No One Realize (Pt. 1)

poster40

1

by
Clora Darlene

Main Casts
Oh Sehun | Im Yoona

Supporting Casts
Byun Baekhyun | Kim Jongin | Calista Im
Kwon Yuri | Huang Zi Tao | Others

Length | Rating | Genre
Maybe, 3shots | PG-15 | School Life

[Im Yoona dan Calista Im adalah orang yang berbeda]

            “Kau bisa, bukan?” Tanya Sehun. “Datang ke rumahku untuk mendongengiku tentang People and Ideas on the Move dan First Age of Empire?” Lanjutnya. Oh, astaga, lihat. Wajahnya memelas sekali.

Yoona menghela nafas. “World History adalah pelajaran termudah yang pernah ada.”

“Kelas Musik jauh lebih mudah,” Sela Sehun polos. “Kau tentu bisa, kan?”

“Siapa yang mengatakan aku bisa?” Tanya balik Yoona.

Mata Sehun membulat. Kaget. “Kau tidak bisa?!” Suaranya meninggi. What a sweet nightmare, pikirnya.

“Bukankah kau adalah ‘Si Pangeran Asia Pacific International School yang serba bisa’?”

Sehun menghela nafas. Pasrah. “Buku World History terlalu tebal dan aku mencoba menahan diriku untuk tidak melemparnya ke perapian di rumah. Itu mengapa aku memintamu untuk datang ke rumahku.”

“Aku tidak bisa.” Akhirnya, Yoona menjawab.

Wae?”

“Kai mengajakku makan malam sebagai hadiah ulang tahunku.” Jawab Yoona enteng. Tidak ada rasa bersalah sekecilpun yang dipancarkan oleh mata madunya.

“Kau merelakan nilai ulangan World History-ku hanya untuk makan malam dengan Kai?” Mata Sehun tidak berkedip. Iris pure hazel-nya menatap Yoona lurus dan ada sebuah rasa kesal di dalam dadanya yang ingin keluar begitu saja.

“Kau ingin aku merelakan makan malamku bersama Kai hanya untuk nilai ulangan World History-mu itu?” Tanya Yoona balik. Yoona benci sifat Sehun yang kerap kali memaksa untuk Yoona merelakan sesuatu demi dirinya.

“Baiklah.” Sehun bangkit dari tempat duduknya lalu berniat melangkah keluar dari kelas Yoona, namun perempuan itu memanggilnya. Senyum Sehun berkembang besar―Yoona benar-benar tidak bisa menolak permintaan Sehun. Sehun berbalik, memandang Yoona. “Ada apa?”

“Jangan lupa kembalikan Buku Catatan Sosial Moral-ku,” Beritahu Yoona balik memandang Sehun dengan polos. “Malam ini.”

Senyum Sehun kembali pudar begitu cepat. Rasa kesalnya kembali memuncak. “Arasseo.” Ia menyusuri koridor sekolah dengan rahang yang menegas dan tatapan mata yang tajam, tidak tertarik dengan apa yang sedang terjadi di sekitarnya atau jeritan sekumpulan junior perempuan yang ia lewati. Tangannya mengepal dan rasanya sudah siap untuk meninju deretan loker di sebelahnya.

“Kau tidak ke kafetaria?” Tanya Baekhyun, salah satu teman terdekatnya.

“Aku tidak lapar.” Jawab Sehun singkat lalu meraih iPod-nya dan headset-nya. Duduk di bangkunya, lalu memasang headseta dengan volume keras dan mencoba melupakan semuanya.

Melupakan Yoona dan Kai beserta makan malam sialan itu, sebenarnya.

            Sehun turun dari mobil hitamnya lalu menutup pintu. Di tangannya ada sebuah buku berwarna cokelat yang ia gulung dan melangkah masuk ke dalam pekarangan rumah Keluarga Im.

 

To: Im Yoona

            Keluarlah.

            Atau bukumu akan kubuang.

 

Sehun menekan tombol bel dan sedetik kemudian Sehun memandang sosok yang ia kenali namun terlihat berbeda berdiri di hadapannya. Alis kirinya terangkat. “Yoong?”

