(Freelance) After Sunset

after-sunrise-by-nikkireed

 

After Sunset

written by Nikkireed 

Cast

Im Yoona and Luhan with Oh Sehun

Angin berhembus menerpa kulit wajah mulusnya. Rambut coklatnya sedikit berantakan karena hembusan angin. Walaupun begitu ia tidak terlalu menghiraukannya, ia lebih berpikir bagaimana caranya agar dress warna peach yang ia kenakan itu tidak terlalu berkibar karena hembusan angin.

Tapi geladak ini sedang kosong. Dimana semua orang? Tidak biasanya geladak ini kosong di jam menyenangkan seperti ini.

Tuk.. tuk.. tuk..

Seseorang baru saja sampai di geladak itu. Ia langsung berbalik untuk melihat siapa yang datang.

“Untukmu, Dear.” (Baca:Deer)

Namja itu membawakan sweater bergambar rusa milik yeoja itu sambil berjalan mendekatinya.

“Apa? Kau membuka koperku?” Ia menerima sweater itu dengan eskpresi wajah kebingungan.

“Pakailah.” Bisik namja itu pelan diimbangi dengan senyum misteriusnya.

Yeoja itu menurut.

Lalu namja itu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.

Sebuah kotak berwarna merah berbahan beludru.

“Apa lagi ini?” Yeoja itu mengernyitkan dahinya.

Namja itu hanya tersenyum dalam diam.

“Kau –“ Yeoja itu terpaku saat namja yang dihadapannya sekarang ini hanya berjarak beberapa centi dari tubuhnya. Karena namja tersebut mendekat dengan sedikit memeluk tubuhnya dan tangan melingkar dilehernya.

Sekarang sebuah kalung berbentuk jangkar dengan berlian dan emas putih disekitarnya sudah bergantung manis di leher jenjang yeoja itu.

Namun, mata yeoja ini menangkap seseorang yang lain disana. Seseorang yang bisa melihat dari jauh. Segala kepahitan dan kesakitan tergambar jelas, seolah baru saja melihat sesuatu yang mengejutkan, yeoja itu menahan senyumnya melihat seseorang disana. Walaupun keadaan seperti ini.

Luhan tahu seketika itu. Ia datang di saat yang tidak tepat. Ia menyadarinya ketika ia melihat sesuatu yang selama ini ia takutkan, bahwa Yoona – perempuan yang membuatnya mengumpat dari perasaannya sendiri itu, didekati oleh orang lain. Terlebih oleh seorang dokter, jauh dibanding dirinya yang bukan siapa-siapa. Atau belum menjadi siapa-siapa.

Beruntung Sehun tidak disini melihat kejadian itu, umpatnya dalam hati.

Luhan berbalik ke arah ia datang ke geladak itu. Ia lebih memilih berbohong jika mengakui bahwa hatinya kini sudah tidak berbentuk. Atau bahkan tidak bernyawa lagi.

Ia berjalan dengan gontai, lututnya terasa lemas dan angin di geladak kapal ini mendorongnya untuk tetap berpegangan dengan teralis besi didekatnya.

Tapi Luhan tetap memaksa dirinya berjalan. Ia heran kenapa ia mau melihat sesuatu yang seperti ini. Bukankah ia memiliki pilihan lain?

Seandainya tadi ia tidak diam-diam memerhatikan Yoona dari jauh. Seandainya tadi ia langsung menghampiri Yoona. Seandainya.

“Terima kasih, dr. Lee tapi aku harus pergi sebentar.” Yoona menyelinap dan berlalu begitu cepat seperti angin. Bahkan ketika dr. Lee ingin menahannya untuk bertanya, Yoona sudah berlari meninggalkan geladak ini.

“Apa aku salah bicara?” dr. Lee bergumam sendiri.

Yoona dengan segala kepanikannya berlari meninggal dr. Lee yang jelas-jelas tadi hampir menangkap tangannya. Untung saja. Batinnya.

Ia berlari sedikit walaupun berlawanan dengan arah angin. Ia melihat Luhan bersandar tidak jauh dari teralis besi tersebut.

