphone terpasang di telinga.

Walau sederhana, tapi aku senang. Karena kami memiliki beberapa kemiripan. Dan astaga!!! Buku yang hendak ku baca sama seperti buku yang ad di tangannya – buku sastra – apa dia juga sastra? Sama sepertiku?

***

Hari berlalu begitu cepat tanpa kusadari, liburan musim panas telah usai dan hari ini aku kembali menginjakkan kaki di sekolah. Satu-satunya tempat di mana aku dapat melihatnya – Xi Luhan. Ini tahun ketiga kami di Senior High School. Semester dua, itu berarti tak cukup setengah tahun lagi untukku dapat melihatnya –walau aku sungguh berharap satu semester adalah waktu yang lebih lama. Beruntung kami tak lagi berada di kelas yang berbeda seperti pada tingkat 1 dan 2. Kami berada di kelas yang sama meski ia yang duduk di baris ke tiga dari jejeran pertama di sebelah timur. Sedangkan aku duduk menyendiri di pojok kelas terbelakang bagian barat. Tepat di samping jendela yang mengarah langsung ke lapangan utama. 2 jejeran bangku menghalangi jarak kami – tapi aku senang. Setidaknya kami masih berada di ruang yang sama, menginjakkan kaki di lantai yang sama, menghirup udara di tempat yang sama, dan memulai kelas di waktu yang sama.

Perlu diketahui selama kenaikan kelas, aku semakin sering memperhatikannya. Bagaimana ia tersenyum, bagaimana ia menggerakkan penanya, bagaimana tawanya, dan segala sesuatu yang menjadi kebiasaannya. Sebut saja tidur di saat kelas kosong –ia sering melakukan itu. lagu favoritenya, makanan dan minuman kesukaannya, angka keberuntungannya, zodiac, hewan kesayangannya, mimpi atau warna kesukaannya.

Dan satu yang membuatku terkejut. Lagi-lagi kami sama. Hampir semua, dalam segala hal. Kami memang sama bahkan sampai kehal-hal kecil. Sungguh ajaib, kami yang sampai kinipun tak pernah saling bertegur sapa justru memiliki kesamaan yang sangat menonjol. Bahkan ketika kami di tempatkan di ruang yang sama, kami tak pernah berbasa-basi atu semacamnya. Aku terkadang iri terhadap SooJung yang mudah berteman dengan siapa saja. Dengan sikapnya yang cerewet dan tak bisa diam, ia telah menambah daftar temannya di hari pertama kami di tingkat 3 dulu. Sedangkan aku? Aku tak pernah memilih untuk menjadi gadis pendiam, tak pernah memilih untuk menjadi seseorang yang sulit bergaul. Aku ingin seperti gadis normal pada umumnya – mempunyai banyak teman untuk berbagi cerita. Tapi entah bagaimana sebagian dari diriku tak pernah melakukan apa yang aku pikirkan.

“Kau mau pulang bersama?” Tanya SeoHyun saat aku membereskan buku-buku ke dalam tas ranselku. Sekilas aku melirik Luhan yang tengah berjalan ke luar kelas bersama Kris.

Aku menggeleng “Maaf, aku akan ke ––––“

“Perpustakaan, iyakan?” potong SooJung di sampingku. Dasar sok tahu.

Aku kembali menggeleng, dan dapat kulihat SooJung mengernyitkan keningnya heran.

“Lalu? Kau tak ke perpustakaan hari ini? Tumben sekali” ujarnya menarik tas selempang miliknya di atas meja, meletakkannya di bahu kanan dan kembali menatapku bertanya.

“Apa kau mau nonton bola?” tebak SeoHyun, aku tersenyum lantas mengangguk.

“Ck, tak berubah! Kurasa kau harus mencari seseorang yang gemar bermain bola, hahahah” SooJung menepuk pundakku keras. Cukup sakit sebenarnya, tapi sudahlah. Aku bukan tipe gadis yang gemar memperpanjang masalah.

“Aku pergi! Sampai jumpa!”