“Sangat jarang kau berbaik hati seperti ini, Sehun-ah.” Yoona tersenyum lebar. Sehun masih memandang Yoona dengan mata yang tidak berkedip. Iris pure hazel-nya menyusuri Yoona dari ujung kaki yang mengenakan Stiletto hingga ujung rambut cokelatnya yang dimodel sedemikian rupa. Yoona mengenakan vintage lace cocktail dress berwarna emas dengan make-up yang―entahlah, Sehun tidak dapat mendeskripsikannya secara detail, tapi Yoona begitu cantik di matanya dan berhasil membuatnya kesusahan untuk mengedipkan mata dan menelan saliva.

“Aku sudah cukup sering berbaik hati kepadamu.” Gumam Sehun lalu menyodorkan buku catatan cokelat Yoona. Well, ia sudah cukup berbaik hati untuk tidak mencoba menggagalkan acara makan malam Yoona dan Kai yang terkutuk ini. “Kai tidak menjemputmu?”

“Dia akan datang lima menit―Oh, itu dia!” Yoona bersorak lalu menunjuk sebuah mobil hitam yang baru saja terparkir di depan rumahnya.

Sehun tidak mengikuti arah tunjuk Yoona, melirik saja tidak. Matanya hanya tertuju pada Yoona yang tiba-tiba tersenyum lebar dan tampak bahagia saat Kai akhirnya datang menjemputnya. Ia marah, kesal, emosi, entahlah kata apa yang tepat untuk mendeskripsikan perasaannya kali ini. “Pakailah jaketmu, di luar sangat dingin dan pakaianmu sangat minim. Have a good dinner with a good playboy, Yoong. See ya.” Sehun berbalik tanpa membiarkan Yoona mengucapkan sepatah katapun kepadanya lalu segera melangkah.

“Hey, Sehun-ssi.”

Langkah Sehun terhenti. Ada sosok laki-laki dengan kemeja hitam dengan dasi berwarna emas menghalangi jalannya. Oh, astaga, apa mereka berdua telah sepakat untuk memakai outfit berwarna emas? Iris pure hazel Sehun terputar. “Hey.”

“Ada apa kau ke sini?” Tanya Kai berbasa-basi.

“Menemui Yoona,” Pertanyaan bodoh macam apa itu? Pikir Sehun. Tentu saja ia datang ke rumah Yoona untuk menemui Yoona. “Aku pergi dulu.” Sehun kembali melangkah dan masuk ke dalam mobilnya. Menyalakan mesin dan memutar setir mobil, pergi secepat yang ia bisa.

            Sehun meraih tasnya lalu menutup pintu mobilnya. Aktivitas sehari-harinya dimulai lagi―bersekolah. Ia melangkahkan kakinya―sebenarnya lebih terlihat terseok-seok―menyusuri koridor sekolah. Tidak ada senyuman, atau mata dengan iris pure hazel yang terang seperti biasanya. Ia mengantuk, entah karena hari ini Seoul tengah diguyuri hujan atau akibat menghafal World History semalaman suntuk untuk ulangan hari ini. Menyebalkan sekali, batinnya.

“Sehun-ah!” Sehun melirik lalu ada seseorang menepuk punggungnya. Si Suara Cempreng―Im Yoona. “Kau terlihat tidak semangat.” Gumam Yoona lalu ikut melangkah di sebelah Sehun.

“Apa aku harus tetap semangat setelah belajar World History semalaman dan menahan diriku untuk tidak membakar buku-buku tersebut?” Tanya balik Sehun.

Yoona tertawa renyah di telinga Sehun, membuat laki-laki itu merasa geli mendengarnya. “Ini masih pagi, Sehun-ah.”

Sehun ingin menyelanya, namun jaket yang dikenakan Yoona saat ini begitu menarik perhatiannya. Membuatnya ia melirik lama dan akhirnya menyadarinya. “Itu jaket Kai.”

“Ini?” Yoona menunduk dan menunjuk jaket yang ia kenakan. “Ne, ini milik Kai. Dia meminjamkanku saat makan malam kemarin. Kau benar, udara sangat dingin akhir-akhir ini.”

“Bukankah sudah kukatakan kepadamu untuk membawa jaketmu sendiri?”

“Aku tidak sempat mengambilnya. Saat kau pulang, aku dan Kai langsung pergi. Untung saja Kai membawa jaketnya. Aku menyukai aromanya.” Yoona tersenyum manis.

Sehun mendengus. Aroma laki-laki brengsek, batin Sehun.

