Destiny 9

destiny4Destiny

by cloverqua (twitter : @cloverqua) | main cast Im Yoona – Kris Wu

other cast Huang Zhi Tao – Choi Sooyoung – Kim Joonmyun – Jung Krystal – Kim Jongin

genre Family – Friendship – Romance | rating PG 15 | length Chaptered

disclaimer This fanfiction is purely my own. Cast belong’s God. I just borrowed the names of characters and places. Don’t plagiat this FF! Please keep RCL!

Happy reading | Hope you like it

2014©cloverqua

[Poster by ladyoong’s art]

.

Chap 1 | Chap 2 | Chap 3 | Chap 4 | Chap 5

Chap 6 | Chap 7 | Chap 8

.

 

Keheningan memenuhi rumah keluarga Huang, semenjak kehadiran seseorang yang selama ini mereka cari. Tao—pandangannya tak beralih sedikitpun pada sosok pria paruh baya yang kini tengah mendapatkan perawatan dari ibunya. Sementara ayahnya tampak duduk di sebelahnya dengan raut kecemasan yang memenuhi wajahnya.

“Jung Soo-ah,” Tuan Huang tak mampu menyembunyikan rasa senang bercampur haru saat bertemu kembali dengan sahabatnya yang selama ini ia cari.

Pria paruh baya itu—Park Jung Soo, ia hanya tersenyum, mencoba tampak tegar di hadapan semua orang.

Setelah membersihkan wajah Jung Soo, Nyonya Huang mulai mengobati luka di wajahnya. Sebelumnya ia sudah mengobati luka di bagian siku tangan kiri dan lutut bagian kanan. Siapapun yang melihatnya, keadaaan Jung Soo sangat menyedihkan. Ia terlihat seperti gelandangan dengan pakaian kumuh yang ia kenakan. Selain itu, beberapa luka yang diperolehnya semakin memperlihatkan kondisinya yang memprihatinkan, khususnya bekas luka bakar pada bagian leher dan tangan kanan.

“Ke mana saja kau selama ini?” Tuan Huang mengusap bahu Jung Soo. “Kami sangat mencemaskanmu. Selama ini kami mencarimu, tapi tak pernah berhasil menemukanmu.”

Jung Soo terdiam, ia menatap haru sahabatnya yang hampir saja meneteskan air mata.

“Aku tahu. Maafkan aku,” sahutnya singkat. Ia kemudian menatap Nyonya Huang yang baru saja selesai mengobati lukanya. “Terima kasih.”

Nyonya Huang mengangguk dan tersenyum pada Jung Soo. Ia berdiri sambil merapikan peralatan obat yang baru saja digunakannya.

“Terima kasih, Tao. Kau sudah menolongku. Kemampuan beladirimu itu, aku yakin menurun dari ayahmu,” ujar Jung Soo memuji Tao.

Tao terkesiap saat mendengar ucapan Jung Soo, “Ahjussi masih mengenaliku?”

“Tentu saja. Bagaimana bisa aku tidak mengenal putra sahabatku, yang juga seorang atlet wushu hebat seperti dirimu?” ucap Jung Soo tersenyum. “Sekali lagi terima kasih.”

“Aku juga berterima kasih, karena ahjussi masih hidup dan bisa bertemu lagi dengan kami,” sahut Tao. Ia senang karena telah berhasil menemukan Jung Soo. Bagaimana pun Jung Soo merupakan kunci dari teka-teki siapa jati diri Yoona yang sebenarnya.

“Sebaiknya kau beristirahat. Kami sudah menyiapkan kamar untukmu,” ucap Nyonya Huang saat ia kembali ke ruang tengah.

Tuan Huang mengangguk, “Untuk sementara kau tinggal bersama kami.”

Ne, terima kasih banyak, Lei,” ucap Jung Soo lalu menangis haru dalam rangkulan sahabatnya tersebut. Ia bersyukur karena masih mempunyai sahabat sebaik Tuan Huang. Sejak istri dan anak tunggalnya meninggal karena kecelakaan, Jung Soo hidup seorang diri.

Tao dan Nyonya Huang saling memandang. Keduanya tersenyum lega, karena Jung Soo sudah bersama mereka. Tak lama lagi, semua misteri tentang Yoona dan masa lalu wanita itu akan segera terkuak.

.

.

.

Kris memberhentikan mobilnya, tepat di depan rumah keluarga Huang. Matanya melirik Yoona yang duduk di sebelahnya. Kris terkejut, sosok wanita yang telah resmi menjadi kekasihnya itu sudah tertidur pulas.

Kris tersenyum. Diam-diam ia mengamati wajah Yoona yang tampak polos saat tertidur, dan juga terlihat cantik. Ia tak bisa mengendalikan jantungnya yang berdegup kencang.

Tangan Kris bergerak perlahan, mengusap rambut Yoona yang menutupi wajahnya. Kris terkekeh pelan saat melihat Yoona justru semakin meringkuk dalam tidurnya. Ia hanya bisa membiarkan wanita itu menikmati tidurnya, karena ia tahu jika Yoona kelelahan.

“Bahkan wajahmu tetap cantik saat kau tidur,” puji Kris.

Namun Kris tak menyadari, suaranya dengan volume kecil mampu membuat Yoona terbangun dari tidurnya.

“Kita sudah sampai?” tanyanya polos. Yoona mengerjapkan matanya berulang kali dan sesekali menguap karena rasa kantuk yang masih ia rasakan.

Kris tak bisa menahan tawanya melihat gelagat Yoona saat wanita itu terbangun dari tidurnya. Yoona mengerutkan dahinya, tidak mengerti dengan sikap Kris yang tiba-tiba tertawa tanpa alasan.

Wae? Apa ada yang lucu?”

Kris melirik Yoona yang kini memasang wajah cemberut. Pria itu berdeham pelan, menyadari sikapnya sudah membuat wanita itu merasa bingung.

“Tidak, hanya—sepertinya aku akan mempunyai kebiasaan baru yang menjadi kesukaanku,” ucap Kris.

“Kebiasaan baru?”

Kris tersenyum, “Memandangi wajahmu diam-diam saat kau sedang tertidur.”

Hening.

Yoona masih terdiam dan belum mengerti dengan ucapan Kris. Sementara pria itu tertawa sambil memandanginya.

“Apa—barusan kau memandangiku saat aku tertidur?” tanya Yoona setengah berteriak. Wanita itu benar-benar terlihat bodoh karena refleks-nya yang terlambat memahami ucapan Kris.

Tawa Kris semakin keras, terlebih saat warna merah menghiasi kedua pipi Yoona. Bahkan wanita itu menangkup wajahnya dengan kedua tangan.

“Hentikan! Kau membuatku malu,” pinta Yoona merajuk. Ia masih mengalihkan wajahnya ke arah lain agar Kris tidak bisa melihatnya.

Kris segera mengendalikan diri dan menghentikan tawanya. Ia lalu menarik tangan Yoona agar wajah wanita itu bisa terlihat.

“Maafkan aku. Aku benar-benar tidak bisa menahannya. Apalagi, wajahmu terlihat cantik saat kau tertidur,” ucap Kris. Sedetik kemudian ia tertawa kecil sambil menutupi wajahnya yang memerah. Jauh terlihat lebih malu daripada Yoona.

Yoona tertegun, ia menahan tawanya melihat reaksi Kris. Sekali lagi, ia melihat sisi lain pria itu. Pria yang sudah resmi menjadi kekasihnya. Jujur saja, sampai saat ini Yoona belum percaya jika hubungan mereka yang semula hanya sebuah sandiwara, kini sudah berganti menjadi hubungan kekasih sungguhan.

“Kuantar kau masuk,” ajak Kris. Ia melirik jam tangannya. Sudah lewat jam makan malam. Untung saja ia sudah mengajak Yoona untuk makan malam bersama. Kris sengaja mengajaknya makan malam bersama untuk merayakan hubungan mereka yang sudah resmi menjadi sepasang kekasih.

Yoona mengangguk dan mengikuti Kris yang bergerak keluar dari mobil. Pria itu bergegas membukakan pintu untuk Yoona. Kris sepertinya tak ingin melewatkan kesempatan untuk memberikan perhatian padanya. Keduanya lalu berjalan berdampingan menuju pintu masuk rumah keluarga Huang.

“Oh, Yoona kau sudah pulang?” Tanpa diduga Nyonya Huang baru saja keluar dan hendak membuang beberapa kantung sampah. Di belakangnya ada Tao yang ikut membantu ibunya. Wanita paruh baya itu tersenyum senang dengan kedatangan Yoona dan Kris.

Ahjumma,” Yoona membalas pelukan Nyonya Huang. “Maaf sudah membuat kalian khawatir.”

“Kau baik-baik saja?” Nyonya Huang mengusap wajah Yoona yang segera dibalas anggukan oleh wanita itu.

Ne, aku baik-baik saja,” jawab Yoona. Ia melirik Tao yang hanya menatapnya dengan lengkungan kecil di bibir.

“Terima kasih sudah mengantarnya pulang, Kris,” ucap Nyonya Huang pada Kris.

Kris mengangguk. Sesaat matanya tidak sengaja bertemu dengan Tao. Berbeda dengan sebelumnya, Tao yang terkesan dingin tampak sedikit melunak terhadapnya. Kris bisa merasakannya dari tatapan pria itu.

“Baiklah, ini sudah malam. Kurasa Yoona masih harus banyak beristirahat. Aku akan pulang sekarang,” kata Kris seraya membungkuk untuk berpamitan.

“Kau tidak mampir? Kau bisa makan malam dulu di rumah kami,” tawar Nyonya Huang.

“Maaf, ahjumma. Mungkin lain waktu. Kebetulan aku dan Yoona sudah makan malam bersama di luar sebelum pulang,” jawab Kris merasa tak enak karena menolak tawaran makan malam tersebut.

“Benarkah?” Nyonya Huang melirik Yoona yang segera mendapat anggukan dari wanita di sebelahnya itu.

“Kalau begitu, aku pamit. Sampai jumpa lagi,” ucap Kris berjalan meninggalkan rumah keluarga Huang. Ia membungkuk ke arah Nyonya Huang dan sesekali melirik Yoona yang mengumbar senyum padanya.