***

Dan di sinilah aku, duduk menyaksikan pertandingan terakhir Luhan sebagai kapten tim sebelum di ganti karena ia yang harus fokus pada ujian akhir nanti. Ia baru saja mencetak gold dan tanpa sengaja mata kami bertemu. Aku yang di tribun penonton dan ia di tengah lapangan.

Jantungku seakan ingin melompat kala seulas senyum di lemparkannya padaku. Tak lama, hanya sekitar nol koma sekian detik sebelum ia kembali asik dengan teamnya –merayakan gol barusan. Namun demi apapun di bumi ini, itu sungguh adalah senyum pertamanya padaku selama hampir 3 tahun aku mengenalnya dan ia yang baru mengenalku sekitar enam bulan semenjak kami sekelas.

Sulit dipercayakan? Kami sekelas namun tak pernah saling berkomunikasi. Entah mengapa, aku juga agak aneh mengetahui fakta yang satu ini. Bertemu pandangpun dapat di hitung jari dalam seminggu.

Sungguh aneh!

Tapi sekali lagi, aku tetap senang!

Dan kali ini, sejarah baru dalam hidupku baru saja terukir. Xi Luhan, ia tersenyum padaku untuk pertama kalinya! Aku bahagia, tentu. Dia cinta pertamaku memberi senyum pertama padaku hari ini setelah sekian lama aku yang selalu tersenyum karenanya. Membayangkan ia yang bermandi keringat di tengah lapangan bersama benda bulat di kakinya. Ia yang selalu berada di perpustakaan saat jam pulang – aku suka itu, tak banyak lelaki yang menjadikan perpustakaan sebagai tempat kunjungan wajib bagi meraka.

Ia tak banyak berubah dalam hari-hari yang kulalui. Begitu juga dengan diriku. Masih saja menjadi orang bodoh di belakangnya. Mungkin aku seperti stalker, aku bahkan mengetahui semua kegitan rutinnya. Aku tahu aku bodoh, memendam perasaan yang bahkan telah menggerayangiku sejak pertama kali menginjakkan kaki di sekolah ini.

Lucu sekali!!!

“Awas!!!” samar aku mendengar teriakan orang-orang di sekitarku, membuatku tersadar dari lamunanku. Aku mendongak, berpikir untuk mengetahui apa yang tengah terjadi. Namun disaat yang bersamaan benda keras terasa menghantam kepalaku – sial! Aku terkena bola! Sedikit menyesal mengapa aku memilih untuk duduk di barisan terdepan di tribun penonton. Alhasil sebuah bola mendarat dengan mulus di keningku.

Tanganku sibuk mengelus bekas tamparan bola yang masih terasa berdenyut sakit, mungkin saja keningku saat ini memerah. Aku menunduk, menutup mata dan menggigit bibir bawahku.

“Kau tak apa?” sebuah suara menginterupsi. Memaksa bibirku terbuka siap mengeluarkan umpatan yang mungkin saja akan terdengar kasar. Atau jika aku tak mampu mengendalikan diri, aku mungkin saja akan menamparnya. Mungkin.

“Kau tahu ini sangat sakit dan ka–––––?” ucapanku tak mampu ku selesaikan, rasanya setiap kata yang akan keluar tertahan di tenggerokanku. Enggan menggetarkan pita suara dan lebih memilih menghilang tanpa jejak. Aku sadar, dan sangat yakin jika kini aku tengah menampilkan wajah terbodoh yang ku miliki. Tubuhku memanas, untuk sesaat aku bahkan lupa bagaiman cara menangkap oksigen. Sendi-sendi di tubuhku bahkan tak dapat berfungsi seperti biasanya.

Di hadapanku –tepat di hadapanku, orang itu berdiri mentapku dengan khawatir. Tersorot jelas dari kedua mata rusanya yang memantulkan cahaya matahari –indah- orang yang selama ini hanya mampu ku tatap dalam radius beberapa meter kini berdiri di hadapanku dengan jarak tak lebih dari 3 jengkal. Xi Luhan, ia berdiri di sana.

“Hei.. kau baik-baik saja?” Luhan menggoyangkan telapak tangnnya di hadapn wajahku. Membuatku kembali tersadar dari lamunan singkat yang serasa menari-nari di setiap sudut otakku.

