No One Realize (Pt. 2)

poster40
2

by
Clora Darlene

Main Casts
Oh Sehun | Im Yoona

Supporting Casts
Byun Baekhyun | Kim Jongin | Calista Im
Kwon Yuri
| Huang Zi Tao | Others

Length | Rating | Genre
3shots | PG-15 | School Life

[Im Yoona dan Calista Im adalah orang yang berbeda]

Ada lukisan dirinya di sana. Di hadapannya kali ini.

Seseorang melukisnya.

Sehun membaca sebuah nama yang tertera pada lukisan tersebut.

Calista Im.

“Kau menyukainya?”

Sehun terkejut mendengar seorang perempuan bertanya kepadanya. “Cale?”

“Pihak fotografi hanya memberikanku waktu satu hari. Maafkan aku jika aku merubah matamu.” Aku Calista lalu tertawa kecil.

Alis kiri Sehun terangkat dan ia kembali memandangi hasil lukisan Calista. Ia menyipitkan matanya, memerhatikan ‘matanya’ pada lukisan tersebut. Well, Calista membuat matanya lebih sipit. “Tapi, aku tetap menyukainya. Dan, ada apa denganmu yang memilihku sebagai objek lukisanmu?”

“Aku sering sekali mendengar para hoobae perempuan yang mengelu-elukanmu karena mereka menyukaimu. Jadi, kurasa, jika aku melukismu akan mempermudah untuk menarik perhatian mereka dan menjadikan lukisanku yang paling banyak diminati.” Jelas Calista dengan senyuman manis.

“Kau sangat pintar dan licik di waktu yang bersamaan, Cale,” Ucap Sehun ringan. “Mungkin kau bisa mendapatkan Medaille D’Or dengan lukisan ini.”

“Aku menganggapnya sebagai pujian―”

“Calista!” Sehun dan Calista reflex menoleh pada sumber suara. “Joonmyeon memanggilmu!”

Arasseo! Aku akan segera ke sana!” Balas Calista setengah berteriak dan membuat perempuan yang memanggilnya tadi pergi dan kembali menatap Sehun. “Aku harus pergi. Kau tahu sendiri bahwa Joonmyeon tidak akan berhenti mengoceh jika semuanya belum sempurna.”

“Aku tahu rasa ocehannya.” Timpal Sehun lalu keduanya mengucapkan salam dan akhirnya Calista menghilang dari pandangan Sehun.

            Sehun tengah berbaring di atas tempat tidurnya sembari memainkan gitar dan menatap kosong langit-langit kamarnya. Ia tidak bernyanyi, melainkan bergumam tidak jelas mengikuti alunan gitar. Ia benar-benar tidak menemukan hal apapun untuk dikerjakannya―bosan. Lalu, ponselnya di atas meja berdering keras dan memaksanya untuk bangkit lalu meraih ponselnya.

Yoona.

Yoona menelponnya.

Wow. Batin Sehun, lalu berdehem. Ia harus menjaga image-nya sebaik dan se-cool mungkin. “Yoboseyo?”

Sehun-ah?” Suara Yoona bergetar lalu terdengar isakan.

“Yoong?” Suara Sehun meninggi. “Ada apa?”

Kau pernah mengatakan kepadaku bahwa aku bisa menelponmu kapan saja yang kuinginkan…” Sehun dapat mendengar suara helaan nafas Yoona yang berat dan suara perempuan itu semakin kecil untuk didengarnya. Ada yang tidak benar, Sehun tahu itu.

“Yoong, kau baik-baik saja?”

            Sehun berlari menembus dinginnya malam. Ia berada di sebuah taman luas dan pandangannya menyisiri seluruh sudut taman. Kepulan uap tak henti keluar dari mulutnya. Tangannya yang ia selipkan di saku mantel yang ia kenakan sudah mulai bergetar kecil―kedinginan.

Yoona ada di taman ini. Itu mengapa Sehun datang kemari. Bagaimanapun caranya, Sehun harus menemukan Yoona.

“Yoona!”

“Yoona-ya!”

“YOONG!”

Nafas Sehun berpacu cepat. Ia tidak memedulikan deru nafasnya yang tidak teratur atau paru-parunya yang rasanya ingin meledak―ia harus menemukan Yoona. “YOONA!!” Sehun kembali berteriak. Tenggorokannya sudah sakit dan dingin itu dengan mudah menyerang hidungnya.

