(Freelance) Between 2 Hearts (Chapter 1)

Between2heart

Author – Richzeela

Genre | Rating | Length

Romance | Angst | Family | Marriage Life | PG-17 | Chaptered

Main Cast

Im YoonA – Kris Wu – Lee Soohwa (OC)

Other Cast

Huang Zi Tao – Tiffany Hwang – Wendy Son as Wendy Wu – Lee Jonghyun – Jessica Jung

 

Note

Hallo..aku datang lagi bawa ff abal-abal yang baru aku buat. Ff ini terinspirasi dari FTV Indonesia, yang aku sendiri lupa apa judulnya, soalnya udah lama banget nontonya. Yang jelas mainya di indosiar hahaha..😀 dan mungkin dari kalian ada yang tahu setelah membaca.

Tapi aku cuma ambil inti sari nya aja loh..selebihnya itu milik imajinasiku yang gak jelas ini. Jadinya ff nya pun kelewat gak jelas kayak gini. Jadi maaf kalau banyak yang kecewa setelah membaca nih ff. terutama buat yang nemuin Typo (jujur paling males dalam hal edit-mengedit sebetulnya) alur gaje, cerita kepanjangan dan sebagainya, aku benar-benar mnta maaf oke?

Ya udah lah Author yang jadul ini cuma bisa mengucapkan..

 

Happy Reading🙂

 

Sore itu, seorang wanita cantik tapak sedang duduk termenung di pesisiran pantai. Bola matanya menerawang jauh menelusuri hamparan air laut yang terbawa ombak besar. Senja mulai terlihat, tapi wanita itu masih betah berlama-lama di pantai nan sunyi itu. Mengabaikan suhu dingin yang terasa menusuk kedalam pori-pori kulitnya dan memilih tetap bergulat dengan pikiranya.

Yah pikiranya. Terlalu banyak pikiran yang memenuhi memori wanita itu. Sampai ia tidak tahu lagi bagaimana cara mengatasinya. Ia sudah putus asa akan hidupnya yang terlalu membosankan. Tidak ada kejutan yang membahagiaakan sama sekali, selain masalah yang datang bertubi-tubi.

Wanita itu mengusap perutnya yang masih rata, yang didalamnya telah berisikan makhluk yang bernyawa. Tatapanya masih tertuju pada laut Jerman itu. Meski hati dan pikiranya lebih tertarik pada hal lain yang selama ini mengganjal di kehidupanya.

Wanita itu telah menikah? Pasti begitu pertanyaan orang-orang yang tahu tentang kehamilanya. Tapi kenyataanya tidak, ia belum menikah sama sekali.

Lalu..apa wanita ini telah hamil diluar nikah? Mungkin tanggapan ini sedikit ada benarnya, tapi bedanya yang dikandungnya itu bukanlah darah dagingnya sendiri. Melainkan janin orang lain yang di tanamkan kedalam rahimnya.

Apa maksudnya??

Hal ini terjadi sekitar 3 bulan yang lalu. Saat wanita berumur 22 tahun itu dengan ‘sangat terpaksa’ menyewakan rahimnya, lantaran ia butuh biaya untuk mengoperasi ibunya yang sedang sakit keras.

 

Between 2 Hearts (Chapter 1)

 

 

“Apa!? Kau bilang apa? S-Soohwa tidak bisa mengandung lagi?”

Sepasang suami-istri itu hanya diam kala pertanyaan Ayah mereka keluar dari mulut laki-laki paruh baya itu. Mereka tidak tahu harus menjawab apa karena begitulah kenyataanya. Menantu dari keluarga Wu yang terhormat itu telah di ponis oleh dokter pribadi mereka, jika ia tidak akan bisa hamil lagi paska keguguran yang dia alaminya 1 bulan yang lalu.

“Maafkan aku Abeoji, aku tidak bisa menjaga Soohwa dengan baik”

“Kau bercanda Kris Wu! Bagaimana mungkin karena keguguran kecil itu istrimu tidak bisa hamil lagi! Kalian pasti salah. Dokter itu pasti sudah salah memprediksi!” Tuan Wu tetap tidak bisa percaya dengan kenyataan yang di terimanya. Ia menatap geram anak dan menantunya itu secara bergantian.

“Periksa lagi Kris! Suruh Dokter Choi memeriksa Soohwa lagi! Jika perlu datangkan Dokter handal dari luar negeri untuk memeriksa keadaan istrimu yang sebenarnya! Kita tidak bisa menerima ini!”

“Yeobo tenanglah..Soohwa pasti akan baik-baik saja..” Ny.Wu berusaha menenangkan suaminya.

“Kalian, apa benar-benar sudah memastikan kebenaranya? Apa Dokter Choi tidak salah perikasa?” Kini giliran Ny. Wu yang bertanya. Wanita yang masih tampak awet muda itu juga tidak bisa mempercayai kenyataan ini.

“Maafkan kami Eomma..tapi inilah hasil USG yang di serahkan oleh dokter Choi tadi siang” ucap Pria bernama Kris Wu itu sambil menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat ketangan ibunya.

“Soohwa tidak bisa hamil lagi karena terjadi komplikasi pada rahimnya. Keguguran satu bulan yang lalu mengakibatkan pelemahan pada rahim Soohwa. Dan akibatnya Soohwa tidak mengandung lagi, jika di paksakan…maka nyawa Soohwalah yang menjadi taruhanya”

Baik Tuan dan Ny Wu sangat terkejut ketika melihat hasil USG dan mendengar penjelasan Kris. Jadi menantu mereka benar-benar tidak bisa hamil lagi?

