(Freelance) My Prince (Chapter 2)

mp 1Poster by junghara [Thanks <3]

My Prince

by deersnow

main cast Oh Sehun – Im Yoona

other cast Tiffany Hwang – Jessica Jung – Park Chanyeol

genre School Life – Fluff – Romance

rating T

disclaimer Cast belong’s God. I just borrowed the names of characters and places.

Please keep RCL – Hope you like it

Happy reading!

 

“Aku….”

“Aku apa?” tanya ku tidak sabaran

“Aku hanya ingin memberi tahu mu bahwa sebenarnya……”

“Yak! Sehun-ah. Sedang apa kau di sana? Kata mu kau ingin pulang?” tanya Chanyeol heran

            Demi Tuhan, aku akan membunuhmu Park Chanyeol! Bisa-bisanya kau menghentikan pembicaraan kami! Lihat saja nanti!

“Memberi tau ku tentang apa?”

“Ah-eh, ah tidak tidak. A-aku tak jadi memberi tau apa-apa. Aku pulang dulu ya, Yoong. S-sampai bertemu besok!” seru Sehun tergagap sambil berjalan mundur menuju gerbang rumah lagi.

Aneh. Tidak biasanya dia pamit pulang padaku. Tak biasanya juga dia bertingkah seperti tadi. Apa dia salah makan? Ah sudahlah.

Aku pun naik ke kamarku. Dan seperti biasa aku langsung mengecek smartphone ku. Oh, ada email. Dari Eomma-nya Tiffany. Okay, tak heran lagi, Eomma Tiffany memang sering mengirimiku email menanyakan kabar Tiffany di sini dan kalimat pembujuk agar Tiffany kembali ke Amerika sana. Karena beliau tau pasti, anaknya tidak akan membalas emailnya.

Eomma Tiffany orang Korea asli yang sangat cantik. Sementara Ayahnya orang Amerika asli. Yeah, bisa kau bayangkan hasil perpaduan mereka seperti apa. Eomma dan Appa Tiffany masih menetap di Amerika—aku masih belum tau pasti di kota apa dan dimana—sementara Tiffany malah ingin menetap di Seoul. Bisa dibilang aku sangat mengagumi Fany. Dia sangat cantik, kulitnya putih cemerlang—tak seperti aku yang berkulit putih pucat seperti mayat—dan rambutnya berwarna blonde alami. Dan nilai tubuhnya di nilai 9,3 oleh cowok di kelas. Keren, bukan? Dia bernilai sembilan koma tiga sementara sahabatnya benilai empat. Sungguh perpaduan yang manis.

Kembali ke email tadi. Kira-kira begini isinya.

Hello, Yoona! Bagaimana kabarmu disana? Baik-baik saja kan? Oh ya, bagaimana dengan Fany? Apa dia sudah berubah pikiran? Ahjumma minta tolong ya Yoong, bujuk Fany agar dia mau kembali ke Amerika. Kamu juga sekali-sekali datang ke sini. Disini namja nya hot-hot sama keren-keren, loh Yoong!

Yeah, walaupun cowok di sana keren, ku yakin tak ada yang se keren Sehun. Hooaamm… ternyata aku sudah mengantuk, biarlah Email dari Eomma Fany tidak kubalas sekarang.

{{o}}

Ternyata, Chorong tidak pindah. Entah Fany dapat berita darimana. Yang pasti, dia salah besar. Buktinya Chorong masih setia berdiri bersama gengnya di depan gerbang sekolah sambil memelototi ku. Bukan rahasia lagi kalau Chorong menyukai—bahkan mencintai—Sehun setengah mati. Dan mengetahui aku telah berpacaran dengan Sehun, yang semula dia sudah tak menyukaiku, sekarang makin membenciku. Bahkan berniat memusnahkan ku dari muka bumi ini.

Aku pun kembali berjalan ke kelas tanpa sama sekali menghiraukan Chorong dan gengnya. Saat sampai di depan kelas, aku langsung di sambut Fany dengan cerianya.

“Kenapa kau lama sekali datangnya? Aku menunggumu sedari tadi.”

