(Freelance) Oneshot : A Window

PicsArt_1419065905528

Author: Catur Anggraheni

Length: Oneshot?

Rating: G

Genre: Mystery, Romance

Main Cast: Im Yoon Ah, Xi Luhan

Disclaimer : Sori kalo ceritanya kurang jelas(?) bisa di kritik di @Caturanggraheni (twitter)

Dikala senja seperti ini biasanya, Tuan Edward akan segera mencari anjingnya –Louis, untuk segera di bawa pulang. Bibi Ele akan menutu pintu pagarnya dengan rapat, dan menyuruh cucu-cucunya untuk segera masuk.Paman Fred yang baru pulang akan langsung disambut hangat oleh istrinya, mereka pasangan yang romantis, walaupun sampai 7 tahun Yoona tinggal disini mereka belum juga dikaruniai seorang anak.Sedangkan, si penggangguran George akan pulang dalam keadaan mabuk bersama teman-tamannya, aku heran kenapa bibi Joule bisa punya anak yang bandelnya minta ampun seperti itu.

Yoona suka memperhatikan kegiatan tetangga-tetangganya itu di kala senja seperti ini. Dari jendela kamarnya yang terletak di atas loteng, ia bisa melihat segalanya dengan mudah. Menyenangkan dan hangat. Selain itu, hanya di waktu seperti ini ia bisa bersantai, setelah sebelumnya sibuk dengan sekolah beserta kawan-kawannya.

Dan setelah langit berubah menjadi hitam pekat. Kompleks ini menjadi sepi. Sepinya sama seperti Pemakaman Erergald yang berada di balik bukit. Seperti tak ada kehidupan. Yoona bertaruh kompleksnya ini akan dikira pemakaman oleh orang yang memasukinya untuk pertama kali.

Yah, inilah nasib tinggal di sebuah kota kecil, di Eropa bagian barat. Swiss dan Zurich. Awalnya Yoona sama sekali tak mengerti mengapa orangtuanya itu tiba tiba memutuskan untuk pindah ke Swiss. Padahal, Demi si ferret Draco –tokoh favoritnya di Harry Potter, ia sudah sangat nyaman berada di Seoul. Kota ini kota besar dengan segala keindahan di dalamnya. Apa yang ia butuhkan, ada disini. Untuk apa pindah? Batin Yoona bertanya hebat kala itu. Yah, walaupun tak bisa dipungkiri ia senang bisa tinggal di Luar Negeri. Terlebih lagi itu Swiss, Negara yang selalu menjadi idamannya.

Ia senang setengah mati, sebelum tahu ia akan tinggal di kota kecil di Swiss, bukannya kota besar yang selalu diimpi-impikannya. Ia sebal, tentu saja. Harapannya untuk tinggal dan tumbuh di kota besar di Swiss hancur. Terlebih lagi banyak yang telah ia tinggalkan di Seoul, sekolahnya, Sooyoung, dan juga Chanyeol. Laki laki yang 2 tahun lebih tua darinya. Laki laki yang membuatnya berjanji untuk hanya akan menikah dengannya jika sudah besar nanti.

Bodoh

Tolol

Idiot

Chanyeol itu kakak sepupu Yoona. Mengingat hal itu, Yoona suka geli sendiri. Bagaimana mungkin…? Ah sudahlah. Ia hanya gadis 9 tahun yang polos waktu itu.

Setelah pindah, ia tahu ia harus banyak beradaptasi. Bagaimanapun, ia ini orang timur, budaya barat yang ada disini agak kurang cocok. Tapi, lama kelamaan Yoona terbiasa. Walaupun ia harus bekerja ekstra keras untuk itu. Semuanya berbeda. Cara berpakaiain, cara makan, cara bersapa, dan cara berbicara semua sangat berbeda dengam Seoul. Untungnya, ia sudah diajari bahasa Inggris sejak kecil.

