FACE OFF [9]

req-fn2

 

author : FN

main cast : Park Chanyeol, Im Yoona, Mun Joo Won

other cast : Lay, Baekhyun, Seohyun, Sehun and others

genre : action, family, marriage life, little romance, friendship, hurt and others

length : chapter

rating : PG 15

poster : arin yessy @ indo ff arts

desclaimer : di cerita ini author terinspirasi dari 3 film barat dan 1 drama korea. judul filmya Face Off, Enemy Of The States dan Taken (1 & 2). buat dramanya dari drama Korea judulnya Ghost (drakor favorit author, yang castnya Soo Ji Sub <= salah satu aktor fav author ini xD).

author’s note : di cerita ini mungkin cukup jauh dari kata romance antara main cast tapi romancenya tetep ada dan mungkin agak sedikit lebih fokus ke main cast namjanya. mianhe jika ada typo dan kesalahan teknis lainnya 🙂

—-

Joo Won pov

“Chanyeol” lirihnya, aku menatapnya dan melonggarkan dasiku yang masih terpasang manis dileherku, “Seohyun—Li—Lio” lirihnya lagi

Aku hanya menatapnya miris, jika Ji Won mencintai wanita ini kenapa dia justru membuat hidup wanita yang dicintainya menderita, kenapa dia tak merelakan Yoona dengan Chanyeol, baiklah aku mengerti bagaimana perasaannya dan hubungannya yang mencapai usia 6 tahun itu memang sangat lama tapi—bukankah seorang lelaki yang mencintai seseorang wanita akan membiarkan wanitanya hidup bahagia. Hey! Itu hanya drama bukan realita!

Aku berjalan dan menatap diriku dicermin. Wajah ini, bukan milikku dan kenapa Amerika benar-benar canggih? Mereka bisa mengubah wajah ini dan sedikit perawakannya sesuai dengan aslinya? Aku dulu sangat membenci wajah ini karena dia berusaha membunuhku atas kesalahpahaman dan sekarang? Aku justru bekerja sama dengannya.

—-

Author pov

Joo Won berdiri balkon lantai kamarnya (lebih tepatnya balkon kamar Mun Joo Won yang sebenarnya) sambil merasakan angin dingin menghembus ditubuhnya. Dingin? Tentu saja tapi bukan itu yang dipikirkannya, dia memikirkan tentang istrinya—Yoona yang sekarang tengah bersama dengan laki-laki lain (bukan laki-laki lain, Yoona menganggapnya itu memang Chanyeol)

“appa”

Suara kecil itu mengalihkan pandangannya yang yang datar dan beralih menatap anaknya (anak Mun Joo Won yang sebenarnya). Dia memasang senyuman manisnya, namja kecil itu mendekati Joo Won sambil memeluk miniatur Iron Mannya dan memeluk kaki Joo Won

“kenapa belum tidur?”

“Len—tak bisa tidur—tadi—Len bermimpi bertemu dengan eomma”

“eomma?” tanya Joo Won tak mengerti, Len mengangguk, “lalu, dimana eommamu sekarang?” tanya Joo Won tapi Len menggeleng tak tahu. joo Won langsung menggendongnya dan menidurkannya di ranjang kamarnya, “malam ini tidur dengan appa, ne?”.

—-

Dua orang lelaki kini tengah duduk bersebrangan di sebuah cafe minimalis dan dengan serangkaian music ballad yang menjadi backsound di cafe itu, hari itu sudah sore dengan warna langit oranye yang sangat menawan. semua orang disana tampak berpasangan, hanya kedua lelaki ini yang memiliki gender sama di satu meja—tapi mereka bukan homo—Joo Won (detektif Park) menatap Chanyeol (Mun Joo Won) dengan tatapan penasaran

“siapa Len yang sebenarnya?” tanya Joo Won

“aku sudah memberitahumu tentang hal itu” jawab Chanyeol

“tsk, tak pernahkan kau penasaran siapa ibunya?” tanya Joo Won

“kau menyayanginya?”

“jangan mengalihkan pertanyaan, aku sedang bertanya denganmu” jawab Joo Won

“dia benar-benar anak yang aku adopsi dari panti asuhan yang mereka ledakkan, aku mengadopsinya karena kepala panti pernah mengatakan padaku jika wajahnya mirip denganku” jelas Chanyeol, “pernahkan kau mencari siapa ibunya?” tanya Joo Won

“untuk apa? Dia saja tega membiarkan anaknya diurus oleh panti asuhan daripada dia sendiri yang mengurusnya” jawab Chanyeol

“aku merasakan sesuatu saat melihatmu dan Len secara bersamaan—memang terlihat sedikit kembar—mata dan bibirnya mirip denganmu”

“mwo? jangan bercanda” tukas Chanyeol

“bukankah kau memiliki seorang anak hasil diluar pernikahan?”