“Aromanya seperti aromamu.” Lanjut Yoona lagi lalu memandang Sehun.

“Apa?” Suara Sehun meninggi tanpa peringatan. “Aku tidak menggunakan parfum murahan, Yoong. Catat itu.”

“Lihat, kau kembali merendahkan orang lain.” Ucap Yoona dengan mata yang menajam.

“Terserah kau.” Sehun lalu masuk ke dalam kelasnya dan meninggalkan Yoona, membiarkan perempuan itu berjalan menuju kelasnya sendirian. Ia melempar tasnya ke atas meja lalu menarik bangku secara kasar, menarik perhatian beberapa temannya.

“Whoa, kau kenapa di pagi hari seperti ini, Oh Sehun-ssi?” Byun Baekhyun menghampiri lalu duduk di atas meja Sehun.

“Aku baik-baik saja.” Bantah Sehun.

“Apa kau ada masalah dengan Yoona?” Tanya Baekhyun lagi, terlihat sangat menggoda sekali. Sehun melirik Baekhyun, tapi tidak berkata apa-apa. “Sangat mudah dibaca.”

“Apa maksudmu?” Tanya Sehun singkat lalu keningnya membentuk lipatan bertumpuk.

“Kau seperti anak kecil, Sehun-ah. Sangat mudah untuk ditebak. Matamu mengatakan segalanya.” Jelas Baekhyun.

“Kata-katamu sangat menjijikkan.”

Baekhyun tertawa, memamerkan deretan gigi putihnya. “Okay, baiklah. Tapi aku serius, kau sangat mudah ditebak. Itu mengapa rumor kau memiliki hubungan khusus dengan Yoona masih terdengar di sekolah ini.”

Kening Sehun mengerut. “Aku tidak mengerti.”

“Yoona adalah sahabatmu, tapi yang publik lihat Yoona adalah kekasihmu. Kau memperlakukannya, menatapnya, seakan dia adalah kekasihmu.” Jelas Baekhyun lagi.

“Sekarang kata-katamu sungguh menjijikkan.” Sehun mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Dan, terimakasihlah kepada ponselnya yang berdering menandakan ada sebuah pesan masuk itu. Ia merogoh sakunya lalu menyentuh layarnya.

 

            From: Im Yoona

            Bukankah hari ini adalah hari ulang tahun ibumu?

 

            To: Im Yoona

            Ya, kau benar.

 

            From: Im Yoona

            Anak macam apa kau tidak membelikan hadiah untuk ibumu sendiri? Oh, astaga.

 

            To: Im Yoona

            Kau harus menemaniku membelinya sepulang sekolah nanti.

 

            From: Im Yoona

            Baiklah, aku akan menemanimu.

 

            Sehun tersenyum kecil membaca pesan terakhir yang Yoona kirimkan. Setidaknya, di satu hari ini ada waktu yang akan ia habiskan bersama Yoona. Lalu, ponselnya kembali berdering.

 

From: Im Yoona

            Dan, jangan lupa. Minggu depan klub fotografi sekolah akan mengadakan pameran foto. Kau harus datang dan melihat hasil fotoku.

 

“Dari Yoona?” Sehun mendongak, menatap mata Baekhyun. Mengisyaratkan laki-laki itu untuk segera menghilang dari pandangannya atau ia akan mengamuk. “Baiklah, aku akan pergi.”

            “Kau sangat berbaik hati membukakanku pintu.” Gumam Yoona lalu masuk ke dalam mobil Sehun.

“Aku menyesal karena membuang waktuku selama empat puluh lima menit hanya untuk menunggumu.” Tukas Sehun lalu menutup pintu mobilnya lalu memutari sisi depan mobil. Setelah ia masuk ke dalam mobilnya, ia sudah disambut dengan tawa Yoona yang keras. Apa ada yang lucu?

“Aku sungguh menyesal karena harus membuatmu menungguku,” Yoona menutupi mulutnya dengan telapak tangannya. Ia ingin sekali terdengar serius, namun ada gejolak tawa di dalam dirinya yang tidak bisa ia tahan. “Aku ingin menelponmu sebelum bel pulang berbunyi tadi untuk memberitahumu bahwa aku akan terlambat, tetapi tidak jadi.”

Wae?” Tanya Sehun datar seraya memutar setir mobilnya dan keluar dari area sekolah.

