(Freelance) Catastrophically [1st]

catatstrophicallyPark Nukyeon’s present

Catastrophically

staring

Im Yoona, Oh Sehun and Huang Zi Tao

Also

Choi Minho, Wendy Son, Lu Han and Kim Jongin as supported cast

PG17// Chaptered // Fantasy, Romance, Friendship

Thank you to Cassandra Clare for the inspiration and poster goes to Sifixo@Poster Channel

All of the cast are belongs to God // This fanfic isn’t for a sider

Also published in Adara Ambrose

Prolog 1 • Prolog 2 • Prolog 3

 

Catastrophically

Chapter 1

Seoul, June 2005

Huang Zi Tao melempar pisau peraknya itu kearah iblis yang berada di lorong tersebut.

Clash

Tepat sekali menusuk di jantung iblis itu. Nanah bercampur dengan darah yang bercucuran dari tubuhnya. Tidak lama kemudian, iblis tadi telah berubah menjadi seonggok daging gosong. Tao menunggu sampai asap dari iblis itu hilang. Bukannya Tao takut dikalau iblis itu bangun lagi. Tapi, Tao jijik akan iblis itu. Bau darah iblis itu benar-benar menusuk hidung Tao. Tao mendekati daging gosong itu dan ia mencoba mencabut pisau peraknya. Tapi, terlambat. Asam dari darah iblis itu malah memakan bilah pisau perak Tao. Tao mengumpat cukup keras dan melempar sejantanya itu. Baginya, pisau itu sangat bagus. Ia menendang daging gosong itu ke arah gorong-gorong di dekatnya. Ya, iblis itu sudah mati atau kembali lagi ke neraka. Tapi, kematian sebuah iblis tidak bisa benar-benar bersih. Pasti saja selalu meninggalkan bangkai. Dan Tao membenci itu.

“Sehun, kau lihat tadi? Sebuah strike. Diriku keren bukan?” Ucap Tao. Tapi, saat ia membalikkan badan, tidak ada Sehun di belakangnya. “Sehun?” Panggilnya. “Dimana kau?” Teriak Tao. “Ah bocah sialan merepotkan saja, kemana lagi dia,” lanjutnya.

Beberapa saat lalu, parabatai Tao atau Oh Sehun. Berada di belakangnya, menjaga Tao dari serangan musuh yang bersifat tiba-tiba. Tapi, Oh Sehun malah menghilang begitu saja. Tao mengerutkan dahinya. Ia jengkel. Bagaimana bisa Sehun meninggalkan Tao di lorong itu sendirian. Tao berjalan dalam kegelepan. Sinar bulan yang menerangi malam ini juga menerangi wajah Tao. Tertampak jelas ia benar-benar kesal. Bukan kesal terhadap sikap Sehun yang suka hilang mendadak. Melainkan, kenapa Sehun hilang saat Tao sedang memamerkan kehebatannya. Jadi, buat apa tadi Tao harus memamerkan kehebatannya disaat tidak ada Sehun yang bisa dipameri.

Tao sudah 6 tahun berada di Korea. Jadi, ia sungguh hapal jalan-jalan di Korea. Apalagi, ia seorang pemburu bayangan yang notabenya seperti pengembara. Ia berbelok ke kanan ke kiri lalu lurus lagi. Ia berjalan si sisi sungai Han. Lalu, tiba-tiba ada sebuah bayangan. Apakah itu Sehun? Bukan itu bukan Sehun. Itu hanya manusia fana yang sedang berjalan dipinggir Sungai Han. Manusia fana itu berjalan lalu menembus Tao. Menembus. Ya, menembus. Tao sedang menggunakan tudung pesona. Itu artinya manusia fana tidak bisa melihatnya apalagi menyetuhnya. Dengan kata lain bagi manusia fana Tao itu transparan. Ia memutuskan untuk menjauh dari Sungai Han. Ia tahu betul, Sehun meninggalkannya bukan untuk bersantai meratapi diri di pinggir Sungai Han.

Ia menelurusi jalan sempit itu sendirian. Benar-benar sendirian. Ia berniat untuk kembali ke institut. Tapi, jika di institut tidak ada Sehun habislah dia.

“Bajingan keparat, dimana kau. Oh Sehun dimana kau,” umpatan Tao meninggi. Tetap tidak ada balasan dari parabatainya itu. Tao yang sedari tadi menahan rasa jengkel, tidak memperhatikan sekekelilingnya. Dan tiba-tiba.

Brak

Ia terjatuh. Terjatuhnya tersungkur pula. Manusia fana disekitarnya kebingungan, mereka menoleh ke kanan lalu ke kiri untuk mencari sumber suara yang di timbulkan Tao. Tapi, mereka tidak melihat apapun karena Tao sedang memakai tudung pesonanya.