“Yoong!” Sehun berlari secepat mungkin menghampiri seorang perempuan yang duduk di tengah-tengah taman. Perempuan itu mengenakan dress sleeveless panjang dengan belahan tinggi pada kakinya berwarna biru kehijauan dan rambutnya dibiarkannya tergerai. “Oh, astaga” Sehun terdiam kaku melihat wajah Yoona. Eyeliner perempuan itu luntur akibat air matanya dan menyebabkan bekas hitam meyusuri pipi Yoona.

Sehun melepaskan mantelnya lalu memakaikannya pada Yoona dan berlutut di hadapan perempuan itu. “Ada apa denganmu, Yoong?”

Yoona tidak menjawab, dan tangisnya meledak tiba-tiba. Sehun dapat melihat air mata Yoona kembali menyusuri pipi mulus Yoona. “Kai…”

“Ada apa dengannya?” Tanya Sehun, namun Yoona tidak menjawabnya. Tangisannya malah membesar, membuat Sehun panik tetapi lelaki ini butuh kejelasan menganai apa yang telah Kai lakukan pada Yoona. Sehun tidak dapat membiarkan Yoona seperti―tidak boleh ada satu orangpun yang membuat Yoona seperti ini. “Ada apa dengannya, Yoong?”

“Aku menemukan underwear perempuan di dalam mobilnya…” Jelas Yoona singkat.

Wow. Itu sangat parah. Batin Sehun.

“Dia berselingkuh, Sehun-ah!” Teriak Yoona.

Sehun menghela nafas lalu menarik tangan Yoona. “Ayo, kita pulang, Yoong” Sehun membantu perempuan itu bangkit dan berjalan walaupun terseok-seok. Tangannya melingkar pada pinggul Yoona, menjaga perempuan itu agar tidak jatuh secara tiba-tiba. Sehun membuka pintu mobilnya lalu membantu Yoona masuk ke dalamnya dan dalam sekejap Sehun sudah menancap gasnya. Ia memacu mobilnya secepat mungkin agar cepat sampai di rumah Yoona―perempuan di sebelahnya ini sudah mulai menggigil.

Dan, siapa yang menelponnya dalam keadaan seperti ini?! Gertak Sehun dalam hatinya lalu meraih ponselnya tanpa melihat siapa yang menelponnya. “Yoboseyo?”

Sehun-ah, kau dimana?” Tanya Baekhyun di ujung sana.

“Ada apa?” Tanya Sehun balik.

Kau harus ke rumahku sekarang. Tugas kelompok, kau ingat? Jangan katakan kau melupakannya. Tao sudah berada di rumahku sekarang.

Sehun berdecak kesal. Oh, sialan. Sempurna sekali. “Aku akan segera ke sana.” Sehun melirik Yoona yang tidak bergerak sedari tadi. Tak ada sepatah katapun yang diucapkan Yoona. Apa perempuan ini sebegitu patah hatinya?

Sehun menginjak pedal remnya dan segera keluar dari mobil lalu membukakan pintu Yoona dengan sekali sentakan. Ia ingin memastikan keadaan Yoona, tetapi untuk bertanya saja ia tidak berani. Ia tidak ingin Yoona tiba-tiba kembali menangis atau apapun bereaksi berlebihan.

“Aku harus segera pergi. Apa kau baik-baik saja?” Sehun akhirnya membuka suaranya. Tangannya masih menggenggam tangan Yoona. Bahkan tangannya sudah mendingin seperti mayat.

“Ya, tentu saja,” Yoona mencoba tersenyum walaupun sangat masam sekali―dan Sehun menyadarinya. “Thank you, Sehun-ah.”

Entah apa yang merasukinya, Sehun menarik Yoona ke dalam pelukannya. Mendekap perempuan itu untuk sejenak. “Jangan menangis lagi, kau mengerti?” Suara Sehun terdengar pelan sekali, namun lembut dan membuat telinga Yoona nyaman mendengarnya.

Yoona mengangguk di dalam pelukan Sehun. “Ya, aku mengerti. Gomawo.”

            “Kau darimana saja?” Suara Baekhyun melengking tinggi saat membuka pintu rumah dan menemukan Sehun.

“Di luar sangat dingin sekali” Gumam Sehun lalu mengusap lengannya dan melangkah masuk, seakan-akan rumah Baekhyun adalah rumahnya juga.