Keturunan darah biru dari kelurga Wu dan keluarga Lee akan berhenti sampai disini? Sementara sebuah proyek besar telah dibangaun oleh kedua belah keluarga itu untuk di wariskan kepada keturunan Kris dan Soohwa kelak. Tapi kini, apa semua itu hanya akan sia-sia saja?

“Tenanglah Eomma, Abeoji..kita masih bisa mengadopsi seorang anak dari panti asuhan. Ada begitu banyak jalan untuk keluar dari masalah ini..” Kris mencoba menenangkan kedua orang tuanya yang tampak shock berat.

Ia akui tidak satupun dari mereka yang tidak terluka dengan berita ini. Terlebih dirinya, yang sudah menantikan kehadiran buah hatinya harus sirna begitu saja. Di tambah lagi dengan keadaan istrinya yang sangat mengecewakan tentunya. Tidak bisa mengandung anaknya lagi, tidak bisa menjadi seorang ibu lagi, tentu istrinya sangat terpukul karena hal ini.

*

“Kau baik-baik saja sayang?” Tanya Kris pada istrinya yag tampak termenung di atas ranjang. Air mata wanita itu mengalir deras membasahi wajah cantinya. Kris mendesah, merasa iba melihat keadaan istrinya yang mengenaskan. Terlalu kecewa? Pasti.

“Semuanya akan baik-baik saja..percayalah..semuanya akan baik-baik saja hmm..”

Soohwa melirik sebal ke arah Kris yang kini sudah duduk di sampingnya. Bagaimana mungkin semuanya baik-baik saja di saat ia tidak bisa menjadi wanita yang sempurna? Bagaimana mungkin semuanya baik-baik saja dia saat ia telah gagal menjadi seorang ibu? Kris terlalu menganggap spele masalah ini.

“Dengar. Ada atau tidaknya seorang anak di sisi kita, aku tetaplah seorang Kris Wu yang mencintai Lee Soohwa sepenuh hatinya. Tidak ada yang berubah sayang…kau, tetaplah wanita yang paling sempurna di mataku..” ungkap Kris lembut sambil menyentuh tengkuk istrinya, menghapus jejak air mata yang menutupi wajah ceria itu.

“Tapi aku gagal Kris..aku gagal membahagiakanmu..aku telah gagal..” Lirih Soohwa mulai terisak lagi.

“Husttt..” Kris menutup mulut wanita itu dengan telunjuknya.

“Kau tidak pernah gagal sayang…kau selalu berhasil membuatku bahagia. Justru aku yang gagal karena tidak bisa menjagamu. Karena aku terlalu lengah, akhirnya kita kehilangan dia..maka jika harus ada yang disalahkan, akulah orang nya. Bukan kau sayang..”

Soohwa tersenyum miris mendengar ungkapan suaminya. Ia tidak tahu apa harus bahagia atau terluka lagi karena semangat tulus dari Kris. Pria ini begitu mencintainya, tapi ia tidak bisa berikan apapun bahkan seorang anak yang sudah seharusnya mengelilingi hari-hari mereka. Jika begini, apa ia masih pantas menerima cinta Kris?

“Tidurlah Hmm..kau pasti lelah karena belum sempat beristirahat seharian ini. Aku akan mandi dulu, setelah itu aku akan menemanimu”

Soohwa mengangguk pelan, membuat lengkungan tipis terukir dari sudut bibir Kris. Ia mengacak gemas rambut wanita yang dicintainya itu, kemudian menyempatkan diri mencium kening istrinya sebelum beranjak kekamar mandi. Tapi tiba-tiba ponsel pria itu berdering.

“Yoboseyo”

“Oppa! Apa kau dirumah? Jika iya, katakan pada Eomma dan Appa aku tidak bisa pulang malam ini. Aku harus menginap dirumah temanku karena ada tugas kuliah. Aku tidak berani menelpon mereka langsung, karena itu tolong katakana pada mereka oke??”

Suara ocehan seorang perempuan menggema digendang telinga Kris begitu ia mengangkat panggilan dari ponselnya. Dan ternyata..yang menelpon adalah adiknya – Wendy Wu.

Ada apa lagi dengan anak nakal ini? Pikir Kris di dalam hati.

“Yak Wendy Wu! Memangnya kau akan kemana makanya tidak bisa pulang eoh? Kau pikir baik anak perempuan keluyuran seperti itu!?” Omel Kris.

“Ishh..sudah kubilang aku menginap dirumah temanku. Kenapa Oppa tuli sekali!? Sudah ah..pokonya katakan saja pada Eomma! Bye..”

Klik

Panggilan itu terputus begitu saja, tidak memberi kesempatan Kris untuk ceramah lebih jauh lagi. Pria tampan itu menggrutu sebal menatap layar ponselnya. Membuat sang istri yang tengah berbaring, tersenyum tipis melihat tingkahnya. Kris ikut tersenyum. Syukurlah..sepertinya Soohwa sudah jauh lebih tenang.

 

***

 

“Yak! Sampai kapan kau akan mengikutiku eoh!?”

Seorang gadis cantik menggrutu sebal saat mengetahui seseorang masih mengikutinya dari belakang. Helaan nafasnya keluar beberapa kali menjelaskan seberapa kesalnya ia karena terus di ikuti seperti ini. Ia menatap geram seseorang yang ia sebut sebagai pengekornya itu. Namun hanya di balas dengan seringaian aneh.