Hati-hati ia ingin mendekati Luhan, tapi tiba-tiba Luhan malah berbalik pada Yoona.

“Eh, Yoong?” Luhan sama kagetnya dengan Yoona. Mata mereka bertemu. Yoona berani bersumpah melihat bahwa mata Luhan berkaca-kaca. Apa ia menangis? Tanya Yoona dalam hati.

“Kau sedang–“ Kalimat Luhan tertahan karena sekarang ia merasakan tubuh Yoona dalam pelukannya. Bukan, bukan ia yang memeluk Yoona. Tapi Yoona yang memeluknya.

Disaat yang sama, dr. Lee muncul tidak jauh dari mereka. Sebuah wajah bingung tergambar jelas di raut wajahnya.

Tepat saat dr. Lee ingin menghampiri mereka, bibir Yoona bertemu dengan bibir Luhan. Dan wajah Yoona tersenyum walaupun matanya mengeluarkan cairan.

  1. Lee terpaku ditempatnya. Merasa seperti orang bodoh yang menyaksikan dua insan muda berciuman. Merasa seperti orang bodoh yang melihat dan terpatung ditempat.

Luhan yang melepaskan ciuman dan pelukan Yoona. Ia mengedarkan matanya dan perhatianya pada Yoona begitu ia menyadari air mata Yoona tumpah dan wajahnya sudah basah.

“Yoong?”

“Yoona?”

Panggil Luhan yang berdiri dihadapannya, dan panggil dr. Lee yang berdiri agak jauh dari mereka. Secara bersamaan.

Reflek, Luhan langsung menjaga jarak dengan Yoona begitu ada suara lain yang memanggil Yoona.

Jika Tuhan tidak menciptakan syaraf dalam mata, mungkin kali ini bola mata Yoona lepas dari tempatnya.

Yoona semakin menangis. Ia sadar ia menyakiti siapa.

“dr. Lee?” Yoona memanggil pelan dr. Lee. Tapi mata dan wajahnya tertuju pada Luhan sekarang, “Luhan-ah, aku boleh bicara sebentar dengan dr. Lee?”

Luhan terkejut dengan Yoona. Ia hanya menghapus air mata yang mengalir di pipi Yoona dengan lembut lalu tersenyum dan pergi meninggalkan kedua orang tersebut.

Luhan kembali ke kamarnya dan menemukan Sehun sedang berdiri memegang sesuatu.

Luhan masih belum pulih dari kekagetannya barusan. Yoona menciumnya. Yoona memeluknya. Apa ini?

Luhan berjalan dengan gontai ke kasurnya. Wajahnya datar dan terkejut melihat Sehun yang tahu-tahu sudah duduk disampingnya, “Mwo?”

“Aku bilang Hyung habis darimana?” Sehun mengulang pertanyaannya. Samar-samar Luhan baru sadar bahwa ia sudah termenung beberapa menit dan tidak menyadari pertanyaan Sehun.

“Ah, aku… ak-aku baru mau…” Luhan mencari alasan, “Aku baru saja melihat-lihat di atas.” Luhan menunjuk ke arah atas. Sehun terlihat tidak percaya.

“Hmm, Hyung. Lihat ini, aku menemukan ini.” Sehun menunjukkan sebuah foto. 2 orang dokter, Im Ahjussi, Dr. Lee, Yoona dan seseorang yang lain.

“Ah, ini bukannya Seohyun Nunna?” tanya Sehun penasaran.

Luhan mengamati foto tersebut. Itu memang seperti Seohyun. Apa jangan-jangan ia?

Hyung, kau tidak berpikir seperti yang kupikirkan, kan?” kalimat Sehun aneh. Luhan menyadari. Tapi foto ini juga aneh.

Ketukan dipintu menyadarkan pikiran kedua kakak adik tersebut.

“Luhan-ah? Ah, Sehun kau disini?” Yoona masuk ke kamar dengan perubahan wajah yang lebih ceria. Tidak seperti beberapa menit yang lalu.