Aku mengerjap perlahan, detak jantungku bahkan berdentum dua kali lebih cepat dari biasanya. Tuhan, jika ini mimpi kumohon jangan ada yang membangunkanku dan biarkan aku tetap berada di dalamnya. Terlalu mustahil untuk di lewatkan meski hanya sedetik.

“Heiiii Nona!”

“Ahh aku tak apa” ujarku pelan, berbanding terbalik dengan apa yang tengah dirasakan kepalaku. Sakit tentu saja.

“Baiklah dan aku minta maaf” ia menunduk mengambil bola yang berada di sudut kaki kiriku, kemudian sedikit membungkuk meminta maaf lalu melangkah kembali ke lapangan.

Aku tersenyum kembali menatap punggungnya yang mulai menjauh. Ku tarik ucapanku yang menyesal duduk di barisan terdepan.

Kenapa?

Tentu saja karena sejarah baru kembali terbentuk. Meski itu terjadi tak lebih dari 60 detik, namun tetap saja. Itu pertama kalinya ia berbicara padaku. Itu pertama kalinya aku dapat melihat matanya dalam jarak yang dapat di katakan sangat dekat.

Xi Luhan….

Kau bahkan lebih keren dari jarak seperti tadi.

***

“Benarkah!? Kau dan Jessica jadian?” dapat ku dengar suara Oh Sehun yang menggema di sepanjang koridor hingga merambat masuk ke telingaku yag tengah terduduk di dalam kelas. Suasana hening semakin menambah volume dari suaranya yang terdengar antusias. Jam pulang sudah berlalu sekitar 20 menit yang lalu, namun aku masih sibuk berkutat dengan tugas yang di berikan guru Shin. Tugas yang tak sempat ku kumpulkan karena kecerobohanku –aku menghilangkannya. Sialnya guru killer itu hanya memeberiku batas waktu hingga sore ini. Sebenarnya sedikit mengganggu, mengingat waktu membacaku jadi terhambat. Namun apa boleh buat, semua ini agar aku dapat mengikuti ujian akhir darinya yang akan di mulai minggu depan.

“Kau benar-benar hebat Wu!!!” Aku menoleh kearah Sehun yang baru saja memasuki ruang kelas bersama Kris dan juga ………. Xi Luhan!?

“Oo, apa suaraku menggangumu? Maaf!” ucap Sehun kepadaku yang sebagai balasan aku tersenyum simpul. Kemudian berusaha kembali fokus pada lembaran putih di hadapanku yang sedikit lagi akan selesai.

“Jadi kau benar-benar pacaran dengan Jessica?” sulit, ini sungguh sulit. Mungkin jika orang yang baru saja mengeluarkan suaranya itu bukan Luhan, aku bisa saja telah menyelesaikan tugas yang tersisa satu nomor ini. Tapi karena itu dirinya, seluruh fokusku seakan teralihkan padanya yang kini telah duduk di kursinya.

“Ya, begitulah. Jessica itu tipe idealku, kami hampir sama dalam segala hal” suara baritone milik Kris kini terdengar. Membuatku sedikit tersenyum mengingat fakta bahwa aku dan juga Luhan yang memiliki banyak kesamaan. Mungkinkah kami akan bersama seperti Kris dan Jessica? –ahhh, kurasa khayalanku terlalu tinggi. Berbicara dengannya saja aku tak mampu.

“Itu artinya, kau hanya mencintai bayanganmu sendiri yang ada di diri Jessica” aku mengangkat wajahku dan memandang Luhan yang baru saja berucap pelan.

“Maksudmu?” Tanya Kris bingung.

“Kau mengatakan kalian sama dalam segala hal, bukankah itu berarti kau menyukai Jessica karena kau melihat dirimu padanya. Bukan dirinya yang sesungguhnya” aku sedikit tersentak, apakah ini artinya Luhan tak menyukai gadis yang memiliki banyak kesamaan dengannya? Apakah itu berarti tak ada kesempatan untukku?

