Between Hate and Love (Chapter 1)

Between Hate and Love

Title    : Between Hate and Love

Author : Berries (@berries_cocoa)

Length : Chaptered

Rating  : PG-13

Genre  : Sad, Romance, Angst

Main Cast :

  • Yoona SNSD
  • Kai EXO-K

Other Cast :

  • Yuri SNSD
  • Tao SNSD

Disclaimer : Cerita ini hanya fiksi dan murni dari kepala dan pikiran author, apabila ada kesamaan cerita itu adalah ketidaksengajaan atau hanya terinspirasi.

Author Note : Annyeonghaseyo *bow* Sebenarnya FF ini udah author tulis sebelum author nyelesain Let’s Never Meet Again 8 tapi belum selesai karena bingung dengan jalan ceritanya tapi akhirnya selesai juga hehe. Please Don’t Bash ya, Sorry For the TYPO and Don’t Be A Plagiator.

Dengan sangat, author mohon tinggalin jejak ya

Happy Reading!!!

Follow ask.fm and Instagram : berries_cocoa

Mind to listen my soundcloud : berries_cocoa

Credit Poster : cloverqua @ HSG

Visit my personal blog

Cocoafanfiction.wordpress.com

***

Tok… Tok… Tok…..

Terdengar bunyi ketukan dari pintu apartemen seorang yeoja yang masih tertidur pulas dengan mata sembabnya. Tidak peduli pada apa yang ada di balik pintu itu.

Tok… Tok… Tok….

Sekali lagi terdengar bunyi ketukan, namun kali ini suaranya lebih keras dibanding sebelumnya. Seperti benar-benar ada sesuatu yang sangat mendesak yang harus di sampaikan sekarang juga.

Pada akhirnya yeoja cantik yang sedang tertidur itu menyerah pada ketukan pintu yang ketiga kalinya. Dia berjalan menuju pintu apartemennya.

Sudah satu bulan dia tinggal di apartemen itu tapi tidak pernah ada tamu satupun yang mengunjunginya. Tentu saja tidak ada yang mengunjunginya karena memang tidak ada yang tahu kalau dia tinggal di apartemen itu. Bahkan keluarganya pun tidak tahu.

Seakan ingin menghilang dari kehidupannya yang dulu. Dia memutuskan semua kontak dengan teman-temannya bahkan keluarganya. Paling tidak keluarganya percaya padanya bahwa dia baik-baik saja. Sekali-kali dia menelepon keluarganya dan memberitahukan kabarnya.

Yeoja itu membuka pintu apartemennya. Wajahnya terlihat begitu terkejut melihat siapa yang mengganggu tidur paginya.

“Yoona, Lama sekali sih kau membuka pintu ?” ucap yeoja itu dengan kesalnya lalu masuk kedalam apartemen yeoja yang bernama Yoona itu.

“Yu… Yuri ?!!”

“Ada apa denganmu ? Kau habis menangis ?” tanya Yuri, tidak mempedulikan teriakan Yoona barusan.

“Ba… Bagaimana bisa kau tahu aku disini, Yul?” tanya Yoona terbata-bata tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya saat ini. Jelas-jelas tidak ada yang mengetahui tentang tempat tinggalnya.

“Kenapa ? Kaget ? Susah payah aku mencarimu. Bisa-bisanya tidak memberitahukan tempat tinggalmu pada sahabatmu ini bahkan orang tuamu. Sampai-sampai aku harus datang ke China dan pergi ke kampusmu untuk mencari tahu tempat tinggalmu”

“Bahkan ponselmu sendiri kau matikan, tidak tidak….. Bahkan kau mengganti nomor ponselmu tanpa memberitahukan aku!” ucap Yuri kesal dengan tingkah laku sahabatnya itu yang lebih memilih untuk mengasingkan diri.

Yoona diam mendengar semua ucapan Yuri barusan. Merasa bersalah ? Tentu saja. Dia juga sebenarnya tidak suka dengan cara yang dipilihnya ini, tapi hanya ini satu-satunya cara untuk melupakannya.

“Mian” satu kata yang berhasil keluar dari bibir indahnya itu. “Aku sangat merindukanmu Yul ……..” sambungnya sambil berlari ke arah Yuri lalu memeluknya erat.

“Aku rindu sekali dengan ocehanmu” ucap Yoona.

“Maksudmu ?!”

“Hehe dalam artian yang bagus”

“Terserah kau saja. Ya!! Lepaskan, aku tidak bisa bernafas. Kau ingin membunuhku!! ” teriak Yuri.

“Mian, terlalu bersemangat” jawab Yoona lalu melepaskan pelukannya.

“Dasar, sudah lama kita tidak bertemu tapi tenagamu tidak berkurang sama sekali”

“Kau terlalu membesar-besarkan. Hanya satu bulan, itu tidak lama” kata Yoona sambil mempoutkan bibirnya.

“Ya, kau benar tapi hanya dalam satu bulan semuanya berubah” ucap Yuri wajahnya terlihat sedang memikirkan sesuatu.

“Apa maksudmu ?” tanya Yoona tidak mengerti denga ucapan Yuri barusan.

“Kenapa kau mengasingkan diri seperti ini ?” tanya Yuri seketika, tidak menghiraukan pertanyaan Yoona.

Yoona terdiam. Memikirkan jawaban atas pertanyaan Yuri. Yoona tahu betul bahwa sebenarnya Yuri mengetahui alasan Yoona mengasingkan diri seperti ini tapi dia tidak mengerti untuk apa Yuri bertanya.

“Untuk melupakannya” jawabnya “Aku sangat membencinya. Aku ingin melupakannya” sambungnya.

Yuri menghela nafasnya setelah mendengar jawaban Yoona. “Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya padamu tapi…..” ucap Yuri terputus, bingung bagaimana dia harus mengatakannya.

Sekarang Yoona mengerti alasan Yuri mendatanginya. Dia tersenyum “Kalau kau datang kesini untuk membuatku memaafkannya, mian tapi aku tidak bisa. Kau tahu apa yang telah dilakukannya padaku. Bagaimanapun aku berusaha untuk memaafkannya tapi tetap tida-”

“Kai kecelakaan, dia koma” potong Yuri, memberitahukan alasan dia datang kesini.

**

Sekarang disinilah Yoona. Duduk di pesawat dengan tujuan Seoul. Memikirkan apa yang harus dilakukannya saat melihat Kai.

-FLASHBACK-

“Kai kecelakaan, dia koma” potong Yuri, memberitahukan alasan dia datang kesini. Yoona kaget mendengar apa yang barusan saja Yuri katakan.