“Sialan,” ujar Tao. Ia berdarah. Dengan cepat ia mengambil stela-nya dan menggambar rune iratze atau penyembuh. Walaupun gambarnya tidak sebagus buatan Sehun, tapi khasiatnya tetap ada. Ia lalu berdiri dan membersihkan bajunya yang kotor. Ia mengumpat lagi. Ia malu walaupun tidak ada yang melihatnya tetap saja ia malu. Bagaimana bisa ia membunuh iblis sekeren itu tapi hanya dengan terjatuh saja ia berdarah. “Oh Sehun. Sehun. Dimana kau bajingan pengkhianat,” kini umpatan Tao lebih tinggi dari sebelumnya.

Dan hasilnya, ia mendapatkan jawaban samar-samar, “Aku disini, ikuti witchlight-nya.”

Tao mengikuti sumber suara itu. Dan sampailah ia pada sebuah lorong sempit di antara dua gudang.

“Rupanya kau disini, tadi kau lihat tidak? Aku hanya melempar pisau itu sekali dan langsung menusuk tepat di jantungnya. Lalu BAM iblis itu langsung mati. Ya, walaupun aku harus kehilangan pisau perak itu,” kata Tao.

“Iya aku lihat,” ucap seorang namja yang keluar dari pintu gudang yang di sebelah kiri. Namja tinggi yang berparas putih itu sangatlah pucat di bawah sorot cahaya lampu. Bahkan lebih pucat dari sebelumnya, ya memang sudah pucat. Dia tidak menggunakan tutup kepala, yang menunjukkan rambut cokelatnya yang secoklat matanya. Jika diperhatikan baik-baik, ada noda merah yang membentang di lengan bajunya.

“Kau berdarah,” ucap Tao bergetar.

“Bukan darahku,” jawab Sehun sambil melambaikan tangannya untuk mencegah kecemasan Tao.

“Lalu?” Tanya Tao. Sehun mengajakknya masuk ke dalam gudang itu.

“Ini darah dia,” tunjuk Sehun. Terkulailah sebuah tubuh ramping. Rambutnya yang berwarna perak menghiasi gudang tua itu.

“Seorang wanita fana?” Tanya Tao.

“Tepatnya gadis fana, kukira umurnya tak lebih dari 15 tahun,” jawab Sehun.

Mendengar itu Tao mengumpat. Umpatan yang keras dan cukup hebat untuk menyakiti seseorang. Sehun menunggu dengan sabar sampai sahabatnya ini menyudahi umpatannya.

“Iblis itu, jangan-jangan iblis yang tadi,” geram Tao. “Coba kita lebih cepat menemukannya.”

“Bukan, sepertinya bukan iblis itu penyebabnya. Iblis itu parasit. Ia akan membawa korbannya yang masih hidup lalu menanamkan telur pada kulit korban. Tapi, lihatlah gadis ini. Ia seperti ditikam berkali-kali. Lalu ia mati karena mencoba kabur tapi tidak bisa karena luka yang begitu parah,” jelas Sehun.

“Tapi iblis yang tadi-” ucap Tao.

“Sudah kubilang bukan iblis yang kau bunuh tadi yang melakukannya Huang Zi Tao. Mungkin, iblis itu mengejarnya atau memburu sesuatu yang lain. Tapi, aku sangat yakin sekali bukan iblis itu yang membunuhnya,” ujar Sehun.

“Oh, arraseo,” balas Tao singkat. Mereka memindahkan tubuh sang gadis ke tempat yang lebih terang agar seorang polisi fana bisa menemukannya. Lalu, Tao dan Sehun meninggalkan gadis itu.

Mereka berjalan di pinggir sungai Han. Tao menurunkan tudungnya untuk menikmati angin malam tapi seakan mengkhianatinya, angin malam itu malah membuat rambut Tao acak-acakkan tidak karuan. Padahal, ia sudah memakai gel rambut.

“Sialan, gel rambutmu tidak berguna,” gerutu Tao.

“Kau bisa lihat rambutku baik-baik saja,” ujar Sehun. Tao hanya mendengus. Tiba-tiba saja Sehun berhenti.

“Sudah kubilang gel rambutmu itu sampah,” ceplos Tao.

“Bukan, aku bukan ingin membicarakan gel rambut Tao, aku baru ingat sesuatu.” Sehun mengambil sesuatu dari kantung jaketnya. “Ini,” ucap Sehun.

“Apa ini?” Tao malah bertanya.

“Itu pisau bodoh,” kata Sehun.