“Kau tidak mengenakan jaketmu? Bodoh sekali.” Baekhyun berkomentar.

“Aku lupa.” Bantah Sehun lalu ikut bergabung dengan Tao yang tengah sibuk dengan ponselnya.

“Temanku melihat Kai dan Yuri sedang berkencan.” Beritahu Tao, tetapi pandangannya tidak dapat terlepas dari layar ponselnya yang begitu terang.

“Apa?” Sehun adalah orang pertama yang menyela.

Tao menoleh memandang Sehun yang duduk di sebelahnya. “Bukankah Kai adalah kekasih Yoona?”

“Temanmu benar-benar melihat Yuri dan Kai berkencan?” Tanya Sehun yang tidak menjawab pertanyaan Tao sama sekali. “Bisa saja mereka hanya sekedar berjalan-jalan, mereka berdua adalah teman sekelas.”

“Apa candle light dinner di restaurant mewah dan mencium kening dapat disebut dengan ‘berjalan-jalan biasa’?” Balas Tao.

“Apa temanmu adalah anak APIS?” Tanya Sehun balik.

Seoul Performing Arts High School.” Tao membenarkan.

“Jangan sampai berita itu tersebar di APIS. Beritahu temanmu jangan memberitahukannya kepada siapapun, kecuali kau. Aku harus pergi.” Secepat kilat Sehun bangkit dari duduknya.

“Kau mau kemana?” Sergah Baekhyun.

“Mengurus sesuatu,” Jawab Sehun lalu melangkah, tetapi ia akhirnya kembali berbalik. “Apa aku bisa mengandalkanmu, Tao-ssi?”

“Kau tidak akan menyesal.”

            Sehun menekan tombol bel lalu menunggu di depan sebuah pintu rumah. “Sehun­-ah?”

“Maaf mengganggu malammu, Yuri-ya. Apa aku boleh masuk?” Sehun tersenyum manis.

“Oh, silakan,” Yuri memberi jalan Sehun masuk ke dalam rumahnya lalu menutup pintu rumah. “Apa yang membuatmu datang ke rumahku tiba-tiba seperti ini, Sehun-ah? Apa ada sesuatu yang genting?”

“Sangat genting.” Sehun membenarkan lalu membalikkan badannya, memandang Yuri―Kwon Yuri.

Mata Yuri membulat. “Benarkah? Ada apa?”

Sehun mengerang. “Aku tidak tahu harus memulainya darimana, Yul.”

“Langsung saja, Sehun-ah.” Yuri terlihat sangat bertanya-tanya terhadap apa yang akan dibicarakan Sehun.

“Salah satu temanku mendapatimu dan Kai tengah makan malam, candle light dinner, di sebuah restaurant mewah. Apa kalian berdua tengah berkencan?” Sehun tersenyum kecil. Tidak ada nada tinggi, paksaan atau menyindir, namun tatapan Sehun mengunci mata Yuri.

“Ah, itu,” Yuri tertawa hambar. Perempuan ini terlihat mendadak gugup. “Aku dan Kai hanya berjalan-jalan biasa. Kami berdua telah selesai mengerjakan tugas kelompok kami dan kelaparan. Kau tahukan, makan malam biasa.” Yuri mengangkat kedua bahunya lalu kembali tertawa.

“Apa candle light dinner di restaurant mewah dapat disebut dengan ‘berjalan-jalan biasa’,” Tanya Sehun melemparkan pertanyaan Tao. “Kwon Yuri-ssi?”

“Aku tidak berkencan dengan Kai, Sehun-ah.” Kini Yuri terdengar sedang menggertak Sehun.

“Lalu?”

“Aku hanya berjalan-jalan. Kai hanyalah temanku.” Sergah Yuri.

“Teman tetapi mencium kening?” Sehun menatap Yuri tajam. “Wow,” Mulut Yuri terkatup rapat. Keduanya saling beradu tatapan tajam lalu Sehun melangkah, berdiri tepat di hadapan Yuri. “Aku memberimu waktu dua puluh empat jam untuk mengaku dan meminta maaf kepada Yoona. Dimulai dari sekarang.”

“Bagaimana jika aku tidak melakukannya?” Tukas Yuri tak kalah tajam.