“Syukurlah kau baik-baik saja, Yoong,” suara Tao berhasil mengalihkan pandangan Yoona dari mobil Kris yang sudah menjauh.

Yoona menoleh, memandangi pria yang sudah berdiri di belakangnya. Ia bisa melihat raut kecemasan di wajah Tao.

Ne, maaf sudah membuatmu khawatir,” sahut Yoona lalu mengusap bahu Tao.

Tao hanya membalasnya dengan senyuman, kemudian meraih kantung sampah dari tangan Nyonya Huang.

“Biar aku saja, eomma. Masuklah bersama Yoona,” ucap Tao.

Nyonya Huang mengangguk dan menarik Yoona masuk ke dalam rumah. Saat keduanya berjalan melewati ruang tengah, mereka tak sengaja bertemu dengan Jung Soo yang baru saja selesai menonton TV. Yoona sedikit terkejut karena ada orang asing di dalam rumah. Namun, raut kagetnya berubah penasaran ketika ia mulai mengenali pria paruh baya yang kini tersenyum padanya.

Sekelebat memori memenuhi kepala Yoona, hingga membuat mata wanita itu terpejam sejenak. Peristiwa kebakaran—yang sampai saat ini belum bisa ia pahami sepenuhnya, kembali muncul di kepala Yoona. Anehnya, Yoona justru berhasil mengingat sosok pria yang rela mengabaikan kondisinya sendiri hanya demi menolong anak kecil yang terjebak dalam rumah tua yang terbakar. Yoona kembali mengingat—tangisan anak kecil yang meminta tolong itu sangat tidak asing baginya.

“Arrgh . . .” Yoona merintih kesakitan sambil memegangi kepalanya. Entah dari mana keyakinan itu muncul, Yoona sangat yakin jika anak kecil itu adalah dirinya sendiri.

“Kau baik-baik saja?” Nyonya Huang terlihat panik begitu melihat wajah Yoona mendadak pucat.

Yoona belum menjawab, pandangannya terus tertuju pada pria paruh baya di depannya.

Ahjussi, bukankah kau—orang yang sudah menyelamatkanku?” Yoona bertanya tiba-tiba dan membuat Nyonya Huang serta Jung Soo terlihat kaget. Tuan Huang yang baru saja masuk ke ruang tengah, turut terkejut saat tidak sengaja mendengar ucapan Yoona.

“Yoona, apa—ingatanmu sudah kembali?” tanya Nyonya Huang ragu.

“Entahlah, ahjumma. Akhir-akhir ini aku sering bermimpi tentang anak kecil yang menangis karena terjebak dalam sebuah kebakaran. Saat aku melihat ahjussi—” Yoona menunjuk Jung Soo yang masih menatapnya kaget. “Peristiwa yang aku yakini hanya mimpi itu kembali terlintas dalam kepalaku. Sekarang aku yakin, jika mimpi itu sebenarnya adalah masa lalu yang pernah kualami.”

Yoona berjalan mendekati Jung Soo, matanya menelisik satu per satu bagian wajah pria paruh baya itu. Ia tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya saat melihat luka bakar pada bagian leher dan tangan kanan Jung Soo.

“Benar. Aku tidak mungkin salah mengenalimu. Kau orang yang sudah menyelamatkanku dari kebakaran itu,” Yoona menggenggam erat tangan Jung Soo. “Setelah berhasil lolos dari kebakaran itu, kau membawaku pergi. Tapi, aku tidak ingat apa yang terjadi selanjutnya. Karena tahu-tahu, aku sudah berada di rumah ini.”

Tuan dan Nyonya Huang saling bertatapan. Mereka tidak percaya dengan penuturan Yoona. Perlahan tapi pasti, ingatan wanita itu mulai kembali.

Ahjussi, kau adalah orang yang sudah menyelamatkanku. Aku yakin kau pasti tahu tentang jati diriku. Kau pasti tahu, siapa diriku yang sebenarnya dan siapa orang tua kandungku,” cecar Yoona mulai hilang kendali.

Jung Soo terdiam, ia masih terkejut dengan reaksi tiba-tiba dari Yoona.

Ahjussi?

Ne, aku tahu siapa kau. Aku tahu siapa orang tua kandungmu,” jawab Jung Soo kemudian.

“Benarkah? Kalau begitu, siapa orang tua—” Kalimat Yoona terhenti, karena wanita itu tiba-tiba mengerang kesakitan sambil memegangi kepalanya.

Yoona bahkan langsung kehilangan keseimbangan, kakinya mendadak lemas sampai tak sanggup menopang tubuhnya.

“Yoona!” Tuan dan Nyonya Huang berseru kaget sambil berupaya menahan tubuh wanita yang nyaris ambruk itu. Tao yang baru saja kembali, juga dibuat kaget dengan situasi di ruang tengah.

“Apa yang terjadi?”

Jung Soo berusaha menenangkan Yoona yang masih merintih kesakitan di depannya. Ia yakin, gangguan ingatan yang dialami Yoona akibat trauma kejadian 15 tahun silam. Meski ia ingin segera mengatakannya, Jung Soo sadar jika ini bukan waktu yang tepat untuk membeberkan jati diri Yoona.

“Tenangkan dirimu. Kondisimu belum stabil,” kata Jung Soo mengingatkan. “Jika kondisimu sudah tenang, aku pasti akan segera memberitahumu.”

Yoona tidak bertanya lagi dan hanya mengangguk pelan. Berulang kali wanita itu menghela nafas, sambil memijat keningnya.

“Tao, antarkan Yoona kembali ke kamarnya,” titah Tuan Huang. “Dia harus beristirahat.”

Ne, appa,” ucap Tao.

Yoona membiarkan Tao memapahnya berjalan menuju kamar. Sesekali ia melirik Jung Soo yang menatapnya dengan raut cemas.

Begitu Yoona dan Tao tidak terlihat lagi, Tuan Huang melirik Jung Soo yang kini terdiam di sebelahnya.

“Kau yakin akan memberitahunya? Tidakkah kau lihat, kondisinya belum stabil. Aku khawatir jika kita memberitahunya sekarang, akan berdampak buruk pada kondisi kesehatannya,” ucap Tuan Huang.

“Aku tahu. Trauma yang dialaminya memang menjadi penyebab ingatannya yang hilang. Tapi—” Jung Soo menoleh dan memandang Tuan Huang dengan sorot mata serius.

“Jika kita tidak segera memberitahunya, aku yakin dia semakin berada dalam kondisi bahaya. Semakin cepat kita memberitahunya, itu semakin baik. Demi keselamatannya dari penjahat itu,” kata Jung Soo. Sorot matanya terlihat serius.

Tuan Huang melirik istrinya yang terlihat murung. Ia merangkul Nyonya Huang, berusaha menenangkan hatinya yang tengah kalut.

“Lagipula, kau melihatnya sendiri. Sedikit demi sedikit dia mulai mengingat kejadian 15 tahun silam,” lanjut Jung Soo.

“Aku mengerti. Jika itu memang yang terbaik, kita akan segera memberitahu Yoona tentang jati dirinya,” ujar Tuan Huang tak punya pilihan, selain mengikuti saran Jung Soo.

.

.

.

Di sebuah bangunan rumah mewah, terlihat sosok pria berjalan tegap dengan setelan jas formal yang ia kenakan. Kedatangan pria itu langsung disambut oleh para pengawal yang menjaga area depan rumah.

“Sekertaris Han, apa yang membuatmu datang malam-malam seperti ini?” tanya salah satu pengawal pada pria yang baru saja datang tersebut.

“Aku ingin bertemu Presdir Choi. Ada hal penting yang harus kusampaikan padanya,” jawab Sekertaris Han.

Kedua pengawal yang tengah berjaga itu tampak berbisik satu sama lain. Terlihat anggukan pelan dari salah satu pengawal yang langsung memberi jalan untuk Sekertaris Han.

“Ikutlah denganku. Presdir Choi sedang berada di ruang kerjanya,” ajak salah satu pengawal yang segera diikuti Sekertaris Han. Keduanya berjalan memasuki rumah mewah tersebut.

Tak berapa lama, Sekertaris Han sampai di depan sebuah ruang dengan pintu besar yang memiliki ukiran berkelas. Pengawal yang mengantarnya segera membukakan pintu untuknya. Sekertaris Han melangkah memasuki ruang kerja Presdir Choi. Ia mendapati atasannya itu tengah berkutat di depan meja dengan beberapa berkas yang menemaninya.

“Presdir . . .”

Presdir Choi menoleh saat mendengar suara di ruang kerjanya yang sunyi. Ia melirik pada pengawalnya, memberi isyarat untuk membiarkannya berdua saja dengan orang kepercayaannya itu.

“Kau datang menemuiku setelah jam makan malam. Pasti ada hal penting yang ingin kau sampaikan,” ucap Presdir Choi.

Sekertaris Han mengangguk dan berjalan mendekati meja Presdir Choi. Ia membungkuk sejenak untuk memberi hormat. Sebelum akhirnya ia menyerahkan beberapa lembar foto dari balik jasnya.

Presdir Choi mengerutkan dahinya, sambil memandangi foto-foto yang baru saja diterimanya.

“Apa ini?”

“Kami sudah berhasil menemukan keberadaan Park Jung Soo,” ucap Sekertaris Han yang disambut ekspresi kaget Presdir Choi.

“Benarkah? Di mana dia sekarang?”

“Di rumah Huang Zhi Lei. Orang suruhan saya, berhasil memotretnya ketika ia terlibat perkelahian dengan sekelompok orang di kompleks perumahan Huang Zhi Lei. Saat itu—Huang Zhi Tao yang tidak sengaja berada di lokasi kejadian, segera menolongnya dan membawa Park Jung Soo ke rumahnya,” jelas Sekertaris Han.

Hening. Presdir Choi belum mengatakan apapun sampai terdengar suara tawa keras memenuhi ruang kerjanya. Sekertaris Han hanya menunduk ketika atasannya itu masih terbuai dengan tawanya yang kian keras.