“I know right. Maksudku, kenapa kau memberikanku ini?” Tanya Tao.

“Itu benda yang membunuh gadis barusan.” Sehun meminta pisau itu kembali dari Tao. “Tadi, sempat kucuci di dapur gudang.”

“Hanya Oh Sehun yang bisa sempat melakukan seperti itu,” ledek Tao.

“Aku tidak bercanda Tao. Maksudku, ini bukan pisau seorang iblis ataupun shadowhunter. Ini pisau berburu fana, perhatikan betapa tipis bilahnya,” jelas Sehun.

Tao mengambil pisau itu. Ia mengamati pisau itu baik-baik. Dan benar saja, bilah pisau itu sangatlah tipis bahkan lebih tipis dari pisau perak Tao. Lalu, Tao mengecek gagang pisau itu. Gagangnya terbuat dari tulang yang dipelitur. Sehabis itu, Tao mengecek bagian rata pisau itu. Terlihatlah sisi hitam dengan titik putih diatasnya dan sisi putih dengan titik hitam di atasnya.

“Yin dan Yang,” ucap Sehun sambil ikut memperhatikan pisau itu. “Kira-kira apa artinya?”

“Bagaimana segala sesuatu bekerja,” jelas Tao.

Sehun memutar bola matanya, “Aku tahu itu Huang Zi Tao. Maksudku kenapa pisau itu bisa ada disana.”

“Iblis atau penghuni dunia bawah lainnya tidak mungkin menggunakan pisau ini. Ini pisau fana,” sahut Tao.

Sehun mengernyit, “Demi malaikat Raziel. Aku sudah bilang itu Tao.”

“Maksudku, bisa saja seorang fana dirasuki oleh penghuni di dunia bawah dan mengejar gadis itu, karena mungkin gadis itu mengetahui sesuatu,” ujar Tao.

“Bisa juga sih,” akhirnya Sehun mengangguk.

“Fana-fana bodoh yang menyelundupkan sihir untuk mendapatkan kekuasaan dan kekayaan,” ucap Tao.

“Fana-fana cantik yang berujung menjadi rombengan darah-darah di pentagram,” getir Sehun.

“Fana-fana manis yang selalu kita lindungi demi kedamaian mereka,” senyum Tao. Ia memasukkan pisau itu ke dalam saku jaketnya. “Menurutmu, apakah Seulgi akan mengijinkan diriku untuk menyelidiki ini?”

Sehun malah balik bertanya kepada Tao, “Menurutmu apakah dirimu dipercayai di institut?”

Tao tertawa. Tertawa sangat keras. Sehun tersenyum melihat sahabatnya tertawa puas seperti itu. Karena, jarang sekali seorang Huang Zi Tao tertawa. Ia hanya bisa mengumpat, menggerutu dan menghina.

“Sialan kau,” tawa Tao.

“Yeoja-yeoja dengan moral yang rapuh, neraka judi, selalu keluar malam, pulang dengan mabuk. Menurutmu?” Goda Sehun.

Tao tersenyum. Senyum yang sangat indah. Seperti senyum seorang malaikat. “Diijinkan atau tidak aku akan tetap saja.”

“Ya aku tahu itu Huang Zi Tao. Lakukan sesukamu, kau selalu begitu,” ujar Sehun.

Mereka berdua kembali lagi berlajan. Menikmati dinginnya angin malam.

[Catastrophically]

“Aku ingin kesana,” pinta sang yeoja ke namja tinggi di sebelahnya.

“YAK Yoona, apakah kau sudah gila? aku bisa ditampar oleh ibumu. Lagipula kau masih dibawah umur ingat itu,” ucap sang namja.

“Hanya sekali saja. Lagipula, ibuku tidak akan tahu ini Minho,” pinta sang gadis yang bernama Yoona lagi.

Sepertinya, sang namja atau Minho seakan luluh dengan gadis yang bernama Yoona itu, “Baiklah, tapi hanya untuk kali ini.”

Yoona tersenyum mendengar jawaban Minho, “Kau memang sahabatku yang terbaik.”

“Ya,ya,ya,” ujar Minho. Lalu dengan cepat tangannya di tarik oleh Yoona. “YAK Im Yoona, pelan-pelan.”

Akhirnya, mereka sampai tepat pada depan klub itu.

“Klub apa ini,” ketus Minho.

“Tidak bisakah kau baca? Ini klub Pandemonium bodoh. Itu tertulis di atas sangat jelas,” ujar Yoona. Minho hanya menggaruk-garukkan kepalanya. Ia bahkan tidak melihat apapun.