Chanyeol terdiam mendengarnya, dia ingat dengan wanita itu, wanita yang dia tiduri tapi dia tak segera menikahinya—tapi itu bukan salahnya sebab wanita itu tak pernah mengatakan apapun padanya tentang kehamilannya dan Chanyeol tahu wanita itu hamil setelah wanita itu dikabarkan melahirkan anaknya dan Chanyeol tak diberi tahu dimana mereka berada, meskipun Chanyeol mengatakan bahwa dia adalah ayah dari anak yang dikandung wanita itu

“dia sudah mati dan sampai sekarang aku tak tahu dimana keberadaannya” jawab Chanyeol

“lalu apa gunamu menjadi seorang cracker jika kau bisa meretas semuanya tapi kau tak bisa mendapatkan informasi hanya sekedar pencarian wanita dan anak yang dikandungnya? Tak berguna sekali” cibir Joo Won

Mata Chanyeol langsung tersulut, “percuma aku mencarinya! Karena sebenarnya dia hanya pemuas nafsuku saja karena aku ada masalah dengan Ji Won saat itu” balas Chanyeol

Tit tit tit tit

Chanyeol mengangkat ponselnya dan tak lama kemudian dia kembali lagi, “aku kembali dulu, atasanmu mencariku. Kenapa kau bisa betah denga atasan arogant sepertinya? aku saja ingin menembak matanya ketika aku bertemu dengannya. Atasan sok tahu!” desis Chanyeol

Joo Won terkikik mendengarnya, dia menatap Chanyeol yang berjalan keluar dari cafe tempatnya tadi. ‘aku tahu satu hal tentangmu, Joo Won. jika sesuatu terjadi padaku, maka kaulah yang aku inginkan menjadi penggantinya. Karena aku yakin, kau bisa melakukannya, bahkan lebih baik daripada yang aku lakukan’ batin Joo Won (Chanyeol) tersenyum miris.

Joo Won pov

Setelah menemui atasan Chanyeol, aku segera keruanganku dan aku mendapati sebuah paket besar dalam ruanganku. Tak ada kartu pengirimnya, hanya sebuah paket berbentuk persegi dengan ukuran big size yang membuatku penasaran. Ketika aku akan membukanya, aku teringat akan bawahan Ji Won. apa ini bom? Bodoh, mereka tak akan melakukan hal itu!

Aku membuka lakban coklat yang digunakan sebagai perekat disana, ketika aku membuka kardus itu, didalamnya hanyalah kertas hias dengan berbagai warna dan aku menemukan sepucuk surat berwarna putih—satu-satunya berwarna putih

To : Mun Joo Won

Annyeong…

Annyeong Joo Won oppa, bagaimana kabarmu saat ini? aku yakin kau pasti baik-baik saja.

                Aku tak yakin kau masih mengingatku atau tidak tapi yang ingin aku beritahu padamu bahwa aku sangat mencintaimu meskipun ajal menjemputku. Aku bersembunyi darimu karena aku tahu siapa kau sebenarnya dan aku tahu jika kau tak benar-benar mencintaiku.

                Aku mengirim surat ini bukan tanpa alasan konyol yang jelas. Aku begitu mencintaimu hingga aku buta dan merelakan seluruh kehormatanku padamu tapi satu hal, aku sangat bahagia dilain sisi, karena apa? Aku mengandung anakmu, darah dagingmu. Meskipun kau tak disampingku selama aku hamil dan aku melahirkannya tapi aku benar-benar sudah bahagia dengan itu semua. aku tak menikah dengan siapapun dan aku tak pernah mencintai siapapun selainmu.

                Maafkan aku karena setelah aku melahirkan anakmu, aku tak bisa mengurusnya dengan baik, aku terpaksa harus meninggalkannya di panti asuhan karena penyakitku yang semakin hari semakin menggerogoti seluruh organ tubuhku tanpa rasa ampun. Aku tak yakin kau akan mencari anak kita atau tidak tapi yang pasti aku tak ingin membohongimu soal darah dagingmu sendiri

Tiffany Hwang

Aku kembali mengeluarkan semua kertas yang ada didalamnya dan aku menemukan sebuah syal berwarna coklat yang sangat-sangat aku kenali—ini syalku—syal yang aku gunakan malam itu ketika aku menidurinya dengan sengaja—bukan mabuk atau keadaan lain yang memang sengaja dibuat—aku sangat sadar melakukan hal itu pada Tiffany

‘siapa yang mengirim ini?’ batinku, segera saja aku mengambil ponselku dan menelpon Lay

“Lay, kau tahu tentang kotak didalam ruanganku?” tanyaku

“aniyo, aku sejak siang sampai sekarang tak keluar dari lab” jawabnya

Baekhyun?

“ne, Baekhyun, ini aku Joo Won. apa kau tahu tentang kotak coklat di ruangan kerja detektif Park yang dikirim padaku?”

“ne, hyung, kotak coklat itu tadi pagi sampai dirumahmu, sebelum detektif Park tahu aku segera mengirimkannya padamu tapi aku tak tahu siapa pengirimnya. Pengirim barang itu juga tak tahu ketika aku tanya” jelasnya

cklek

“bos, istri anda di saluran 3”

Aku langsung menutup ponselku dan mengangkat telepon dari Yoona

“ne?” tanyaku

“kau sedang sibuk?” tanyanya terdengar ketakutan

“wae? Kau membutuhkanku?” tanyaku

“entahlah, aku merasa seseorang tengah mengikutiku. Ketika aku sedang berbelanja rasanya ada seseorang yang mengawasiku bahkan hing—krasak—krasaak”

“Yoong? Yoona? kau masih disana bukan?” tanyaku yang kemudian aku mendengar dengungan keras nada sambung bahwa telepon itu diputus paksa

Pikiranku melayang jauh yang membuatku mensimulasikan semua kejadian-kejadian buruk. Diculik, dibekap, dipaksa, disiksa atau pembersihan yang dilakukan oleh bawahan Ji Won. sialan! Segera saja aku bergegas menuju gudang tua dan tak sengaja bertemu Lay di parkiran karena dia akan pulang. Satu hal paling menyebalkan, dia terlalu banyak bertanya hingga aku terpaksa menjawabnya. Hasil akhir dia mengikutiku ke gudang