“Hahaha kau tahu ini sangat tidak lucu. Menggunakan alasan seperti itu untuk membuatku memaafkannya” ucap Yoona sambil tertawa, menganggap ucapan Yuri adalah sebuah lelucon.

Yuri hanya diam melihat Yoona yang sedang tertawa. “Ini bukanlah lelucon” ucapnya. Seketika tawa Yoona berhenti, dia melihat kearah Yuri yang masih memasang wajah seriusnya.

“Kau berbohong” ucap Yoona, masih tidak percaya.

Yuri menggelengkan kepalanya “Aku tidak akan pernah berbohong padamu”

Entah kenapa Yoona benar-benar berharap kalau semua itu hanyalah lelucon, kebohongan besar yang digunakan sahabatnya itu untuk menyatukan Kai dan dirinya lagi.

“Tidak mungkin”

Sekali lagi Yuri menghela nafasnya. “Kau ingat saat kau mengatakan akan pindah kuliah ke China dan jangan memberitahukan siapapun. Bahkan kau sengaja pergi saat jam kuliah agar aku dan Tao tidak bisa mengantarmu. Agar kau tidak bertemu Kai” Yoona mengangguk.

“Saat itu aku dan Tao sedang bersama di cafe dekat Universitas tapi tiba-tiba Kai datang. Dia bertanya kau dimana. Tentu saja aku tidak memberitahukan masalah China padanya. Kau sendiri yang menyuruhku untuk tidak memberitahukannya”

“Dia tetap memaksa lalu aku bertanya padanya untuk apa dia mencarimu jika hanya ingin menyakitimu lagi, lebih baik tidak usah bertemu denganmu. Namun dia berkata, saat itu adalah diluar kendalinya, dia tidak tahu bagaimana bisa dia melakukan hal itu, dia ingin meminta maaf dan ingin memulai dari awal lagi bahwa satu-satunya orang yang sangat dicintainya adalah kau. Setelah kehilanganmu dia baru sadar betapa pentingnya dirimu. Hanya kau Yoong, yang benar-benar dicintainya”

“Saat itu wajahnya terlihat benar-benar menyesal. Bahkan dia rela berlutut untuk mengetahui kau dimana. Maafkan aku tapi aku memberitahukan soal keberangkatanmu padanya, saat itu setengah jam sebelum keberangkatanmu dan kukatakan padanya kalau mungkin kau tidak akan kembali”

“Setelah mendengar itu semua Kai langsung berlari menuju mobilnya untuk menyusulmu ke bandara. Aku berusaha menghubungimu tapi kau telah mematikan ponselmu”

“Lalu beberapa jam setelah itu semua, bibi.. maksudku eommanya mengabariku bahwa Kai kecelakaan dalam perjalanannya ke bandara untuk menemuimu. Sudah 1 bulan dia koma. Jika kau masih tidak percaya padaku, ini” ucap Yuri sambil memberikan sebuah surat kabar.

Tanpa perlu Yoona membuka surat kabar itupun sudah terlihat jelas sebuah berita utama yang memperlihatkan foto mobil yang terbalik dipinggir jalan. Warnanya, jenis mobil itu, nomor mobilnya pun sangat dikenali Yoona.

“Ikutlah denganku ke Seoul” sambung Yuri.

-FLASHBACK END-

Yuri terlihat sedang tertidur karena kelelahan. Baru saja dia sampai di China tapi dia sudah harus kembali lagi ke Seoul. Sedangkan Yoona, dia hanya diam. Matanya terlihat menerawang, memikirkan sesuatu.

Selama ini dia berusaha menahan perasaannya pada Kai. Berusaha mengubah rasa cintanya menjadi rasa benci. Beberapa hari ini cara mengasingkan diri inilah yang paling berhasil tapi jika dia harus bertemu dengan Kai lagi sepertinya perasaan yang dulu pernah ada di dirinya akan muncul kembali.

“Tuhan, apa yang harus kulakukan ?”

**

Kini Yoona berdiri di depan sebuah pintu putih, melalui kaca melihat ke dalam ruangan yang ada di balik pintu tersebut. Terlihat seorang namja sedang terbaring lemah dengan segala peralatan medis yang terpasang di tubuhnya, membantunya untuk tetap bertahan hidup.

Bukankah seharusnya Yoona menangis melihat namja yang pernah dicintainya itu sedang dalam keadaan yang bahkan tidak ada seorangpun tahu kapan dia akan tersadar.

Namun tidak ada yang keluar dari mata indahnya itu, bahkan bibirnya saja hanya terkunci rapat. Tidak, saat ini yeoja itu sedang berusaha untuk terlihat tegar. Tidak ingin pertahanannya hancur.

Bahkan sebenarnya dia tidak tahu alasan kenapa dia mau menerima tawaran Yuri untuk datang melihat Kai yang seperti ini.

“Hai Yoong” sapa Tao dari belakang Yoona. Yoona hanya menanggapi sapaan Tao dengan senyumnya. “Kau tidak ingin masuk ?” tanya Tao.

Yoona diam, berpikir. “Aku pergi dulu” ucapnya lalu beranjak pergi dari tempatnya berdiri. “Eh… Tap-” ucap Tao terputus ketika merasakan seseorang menyentuh pundaknya. “Biarkan saja, kurasa dia sedang bingung” jelas Yuri.

Di lain tempat Yoona sedang duduk di taman yang ada di rumah sakit itu. Otaknya kembali mengingat kejadian dimana rasa bencinya itu datang.

-FLASHBACK-

“Menyebalkan sekali manusia hitam satu itu” kesal Yoona sambil memukul meja yang ada di hadapannya lalu duduk di depan Yuri yang sedang berdua saja dengan namjachingunya.

“Omo….. Kau kenapa ?” tanya Yuri. “Sedang dapat ?” sambung Tao sambil terkekeh. “Kau kira itu lucu” ucap Yuri sambil memukul kepala Tao “Paling tidak bagiku itu lucu” jawab Tao sambil menjulurkan lidahnya.

Yoona yang menyaksikan pasangan yang sedang beradu mulut itu sambil menghela nafasnya “Haaahhh……. Aku iri sekali dengan kalian”

“Eh…. Apa maksudmu ?” tanya Yuri setelah mendengar ucapan Yoona.

“Oh ya, mana namjachingumu itu ? Namja paling populer di kampus ini” jelas Tao sambil terkekeh yang seketika di sikut oleh Yuri.

“Kau kan sahabatnya” kesal Yoona.

“Ada apa dengan kau dan Kai ?” tanya Yuri yang seakan tahu tentang perasaan Yoona saat ini.