“Akhirnya—aku bisa menemukanmu juga, Park Jung Soo,” Presdir Choi tak bisa menyembunyikan rasa senangnya karena telah berhasil menemukan orang yang selama ini ia cari. Satu-satunya orang yang merupakan saksi kunci dalam peristiwa 15 tahun silam yang melibatkannya.

“Tapi, Presdir,” Wajah Sekertaris Han mendadak berubah cemas. Hal itu mengundang rasa penasaran Presdir Choi.

“Apa? Katakan saja,” titah Presdir Choi.

“Kemarin—saat Nona Yoona tidak kembali dalam acara makan malam itu, saya mengetahui jika ia jatuh pingsan di dekat toilet, lalu ditolong oleh Presdir Im beserta istrinya,” lanjut Sekertaris Han.

Seketika raut senang di wajah Presdir Choi berganti menjadi raut kepanikan. Ia bangkit berdiri dari kursinya, berjalan pelan mendekati jendela yang langsung menghadap ke arah kolam renang.

“Apa kau sudah memastikan, anak yang dibawa Jung Soo waktu itu adalah Yoona yang sekarang kita kenal sebagai Huang Yoona?”

Sekertaris Han terdiam. Ia hanya menunduk tanpa berkata apapun.

“Sekertaris Han?”

“Ma—maafkan saya, Presdir. Saya belum memastikannya,” jawab Sekertaris Han.

“Kalau begitu, cepat kau cari tahu!” teriak Presdir Choi. Suaranya yang keras sempat membuat Sekertaris Han melonjak kaget. Namun pria itu berusaha bersikap tenang di depan Presdir Choi.

“Jika benar Huang Yoona adalah anak yang diselamatkan oleh Jung Soo, artinya Yunho sudah bertemu dengan anak kandungnya sendiri. Jika sudah seperti itu, aku yakin kemarin Yunho dan Yuri menyadari jika Yoona adalah putri mereka yang hilang. Aku juga yakin, saat ini mereka akan segera menyusun rencana untuk bisa menemui keluarga angkat Yoona, memastikan jika Yoona adalah putri kandung mereka,” Presdir Choi mengungkap analisa yang seketika muncul dalam pikirannya.

“Aku tidak mau tahu, kau harus cepat bertindak. Jangan sampai kita tertinggal satu langkah dari mereka. Kita harus lebih cepat memastikan bahwa Huang Yoona adalah anak yang diselamatkan Jung Soo. Kau mengerti?”

Sekertaris Han menatap Presdir Choi yang terlihat mulai hilang kesabaran. Ia menganggukan kepala, menyanggupi apa yang sudah diperintahkan oleh atasannya tersebut.

Ne, saya mengerti,” balas Sekertaris Han.

.

.

.

.

.

.

Yoona mengerjapkan matanya berulang kali, ketika merasakan sinar matahari yang menembus jendela kamarnya. Dengan rasa kantuk yang masih menderanya, ia mencoba bangun dari posisinya. Ia menarik kakinya yang tertutupi oleh selimut. Yoona terduduk di ranjang sejenak, sementara kakinya sudah menyentuh lantai kamar.

Wanita itu merapikan rambutnya yang sedikit acak-acakan, sebelum akhirnya ia berjalan keluar dari kamarnya.

“Oh, kau sudah bangun?”

Yoona sedikit kaget saat mendengar suara Tao. Sesaat ia meruntuki kebodohannya yang sampai lupa jika kamarnya dan kamar Tao berhadapan.

Yoona mengangguk pelan, lalu mengamati Tao. Pria itu sudah mengenakan jaket dan sepertinya bersiap untuk keluar.

“Kau mau ke mana?” tanya Yoona penasaran.

Eomma menyuruhku untuk membeli beberapa bahan makanan. Ada yang terlewat saat aku berbelanja kemarin. Kau mau ikut?”

Tao sengaja menawari Yoona untuk menemaninya berbelanja. Ia bermaksud mengajak Yoona jalan-jalan bersama. Sudah lama ia tidak melakukannya, semenjak wanita itu menjalin kedekatan dengan Kris.

Ne, aku ambil jaketku sebentar. Kau keluarlah dulu, nanti aku susul,” ucap Yoona lalu masuk kembali ke kamarnya. Tao tersenyum sambil memandangi kamar Yoona, sebelum ia berjalan keluar rumah.

Eomma, aku akan pergi berbelanja dengan Yoona.”

Nyonya Huang terkejut mendengar suara Tao, “Dia sudah bangun?”

Ne,” jawab Tao singkat dan segera mengenakan alas kaki sebelum keluar dari rumah. Tak berapa lama, Yoona datang dengan langkah terburu-buru untuk menyusul Tao.

“Yoona, kau sudah merasa lebih baik?” Nyonya Huang berteriak saat wanita itu hampir tak menyapanya.

Yoona menoleh lalu terkekeh pelan, “Ne, ahjumma. Aku merasa lebih baik.”

Usai mengatakannya Yoona langsung keluar rumah untuk menyusul Tao yang sudah menunggunya. Nyonya Huang menghela nafas lega, melihat Yoona sudah kembali seperti semula. Semalaman ia tak bisa tidur lantaran khawatir dengan kondisi Yoona.

“Apakah—ingatan Yoona akan segera kembali sepenuhnya?” gumam Nyonya Huang lirih.

Tuan Huang dan Jung Soo terlihat memasuki ruang tengah, setelah keduanya mengobrol bersama di taman belakang. Keduanya terkejut saat mendapati Nyonya Huang hanya terdiam dengan celemek yang masih melekat di tubuh.

“Apa yang sedang kau pikirkan?” Tuan Huang berjalan mendekati istrinya yang menatap kosong ke arah pintu rumah.

“Oh, suamiku . . .”

“Apa Yoona sudah bangun?” tanya Tuan Huang penasaran.

Nyonya Huang mengangguk, “Baru saja dia pergi bersama Tao untuk berbelanja.”

“Hei, kenapa mereka tidak sarapan dulu baru pergi berbelanja?” Tuan Huang menggelengkan kepalanya, heran dengan kebiasaan Tao dan Yoona yang sering melewatkan sarapan hanya untuk sekedar jalan-jalan bersama.

“Biarkan saja. Kurasa Yoona juga butuh udara segar setelah kejadian semalam,” sahut Jung Soo yang mendapat anggukan setuju dari Nyonya Huang.

“Tetap saja aku merasa khawatir. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Yoona? Maksudku—mungkin saja orang yang berusaha mencelakakan Yoona dulu, saat ini sedang mengawasinya. Aku yakin, kau juga sedang dalam pengawasan mereka,” ucap Tuan Huang.

Jung Soo terdiam. Ia akui apa yang dikatakan Tuan Huang ada benarnya.

“Kau benar, Lei. Itulah alasannya kenapa aku ingin menemuimu. Beberapa hari terakhir, aku berusaha datang ke sini, meski aku harus berulang kali menghindari seseorang yang sedang mengawasiku. Tapi, rasanya percuma saja. Aku yakin mereka sudah mengetahui jika aku berada di sini,” ucap Jung Soo.

“Lalu—apa rencanamu?” tanya Nyonya Huang penasaran.

“Kita harus segera mengembalikan Yoona pada orang tua kandungnya. Aku yakin, mereka bisa melindungi Yoona dari orang itu. Semenjak aku melihat Yoona muncul ke publik sebagai kekasih dari pewaris Hotel Grand, aku merasa tidak tenang,” lanjut Jung Soo.

Tuan dan Nyonya Huang saling memandang. Mereka belum sepenuhnya mengerti dengan maksud pembicaraan Jung Soo.

“Sebenarnya—siapa yang kau maksud dengan ‘orang itu’? Apakah dia yang sudah mencelakakan Yoona saat itu? Hingga ia terjebak dalam kebakaran yang akhirnya justru kau selamatkan,” cecar Tuan Huang tidak sabar.

Jung Soo menghela nafas pelan, ia menundukkan kepalanya sejenak sambil memijat keningnya.

“Jung Soo-ah?

“Orang itu—dia adalah mantan atasanku.”

“APA?” Tuan dan Nyonya Huang berseru kaget.

“Mantan atasanmu? Siapa?” Tuan Huang semakin didera rasa penasaran.

Jung Soo menelan saliva­-nya. Ia menatap pasangan suami-istri yang begitu tak sabar untuk segera mengetahui fakta yang ia ketahui.

“Dia Choi—”

Kalimat Jung Soo terhenti, saat mereka tak sengaja mendengar suara bel rumah yang berbunyi. Nyonya Huang segera melepas celemek yang dikenakannya, sebelum berjalan mendekati pintu rumah.

KLEK!

“Siapa?”

Saat Nyonya Huang membuka pintu, ia dikejutkan dengan seorang pria dan wanita yang sudah berdiri di depan pintu, dengan didampingi dua orang yang mengenakan pakaian ala bodyguard.

“Apakah—ini tempat tinggal Huang Yoona?”

Nyonya Huang tak berkutik saat melihat penampilan dua orang itu yang terlihat sangat berkelas.

“Benar. Anda berdua siapa?” tanya Nyonya Huang bingung.

“Aku Im Yunho, dan ini istriku, Yuri,” jawab pria yang mengenakan setelan jas berwarna kelabu.

Mata Nyonya Huang membulat sempurna. Ia mengenali sosok yang kemarin dilihatnya dalam sebuah artikel majalah.

“Oh, Anda Presdir Im Yunho pemilik Hotel Royal?”

Pria yang diyakini adalah Presdir Im Yunho itu, hanya tersipu menanggapi reaksi polos Nyonya Huang.

“Kalian juga yang sudah menolong Yoona kemarin?” tanya Nyonya Huang lagi.

Presdir Im melirik istrinya yang hanya mengulum senyum. Keduanya mengangguk kompak, membenarkan ucapan Nyona Huang.

“Aku berterima kasih pada kalian, karena sudah menolong Yoona,” ujar Nyonya Huang sambil menjabat tangan Presdir Im dan istrinya.