“Kupikir kau masih ada pembelajaran.” Jawab Yoona lalu menaikkan kedua bahunya.

“Kau bisa menelponku kapan saja yang kauinginkan, Yoong,” Suara Sehun tidak berubah, masih saja datar dan tatapannya tertuju pada jalanan. “Dan, hal sialan apa yang membutuhkan waktu empat puluh lima menit untuk diurus hingga membuatku menunggumu seperti orang idiot?”

“Kau tidak akan percaya,” Wajah Yoona berubah menjadi berseri-seri. Bibir pink-nya kini melengkung lebih indah dan pipinya tiba-tiba memerah tomat. Ia tersipu. “Kai menyatakan cintanya kepadaku.”

Wait, what?!” Sehun reflex menginjak pedal remnya, dan hampir saja membuat Yoona jantungan. Tapi, sungguh, Sehun-lah yang merasa jantungan saat ini.

“Oh, astaga! Oh Sehun! Kau hampir saja membuatku mati! Kau ingin membunuhku?!”

Kaulah di sini satu-satunya yang membunuhku, Yoong.

“Kai menyatakan cintanya kepadamu? Kau bercanda.” Sehun mendengus.

“Apa hal semacam itu lucu dijadikan bahan candaan?” Tanya Yoona balik lalu iris madunya berputar. Oh Sehun benar-benar tidak bisa berpikir, pikir Yoona kesal.

“Dan kau menolaknya, bukan? Kau pasti menolaknya.”

“Aku menerimanya.” Tukas Yoona ringan.

Kening Sehun mengerut. Matanya menatap sepasang iris madu yang duduk di sebelahnya yang bersikap santai dan seakan-akan semuanya baik-baik saja. “Kau menerimanya?”

“Ya, tentu saja. Aku menyukainya,” Yoona memandang Sehun dengan mata yang berbinar dan tersenyum. Membayangkan sosok pangerannya saat ini―Kim Jongin. “Kurasa, aku mencintainya”

“Kau gila, Yoong!” Sehun tiba-tiba berteriak keras, membuat Yoona terlonjak dan matanya membulat. “Kau pasti gila!”

“Oh Sehun-ssi, kau kenapa?” Tanya Yoona pelan.

“Apa yang kaupikirkan?! Menerima pernyataan cinta Kai dan sekarang kau berpacaran dengannya?!”

“Whoa, easy, boy,” Yoona mencoba menenangkan, namun yang ada hanyalah amarah Sehun yang semakin membara. “Kai adalah orang baik. Dia tampan dan rendah hati. Dia pintar. Apa aku memiliki alasan untuk menolaknya? Hampir tidak ada.”

“Sadarlah, Yoong! Dia hanya akan menyakitimu! Katakan kepadaku, sudah berapa banyak perempuan yang kau lihat menangis karena Kai?! Lima? Sepuluh? Kau adalah yang selanjutnya!!” Telunjuk Sehun menunjuk Yoona dengan tajam, meyakinkan Yoona dengan kata-katanya yang menurutnya adalah benar adanya. Kai bukanlah laki-laki yang seperti Yoona pikirkan. Kai bukan laki-laki seperti itu.

“Dan Kai bukan seorang laki-laki yang suka membentak perempuan. Dia tahu bagaimana cara memperlakukan perempuan. Setidaknya,” Yoona menelan salivanya, menghirup nafas dalam-dalam dan tidak membiarkan air matanya jatuh. “Dia lebih baik dari dirimu, Oh Sehun-ssi. Kau memang pintar, tapi terlalu sombong. Kau suka merendahkan orang lain dan sangat egois. Menyedihkan,”

Mulut Sehun tertutup mendengar pernyataan Yoona mengenai dirinya. Jadi, dirinya seperti itu? Benarkah?

“Kau jauh lebih buruk dari Kai―”

“Keluar dari mobilku,” Sehun mengalihkan pandangannya. “Sekarang.” Ucapnya lebih tajam dari mata pisau yang baru diasah. Ia tidak melirik Yoona, tapi setelah itu ia mendengar suara pintu mobilnya ditutup secara keras―dibanting, lebih tepatnya.

“Kau jauh lebih buruk dari Kai”

Sehun memukul setir mobilnya dengan keras. Marah sekali. “Sialan!”

            “Apa kau tahu? Kai dan Yoona berpacaran!”