“Ini,” balasku sambil menyodorkan buku tugas Kim Sonsaengnim pada Fany. Aku tau bahwa dia pasti belum mengerjakan tugas dan kalimat penyambut tadi hanya untuk berbasa-basi saja. Aku sudah hafal kelakuan Fany.

“Uwaa.. Kau seperti peramal saja, Yoong,” seru Fany sambil mengambil buku dari tanganku lalu kembali ke tampat duduknya. Thanks God, sudah memberi keceriaan untuk Fany sebentar saja sebelum Jessica datang.

Kriingg~

Bel berbunyi. Aku bisa mendengar dengusan kesal Fany yang duduk di sebelahku karena dia belum selesai menyalin tugas.

“Selamat Pagi, yeorobeun~” sapa Kim sonsaengnim sambil berjalan menuju meja kebesarannya. “Ya, pagi ini saya akan memperkenalkan teman baru kalian. Ya silahkan masuk, nak” ajak Kim sonsaeng pada murid baru itu.

Setelah itu masuklah Jessica—kupikir begitu—dengan anggunnya. Memang benar penjelasan Chanyeol tentang Jessica—cantik, tinggi, seksi, menawan—dan terlihat jelas semua mata namja di kelas langsung berbinar dengan mulut menganga. Aku melirik Fany yang kini sedang menggigit pena-nya dengan tatapan kesal sambil mendengus untuk Jessica. Oh yeah, bahkan ia melupakan tugas nya yang belum selesai.

“Silahkan perkenalkan dirimu,”

“Perkenalkan, nama saya Jessica Jung. Kalian semua bisa memanggil saya Jessica atau Sica saja. Saya pindahan dari Amerika. Saya pindah kesini karena Appa saya kebetulan di perintahkan bekerja disini. Mohon bantuannya ya,” ucap Jessica tanpa ada nada gugup di suaranya. Jika aku berada di posisinya, bisa dipastikan aku akan pingsan bahkan sebelum membuka mulutku.

“Ya Jessica-ssi, silahkan memilih tempat duduk yang kosong. Baiklah sekarang kita mulai saja pelajaran hari ini… Oh iya kumpulkan juga tugas minggu lalu yang saya berikan,” balas Kim Sonsaeng yang diteruskan ocehan panjangnya tentang pelajaran yang ingin sekali aku hapus dari dunia ini.

“Oh God…..” lirih Fany, kurasa dia akan mendapat hukuman hari ini karena tugasnya belum selesai. Bersabarlah Fany-ah!

{{o}}

Sekarang sudah saatnya istirahat. Seperti dugaanku, Fany memang di hukum saat itu sampai pelajarannya selesai yang berarti dia harus berdiri—ya, berdiri, tidak boleh duduk—di depan kelas selama satu setengah jam penuh.

“Aku mau mati sajaaa! Kakiku serasa mati rasa Yoong. Apalagi hati ku ini, huh seperti ada api saja!” teriak Fany saat di kantin, yang untungnya sedang sepi. Tak bisa ku bayangkan jika sedang ramai, bisa-bisa kami akan dilempari kimchi ataupun kimbap oleh seisi kantin, atau tidak.

“Sudah kubilang, kan. Harusnya kau mengerjakan tugas itu tadi malam. Bukannya marah-marah pada ku. Dan apa kau mau telingaku yang indah ini rusak karena ocehanmu tentang Sica itu?” balas ku sambil menyuap nasi ke mulutku

“Ayolah, Yoong. Kau tidak tau bagaimana rasanya di saingi oleh yeoja yang sama sekali bukan tandinganku, kan? Huuuh, kalau bisa, sudah kupatahkan kakinya yang…”

Aku tak mendengarkan ocehan Fany lagi karena aku melihat objek yang lebih menyenangkan di lihat. Di meja pojok kantin, ada Chanyeol dan Sehun yang sedang makan dan tertawa bersama. Lihat, bahkan pacarku lebih suka bersama kakakku dari pada aku!

“Yak Yoong! Kau melamun atau apa sih? Kau tidak mendengarkan ku sedari tadi ya?!” seru Fany saat tau dirinya di acuhkan oleh ku. “Sebegitu menawannya kah Sehun sampai kau melupakanku?” ucapnya setelah mengikuti arah pandangku

“Habisnya, kau mengoceh tentang Sica terus. Aku sama sekali tidak tertarik, tahu.”