“Yoona-ya! Makan malam sudah siap. Turunlah. Kau akan ditegur Tuan Edward jika ketahuan mengintip mereka lagi”

Suara ibunya yang khas mengagetkan Yoona. Ia tersentak. Lalu mendengur kasar, Ia tak mengintip. Lalu dengan tergesa ia menutup jendelanya.

“Aku turun” ucap Yoona dengan bahasa korea yang lantang.

.

.

.

Hari ini langit senja yang kemerah-merahan membawa air. Hanya gerimis. Tapi tak henti-hentinya membuat seorang Yoona mendumel kasar. Ia tak suka gerimis. Ia lebih suka hujan deras yang sederas derasnya. Gerimis membuat kepalanya pusing. Dan, Yoona benci itu.

Tapi, walaupun begitu, ia tak menghentikan kegiatan memperhatikan para tetangganya. Ia masih duduk di belakang jendelanya, matanya sibuk melihat kesana kemari. Rambutnya yang berwarna coklat ia gulung asal. Tangannya ia tekuk untuk menopang dagunya.

Sebentar lagi langit akan gelap dan itu artinya ia harus segera menutup jendelanya dan harus segera turun untuk makan malam. Sangat membosankan.

Sebenarnya, ada mitos mengapa orang orang di Zurich menutup jendela mereka ketika malam menyambut. Mereka berkata jika kau tak menutup jendelamu, maka akan ada sesosok mahluk asing yang masuk kedalam tidurmu, dan membawamu keluar dan tak kembali lagi.

Bodoh

Ketika pertama kali mendengar hal tersebut dari appa-nya Yoona tertawa kencang. Siapa yang percaya pada mitos tolol seperti itu? Bahkan, Yoona yakin anjing Tuan Edward juga tak akan mempercayainya. Tapi, Yoona tercengang ketika tahu bahwa appa-nya tak main main dan bahwa seluruh penduduk kota mengetahui hal tersebut. Dan, yang paling buruk adalah…..mereka mempercayainya.

Yoona tentu saja tak bisa percaya dan tak habis pikir dengan orang-orang disini. Jika Chanyeol mendengarnya, ia yakin Chanyeol juga akan melakukan hal sama sepertinya. Tapi apa daya, tak ada Chanyeol disini dan ia mau tak mau harus mematuhi peraturan konyol itu.

“Yoona-ya, makan malam sudah siap” ucap ibunya dengan bahasa korea yang pasif. Maklum, 7 tahun tinggal disini membuat bahasa koreanya menjadi aneh.

“Aku turun” ucap Yoona pelan. Ia segera turun dan menghampiri ibunya.

.

.

.

Gelap.

Dimana mana gelap.

Yoona sedang berada di sebuah ruangan, dimana tak ada satu cahaya-pun yang menyala. Gadis itu meringkukkan badannya cepat. Ia takut. Ia bukannya takut pada gelap. Tapi, kesendirian ini seakan membunuhnya. Keringat bercucuran di dahinya yang putih. Badannya gemetar dan giginya bergemeletuk.

Ia tak sedang kedinginan. Ia ketakutan.

Apakah ada orang?” ucapnya yang ia harapkan nyaring. Tapi, yang keluar malah bisikan kecil. Demi Tuhan, ia sudah mengeluarkan semua suaranya saat ini

Tapi tak ada yang menjawab. Keheningan itu kian makin terasa. Tapi, secara tiba tiba setitik cahaya muncul di hadapannya. Ada harapan, batin gadis itu.

Dengan susah payah, Yoona bangkit. Tak mudah bangkit dengan keadaan tubuh gemetar. Tapi, ia harus menghampiri cahaya tersebut jika ia mau pulang. Dengan langkah terseok-seok ia berjalan menuju cahaya itu. Makin lama makin redup. Hal tersebut membuat Yoona melangkahkan kakinya lebih cepat.

Tetapi, ketika Yoona sudah semakin dekat, dengan sumber cahaya. Tanpa Yoona sadari, tubuh Yoona semakin hilang. Tubuh itu hanya tampak seperti siluet siluet hitam. Cahaya itu memakan tubuh Yoona. Memakan sampai sampai tubuh gadis itu tak bersisa, bayangan-nya pun hilang.