Untuk kedua kalinya Yoona menghela nafasnya “Sekarang kami jarang sekali bersama. Satu hari melihat wajahnya saja belum tentu bisa. Bahkan pernah dua hari aku tidak bertemu dengannya, teleponku pun tidak diangkatnya” jelasnya.

“Benarkah ? Keterlaluan sekali dia” kesal Yuri dengan sikap Kai pada Yoona. “Sekarang dimana Kai ?” tanya Yuri.

“Dia bilang sedang sibuk” jawab Yoona dengan wajah sedihnya “Padahal besok adalah hari jadi kami yang pertama setelah bertunangan. Aku ingin memberikannya hadiah” sambungnya.

“Sejak kapan tunangan memiliki hari jadi ?” dengus Tao yang tentu saja mendapatkan death glare dari Yuri.

“Well, aku hanya ingin memiliki alasan untuk bersamanya. Lagipula… akhir-akhir ini dia terlihat berbeda” tatapan Yoona berubah sendu ketika mengingat sikap tunangannya itu yang sedikit berubah.

Tidak tega “Kupinjamkan Yuri padamu” ucap Tao sambil memalingkan wajahnya.

“Eh, maksudmu ?” tanya Yoona.

“Bukankah kau bilang besok adalah hari jadimu, kau tidak ingin mencari hadiah dan membuat kejutan untuknya ?”

“Ne, tapi ini kan hari jadi kalian”

“Sudahlah… Aku dan Yuri kan sudah sering bertemu. Masalah Kai biar aku yang mengurusnya”

“Benarkah ? Gomawo!!!” ucap Yoona, senang dengan tawaran Tao.

“Omo….. Namjachinguku baik sekali” sambung Yuri pada Tao, mengejek sikapnya yang jarang sekali seperti ini.

“Beruntunglah kau mempunyai pacar sebaik diriku” pujinya pada diri sendiri.

“Kembali lagi sifat aslinya”

“Mwo?!!”

“Aniyo….. Annyeong, nanti malam akan kuhubungi awas kalau tidak mengangkat” ucap Yuri menarik tangan Yoona pergi meninggalkan Tao yang sedikit kesal.

Tiba-tiba langkahnya terhenti “Oh ya, aku melupakan satu hal” ucapnya lalu kembali ke tempat Tao.

“Apa ?!” tanyanya ketus.

“Ani…. Hanya lupa satu hal” jawabnya “Ini…” sambungnya sambil mencium lembut bibir Tao.

“Happy Second Anniversary” ucap Yuri lalu pergi meninggalkan Tao yang masih terdiam setelah sadar dari diamnya dia lalu buru-buru pergi, malu karena dilihat oleh orang-orang sekitarnya.

**

“Apa yang akan kita lakukan ?” tanya Yuri.

“Aku tidak tahu” kata Yoona, menghela nafasnya.

“Kau ini bagaimana sih”

“Habisnya kau sendiri kan tahu Kai seperti apa”

Kali ini Yuri yang menghela nafasnya “Kau benar juga, lalu bagaimana ?”

Yoona hanya diam, mencari ide. Mereka berdua terus berjalan mengitari seluruh tempat di mall itu. Sampai Yoona melihat toko yang menjual berbagai macam sepatu.

“Kenapa berhenti ?” tanya Yuri pada Yoona yang tiba-tiba berhenti. “Kenapa tidak terpikir olehku” kata Yoona.

“Terpikir apa ?” tanya Yuri yan masih penasaran dan tidak mengerti dengan maksud Yoona.

“Hadiah Kai” jawab Yoona sambil menarik tangan Yuri masuk ke dalam toko tersebut.

“Kau ingin memberikan dia sepatu ?” tanya Yuri pada Yoona yang sedang sibuk melihat model-model sepatu.

“Ne, memangnya kenapa ?” tanya Yoona kembali tanpa melepaskan pandangannya pada sepatu-sepatu tersebut.

“Ani… Kukira kau akan memberikan hadiah yang hmm lebih bermakna mungkin”

Yoona tersenyum lalu menatap ke arah Yuri “Ini lebih bermakna daripada yang lainnya”

“Maksudmu ?”

“Aku ingin dia memakai sepatu ini saat menari, memikirkanku setiap kali dia menari” jelas Yoona.

“Kau aneh Yoong”

“Kenapa ?” kali ini Yoona kembali memilih-milih sepatu yang tepat.

“Menyamakan dirimu dengan sepatu” jelas Yuri sambil menghela nafasnya.

Yoona tertawa mendengar ucapan Yuri “Lagipula hanya ini yang terpikir oleh otakku”

“Terserah kau saja. Baiklah, ayo kita cari sepatu yang tepat”

**

Setelah selesai memilih Yoona pun segera membayarnya.

“Setelah ini mau kemana ?” tanya Yuri.

“Makaaann” teriak Yoona.

“Ayolah Yoong, aku tahu kau Shikshin tapi AKU !!! Berat badanku bisa bertam-“

“Aku yang teraktir” potong Yoona cepat.

“Kajja, makan” teriak Yuri kali ini. Yoona hanya tertawa melihat tingkah sahabatnya itu.

Baru mereka ingin keluar dari toko tersebut tiba-tiba terlihat Kai sedang berjalan ke arah mereka.

“Sembunyi” ucap Yuri lalu menarik tangan Yoona kembali ke dalam toko tersebut dan bersembunyi di balik kotak-kotak sepatu itu.

“Waeyo ? Kenapa kita harus sembunyi ?” tanya Yoona

“Bodoh, kau ingin hadiahmu diketahui oleh Kai” jelas Yuri

Yoona memukul jidatnya pelan “Oh ya, kau benar. Lalu kita harus bagaimana ?”

“Bersembunyi saja dulu sampai dia pergi, jangan sampai ketahuan olehnya” Yoona mengangguk.

“Sedang apa dia disini ?” tanya Yuri pada Yoona

“Aku tidak tahu”

“Kau ini bagaimana sih ? Kau kan tunangannya”

“Dia kan selalu sibuk”

“Terserah kau saja” ucap Yuri menyerah

Mereka terus bersembunyi, berusaha agar tidak terlihat oleh Kai. Sesekali mereka mengintip dari celah-celah tempat mereka bersembunyi. Ketika melihat Kai, Yuri mengerutkan dahinya.

“Siapa yeoja yang bersamanya ?” tanya Yuri, merasa heran melihat Kai yang sedang melihat-lihat sepatu bersama seorang yeoja.

“Apa maksudmu ?” tanya Yoona lalu mengikuti arah pandang Yuri.

DEG….

Diam, tidak ada satu kata pun yang keluar dari bibir indah Yoona.

“Kau kenal dia ?” tanya Yuri yang melihat respon Yoona.