Entah kenapa sekarang pikiranku menjadi benar-benar tak tenang, tadi aku melajukan mobilku pelan tapi sekarang, aku menginjak pedal gasku sangat cepat menuju gudang tua. Sesampainya disana aku berjalan ke sebuah lemari di pojok ruangan, aku mengeluarkan sebuah tas dari sana dan membukanya. Aku mengambil 2 senapan milikku dan beberapa peluru yang aku punya

“kau memiliki ini semua?” tanya Lay, “apa ini legal?” tanyanya lagi

Aku mengehela nafasku dan mengeluarkan sebuah surat yang berada didalam tas itu dan menyerahkannya pada Lay. Aku tahu di Korea tak seperti di Amerika atau Inggris yang bisa dengan bebas membawa senjata, aku sedikit tak nyaman sebenarnya ketika harus meminta izin kepemilikan senjata pada pemerintah Korea karena mereka bertanya hal-hal yang sangat memuakkan

“aku akan memeriksa keadaan istri detektif Park terlebih dahulu dan ketika aku sudah memastikan semuanya, aku akan beraksi malam ini”

“itu berbahaya!” seru Lay

“aku tak peduli! Aku muak dengan mereka mempermainkanku dan menyiksa Seohyun” jawabku berlari kecil meninggalkannya

Aku memang bukan appanya tapi saat ini aku sedang menggunakan wajah Chanyeol, jadi aku harus melakukannya. Disisi lain, karena aku mencintai Yoona.

Author pov

Chanyeol (Joo Won) memasuki restoran yang Yoona biasa dia datangi, dia bertanya pada pegawai yang masih bekerja dan mereka mengatakan bahwa Yoona sudah pulang sejak satu jam yang lalu. Chanyeol langsung pulang dan menanyai Lee ajhumma dan Shin ajhumma, mereka mengatakan bahwa Yoona belum sampai rumah sejak tadi. Chanyeol langsung kembali menjalankan mobilnya dan ketika dia melewati sebuah taman di pinggir kota, dia menemukan mobil Yoona tapi tak ada Yoona didalamnya. Chanyeol segera mengeceknya dan dia menemukan ponsel Yoona pecah

‘Mun Ji Won, aku membiarkanmu jika kau ingin membunuhku tapi untuk yang satu ini, aku tak akan pernah!’ batin Chanyeol geram

Chanyeol kembali melajukan mobilnya ke arah panti asuhan pinggir kota tempat dulu Ji Won atau Sehun dibesarkan. Keadaan disana sudah sepi karena memang ini sudah beranjak malam dan yang paling mengejutkan adalah ada sebuah mobil van berwarna putih terparkir dihalamannya. Setahunya, disana tak ada mobil

Chanyeol membuka pintu bagian belakang dengan hati-hati. Kursi disana tampak di lipat dan menyisakan ruang lebar ditengahnya dan dia menemukan sebuah tali tampar berwarna putih, dilihat dari tampilannya, tali itu sudah bekas dipakai dan disana ada sedikit bercak darah

Tak ingin mengecek lebih dalam, Chanyeol segera menuju bangunan bagian belakang dari panti asuhan itu dengan hati-hati. Dikiranya dulu, panti asuhan itu hanyalah bangunan tunggal dengan sebuah gudang kecil dibelakangnya

‘mereka bersembunyi disana?’ batin Chanyeol ragu menatap bangunan kayu agak reyot didepannya. Kaki panjangnya melangkah pelan tanpa menimbulkan suara dan membuka pintu kayu itu pelan tanpa bersuara. Disana tak ada apapun, hanyalah ruangan kosong, Chanyeol berusaha meraba bagian kayu-kayu disana, berharap menemukan sesuatu tapi ketika kakinya melangkah ke arah pojok dia mendengar suara detakan langkah kakinya yang nyaring yang menandakan bahwa ada ruangan kosong dibawahnya

Chanyeol berusaha mengecek berulang kali, setelah cukup yakin dia mencoba mencari tuas atau apapun untuk membuka pintu itu. dia menemukan sebuah tali dan menariknya pelan hingga pintu kayu itu terbuka dan memperlihatkan sebuah ruangan dingin dengan lampu kuning. Chanyeol turun dengan pelan, meyakinkan bahwa tak ada siapapun disana. Setelah berhasil masuk dia menutup pintu lagi agar mereka tak curiga

Dor!!

DEG!

Chanyeol langsung bersembunyi ketika dia mendengar suara tembakan itu, ‘siapa yang mereka tembak?’ batinnya, tak lama setelah itu terdengar bunyi derapan langkah kaki mendekat kearahnya

“kita harus cepat membersihkannya, kau ambillah air dan aku akan mengambil peralatan yang lain”

Chanyeol menatap wajah itu, wajah asing yang baru pertama kali dia temui. ‘aku tak akan melupakan wajahmu’

Krasaak

Klek

Jantungnya terasa berhenti, dia tak sengaja menginjak sebuah triplek yang ada dibelakangnya, tangan kanannya sudah siap memegang senjata yang dia sembunyikan dipinggangnya

“hey! Tao! Apa yang kau lakukan? cepat ambil air!”

“ne!”

Chanyeol menghembuskan nafasnya lega laki-laki bernama Tao tadi langsung pergi ketika orang yang sebelumnya tadi meneriakinya. Chanyeol bergegas keluar dan berjalan mengendap. Ruangan panjang mirip lorong itu hanya diterangi dengan lampu-lampu dengan watt kecil berwarna kuning sehingga memperlihatkan kesan suram tapi disamping kanan dan kirinya terdapat pintu-pintu dari besi kokoh

‘apa mereka menyembunyikan Yoona dan Seohyun disini?”

“DIAM!”

BRAK!!

