Storm

tumblr_nghjpsKd7H1qd4vugo1_500

 

by luckyspazzer

Yoona and Sehun as the main cast | the genre Romance, failed Horror | rated for PG13 | as long Vignette | disclaimer Cast isn’t mine

Dan kekhawatiran Sehun menjadi nyata


Astraphobia‘.

Sejak beberapa pekan yang lalu, Sehun tahu itu adalah jenis fobia yang diderita oleh Yoona. Alasan kenapa Yoona selalu menangis (atau meringkuk dibalik selimut) ketika petir menyambar. Bukan Yoona sendiri yang mengutarakannya pada Sehun, tapi Sehun berusaha memecahkannya sendiri.

“Sehun?” tanya Yoona, lalu menguap, “aku mengantuk. Tidak apa kalau aku, tidur duluan?”

Sehun tidak begitu keberatan, lagipula tidak masalah andai Yoona ingin tidur lebih dulu. “Tidak apa, lagipula—” Sehun menanggalkan ucapannya, begitu mendengar dengkuran pelan Yoona. Sehun memandang gadisnya, lalu tersenyum kecil.

Tidak begitu lama, sampai akhirnya Sehun menuntaskan pekerjaannya. Setelah memastikan bahwa pekerjaannya benar-benar sempurna, Sehun segera menyusul Yoona. “Selamat tidur,” bisik Sehun.

.

.

Pergi kemana? Ini hari terakhirku di Korea!

Aku akan menuntaskan semuanya.”

.

.

Sehun mengernyit, memandang Yoona. Baru pukul 6 pagi, dan bukan kebiasaan Yoona untuk bangun pagi-pagi. Apalagi hanya untuk meminum secangir teh hangat. Biasanya, Sehun bangun lebih dulu dan akhirnya mengguncang-guncang tubuh Yoona untuk membuatkannya sarapan.

Itu sudah menjadi rutinitas paginya.

Tepatnya, salah satu dari begitu banyak rutinitas paginya. “Ada apa, Babe?” tanya Sehun. “Apa kau mengalami mimpi buruk?”

Yoona mengganguk. Dia tampak begitu cemas, dan Sehun tahu itu, “Mimpi apa?”

“Dia datang lagi,” bisik Yoona. Suaranya bergetar. “Tapi kali ini, dia tidak sendiri, dia …” Apa Yoona sedang membual? Siapa diaDia bisa siapa saja, guru-guru, tetangga, bibi, paman, atau bahkan bisa saja orangtuanya sendiri!

“Mungkin besok dia tidak akan datang lagi,” kata Sehun, dengan nada meyakinkan. Berharap Yoona berhenti cemas. “Aku akan berangkat kerja, kau tidak ingin aku terlambat, iya, kan?”

Sehun baru saja akan beranjak mandi jika Yoona tidak menahan bahunya. “… dia membawanya. Dia membawa ingatan.”

.

.

Dia membawanya. Dia membawa ingatan.

Bagi Sehun itu konyol. Bagi Sehun, ‘dia‘ tidak lebih dari mahluk fantasi ciptaan Yoona. Atau …, rival? Sehun sebenarnya tidak mengerti apa yang terjadi dengan Yoona. Semua itu berawal seminggu sejak pernikahan keduanya, Sehun sedang menonton acara sepak bola, sedangkan Yoona sudah terlelap disampingnya.

Dan tiba-tiba saja, Yoona merintih. Dalam tidurnya. Sehun awalnya berpikir bahwa itu mungkin hanya mimpi buruk, tapi makin lama, perilaku dan omongan Yoona semakin …, aneh. Berbeda sejak pertama kali keduanya bertemu.

Sehun tahu kalau mimpi buruk itu lazim, kadangkala, Sehun juga mendapat mimpi buruk dalam tidurnya. Sehun tidak terganggu oleh rintihan dan sikap aneh Yoona, atau bahkan fobianya pada petir; astraphobia. Sejujurnya, Sehun tidak keberatan.

Tapi sikap Yoona benar-benar mengusiknya. Dan …

Apa gadis itu gila?!

Sehun mengerem mobilnya mendadak. Seorang gadis berambut hitam lebat dengan gaun berwarna merah baru saja melintasi jalan, dan gadis itu bahkan tidak peduli bahwa ia nyaris terbunuh.

Kemudian pemuda itu menjalankan mobilnya kembali, melirik kejalanan sampingnya. Memang tidak kosong melompong, tapi tidak ada gadis itu. Sehun menggelengkan kepalanya, tadi ia melamun.

Hanya halusinasi, itu pasti, yakin Sehun.

.

.

Aku menantangmu, siapa yang akan dipilihnya!

Bagus, aku suka tantangan!

.

.

“Akhir-akhir ini, sering hujan, ya?” senyum Sehun, begitu mendapati Yoona meringkuk dibalik selimut. Sehun menaruh tas kerjanya, dan sepatu. Lalu duduk disamping Yoona. “Tenang, astrophy, aku melindungimu,” canda Sehun.

Yoona mengenggam tangan Sehun, “Aku takut.”

“Iya, aku tahu.”

“Dia datang lagi.”

Dia berkhayal lagi, pikir Sehun. “Dia akan segera pergi.”

Yoona mengguncangkan tubuh Sehun. “Dia tidak akan segera pergi, dia mengincarku!”

“Itu cuma mimpi, tidak ada kaitannya dengan realita.”

“Tapi mimpiku ada kaitannya dengan realita! Kau harus ambil cuti besok!” kata Yoona. “Kumohon, hanya cuti sehari, lalu besok kau bisa berangkat kerja lagi.”