Baru Yoona ingin menjawab pertanyaan Yuri, tiba-tiba dadanya terasa sangat sakit. Terlalu sakit untuk bisa membuka bibirnya.

“Yoong!! Kenapa yeoja itu mencium Kai ?!” teriak Yuri tidak terlalu keras untuk terdengar Kai namun terlalu sakit untuk Yoona yang mendengarnya. Tanpa disadarinya, kakinya telah berjalan menjauh.

“Yoong, kau tahu siapa yeoja itu ?” tanya Yuri yang terus mengikutinya dari belakang. Tetap tidak ada respon dari Yoona namun tiba-tiba dia berhenti.

“Aku ingin pulang”

**

Tidak ada perbincangan sedikitpun dari bibir mereka berdua. Dengan sabar Yuri menahan rasa ingin tahunya sampai mereka berdua sampai di depan Yoona.

Hening diantara mereka berdua.

“Bisakah kau menemaniku hari ini” tanya Yoona.

“Tentu” jawab Yuri tersenyum.

**

Hening kembali diantara mereka berdua yang saat ini sedang berada di kamar Yoona.

Saat ini Yoona sedang duduk di tepi ranjangnya, tatapannya terlihat kosong. Otaknya kembali memutar kejadian yang baru saja dilihatnya tadi, kejadian yang membuat dadanya merasakan sakit untuk pertama kali.

Semua yang dilihatnya tadi terus berputar dalam memorinya secara pelan, seakan tidak peduli dengan hatinya yang sudah cukup merasakan sakit saat pertama kali melihatnya dan kali ini otaknya memilih untuk memutar kejadian itu secara berulang.

“Apa… Apa selama ini aku hanya pelariannya ?” tanya Yoona untuk pertama kalinya, membuat Yuri sedikit kaget mendengarnya namun dia tetap diam karena Yuri tahu masih ada yang ingin Yoona katakan.

“Yeoja itu…. Apa kau tahu ? Siapa yang Kai sukai, ani… cintai sebelum dia berpacaran denganku ?” tanya Yoona yang di jawab Yuri hanya dengan gelengan kepalanya.

“Dia adalah Krystal, cinta pertama Kai. Aku memang egois. Berpikir bahwa mungkin dia bisa melupakannya dan mencintaiku. Aku bahkan sangat senang ketika dia mengajakku untuk bertunangan, berpikir bahwa itu adalah langkahnya yang telah melupakan yeoja itu. Tapi ternyata aku salah… aku hanya pelariannya” ucap Yoona sambil tertawa yang beberapa detik kemudian berubah menjadi suara isakan.

“Bukankah aku sangat bodoh” ujarnya sambil menangis.

Segera Yuri memeluk Yoona, berusaha memberinya ketenangan.

“Kau tidak bodoh, dialah yang bodoh tidak menyadari betapa tulus kau mencintainya” ucap Yuri menenangkan.

“Aku sangat mencintainya Yul… Apa yang harus kulakukan!” teriak Yoona disela tangisnya.

“Menangislah, menangislah sepuasnya. Keluarkan semua rasa kesalmu, besok adalah besok. Kau tidak harus memikirkan semua itu saat ini. Ada aku yang akan selalu mendukungmu Yoong”

Malam itu Yuri habiskan dengan menemani Yoona yang terus menangis dalam pelukannya. Memberikan kekuatan untuk sahabatnya yang untuk pertama kali merasakan Cinta Pertama dan untuk pertama kali pula merasakan rasanya Sakit Hati.

-FLASHBACK END-

“Bahkan rasa sakitnya masih terasa” Yoona menyentuh dadanya tepat dimana rasa sakit itu terasa.

“Apa kau baik-baik saja Yoong ?” tanya Yuri yang telah duduk disamping Yoona. “Ceritakan semua masalahmu padaku Yoong… Aku tetap sahabatmu yang selalu setia berada disampingmu” sambung Yuri, memperhatikan Yoona yang diam saja.

Hening…

Yuri menghela nafasnya ketika Yoona tidak juga berbicara apapun. “Kau tidak seperti Yoona yang kukenal dulu, yang selalu ceria, yang selalu menceritakan apapun padaku. Kau berubah” jelas Yuri.

“Dialah yang membuatku seperti ini, dia yang membuat aku pergi” ucap Yoona tanpa memandang Yuri.

“Dan dirinya juga yang membuatmu kembali” Yoona menatap Yuri ketika mendengar penuturannya itu.

***

“Aku tidak mengerti” ucap Tao terus memandang ke depan.

“Tentang ?” tanya Yuri

“Sahabatmu itu” Tao mengarahkan dagunya ke depan, tepat ke arah Yoona “Sejak sahabatmu itu datang, dia tidak pernah sekalipun masuk ke kamar Kai. Hanya melihatnya dari luar. Lalu untuk apa dia kema-“

“Apa kau bilang ?” tanya Yuri sambil mencubit bibir namjachingunya itu agar tidak bisa berbicara.

“Sekali lagi kau berbicara seperti itu kau tahu sendiri akibatnya, arraseo ?” Tao mengangguk sebagai jawabannya, masih dengan bibir yang dicubit oleh Yuri. Tanpa sadar Yoona telah berjalan ke arah mereka.

“Kalian sedang apa ?” tanya Yoona heran melihat tingkah sahabatnya dan namjachingunya itu.

“Eh, tidak ada” jawab Yuri yang kemudian melepas cubitannya “Kau mau kemana Yoong ?”

“Mencari udara segar” jawab Yoona tersenyum lalu meninggalkan pasangan itu.

“See, You know what i mean” ucap Tao yang menatap kepergian Yoona.

“God, kau tidak bisa ya sekali saja tutup mulutmu atau perlu aku membantumu untuk menutup mulutmu itu” kesal Yuri

“Mwo ? Kau ingin menciumku ? Kenapa tidak bilang saja, meminta itu saja pakai emosi” Tao lalu mendekatkan wajahnya pada Yuri.

“Argh, Ya!! Appo!!” yang tentu saja karena mendapat injakan dari Yuri “Diam ini rumah sakit” pinta Yuri mengeluarkan ponselnya, mengetikkan pesan lalu pergi meninggalkan Tao yang memasang ekspresi kesal dan kesakitan.

**

Ting…

Yoona membuka pesan dari Yuri.

From : Kkab Yul

Kau dimana Yoong ?

 

To : Kkab Yul

Aku di Garden cafe

Yoona menghela nafasnya berat. Dia tahu sahabatnya itu khawatir pada dirinya hanya saja saat ini dia perlu sendiri. Mengatur perasaannya.