“Kau tahu sudah jam berapa sekarang? Harusnya kau belajar dirumahmu bukanya mengangganggu orang lain seperti ini!” omel gadis itu lagi.

“Aku tidak bisa belajar sendiri Yoona Eonni, karena itu aku minta supaya kau mengajariku..”

Gadis yang bernama lengkap Im Yoona itu mendengus sebal, kemudian menjawab “Hey..sudah berapa kali aku katakan padamu. Aku tidak punya waktu untuk mengajarimu. Aku sibuk, kau tahu!”

“Aku akan membayarmu Eonni..berapapun itu. Tapi ku mohon ijinkan aku belajar denganmu. Tidak kah kau tahu betapa aku mengagumimu? Kau mahasiswa terpintar di kampus..dan aku ingin seperti kau juga! aku mohon Eonni..beri aku kesempatan hmm..”

Wendy Wu- mulai beraegeyo ria agar gadis yang terkenal pintar dan dingin itu mau mengajarinya. Sungguh demi apapun ia sangat ingin di ajarkan oleh gadis ini. Kenapa? Karena ia mengidolakanya. Gadis ini punya satu sisi yang membuat seorang Wendy Wu ingin mengenalnya lebih jauh lagi.

“Aku tidak bisa. Pulanglah, orang tuamu mungkin akan mencarimu” Yoona berlalu begitu saja, menuju pagar rumahnya yang sudah semakin dekat.

Tapi tiba-tiba ia mendengar suara tangis seseorang. Yoona menoleh lagi kebelakang, dan mendapati Wendy tengah sesegukan dengan posisi terduduk di aspal. Astaga..kenapa lagi dengan gadis ini?

Dengan berat hati Yoona berjalan mendekati gadis cantik itu. Mengulurkan tanganya, meminta Wendy untuk bagun dari aspal itu.

“Tidak mau! Aku tidak akan bangun dari sini sebelum Eonni bersedia mengajariku!”

“Oh Tuhan..” Yoona mengeluh lagi. Ada begitu banyak pekerjaan yang menunggunya, tapi kenapa ia malah berurusan dengan gadis cengeng dan manja seperti Wendy?

“Aku mohon Eonni, bantu aku kali ini saja. Aku berjanji tidak akan merepotkanmu..” Seru gadis itu sambil meraih tangan Yoona. Berharap Sunbae di kampusnya itu mau memberi kesempatan kali ini.

Yoona menghela nafas, mulai luluh dengan tatapan memohon Wendy “ Arraseo..bangunlah, aku akan mengajarimu”

*

“Wahh..jadi seperti ini bentuk rumahmu Eonnie?”

“Kenapa? Kau terkejut melihat rumahku yang jauh lebih kecil dari kamar mandimu?” sindir Yoona sambil menuju dapurnya mengambil air putih.

Wendy mendengus. Dia tidak berpikiran seperti itu. Walaupun yang dikatakan Yoona memang benar. Justru ia merasa kagum melihat rumah sekecil ini bisa ditata rapi oleh pemiliknya. Bahkan kamarnya yang jauh lebih besarpun tidak akan serapi ini, jika tidak di bersihkan oleh pembantu.

“Yoong..kau sudah pulang?”

Seorang wanita paruh baya, keluar dari kamar ketika mendengar suara keributan di luar. Yoona terkejut, kenapa ibunya belum tidur? Yoona melirik arlojinya. Sudah hampir jam 9 dan harusnya sang ibu sudah terlelap.

“Eomma kenapa belum tidur? Apa ada yang sakit?” Tanya Yoona sambil mendekat ke arah ibunya. Gadis itu mulai membantu sang ibu duduk di kursi kayu yang biasa di tempatinya.

“Eomma baik-baik saja Yoong, hanya saja belum mengantuk” jawab wanita itu, sebelum akhirnya pandanganya tertuju pada Wendy.

“Kau membawa teman baru Yoong..Eomma belum pernah melihatnya”

“Dia bukan temanku. Hanya Hoobae di kampus..” jawab Yoona malas, membuat Wendy jadi mendengus sendiri, sementara ibunya tersenyum kecil.

“Annyeong Haseyeo Eommonie..Wendy Wu Imnida..” sapa Wendy ramah sambil mengangguk antusias.

“Aku adalah juniornya Yoona Eonni, sekaligus penggemarnya” tambah Wendy. Wanita itu terkekeh pelan melihat tingkah menggemaskan dari teman baru Yoona itu.

Yah, teman baru. Karena selama ini wanita itu hanya mengetahui putrinya punya 2 teman yaitu Tao dan Tiffany. Yoona tidak terlalu tertarik dengan yang namanya pergaulan. Karena gadis itu terlalu sibuk menghabiskan waktunya untuk belajar dan bekerja.

Tidak ada hal lain yang menarik perhatian Yoona selain menghasilkan uang sebanyak-banyaknya. Bukan karena gadis itu gila uang, melainkan ia butuh uang untuk pengobatan ibunya yang sakit-sakitan.

Bagaimana tidak? Setiap penyakit ibunya kumat atau melakukan control tiap bulanya, Yoona harus mengeluarkan jutaan won dalam sekejap mata. Karena itulah Yoona harus berjaga-jaga dengan memperbanyak tabunganya agar pengobatan ibunya berjalan dengan lancar.