Ya, itu klub Pandemonium. Klub Pandemonium adalah organisasi untuk seorang manusia fana yang tertarik akan dunia bayangan. Biasanya, membernya sangat kaya dan penghuni dunia bawah yang kuat. Organisasi ini rata-rata bertempat di suatu klub malam yang cukup mewah.

Yoona dan Minho berhenti di depan klub itu.

“Ia tampan sekali,” ceplos Yoona.

“Siapa?” Tanya Minho.

“Pemuda tinggi itu,” tunjuk Yoona.

Minho hanya memutar bola matanya, “Ya terserah kau. Aku ingin cepat-cepat keluar dari tempat ini.”

“Ah, ayolah bahkan kita belum masuk,” ucap Yoona dan lagi-lagi menarik tangan Minho.

[Catastrophically]

Tao memasuki kamar Sehun dengan tampang datar.

“Bagaimana diijinkan tidak?” Tanya Sehun.

“Tanpa bicarapun kau pasti sudah tahu jawabannya,” balas Tao.

Sehun tertawa.

“Brengsek,” ucap Tao.

“Sebodoh apapun orang itu, kau tetap tidak akan diijinkan,” ujar Sehun.

Tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu kamar Sehun.

“Masuk saja,” teriak Sehun. Terlihatlah seorang yeoja memasuki ruangan itu. “Ya, ada apa Krystal?” Tanya Sehun.

“Aku hanya ingin memberitahukan kepada kalian berdua. Bahwa noona Seulgi tidak mengijinkan seorangpun meninggalkan institut ini,” jelas Krystal. “Terutama untuk tuan Tao,” lanjutnya.

“Aku sudah tahu itu bodoh,” kata Tao kepada Krystal.

“Hey, jangan kasar seperti itu. Dia hanya menyampaikan pesan,” ucap Sehun cepat sebelum Tao melanjutkan ucapannya. Krystal seperti berterima kasih kepada Sehun. Sehun mengangguk dan tersenyum, “Kau bisa keluar sekarang. Terima kasih.”

Krystal mengangguk dan keluar dari kamar Sehun.

“Jangan beri aku tampang seperti itu,” pekik Sehun.

“Kau tahu kan maksudku?” Senyum Tao.

“Ya Huang Zi Tao. Aku tahu, semakin kau dilarang semakin kau ingin melakukannya. Jadi, sekarang apa yang harus kulakukan,” lirih Sehun.

“Ini kunci kamarku, jika Seulgi menghampirimu. Bilang aku sudah tertidur. Malam ini juga aku akan pergi ke Klub Pandemonium untuk memburu iblis,” jelas Tao.

“Ok,” ucap Sehun singkat. Tao memberikan kuncinya dan memeluk Sehun. “Ya, ya, ya menjijikan.”

“Kalau begitu aku pergi dahulu,” ucap Tao sambil melepaskan pelukannya.

“Senjatamu?” Tanya Sehun. Tao menunjukkan cahaya keperakkan di pinggangnya yang ditutupi oleh jubah tudung pesonanya. “Oh, ok baiklah. Jangan bilang kau akan loncat dari jendelaku?” Tanya Sehun lagi.

“Kau pikir selama 6 tahun disini aku tidak menjelajahi isi institut ini?” Tao memamerkan giginya.

“Jadi ada sebuah jalan rahasia!?” Seru Sehun.

“Bukan, tapi jalan umum untuk para penghuni dunia bawah,” jelas Tao. “Baiklah, selamat malam Oh Sehun.”

TO BE CONTINUED

P.s : holla hallo. Jadi aku mau buat rencana membuat 3 pairing. YoonTao, YoonHun, MinYoong. Biar complicated parah. Terus di chap pertama TaoHun belum ketemu sama Yoong yah. Mungkin, kalian juga banyak yang pinginnya YoonHun. Tapi, at the end aku bakal buat Yoona sama keduanya dengan cara apapun *evil smile*. 1 comment sangat berharga.

29 thoughts on “(Freelance) Catastrophically [1st]

  1. Akhirnya update jga
    Aku pengen yoonhun.. pokonya harus yoonhun *maksa:D
    1st chapternya keren pake bgt
    Pengen cepet2 liat taohun ketemu sama yoong

  2. ahh,,, seru nih kayanya, lanjut thorr,,, jangan lama nah, aku disini komat kamit doain kamu biar cepet post kelanjutanya. hehehe lebay

  3. Ahhhh.. Aq pingin x yoonhun doankkk Σ(-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩__-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)ƪ klo eonnie mw bikin dua” x.. Eonnie hrs banyakin yoonhun moment x! Lebih bnyk dr yoontaoo!!!!!! *ngancempakekpiso* pls thorrr Σ(-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩__-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)ƪ

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s