Yoona melihat sekelilingnya. Sepi. Mungkin karena hari ini adalah hari libur, berbeda saat terakhir kali dirinya dan Kai bertemu di tempat ini.

-FLASHBACK-

“Hai, menunggu lama ?” tanya Kai yang baru saja datang dan langsung duduk dihadapan Yoona.

Yoona hanya diam, tidak ada niatan untuk menjawab pertanyaan dari Kai.

“Ada apa ? Apa ada yang salah ? Kau terlihat berbeda ?” tanya Kai yang menyadari perubahan sikap Yoona.

“Kau seperti mengenalku” jawab Yoona dingin.

“Kau tunanganku. Aku mencintaimu dan tentu saja aku sangat mengenalmu”

“Apa kau benar-benar mencintaiku ?” tanya Yoona tiba-tiba.

“Apa maksudmu ?” tanya Kai tidak mengerti.

Yoona tersenyum namun senyumnya tidak dapat menutupi tatapan matanya yang terlihat sedih.

“Kai, aku bertanya padamu. Apa kau benar-benar mencintaiku ?” Yoona menatap mata Kai “Tatap mataku dan jawablah”

Kai tidak tahu harus menjawab apa. Ingin rasanya dia menjawab pertanyaan Yoona. Ya, dia mencintai yeoja yang sedang menatapnya dalam saat ini. Tapi bibirnya terlalu berat untuk terbuka. Kai hanya bisa terdiam dan itulah jawaban bagi Yoona.

Yoona melepas cincin dari jari manisnya dan meletakkannya tepat dimeja hadapannya “Kukembalikan padamu” Yoona berdiri dari tempatnya

“Apa maksud ini semua Yoong, Apa salahku ? Yoong, kumohon jangan lakukan ini”

Yoona menggelengkan kepalanya “Tidak, kaulah yang jangan melakukan ini. Sampaikan salamku pada Krystal”

Deg…

Dia mengetahuinya… batin Kai

“Dan…. tenang saja, aku tidak akan mengganggu hidupmu lagi” Yoona lalu melangkah keluar. Sedangkan Kai, dia hanya diam, tidak tahu harus berbuat apa.

-FLASHBACK END-

“Yoong”

“Yoong”

“Ya!! Im Yoon Ah!!” teriak Yuri akhirnya, berhasil membuat Yoona sadar dari lamunannya.

“Sejak kapan kau disini ?”

“Sejak setengah jam yang lalu” ucap Yuri kesal “Hanya bercanda, aku baru saja datang” ucap Yuri tersenyum.

“Kau masih saja menyebalkan”

“Well, tidak semenyebalkan kau pastinya” jawab Yuri lalu tertawa “Jadi… bisa kau katakan padaku kenapa kau datang kesini ?” tanya Yuri memandang sekelilingnya lalu kembali menatap Yoona.

“Disini…. Tempat dimana aku menghilangkan namanya dari hidupku. Disini juga aku memutuskan pertunanganku” Yuri mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.

“Well, kau belum menjawab pertanyaanku” Yoona menatapnya heran yang kemudian tersenyum kecil, mengerti maksud ucapan Yuri.

“Aku sendiri tidak tahu” Yoona memandang minuman dihadapannya “Saat itu hatiku terasa begitu sakit, tidak hanya karena aku tahu mengenai dirinya dan Krystal…” Yoona menghela nafasnya berat “Kau tahu betapa sakitnya ketika orang yang kau cintai tidak dapat memilih siapa yang dicintainya. Saat itu aku hanya bertanya padanya apa dia mencintaiku…”

Yoona mencengkram erat gelasnya “Tapi yang kudapatkan hanya sebuah keheningan yang begitu menyiksa dan bagiku itu sudah cukup menjawab semuanya. Ketika aku memutuskan untuk mengakhiri itu semua dan pergi dari tempat ini secepatnya, sebagian diriku berharap dia akan menahanku. Dan kau tahu ? Tidak ada, dia hanya diam. Membiarkanku pergi tanpa berusaha menggapaiku…”

“Aku begitu membencinya, Yul….”

Yuri memandang sahabatnya itu dengan tatapan sendunya “Dengarkan aku Yoong… Aku tidak akan memintamu untuk memaafkannya dan mencintainya lagi karena aku tahu kau masih mencintainya” Yoona menatap Yuri dengan tatapan bertanya.

“Aku tidak pernah merasakan apa yang kau rasakan saat itu bahkan saat inipun aku juga tidak tahu. Dan mungkin jika aku berada di posisimu aku juga pasti melakukan hal yang sama denganmu. Tapi….. aku tidak ingin seumur hidupku menyesal nantinya Yoong.

“Sulit untuk disembuhkan jika lukamu sangat dalam begitu pula dengan perasaan Yoong. Aku tahu kau begitu membencinya tapi aku juga tahu rasa bencimu itu hanya sebagai perisaimu, rasa bencimu itu seperti sebuah pintu baja yang kuat…. yang berdiri kokoh agar tidak ada yang bisa melewati pintu baja tersebut. Bahkan hatimu tidak kau perbolehkan untuk keluar.

“Akui saja kau masih mencintainya. Kau menahan hatimu yang mencintainya dengan cara membencinya”

“Jangan sok tahu” ucap Yoona dingin.

“Aku memang tahu” jawab Yuri tidak kalah dinginnya, tatapannya begitu menusuk namun kemudian berubah lembut.

“Aku tidak memintamu untuk memaafkannya. Maaf hanyalah satu kata yang menunjukkan betapa salahnya seseorang dan apa yang dilakukan olehnya adalah sebuah kesalahan besar yang akan selalu membekas, yang akan sangat sulit untuk dimaafkan. Dan aku tahu itu. Tapi yang kuminta darimu adalah jangan membohongi perasaanmu Yoong.

“Cinta adalah sebuah perasaan yang dapat membuatmu bahagia dalam situasi apapun, jangan kau buat perasaan itu menjadi benci yang hanya akan membuatmu sengsara. Kau mencintainya, akui saja itu.

“Aku tidak tahu apakah dia akan mendengarmu atau tidak tapi… katakan padanya tentang perasaanmu… paling tidak itu akan lebih baik daripada hanya melihatnya dari luar saja dan memendam bagaimana hancurnya kau yang melihat dia seperti itu” Yuri memandang Yoona yang tetap memasang wajah dinginnya. Dia menghela nafasnya. Keras kepala sekali sahabatnya itu.

Yuri tidak tahu harus bagaimana lagi agar sahabatnya itu sadar.