“Aku ingin gadis yang berbeda denganku. Dengan begitu aku akan mencintainya seperti apa dirinya. Bukan karena kami yang memiliki banyak kesamaan. Bukan karena ia yang memantulkan sosok dalam diriku. Kupikir perbedaan akan menjadikan sebuah kisah menarik. Karena perbedaan itu menimbulkan sedikit masalah. Jika semuanya berjalan lancar bukankah itu terlalu monoton dan membosankan?”

Bersamaan ucapannya yang selesai, pena yang ku pegang terjatuh ke lantai. Ia sudah jelas tak akan menyukaiku. Xi Luhan tak akan pernah bersama Im Yoona. Hal yang kusesali, mengapa aku memilih menyelesaikan tugas ini di kelas hingga mendengar semua apa yang dikatakannya barusan? Dan mengapa ia dengan santainya mengucapakan hal yang dapat dikategorikan dalam hal ‘pribadi’ di saat ada ‘orang lain’ di antara mereka? Atau ia lupa bahwa aku tengah berada di ruangan yang sama dengan mereka?

Dapat kurasakan tatapan terkejut di layangkan ketiga orang itu padaku –mungkin akibat suara kecil dari penaku yang kini tergeletak di lantai. Aku sedikit membungkuk meminta maaf pada mereka, lantas mengambil pena berwarna biru langit itu. Membereskan buku yang berserakan di atas meja ke dalam tas ransel milikku dan bersiap mengumpul tugas pada guru Shin meski nomor terakhir belum ke selesaikan –ku rasa aku tak mampu berpikir dalam keadaan seperti ini. Yang kini kubutuhkan adalah kasur empukku.

“Lalu seperti apa tipe idealmu?” suara Sehun kembali terdengar, sepertinya mereka kembali ke topik awal tanpa terganggu sama sekali dengan kehadiranku.

“Tak ada hal semacam itu dalam hidupku. Tergantung mana yang terbaik kurasa”

“Apa kau memiliki seseorang?” rasanya aku ingin mencekik leher Kris yang dengan lancing bertanya seperti itu saat aku masih berada di sini. Aku tak ingin mendengar jawabannya.

“Ada!!” jawabnya mantab ketika ranselku sudah sempurna di tempatnya. Aku kembali melirik ke arahnya. Sakit, ia punya seseorang di hatinya dan sudah 100% orang itu bukan aku. Ya, tentu saja –memangnya siapa kau Im Yoona? Hanya figuran yang berarti apa-apa.

“Siapa?” langkahku mulai cepat saat Kris kembali bertanya. Tidak, aku tak ingin mendengar siapa orang itu. tidak, untuk tetap menjaga keutuhan hatiku saat ini.

Aku tahu aku tak punya hak apapun akan hal ini. Luhan bukanlah siapa-siapaku, dan aku bukanlah apa-apa baginya. Jarak yang mengantarai kami terlalu jauh meski tak dapat dielakkan bahwa kami memang sama. Aku tahu, aku bukanlah orang yang berhak berkata bahwa aku cemburu. Tapi bolehkah aku menentang gejolak di dalam dadaku?

TIDAK!!!

Aku benar cemburu denag gadis itu –siapapun dia. Begitulah aku menyebut beban di dadaku yang seakan membuat mataku semakin memanas. Masihkah dapat aku berharap untuk menjadi seseorang yang ada di hatinya? Meski itu hanyasebuah angan belaka. Orang itu bukanlah aku.

“Siapa dia Luhan?”

“Im Yoona!” langkahku terhenti tepat di ambang pintu. Telingaku masih normal dan tidak mungkin aku salah menangkap apa yang dikatakannya. Xi Luhan menyebut namaku ketika lagi-lagi Kris mendesaknya dengan pertanyaan yang sama.

Apakah itu aratinya gadis itu aku? Orang yang di sukai Luhan? Orang yang mengisi hatinya? Benarkah itu aku? Tapi bukankah kami sama? Dan bukankah Luhan tak tertari dengan gadis seperti diriku?

Tapi, itu tidaklah penting. Luhan mengatakan itu aku, dan berarti itu memang aku bukan?