“Ah, Yoong Nunna. Kebetulan kau disini, aku.. aku menemukan ini.” Sehun menyerahkan foto yang dipegang Luhan itu kepada Yoona. “Kau mengenal orang ini?” Sehun menunjuk pada sosok yang seperti Seohyun itu.

“Itu, adik dr.Lee. Ia tinggal di San Fransisco. Ketika aku berobat, dr. Lee mengenalkanku padanya. Wae?” tanya Yoona dengan polos kepada dua kakak-adik tersebut.

Tapi keduanya malah tercengang.

Yoona memandang bingung kedua kakak adik tersebut. “Wae? Ada masalah?”

“Ah aniya, Yoong. Kau bisa menemaniku sebentar? Ada yang perlu kutanyakan.” Luhan akhirnya menjawab pertanyaan Yoona. Tapi matanya jelas sekali memandang Sehun mengisyaratkan agar membiarkan Luhan yang berbicara padanya.

“Ah ne. Kurasa aku harus memeriksa sesuatu. Ketemu nanti.” Sehun melesat keluar kamar meninggalkan Luhan dan Yoona dengan canggung.

Luhan dan Yoona berjalan menyusuri geladak utama. Langit sudah berwarna biru gelap. Angin juga sudah bertiup mengacak rambut keduanya. Tapi mereka masih terdiam sampai belum ada satupun yang memulai pembicaraan.

“Ah, jadi The Serenity itu sebuah kapal untukmu?” Luhan mendesah akhirnya sebelum bertanya pada Yoona. Ia tersenyum pada lantai. Sedangkan Yoona berjalan disampingnya mengeratkan cardigannya.

Yoona tersenyum pada kejauhan, “Hmm, aku juga baru menyadarinya. Aku..” Yoona menggantung kalimatnya dan berhenti berjalan.

Luhan sudah berjalan beberapa langkah di depannya, menengok kebelakang.

Mata Yoona bahkan sudah berkaca-kaca. Ia sudah hampir menangis. Tapi ia tersenyum pada Luhan.

“Yoong?” Luhan berjalan mendekati Yoona.

“Aku.. aku senang mengenalmu, mengenal Sehun. Aku senang aku bisa kembali melihat. Aku senang Eomma-Appa tidak me..” Yoona menenggelamkan wajahnya di telapak tangannya.

Luhan merangkul Yoona. Tidak, ini bukan rangkulan romantis, tapi ini rangkulan simpati seorang teman. Ya, teman.

Yoona berhenti menangis ketika ia terkejut Luhan merangkulnya.

“Kau menganggap apa aku ini, Luhan-ah?” tanya Yoona.

“Kau?” Luhan berhenti sebentar dan berpikir, “Kau seperti The Serenity. Kau kuanggap sebagai ketenanganku.”

Yoona mengernyitkan dahinya tidak mengerti.

“Kau seperti ketenanganku. Pertama kali aku melihatmu berdiri dilantai atas balkon rumahmu, waktu itu kau masih….” Luhan memasukkan tangan ke saku celananya. “Yah, dan aku melihatmu tersenyum melihat keluar komplek, kukira kau akan melihatku memandangmu. Tapi kau terlihat tenang. Membuatku merasa tenang melihatmu.”

Ini saatnya, Lu. Ini saatnya. Batinnya dalam hati.

“Dan sekarang, kau sudah melihat. Kau masih terlihat tenang. Walaupun impianmu tercapai. Nahkoda, kan?” Luhan tersenyum lebar, hampir seperti mengejek ke arah Yoona.

Yoona hanya membalas senyumnya. Memang, ia seorang yang tenang. Bahkan disaat seperti inipun, ia masih terlihat tenang.

“Kau sudah tahu apa cita-citamu?” Tanya Yoona, mengingat Luhan belum memberikan jawaban apa cita-citanya waktu itu.

Luhan kehilangan senyumnya.

Hokshi, kau tidak punya cita-cita?” Yoona memicingkan matanya kepada Luhan.

“Ada.”

Yoona menunggu Luhan melanjutkan.

“Dulu, aku punya cita-cita. Kau ingat perempuan yang tadi Sehun tunjuk di foto itu?” Luhan bertanya pelan. Mereka sekarang sudah berada di buritan (ujung kapal).