“Oh My God! Lihat itu, Yoong! Sica duduk bersama Chanyeol dan Sehun! Dasar yeoja kecentilan!”

“Aigo, Fany-ah. Kan kau memang sudah tau kalau Yeolli mu itu mengincar Sica. Ya pasti dia lah yang mengajak Sica untuk duduk bersama. Kau ini bagaimana,” balasku berusaha terdengar tenang. Sebenarnya, aku juga khawatir dengan Sehunku. Bagaimana tidak, Sehun seribu kali lipat lebih keren dibandingkan Chanyeol yang lebih mirip tiang listrik itu. Bisa-bisa Sica malah menyukai Sehun, bisa kacau urusannya.

Aku terus memperhatikan meja Sehun sementara Fany melanjutkan ocehan tentang cara berjalan Sica yang menurutnya seperti bebek. Sepertinya Sehun menangkap lirikanku, ia berbalik menatapku dan tersenyum kecil. Aku hanya bisa membalasnya dengan senyum canggung ku. Berarti kini masih aman, Sehun masih milikku.

”Sebenarnya ya Yoong, aku masih tak percaya bagaimana kau bisa berpacaran dengan Sehun,” tanya Fany saat ia memergokiku lagi sedang menatap Sehun

“Aku pun masih tidak percaya Fany-ah,” seketika itu juga aku mulai memutar memoriku 2 bulan lalu

{{o}} (Flashback)

“Sehun, kau yang kena! Truth or Dare?” seru Jinwoon, teman sekelas Sehun. Malam ini aku sedang berada di rumah Sehun karena hari ini ia berulang tahun. Sebenarnya aku tak mau datang kesini kalau tidak dipaksa Chanyeol. Selain aku tidak dekat dengan Sehun, disini hanya aku yang masih kelas sebelas. Ini memang hanya pesta kecil-kecilan, tamu yg diundang pun hanya beberapa teman sekelas Sehun saja. Sekarang, mereka semua—termasuk aku karena dipaksa—bermain Truth or Dare. Dan mungkin aku beruntung karena aku belum ditunjuk oleh botol air yang diputar itu.

“Dare,” jawab Sehun kalem dan cool. Bisa dibilang dia memiliki dua kepribadian. Yang satu, dia seperti anak kecil yang suka bermain PS dengan Chanyeol dan bertingkah imut di rumahku. Yang satu lagi, ia bersikap dingin dengan tampang cool di sekolah dan pada teman sekolahnya. Aku seperti melihat dua orang yang berbeda.

“Geurae, dare-nya kau harus menyatakan cinta pada Yoona.” usul Minho

“Mwo?!”

“Lihat! Kalian berdua terlihat cocok. Apalagi jika berbicara berbarengan seperti tadi. Ayolah, kau kan namja keren, Hun-ah. Masa menyatakan perasaan saja tidak bisa, Lagi pula ini kan hanya permainan, tidak usah terlalu dibawa ke hati,” jelas Kangjun

“Baiklah, terserah kalian saja.” Oh God! Tolong katakan dia hanya bercanda!

“Im Yoona, sebenarnya sejak dulu aku sudah menyukaimu. Bolehkah aku lebih mengenalmu dan dekat denganmu?” ucap Sehun dengan tanpa beban. Tapi entah kenapa ada perasaan sedih sekaligus senang karena ini hanya dare.

“Kkeut~ Ayo lanjutkan lagi! Hun-ah kau yang memutarnya,” ucap Minho lagi. Kulihat Sehun biasa-biasa saja, jadi aku mencoba untuk biasa saja juga.

“Tunggu dulu, kurasa Yoona harus segera pulang, tak baik kan perempuan pulang terlalu larut. Lagiupula aku sudah mulai mengantuk.” jelas Chanyeol. Karena teman-teman yang lain mengizinkan kami pulang, maka pulanglah kami berdua ke rumah.

.

Keesokan harinya , siang hari

.

“Yoong!” panggil Chanyeol dari kamarnya.

“Eoh? Sebentar..”

Ckleek

Ku buka pintu kamar Chanyeol dan melihat ia dengan Sehun sedang memerhatikan layar televisi.