“Jadi, sekarang kau mengakui bahwa kau berkencan dengan Kai?” Sehun tersenyum mengejek. “Dengarlah. Aku sudah berbaik hati memberikanmu kesempatan untuk mengakui kesalahanmu, sebelum aku menghancurkan namamu sebagai perusak hubungan Yoona dengan Kai, dan,” Sehun menatap dalam iris hitam Yuri. “Perempuan murahan. Selamat malam, Yuri-ssi” Dengan sekali tarikan, Sehun membuka pintu rumah Yuri dan melangkah keluar.

“Kau salah, Sehun-ah,” Langkah Sehun terhenti lalu ia berbalik. “Perempuan murahan yang kaukatakan itu bukanlah aku. Bukan aku,” Yuri menggeleng dengan senyuman manisnya. “Tetapi, Yoona. Im Yoona. Dan hubungannya bersama Kai, memang seharusnya dihancurkan.”

“Kau mencintai Kai.” Sehun akhirnya menyimpulkan.

“Sejak lama,” Yuri melanjutkan. “Selamat malam, Oh Sehun-ssi

BRAK!

Yuri mendorong pintu rumahnya dengan keras, mengisyaratkan pintu rumahnya akan tertutup rapat untuk Sehun mulai dari saat ini.

            Sehun bersenandung pelan melewati koridor sekolahnya. Masih pagi dan mood-nya sudah bagus―great. Walaupun ia terkena flu karena semalam. Sesekali ia menyapa beberapa temannya dari kelas lain lalu kembali melangkah, tetapi matanya lebih cepat bergerak ketimbang kakinya.

“Benarkah?” Perempuan itu tertawa keras lalu menutupi mulutnya dengan telapak tangannya. Sehun dapat melihat tangan perempuan tersebut melingkar sempurna pada pinggang laki-laki yang berjalan di sebelahnya.

“Tentu saja” Jawab laki-laki itu ringan.

Wha―What the hell is this?!

Sehun melangkah lebar lalu menghampiri sepasang kekasih-yang-seharusnya-telah-berakhir-sejak-semalam itu. “Sehun-ah?” Sapa Yoona.

“Selamat pagi, Sehun-ah.” Kai tersenyum memandang Sehun.

“Kita harus bicara, Yoong. Sekarang.” Ucap Sehun.

“Ada apa?” Tanya Yoona dengan tatapan polosnya.

Sehun menghela nafas lalu meraih tangan Yoona. “Kuharap kau tidak keberatan aku meminjam Yoona-mu sebentar.” Sehun lalu menarik Yoona menjauh dari Kai.

“Ada apa denganmu, Sehun-ah?” Tanya Yoona lagi.

“Aku yang seharusnya bertanya seperti itu kepadamu. Ada apa denganmu, Yoong?!” Sehun setengah berteriak dan membuat Yoona terlonjak kaget. “Apa kau tidak waras?”

“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti.” Bantah Yoona dengan kening yang mengerut lalu menggeleng.

“Kai berselingkuh―”

“Tidak, ternyata aku salah,” Yoona tertawa kecil. Semburat merah mudah mucul di balik permukaan pipinya yang mulus. “Kai tidak berselingkuh. Underwear itu adalah milik sepupunya dan tertinggal di mobil Kai saat mereka mengambil laundry

Kening Sehun mengerut kemudian suaranya merendah. “Bagaimana kau tahu?”

“Kemarin malam Kai datang ke rumahku dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dia datang tepat setelah kau pergi” Jawab Yoona ringan. “Mantelmu benar-benar memiliki aroma yang sama dengan aroma Kai. Aroma kalian berdua sama, itu mengapa saat kau memelukku semalam terasa seperti aku sedang memeluk Kai.” Lalu, Yoona tertawa kecil lagi.

“Yoong, kau salah,” Sehun menahan nafasnya. “Kau salah,”

“Aku salah? Di bagian mana?”

“Kai benar-benar berselingkuh. Dia bermain-main bersama perempuan lain di belakangmu.” Sehun menatap Yoona tegas.

Yoona terdiam. Mulutnya bungkam. Ia membalas tatapan Sehun. “Kurasa, kau yang salah, Sehun-ah. Kai telah berubah.”

“Yo―”

Yoona mengangkat tangannya, mengisyaratkan Sehun untuk berhenti berbicara. “Aku tidak ingin berbicara denganmu jika yang kaulakukan hanyalah membual tentang Kai.” Yoona berbalik dan pergi begitu saja. Meninggalkan Sehun. Tangan Sehun mengepal. Ingin sekali ia meraih tangan Yoona lalu mengatakan kepada perempuan itu untuk percaya kepadanya dan kembali ke sisinya―tapi, ia hanya membeku, seperti orang bodoh. Bodoh sekali.