Mendengarnya Chanyeol segera bergegas mendekati suara itu. hingga ia tiba disebuah ruangan paling pojok dengan pintu besi yang terbuka dan didalamnya ada banyak orang. chanyeol memperhatikan mereka satu persatu dan setiap orang disana memiliki senjata tajam.

Joo Won pov

Sialan! Mereka semua bahkan menggunakan senjata tajam. Aku memperjelas pandangan mataku pada orang-orang didalam ruangan itu. ada sekitar 7 orang, 6 laki-laki dan seorang wanita berdiri dengan angkuhnya sedangkan orang yang terikat tak lain adalah Yoona dan Seohyun tapi Seohyun terlihat sangat mengenaskan, wajahnya sudah putih memucat tanpa tenaga sedangkan Yoona, dahinya terluka serta ujung bibirnya. Disudut lain tampak seseorang terkulai tak sadarkan diri, aku tak tahu pasti keadaannya

BUG!.

Aku membuka mataku perlahan. Seseorang tengah berdiri dihadapanku sambil tersenyum. Aku belum begitu jelas melihatnya karena mataku masih terlihat buram

“sudah sadar detektif?” tanyanya

“dimana Yoona? dimana Seohyun?” tanyaku

Laki-laki itu tertawa lebar mendengar perkataanku, “kau mencari istri dan anakmu?”

“berani kau menyentuhnya sedikit, akan aku pastikan, aku yang mengantarmu sampai ke neraka!” desisku

BUG! BUG! BUG!

“cih! Dasar sok! Kau saja tak tahu bagaimana kehidupanmu 1 jam mendatang tapi kau berani mengancamku?! Jangan mimpi!”

“dimana Yoona? dimana Seohyun?!” teriakku tak sabar

Laki-laki itu membisikkan sesuatu pada lelaki yang tengah berdiri disampingnya, lelaki itu bergegas keluar dan tak lama kemudian suara berat langkah kaki mendekat

“Yoona—Seohyun?” gumamku

“Chan—nyeol” gumam Yoona pelan yang sangat aku dengar, sedangkan Seohyun hanya bisa menatapku menangis, dia tak bisa berkata apapun. Miris. aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, wanita yang aku cintai justru disakiti oleh adikku

“sudah bertemu istri dan anakmu?” tanyanya

“jangan pernah kau menyentuhnya” desisku

“oh…aku tak boleh menyentuhnya? Jinja? Bagaimana jika aku memperkosa anakmu didepanmu?”

“bajingan!”

Laki-laki itu kembali memberi kode pada dua lelaki yang membawa Seohyun dan Yoona. dia menarik Seohyun mendekat dan mendekatkan wajahnya

“brengsek! Jauhi dia!” teriakku memberontak berusaha melepaskan tali yang mengikat hampir seluruh tubuhku

“tubuh anakmu terlihat manis”

“brengsek!” teriakku masih berusaha melepaskan diriku sendiri

Yoona menangis, Seohyun menangis. Entah kenapa aku merasa pilu melihatnya, mereka bukan keluargaku tapi—aku pernah hidup bersama Yoona, aku dekat dengan Seohyun dan aku mengingat tentang Tiffany dan anakku

“apa yang kalian inginkan?” tanyaku melemas, “wow! Kita ditawari sebuah permintaan” seru lelaki itu tersenyum

“kau tahu bukan kematian Oh Sehun itu karenamu? Karena kau membakar rumah itu dan semua orang yang berada disana tanpa rasa ampun!”

“m—mwo? Se-Sehun?”

Laki-laki itu menoleh pada Yoona yang masih dicekal dan mendekatinya dengan senyuman menjijikkan

“ne, Oh Sehun—laki-laki yang sangat kau cintai tapi semua itu berubah karena dia datang dan menghancurkan hubungan kalian! Jika kau tak bersama lelaki brengsek ini, kau sekarang akan bersama Sehun tanpa melahirkan anak menjijikkan seperti kedua anakmu!”

“aaaaaaa!!!!!!!”, Yoona berteriak keras, wanita—wanita angkuh itu menggores kulitnya dengan sebuah pisau kecil. nafasku terasa terhenti ketika melihatnya, tanganku kaku, seluruh tubuhku kaku dan aku merasakan wajahku benar-benar sangat panas

“apa yang Sehun sukai dari wanita sepertinya? bahkan aku jauh lebih cantik darinya?” tanya wanita itu menarik rambut Yoona kasar

“kau tak menarik dimata Sehun hyung, jangan bermimpi” sahut lelaki dibelakang wanita itu

“diam kau Xiumin! Kau tak menginginkan nyawamu lagi?” desis wanita itu tajam

Laki-laki itu hanya membuang nafas sebal dan membuang muka. Wanita itu melepaskan tarikan tangannya pada Yoona dan berjalan kearah Seohyun, dia menarik tubuh lemas itu dari tangan pria yang mencengkramnya tadi. Seohyun tak bergerak, dia hanya mengikuti tarikan itu bak seorang robot.

Author pov

Keadaan diruangan itu semakin panas, Yoona masih kesakitan dengan goresan tadi dan Seohyun menangis tanpa suara, Chanyeol menahan amarahnya sedangkan semua orang yang berada disana menatap mereka bertiga dengan tatapan mengejek. Wanita tadi mengambil sebuah pistol dari lelaki yang mencengkram Seohyun

DOR!

Seohyun menjerit, lengannya, dia ditembak oleh wanita itu

“noona!”

