The Data I

the-data-by-cerfymour

The Data I

Cerfymour a.k.a Quorralicious

PG17+ || Romance, Action|| Xiumin, Yoona dan Tao

It’s my imagination, MINE! so don’t be ridiculous say that my fanfic is yours the cast is belong to their parents,agencies, and god.

WARNING NO PLAGIARISM, DON’T BASH, DON’T COPY without my permission. Typo bertebaran

Nb: Semoga suka.

THE DATA

 

Proses pemindahan data akan segera dilakukan.

0%

“Apa yang akan kalian lakukan padaku?! Argghhhhhhhh….!! Tidak!!” raung seorang lelaki disebuah ruangan yang cukup luas dengan peredam berwarna putih disetiap dindingnya. Terlihat ditengahnya seorang lelaki tengah berjuang melawan derasnya jutaan volt yang dengan sengaja dibiarkan mengalir melewati otaknya. Selang-selang transparan begitu jelas terlihat dengan ujungnya yang menempel di pelipis kiri dan kanan lelaki yang bername-tag Xiumin. Cairan pekat kebiru-biruan yang berada didalam tabung obat berlapis kaca begitu menarik perhatian kedua orang yang memerhatikan Xiumin dengan gembira.

“Kali ini pasti akan berhasil,” ucap salah satu lelaki dengan jubah putihnya penuh rasa optimis. Lelaki lainnya hanya menoleh penuh arti kepadanya dengan tangan yang bertopang dagu, sibuk meyimak raungan-raungan kelinci percobaannya kali ini.

Xiumin. Seorang jenius asal Korea Selatan yang sudah sangat dikenal akan kejeniusannya. Umur yang masih muda tidak menjadikan dirinya membatasi kecerdasan yang Tuhan anugrahkan keadaanya. Keberuntungan seakan-akan selalu berpihak kepadanya sehingga memuluskan semua jalan dan keinginan dibalik hasrat tersembunyinya. Xiumin hanya membutuhkan dua tahun untuk bisa lulus sekolah dasar disaat teman-temannya membutuhkan enam tahun untuk segera lulus dan mengambil ujian nasional setiap tahunnya. Begitu juga seterusnya, untuk SMP dan SMA Xiumin hanya cukup mengenyam dan menghabiskan tiga tahun umurnya. Maka dari itu janganlah heran jika diusianya yang ke-24 ini dia sudah bisa menyandang predikat dan Guru Besar kehormatan di salah satu universitas terkemuka di Korea Selatan.

Jika seorang jenius lainnya yang juga memiliki karier cemerlang, tetapi tidak untuk kehidupan percintaan mereka yang biasanya berakhir dengan kandas ditengah jalan, tapi Xiumin berbeda Tuhan menggariskan takdir hidupnya dengan begitu baik, sebulan sebelum neraka ini berada dihadapannya dia seharusnya sudah menyandang predikat lainnya yakni sebagai seorang suami dari aktris cantik bernama Im Yoona yang begitu tergila-gila akan kepintaran dirinya.

“Yoona-ya,” gumam Xiumin ditengah percobaan yang sedang dia alami. Setitik airmata menghantarkan hangat dikedua pipinya yang membiru, mewakili rasa sakit didalam pikirannya yang sudah tidak bisa lagi dia kemukakan. Rasa sakit yang menjalar dan menusuk hingga tulang dan meresap melalui aliran darahnya. Terbersit dipikirannya bagaimana Yoona akan kebingungan mencarinya ditengah bandara Incheon. Setengah jam yang lalu, dia baru saja menyelesaikan acara check in untuk tiket pesawat yang mereka tumpangi, tiga hari ini keduanya bersepakat untuk mengambil foto pre wedding di Italia. Namun rencana hanyalah menjadi sebuah rencana, baru beberapa menit Xiumin mencoba memasuki toilet umum yang tersedia, dua orang dengan pakaian yang berbeda langsung menyeret dirinya dengan tertutupi empat orang lainnya yang menutupi kecurigaan pengunjung lainnya.

.

.

.