Jujur saja, sang Ibu merasa bersalah sekaligus kasihan melihat putrinya yang harus menderita karena dirinya. Tak jarang ia berpura-pura kuat dan mengatakan baik-baik saja ketika di depan Yoona. Hanya untuk membuat Yoona tidak terlalu khawatir dan tidak terlalu sibuk bekerja. Gadis itu harus memikirkan masa depanya juga.

Sesaat terjadi keheningan di rumah kecil itu, sebelum akhirnya deringan ponsel Yoona mengakhiri segalanya.

“Ya Tao” sambut Yoona sambil mengalihkan ponsel ke telinganya. Begitu mendengar nama Tao, mata Wendy langsung berbinar. Yoona hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah gadis itu.

“Yoong…kau dimana sekarang?” suara dari sebrang telepon mengalihkan pandangan Yoona dari Wendy.

“Dirumah. Aku baru pulang kerja, kenapa?” Tanya Yoona balik.

“Kalau begitu jangan kemana-mana. Aku akan kesana sekarang. Ada hal penting yang ingin ku katakan padamu”

“Ne? soal apa?” Yoona tampak kebingungan.

“Nanti kujelaskan”

“ Arraseo” Begitu Yoona mengakhiri panggilanya, Wendy langsung mendekat ke arahnya.

“Eonni, Tao Oppa akan kemari?”

“Ne, tapi bukan untuk bermain-main. Jadi kuharap kau jangan mengganggunya Wendy Wu. Karena kalau tidak, kita batal belajar bersama” ancam Yoona, kemudian berlalu kekamarnya. Wendy hanya mempotkan birnya sebal, lalu berniat berbincang-bincang lagi dengan Ibu Yoona.

 

***

 

“Apa? Kau bilang apa? Tiffany di paksa menikah?”

Yoona bertanya lagi meski pernyataan Huang Zi Tao – Sahabatnya itu, sudah jelas ia dengar beberapa menit yang lalu. Dan Yoona hanya tersenyum getir ketika Tao mengangguk dengan pasti.

“Astaga..kenapa orang tuanya setega itu? Padahal kan Tiffany..”

Yoona berhenti bicara ketika teringat pesan Tiffany padanya beberapa bulan yang lalu. Saat ia mengetahui jika gadis pemilik eyesmile cantik itu menyukai sahabat mereka yaitu Huang Zi Tao. Tiffany dengan sangat meminta pada Yoona agar tidak memberi tau Tao soal ini. Karena gadis itu mengetahui Tao menyukai seseorang yang Yoona sendiri tidak tahu siapa gadis itu. Tiffany tidak mau memberi tahunya.

“Padahal apa Yoong?” Tanya Tao ketika Yoona tak kunjung melanjutkan ucapanya dan malah melamun.

“Tidak ada. Tapi Tao, dengan siapa Tiffany akan di jodohkan? Dia belum pernah memberi tahuku soal ini”

“Dengan anak pengusaha dari Group-L. Kau pasti pernah mendengarnya kan?”

Group-L? Yah..Yoona pernah mendengarnya. Salah satu perusahaan tersukses di korea yang juga berkerja sama dengan perusahaan tempat ayahnya Tao bekerja saat ini.

“Ya. Tapi kenapa Tiffany bisa di jodohkan dengan putra mereka?”

“Ceritanya panjang, yang jelas Tiffany tidak ingin di jodohkan dengan siapapun. Karena dia…”

“Karena dia apa Tao?” Tanya Yoona tak sabaran. Apa Tao sudah mengetahui jika Tiffany menyukainya?

“Karena dia..”

“Karena dia menyukaimu?” sambung Yoona lagi. Ia yakin Tiffany sudah memberi tahu Tao soal ini.

“Mwo? jadi kau sudah tahu?” Tanya Tao keheranan.

“Ne. Tiffany yang memberi tahuku. Kau juga menyukai seseorang katanya..benarkah itu?”

Tao terdiam. Ia memang menyukai seseorang dan itu adalah Yoona. Dan sebenarnya tujuan awal Tao menemui gadis ini adalah untuk itu. Untuk mengatakan perasaanya. Karena Tiffany juga ternyata menyukainya. Tiffany juga tahu jika dirinya menyukai Im Yoona.

Karena itu Tiffany minta supaya Tao mengatakannya pada Yoona. Apa gadis ini menyukainya juga? Jika tidak, maka Tao diminta untuk memikirkan baik-baik perasaan Tiffany. Karena kalau tidak, Tao tidak akan punya kesempatan lagi setelah ini.

Tapi melihat reaksi Yoona, sepertinya ia tidak punya perasaan apa-apa pada Tao. Ia malah terlihat khawatir karena perjodohan Tiffany.

Tao mengurungkan niatnya. Ia tidak mau persahabatan mereka hancur karena terjebak cinta segi tiga seperti ini. Dan ia juga belum siap kalau-kalau Yoona memang tidak memiliki perasaan apapun padanya. Dan malah menolak cintanya yang terpendam selama ini. Tao belum siap kehilangan Yoona dan Tiffany sekaligus.

*

Tao melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi setelah pulang dari rumah Yoona beberapa menit yang lalu. Pria itu mendapatkan panggilan dari ayahnya jika presdir tempat sang bekerja terkena serangan jantung. Dan sekarang dalam perjalanan menuju ruma sakit.

Tao sangat khawatir. Tentu saja. semenjak ia masih belum lahir keluarganya sudah mengabdi pada keluarga pemilik perusaahan tersukses di korea tersebut.