“wae, Xiumin-ah? Kau—tak suka jika aku melakukan ini?” tanya

Laki-laki itu menarik nafasnya terus menerus. Dahinya mulai keluar keringat, dia menatap tajam wanita yang dipanggilnya ‘noona’ itu. tangannya terkepal

“bukankah kita tak akan membunuh orang lain selain detektif Park? Aku pikir kita adalah orang yang taat akan peraturan”

“cih, peraturan dibuat untuk dilanggar”

“itu tak berlaku pada kita” sahut lelaki tadi, “hentikan, Naeun, kita hanya menginginkan nyawa detektif ini atas balas dendam yang dilakukan Sehun dan balas dendamku karena dia telah membunuh Sooyoung” lanjutnya

“balas dendamku karena dia telah membunuh eommaku”

“balas dendamku karena dia telah membunuh adikku”

Wanita tadi langsung diam dan meninggalkan ruangan itu. Xiumin, dia membantu Seohyun berdiri dan membawanya keluar dari ruangan itu, dia membawa Seohyun ke ruangan sebelah ruangan tadi. Xiumin berjongkok didepannya

Sekarang ada tiga orang laki-laki disana, seseorang dari mereka tadi langsung beralih pada Yoona yang bergetar hebat tak jauh darinya, sambil tersenyum penuh kemenangan lelaki itu menghampiri Yoona dan mengarahkan pisau tajam tepat dileher jenjang wanita itu

“kau mengingatku bukan, dokter Im?” tanyanya, “Aku tak mempunyai waktu mengingat bajingan sepertimu!” desisnya, “aku anggap itu pujian lho” jawabnya tersenyum manis

Laki-laki itu berjalan mendekati Chanyeol yang masih terikat kuat dengan mata memerah karena marah yang membuat lelaki itu merasa sangat menang. “kenalkan, aku adalah salah satu dokter terpercaya dirumah sakit dokter Im bekerja. Lu Han, keturunan China”

“kau tahu benda ini kan detektif Park?”

“benda panjang yang hanya dengan goresan kecil bisa membuat kulitmu berdarah?”

“ehm? Kau ingin aku memperagakannya?” tanya Luhan

“hyung, peragakan saja, aku pikir akan menarik!” sahut lelaki dibelakang Luhan, “diamlah, Minho, kau membuatnya seperti tak menarik sedikitpun” jawab Luhan

Dia berjalan kembali mendekati Yoona dan menarik rambut cokelat itu penuh dengan tatapan kebencian

“jika kau tak bersamanya, maka Sehun akan bersamamu dan bajingan itu tak akan membunuh adikku!”

Sreet

“aahh!!” teriak Yoona kesakitan, pisau itu menggores lehernya tapi dia tak bisa melakukan apa-apa, tangannya terikat dan itu membuatnya tak bisa menutup bagian lukanya

Chanyeol, dia tercekat menatap Yoona. dia sangat ketakutan, wajahnya memanglah Chanyeol tapi perasaannya tetaplah Joo Won. dia mencintai wanita ini dan dia benar-benar tak ingin wanita ini terluka sedikitpun

“kau tahu detektif Park dengan posisi bergantung dengan kepala dibawah?” tanya Luhan, Chanyeol diam tak menjawab

BUG!

“jawab pertanyaanku!” desis Luhan, “aku ulang. Kau tahu bukan posisi bergantung dengan kepala dibawah sedangkan kaki diatas?”

“ne, aku tahu itu” jawab Chanyeol mulai ketakutan

“dengan posisi leher terluka, kau pasti tahu berapa menit agar darah itu bisa mengalir ke otaknya?” tanya Luhan

“sekitar 15 menit” jawab Chanyeol

“wah… kau pintar sekali detektif. Ehm—bagaimana jika aku melakukan hal yang sama pada istrimu ini?”

“Kai, ambilkan talinya” perintah Luhan

Luhan mengambil tali dari tangan Kai, dengan dibantu Minho dan Kai, dia menali tubuh Yoona dan menggantungkannya dengan posisi terbalik. Tepat seperti apa yang dikatakan Luhan tadi. Darah Yoona terus menetes, Chanyeol melihatnya sambil menahan nafasnya berulang kali. Posisi seperti itu, bisa menimbulkan kematian bagi Yoona

“kajja, Minho, Kai. Kita berikan dia waktu untuk membuktikan bahwa apakah dia benar-benar mencintai istrinya lebih dari yang Sehun lakukan” kata Luhan tersenyum meninggalkan Chanyeol yang tak lepas perhatiannya pada Yoona.

—-

“mianhe” katanya lirih, “pergi! Jangan ganggu aku!”

“aku tak akan menyakitimu, sungguh” kata Xiumin meyakinkan Seohyun

“apa jaminan kau tak akan menyakitiku? Kau bagian dari mereka! Mereka membunuh Yonghwa yang tak tahu apa-apa, mereka menyayat kulit eommaku, mereka menyiksa appaku dan mereka yang membunuh adikku!”

Xiumin meletakkan tangannya dipundak Seohyun tapi Seohyun memberontak dan mendorongnya agar menjauhinya. Xiumin terus berusaha mendekatinya dan memeluknya dengan paksa

“mianhe… jeongmal mianhe, seandainya aku tahu rencana mereka sejak awal” kata Xiumin mencium puncak kepala Seohyun

Ciuman di puncak kepalanya itu membuat Seohyun terkejut, laki-laki ini adalah bagian dari mereka dan sekarang laki-laki ini tengah membuatnya tenang? Ingin Seohyun melepaskan pelukan itu tapi ada perasaan lain yang mengatakan bahwa dia sangat nyaman dengan pelukan ini

“maafkan aku dan semua hyung dan noonaku” kata Xiumin melepaskan pelukannya ketika dia tahu Seohyun sudah berhenti menangis, “aku akan membantu kalian keluar dari sini tapi—kau harus menuruti semua yang aku katakan” lanjutnya