“Ada apa memanggilku?”

“Bisakah kau menggantikanku bermain ini sebentar? Tadi Yongmi menelfonku, dia bilang, aku harus menghubungi Park Sonsaengnim,” ucap Chanyeol tanpa melirikku sedikitpun. Ia tetap memandangi televisi dan tangannya bermain stick. Huh, tak sopan!

“Tapi aku tidak mengerti cara mainnya. Memangnya tak bisa di pause dulu? Lagipula aku ada tugas untuk besok.” balasku sambil menyenderkan badan di kusen pintu

“Aku bisa mengajarimu dulu, kalau kau mau,”

“Oh lihatlah, Yoong. Sehun mau mengajarimu. Ini ambil, cepatlah, nanti Yongmi bisa memarahiku.” Chanyeol langsung mengambil tanganku dan menaruh stick PS disana dan bergegas keluar kamar. Kalau begini caranya, aku tak kan bisa membantah lagi. Yang ada aku yang akan dimarahi Chanyeol.

“Kemarilah, aku akan mengajarimu.” Tangan Sehun melambai ke arahku. “Kenapa diam saja? Kau takut padaku? Tenang saja, aku tidak akan menggigit yeoja manis sepertimu,”

Oh My God! Aku merasa terbang di surga! Jika ini mimpi, aku bersumpah tak ingin bangun selamanya! Jangan bangunkan aku Ya Tuhan!

Tiba-tiba aku merasa tanganku ditarik dan aku dibawa duduk di karpet depan televisi oleh Sehun. Setelah itu, dia langsung mengoceh tentang cara bermain game melawan para alien itu. Aku tak bisa berkonsentrasi pada omongannya sekarang karena aku sedang asik memandangi Sehun dengan jarak dekat seperti ini.

“Mengapa kau malah memandangiku? Apa aku terlihat aneh?” tanya Sehun tiba-tiba yang membuatku hampir terlonjak dari tempat duduk

“O-Oh tidak, kau terlihat tampan seperti biasanya.” Bodoh kau Im Yoona! Bisa-bisanya kau mengatakan hal itu di depan namja yang kau kagumi. Bodoh!

“Really? Gomawoyo. Kau juga terlihat lebih manis hari ini,”

“Be-benarkah? Terima Kasih”

Swiing~

“Apa kau tidak memiliki kekasih?” Kata-kata itu langsung melucur bak air terjun dari mulutku ini. Kau ini sebenarnya kenapa sih, Yoona?

“Memangnya kenapa kalau belum?” jawabnya kelewat santai, sambil meng-exit game alien aneh itu.

“Aku hanya bertanya, habisnya hampir setiap malam kau ada disini, hahaha” candaku sambil tertawa sangat renyah, lebih renyah dari kripik kentang Ahjumma Ly yang lezat itu kurasa.

“Hahaha, benar juga ya. Iya, aku belum mempunyai kekasih” sekali lagi, ia menjawabnya dengan sangat-santai dan kini disertai dengan senyuman mautnya itu. Cubit aku sekarang!

“Uwa, masih ada kesempatan ya,” kataku dengan volume sangat kecil, namun aku yakin dia mendengarnya, karena dia langsung menatap mataku dengan ekspresi yang tak kumerti.

Demi Tuhan! Aku sama sekali tidak bermaksud mengatakan kalimat itu! Tolong jangan cap aku sebagai gadis-kecentilan-macam-si-centil-chorong itu. Salahkan saja lidahku ini yang tak terkendali ini.

“Maksudmu? Kau mau menjadi kekasihku memangnya?” tanyanya sangat-sangat-santai dan penuh-senyuman-penuh-karisma-tak-terkalahkan.

“Asal kau tak bermain-main dengan ucapanmu ini, aku mau-mau saja,” aku mencoba menetralkan suaraku. Namun gagal total, sekarang aku malah terdengar seperti suara kucing yang sedang kedinginan.

“Tentu saja aku tak bermain-main. Tapi, jika kau menjadi kekasihku, tolong terima aku apa adanya. Maksudku, aku tak terlalu pandai dalam menyenangkan perempuan. Aku tak begitu paham tentang perempuan. Kau mau memahamiku?” tanyanya sambil menatapku lekat-lekat. Apanya yang tak bisa menyenangkan perempuan? Kau bernafas saja sudah cukup membahagiakan kaum kami!