“aaaaaaaaaaaa” Yoona berteriak kencang.

Klep

Yoona membuka matanya kencang. Muncul bintang bintang yang ia tempel di langit kamarnya beberapa tahun yang lalu. Bintang bintang itu mengeluarkan cahaya yang selalu Yoona kagumi.

Hanya mimpi ternyata, batin gadis itu pelan. Dinyalakannya lampu tidur yang berada tepat disamping tempat tidurnya.

Ia lalu bangun dan duduk di pinggir tempat tidurnya. Kepalanya berkeringat. Mimpi tadi benar benar seperti nyata. Lalu dengan sempoyongan ia menghampiri meja belajarnya dan mengambil gelas yang ada diatasnya. Dengan cepat ia meneguk isi gelas itu.

03.30 am

Baru pukul tiga. Sebaiknya, aku melanjutkan tidurku tadi, ucap Yoona dalam hati sambil berjalan ke tempat tidurnya. Tapi, sekuat apapun ia memcoba untuk tidur, ia tak bisa.

Insomnia. Pasti karena itu, ucap Yoona pelan.

Padahal ia sudah senang 3 hari yang lalu gangguan tidurnya itu hilang. Baru saja ia mau mengambil obat tidurnya ketika semilir angin menghembus di sekita lehernya. Membuatnya merinding karena dingin. Yoona tersentak.

Ia lupa menutup jendela sialan itu.

Huft, apakah mimpinya tadi ada hubungannya dengan jendela tadi? Yang benar saja. Hentikan pikiran konyolmu itu Im Yoona, batinnya.

Ia lalu berjalan ke arah jendelanya untuk menutup benda tersebut. Tapi, tiba tiba langkahnya terhenti. Yoona peka. Ia sangat peka. Ia sadar bahwa dirinya tak sendiri di kamarnya tersebut.

Ada orang lain.

Dengan kasar ia menoleh. Tak ada siapa siapa. Matanya menggeledah ke seluruh kamarnya. Ia membuka lemari bahkan laci lacinya. Tapi, ia tak menemukan sesuatu yang janggal.

“Mungkin hanya perasaanku saja” ucap Yoona secara monolog sambil melanjutkan langkahnya kea rah jendela.

Baru saja ia mau menarik besi pegangan yang ada di jendelanya, sebelum ia menyadari ada sesuatu yang aneh di dirinya.

1 detik..2 detik..3 detik…

Oh, LORD!

Tubuhnya melayang. Yoona panik,ia mencoba untuk tidak teriak sebisa mungkin. Ia tak mau membuat orangtuanya terbangun dan menemukannya dengan halusinasi konyol seperti ini.

Tapi, Demi Tuhan. Ia tak bohong. Tubuhnya itu benar benar melayang.

Belum penuh rasa kegetnya, ia kembali dikagetkan dengan hadirnya sosok tangan yang muncul memegang tangannya erat. Ada seorang pria di depannya. Nah, Yoona tak salah kan? Pasti ada seseorang di ruangan ini selain dirinya.

Yoona masih merasa ia bermimpi, untuk sesaat. Sampai, akhirnya laki laki itu mengajaknya keluar. Terbang. Ya Tuhan,tangan laki laki di depannya ini dingin sekali. Yoona tak bisa melihat wajahnya dan hanya bisa melihat punggung nya. Laki laki asing itu memakai kemeja biru dan jins panjang, dan kalau mata Yoona tak salah lihat, tubuh laki laki itu mengeluarkan cahaya. Cahaya kebiruan dan berkilau, seperti glitter. Laki laki itu membawa Yoona terbang melihat Zurich dari atas langit. Kalau ini hanya mimpi, ia harap tak ada orang yang membangunkannya.

Shuhhhhhh

Yoona selalu ingin merasakan terbang menggunakan sapu terbang ala Harry Potter. Tapi, lihat sekarang! Ia bahkan tak membutuhkan sapu untuk terbang. Yoona tertawa bebas. Tiba tiba saja, mitos itu tergiang di kepala Yoona. Apa ini sosok…itu?