“mwo?” tanya Seohyun, “percayalah padaku sekali ini saja, aku tak peduli jika setelahnya kau akan tidak mempercayaiku tapi aku hanya minta kau percaya padaku untuk kali ini. aku benar-benar akan menolongmu” jawab Xiumin, tak mengerti sepenuhnya tapi Seohyun mengangguk setuju

“sekarang, diamlah disini, aku akan kesana untuk mengecek mereka” kata Xiumin meninggalkan Seohyun, “siapa namamu?” tanya Seohyun, laki-laki itu menoleh, “Xiumin” jawabnya dan menutup pintu besi itu

Seohyun memeluk kedua lututnya dan tertunduk. Yonghwa, kekasihnya dibunuh tepat didepan matanya oleh wanita itu, eommanya digores oleh pisau sama seperti yang mereka lakukan padanya dan appanya disiksa habis-habisan

‘Tuhan, apa yang sedang kau rencanakan?’ batinnya menangis sendu, ‘kemana keluargaku yang dulu?’.

—-

Joo Won meninggalkan Len dirumahnya bersama pembantunya, pikirannya buntu, laki-laki itu sudah berjalan mendahuluinya dan masuk kedalam kandang singa seorang diri. Dia tahu jika lelaki ini pasti akan melakukan hal ini, dia tahu. sebelum dia pergi dia memasuki ruang pribadinya dan menemukan banyak senjata disana. Dia mengambil sebuah peredam dan beberapa peluru.

Dia melajukan mobilnya tanpa arah hingga dia mencapai disebuah panti asuhan pinggir kota, seperti yang Chanyeol katakan dulu. Dia menyembunyikan pistol dipinggangnya dan pisau lipat dikakinya

Drap…drap…drap

Mendengar suara langkah kaki itu, Joo Won langsung bersembunyi dibalik van yang ada dihalaman depan panti asuhan itu. dia mengintip seorang lelaki yang tengah tergesa membawa sesuatu yang tak begitu jelas dipandangan Joo Won. Joo Won mengikutinya pelan hingga lelaki tadi masuk kedalam rumah reyot dibelakang panti asuhan. Menunggu beberapa menit dan juga karena lelaki itu tak segera keluar Joo Won memutuskan untuk menghampirinya dan dia terkejut karena disana tak ada siapapun

‘kemana tadi?’

Krak

Joo Won menjauhkan kakinya pada pinjakan lantai kayu yang dipijaknya tadi dan mengambil pistolnya, dia menghentakkan kakinya pelan dan dia melihat sebuah tali, tanpa inisiatif dia menariknya begitu saja

DST!

Pistol peredam, ada laki-laki berdiri dibawah sana dan tembakan Joo Won tepat mengenai punggung lelaki itu. Joo Won langsung melompat turun. Dia berjalan di lorong suram itu, matanya tetap waspada dengan keadaan disekitar sana

Klak

Mereka berdua berdiri mematung, Joo Won mengangkat pistolnya begitu pula dengan lelaki didepannya

DOR

DOR

Laki-laki itu langsung berlari bersembunyi, begitupula dengan Joo Won yang langsung mengambil tempat dibalik tembok. Karena tembakan tadi terdengar suara langkah lari berdatangan. Joo Won menutup matanya mencoba mencari keberanian

‘kau pernah melakukan ini, Park Chanyeol!’ tekadnya, di keluar dengan 2 pistol ditangannya dan menembak lepas

“hah…hah…hah…” nafasnya berderu, tembakan perlawanan masih terdengar, bahkan terdengar lebih banyak dari sebelumnya. Joo Won tak tahu ada berapa mereka dibawah sini yang dia yakini mereka lebih dari 15 orang.

Tembakan itu terus saja berderu melawan arah. Joo Won menembak dan anggota itu juga menembak sama halnya dengan Joo Won. karena merasa tak sabar, Joo Won keluar dari persembunyiannya dan berjalan maju menembak semua yang bisa dia tembak

DOR!

Tembakan itu menggores lengan tangannnya tapi dia tak peduli, dia tak merasa sakit jadi dia terus saja berjalan

Klak…klak

“kenapa harus disaat seperti ini!” gumamnya kesal karena pelurunya habis

Sekitar 5 orang menghadangnya didepan sana dengan wajah licik mereka menatap Joo Won yang kehabisan peluru

“jadi—dia hyungnya Sehun?” tanya lelaki itu, “dan dia juga pengkhianat Sehun? bukankah seorang pengkhianat tak terima disini?” lelaki itu memiringkan kepalanya

Keempat orang dibelakangnya langsung maju menghadapi Joo Won. pertamanya Joo Won kewalahan, tenaganya hampir terkuras hebat. Dia memang sudah biasa menangani hal seperti ini tapi, ukuran tubuh dan kekuatan mereka jauh lebih banyak dibandingkan dengan kekuatan yang dimiliki Joo Won.

Chanyeol pov

BRAAKK

BRRUKKK

“hah…hah…hah…hah…”

DOR!

‘sialan!’

Bahuku tertembak, aku memegangi perutku yang benar-benar terasa sakit, kepalaku terasa sangat ngilu. Aku tak tahu bagaimana bentuk wajahku sekarang, mereka mengurasnya—mereka menguras tenagaku dan darah ini terus saja mengalir

“AJHUSSSIIIIII!!!!!!!!!”