“Benarkah? Oh, astaga! Aku baru mendengarnya. Sejak kapan?”

“Kemarin. Yoona sangat beruntung sekali mendapatkan Kai yang sangat tampan.”

Sehun mendengus pelan. Yoona beruntung mendapatkan Kai? Apa menjadi korban seorang playboy dapat disebut ‘beruntung’? Pikirnya. Sehun berjalan menerobos kerumunan yang memenuhi koridor sekolah. Hampir disetiap langkah yang ia ambil, ia mendengar bahan gosipan yang sama―Kai dan Yoona telah berpacaran―dan tanpa disadarinya membuat dirinya gerah mendengarnya.

“Kau mengakhiri hubunganmu dengan Yoona, Sehun-ah?!” Huang Zi Tao as known as Tao―murid laki-laki yang berasal dari Cina dan notabene adalah teman sekelas Sehun―tiba-tiba mencegatnya setelah baru selangkah ia memasuki ruang kelasnya.

Kening Sehun mengerut. “Apa?” Sungguh, ia tidak mengerti untuk kali ini.

“Kau mengakhiri hubunganmu dengan Yoona? Apa karena Kai?” Tao mengulangi pertanyaannya.

Sehun terkejut mendengar pertanyaan Tao. Hubungan? Hubungam macam apa? Keningnya masih mengerut. “Sungguh, aku tidak mengerti pertanyaanmu.”

“Kau dan Yoona berpacaran, bukan?” Suara Tao yang meninggi satu oktaf, berhasil menarik perhatian seisi kelas dan menjadikan mereka berdua pusat perhatian dengan sempurna.

Sehun menghela nafas. “Aku tidak pernah berpacaran dengannya,” Jawab Sehun yakin lalu kembali melangkah melewati Tao dan duduk di bangkunya. Ada apa dengan orang-orang ini? Apa mereka sebegitunya percayanya bahwa ia dan Yoona berpacaran? Sehun mengeluarkan iPod beserta headset-nya namun tak sengaja melirik Baekhyun yang tengah melangkah menghampirinya. “Tidak sekarang, Baekhyun-ah. Sungguh, aku sedang tidak ingin mendengar kalimat menjijikanmu itu.”

“Aku hanya ingin menanyakan kabar Yoona,” Baekhyun melompat lalu duduk di atas meja Sehun―seperti biasa. “Bagaimana kabarnya?”

Sehun terdiam. Di tangannya ada iPod hitam yang ia genggam. Akhirnya, ia memutuskan untuk mengalihkan pandangannya dan memandang jendela, menatap ke luar sana. “Semakin bahagia.” Bersama Kai.

“Aku senang mendengarnya.” Baekhyun mengangguk pelan.

“Kau senang Yoona dan Kai berpacaran?” Sehun memandang Baekhyun dengan tatapan kesal.

“Aku senang jika Yoona semakin bahagia. Bukankah itu adalah hal yang lebih penting daripada gossip mereka berdua yang telah tersebar ke seantereo sekolah?”

Sehun menghela nafas kasar, mencoba menyanggah ucapan Baekhyun―yang menurutnya adalah benar―namun gagal. “Minggirlah, Baekhyun-ah. Kau membuatku ingin muntah.”

Baekhyun berdecak. “Apa kau sedang PMS?”

“Apa?!” Sehun menatap Baekhyun garang lalu secepat kilat laki-laki bertubuh mungil dengan senyuman manis itu berlari, pergi menjauhi Sehun.

            Sehun tidak ikut bersama kerumunan teman-temannya menuju kafetaria. Ia lebih memilih berjalan sendiri―semenjak Yoona memutuskan untuk tidak lagi menemaninya ke kafetaria. “Sialan” Umpat Sehun saat otaknya secara tidak sengaja mengingatkannya akan Yoona. Sehun mendorong pintu kafetaria dengan satu tangan lalu mendapati kafetaria sangat bising dan terasa sesak.

Oh Sehun benci tempat ramai.

Kepalanya mudah pusing jika berada di tempat ramai―apa ini yang dinamakan serangan panik? Entahlah, Sehun belum tahu pasti, tapi mau-tidak mau ia harus makan atau perutnya akan terus berbunyi mengalahkan bunyi bel sekolah.

Sehun meraih sebuah cafeteria tray lalu mengantri di barisan untuk mendapatkan makanannya.