Yoona hanya mengangguk.

“Dulu ia adalah impianku. Ia Seohyun. Masa laluku.”

Hening.

“HAHAHAAHAHHAHA..” Yoona tertawa dengan tiba-tiba. Luhan tidak mengerti apa yang lucu tapi ia ikut tersenyum dengan Yoona.

“YA! Jadi kau adik ipar dr.Lee? HAHAHAHAHA.” Yoona kembali tertawa.

Luhan memandang air yang berdeburan menabrak kapal di bawah sana. “Hampir. Tapi ia meninggalkanku akhirnya. Karena ia memilih untuk sekolah di America.”

Yoona menghentikan tawanya. Ia memandang Luhan yang terdiam dan merasa canggung. Entah atas dorongan apa, Yoona merasa seperti ingin merangkul Luhan seperti Luhan merangkulnya tadi. Tapi diurungkan niatnya itu.

“Tapi tak apa.” Luhan menepuk tangannya bebas. “Dan, Yoona, ada yang ingin kuberitahukan padamu.” Luhan mengeluarkan sebuah amplop putih dari sakunya.

Mwo?”

“Aku menerima beasiswa dari California Institute of Arts. Minggu depan aku berangkat.” Hanya itu yang keluar dari mulut Luhan.

Yoona masih membaca surat tersebut. Matanya membaca kata per kata dengan seksama.

“Kau beasiswa, Luhan-ah?” Reflek Yoona mengalungkan tangannya dibelakang Luhan dan memeluknya, “Chukkae, Luhan. Chukkae.” Yoona menahan tangisanya. Ia mengerti apa maksud air mata ini mengalir.

Luhan terpatung, bingung antara membalas pelukan Yoona dan hanya terdiam.

Saat Yoona melepaskan pelukannya, “Aku senang kau… aku…” Yoona berusaha menghapus air matanya yang mengalir.

“Yoong.”

Yoona tetap tersenyum, “Aku ikut senang.”

Seminggu kemudian.

“Luhan-ah, kau harus sering-sering menelepon kami, eoh.” Eomma mengelus rambut Luhan dengan lembut. Appa berdiri disamping Eomma, “Luhan-kita sudah besar, kau tidak perlu khawatir.”

Appa, Eomma dan Sehun mengantar Luhan karena hari ini jadwal keberangkatannya ke California. Luhan hanya membawa sebuah koper dan ransel dipunggungnya.

Appa, Eomma tenang saja.” Luhan tersenyum sambil memeluk Eomma-nya. Karena Eomma sebenarnya kurang setuju dengan keberangkatan Luhan ke California. Tapi karena demi masa depan, akhirnya Eomma mengijinkan dan menyetujui keberangkatan Luhan. Sedangkan Appa, ia jauh lebih mendukung Luhan mengambil beasiswa tersebut. Walaupun sedikit kecewa karena tidak memberitahunya dahulu, jika Luhan memberitahukan mengenai beasiswa di America, Appa mungkin akan mencari channel universitas terbaik di California, mengingat Luhan adalah juara umum semenjak SMP.

Dan Sehun, “Hyung, berjanjilah kau akan mengirimkanku banyak foto. Kau harus sering update Instagram-mu.” Yang awalnya menolak mentah-mentah dengan kepergian Luhan, akhirnya melepaskanya. Karena yang Sehun pikir, Yoona Nunna saja melepaskan Hyung pergi, mungkin suatu saat aku dan Yoona Nunna akan menyusul.

Luhan melepaskan pelukan Eomma dan mengacak-acak rambut Sehun, “Kau jaga Eomma Appa baik-baik ya.” Ia tersenyum pada keluarganya.

Luhan melirik jam tangannya, sudah seharusnya ia check-in. Tapi matanya masih mencari seseorang.

Mwoya? Kau mencari Yoona Nunna?” Sehun menyadari celingak-celinguk Hyung-nya.

Luhan tersenyum, “Apa begitu jelas? Sehun-ah, sampaikan salamku padanya. Dan titipkan ini untuknya.” Luhan mengeluarkan sebuah photocard.