DEG

Aku tahu suara ini

DEG

Aku tahu siapa yang berteriak seperti ini

DEG

Seohyun

DEG

Aku mengalihkan pandanganku pada sebuah ruangan pintu besi yang tak jauh dariku. Aku melihat seseorang tengah menatapku sambil menangis, mekipun wajahnya yang aku yakini cukup pucat tapi dia menatapku dengan kesedihan yang mendalam—anakku Seohyun dia menangis

Flashback

“appa, eomma! Lihatlah kemari” teriak Seohyun sambil membawa sebuah kamera polaroid. Aku dan Yoona langsung menoleh kearahnya dan tersenyum

Cklik

Ini sudah 8 tahun setelah pernikahan dadakan antara aku dengan Yoona. Dari ketika aku tak mencintainya dan aku tak begitu senang dengan keberadaannya disekitarku menjadi aku mulai mencintainya dan aku resah jika dia tak berada didekatku. Ironi tapi aku benar-benar menyukainya. Bahkan terasa benar-benar berbeda, meskipun dulu aku terpaksa memutuskan hubunganku dengan kekasihku dan menikah dengannya, jika kau tanya bagaimana perasaanku sekarang, jujur saja ini lebih dari yang kubayangkan, kebahagiaan yang aku rasakan sekarang benar-benar terasa sangat merasuk kedalam palung tubuhku

Aku mencintainya dan dia mencintaiku. Itu sudah cukup. Ditambah dengan kehadiran Park Seohyun dan Park Lio saat ini yang membuatku sangat enggan untuk tidak bertemu dengan mereka selama sehari. Meski lelah ketika aku pulang bekerja, mereka bertiga selalu menyambutku dengan senyuman hangat mereka terutama Lio, anak lelakiku. Aku sangat menyayanginya karena dia benar-benar mirip dengan Yoona, bukan berarti aku tak menyayangi Seohyun yang mirip denganku, tapi kau tentu tahu bukan perasaan yang meluap-luap melihat wajah yang sangat kau cintai?

“brrrmm brrrmm”

Aku menoleh kearah Lio yang sedang duduk dalam pangkuanku sambil memainkan kereta mainannya, aku mengelus puncak kepalanya

“Lio, minum susu dulu, ne?” kata Yoona memberikan sebuah dot pada Lio tapi Lio menolak dan tetap bermain dengan mainannya

“biar aku saja” kataku mengambil botol dot itu dari tangan Yoona, “eomma, sandwich” pinta Seohyun

Hari ini kami sedang camping tapi jangan bayangkan kami sedang camping di taman atau dipinggir laut. Kami hanya camping dihalaman rumah kami karena aku dan Yoona pulang terlalu sore tapi itu tak masalah karena dengan melihat senyuman Seohyun dan Lio saja itu sudah seperti ketika aku berada di taman

Flashback off

DOR!

“ajhusssii!!!” teriak Seohyun lagi

Flashback

“aku mencintaimu”

“aku juga mencintaimu”.

“appa, kita semua akan bersama selamanya kan?”

“tentu saja, Seohyun”

“aku sayang appa”

“appa juga menyayangimu”.

“hati-hati dijalan. Sayang aku tak bisa ikut dengan appa dan Lio”

“lain kali saja jika flu dan batukmu sudah sembuh”.

“kau akan selalu menjagaku dan anak-anak bukan?”

“ne, tentu saja”.

Flashback off

Kenangan-kenangan manis itu merasuk lagi kedalam otakku dan membuat otakku berhenti bekerja sesaat. Kenangan-kenangan saat kami bersama, kenanganku bersama keluarga kecil bahagiaku. Kenangan yang mampu merefresh seluruh kinerja otakku hingga aku teringat oleh alat kecil yang sengaja aku sembunyikan untuk berjaga-jaga

Klak

“heh? Pulpen?” tanya lelaki itu mengejek

“hana…dul…set…”

DOR!

DOR!

DOR!

Brukk

Aku mengangkat tubuhku sendiri, “jangan pernah meremehkan hal sekecil apapun” kataku

Tersisa 3 orang dan mereka menatapku dengan tampang marah. Tenagaku memang terkuras tapi aku tak akan pernah menyia-nyiakan tenaga yang masih tersisa untuk menyelamatkan keluarga kecilku

DOR!

DOR!

Aku terpaku mendengar tembakan itu, wajahku terdiam beberapa saat ketika aku mulai menyadari salah satu dari ketiga orang tadi adalah yang menembak dua orang yang terkapar didepanku. Wajahnya terlihat sangat ketakutan dan tangannya terlihat bergetar

“pa—pali—selamatkan—Seohyun” katanya terbata sambil tetap mengacungkan pistolnya menatap dua orang yang terkulai dibawahnya tanpa memjawab aku langsung melangkah mendekati pintu besi tak jauh dariku dan membukanya. Seohyun langsung memelukku ketika dia melihatku

“gwenchana?” tanyaku, “ne, gwenchana—tapi—tapi—eomma—appa”

“aku akan kesana, kau cepat keluar dari ruangan ini” kataku masih berusaha mengatur nafasku

Seohyun menatapku diam, “aniyo, aku ikut dengan ajhussi! Aku tak mau sendirian!” bantahnya

“Seohyun, disana sangat berbahaya. Kau harus cepat keluar dari sini dan mencari bantuan” kataku mendorongnya pergi

“aku tak mau! Aku ingin menyelamatkan eomma!!”

“dengarkan appa! Kau harus segera keluar dari sini! Appa tak mau terjadi sesuatu denganmu!” bentakku

Dia menatapku terdiam, beberapa detik setelahnya air matanya mulai mengalir. Glek. Aku membentaknya tadi, sama seperti waktu itu

“percayakan dia padaku” sahut sebuah suara

Aku menatapnya curiga, “aku—aku tak akan menyakitinya—aku berjanji” lanjutnya

“tak ada waktu! Sebelum mereka membunuh keduanya!”