“Astaga! Itu Sehun sunbae!”

“Mana? Oh, aku melihatnya!”

“Dia sangat tampan!”

Sehun hanya terdiam mendengar beberapa hoobae perempuannya membicarakan tentang dirinya―tentang dirinya yang begitu tampan ini, jika bisa dibenarkan―dan ia sudah biasa. Oh, lihat, kini ia tengah memuja dirinya sendiri. Tampan, menawan, kulit putih seperti susu, badan atletis, senyum yang selalu berhasil membuat setiap hati perempuan meleleh dibuatnya―well, satu perempuan tidak. Im Yoona.

Sialan. Batin Sehun lagi. Apa nama perempuan itu dengan mudahnya melintasi otaknya? Sehun harus berhenti memikirkan Yoona. Nama itu harus berhenti melintas di dalam otaknya.

Sehun maju satu langkah lalu membiarkan seorang ahjumma mengisi cafeteria tray-nya.

“Kau ingin makan? Aku lapar.” Tanya seorang perempuan.

“Aku sudah kenyang. Aku akan menemanimu.” Seorang laki-laki menjawabnya.

Sedetik kemudian, raut wajah Sehun berubah. Awalnya yang tampak biasa, kini iris pure hazel-nya menajam. Garis rahangnya menegas. Ia tahu pemilik suara itu. Ia tahu pasti. Dan kini, pemilik suara itu tengah berdiri di belakangnya dan tidak menyadari keberadaannya di sana. Gejolak amarah itu sekejap meluap di dalam dadanya, membuatnya melepaskan cafeteria tray-nya yang telah terisi penuh dengan makanan dan menjatuhkannya ke lantai.

PRANG!

Cafeteria tray tersebut berdenting dengan keras dan menarik seluruh perhatian pengunjung kafeteria―termasuk Yoona. Sehun lalu pergi begitu saja, tanpa sepatah kata dan meninggalkan makan siangnya yang telah tercecer di atas lantai.

            Sehun tidak menjawab berbagai pertanyaan yang dilontarkan oleh teman-teman sekelasnya mengenai aksinya di kafetaria tadi. Ia tidak berbicara, bahkan hingga bel pulang berbunyi. Ia meraih tasnya dan segera menghilang, menuju dimana mobilnya terparkirkan. Selama berjalan, Sehun menghibur dirinya dengan memainkan kunci mobil miliknya―walaupun itu tidak merubah mood-nya dan terkesan useless. Tapi, langkahnya mendadak berhenti. Sehun mendapati Yoona tengah menatapnya dan berdiri di dekat mobilnya.

Mulutnya terkatup rapat dan ia memalingkan tatapannya kemudian kembali berjalan. “Ada apa denganmu di kafetaria tadi?!” Tanpa basa-basi, suara Yoona sudah meninggi. “Kau membuang-buang makanan, apa kau tahu itu?!”

Sehun memberanikan dirinya membalas tatapan Yoona. Ia tidak pernah menatap Yoona setajam saat ini sebelumnya. Sehun memerhatikan iris madu Yoona. Menatap dalam dan dingin lingkaran madu di hadapannya itu. “Apa aku peduli?” Hanya kalimat pendek itulah yang keluar dari mulutnya lalu laki-laki itu masuk ke dalam mobil dan melesat pergi.

            Jangan tertawakan dirinya. Ia dengan terpaksa melakukan hal ini. Sungguh.

Sehun mengeluarkan sebuah kotak berwarna ungu tua dari dalam tasnya lalu membuka tutupnya. Roti dengan selai cokelat selalu menjadi kesukaannya.

“Kau tidak ikut ke kafetaria, Sehun-ah?” Tanya Tao. Sebelum Sehun menjawab pertanyaan, Tao mendapati sebuah kotak ungu tua berisi roti di atas meja Sehun. “Jangan katakan kau membawa bekal.”

“Aku membawanya.” Timpal Sehun lalu seketika tawa Tao menggelegar keras.

“Kau―” Tao kembali tertawa, tidak dapat melanjutkan kalimatnya. Tangannya memegangi perutnya dan tangan yang lainnya memukul meja. Apa sebegitu lucunya? “Kau membawa bekal? Sungguh?”

“Pergilah, sebelum aku membengkakkan wajahmu, Tao-ya.” Perintah Sehun.