Sehun akhirnya berbalik dan merogoh sakunya untuk meraih ponselnya.

To: Kwon Yuri

            I’m watching you.

 

            Hatchim!

Sehun menutup mulut dan hidungnya menggunakan selembar tisu putih. Keadaannya memburuk begitu cepat karena flu yang menyerangnya sejak semalam, padahal bel istirahat baru saja berbunyi dan ia harus bertahan di sekolahnya hingga enam jam ke depan.

“Sehun?”

Sehun berbalik dan menemukan Calista Im yang memanggilnya. “Hey, Cale―Hatchim!”

“Kau sakit?” Kening Calista merengut.

“Hanya flu.” Jawab Sehun ringan.

“Duduklah, aku akan mengambilkan makananmu. Well, jika kau mau.”

“Aku beruntung bertemu denganmu.” Sehun tertawa jahil lalu duduk mengistirahatkan tubuhnya. Ia menaruh kepalanya di atas meja dan menatap kerumunan di depannya―semuanya berbayang. Matanya tidak lagi fokus dan keringat dingin mulai membasahi bajunya. Ia pusing sekali. Matanya terpejam, ingin mengistirahatkan otaknya sejenak.

“Sehun-ah?” Seorang perempuan menggoncangkan tubuhnya lalu duduk di hadapannya dan menyentuh keningnya. “Kau demam tinggi.”

“A…pa?” Sehun bergurau tidak jelas dengan mata yang masih terpejam.

“Aku akan mengantarmu ke unit kesehatan.”

            Kelopak matanya terasa berat sekali, begitu juga dengan kepalanya. Ia mengerang pelan lalu tangannya refleks memegang kepalanya yang tiba-tiba pusing.

“Kau sudah sadar? Syukurlah.”

Sehun mencari-cari pemilik suara tersebut dengan pandangan mata yang masih kabur. “Cale?”

“Ya? Aku di sini.” Jawab Calista pelan.

“Hey, thanks.” Sehun tersenyum kecil―yang membuatnya terlihat seperti orang bodoh.

“Kau merasa lebih baik?”

“Ya.” Jawab Sehun singkat lalu memposisikan dirinya duduk.

Calista tiba-tiba menyentuh kening Sehun dan membuat laki-laki itu terkejut―well, laki-laki ini mencoba bertingkah senormal mungkin dan tidak memperlihatkan keterkejutannya. “Demammu sudah menurun.”

“Apa itu pertanda baik, Dokter?”

Sehun menahan tawanya, namun Calista tidak. Perempuan itu tertawa di hadapan Sehun, membuat laki-laki itu membeku sejenak. “Kau harus beristirahat lebih banyak.”

“Aku mengerti, Dok” Timpal Sehun lalu menaikkan kedua bahunya dan ikut tertawa bersama Calista. “Omong-omong, jam berapa sekarang?”

Calista melirik jam tangannya yang melingkar sempurna pada pergelangan tangan kanannya. “Lima belas menit sebelum bel pulang”

Mata Sehun membulat. “Apa aku tertidur selama itu?”

“Kau perlu istirahat. Lihatlah, wajahmu masih pucat, Sehun-ah,” Calista menunjuk wajah Sehun yang memang masih pucat pasi. “Aku akan kembali ke kelas. Kau ingin aku mengambilkan tasmu?”

Sehun menggeleng. “Tidak perlu. Aku akan meminta Baekhyun membawakannya. Thank you, Doctor Cale.”

Sekali lagi, Calista tertawa mendengar panggilan Sehun kepadanya. “Anytime” Calista melambaikan tangannya lalu hilang di balik pintu unit kesehatan.

Sehun segera merogoh sakunya lalu mengirimkan sebuah pesan kepada Baekhyun.

            To: Byun Baekhyun
            Kuharap kau bisa membawakan tasku ke mobil.

 

            From: Byun Baekhyun
            Kau berani membayarku berapa untuk membawakan tasmu?

 

            To: Byun Baekhyun
            Kita akan bermain malam ini, sayang. Tenang saja, aku akan membuatmu puas.