“bawalah dia keatas dan pastikan dia baik-baik saja. Jika sampai dia terluka sedikit saja, maka aku yang akan membunuhmu!” kataku mendorong Seohyun pada lelaki itu.

Author pov

“appa? Apa tadi dia mengatakan appa?” gumam Seohyun.

Chanyeol masih terdiam dengan ikatan ditangannya, dia sedang berusaha berkonsentrasi agar lepas dari jeratan tali yang sangat erat ini. hey! Dia pernah mempelajari cara melarikan diri meskipun tangannya masih terikat kuat dengan tali. Setidaknya dia tak pernah tak membawa sebuah senjata, meskipun itu adalah pisau kecil yang dia sembunyikan dilengan bajunya

Dia berusaha melepaskan ikatan itu dengan tergesa, wajah Yoona sudah memucat dan mulai tak sadarkan diri. Chanyeol memanggilnya sejak tadi tapi Yoona tak menjawabnya dan matanya justru tertutup rapat

‘Tuhan, bantu aku’ batin Chanyeol

Setelah berusaha cukup lama, talinya terlepas, dia menatap Yoona yang diikat dengan posisi terbalik dengan sebuah sayatan dilehernya, dia bergegas menghampiri Yoona dan melepas rantai yang menahan Yoona agar posisinya tetap terbalik. Wajah Yoona benar-benar pucat, dia kehabisan darah, kekuatannya juga sudah mulai menghilang. Yoona terkulai lemas dipelukan Chanyeol

“Yoong, jebal, bangunlah! Yoong!” kata Chanyeol menggoncangkan tubuh Yoona yang terdiam, dia mendekatkan telinganya ke jantung Yoona

“Yoona, jebal Yoona!” teriak Chanyeol

“Yoona, jebal. Aku—aku mencintaimu” akunya kemudian

Chanyeol langsung memeluk Yoona erat, dia tahu jantung wanita ini masih berdetak tapi detakannya benar-benar sangat lemah. Chanyeol (Joo Won) tetap memeluk Yoona erat hingga dia merasakan sebuah tangan memeluknya, sontak dia melepaskan pelukannya dan menatap Yoona yang tengah tersenyum

“Se—Sehun—adik Joo Won?” tanyanya, Chanyeol mengangguk

“Se–Sehun–men–meninggal?” Chanyeol kembali mengangguk

“maafkan aku—ini semua terjadi karena kesalahanku. Maafkan aku” lanjutnya, tangannya tergerak mengelus pipi Chanyeol yang hampir menangis

‘izinkan aku untuk berbuat egois kali ini Ya Tuhan’

Chanyeol langsung menarik kepalanya mendekat kearah Yoona dan mencium bibirnya sesaat, Yoona hanya terdiam dengan perlakuannya itu setelahnya Chanyeol berdiri jongkok didepan Yoona dan menyuruhnya agar naik ke punggungnya

Ketika Chanyeol keluar dari ruangan itu tepat Joo Won berlari kearah mereka sambil memegangi pundaknya

“ada apa dengan Yoona?” tanyanya

“cepat bawa dia keatas, aku akan mengurus sisanya” jawab Chanyeol

“mwo?”

“jangan banyak bertanya! Kau harus menyelamatkan istrimu!” bentak Chanyeol

Joo Won langsung mengambil tubuh Yoona dari punggung Chanyeol. Dia masih menatap Chanyeol penuh rasa bersalah. Chanyeol yang mengetahui itu menjadi semakin murka karena tatapan Joo Won yang mengasihinya

“cepat pergi! Atau istrimu akan dibunuh oleh mereka!”

Joo Won langsung berjalan pergi dengan Yoona digendongannya. Dia berlari melewati lorong tadi hingga dia sampai ditempat dia datang tadi. Sebuah tangga tak cukup tinggi. Tak ada pilihan lain, dia harus memanjat dengan Yoona dipunggungnya.

“eomma!” teriak Seohyun mendapati eommanya keluar dari rumah kayu reyot itu, Seohyun berlari menghampiri Joo Won yang membopong Yoona dalam keadaan tak sadar

“Apa yang terjadi, ajhussi?” tanya Seohyun, “jaga eommamu, bawa dia ketempat yang jauh. Dan kau, apa kau sudah menelpon pertolongan?” tanya Joo Won beralih pada Xiumin, Xiumin mengangguk, “tapi bantuan akan lama mencapai arah kemari karena mereka sudah memblokade jalan” jelas Xiumin

“baiklah, kalian tetap disini, jaga eommamu!” kata Joo Won

“dimana appa?” tanya Seohyun, Joo Won menelan ludahnya pelan, ‘aku disini, Seohyun’

“dia masih didalam, pokoknya kalian jangan kemana-mana sampai bantuan datang!” jelas Joo Won sekali lagi dan kembali masuk kedalam rumah kayu reyot itu

Seohyun menangis memeluk tubuh Yoona, sedangkan Xiumin berdiri mengawasi sekitar jika saja dia bertemu sesuatu yang mencurigakan. Xiumin melepas jaket yang berada ditubuhnya dan memberikan pada Seohyun

“pakaikan ke eommamu, dia terlihat kedinginan”.

To Be continued

gumawo~~

dan please RCL🙂

35 thoughts on “FACE OFF [9]

  1. aku baca lagi. dan aku masih nunggu loh thor ceritanya hohoho
    btw, mungkin ini komentar ku yg paling gak bener. tapi serius. aku frustasi thor ngeliat posternya. kenapa joo won di posternya gak ganteng?! kenapa?! padahal di teasernya joo won udah ganteng gtu hahahahahaha *plak* *abaikan*

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s