“Baiklah, baiklah. Aku tidak akan mengganggu waktumu dengan bekalmu yang lucu itu.” Tao masih tertawa mengejek saat ia menghilang dari hadapan Sehun.

Sehun menghela nafas sembari memandang kotak bekalnya. Jika ini bukan karena ia tidak ingin bertemu Yoona dan Kai di kafetaria, ia tidak akan membawa kotak terkutuk ini.

Sudah berhari-hari Sehun tidak pergi ke kafetaria. Ia menghabiskan waktu istirahatnya dengan memakan bekal yang ia bawa dari rumah sembari mendengarkan musik atau terkadang menonton film di laptopnya. Dan, seakan-akan ia menemukan sebuah inovasi baru dalam hidupnya―well, terkadang Sehun bosan sekali dengan menu yang ada di kafetaria sekolahnya.

“Kau tidak ke kafetaria lagi?” Baekhyun menghampirinya.

“Aku sedang makan, Baekhyun-ah. Jangan mengeluarkan kata-kata menjijikanmu itu.” Bantah Sehun enteng.

“Aku hanya bertanya kepadamu” Bolamata Baekhyun berotasi jengkel. “Kenapa kau tidak pernah lagi pergi ke kafetaria semenjak insiden pembantingan-cafeteria-tray itu?”

“Aku tidak membantingnya,” Sehun membatah dan menggeleng dengan mulut yang penuh dengan makanan. “Aku hanya menjatuhkannya. Kalian menggunakan kata-kata yang berlebihan untuk menceritakannya.”

“Lalu, kenapa?” Tanya Baekhyun, kembali ke pertanyaan awalnya.

“Bukankah kau mengatakan aku seperti buku yang terbuka? Mudah dibaca?” Tanya Sehun balik.

“Untuk kali ini tidak,” Jawab Baekhyun santai. “Jadi, kenapa?”

Sehun membalas tatapan Baekhyun. Kedua iris beda warna itu saling menatap untuk beberapa detik, lalu Sehun menelan makanannya. “Bagaimana jika kukatakan aku menghindari Yoona?”

“Kau mencintainya.” Sergah Baekhyun cepat.

Sehun mengerang. “Aku tidak kuat mendengar ucapan menjijikanmu itu.”

Baekhyun tertawa, memamerkan gigi putihnya yang berderet sempurna lalu diikuti tawa Sehun. “Omong-omong, kau akan pergi ke pameran foto sekolah besok? Klub fotografi yang mengadakannya.”

Sehun berhenti tertawa. “Apa?”

            Sehun akan mengutuk dirinya sendiri jika ia sampai mengeluarkan kakinya dari mobil. Entahlah, ini sudah pertimbangan ke berapa ribu kalinya untuk ia datang ke gedung ini. Sehun masih berperang dengan logikanya―apa ia harus keluar dari mobil dan masuk ke dalam gedung tersebut atau menginjak pedal gasnya dan pergi.

Tidak.

Ia tidak akan masuk ke dalam gedung tersebut. Sekali lagi―tidak akan. Sehun meletakkan tangannya di atas setir mobil untuk memutarnya, namun kakinya tidak menginjak pedal gas.

 

Dan, jangan lupa. Minggu depan klub fotografi sekolah akan mengadakan pameran foto. Kau harus datang dan melihat hasil fotoku.

 

Sehun mendengus kesal. Ia pasti sudah gila, pikirnya lalu turun dari mobil dan berjalan memasuki gedung tersebut.

“Pengunjung luar atau APIS?”

“APIS”

“Nama?”

“Oh Sehun” Sehun menunggu sejenak lalu perempuan yang duduk di balik meja itu memberikannya sebuah kartu pengunjung. “Thanks” Sehun tidak perlu mendengar balasan perempuan itu, ia melangkah masuk dan mulai mengedarkan pandangannya untuk menikmati karya foto hasil klub fotografi sekolahnya. Pameran foto yang diselenggarakan oleh klub fotografi sekolahnya diadakan secara besar-besaran.

Sehun yang mengenakan celana hitam dan kaus putih yang dipadupadakan dengan jaket kulit hitam melihat-lihat foto-foto yang tergantung di dinding. Terkadang ia berhenti sejenak, lalu memandangi foto yang menurutnya cukup menarik perhatiannya. Jika membuatnya puas, bibirnya akan membuat lengkungan kecil nan indah.