“Minseokie,” gumam Yoona memanggil nama kecil suaminya tersebut ditengah rasa panik menjalarinya. Mungkinkah Minseok pergi meninggalkannya seorang diri? Membiarkan Yoona sendirian ditengah lalu lalangnya orang-orang yang akan secepat kilat mengenali dirinya sbeagai seorang aktris.

“Yoon-a?” panggil salah seorang remaja dengan nada suara setengah tidak percaya bahwa dirinya baru saja berhadapan dengan aktris papan atas seperti Yoona, seorang aktris yang terkenal dengan wajah dewinya dimana semua drama yang dibintanginya akan berakhir menjadi sebuah hits dan melegenda. Yoona yang terbiasa dengan situasi mendadak seperti ini langsung menunduk dan mencoba menelpon managernya berharap Kim oppa masih ada disekitar area parkir bandara Incheon.

“Oppa, ppali ! jemput aku kembali di gerbang tadi dimana kau menurunkan aku dan Minseok,” ucap Yoona dengan suara berbisik sementara tangannya begitu sibuk menaikkan kacamata hitamnya yang melorot, ‘kacamata tak berguna,’ selorohnya menimpakan semua kesalahan pada kacamata barunya yang tidak berdosa sama sekali sembari mendengus kesal.

“Kim Minseok, awas kau!” geramnya dengan menyeret koper miliknya dan milik calon suaminya tersebut dengan agak kasar, wajahnya memberengut otomatis begitu mengenali wajah managernya, Kim oppa. Namun dengan lihai saat dia berbalik dan menyapa para penggemarnya ekspresi Yoona dengan mudahnya berubah menjadi begitu manis membuat sorakan untuknya semakin terdengar begitu keras.

“Oppa, Minseok menghilang begitu saja tadi aku membiarkannya untuk pergi ke toilet namun hingga waktu check in tiba aku tidak bisa menemukannya, hingga ke titik dimana aku meminta salah satu namja tak dikenal untuk mencarikannya didalam toilet untukku.” Cecar Yoona melaporkan apa yang terjadi, dirinya sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada calon suaminya. “Mungkin dia ada urusan mendadak dan tidak sempat menghubungimu Yoong,” jawab Kim dengan nada membujuk agar aktrisnya tidak kembali badmood.

“Kau sudah mencoba menghubunginya?”

“Ratusan kali,” jawab Yoona kesal. Kim kembali bersibuk ria dengan koper-koper aktrisnya yang tertinggal di dekat meja check in, sesekali ekor matanya melirik memastikan apakah Yoona sudah bisa menenangkan diri atau belum.

“Ayo kita cari ke apartmentnya di Gangnam,” ajak Kim setelah selesai dengan pekerjaanya memasukkan seluruh koper kedalam bagasi mobil dan siap sedia duduk manis dibalik setir kemudi. Yoona tak menjawab, dia hanya mengangguk pelan tak berharap banyak.

.

.

.

Ditempat lain, Xiumin terlihat meringis kesakitan seiring dengan obat yang semakin bercampur dengan aliran darahnya. “Sebentar lagi, dunia pendidikan akan runtuh karena kesuksesan kita kali ini,” gumam seseorang pada yang lainnya. “Tentu saja dengan begitu, kita yang akan memegang kendali semuanya. Benar begitu Kris-ah?” ucap lelaki dengan rambut blonde dan kacamata bacanya yang terlihat stylist menimpali gumaman sahabatnya.

10%

“Luhan-ah!” panggil seorang perempuan dari luar ruang kendali dimana kedua lelaki itu berada. Kontan saja lelaki berambut blonde yang ternyata bernama Luhan itu segera menoleh mendengar namanya dipanggil oleh gadis cantik bernama Sulli. “Ne, manisku.” Jawab Luhan dengan ucapan cheesy nya yang membuat jari-jari sahabatnya Kris menjadi keriting tak karuan.

“Pergilah. Dasar playboy!” suruh Kris cepat, membuat Luhan segera berlari kearah Sulli dengan cengiran lebar menghiasi wajahnya. “Aku akan segera kembali. 30 menit ok?” seru Luhan dibalik kaca. Kris hanya tersenyum kecil menghadapi tingkah kekanakan sahabatnya yang sudah dia kenal 15 tahun terakhir.