“maksudmu gadis itu Yoona?” Sehun menunjukku tepat ketika aku berbalik menatap mereka –atau lebih tepatnya Luhan.

Aku tersenyum dengan mata yang sedikit memanas menahan haru. Cintaku selama ini tak bertepuk sebelah tangan? Sungguh? Ini seperti mimpi.

“Hahahaha, kau ini. Gadis itu bukan Yoona tuan Oh yang terhormat” mati… tubuhku terasa mati. Bahkan untuk beberapa detik jantungku berhenti memompa darah.

Apa yang barusan di katakannya? Gadis itu bukanlah aku? Lalu yang tadi?

“aku hanya ingin mengatakan , lembar jawabanmu terjatuh” terjawab sudah! Aku memanglah bukan apa-apa. Aku bahkan merasakan tusukan demi tusukan tak kasat mata yang kini menancap di hatiku. Menusukku sedikit demi sedikit hingga menghadirkan rasa sesak yang amat sangat mengekangku.

Ini bahkan lebih sakit dari tinjuan yang diarahkan kakakku –Siwan –dulu. Seperti aku yang di detik pertama di buat terbang jauh kea wan, namun pada detik selanjutnya aku di hempaskan begitu saja.

“Terimah kasih” ujarku getir ketika kertas itu telah kembali ketanganku. Seulas senyum terpaksa mengakhiri kisah hari itu.

Kau menghancurkan harapanku, Xi Luhan…

Kau menghancurkan kisah cinta pertamaku…

Kau menghancurkan segalanya tanpa kau sadari.

***

Orang bilang cinta pertama itu indah.. orang bilang kau akan merasakan sesuatu yang tak pernah kau rasakan sebelumnya.. dan ketika kau menemukan cinta lain setelahnya, kau akan menyadari seberapa besar keistimewaan cinta pertama. Mungkin kelak kau akan menemukan orang lain selain dirinya. Namun seiring berjalannya waktu, kau akan menyadari bahwa cinta pertama itu selalu lebih dari cinta setelahnya. Cinta pertama akan menyisakan jejaknya sendiri. Jejak yang terlalu sulit dihapuskan meski kau menginginkannya. Karena cinta pertama itu selalu istimewa.

Aku menutup mata usai membaca bagian akhir dari novel yang ku baca. Cinta pertamanya?? Mungkin benar, cinta pertamaku tak akan pernah ku lupakan. Terlalu aneh untuk membiarkannya menghilang.

Prlahan aku membiarkan punggungku menyentuh ranjang empukku di kamar. Besok adalah hari penentuan kelulusan, itu artinya besok adalah hari terakhirku dapat melihatnya. Sedikit berdebar, namun bukan karena masalah aku lulus atau tidak –sejujurnya aku tak memusingkan itu. tapi karena rencana yang telah ku persiapkan dengan matang untuk esok –meski aku tahu ini gila.

Masih terekan jelas dalam memoriku kejadian beberapa minggu lalu sebelum ujian akhir di mulai. Dia –Xi Luhan –yang sungguh telah membuatku hilang kendali atas diriku sendiri.

Kejadian yang tanpa kusadari mengubah diriku. Mengubah kebiasaanku. Waktu pulang sekolah tak lagi kuhabiskan di perpustakaan. Tribun penonton untuk sepak bolapun tak pernah tersentuh olehku. Earphone milikku bahkan tersimpan nyaman di atas nakas. Aku hanya menonton music show, mencoba genre music baru..

Aku mengubah diriku. Berusaha menjadi Im Yoona yang berbeda dengan Xi Luhan. Bahkan rambutku telah ku ubah menjadi hitam pekat.

Semua, semua kesamaan yang ada dalam diriku dengannya telah ku coba untuk mengubahnya. Namun apa daya… kebiasaan tetaplah menjadi kebiasaan.

Dan dengan sendirinya aku kembali menjadi Im Yoona yang memiliki kesamaan dengan Xi Luhan. Kata orang cinta itu pantas diperjuangkan selama kita mampu. Karena itu, aku akan memperjuangkan cintaku. Cinta pertamaku –XI Luhan – sebesar apapun resiko dari itu.