Ia kembali melanjutkan langkahnya. Jemarinya ia selipkan di dalam saku celana hitamnya sembari bersenandung pelan untuk menghibur telinganya. Pameran foto ini tidaklah terlalu buruk, pikir Sehun. Sehun sedikit mengetahui dunia fotografi, itu mengapa setidaknya ia mengerti foto―Yoona yang memberitahunya, sebenarnya.

Sehun menghentikan langkahnya. Damn. Apa nama itu harus sesering itu melintas di kepalanya dan mengingatkannya? Sehun mendesah pelan. Ia memalingkan wajahnya, menatap foto di sebelahnya.

“Dance is the hidden language of soul―Martha Graham”

            Kening Sehun mengerut seraya membaca nama di pojok kanan bawah foto tersebut―nama fotografer pemilik foto tersebut.

            Im Yoona.

Iris pure hazel Sehun tergerak ke atas, memandangi foto tersebut secara keseluruhan. Mulut terkatup rapat―terdiam. Foto tersebut merupakan foto black and white. Menggambarkan seorang laki-laki di sebuah ruang latihan sedang menari begitu serius dengan pancaran mata begitu kuat, walaupun hanya di lihat dalam sebuah bentuk foto yang tergantung di dinding lalu dipamerkan dalam sebuah pameran foto Asia Pacific International School―Kim Jongin as known as Kai.

Sehun tersenyum masam.

Yoona berhasil mengabadikan moment yang biasa dan menjadikannya hasil karya yang indah sekaligus hebat. Selain skill beraktingnya, skill fotografinya meningkat―Sehun tahu itu.

“Aku senang jika Yoona semakin bahagia. Bukankah itu adalah hal yang lebih penting daripada gossip mereka berdua yang telah tersebar ke seantereo sekolah?”

Sehun akhirnya melangkah menuju sisi gedung yang lainnya. Keningnya kembali mengerut dan bertanya-tanya saat menemukan beberapa lukisan yang dipajang. Apa klub fotografi bekerja sama dengan beberapa pelukis di sekolahnya? Mungkin, iya.

Dari semua lukisan―bahkan ada yang melukis Shakespeare dengan sangat mendetail―perhatian Sehun jatuh pada sebuah lukis yang berada di deretan terakhir. Ia berdiri di hadapan lukisan tersebut lalu tersenyum lebar, hampir tertawa―well, jika ia tidak berada di ruang publik, maka sudah dipastikan tawanya akan meledak.

Ada lukisan dirinya di sana. Di hadapannya kali ini.

Seseorang melukisnya.

Sehun membaca sebuah nama yang tertera pada lukisan tersebut.

Calista Im.

T B C

Author's Note: Hai, seneng banget rasanya bisa nulis FF lancar. Jangan liat posternya abal banget. Don't forget RCL guys! Xoxo.

74 thoughts on “No One Realize (Pt. 1)

  1. Omoooo~~~~
    Sikapnya Sehun kok gitu bgt ya? wkwk.
    btw, gara gara ff ini w jadi pingin bgt sekolah di APIS masa wkwk
    and selamat thor karena sudah bisa menulis ff dengan lancar kembali^^
    seperti biasa, semua ff karya author selalu mengesankan. Kaya lagi baca novel terjemahan haha.
    Keep writing ~^

  2. Ck Yoong Eonnie gx peka -_- Sehun,,sabarlah nakk :3 Keren thor ffny,,izin bca chapt slnjutny yha🙂
    Keep Writing thor ^^
    FIGHTING !!!!

  3. kya!!!!!!
    chingu,bgus bngeeet!!!*sumvah
    aq suka bgt ma karakter sehun c0cok dah.crtanya jga menarik dan penasarannya minta ampun.di tnggu chap slnjtnya..!!!!

  4. Kasihan Sehun😦 Sabar ya Hun, Yoona cuma blm bs mbedain mana rasa cinta yg sesungguhnya. oh, Calista nalsir Sehun yah? Jangan, Sehun cuma buat Yoona❤

  5. Suka banget ma ni ff. Suka ma sikap protektif n cemburu berat nya hun oppa ke yoongnie.gak bisa berenti buat senyum2 bacanya . . .
    Yoonhun jjang berharap mereka bisa bersatu . .

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s