 

            From: Byun Baekhyun
            Apa sekarang kau menjadi gay karena Yoona menolakmu? Astaga.

 

            Sehun tertawa membaca balasan pesan Baekhyun. Namun, lama-kelamaan, yang tersisa hanyalah tawa hambar.

Jangankan menolaknya, laki-laki ini saja tidak pernah menyatakan cintanya kepada Yoona. Well, dan ditambah perempuan itu―dengan tidak beruntung―tengah menjalin sebuah hubungan istimewa dengan Kim Jongin. Sehun tidak akan menjadi perusak hubungan mereka.

Kening Sehun mengerut saat menyadari sesuatu.

Perusak hubungan?

Bel pulang akhirnya berbunyi, berdering nyaring di seluruh sudut ruangan yang ada di Asia Pacific International School.

“Oh, damn!” Sehun segera memasukkan ponselnya ke dalam sakunya dan turun dari ranjang lalu segera berlari keluar ruang unit kesehatan. Tetapi, langkahnya tertutup di depan pintu ruang unit kesehatan. Rahangnya mengeras dan hanya menatap tajam Yoona―persetan dengan Kai yang sedang menggandeng tangan Yoona―lalu ia kembali berlari. Haruskah ia bertemu dengan Yoona dan Kai? Shit. Batinnya.

Sehun melambatkan langkahnya. Pandangannya mengedar mencari seorang perempuan dengan tas berwarna beige. Siapa lagi kalau bukan Kwon Yuri yang ia cari?

“Sehun?!” Yuri setengah berteriak saat Sehun dari belakangnya tiba-tiba menarik tangannya lalu menyeretnya dengan paksa menjauhi kerumunan.

“Kurasa, kita harus bicara, Yuri-ssi.” Ucap Sehun dingin.

“Menurutku tidak ada yang harus kita bicarakan, Oh Sehun-ssi.” Tukas Yuri lalu dengan sekali sentakan ia melepaskan tangannya dari tangan Sehun.

“Apa kau sudah meminta maaf kepadanya?” Tanya Sehun to the point.

“Untuk apa? Aku tidak bersalah apa-apa.” Bantah Yuri ringan.

“Kau berselingkuh dengan kekasihnya dan meninggalkan underwear-mu di dalam mobil Kai!” Bentak Sehun. Sungguh, ia sangat murka.

“Akulah yang lebih dulu menyukai Kai, bukan Yoona!” Balas Yuri tak kalah keras.

Sehun berdecak, tidak mengerti lagi. “Kau adalah sahabat Yoona sejak kecil, bagaimana bisa kau menusuknya dari belakang seperti ini?!”

“Sahabat kecil?” Tanya Yuri lalu tertawa kecil. “Oh, astaga. Maafkan aku, tetapi aku tidak lagi mengerti arti persahabatan saat Yoona semenjak dua tahun lalu telah mengetahui aku mencintai Kai dan kini dengan tanpa dosanya dia berpacaran dengan Kai.”

T B C

Author's Note: Hai, guys. Sebelumnya, aku mau ngejelasin tentang Im Yoona dan Calista Im yang bikin banyak readers bingung. 
Banyak yang tanya "Calista itu Yoona, kan, thor?", sekarang aku mau jawab pertanyaan kalian―kalau Calista Im ini bukan Im Yoona,
walaupun kita tau bahwa Calista Im itu nama western-nya Yoona. Di FF ini, keberadaan Calista Im itu hampir sama seperti OC.
Dan antara Calista Im dan Im Yoona di FF ini tidak memiliki hubungan darah. Aku hanya sekedar pinjem nama westernnya Yoona aja.
Jadi, mereka berdua benar-benar beda. Maaf sebelumnya kalau bikin para readers pusing dengan penempatan tokoh pada FF ini🙂

64 thoughts on “No One Realize (Pt. 2)

  1. Bagus thor (y) ihh aq sebel sma Yoong eonnie yg gmpang bnget maafin kai -_-
    thor,,jujur aq bngung byangin wajah calista im itu gmna😀 aq mlh bayangin jadi yoona jga -_-
    Izin bca chapt slnjtny thor🙂
    Keep Writing thor ^^
    FIGHTING !!!!

  2. Yaampun yoona sadarlah , sehun semangat yakk ma’ap gua baru tau ni ep ep thor kekeke bdw ini keren , ampe pngen jedotin yoong greget weh

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s