“Tapi—untuk apa kalian datang ke sini?” tanya Nyonya Huang mendadak teringat dengan kedatangan keduanya secara tiba-tiba.

“Sebenarnya ada yang ingin kami bicarakan denganmu,” jawab Presdir Im.

Melihat wajah serius dua orang di depannya, Nyonya Huang yakin jika pembicaraan itu termasuk hal yang penting.

“Baiklah, mari silakan masuk,” ucap Nyonya Huang mempersilakan keduanya masuk. Ia mengajak Presdir Im dan istrinya menuju ruang tengah.

Di saat yang bersamaan, Tuan Huang dan Jung Soo baru saja keluar dari ruang makan. Mereka pun melihat kedatangan Presdir Im dan istrinya.

“Bukankah—” Jung Soo tiba-tiba bereaksi kaget saat mengenali dua orang yang sudah duduk di ruang tengah. Perlahan air matanya menetes, seiring isak tangis yang mulai terdengar darinya.

Tuan Huang bingung dengan reaksi Jung Soo. Terlebih saat sahabatnya itu langsung berlutut di depan Presdir Im dan istrinya.

“Jung Soo?”

Jung Soo menundukkan kepalanya. Ia tak peduli dengan ekspresi bingung orang-orang di sekitarnya.

Presdir Im berjalan mendekati Jung Soo, menyuruh pria itu untuk kembali pada posisi semula. Raut kebingungan tampak jelas di wajahnya.

“Kenapa kau tiba-tiba berlutut di depan kami?” tanyanya bingung.

Jung Soo memandangi Presdir Im. Air matanya mengalir deras, tubuhnya bergetar hebat saat isak tangisnya juga terdengar kian deras.

“Tolong maafkan aku,” ucap Jung Soo terisak.

Presdir Im melirik istrinya yang kini sudah berdiri di belakangnya. Wajah keduanya sama-sama bingung dengan sikap Jung Soo.

“Maaf untuk apa? Memangnya kesalahan apa yang sudah kau perbuat? Aku bahkan tak mengenalmu,” Presdir Im semakin bingung dengan ucapan Jung Soo.

“Maafkan aku karena tidak segera mengembalikan putrimu pada kalian,” lanjut Jung Soo. “Aku justru membawanya pada temanku.”

“Apa maksud ucapanmu?” Nyonya Im tak bisa lagi menahan kesabarannya. “Apa kau—mengetahui keberadaan putri kami?”

Jung Soo mengangguk, lalu melirik ke arah Tuan dan Nyonya Huang yang masih menatap bingung padanya.

“Huang Yoona—dialah orang yang selama ini kalian cari. Dialah putri kandung kalian, Im Yoona.”

“APA?”

.

.

.

Yoona dan Tao berjalan menyusuri jalanan yang mulai ramai dilalui kendaraan. Keduanya baru saja selesai berbelanja bahan makanan, sesuai permintaan Nyonya Huang. Berulang kali Yoona menguap karena masih mengantuk. Hal itu membuat Tao terkekeh melihatnya.

“Sepertinya ada sesuatu yang menyita pikiranmu. Kau terlihat sangat kelelahan,” ucap Tao mengalihkan pandangan Yoona.

Ne, kau benar. Belakangan ini banyak kejadian aneh yang menimpaku,” sahut Yoona. Ia mengingat kembali kejadian saat makan malam bersama keluarga Kris dan Presdir Choi. Belum lagi pertemuannya dengan Presdir Im Yunho dan juga Park Jung Soo. Setidaknya ada satu kejadian yang membuatnya merasa sangat senang. Yaitu kemajuan hubungannya dengan Kris.

“Kau—dan Kris, sampai kapan kalian akan bersandiwara?”

Yoona menghentikan langkah kakinya dan tanpa sadar membuat Tao berjalan mendahuluinya. Wanita itu menatap sendu ke arah Tao. Sesekali ia menggaruk kepala yang sebenarnya tidak terasa gatal.

“Yoong?” Tao bingung karena Yoona tiba-tiba berhenti di belakangnya.

“Sebenarnya—kemarin kami sudah sepakat untuk menjalin hubungan secara serius,” jawab Yoona kemudian. Tao seketika terdiam dan hanya menatap lurus ke arah Yoona.

“Jadi, kalian tidak lagi bersandiwara?”

Yoona menunduk, merasa bersalah pada Tao. Sebelumnya ia bercerita jika hubungannya dengan Kris adalah sandiwara. Tapi kini sudah berganti menjadi hubungan sungguhan layaknya pasangan kekasih pada umumnya.

“Sudah kuduga. Pada akhirnya, kau akan menjalin hubungan serius dengan Kris,” ucap Tao seraya tersenyum tipis.

Yoona mengerutkan dahinya. Ia masih bingung dengan ucapan Tao.

“Aku bisa melihatnya dari sorot matamu tiap kali membicarakan Kris. Meski selalu kesal karena ulahnya, kau sangat mencintainya. Begitu juga dengan Kris. Kalian berdua saling mencintai. Jadi wajar saja jika kalian memutuskan untuk menjalin hubungan secara serius,” lanjut Tao sebelum Yoona menanyainya.

“Jujur saja, aku senang mendengarnya. Tapi di sisi lain aku juga merasa sedih,” ucap Tao kemudian.

“Apa maksudmu?”

Bibir Tao membentuk lengkungan kecil. Ia berjalan mendekati Yoona hingga keduanya saling berhadapan.

“Karena aku tidak bisa memiliki hatimu. Kau sudah memberikannya pada Kris,” jawab Tao.

Mata Yoona membulat sempurna, “Tao, kenapa kau berkata seperti?”

“Karena aku juga merasakan hal yang sama dengan Kris. Aku jatuh cinta padamu, sejak usia kita 17 tahun,” lanjut Tao.

Yoona bisa merasakan matanya yang memerah. Senyum Tao yang tampak tulus di matanya, justru membuat hatinya terasa sakit. Ia merasa bersalah pada pria yang selama ini hanya ia anggap sebagai saudara angkat. Tak pernah terbesit sedikitpun dalam benak Yoona, jika Tao justru memandangnya sebagai wanita, bukan hanya sebagai saudara angkat.

“Tao, aku—”

“Jangan katakan apapun. Aku sama sekali tidak mengharapkan jawabanmu, karena aku sudah tahu jawabannya. Hari ini, aku hanya ingin mengatakannya saja agar hatiku bisa terasa lebih lega dibanding sebelumnya,” ucap Tao. Tangannya perlahan mengusap air mata Yoona yang sudah jatuh membasahi pipi.

“Maafkan aku,” Yoona tetap ingin menyampaikan permintaan maafnya. “Kau pria yang baik. Aku yakin suatu saat nanti, kau akan mendapatkan wanita yang tepat untukmu.”

“Aku tahu,” balas Tao seraya tersenyum. Tapi kini pria itu bisa tersenyum lebih lepas dibandingkan saat ia ingin mengungkapkan perasaannya pada Yoona.

“Sampai kapanpun, kau adalah saudara yang sangat berharga bagiku,” lanjut Yoona.

Tao menundukkan kepalanya, ia berusaha menahan air matanya yang nyaris keluar. Setelah pria itu berhasil mengendalikan diri, ia mensejajarkan pandangannya dengan Yoona.

“Meski sulit untuk menerimanya, aku sadar, aku tidak bisa memaksakan perasaanku padamu. Lagipula, aku juga tidak mau mengecewakan orang tuaku. Mereka sudah menganggapmu seperti anak mereka sendiri,” ucap Tao.

“Belakangan ini aku merenung, apakah aku akan berusaha membuatmu jatuh cinta padaku. Tapi, setelah mendengar pengakuan Kris bahwa ia benar-benar mencintaimu, itu membuatku sadar akan satu hal,” lanjut Tao.

“Apa?”

Tao tersenyum, “Jika aku tidak bisa memilikimu sebagai kekasih, aku masih bisa memilikimu sebagai saudara. Karena itulah, aku tidak ingin memaksakan perasaanku yang nantinya akan membuatku kehilangan dirimu. Aku lebih memilih, agar kau tetap menjadi saudaraku.”

Yoona terharu mendengar keputusan bijak yang diambil Tao. Tanpa ragu wanita itu langsung memeluk Tao dengan sangat erat.

“Terima kasih,” ucap Yoona senang.

Tao tertegun sejenak atas perlakuan Yoona. Dalam hati ia masih merasa sedih karena tidak bisa mendapatkan hati Yoona. Tapi itu jauh lebih baik, daripada ia harus kehilangan wanita itu. Ia sudah memutuskan untuk tetap menjadi saudara Yoona. Keduanya pun semakin mengeratkan pelukan mereka, bukan sebagai pria dan wanita tapi sebagai saudara yang saling menyayangi.

“Ayo kita kembali. Semua orang pasti sudah menunggu,” ajak Tao begitu ia mengendurkan pelukannya.

Yoona mengangguk lalu bergelayut manja di lengan Tao. Pria itu hanya tertawa melihat tingkah Yoona yang seperti anak kecil. Ia lalu mengacak-acak rambut Yoona hingga wanita itu mendengus kesal. Tao berlari sebelum mendapat balasan dari Yoona. Keduanya pun terlihat berkejaran, seperti kakak beradik yang selalu menjahili satu sama lain. Sama seperti 15 tahun silam, saat usia keduanya 8 tahun.

.

.

.

Sejak tiba di Hotel Grand, senyum Kris terus terpatri di wajahnya. Ia bahkan selalu bersikap ramah kepada siapapun karyawan hotel yang ia temui. Sikapnya yang berbeda dari biasanya, dalam sekejap membuatnya menjadi buah bibir di kalangan karyawan Hotel Grand. Berita itu bahkan telah sampai pada Suho—sekertaris pribadinya. Sebagai orang terdekat Kris, Suho juga heran dengan perubahan pria itu.

“Apa terjadi sesuatu?”

Kris yang tengah tersenyum sambil memandangi berkas yang diberikan Suho hanya menaikkan salah satu alisnya.

“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti,” jawab Kris. Ia lalu membubuhkan tanda tangan pada selembar kertas dalam map yang diberikan Suho.