J&J. siapa yang tidak tahu dengan nama perusahaan yang bekerja di berbagai bidang bisnis itu? Termasuk perusahaan no 2 terkaya di korea selatan, no 10 di Asia, dan No 57 di seluruh penjuru dunia. Tentu semua tahu bagaimana seluk-belum di bangaunya J&J sampai bisa sebesar ini.

J&J juga bisa melahirkan 2 perusahaan sukses lainya, siapa lagi kalau bukan Wu Corp dan Group-L. J&J adalah leluhur dari kedua perusahaan besar tersebut, yang sebagaimana berkat jasa J&J lah Wu Corp dan Group-L bisa sesukses sekarang. Dan beruntungnya Ayahnya – Huang Zi Ley bisa masuk sebagai salah satu orang kepercayaan CEO dari J&J itu- Presdir Jung Seoman.

Tao berlari cepat setelah menuju rumah sakit. Pria itu segera menuju salah ruang VVIV yang terdapat di rumah sakit itu. Sebagaiman yang telah di beritahukan Ayahnya.

Tak butuh waktu lama untuk Tao menemukan dimana ruanganya. Dilihatnya sudah banyak yang berkumpul di depan ruangan itu termasuk Ayahnya. Tidak ada wartawan, karena memang berita ini tidak diijinkan diliput secara publik.

“Appa” panggil pria itu seraya mendekat ke arah Ayahnya.

“Bagaimana keadaan kakek?” Tanya Tao dengan gurat kekhawatiran. Bagaimanapun ia telah menganggap majikan Ayahnya itu sebagai kakek sendiri.

“Belum stabil. Presdir sudah sadarkan diri, namun keadaanya masih belum bisa dikatakan baik. Dan sekarang Direktur Jung sedang berbicara denganya di dalam”

“Astaga..” Tao melenguh pasrah.

Sejujurnya bukan kali ini saja pemilik J&J itu mengalami serangan jantung yang tiba-tiba. Sudah beberapa kali jantungnya kumat, namun Tuhan masih memberinya kesempatan. Mungkin hal itu terjadi karena factor usia lanjut. Umur 70 tahun tidak bisa dikatakan muda lagi bukan?

Dan sepertinya Tuan Jung memang harus berhenti campur tangan dalam urusan perusahaan. Mengingat kesehatanya selalu menurun akhir-akhir ini.

Terlihat dari dari dalam ruangan orang yang dimaksud kan itu pun sedang berbicara serius, meski keadaan Tuan Jung benar-benar masih lemas.

“Bagaimana Joonhe-yah? Apa kau sudah menemukan keberadaan Hyesung?” Tanya Tuan Jung dengan suara lemah dan terdengar bergetar. Namun pria itu masih tetap ngotot ingin bicara dengan anak angkatnya itu.

“Masih belum Abeoji. Kami masih mencarinya kemana-mana, tapi Hyesung belum ditemukan juga”

Tuan Jung menghela nafas berat, lalu menutup rapat-rapat matanya menandakan ia sudah lelah menunggu kedatangan purti satu-satunya itu.

Jung Hyesung. Adalah anak satu-satunya Presdir Jung yang kabur dari rumah sekitar 23 tahun yang lalu. Sementara Jung Joonhe adalah anak dari kakanya yang akhirnya diangkat menjadi anak asuhnya.

Awalnya Tuan Jung sangat murka dan tidak berniat mencari keberadaan putrinya lagi. Tapi selama 10 tahun ini ia tidak pernah berhenti mencarinya. Ia kerahkan seluruh orang-orang kepercayaanya untuk mencari wanita yang kira-kira sekarang berumur 45 tahun itu. Tapi tetap saja Hyesung begitu pintar menyembunyikan diri. Hingga sampai saat ini keberadaanya tidak diketahui oleh siapapun.

Tuan Jung Seoman hanya bisa berharap, semoga tuhan memberinya kesempatan untuk meminta maaf pada anaknya sebelum ia menutup mata.

 

***

 

Hari itu Yoona tampak termenung di salah satu Cofee shop tempatnya bekerja. Pengunjungnya juga jauh lebih sepi dari hari biasanya. Sehingga Yoona bisa lebih santai beristirahat di salah satu bangku pelanggan.

Yoona teringat kembali dengan perkataan dokter yang menangani ibunya beberapa hari yang lalu. Dokter itu bilang cepat atau lambat ibunya harus segera di operasi. Karena kanker yang menggrogoti tubuh ibunya semakin merambah kemana-mana. Kemoterapi tidak berguna lagi di lakukan, karena tubuh ibunya terus mengalami penolakan. Jika dipaksakan tentu akan sangat berbahaya mengingat kemoterapi mengandung zat-zat kimia.

Yoona mendesah pasrah. Tidak tahu lagi apa yang harus dilakukanya. Tabunganya sudah mulai menipis, sedangkan biaya untuk operasi tidak lah sedikit. Ia tidak enak lagi karena selalu melibatkan Tao dan Tiffany dalam masalahnya. Kedua sahabatnya itu sudah terlalu sering membantunya, dan sampai saat ini ia belum bisa membalas dengan apapun.

“Sedang memikirkan apa Nona Im?”

Lamunan Yoona buyar ketika seseorang sudah duduk dihadapanya saat ini. Yoona terkejut karena sudah beberapa hari ia tak bertemu dengan gadis ini.

“Fany-ahh..!!”

Tiffany tersenyum tipis kemudian bangun memeluk Yoona. Gadis itu dengan segera membalasnya.