“Apa aku boleh mengganggumu?” suara lembut agak cempreng milik seorang yeoja kembali terdengar, tapi bukan Sulli melainkan milik wanita lain. Kepala dengan beberapa helai rambut panjang yang bergelombang berwarna cokelat kemerahan terlihat terjatuh pas dipundak yeoja berwajah manis itu. “Eoh, Sica-ah. Masuklah.” Ucap Kris dengan pelan mengayunkan kepalanya sebagai tanda memperbolehkan tunangannya untuk masuk.

“Jadi apa yang kulewatkan selama aku istirahat? Apakah ada perkembangan?”

20%

“Aku sedang mencoba membuat alat ini lebih cepat beradaptasi dengan sistem kerja otak milik si jenius yang baru saja aku dapatkan,” jawab Kris, Jessica mengalihkan tatapannya kearah Xiumin yang sudah tak sadarkan diri.

“Berapa lama?”

“Sekitar satu minggu proses adaptasi yang akan kita lakukan.”

“Setelah itu kita akan bisa melanjutkan rencana kita?”

“Iya,” jawab Kris singkat. “Jadi sebentar lagi dunia tidak akan membutuhkan sistem pendidikan untuk mencerdaskan manusia. Tetapi dunia akan membutuhkan kita. Bisa kau bayangkan berapa waktu yang akan tersimpan jika proyek kita berhasil?”

“Tentu saja aku sudah memperhitungkan semuanya sayang,” jawab Kris dengan pelan sambil merangkul Jessica kedalam pelukannya. “Check kosong dari semua pihak akan datang dengan sendirinya tanpa kita harus mencarinya. Siapa yang tidak ingin sistem teknologi yang canggih ini? Dengan beberapa jam penguploadan ilmu dari otak sang jenius kau sudah bisa bekerja tanpa harus belajar dan menghabiskan waktu banyak di bangku perkuliahan.”

“Resiko dibalik semuanya, hanya harus kita tutup rapat-rapat.” Lanjut Jessica sambil tersenyum setelah sebuah kecupan ringan mendarat di dahinya. “Resiko jika terlalu banyak data yang kau serap. Kematian.” Cicit Jessica pelan.

30%

“AAAARGGGGGHHHH….!!!!!!” Erang Xiumin ditengah pembicaraan antara Jessica dan Kris.

“Ayo kita makan. Tinggalkan saja dia disini,” ajak Kris mengalihkan pembicaraan mereka berdua, ucapannya mengacu pada Xiumin yang terlihat tidak bergerak karena kesadarannya yang menghilang.

40%

.

.

.

“Yeoboseyo. Eomonim, apakah anda melihat Minseok oppa? Apakah Minseok oppa datang kesana?” ucap Yoona di telpon yang terhubung pada calon mertuanya. Namun jawaban dari ibu Minseok membuatnya cukup terkejut, setahunya hanya apartment dan rumah ibunya lah yang menjadi tempat favorit Minseok. “Lalu kemana oppa?” ucap Yoona pelan, Manager Kim yang mendengar perbincangan singkat di telpon pun ikut kebingungan. “Tidak biasanya dia menghilang seperti ini.” Ucapnya.

“Yoong, kurasa ada sesuatu yang ganjil dengan hilangnya Minseok.”

“Coba kau telpon universitas dimana dia biasanya mengajar dan melakukan penelitiannya.” Pinta Kim dengan raut wajah yang menunjukkan kecemasannya. Yoona segera menghubungi pihak universitas tempat dimana calon suaminya itu berada, melihat kecemasan diwajah Kim, Yoona pun ikut terbawa emosi dan merasa cemas luar biasa. Bagaimana jika memang benar terjadi sesuatu pada Minseok.

.

.

.

Meski pelan, kedua bola mata indah milik Xiumin perlahan terbuka. Sedikit meringis menahan rasa sakit yang ada Xiumin mencoba mengumpulkan kesadarannya disaat Kris, Luhan ataupun orang lain tak ada disekitar. Mereka semua sedang beristirahat sepertinya. Penyesalan selalu datang terlambat bukan? Kris dan Luhan sama sekali bukanlah orang asing di mata Xiumin maupun Yoona, keduanya sudah sangat mengenal sosok Kris dan Luhan yang memang pada awalnya berkuliah di tempat Xiumin mengajar.