“Oh, lihatlah. Tanda tanganku sangat indah bukan?”

Suho mengerutkan dahinya. Di matanya, Kris benar-benar terlihat aneh. Ia pun mengangkat tangannya lalu menempelkannya pada dahi Kris.

“Ya! Apa yang kau lakukan?” bentak Kris kesal sambil menepis tangan Suho.

“Aku hanya memeriksa suhu tubuhmu. Kupikir ada yang salah sehingga kau terlihat sangat aneh seperti ini,” ujar Suho.

“Aneh?”

Suho menepuk dahinya pelan. Entah bagaimana Kris menjadi lamban dalam bereaksi.

“Selalu tersenyum, kadang tertawa sendiri. Kau tidak sadar jika semua orang membicarakan sikap anehmu ini?”

Tawa Kris justru terdengar setelah Suho menyelesaikan ucapannya. Hal itu membuat Suho semakin bingung dan penasaran dengan kondisi Kris.

“Aku hanya merasa senang. Apa menurutmu itu berlebihan?”

“Sangat,” jawab Suho cepat.

Kris mencibir reaksi Suho. Ia lalu mengusap keningnya pelan, sebelum kembali mengumbar senyum di depan sahabatnya itu.

“Aish, kupikir karena kau belum pernah jatuh cinta. Kau tidak mengerti apa yang kurasakan sekarang,” ujarnya dengan tampang polos.

“Siapa bilang aku tidak pernah jatuh cinta? Ada seseorang—yang sudah lama aku sukai.”

Kris terkejut mendengar pengakuan Suho, “Benarkah? Siapa orang itu?”

Suho hanya menggeleng, “Untuk apa aku memberitahumu?”

“Hei, mana bisa kau tidak berbagi rahasia denganku. Katakan siapa orangnya?” Kris mendesak Suho agar mengaku. Tapi, saat melihat senyum Suho yang mencurigakan, Kris langsung bisa menebak jawabannya.

“Jangan katakan jika orang itu adalah Krystal?” ancam Kris. “Aku tidak mau jika kau menjadi adik iparku.”

“Sebenarnya aku juga tidak mau memiliki kakak ipar yang payah seperti dirimu,” balas Suho tajam.

“Apa katamu? Payah?”

Suho menggelengkan kepalanya. Kesal dengan kebiasaan Kris yang selalu eenaknya mengganti topik pembicaraan.

“Aish, sudahlah. Kembali pada topik awal pembicaraan,” ucap Suho.

Kris hanya mengerucutkan bibirnya dan berulang kali menghela nafas kasar.

“Jadi, ini ada hubungannya dengan Yoona?” Suho akhirnya bisa mengetahui penyebab sikap aneh pria berperawakan jangkung itu. “Apa sekarang—kalian sudah resmi menjadi pasangan kekasih? Tidak lagi bersandiwara seperti sebelumnya.”

Kris mendesis sambil memasang wajah malas. Ia sudah terbiasa dengan reaksi Suho yang selalu cepat memahami situasi.

“Hebat. Kau sudah bisa mengetahuinya, bahkan sebelum aku memberitahumu,” ucap Kris.

Suho tersenyum miring, sambil mengambil berkas yang baru saja selesai ditandatangani Kris.

“Aku memang hebat. Cepat tanggap dan mempunyai pemikiran yang cerdas. Tidak sepertimu, terkadang lamban dalam bereaksi, moody, dan selalu bersikap seenaknya sendiri,” cerocos Suho melemparkan kata-kata pedas untuk Kris.

Kris mendengus kesal. Sahabatnya itu benar-benar mirip seperti mobil yang berjalan cepat tanpa rem. Ia sampai tak berkutik menanggapi ucapan Suho. Kris tak bisa membalas. Beradu argumen dengan Suho memang selalu berakhir sia-sia dengan kekalahannya.

“Aish,” Kris menyerah sambil menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi. Suho yang melihatnya hanya terkikik geli.

“Selamat atas hubunganmu dengan Yoona. Aku turut senang mendengarnya,” ucap Suho bermaksud mengembalikan suasana hati Kris.

Benar saja, ekspresi kesal Kris berganti menjadi ekspresi senang. Pria itu kembali tersenyum dan hanya mengangguk-anggukan kepalanya berulang kali. Membuat Suho tak bisa menahan tawa saat akan keluar meninggalkan ruang kerja Kris.

Setelah Suho pergi, Kris meraih ponselnya yang berada di saku jas. Tanpa ragu ia segera menekan nomor ponsel Yoona. Ia cukup menekan angka 1, sebagai nomor speed dial up khusus untuk Yoona.

Kris mendekatkan ponselnya pada telinga. Hanya nada sambung yang masih terdengar, sampai berganti dengan suara operator yang menjawabnya. Dahi Kris berkerut. Ia kembali mencoba menghubungi Yoona, tapi hasilnya tetap sama. Wanita itu tak kunjung mengangkat panggilannya.

“Apa dia sedang pergi?”

.

.

.

“Kami pulang . . .”

Semua orang yang berada di ruang tengah, langsung menoleh saat mendengar suara Tao. Mereka melihat Tao dan Yoona sudah kembali dengan beberapa kantung belanjaan di tangan mereka. Ekspresi wajah semua orang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Hal itu membuat Tao dan Yoona saling memandang.

Yoona juga bingung saat mengenali sosok Presdir dan Nyonya Im yang kini tengah menatapnya dengan wajah sedih.

“Kenapa—kalian bisa ada di sini?” tanya Yoona bingung.

Hening. Semua orang sama sekali tidak mengatakan apapun. Selanjutnya hanya terlihat Presdir dan Nyonya Im yang langsung berdiri dan berjalan mendekati Yoona.

Ahjumma?” Yoona semakin bingung ketika Nyonya Im justru menangis di depannya sambil mengusap wajahnya.

Sedetik kemudian, Nyonya Im langsung memeluk Yoona dengan erat. Tangisnya pecah seiring buliran air mata yang terus membasahi wajahnya. Yoona melirik Presdir Im yang juga menatapnya dengan keharuan. Ia bahkan mengusap bahu Yoona yang membuat wanita itu semakin dibuat bingung.

Nyonya Im perlahan mengendurkan pelukannya. Ia menatap Yoona lekat, sambil kembali mengusap wajah Yoona.

“Akhirnya kami menemukanmu,” Nyonya Im akhirnya bersuara setelah hanya diam dalam tangisnya. “Putri kecilku . . .”

Mata Yoona nyaris keluar mendengar ucapan Nyonya Im. Tubuhnya mematung, hingga membiarkan wanita paruh baya itu kembali memeluknya erat. Kantung belanjaan yang dipegangnya pun tanpa sengaja terlepas dari tangannya.

Yoona melirik Jung Soo yang mulai mendekati mereka. Kemudian memandangi Tuan dan Nyonya Huang yang ikut memandangi mereka dengan raut haru.

“Apa maksudmu, ahjumma? Aku benar-benar tidak mengerti,” Yoona mulai kehilangan kesabarannya dengan semua hal yang membuatnya bingung saat ini.

“Yoona,” Jung Soo menepuk pelan bahu Yoona. Membujuk wanita itu agar mau menatapnya.

Ahjussi?

Jung Soo tersenyum saat Yoona bermaksud meminta penjelasan darinya. Ia memandangi Presdir Im yang langsung mengangguk ke arahnya.

“Mereka adalah orang tua kandungmu,” lanjut Jung Soo.

“APA?” Yoona dan Tao berteriak kaget.

“Kau adalah Im Yoona, putri tunggal dari Presdir Im Yunho dan Nyonya Im Yuri,” Jung Soo memperjelas ucapannya.

Yoona bisa merasakan matanya yang memerah. Pandangannya mulai mengabur karena bening-bening kristal yang bersiap turun membasahi wajahnya.

“Benarkah itu?” Ia melirik Tuan dan Nyonya Huang. Orang tua angkatnya itu mengangguk, membenarkan apa yang dikatakan Jung Soo.

Tuan dan Nyonya Huang sudah memastikan kebenaran tersebut, tanpa perlu melakukan tes DNA. Berdasarkan foto yang dibawa Presdir dan Nyonya Im, yaitu foto saat Yoona berumur 8 tahun yang kebetulan mereka memilikinya. Selain itu, gelang yang dipakai Yoona saat ia pertama kali datang di rumah keluarga Huang, juga sudah dikenali oleh Nyonya Im. Dua bukti itu membuat keduanya yakin jika Yoona memang putri kandung pemilik Hotel Royal tersebut.

Yoona kembali memandangi Presdir dan Nyonya Im. Saat keduanya tersenyum, ada bayang-bayang masa lalu yang kembali muncul di kepala Yoona. Ia melihat, dua orang yang sama seperti Presdir dan Nyonya Im. Hanya perawakan mereka masih terlihat muda. Meskipun Yoona belum mengingat semuanya, tapi bayangan masa lalunya itu membuatnya yakin, jika dua orang yang berdiri di depannya sekarang adalah orang tuanya yang selama ini ia rindukan.

“Kukira—hari ini tidak akan datang. Hari di mana aku bisa bertemu dengan orang tua kandungku,” ucap Yoona terharu. Air matanya mengalir di wajah cantiknya.

“Akhirnya aku bisa mengatakan apa yang selama ini ingin kukatakan, saat bertemu dengan orang tua kandungku,” lanjut Yoona terisak. Ia memandangi Presdir dan Nyonya Im.

Appa . . . eomma . . .”

Mendengar ucapan Yoona, Nyonya Im langsung menangis haru dan memeluk Yoona dengan erat. Hal yang sama juga dilakukan Presdir Im. Ia merangkul istri dan putrinya, dengan wajah bahagia. Ia bersyukur, dalam waktu relatif singkat, ia berhasil menemukan keberadaan putrinya. Kini mereka telah berkumpul kembali, setelah terpisah selama 15 tahun.

Tuan dan Nyonya Huang, juga Tao dan Jung Soo, mereka menatap haru pada keluarga yang masih melepas rindu satu sama lain. Mereka senang, akhirnya Yoona bisa bertemu kembali dengan orang tua kandungnya—Presdir dan Nyonya Im.