Yuri berdiri dari tampat duduknya “Bagaimana bisa kau menahan air matamu begitu lama ? Tidak menangis ketika melihat Kai yang seperti itu karena mengejarmu yang pada dasarnya dia menjadi seperti ini karena mencintaimu. Kurasa…. bagimu ini masih tidak sebanding dengan apa yang kau rasakan. Tsk, apa kau baru akan memaafkannya ketika dia kehilangan nya-…. Sudahlah percuma berbicara pada orang keras kepala seperti dirimu…”

Sebelum Yuri benar-benar pergi, dia kembali berbicara dengan memunggungi Yoona “Ingatlah masa-masa bahagiamu dengannya jangan yang tidak enaknya saja” lalu Yuri pergi meninggalkan Yoona yang masih diam di tempatnya.

Maafkan aku Yoong… Ini demi kebaikanmu… aku ingin kau tidak membohongi hatimu sendiri…

Dan cairan bening itu lolos dari mata rusa Yoona tanpa bisa dia hentikan…

***

“Apa Yoona hari ini juga tidak datang ?” Yuri menggelengkan kepalanya, menanggapi pertanyaan namjachingunya “Kau sudah menghubunginya ?” tanya Tao lagi dengan anggukkan kepala Yuri sebagai jawabannya.

Tao menghela nafasnya…

“Sudah beberapa hari ini Yoona tidak datang. Ada apa dengannya” ucap Tao memandang sahabatnya yang sedang terbaring lemah “Kalian tidak apa-apa ?” tanya Tao pada Yuri yang duduk tepat di samping ranjang Kai.

“Aku….” Yuri menundukkan kepalanya “Aku hanya ingin dia menyadari perasaannya. Aku tidak bermaksud apapun, sungguh…” ucap Yuri menatap Tao dengan pandangan berkaca-kaca.

“Ak-aku….” ujar Yuri terputus. Tangannya mencengkram ujung bajunya kencang, berusaha menahan air matanya.

“Mianhae”

Tao langsung memeluk yeojanya yang sedang menangis dipelukannya “Kau tidak salah.. Sudah lupakan saja… Dia hanya sedang menenangkan pikirannya, percayalah” ucap Tao diikuti anggukkan dari Yuri di sela tangisnya.

**

-FLASHBACK-

Tok.. Tok…

Yoona perlahan masuk melewati pintu kamar Kai, membawa nampan dengan semangkuk bubur diatasnya dan diletakkan pada meja disamping tempat tidur namjanya.

“Em… Kai… Kai-ah” panggil Yoona pelan, tepat disamping Kai yang sedang tertidur “Kai! Ireona~ ” Yoona menggerakkan pelan tubuh Kai sedangkan yang dibangunkan tidak bergerak sedikitpun.

Yoona menyentuh dahi Kai dengan telapak tangannya “Demamnya sudah turun”

“Apa kau sedang bermimpi ? Sampai tidak mendengarku” ucap Yoona kesal. Lalu memandang wajah Kai yang masih tertidur pulas.

“Kau tahu ? Wajahmu lucu saat sedang tidur” Yoona tersenyum mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Kai “Saranghae” ucapnya mengecup pelan dahi Kai agar tidak terbangun.

“Nado saranghae” jawab Kai lalu menarik tubuh Yoona ke dalam dekapannya.

“Kau!! Jangan bilang dari tadi kau sudah bangun” Yoona melepas pelukan Kai yang juga ikut terduduk di ranjangnya.

Kai menggeleng “Ani… Aku dibangunkan oleh kecupanmu”

“Tsk, kau bercanda ?” tanya Yoona dingin “Kau kira aku percaya, menyebalkan”

Kai tertawa melihat tingkah menggemaskan yeojachingunya itu “Seorang pangeran membangunkan putri tidur hanya dengan sebuah ciuman tulus. Masih tidak percaya ?”

“Itu hanya dongeng bodoh… Lagipula mereka melakukannya di bibir” kesal Yoona

“Jadi kau ingin di bibir ? Baiklah akan kuberikan” Kai mendekap wajah Yoona lalu mencium bibirnya lembut. Yoona mengerjapkan matanya, kaget dengan yang baru saja Kai lekukan.

Kai menjauhkan bibirnya, menyudahi ciuman mereka. Dia lalu menatap Yoona dalam “Aku bisa melakukan apapun asalkan ada kau, Im Yoona. Aku tidak butuh ciuman atau apapun. Hanya kau…. Hanya kau yang kubutuhkan, Saranghae”

-FLASHBACK END-

“Kurasa apapun yang kau katakan saat itu hanya sebuah kebohongan” ucap Yoona yang menatap kosong hadapannya.

Pelan dia mangayunkan ayunan yang didudukinya. Dulu sebelum dia melanjutkan kuliahnya di China, hal yang pertama kali akan dia lakukan saat sedang ingin menenangkan diri adalah pergi ke halaman belakang rumahnya lalu duduk di ayunan yang di beli ayahnya saat dirinya kecil.

Begitu banyak kenangan akan dirinya dan Kai yang saat ini terus terputar di otaknya. Mungkin karena ucapan Yuri saat itulah yang membuatnya mengingat semua hal manis yang terjadi antara dirinya dan Kai.

Meskipun begitu, setiap kenangan manis yang diingatnya hanya memberikan rasa sakit tersendiri. Sakit dimana ketika dia mengingat kenangan manis itu selalu ada kemungkinan itu hanyalah kebohongan yang dikatakan Kai.

Dia bahkan tida bisa membedakan lagi mana yang tulus dan tidak. Tapi entah kenapa, sebagian dirinya ingin mempercayai setiap kata-kata yang Kai ucapkan untuknya.

Ah… Dia baru ingat sekarang. Sudah beberapa hari ini dirinya tidak datang ke rumah sakit untuk menemui Kai. Walaupun sebenarnya dia tidak benar-benar mengunjungi Kai lebih tepatnya hanya melihat Kai dari jauh.

~Tokuhanarete ite mo me o tojireba
Hora kokoro wa soba ni iru….~

Ponsel Yoona berdering, tanda ada seseorang yang menghubunginya.

Kkab Yul. Nama sahabatnya yang tertera di layar ponselnya. Yoona membiarkan poselnya tetap berdering, tidak ada niatan darinya untuk mengangkat telepon dari sahabatnya itu walaupun ini sudah yang kesekian kalinya dia tidak mengangkatnya.

Diam. Tidak ada lagi nada dering dari ponselnya yang artinya tidak ada lagi yang menghubunginya.

Rumah, batinnya.

Dan tentu saja…

“Yoona” panggil ibunya dari dalam rumah.

“Ne ?” sahut Yoona

“Yuri baru saja menelepon katanya kau dimana, kenapa tidak mengangkat teleponnya dan eomma bilang tidak tahu”

“Aku tahu eomma… Tetap jawab seperti itu ketika dia menanyakanku, gomawo eomma” jawab Yoona tersenyum.