***

Sorak sorai haru masih terasa di sekitarku. Upacara kelulusan baru saja usai membuat senyumku tak dapat berhenti mengembang mengingat aku lulus dengan nilai terbaik –sulit dipercaya.

Namun tak berapa lama aku teringat dengan hal akan ku lakukan hari ini. Ku edarkan pandanganku mencari sosoknya di tengah keramaian.

“Ooh, Kris! Kau melihat Luhan?” tanyaku pada lelaki tiang yang baru saja mengambil foto bersama kekasihnya –Jessica.

“Luhan?? Tumben kau mencari seseorang” ia menatapku aneh. Apa aku semenjijikkan itu ketika membuka suara? Kenapa orang-orang selalu menatap seperti itu ketika aku mulai berbicara?

***

Langkahku begitu berat, detak jantungku bahkan terdengar begitu keras. Aku gugup, aku takut. Saat ini taman belakang sekolah adalah tujuanku. Tempat yang di katakana Kris ketika aku menanyakan keberadaan Luhan. Aku telah memantabkan nyaliku untuk mengungkapkan segalanya. Memberi tahu perasaan yang telah ku pendam selama 3 tahun terhadap dirinya.

Ku tarik napasku dalam. Setidaknya aku harus memberi tahunya, ia harus tahu bagaimana perasaanku.

Harus!!!

Langkahku terhenti bersamaan bulir kristal yang meluncur dari kelopak mataku. Kakiku bahkan terasa bergetar seiring pemandangan di hadapanku yang semakin menyayat hati.

Di depan sana, dapat ku lihat Luhan yang tengah memeluk hangat seorang gadis. Gadis yang bahkan tak kuketahui namanya namun ku yakini adalah orang yang di maksud Luhan hari itu. Senyum getir kembali terbentuk di bibirku. Mereka bahkan tak menyadari keberadaanku yang tengah bersimbah air mata di sini.

Sepedih inikah cinta pertamaku?

Bahkan di hari yang telah ku janjikan untuk mengungkapkan segalanya hancur begitu saja, bagai debu yang di terpa angin. Apa aku dengannya memang tak pantas bersama?

Dengan hati yang tak lagi berbentuk aku membalikkan badanku. Melangkah meninggalkan tempat itu dengan sisa tenaga yang kumiliki bersamaan dengan dering dari I-phone di sakuku.

“Hallo?……dimajukan?…..baiklah….”

Mungkin memang harus begini.

***

“kau habis nagis?” Tanya ibu saat aku baru saj menemukannya di bandara bersama ayah yang tengah menunggu kedatanganku

Tanpa menjawab aku memeluk wanita yang telah melahirkanku itu. menangis di pundaknya, menumpahkan kesedihanku di sana. Dapat kurasakan ibu mengelus punggungku sayang, membisikkan kata Don’t Cry berkali-kali hingga aku merasa tenang dan melepasnya.

“Kenapa menangis? Apa karena kami memajukan penerbanganmu hingga kau tak sempat merayakan kelulusan bersama teman-temanmu?” ayah bersuara, membuatku menatap pria paruh baya dengan kaca mata membingkai kelopaknya.

“Tidak! Aku hanya terharu akan kelulusanku! Aku mendapat nilai terbaik” Bohong! Aku tahu tak sepantasnya aku berbohong kepada mereka. Tapi aku terlalu pengecut hanya untuk sekedar jujur padanya.

“kau memang terbaik sayang”

“Bagus! Sekarang gantilah pakaianmu, peswat akan segera take-off” ayah menyerahkan koper biru langit kepadaku lalu tersenyum hangat.

“Belajarlah dengan baik di Negeri orang, nak” mereka memelukku sekilas sebelum mengucapkan salam perpisahan dan aku melangkah pergi dari sana dengan senyum terpaksa.

Rencana yang telah ku susun rapi hari ini gagal total. Aku yang ingin mengungkapkan perasaanku sebelum terbang ke Inggris untuk meneruskan sekolah telah gagal ku lakukan. Aku meringis pelan membayangkan sosok Luhan yang terakhir kalinya dapat ku lihat tadi.