Setelah moment haru yang terjadi di ruang tengah, Yoona langsung mengajak Nyonya Im ke kamarnya. Ia tak henti-hentinya tersenyum saat memandangi wajah ibunya yang selama ini ia rindukan. Meskipun moment di masa kecilnya belum sepenuhnya kembali diingat Yoona, Yoona bisa merasakan jika Nyonya Im adalah sosok ibu yang sangat baik dan penyayang. Bahkan sampai sekarang ia selalu membelai lembut kepala Yoona.

Eomma . . .” Yoona mengusap wajah ibunya agar berhenti menangis. Ia tersenyum dan kembali memeluknya.

“Aku sudah merasa, jika kau adalah putriku,” ucap Nyonya Im.

Yoona mendongakkan kepalanya, “Benarkah?”

Nyonya Im mengangguk, “Sejak kami menolongmu kemarin, aku punya firasat jika kau adalah putriku. Dari cerita jika kau diangkat anak oleh keluarga Huang. Lalu, bekas luka yang kulihat di bagian punggungmu. Dan setiap kali aku melihat sorot matamu, kau selalu mengingatkanku pada putriku. Itu membuatku yakin jika kau adalah putriku yang selama ini kami cari. Im Yoona.”

Bibir Yoona melengkung sempurna, “Naluri seorang ibu memang tidak bisa dilawan. Selalu tepat dan akurat.”

Nyonya Im membelai kepala Yoona dengan lembut. Yoona menyenderkan kepalanya di bahu Nyonya Im. Kedua tangan mereka bertaut sangat erat, seolah tak ingin melepaskan satu sama lain.

“Tapi—maaf. Aku sama sekali tidak ingat masa kecilku. Hal terakhir yang kuingat sekarang hanya peristiwa kebakaran itu. Meskipun untuk sesaat, aku melihat sosok kalian berdua, aku masih belum bisa mengingat semuanya,” ujar Yoona. Ia terdiam saat peristiwa kebakaran 15 tahun silam kembali muncul dalam kepalanya.

“Arrghh . . .” Yoona mendesah pelan ketika merasakan sakit di kepalanya.

“Jangan memaksakan diri. Biarkan saja ingatanmu kembali secara perlahan,” pinta Nyonya Im.

Yoona tersenyum, “Ne, eomma.”

“Sungguh menyenangkan bisa mendengar suara putriku seperti ini,” ujar Nyonya Im senang. Keduanya tertawa bersama dan kembali berpelukan satu sama lain.

“Oh iya, aku sudah berdiskusi dengan Nyonya Huang. Kami sepakat agar kau segera pindah untuk tinggal bersama eomma dan appa. Sebelum penjahat itu tertangkap, keselamatanmu masih terancam. Kami juga bermaksud mengajak Jung Soo untuk tinggal bersama kami. Dia merupakan saksi kunci dari peristiwa 15 tahun silam,” jelas Nyonya Im panjang lebar.

Yoona mengangguk, setuju dengan usulan yang disampaikan ibunya.

“Ah satu lagi, apakah ada seseorang yang mengganggu ketenanganmu? Maksud eomma, ada orang yang membuatmu merasa takut atau tidak tenang. Kami memang belum mengumumkan pada publik jika kau adalah putri kami yang hilang. Tapi, publik sudah mengenalmu sebagai kekasih Kris. Kurasa, penjahat itu menyadari keberadaanmu dan mungkin saja merencanakan sesuatu untuk mencelakakanmu lagi,” Nyonya Im memandangi Yoona dengan raut serius.

Yoona terdiam sejenak, mencoba memahami semua rentetan kalimat yang disampaikan ibunya.

“Entahlah, eomma. Tapi—ada seseorang yang membuatku tidak nyaman. Setiap kali aku melihat matanya, aku seperti merasakan ada aura kebencian pada orang itu. Seperti sorot mata pembunuh dan aku selalu gemetar sekaligus merasa ketakutan tiap kali bertemu dengannya,” jawab Yoona.

“Benarkah?” Nyonya Im membelalakkan matanya. “Siapa orang itu?”

“Ngg—Presdir Choi Kangta,” jawab Yoona.

Nyonya Im seketika bungkam setelah mendengan jawaban Yoona. Tubuhnya terasa lemas dan gemetar hebat. Reaksinya itu jelas mengundang tanya bagi Yoona.

Eomma, ada apa?” Yoona bingung sekaligus panik melihat kondisi ibunya yang tiba-tiba berwajah pucat.

“Ka—kapan kau bertemu dengan orang itu?”

“Presdir Choi Kangta?” Yoona mengerutkan dahinya. “Saat acara makan malam bersama antara keluarga Kris dengan keluarga Presdir Choi. Ayah Kris berteman baik dengan Presdir Choi. Ah, saat acara makan malam itu, aku ingin pergi ke toilet. Tapi, sepertinya aku terlalu hingga jatuh pingsan. Dan saat itulah appa dan eomma menolongku.”

Nyonya Im bisa merasakan debaran jantungnya yang tidak beraturan. Ia menyadari, Yoona berada dalam bahaya. Ia kembali mengingat, pengakuan Jung Soo yang disampaikan beberapa saat yang lalu.

*flashback*

“Apa kau bilang?” Presdir Im mengepalkan tangannya dan rahangnya mengeras. “Kangta yang merencanakan penculikan Yoona?”

Jung Soo mengangguk, “Aku hanya ditugaskan menunggu di rumah tua itu. Kemudian, rekanku datang sambil membawa Yoo—ah maksudku Nona Yoona. Aku terkejut karena rekanku datang membawa anak kecil yang tidak berdosa. Saat aku ingin menanyakan kejadian yang sebenarnya, rekanku itu marah dan langsung membentakku.”

“Lalu?”

“Dia menyuruhku untuk mengikat Nona Yoona pada kursi di dalam rumah tua itu. Kemudian Presdir Choi datang lalu berbicara dengan Nona Yoona. Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, karena hanya tangis Nona Yoona yang aku dengar saat itu. Kemudian Presdir Choi menyuruh kami untuk keluar meninggalkannya sendirian. Sampai akhirnya mereka dengan sengaja membakar rumah tua itu,” lanjut Jung Soo.

Nyonya Im tak kuasa menahan tangisnya. Ia nyaris jatuh pingsan karena terlalu shock. Beruntung suaminya dan juga Nyonya Huang berhasil menenangkannya.

“Dan akhirnya kau menolong Yoona dari kebakaran itu?” kali ini giliran Tuan Huang yang bertanya.

Ne. Di saat semua orang meninggalkan rumah tua itu, diam-diam aku bertindak sendiri dan masuk ke dalam tempat yang sudah dipenuhi kobaran api. Aku melihatnya menangis, meminta tolong untuk diselamatkan. Sejak awal, aku tidak tega melihatnya mendapat perlakuan seperti itu. Saat aku keluar, hati kecilku berteriak untuk menolongnya. Itulah sebabnya aku kembali masuk dalam rumah tua yang sudah terbakar. Aku tidak peduli dengan luka bakar yang kudapatkan, asalkan aku bisa menolongnya. Karena di mataku, saat itu Nona Yoona hanyalah anak kecil yang tidak berdosa.”

*end flashback*

Nyonya Im menghembuskan nafas pelan, lalu menoleh ke arah Yoona yang sedari tadi menatapnya.

“Apa eomma mengenal Presdir Choi?” tanya Yoona penasaran.

Nyonya Im terdiam sejenak, sebelum ia menganggukan kepalanya.

Ne, dia adalah teman ayahmu. Dulu ayahmu, ayah Kris dan juga Presdir Choi berteman baik,” jawab Nyonya Im. “Eomma sarankan, kau harus berhati-hati terhadap Presdir Choi. Jangan tanyakan kenapa alasannya. Ikuti saja apa yang eomma katakan.”

Yoona tidak bertanya dan hanya memandangi wajah ibunya yang tampak serius. Ia pun mengangguk, menyanggupi permintaan Nyonya Im. Ia lalu bangkit dari ranjangnya, berjalan mendekati meja yang berada di dekatnya. Tangan Yoona meraih ponselnya yang ia letakkan di atas meja. Matanya membulat sempurna, ketika ia mengetahui ada 12 panggilan dan 8 pesan masuk. Semua itu dari Kris.

Yoona tersenyum geli sambil memandangi layar ponselnya. Sedetik kemudian senyuman wanita itu berganti menjadi raut serius. Ada hal lain yang baru saja diketahuinya dan itu berkaitan dengan Kris.

Eomma, Kris pernah bilang padaku jika waktu kecil dia pernah dijodohkan dengan putri eomma. Apakah—orang yang akan dijodohkan dengannya itu adalah aku?” tanya Yoona tiba-tiba.

Sesaat raut wajah Nyonya Im tampak kaget, namun kemudian berganti dengan senyuman lebar.

“Tentu saja. Memangnya siapa lagi? Kau satu-satunya putri yang kami miliki,” jawab Nyonya Im. “Waktu itu kau menolak perjodohan sebelum bertemu dengan Kris. Kau melarikan diri saat Kris hampir saja tiba di rumah kita. Selanjutanya—kau justru menghilang dan kami tidak berhasil menemukanmu.”

“Aku menolak perjodohan itu?” tanya Yoona tak percaya.

Nyonya Im mengangguk, “Tapi, tidak disangka sekarang kau justru menjalin hubungan dengan pria yang sudah kau tolak waktu itu. Aku tidak tahu bagaimana kalian bisa bertemu hingga akhirnya resmi menjadi sepasang kekasih. Sepertinya ini memang sudah suratan takdir. Eomma sangat senang dengan hubungan kalian.”

Tangan Yoona menggenggam erat ponselnya. Ia kembali mengingat ucapan Kris yang sudah jatuh cinta padanya saat mereka masih kecil. Kris mengatakan jika Yoona adalah orang yang telah menyelamatkannya dari sekelompok berandal cilik. Artinya, mereka sudah bertemu bahkan sebelum acara perjodohan itu?