Passion mereka berdua untuk memberikan gairah baru dalam dunia pendidikan membuat Xiumin ingin membantunya dan mencanangkan ide gila ini. Xiumin tak pernah menyangka ide gila miliknya benar-benar akan berbalik kearahnya dan menyakiti dirinya seperti ini. Alat yang dibuat dalam penelitian yang memakan waktu berbulan-bulan itu tidak lain dan tidak bukan adalah hasil ciptaannya.

Alat yang sebenarnya berukuran kecil itu berguna layaknya sebuah bluetooth, dimana alat perpindahan ini lebih canggih ketimbang bluetooth karena data yang dikirimkannya bukanlah data biasa berupa gambar, musik ataupun dokumen melainkan data ilmu pengetahuan yang dimiliki seseorang yang diberi anugrah lebih untuk bisa menyimpan semua ilmu itu dalam jangka waktu yang cukup lama. Hanya seorang jenius saja yang bisa diserap kecerdasannya untuk disiapkan sebagai indung semang semua data yang nantinya dikopi dan ditransferkan pada otak orang lain.

Karena itulah Jessica yang merupakan anak dari pemilik universitas ternama begitu antusias terhadap proyek kali ini. Semuanya akan mempermudah transfer pendidikan, dan di masa depan hanya universitas milik ayahnya lah yang akan memiliki teknologi secanggih ini. Masa depannya bersama Kris akan menjadi lebih baik, begitu pikirnya tanpa mengindahkan resiko yang besar dibaliknya.

“Kris, Luhan. Sialan kalian!” geram Xiumin yang meronta-ronta ingin melepaskan diri dari alat-alat yang menahannya untuk bisa berdiri. Matanya melihat besi kecil yang cukup panjang, sepertinya itu penjepit rambut milik perawat tadi. Dengan usaha yang cukup keras, kaki Xiumin mencoba meraihnya meski rasa sakit yang berdenyut-denyut begitu menghantam kepalanya.

50% process telah dilakukan. 30 menit lagi proses pemindahan data akan segera selesai.

Notifikasi yang diberikan lewat suara yeoja yang amat merdu ini memberitahukan Xiumin, betapa sedikitnya waktu yang dia miliki untuk segera melepaskan diri dari pemindahan data pengetahuan yang ada dikepalanya yang seakan-akan menyedot dirinya hingga menjadi selemah ini.

“Aku harus segera menggagalkan rencana busuk mereka berdua,” ucap Xiumin dengan suara yang lemah, tangannya meronta ingin meraih kembali besi kecil yang sebelumnya gagal dia raih.

Akhirnya aku bisa meraih besi ini. Batin Xiumin sambil memandangi besi tersebut dan memindahkannya pada tangan kanan serta dipukul pukulnya pelan besi tersebut seperti ditempakan besi tersebut agar berbentuk dan bisa dengan mudah membuka slot kunci yang membuatnya tidak bisa kabur.

Cklek

“Akhirnya…” desah Xiumin, dengan terburu-buru dia mencoba melepaskan kunci lain yang menjerat tubuhnya.

Namun sayang, dia bisa dengan jelas mendengar bahwa proses pemindahan data ilmu pengetahuan yang sedang dilakukan ternyata telah selesai.

100% Proses selesai dilaksanakan.

Save the data.

Dengan langkah yang masih lemah, Xiumin segera mendekatkan dirinya pada komputer canggih yang sedari tadi menghitung lajunya proses. Tangannya yang lentik dan cepat bisa dengan segera memindahkan data yang ada tersebut kepada sebuah usb yang kebetulan dia temukan.

“Aku harus melenyapkan data ini sesegera mungkin. Tapi mustahil aku melakukannya disini.” Ucap Xiumin lebih kepada dirinya sendiri.

To be continued…

Ps: Hanya ada dua part ya. Semoga suka dan harap menunggu.

22 thoughts on “The Data I

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s