“Maaf nona, harap mematiakan ponsel anda” ujar pramugari ramah ketika mendapatiku memainkan ponsel di pesawat.

Aku mengangguk pelan dan hendak mematikan ponsel. Namun entah dari mana, jemariku seakan bergerak sendiri menuliskan sebuah pesan singkat.

“Goodbye, my first love. Forever love you, and thankyou for everything :’(“

Ku cari kontak Luhan di ponselku dan menekan tombol send di sana –nomor yang kudapat secara tak sengaja ketika Krystal menitipkan ponselnya padaku beberapa minggu yang lalu. Setelah memastikan pesanku terkirim, segera kumatikan benda itu –menarik keluar kartu SIMnya dan membuangnya sembarangan di dalam pesawat.

Inilah yang terbaik…Melupakan Luhan, dan memulai sesuatu yang baru di Inggris… Selamat tinggal cinta pertamaku, semoga kau bahagia bersama pilihanmu…

Aku kemudian menutup mataku, mencoba terlelap dengan baying-bayang Xi Luhan. Sebulir Kristal bening terasa menyapu pipi bagian kananku. Lagi-lagi senyum memilukan menghiasi wajahku.

Kisah cintaku yang berakhir tanpa adanya kata untuk memulai. Bahkan aku masih sangat jauh dari garis start.

Semua berakhir…

Aku dan dia… Im Yoona dan Xi Luhan…

Cinta pertamaku yang tak akan kulupakan.

“Untuk bersama tidak harus sama, kadang perbedaan di butuhkan” entah dari mana, aku kalimat itu tiba-tiba terlintas di pikiranku. Kalimat yang ku tujukan untuk Krystal setahun yang lalu. Aku menghela nafas dalam ketika otakku baru saja memahami kalimat yang dulu kuucapkan –memahaminya secara utuh.

Tak selamanya orang yang memiliki persamaan akan selalu bersama. Karena kadang kala perbedaan itu di butuhkan untuk saling mewaranai dan melengkapi. Dan seperti itulah aku dan Luhan.

“Kisah yang berakhir tanpa di awali”

Seperti dua kutub sejenis di pertemukan yang akan saling tolah menolak. Seperti itulah aku dan Luhan. Terlalu sama hingga tak dapat bersama. Aku adalah kutub selatn dan begitupun dengannya. Andai sesorang diantara kami bersedia menjadi kutub utara, mungkin kisah ini akan berakhir bahagia.

“Untuk bersama tak harus sama”

==FIN==

Endingnya ak enakya? Maaf …. hehhe

38 thoughts on “(Freelance) Oneshot : My First Love

  1. Asli.. FFnya keren banget. Endingnya masa iya mau gini. LuYoon ngga bersatu ya?
    Inikan ssemua Yoona POV ya. Lalu bagaimana dengan Luhan side, kita tidak tau apa yang ada dipikirannya Luhan. Kali aja dia juga suka Yoona kn?

    Sequel pliiiss.. Aku suka bgt tulisanmu. Fighting!

  2. Sumpah demi apa thor,aku bacanya ampe nangis tau gak. Kenapa Luhan sama Yoona gak bisa bersatu? Apa karena mereka itu sama? Tapi mereka kan gak terlalu sama thor,pasti ada sesuatu yang beda dari Luhan sama Yoona. Aku gak ikhlas banget thor kalo endingnya gini. Buat Yoona bahagia dong thor,buat Yoona bahagia sama cinta pertamanya. Jeballl.,,

  3. sakit bangey bacanya T.T duhhh, aku bosa bayangin apa yang yoona rasakan. kalo jadi yoona pengen aja ngeganbar luhan sama kris ><

  4. Omg,,ksian yoona😦
    Ah lulu,,siapa gdis yg kmu pluk itu?
    Why you stega ini,,ishh
    Yoon yg sbar ya,psti d inggris ad kok pnggantiny,mngkin sehun._.*modus
    Kerenn

  5. ihh sumpahlah nyesekkk….
    cinta pertama tdk harus menjadi cinta trakhir bukan? ku harap kau menemukan cinta trakhirmu yoona. ^^..

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s