Memang terasa konyol saat berusaha merangkai potongan-potongan masa lalu yang dialami Yoona dan Kris. Hanya berbekal fakta yang disampaikan oleh Nyonya Im dan Kris, Yoona tetap saja belum bisa mengingatnya. Tapi, entah kenapa senyumnya tidak pernah pudar dari wajahnya, setiap kali ia membayangkan pertemuan pertamanya dengan Kris 15 tahun silam.

“Kenapa? Apa kau ingat sesuatu?” tanya Nyonya Im penasaran.

Yoona menggeleng, “Tidak, eomma. Tapi, aku senang karena sudah mengetahui sesuatu. Kurasa, apa yang kau katakan ada benarnya. Pertemuanku dengan Kris, sepertinya memang sudah ditakdirkan.”

.

.

.

Kris berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya. Sesekali ia berhenti, sambil memandang ponsel yang ia letakkan di meja. Desahan pelan keluar darinya. Ia sudah lelah menunggu selama 3 jam, tanpa ada respon dari Yoona setelah ia menghubungi wanita itu berulang kali. Bbahkan Kris juga mengirimi Yoona beberapa pesan, namun tak kunjung mendapat balasan.

“Aish, sebenarnya apa yang sedang dilakukannya? Kenapa sama sekali tidak mengangkat telepon ataupun membalas pesanku?” Kris kembali berjalan mondar-mandir dengan kedua tangan yang menyilang di depan dada.

DRRT!

Kris terkesiap ketika menyadari ponselnya berdering keras. Ia berlari menghampiri meja lalu meraih ponselnya. Begitu melihat nama Yoona tertera di layar, jari Kris bergerak cepat menekan tombol berwarna hijau.

“Ya! Ke mana saja kau? Kenapa tidak mengangkat teleponku dan membalas pesanku?” cecar Kris tidak sabar.

Kris mengatur nafasnya yang terengah-engah. Ia terdiam, menunggu lawan bicaranya untuk mengatakan sesuatu. Namun Kris hanya mendengar tawa kecil dari seberang ponsel.

“Jangan tertawa!” Kris mendesah kesal sambil menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang kerjanya. “Kau tidak tahu, betapa cemasnya aku karena kau sama sekali tidak mengangkat teleponku.”

Ne, maaf sudah membuatmu cemas. Ponselku tertinggal di kamar. Aku tidak tahu jika kau meneleponku. Tadi, ada hal penting yang sedang kuurus.

Kris mengerutkan dahinya. Ia bisa merasakan jika Yoona dalam kondisi yang tidak baik. Terdengar dari nada bicaranya yang tidak lepas seperti biasanya. Seolah ada masalah yang sedang menderanya.

“Kau baik-baik saja?” tanya Kris cemas.

Ne, aku baik-baik saja. Tapi, entah kenapa aku sangat merindukanmu. Aku ingin sekali bertemu denganmu.

Kris langsung berdiri dan mengambil jasnya yang tersampir di kursi kerjanya.

“Kau di mana sekarang? Apa sedang di galeri? Aku akan datang menemuimu,” ucap Kris.

Memangnya kau tidak sibuk? Bukankah kau sedang berada di hotel?

“Aku memang berada di hotel. Tapi aku punya waktu luang. Aku bisa datang menemuimu,” jawab Kris. “Kau di mana?”

Aku di rumah.

“Baiklah, tunggulah di depan rumahmu. Aku akan segera ke sana,” jawab Kris cepat lalu memutus obrolan mereka. Ia pun bergegas keluar dari ruang kerjanya.

KLEK!

Di saat yang bersamaan, Suho muncul dan berniat masuk ke ruang kerja Kris. Ia bingung melihat gelagat Kris yang berniat pergi meninggalkan ruangan.

“Kau mau ke mana? Sebentar lagi ada meeting dengan bagian Personalia,” ucap Suho mengingatkan.

“Ada hal penting yang harus kuselesaikan. Tolong kau gantikan aku,” balas Kris dan tetap cuek berjalan keluar meninggalkan ruangan.

“APA?” Suho berteriak kaget dan berulang kali memanggil Kris yang semakin jauh dari pandangannya.

Kris terus berjalan menuju lift dan mengabaikan panggilan Suho. Persetan dengan meeting itu, saat ini yang terpenting adalah Yoona.

.

.

.

Yoona memainkan kerikil dengan kakinya. Udara yang sedikit dingin membuat tubuhnya sedikit menggigil. Ia masukkan kedua tangannya dalam saku jaket, agar bisa mendapatkan kehangatan.

Tak lama kemudian, Yoona mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumahnya. Ia juga mendengar suara keras saat seseorang menutup pintu mobil. Wanita itu tak bisa menyembunyikan raut kagetnya begitu melihat Kris sudah berjalan mendekatinya.

“Kris?” Yoona tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Belum ada 30 menit, setelah obrolan terakhir yang dilakukannya dengan pria itu. Kris tiba-tiba sudah muncul di hadapannya.

Tanpa berkata apapun, Kris langsung menarik tubuh Yoona ke dalam dekapannya. Tangan kekarnya memeluk erat tubuh wanita itu. Semakin lama semakin erat, seolah tak ingin melepaskannya.

“Kris, kau membuatku sesak,” rengek Yoona sambil meronta, berusaha melepaskan diri. Ia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan pria itu. Datang tiba-tiba dan juga memeluknya secara tiba-tiba.

“Kau baik-baik saja?” tanya Kris lagi, cemas.

Yoona mengangguk pelan, lalu memasang senyum termanisnya untuk Kris.

“Syukurlah,” Kris menghela nafas lega. “Kukira, ada hal buruk yang terjadi padamu.”

Yoona tak bisa menahan tawanya. Melihat ekspresi wajah Kris saat pria itu mencemaskannya, tampaknya akan menjadi kesenangan tersendiri bagi Yoona. Bukankah jelas jika pria itu sangat memberikan perhatian penuh terhadapnya?

“Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu,” ucap Yoona tiba-tiba. Kris hanya memandangnya sambil menunggu wanita itu menyelesaikan kalimatnya.

“Aku—sudah menemukan orang tua kandungku,” lanjut Yoona.

Mata Kris berbinar, “Benarkah? Siapa?”

Yoona tersenyum lebar, “Mereka yang sudah menyelamatkanku saat aku jatuh pingsan di restoran Heaven.”

Hening.

Kris tampak berpikir untuk mengingat siapa yang dimaksud oleh Yoona. Sedetik kemudian bibirnya setengah terbuka dengan mata yang membulat sempurna.

“Presdir Im Yunho?” Kris semakin terkejut saat Yoona mengangguki ucapannya.

“Jadi—kau putri mereka yang hilang?” tanya Kris lagi.

Yoona hanya menganggukan kepalanya tanpa berkata apapun. Tapi senyum yang terus terpatri di wajahnya memperlihatkan jika suasana hatinya sedang senang.

“Hebat. Ini benar-benar fakta yang mengejutkan,” ucap Kris berdecak kagum. Kemudian wajahnya kembali berubah serius.

“Itu artinya, kau adalah—”

“Orang yang akan dijodohkan denganmu 15 tahun silam. Kau ingin menanyakan itu kan?” potong Yoona sembari terkekeh pelan.

Kris mengangguk. Bibirnya pun terus melengkung sampai terlihat giginya yang berjejer rapi.

“Sulit dipercaya,” Kris mengusap wajah Yoona lalu memeluk wanita itu dengan erat. Yoona pun ikut membalas pelukan Kris, dengan mengusap punggung pria itu. Ia bisa merasakan kehangatan yang begitu menenangkan hati, ketika berada dalam pelukan Kris.

“Kurasa—takdir yang sudah mempertemukan kita kembali,” ucap Yoona. “Meskipun aku belum bisa mengingatnya, entah kenapa jati diriku dan juga masa lalu yang kuketahui ini membuatku bahagia.”

“Tidak masalah jika ingatanmu belum kembali. Asalkan mulai sekarang, kau akan selalu berada di sisiku, untuk selamanya,” balas Kris dan semakin mengeratkan pelukannya.

Yoona tersenyum haru. Ia bisa merasakan kecupan lembut di kepalanya, membuat kedua pipinya bersemu merah. Keduanya tidak berkata banyak dan hanya tawa yang terdengar dari mereka.

Kris dan Yoona saling menatap, sampai perlahan wajah keduanya mendekat hingga nyaris tak ada jarak. Sedetik kemudian, bibir Kris dengan mudahnya menyentuh bibir Yoona. Mata mereka terpejam, tanda betapa mereka sangat menikmati ciuman pertama yang mereka lakukan itu.

“Yoona?”

Kris dan Yoona terkesiap, mendengar suara seseorang yang mengganggu kemesraan mereka. Terlalu kagetnya, Kris sampai terbatuk. Sementara Yoona berbalik menghadap pintu rumah dengan wajah memerahnya. Ia mendapati Nyonya Huang sudah berdiri dengan raut bingungnya.

“Oh, Kris? Kapan kau datang?” tanya Nyonya Huang begitu menyadari sosok Kris yang berdiri bersama Yoona.

Kris meringis, setelah ia berhasil mengembalikan fokusnya.

“Baru saja, ahjumma,” jawab Kris singkat. Ia tersenyum lebar dan bersikap setenang mungkin di depan Nyonya Huang. Sementara Yoona hanya menunduk dengan wajah memerahnya.

“A—ada apa, ahjumma?” tanya Yoona sedikit gugup. Ia khawatir jika apa yang baru saja dilakukannya bersama Kris diketahui oleh Nyonya Huang.

“Ibumu mencarimu, masuklah. Kau juga, Kris,” ajak Nyonya Huang dengan senyum khasnya.

Yoona terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. Ia bernafas lega karena kemungkinan besar Nyonya Huang tidak melihat apa yang mereka lakukan. Reaksi yang sama juga terlihat pada Kris. Keduanya pun saling melirik dan tertawa geli dengan wajah merah mereka.

.

.

.