Sebuah photocard dirinya dengan Yoona di atas kapal The Serenity. Dan dibelakangnya terdapat sebuah paragraph.

Sehun menerima dan tersenyum, “Ya, nanti kusampaikan.”

“Baiklah, aku berangkat.” Luhan membungkukkan badan pada Eomma dan Appa, dan melambaikan tangan pada Sehun.

Luhan berjalan berbalik sambil menyeret koper.

“Luhan-ah!”

“Kau pergi tanpa berpamit denganku?” Teriak Yoona dari arah berlawanan.

Luhan berbalik ke arah datangnya suara dengan terkejut.

“Oh! Yoong Nunna?” Sehun berseru melihat Yoona yang tengah terengah-engah seperti sehabis berlari marathon.

Yoona berjalan menuju Luhan dan langsung memeluknya. “Kau bisa pergi tanpa berpamitan denganku?”

“Yoong.”

“Ah, chaeso. Baik-baik disana. Dan ini untukmu. Bukalah ketika kau sudah sampai.” Yoona memberikan sebuah usb flashdisk dengan tulisan, The Serenity.

Lalu ia mundur beberapa langkah sambil melambaikan tangan pada Luhan.

Gumawo. Aku pergi.” Luhan berbalik. Ia tidak boleh menangis. Namja tidak boleh menangis.

Ia melambaikan tangan pada keluarganya dan Yoona lalu berjalan menuju pintu kaca.

“Luhan? You’re not join us?” Kris, teman sekamar Luhan yang berasal dari China, mengajaknya untuk keluar. Karena ini adalah weekend dan Kris tidak seperti Luhan yang menghabiskan waktu untuk berlatih di kamarnya.

Luhan melepaskan headsetnya dan menggeleng, “Maybe later, Kris.”

“Okay, see you.” Kris menghilang dibalik pintu.

Luhan tersenyum lalu kembali memasang headsetnya. Ia sudah berjam-jam berkutik dengan laptopnya. Membuat sebuah lagu sebagai demo promosi untuk naik level di sekolah music tidaklah mudah. Tapi Luhan tidak menyesal mengambil Music and Vocal sebagai penjurusannya. Ia malah senang karena ia bisa berekspresi melalui seni.

Tiba-tiba laptopnya memberi sinyal bahwa baterai lemah, dengan gontai Luhan berjalan menuju lemari bukunya dan mengambil charger. Tetapi kabel charger tersebut tersangkut dan terlilit menjadi rumit. Hingga ia terpaksa harus menariknya.

Ternyata kabel tersebut tersangkut dengan sebuah USB dengan tulisan ‘The Serenity’, dan mengingatkan Luhan pada sesuatu. Ia dengan segera memasangkan USB tersebut di laptopnya dan melupakan kalau baterainya lemah.

Annyeong, Luhan-aaaaah!” Yoona melambai-lambai di depan kamera. “Kalau kau buka video ini, artinya kau sudah sampai disana? Betul?” Yoona tersenyum.

Kau tahu aku ikut senang kau dapat beasiswa sampai ke America. Eh, tunggu, apa jangan-jangan kau sengaja tidak memberitahuku karena ingin menyusul masa lalumu? Siapa, Seohyun-ssi itu? HAHAHAHAHA.” Yoona tertawa dalam video itu. Tawa yang natural, tidak dibuat-buat.

Kau harusnya memberitahuku agar aku tidak menangis didepanmu. Padahal aku baru mengatakan kalau aku senang bertemu denganmu dan dengan Sehun. Hahaha.”- Yoona tersenyum dan mengambil sebuah kertas bertuliskan I MISS YOU, “Bogoshippossoyeo.” Raut wajahnya sudah memelas.

Luhan hanya tersenyum memandang video tersebut.

Aku mau memberitahumu sesuatu. Tapi kau jangan tersinggung, yaksok.” Yoona menunjukkan jari kelingkingnya didepan kamera. “Kau mau tahu arti ciuman kita waktu itu?

Luhan tetiba mem-pause video tersebut. Dia tidak sanggup mengetahuinya. Astaga! Ini detik-detik menengangkan.