“Kemana saja kau huh? Aku mengkhawatirkanmu tahu! Kau bahkan tidak pergi ke kampus!” omel Yoona ketika Tiffany melepaskan pelukanya.

“Maafkan aku Yoong..aku dikurung Appa di dalam kamar. Aku tidak boleh kemana-mana. Ini saja aku bisa keluar karena berjanji hanya ingin bertemu denganmu sebentar. Lihatlah, dia bahkan mengawasiku dengan pria-pria berubuh tegap itu” ucap Tiffany sambil menunjuk 2 orang bodyguard di dekat mobilnya.

“Jadi kau benar-benar dipaksa menikah?” Tanya Yoona masih tak habis pikir sekaligus kasihan melihat Tiffany.

“Uhm. Appa tidak mau mendengar penolakan macam apapun dariku Yoong..”

“Astaga…” Yoona melenguh tak percaya kemudian menatap Tiffanya sedih.

“Kenapa? Kenapa orang tuamu ngotot sekali? Tao tak memberi tahunya dengan jelas padaku. Sekarang ceritakan semuanya Fany-ah. Siapa tahu aku bisa membantumu..”

Tiffany tersenyum getir lalu mulai menarik nafasnya. Kemudian menatap Yoona dalam yang masih menunggu jawaban darinya.

“Kau Tahu Lee Jonghyun?”

“Ne. putra satu-satunya dari Group-L” jawab Yoona.

“Dengan dialah aku akan di jodohkan. Perusahaan Appa mengalami kerugian besar sehingga akan terancam bangkrut. Appa tidak punya solusi yang bagus untuk menangani masalah ini. Lalu tiba-tiba putra dari Group-L menawarkan diri membantu Appa, dengan syarat aku harus menikah denganya. Aku tidak tahu apa motifnya melakukan itu. Tapi aku dengar Lee Jonghyun sudah menyukaiku sejak lama. Aku jelas heran, karena kau tahu aku tidak mengenalnya kan Yoong?”

“Ne..”

“Karena itu Appa tentu langsung menerimanya tanpa berpikir lebih dahulu. Appa bahkan sudah mengatakan iya pada Lee Jonghyun sebelum aku tahu masalah yang sebenarnya. Sekarang aku harus bagaimana Yoong? Aku tidak menyukai Lee Jonghyun, dan di satu sisi aku juga memikirkan nasip keluargaku..”

Yoona terhenyak. Tidak mengira jika masalahnya bisa sepelik ini. Ia ingin sekali membantu Tiffany. Tapi ia bisa apa? Ia tidak bisa melakukan apapun karena ini masalah keluarga sahabatnya. Tentu ia tidak mungkin ikut campur bukan? Tapi Tiffany? Bagaimana dengan nasip sahabatnya itu jika harus menikah tanpa cinta seperti ini?

Yoona menatap Tiffany sedih yang tampak sebisa mungkin menahan air matanya. Yoona merasa menjadi sahabat yang paling buruk karena tidak bisa berbuat apapun selain menyeka air mata Tiffany yang akhirnya keluar. Tiffany selalu ada disaat ia kesusahan, bahkan tak jarang Tiffany membantunya melewati masalah-masalhnya. Tapi dirinya? Yoona merasa bersalah karena tidak bisa melakukan apapun untuk membantu Tiffany.

“Maafkan aku Fany-ah..aku tidak bisa berbuat apapun untukmu..aku sungguh minta maaf..” ucap Yoona terisak sambil memeluk Tiffany.

“Kenapa harus minta maaf? Ini bukan salahmu Yoong..bahkan tidak ada hubunganya denganmu. Hanya saja..aku butuh kau untuk membagi segala masalahku…Aku tidak bisa melewatinya seorang diri Yoong..aku benar-benar butuh teman…”

“Kapanpun Fany-ah..kapanpun kau butuh teman kau bisa datang padaku..mungkin aku tidak bisa membantu..tapi setidaknya aku bisa menghapus air matamu..”

“Gomawo Yoong…Jeongmal gomawo sudah mau menjadi teman terbaikku selama ini. Aku bahagia memilikimu”

 

***

 

“Sedang masak apa sayang?”

Soohwa terkesiap ketika sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Wanita itu tersenyum manis lantaran sudah mengetahui siapa pelakunya.

“Tidak biasanya kau pulang cepat” tanyanya tanpa mengalihkan acara masak-masaknya (?).

Kris tidak menjawab dan malah asyik bergerilya di leher jenjang wanita itu. Soohwa berdecak, kemudian berbalik menghadap suaminya yang memasang tampang sebal. Soohwa tersenyum geli melihat reaksi pria itu.

“Oh ayolah..kau bukan anak-anak lagi Kris”

“Aku merindukanmu. Dan kau malah mengabaikanku?” rajuk Kris

“Tapi aku sedang memasak sayang..” ucap Soohwa sambil melingkarkan tanganya di leher pria itu. Melihat perlakuan istrinya, Kris jadi tersenyum menggoda.

“Ehmm. Jadi sekarang kau yang menginginkanku?”

“Mwo?” Soohwa tersadar, lalu segera melepaskan pelukanya. Tapi giliran Kris yang meraih pinggang wanita itu.

“Yak!”

“Wae?”

“Aissh..aku sedang memasak tahu!” seru Soohwa salah tingkah lalu kembali melanjutkan kegiatanya.

“Mau ku ajak ke suatu tempat?” Tanya Kris kemudian seraya berlalu menuju sofa. Mereka memang sedang berada di aparteman sekarang.