“Kau tidak apa-apa sayang ?” Yoona mengangguk “Baiklah”

“Yoong” panggil eommanya sebelum benar-benar masuk ke dalam rumah

“Ne eomma ?”

“Jangan lari… Ketika kau berlari meninggalkan semuanya, kau hanya akan tersesat oleh masa lalumu. Tapi, hadapilah dan jika setelah itu kau memilih untuk berlari masa lalumu tidak akan mengejarmu lagi. Kau mengerti maksud eomma ?”

Yoona terdiam mendengar ucapan yang barusan saja eommanya katakan dan tentu saja dia mengerti maksud dan tujuan dari ucapan tersebut.

“Tentu… Aku hanya sedang mempersiapkan hatiku eomma”

“Baguslah kalau memang seperti itu, eomma masuk dulu…”

“Eomma ?” panggil Yoona sebelum eommanya benar-benar masuk.

“Hmm ?”

“Gomawo eomma” ucap Yoona dengan senyumnya yang tulus.

**

Yoona bahkan tidak tahu apa yang akan dia lakukan ketika melihat Kai nanti. Walaupun pada dasarnya mereka tidak akan bertatapan secara langsung tapi untuk melihat namja itu saja jantungnya berdetak 2 bahkan 3x lebih cepat.

Selama apapun dia berusaha menenangkan jantungnya, menahan hatinya yang selalu ingin berteriak ketika itu berhubungan dengan Kai, itu semua tidak akan pernah cukup.

Sekarang… Yoona berdiri di depan pintu yang memisahkan antara dirinya dan namja yang sedang tertidur dalam mimpinya tanpa tahu apa yang dapat membuatnya meninggalkan mimpi yang menahannya itu.

“Tenanglah Yoona…” ucapnya menenangkan dirinya sendiri dengan sesekali menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan.

“Kau hanya akan melihatnya, berbicara dengannya, mengeluarkan seluruh isi hatimu. Apa yang akan terjadi setelahnya tidak perlu kau pikirkan sekarang. Lagipula memangnya kau siapa sampai bisa membuatnya sadar hanya karena dirimu. Sadarlah Yoona…. Kau sudah tidak bersamanya lagi… Hatinya bukan untuk……mu” Yoona terdiam setelah mengucapkan kalimat terakhirnya.

Entah kenapa terasa sakit untuk menyadari itu semua.

Yoona memegang dadanya “Ya… hatinya bukan lagi untukmu dan kurasa tidak pernah menjadi milikmu” ucapnya menunduk, memperhatikan tangannya yang masih tetap memegang dadanya. “Setelah ini semua kuharap kau tidak akan merasa sakit lagi… Jadi, kumohon jagalah sikapmu agar kau tidak perlu lagi merasakan sakitnya, tetaplah pada pendirianmu”

Yoona menarik nafas dan menghembuskannya berkali-kali untuk menenangkan dirinya. Dia mengangguk mantap. Memberikan kode pada dirinya sendiri bahwa dia sudah siap. Yoona memegang knop pintu di hadapannya lalu menarik nafas dan menghembuskannya lagi.

CKLEK

Yoona membuka pintu. Sepi dan tenang.

Tentu saja… Yuri dan Tao sedang berada di kantin rumah sakit sedangkan appa dan eommanya Kai sepertinya sedang kerja.

Yoona melangkah pelan tanpa ragu mendekati namja yang sedang terbaring lemah dengan segala peralatan medis di tubuhnya.

Seketika Yoona berhenti. Dia diam dengan tetap memandangi Kai. Berusaha sekuat mungkin untuk menahan air matanya sejak dirinya melewati pintu tersebut.

“Bolehkah aku mendekat ? Kuanggap diammu itu berarti Ya” lalu kembali Yoona melangkah, seiring dengan langkahnya suara alat pendeteksi jantung Kai lebih terdengar. Yoonapun berdiri tepat di samping ranjang Kai.

Terdengar suara tarikan dan hembusan nafas Kai dengan bantuan masker oksigen.

Hening…

Yoona tidak berbicara apapun, bergerak saja tidak. Dia hanya diam, terus menatap Kai. Matanya panas, berusaha menahan air matanya. Lehernya seperti dicekik, tidak mampu untuk mengeluarkan suara. Detak jantungnya terasa lebih cepat, membuatnya harus beberapa kali mengatur nafasnya hanya untuk menenangkan sumber hidupnya. Tapi yang terasa begitu menyiksanya hanya satu….

Hatinya. Hatinya merasakan sakit yang sangat.

Entah itu karena tidak bisa menahan semua kebencian yang telah dipendamnya atau sakit karena melihat seseorang yang pernah dicintainya terlihat begitu lemah seperti ini.

“Hai” dengan segala rasa sakitnya, Yoona berhasil menemukan kembali segala kekuatannya. “Aku tidak tahu apa kau bisa mendengarku atau tidak. Tapi kuharap kau bisa” Yoona diam untuk beberapa detik matanya menghadap ke jendela lalu kembali melihat Kai yang tetap sama seperti sebelumnya.

“Aku tahu cinta pertamamu bukan aku dan sepertinya cinta terakhirmu pun bukan aku. Aku tidak ingin membanggakan cinta tapi perlu kau ketahui cinta pertamaku adalah kau. Hanya denganmu aku bisa merasakan kupu-kupu berterbangan dalam perutku. Hanya dengan melihatmu aku merasa begitu bahagia.

“Dan kurasa rasa cinta itulah yang membuatku buta akan perasaanmu dan juga yang membuatku jatuh begitu dalam. Seperti berada di dasar jurang yang begitu gelap. Tidak masalah dengan kegelapan yang ada disekitarku, begitu pula dengan luka yang ada di tubuhku. Hanya satu yang begitu membuatku merasa sakit, Hatiku.

“Tidak ada perekat yang cukup kuat untuk menyatukan kembali hati yang telah hancur berkeping-keping dan tidak ada obat yang dapat menyembuhkan rasa sakit yang dirasakan setiap manusia. Mencari hati yang baru ?”

Yoona tersenyum sendu.

“Akan lebih mudah mencari jarum di tumpukan jerami dan itu tidaklah singkat seperti tubuhmu menyembuhkan luka gores”

Yoona menghentikan ucapannya sejenak untuk mengambil nafas dalam lalu mengeluarkannya pelan.

“Salahku yang terus memaksakan kehendak ketika aku tahu kau tidak bisa melupakan cinta pertamamu. Sama sepertiku saat ini. Tidak bisa melupakan cinta pertamaku meskipun harus membuka kembali jahitan di hatiku yang bahkan sepertinya lukanya belum mengering.