Tapi mengapa Luhan tidak bertanya? Mengapa malah Yoona yang ingin memberitahunya?

Luhan dengan ragu meng-klik play.

Karena aku mencintaimu, lebih dari seorang teman. Aku memilihmu, bukan dr.Lee. Kau tahu, saat aku meminta waktu untuk berbicara dengannya? Aku menolaknya saat itu juga. Aku menciummu karena aku tidak mau terlalu jauh menyakiti orang lain.” Di video tersebut, wajah Yoona sudah memerah dan air matanya sudah terbendung diujung mata. Walaupun ia tersenyum. Ia selalu begitu, tersenyum walaupun hatinya menangis.

HAHAHAHAHA, aku memalukan.” Yoona menyeka wajahnya dengan punggung tangannya.

Tapi jangan menyalahkan dirimu, Luhan-ah. Aku mencintaimu dengan caraku sendiri. Aku mencintaimu, biarlah menjadi urusanku. Bagaimana kamu kepadaku, itu urusanmu.” Luhan seketika itu bergerak mengambil ponselnya.

Ia menekan kode area dan memasukkan nomor telepon rumahnya.

Aku hanya ingin mengatakan itu, kau harus baik-baik disana ya. Disana ada kedai pie buah tapi aku lupa namanya, hahahaha. Nanti jika ada kesempatan, aku akan mengunjungimu. Sampai jumpa, Luhan-ah. Ingatlah bahwa aku mencintaimu dengan caraku.

Tapi panggilan di ponsel Luhan tidak ada yang menjawab sehingga ia memutuskan panggilan tersebut.

Ia baru menyadari. Sekarang siapa yang bodoh?

Cinta yang ia pikir hanya sepihak. Tapi kenyataan cinta itu bertepuk tangan, hanya saja orang yang kita cintai itu tidak menyadarinya.

Fall in love when you’re ready, not when you’re lonely.

END

Author’s note :
Dear readers, ini final project tetralogy Sunrise Sunset. Aku tahu banget ini ngegantungggggg. Intinya sih, Yoona lebih memilih Luhan tapi aku sengaja bikin mereka tidak bersatu. (Maaf jika ada yang kecewa)
Ini ff terakhirku di 2014. Setelah 6 bulan freelancer di Yoongexo aku belajar banyak hal. Dari editor lamaku, elevenoliu dan editorku yang sekarang, qinta, mereka keren banget. Dan ga lupa sama poster makerku, gumawo karena uda banyak bantu lewat poster.
Thanks for reading.
XOXO, nikkireed

19 thoughts on “(Freelance) After Sunset

  1. satu hal yang aku pengen tanya. beli kalung yang dikasih dokter lee dimana ya thor? wkwkwk kayaknya bagus :3 *abaikan*
    aku sih dari awal udah ngerasa kalo yooona kayaknya emang suka sama yoona.
    duh kasian ya seunggi. ditolak yoona. sudah sama aku aja dok (?) tapi gapapa. kan ditolak di dunia fiksi. kalo kenyataannya kan bisa ngedapetin hati yoona kekeke

  2. Huuuuu jdii luyoon gk bersatu😥 …wae thor wae hiksss…… Lulu kok gk peka gt sih sama ciuman yoona -_- hikss.

    In ff terakhir author? Tp th 2015 msh bakal buat ff kan ^_^ .

  3. Huuuuu jdii luyoon gk bersatu😥 …wae thor wae hiksss…… Lulu kok gk peka gt sih sama ciuman yoona -_- hikss.

    In ff terakhir author? Tp th 2015 msh bakal buat ff kan ^_^

  4. Benar benar mengharukan kisah cinta mereka..
    Bagaimana ya perasaan YoonA yang hanya dia sendiri yang merasakan? Mencintai dengan caranya sendiri? Apapun itu yang terpenting Luhan sudah mengetahui Perasaan Yoona yang sebenarnya..
    Aku tunggu sequel darimu ya thor.
    See you in 2015 year :*
    Keep writing .. ^^
    Fighting!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s