Benarkah?

Jika memang ini sosok yang diceritakan orang orang tersebut kepadanya. Ia berjanji akan membuka jendelanya setiap malam. Tapi, bagaimana kalau tidak? Bagaimana kalau laki laki ini sebenarnya sosok yang lain. Hmm, hantu mungkin? Tsk. Singkirkan pikiran itu Yoong, ucapnya.

Mereka masih terbang mengelilingi kota kecil itu. Persis seperti Peterpan dan Wendy. Tapi, tentu saja mereka bukan, Yoona sesungguhnya benci kisah Peterpan dan Wendy tersebut.

Sampai akhirnya, ia turun di sebuah bukit. Kakinya yang tak menggunakan alas apapun basah terkena rumput yang sudah dilabuhi embun. Ia sedikit menggigil. Dingin. Ia tak melakukan persiapan apapun sehingga ia hanya mengenakan gaun tidur flanelnya yang panjangnya hanya selutut gadis itu. Jadi, wajar saja bila ia bisa merasakan hembusan angin merasuki tubuh kurusnya.

Laki laki itu kemudian duduk di atas rumput tersebut. Masih belum menoleh. Dengan agak canggung, ia duduk disamping laki laki tersebut.

“Hai” tegur Yoona singkat dan pelan. Ia bahkan tak yakin laki laki itu mendengarnya. Tapi, ajaibnya laki laki itu menoleh.

Dan, Goal!

Laki laki itu tampan. Lebih tampan dari Robbert Pattinson atau bahkan Zayn Malik sekalipun. Matanya, hidungnya, bibirnya, wajah itu sempurna.

Ia tersenyum.

Srrrrrr

Ketika ia tersenyum, Yoona merasa ada kupu kupu yang terbang dari perutnya, menggelitik hingga telinga.

Apakah ia malaikat? Entahlah.

Yoona masih memandang penuh kagum kearah laki laki tersebut ketika sadar laki laki itu belum mengucapka sepatah kata pun.

“Who are you?” Tanya Yoona. Ia tak menjawab.

“Wer bist du?” Tanya Yoona lagi. Kali ini dengan bahasa Jerman. Tapi, laki laki itu masih belum menjawab.

“Tu chi sei?” Tanya Yoona sekali lagi Kali ini dengan bahasa Itali. Tapi, sama seperti sebelumnya, laki laki itu belum juga menjawab. Yoona menghela nafas.

“qui êtes-vous? ” Tanya Yoona untuk yang terakhir kalinya. Dan kali ini dengan bahasa Perancis. Setahu Yoona, Swiss menggunakan 4 bahasa nasional dan semua sudah ia sebutkan tadi. 7 tahun tinggal di Swiss membuatnya sedikit sedkit tahu tentang bahasa disini. Tapi laki laki ini belum bergeming sedikit pun. Sungguh Yoona penasaran.

Karena penasaran dan putus asa. Yoona memutuskan untuk menggunakan bahasa kelahirannya. Yeah, Who knows?

“Sebenarnya, kau ini siapa?” ucapnya menggunakan bahasa korea yang agak tersedat.

Da, Yup!

Laki laki itu kembali menoleh.

“Aku? Xi Luhan” Yoona terkejut laki laki itu menjawab pertanyaannya. Xi Luhan? Sebenarnya, yang Yoona maksud bukan itu. Tapi, yasudahlah tak apa. Dilihat dari namanya ia sepertinya orang China. Jadi, ia orang China yang ada di Swiss. Wow, jarang sekali. Yoona asik dengan pikirannya sendiri sampai tak menyadari bahwa laki laki itu berdiri.

Ia menunjuk ke arah bangunan bangunan di bawah bukit yang minim cahaya.

“Kota Zurich indah sekali ya?” ucapnya. Yoona hanya mengangguk. Dalam hati ia sedikit tak setuju dengan pendapat laki laki itu. Indah apanya? Membosankan iya.