“Kemana?” Tanya Soohwa dengan kening berkerut.

“Kau akan tahu nanti. Bersipalah..”

“Hey..aku sedang memasak dan kau menyuruhku bersiap?”

“Kita makan dirumah saja..” bantah Kris.

“Jadi kau tidak mau memakan masakanku?”

“Ayolah sayang..aku hanya punya waktu hari ini”

“Ya..ya..aku hanya bercanda. Arraseo, kau mandilah terlebih dahulu”

Kris beranjak. Bukanya langsung menuju kamar malah berjalan kearah istrinya.

“Apa lagi?” Tanya Soohwa bingung.

Pria itu memasang tampak imut lalu menunjukkan sudut bibirnya. Soohwa terkekeh pelan, mereka bukanlah pasangan yang berumur 17 tahunan lagi, kenapa suaminya jadi beringkah kekanak-kanakan seperti ini?. Tapi akhirnya ia mengalah lalu mengecup bibir Kris singkat.

“Mandilah..kau sangat bau” canda Soohwa

“Siap Ny.Wu!” seru Kris sambil memberi tanda hormat. Soohwa terkekeh lagi.

 

***

 

Sepasang suami istri itu berjalan menuju sebuah tempat yang penuh dengan anak-anak. Panti asuhan. Kris memang sengaja mengajak isrinya ketempat ini, karena ia pikir hanya dengan cara inilah mereka bisa memperoleh keturunan.

“Kris..” Soohwa menatap suaminya dalam, entah ia merasa terharu atau bagimanama yang jelas Soohwa merasa sangat bahagia melihat sekumpulan anak-anak yang sedang bermain itu.

“Ayo kita masuk” ajak Kris sambil menggandeng tangan istrinya.

Baru ketika mereka akan memasuki gedung, seorang perempuan sudah berlari terburu-buru sampai menabrak Soohwa. Wanita itu hampir terjatuh kalau saja tidak ada Kris di sampingnya.

“Sialan” umpat Kris, sambil berjalan mengikuti langkah orang tak bertanggung jawab itu sebelum sempat di tahan oleh Soohwa. Wanita itu hanya mengehla nafas berat, sudah tahu apa yang akan di lakukan suaminya.

“Hey Agassi!” Kris meraih tangan orang itu dengan kasar. Sedangkan si empu tangan hanya menatapnya kebingungan.

“Ne?”

“Kau sudah menabrak istriku sembarangan dan kau pergi begitu saja?”

“Kris sudahlah! Aku rasa dia juga tidak sengaja..” ucap Soohwa menenangkan suaminya. Kini pandangan gadis itu beralih ke arah Soohwa.

“Ahh.maaf kalau begitu. Aku tak menyadarinya tadi, sekali lagi maaf, aku benar-benar sedang terburu-buru” usai berkata demikian gadis itu langsung berlalu pergi.

Kris mendengus remeh “ Dasar gadis tak berpendidikan. Apa dia tidak pernah diajari sopan-santun oleh orang tuanya?”

“Sudahlah Kris..kita di perhatikan semua orang. Ayo kita masuk saja..” mau tak mau Kris ikut masuk karena sudah di tarik paksa oleh Soohwa.

 

***

 

“Apa dokter? Harus segera di operasi dalam 4 hari ke depan?”

“Ne. kita tidak punya banyak waktu lagi Yoona. Operasi pengangkatan sel kanker harus segera dilakukan. Karena kalau kita menunda-nunda lagi nyawa ibumu bisa tidak tertolong..”

“Tapi dokter, apa tidak ada cara lain lagi? Operasi itu terlalu mahal, saya bahkan tidak sanggup membayar setengahnya”

“Tidak ada Yoona. Kita sudah melakukan kemoterapi, tapi sejauh ini tubuh ibumu terus mengalami penolakan. Kita tidak punya cara yang lain lagi. Karena itu usahakanlah, karena kalau kita terlambat sedikit saja, aku tidak menjamin keselamatan nyawa ibumu”

Yoona mendesah pasrah. Habis sudah. Ia tidak tahu lagi bagaimana cara mendapatkan uang sebanyak 15 juta won dalam waktu 4 hari, belum lagi dengan biaya perawatanya. Hutangnya saja sudah menumpuk dimana-mana, mau di pinjam dari siapa lagi?

Tao? Tidak. Namja itu sudah terlalu sering membantunya. Uang 15 juta won tidak lah sedikit, bagaimana mungkin ia bisa meminjam pada Tao lagi. Lalu Tiffany? Ia benar-benar tidak enak pada gadis itu, apa lagi di saat masalah yang menimpanya.

“Ya Tuhan..apa yang harus aku lakukan sekarang”

Yoona menatap sedih tubuh ibunya yang terbaring lemah di atas ranjang. Pasti ibunya merasa menderita sekali dengan penyakit mematikan ini. Kalau saja Yoona bisa, ingin ia sekali mengagantikan posisi ibunya. Ingin sekali ia berbagi rasa sakit yang di derita ibunya. Tapi tidak..Tuhan berkehendak lain. Tuhan lebih memilih ibunya menjadi korban kanker ganas ini.

Yoona terduduk lesu. Pandanganya tak luput dari wajah ibunya yang pucat pasi. Tubuh yang dulu begitu Sehat, kini berubah menjadi sangat kurus. Rambut ibunya yang dulu sangat lebat sekarang hanya tinggal beberapa helai yang bahkan bisa di hitung.