“Aku terus membohongi diriku bahwa kau mencintaiku. Aku selalu percaya pada semua ucapan yang kau katakan padaku dulu. Dan itulah yang membuatku buta akan segalanya. Kebenaran ini membuat semuanya seperti kebohongan.

“Membuatku tidak bisa membedakan senyummu, tawamu, ucapanmu, pelukanmu dan semua perlakuanmu padaku benar-benar tulus atau tidak”

Yoona memejamkan matanya agar cairan bening itu tidak keluar namun…. tidak bisa. Cairan bening itu terus memaksa untuk keluar. Beberapa kali Yoona mencoba menghapusnya tapi air matanya terus keluar layaknya sungai kecil yang terus mengalir di pipinya.

“Aku begitu membencimu. Aku benci kau yang hanya diam, tidak berusaha menghentikanku yang ingin mengakhiri hubungan kita dan yang paling membuatku membencimu hingga saat ini adalah kau yang tidak menahanku pergi…. Kau yang hanya terduduk diam. Tidak melihatku. Aku benci kau tidak memilihku”

Seiring dengan cairan bening yang berhasil mengalir di wajah cantiknya… pertahanannya pun ikut runtuh. Tembok yang sudah Yoona siapkan begitu lama, hancur begitu saja.

“Aku selalu berharap bisakah kau… paling tidak berbohong dan memilih diriku. Tapi kemudian aku sadar… Untuk apa dicintai dalam kebohongan. Selama itu aku terus berpikir bagaimana cara untuk melupakanmu, bagaimana caranya untuk menyembuhkan hatiku, bagaimana caranya untuk menghentikan hatiku yang selalu meneriakkan namamu… yang selalu menginginkan dirimu.

“Lalu aku memilih jalan untuk pergi dari kehidupanku dimana selalu ada dirimu di setiap halaman tentang hidupku. China. Ya, aku memilih negara itu untuk melupakan dirimu. Untuk mencari kehidupan baru. Menulis kembali kehidupanku layaknya menulis kembali kisah hidupku di halaman baru yang tidak ada namamu di setiap akhir ceritaku.

“Hatikupun sudah tidak lagi menjerit walaupun aku tahu entah kapan waktunya tapi hatiku akan kembali meneriakkan namamu.

“Suatu hari…. Hatiku kembali merasakan sakit, kembali meneriakkan namamu… Disaat itulah aku sadar yang kulakukan hanyalah lari dari masalahku. Percuma kau menulis di halaman baru jika halaman sebelumnya masih ada.

“Aku menangis, memohon pada hatiku untuk berhenti. Aku terus menangis, bahkan ketika air mataku sudah tidak tersisa aku masih menangis. Menangisi hatiku yang begitu terluka dan apa kau tahu… Keesokan harinya Yuri datang memberitahuku tentang dirimu. Suatu kebetulan atau takdir ?” tanyanya.

“Selama ini aku selalu mencari alasan kenapa aku menerima tawaran Yuri untuk kembali, kenapa aku tidak ingin melihatmu, kenapa aku begitu membencimu. Aku terus mencari tahu jawabannya

“Aku mendatangi tempat dimana terdapat cerita tentang kau dan aku. Berharap aku bisa mendapatkan jawabannya. Setiap aku datang ke tempat-tempat tersebut seperti sebuah film, kenangan itu terputar di otakku dan apa kau tahu ? Aku selalu tersenyum ketika mengingat itu semua.

“Tanpa kusadari aku berjalan terlalu jauh untuk menemukan jawabannya. Aku adalah salah satu orang bodoh yang buta akan diri sendiri, yang tidak menyadari bahwa selama ini jawabannya berada di dekatku……”

Yoona menghapus air matanya lalu tersenyum memandang Kai. Bukan senyum yang selalu memiliki makna kesedihan tapi senyumnya yang tulus. Yoona membungkukkan sedikit badannya, mendekatkan bibirnya pada telinga Kai.

“Jawabannya adalah kau, Kai. Aku kembali karena dirimu, aku tidak ingin melihatmu karena aku tidak sanggup melihatmu seperti ini, aku membencimu karena aku mencintaimu. Semuanya karena kau, Kim Jong In…. Saranghae…” bisik Yoona tersenyum lalu menegakkan kembali tubuhnya.

Tangan kanan Yoona menelusuri setiap lekuk wajah Kai “Di setiap rasa sakitnya hatiku terus meneriakkan namamu karena aku terus mencintaimu sampai saat ini. Aku begitu mencintaimu”

Setelah itu Yoona menggenggam tangan Kai erat “Jadi…. Kumohon bangunlah. Buat hatiku kembali bahagia karena kau, buat kupu-kupu itu kembali berterbangan di perutku. Bangunlah untuk mendapatkan kembali hatiku. Buat hatiku tidak merasakan sakit yang telah kau buat karena hanya kau yang bisa menyembuhkannya. Bukalah matamu jika kau mencintaiku.

“Aku mencintaimu, sangat. Saranghae Kai…”

Yoona melonggarkan genggaman tangannya bersiap untuk keluar namun seketika dia berhenti. Langkahnya terhenti ketika Yoona merasakan genggaman tangan seseorang. Meskipun genggaman tersebut tidaklah kuat tapi cukup membuat Yoona berhenti lebih tepatnya karena kaget.

Mungkin hanya perasaanku, batinnya. Yoona lalu kembali melangkah.

“Yoo…na…” terdengar suara seseorang pelan namun cukup dapat didengar oleh Yoona yang belum melangkah terlalu jauh.

Kaget Yoona lalu membalikkan badannya. Menatap namja yang masih terbaring itu namun bedanya kali ini mereka saling bertatapan.

“Ka… ji…ma” namja itu mengambil nafas dalam beberapa kali “Jae..bal”

 

57 thoughts on “Between Hate and Love (Chapter 1)

  1. Horeeee…. kai nya bangun
    Sedih pas baca part yoona ngeluarin semua perasaannya ke kai…terharuuu
    Yoonkai jjang hrs bersatu

  2. Aigoo, nhe kren bnget pdhl msh chap 1 tp ud bgs bnget🙂
    diantara cinta dan benci, kira2 yoona bkal milh kai kmbli gk yah? I Hope, yoona memaafkn Kai dan blikn😀
    next thor.. Next chap d’tnggu! Keep writting yah!

  3. Kta2 ny bkin trharu.. :,)
    Ksian bngt liat yoong kyk gtu..
    Ihh kai sih,pke nmuin krys sgla,tpi akhirny nysal kn.
    Ah.. ffny daebak , d tnggu next ny yah..

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s