“Of Course!” seruku sambil mengukir senyum termanis yang kupunya.

“Gomawo,” balasnya dengan senyum tak kalah manisnya sambil mengacak pelan rambutku.

{{o}}(Flashback off)

“Yoong? Yoona? Hey, Yoona-ya? Kau kenapa melamun?” tanya Tiffany sambil melambaikan tangannya di hadapanku. Aku pun tersadar.

“A-Eh Tidak, aku tak melamun. Apa yang kulewatkan?” sahutku sambil menengok ke meja Sehun dan Chanyeol. Tak ada yang berubah selain Jessica sudah menghilang dari sana.

“Tidak ada. Ohya Yoong, aku punya cara agar Sehun peduli padamu!” seru Fany yang untungnya tak terlalu keras itu.

“Benarkah? Bagaimana?” tanyaku tak bersemangat. Siapa yang bersemangat jika sahabatmu memberikan usulan yang sangat “brilliant” untukmu?

Bayangkan saja, minggu lalu Fany menyuruhku untuk berangkat dan pulang sekolah bersama Sehun. Hari itu aku habis di celotehi oleh Chorong. Lalu Fany pernah menyuruhku memberikan hadiah untuk Sehun di lokernya. Namun gagal karena ia tak membuka lokernya itu hampir 2 minggu dan kimbap yang ku beri pun basi, meninggalkan bau yang tak sedap di lokernya. Lalu sekarang apalagi?

“Kau coba ajak ia pergi menonton bioskop. Ku pastikan dia mau.” jawab Fany sambil tersenyum lebar

“Kau yakin? Aku tak yakin, kupikir ia lebih mementingkan latihan dancenya dibanding menonton bioskop denganku.” ucapku sedih.

“Ayolah, kau kan belum mencobanya. Jika ia mau, aku akan membantumu berdandan agar kau tampak lebih menawan.” tukas Fany tetap tersenyum bodoh seperti tadi.

“Baiklah akan kucoba,”

{{o}}

Setelah bel pulang berbunyi, aku bergegas menuju ruang kelas Sehun. Aku melihatnya sedang memberesi bukunya sendirian. Karna ia sendirian, aku pun mempercepat jalanku. Namun sebelum aku mencapai pintu kelasnya, aku melihat ada Yeoja yang terlebih dahulu menghampiri Sehun. Aku pun mengendap-ngendap ingin menguping pembicaran mereka dan bersembunyi di bawah jendela.

“Annyeong, Sehun.” ucap Yeoja itu. Terdengar sangat ceria.

“Ah, ne. Annyeong,” balas Sehun dengan nada biasa. Biasa yang kumaksud adalah nada yang terdengar dingin dan kalem.

“Emmm… Boleh kan aku pulang bersamamu? Aku takut kalau pulang sendirian…” tanya Yeoja itu dengan nada imut yang dibuat-buat. Aku merasa familiar dengan suara itu. Jadi aku memberanikan diri mengintip untuk melihat wajah Yeoja itu.

Oh tuhan! Itukan Jessica!

TBC

Author’s Note: Hwaaa.. maaf banget, chingu.. Lama banget ya chap ini postnya? Aku hitungin udah sekitar 24 harii. Ada yang nungguin gak? Nggak yaa huu. Maaf nih lama, soalnya tugas makin banyak, banyak ulangan, selalu ada pr, apalagi nnt tanggal 8 ada UAS;( Maaf juga soalnya ff ini makin kacau dan gak seruu. Oiya, yang nanya gimana Yoonhun bisa pacaran udah tau kan jadinyaa;) dan yang minta konflik banyak, maaf lagi nih soalnya disini konfliknya belum ada lagii. Tapi nnt chap 3 pasti ada deh! Aku janji gak PHP lagii~ Dan yang minta di panjangin ffnya, maaf ya belum dikabulkan, soalnya lagi buntu sama ide nihh. Pokoknya segala kekurangan mohon dimaafkan yaa^^ Please RCL!

52 thoughts on “(Freelance) My Prince (Chapter 2)

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s