Yoona menarik nafas dalam-dalam. Diraihnya tangan sang ibu dengan hati bergemuruh. Mata indah itu masih terpejam di alam bawah sadarnya. Yah..keadaan ibunya belum stabil sama sekali.

“Aku akan mendapatkanya Eomma. Bagaimanapun caranya aku akan dapatkan uang itu. Eomma tidak perlu khawatir. Yang perlu Eomma lakukan adalah menjadi lebih kuat.” Yoona sebisa mungkin untuk tidak terisak, namun airmatanya tiba-tiba keluar tidak tertahan. Gadis itu langsung bersikukuh memeluk sang ibu yang tidak sadarkan diri.

“Berjanjilah untuk selalu ada di sampingku Eomma…aku tidak punya siapapun selain dirimu..aku benar-benar membutuhkanmu, karena itu bertahanlah demi aku..”

 

***

 

Malam itu seluruh anggota keluraga Wu sedang berkumpul bersama di ruangan keluarga. Termasuk Kris dan Soohwa. Mereka memutuskan untuk menginap di rumah malam ini.

“Bagaimana perkembangan kesehatanmu Soohwa-yah? Apa dokter Choi memberi tahu kabar baik?” Tanya Tuan Wu memulai percakapan. Ia memilih bertanya langsung dengan menantunya itu.

“Kata dokter Choi kesehatanku semakin membaik Abeonim. Hanya saja..” Soohwa berhenti bicara, merasa sakit ketika ia harus mengungkit lagi ketidak sempurnaanya di depan keluarga suaminya seperti ini. Wanita itu meremas kuat tangan Kris yang duduk disampingnya.

Mengetahui jika istrinya sedang gugup, Kris langsung menenangkanya dengan mengelus tangan Soohwa lembut. Mengisaratkan jika semuanya akan baik-baik saja. Soohwa hanya bisa tertunduk setelah beradu tatapan dengan Kris.

“Kami memutuskan untuk mengadopsi anak Abeoji” ucap Kris akhirnya. Membuat semua anggota keluarga berubah kaget, terkecuali Soohwa. Termasuk Wendy yang sedari tadi asyik dengan ponselnya.

“Aku dan Soohwa sudah membicarakan ini baik-baik. Tadi siang kami pergi ke sebuah panti asuh..”

“Siapa bilang kau boleh mengadopsi anak?” potong Tuan Wu tiba-tiba. Kini semua mata beralih pada pada pria berumur 50 tahun itu.

“Kenapa tidak? Kita tidak punya..”

“Ada. Kita masih punya cara yang lain Kris” lagi-lagi tuan Wu memotong ucapan putranya. Kris bingung, memangnya cara apa lagi yang akan mereka lakkan untuk melewati masalah ini? Jangan bilang Ayahnya akan memaksa Soohwa untuk tetap hamil meskipun akan membahayakan nyawa istrinya. Tidak, jika itu yang diinginkan Ayahnya, sampai kapanpun Kris tidak akan menyetujuinya.

“Abeoji akan tetap memaksakan Soohwa hamil?” Tanya Kris menyelidik. Tapi sang ayah menggelang pasti membuat yang lain bertambah semakin bingung.

“Kau pikir aku tega membahayakan nyawa menantuku?”

“Lantas?”

“Kita akan cari wanita lain untuk mengandung anak kalian”

Kris sangat terjejut begitupun dengan Soohwa. Apa maksud Ayahnya ingin menikahkan Kris dengan Wanita lain? Tidak, lebih baik Kris mati dari pada harus menduakan Soohwa.

“Jangan berpikir yang tidak-tidak dulu Kris Wu. Maksudku adalah..Kita akan menyewa rahim seoarang wanita normal dan sehat untuk mengandung benih kalian. Kau tidak perlu menikah atau melakukan hubungan intim dengan wanita selain Soohwa. Dan garis keturunan darah biru Wu Corp dan Group-L akan tetap berjalan..karena yang dikandungnya itu adalah anak kalian. Istilahnya wanita ini hanya membantu mengandung dan melahirkan”

“Astaga…APA ABEOJI SUDAH GILA!?” bentak Kris marah. Itu adalah cara yang paling menjijikkan yang dilarang agama maupun negera. Bagaimana bisa Ayahnya berpikiran seperti itu hanya untuk mempertahankan egonya tentang garis keturunan darah biru keluarga mereka.

Tidak. Sampai kapanpun Kris tidak akan melakukan ide gila ini hanya untuk memperoleh keturunan. Tidak akan.

 

To Be Continued

Gak tahu lagi deh mau ngomong apa. Yang pasti ini ff absurd banget dan gak jelas alurnya mau di bawa kemana. Dan terlebih ff ini benyak mengandung kesotoyoan tingkat angkut dari Authornya hahaha… Udah gitu bahasanya ya Allah…

Ah gak tahu deh, aku coba-coba aja buat nih ff, dan jadinya malah hancur begini. Maafin ya?..maafin ya?

Aku gak janji bakal sambung nih FF gila. Karena aku masih terfokus sama Secret Love. (Eh, adakah yang masih menunggu ff itu? Kalau ada bentar lagi udah mau jadi kok hehe..)

Oke. Terserah kalian mau RCL atau gak, karena aku gak berharap banyak sama ff hina dina + nista ini.

Kalau ada kesempatan sampai jumpa lagi di Next chap..

Annyeong ^^

42 thoughts on “(Freelance) Between 2 Hearts (Chapter 1)

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s