“Kau..apakah kau malaikat?” Tanya Yoona tolol. Ia merasa jadi orang paling bodoh sedunia saat ini.

Laki laki itu tersenyum lagi. Kali ini hati Yoona ikut berdesir.

“Senang bertemu denganmu Yoona-ssi. Lain kali kau harus menutup jendelamu. Angin angin itu bisa membuatmu sakit. Aku pergi dulu” Setelah mengucapkan kata kata tersebut laki laki itu pergi. Yoona amsih terpaku di tempatnya.

“Luhan-ssi, jangan pergi, jangan pergi aku mohon jangan pergi” Yoona masih terus berusaha mengejar Luhan sampai tak menyadari bahwa ada batu di depannya. Gadis itu menggelinding dari atas bukit.

.

.

.

“Yoona-ya, Yoona-ya, Yoona-ya bangunlah kumohon” suara wanita yang telah melahirkannya ke dunia tersebut membangunkan Yoona. Yoona segera membuka matanya. Dengan sedikit sempoyongan ia bangun.

Ibunya memandang dengan khawatir.Ia lalu melihat ke arah jendelnya. Terbuka. Dan ternyata sudah pagi. Sinar matahari tanpa ampun masuk membuat gadis itu menyipitkan mata silau.

Mimpi? Benarkah?

“Nde, eomma. Wae?” Tanya Yoona sambil mengucek ucek matanya.

“Kau tanya kenapa? Kau mengigau menyebut nyebut nama Luhan. Kau tak sadar?” Tanya ibunya lagi.

Yoona menggeleng.

Ia berbohong. Ia sadar sepenuhnya. Ia tak merasa seperti habis bangun tidur. Ia merasa seperti telah melakukan perjalanan yang sangat jauh dan itu membuatnya lelah.

“Ais Kau ini, sudahlah. Sarapan sudah siap. Mandilah, kau harus ke sekolah bukan?” Lalu ibunya pergi. Yoona masih di tempat tidurnya.

Huft

Yoona menghela nafas berat. Benar-benar tidak seru. Hanya sampai segitu saja mimpinya tadi? Sungguh sangat gantung.

Kamarnya masih sepi, sama seperti pagi pagi sebelumnya. Yoona berjalan pelan kea rah jendela. Para tetangganya sudah mulai melakukan aktifitas mereka kembali. Setelah merasa puas, ia mengambil handuk di gantungan belakang pintu kamarnya dan keluar kamar untuk mandi.

Yah, hari benar benar harus dimulai sekarang ya? Batin gadis itu. Ia kecewa,

.

.

.

Sejak malam itu –malam yang Yoona tak bisa lupakan, Yoona tak pernah sekalipun menutup jendelanya ketika selesai dengan kegiatan memperhatikan tetangganya.

Tak pernah.

Ia berharap laki laki itu datang. Tapi laki laki itu –Xi Luhan, tak pernah datang sekalipun. Ia tak menceritakan kepada siapa siapa tentang mimpinya tersebut. Tidak kepada Michelle –sahabat baiknya, sekalipun.

Dan keyakinannya akan bohongnya mitos itu semakin kuat.

Yoona tertawa kuat setiap kali mengingatnya.

Dasar, penduduk kota tolol

.

.

.

68 thoughts on “(Freelance) Oneshot : A Window

  1. thoor,,,,,
    cuma mau mengingatkan,,,,
    hato-hati dalam pemilihan kata,,, salah-salah ada penduduk asli yg bisa baca ne ff,,
    hehe,,, tapi critanya saya suka ko’,,,,
    keepting thoor….

  2. Seru unN keren banget tapi endingnya sedikit kurang sweet. Berharap bakal ada sequelnya tapi kalau gak juga gak papa . .
    Next ff ditunggu unn jangan lama-lama fighting!!!!

  3. Ih.. Gantung.. Jadi kepo sosok luhan yang sebenarnya.. Hii.. Jangan jangan.. Lupakan..
    Ceritanya bagus kok.. Cukup berkhayal..

    Annyeong^^

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s