Sooyoung melangkahkan kakinya mantap memasuki Hotel Lofty. Ia tak tahu apakah keputusan yang telah diambilnya sudah tepat. Satu hal yang jelas, ia ingin agar ayahnya tidak lagi bersikap buruk terhadap hubungan Kris dan Yoona. Sudah cukup jika sebelumnya sang ayah telah merusak suasana makan malam bersama keluarga Kris dan juga Yoona.

Sooyoung menyadari jika perbuatan ayahnya itu dilakukan untuk dirinya. Ia senang jika ayahnya berusaha mengabulkan apa yang diinginkannya, tapi tidak dengan cara seperti itu.

BLAM!

Sooyoung langsung menerobos masuk ruang kerja ayahnya. Wajahnya terlihat menahan marah. Sejak kejadian di restoran malam itu, sekuat tenaga ia menenangkan suasana hatinya, dengan merenung selama sehari kemarin. Ia tak mau ayahnya bertindak terlalu jauh, jika nantinya akan berakibat fatal bagi semua orang.

“Kau lupa caranya mengetuk pintu?” tanya Presdir Choi sarkastik.

“Aku hanya punya satu permintaan. Kuharap appa mau mengabulkannya,” Sooyoung mengabaikan teguran ayahnya, memilih untuk langsung mengatakan apa yang ada dalam pikirannya.

Presdir Choi terdiam, menatap putrinya dengan wajah serius.

“Aku memang tidak tahu, apa yang selama ini appa rencanakan. Tapi, aku hanya berharap appa berhenti untuk berusaha memisahkan Kris dan Yoona. Makan malam waktu itu, aku tahu jika appa sengaja membeberkan latar belakang Yoona pada orang tua Kris. Tidakkah itu tindakan yang memalukan? Appa jangan bersikap seperti anak kecil,” jelas Sooyoung panjang lebar.

Presdir Choi menahan amarahnya setelah putrinya menunjukkan penolakan atas apa yang dilakukannya.

“Aku tahu, appa melakukannya untukku. Tapi kumohon jangan bersikap buruk yang nantinya akan merugikan semua orang,” pinta Sooyoung.

Presdir Choi tertawa keras, namun perlahan segera kembali berwajah serius di depan Sooyoung. Ia mengepalkan kedua tangannya sambil menatap tajam pada putrinya.

“Beraninya kau berkata seperti itu padaku? Aku sudah mempertaruhkan semuanya hanya untuk masa depanmu,” ujar Presdir Choi. “Tapi kau hanya diam saja dan tidak melakukan apapun. Setiap malam menangisi pria yang selamanya tidak akan pernah bisa kau miliki.”

Appa . . .”

“Kenapa? Kau tersinggung dengan ucapanku?” Presdir Choi tertawa sinis. “Benar kan, kau tidak pernah mengakui perasaanmu pada Kris. Sehingga ia dengan mudahnya diambil oleh wanita lain.”

Sooyoung terdiam, ia hanya menunduk dengan matanya yang mulai berurai air mata.

“Apa ini yang kau inginkan? Membiarkan Kris bersama wanita itu. Kau tidak ingin memilikinya?” tanya Presdir Choi.

“Memangnya apa yang bisa kulakukan? Kris mencintai wanita lain dan dia hanya menganggapku sebagai sahabatnya,” jawab Sooyoung. Ia terisak, hingga tampak tubuhnya gemetar saat wanita itu menangis.

“Kau berkata seperti itu karena kau belum pernah mencobanya. Mencoba untuk mengakui perasaanmu pada Kris. Itulah sebabnya dia sama sekali tidak menganggapmu sebagai wanita, karena tidak pernah tahu perasaanmu yang sebenarnya,” jelas Presdir Choi.

Sooyoung kembali bungkam. Meski terkesan menyakitkan, tapi apa yang dikatakan ayahnya adalah sebuah kebenaran. Ia tak pernah mengakui perasaannya pada Kris, sejak mereka pertama kali bertemu di usia 8 tahun. Ia tak pernah mengatakan bahwa ia sangat mencintai pria itu. Sooyoung menyadari jika kesalahannya itu, membuat dirinya kehilangan Kris yang akhirnya jatuh cinta pada wanita lain.

“Kalau kau tidak segera memberitahunya, kesempatan untuk bersama Kris tidak akan pernah datang padamu. Kau akan menyesal, setelah mengetahui jati diri Yoona yang sebenarnya,” lanjut Presdir Choi.

Seketika wajah Sooyoung berubah bingung. Kerutan di dahinya terlihat jelas setelah Presdir Choi mengatakan beberapa kalimat yang tidak dipahami olehnya.

“Jati diri Yoona yang sebenarnya? Apa maksud appa berkata seperti itu?” tanya Sooyoung penasaran.

Kali ini giliran Presdir Choi yang memilih bungkam. Ia enggan menjelaskan lebih jauh tentang apa yang selama ini mengusik pikirannya.

Tiba-tiba pintu ruang kerja Presdir Choi terbuka lebar. Muncul Sekertaris Han yang langsung menunduk begitu mengetahui ada Sooyoung di dalam ruang kerja atasannya tersebut.

“Maafkan atas kelancangan saya,” ujar Sekertaris Han. Wajahnya terlihat panik dan itu membuat Presdir Choi bisa menebak apa yang akan disampaikan oleh orang kepercayaannya itu.

“Keluarlah. Pikirkan apa yang sudah appa katakan padamu,” titah Presdir Choi pada Sooyoung. Wanita itu tak berkomentar banyak. Ia menghapus air matanya, lalu berjalan keluar meninggalkan ruang ayahnya.

Sepeninggalan Sooyoung, Presdir Choi langsung berdiri dari kursinya, kemudian berjalan mendekati jendela yang langsung menghadap jalanan di luar Hotel Lofty.

“Kuharap bukan kabar buruk yang ingin kau sampaikan, Sekertaris Han,” kata Presdir Choi sambil membelakangi pria yang sudah berdiri di dekat mejanya.

Sekertaris Han terdiam, ia masih menunduk dengan amplop berwarna cokelat yang berada di tangannya.

“Sekertaris Han?”

“Ngg—kami sudah memastikan hubungan antara Park Jung Soo dengan Nona Yoona. Ternyata memang benar, jika Nona Yoona diantar pada keluarga Huang Zhi Lei oleh Park Jung Soo. Nona Yoona adalah anak yang sudah diselamatkan Park Jung Soo, dalam kebakaran 15 tahun silam,” jelas Sekertaris Han.

“Sudah kuduga. Ternyata memang benar dia orangnya,” gumam Presdir Choi.

“Tapi, ada masalah lain, Presdir Choi,” sela Sekertaris Han.

Presdir Choi memutar tubuhnya, hingga langsung bertatapan dengan Sekertaris Han. Ia melirik bingung pada beberapa lembar foto yang dikeluarkan Sekertaris Han dari dalam amplop yang dibawa pria itu.

“Presdir Im Yunho dan istrinya, tadi pagi datang ke rumah keluarga Huang,” ucap Sekertaris Han.

Seketika raut wajah Presdir Choi berubah. Gurat kemarahan terlihat jelas di wajahnya.

“Apa yang mereka lakukan? Apakah mereka sudah tahu semuanya? Mereka sudah tahu jika Yoona adalah putri yang selama ini mereka cari?” cecar Presdir Choi tanpa memberikan kesempatan pada Sekertaris Han untuk menjawabnya.

Hening. Belum ada jawaban yang terdengar dari Sekertaris Han.

“JAWAB PERTANYAANKU!” teriak Presdir Choi.

N—ne, mereka sudah tahu, Presdir. Park Jung Soo sudah memberitahu semuanya di hadapan semua orang, termasuk Nona Yoona sendiri,” jawab Sekertaris Han.

Presdir Choi terdiam. Tak lama kemudian ia tertawa layaknya orang kerasukan. Reaksinya itu sempat membuat Sekertaris Han merasa takut. Presdir Choi tidak sedang dalam kondisi baik. Ia tahu berita yang akan disampaikannya akan membuat emosinya meluap. Tapi Sekertaris Han tak punya pilihan selain harus memberitahunya.

“Maafkan kami, Presdir. Kami tidak mengira jika Presdir Im beserta istrinya akan langsung segera datang menemui keluarga Huang, di saat Park Jung Soo juga sedang berada di sana,” sesal Sekertaris Han merasa bersalah.

“Tidak apa-apa, semua sudah terjadi. Mungkin keberuntungan belum berpihak padaku,” Presdir Choi kembali bersikap biasa seperti sebelumnya. Tapi wajahnya tetap terlihat menakutkan. Sorot mata membunuh kembali terlihat di wajahnya.

“Baiklah, akan kubiarkan mereka bersenang-senang karena telah berkumpul kembali. Tapi—”

Sekertaris Han menelan saliva­-nya saat melihat seringaian dari Presdir Choi.

“Kebahagiaan itu tak akan berlangsung lama. Karena tak lama lagi, Huang Yoo—ah maksudku, Im Yoona, akan lenyap dari muka bumi ini. Aku pastikan wanita itu akan mati di tanganku.”

­-TO BE CONTINUED-

A/N : Ada yang kangen sama aku *lol*salah fokus*. Hehe, maksudnya ada yang kangen sama FF ini? Siapa? Ayo acungkan jari!😄

Buat yang nungguin Destiny, maaf untuk keterlambatan yang super duper lama. Sebenarnya kemarin berencana hiatus dalam menulis FF YoongEXO. Tapi, rasanya aku nggak enak sama kalian yang udah nungguin FF ini. So, aku sempatin nulis kelanjutannya. Walaupun lagi hiatus, jujur aja, tanganku gatel banget kalo nggak nulis FF *lol*😄

Kurang lebih sekitar 4-5 chapter FF ini akan selesai. Part selanjutnya aku tidak bisa menjanjikan untuk secepatnya publish. Maaf.

Dan maaf, aku juga belum bisa melanjutkan SOL (Sense of Love) *deep bow*

Terima kasih sudah membaca🙂

67 thoughts on “Destiny 9

  1. Akhirnya…ff ni di post jg..q nunggux bkan smpe lmutan lag, udah karatan kali ya..hahah,,,lanjut dong thor, jgn lm2..

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s