Cuti? Sehari? Desember ini, Sehun merasa dia sudah ‘cukup’ sering mengambil cuti. Sehun tidak akan berani menghadap bosnya dan mengatakan; “Bisa aku ambil cuti untuk kesekian kalinya?”, Sehun tidak mau!

Sehun menggeleng, “Aku sudah mengambil cuti ketika kau katakan bahwa ada pembunuh yang meneror. Atau ketika tiba-tiba ada lukisan darah didinding kamar; vas bunga yang pecah sendiri; atau ketukkan dipintu, tiap hujan, tiap tengah hari. Kau bilang, ‘Sehun! Sehun! Itu nyata!‘, tapi tidak ada yang terjadi!”

“Yang kali ini, akan nyata. Aku janji,” kata Yoona. Matanya berkaca-kaca, dengan rautan muka membujuk. Salah satu trik yang terampil Yoona gunakan untuk merayu Sehun. Ketika mengambil cuti dan memberikannya benda-benda branded (kadang-kadang itu gagal).

Tapi kalau itu kebohongan semata?

Sehun memantapkan pendiriannya, tidak mempedulikan Yoona yang mungkin akan menangis demi Sehun. “Tidak akan ada pembunuh atau peneror, aku janji. Kau cuma berhalusinasi.”

“Sehun! Sehun! Kumohon!” pekik Yoona, menangis.

“Cuma halusinasi, aku janji.”

.

.

Aku tidak percaya, persahabatan kalian langsung kandas hanya karena dia.

Dia bukan ‘hanya’, Vic, dia itu spesial.

Kau yakin? Apa kau tidak akan menyesal? Mulai dari sekarang, apakah kau tidak menyesal oleh ucapanmu? Kalau aku jadi kau, aku akan segera meralat ucapanku.”

Itu kau, bukan aku, Vic. Kau sadar bahwa kita berbeda, bagaikan langit dan bumi, iya, kan?

.

.

Sehun mengecup pipi Yoona, sebelum akhirnya dia benar-benar meninggalkan apartemen mungil itu. “Kau janji, bahwa ini semua akan berlangsung baik-baik saja?” kata Yoona, memandang iris gelap Sehun.

“Baik-baik saja, i promise,” kata Sehun. “Bahkan ketika aku pulang, aku akan mendapatimu memakan pizza sambil menonton drama.”

“Oke, oke,” kata Yoona, tersenyum tipis. “Aku akan melihatmu pulang, membuka pintu, sementara aku menikmati pizza yang banyak kejunya—”

“Semua pizza mempunyai banyak keju,” tukas Sehun. “Waktu berjalan, dan aku tidak mau kehilangan banyak waktu. Jadi, selamat tinggal, babe.”

Yoona melambaikan tangan pada Sehun, sementara pria itu berjalan terburu-buru dikoridor. Gadis itu menghela napas, “Semoga saja.”

.

.

Dia benar-benar, argh!

Namanya Oh Sehun, kau menyukainya? Dia memang tampan, semua orang mengakuinya.

Menyukainya? Bila kau bisa mencintainya, kenapa harus menyukainya?

.

.

Langit malam berwarna hitam gelap seperti biasa, awan putih gemuk perlahan mulai menghilang dari gelapnya malam, bulan berwarna putih cemerlang menjadi pengganti matahari. Itu sudah pemandangan yang biasa. Hujan, seperti biasanya, membasahi kota.

Tapi perasaan Sehun tidaklah biasa.

Sesuatu telah membuat Sehun cemas, membuat Sehun tidak bisa berhenti buru-buru menyelesaikan tugasnya. Tapi tampaknya itu tidak cukup membantu. Sampai akhirnya rekan kerjanya secara perlahan pergi, menyisakan—mungkin—dirinya seorang. Kantor benar-benar sunyi, setelah meyakinkan bahwa tugasnya usai, Sehun mengemas benda-bendanya yang tercecer dimeja, lalu dengan terburu-buru berjalan keluar.

Sehun tidak pernah terburu-buru itu sebelumnya.

Dan hari ini, pemuda itu benar-benar sangat tidak sabaran.

Jalanan Seoul tidak begitu ramai; atau terlalu sepi. Menyisakan sekitar lima-tujuh mobil dan beberapa orang dijalan. Sehun menggabungkan dirinya dengan mobil-mobil, dan tanpa adanya kesusahan, Sehun segera memarkirkan mobilnya diparkiran.

Pemuda itu memandang kearah langit, benar-benar gelap. Mungkin malam ini bukan malam yang sebiasa kemarin-kemarin. Langit hari itu benar-benar gelap, bahkan mungkin bila lampu-lampu padam, satu buah senter tidak akan mampu menyinari malam.

Cahaya bulan yang dikira Sehun terang (tapi bulan tidak pernah bercahaya, kan?), ternyata begitu redup. Bukan hanya cahayanya yang redup, tapi bulan tampak begitu samar. Awan-awan seperti biasanya, menjadi aksesoris langit; mungkin saja awan adalah satu-satunya benda dilangit malam ini yang normal dan lazim.

Bukan hanya benda, tapi cuaca juga begitu berbeda. Hujan memang sudah biasa akhir-akhir ini, tapi, hujan benar-benar lebat dan petir terus menerus menerjang malam. Seolah-olah, Malaikat Maut datang mencabut nyawa seseorang.

Tunggu dulu.

Yoona.

Sehun mempercepat langkahnya. Idiot! Dia lupa Yoona mengidap phobia takut pada petir—yang ia plesetkan menjadi astrophy—, apakah ia baik-baik saja?

Lift berbunyi ting begitu sampai dilantai 7. Sehun segera menelusuri koridor, dan memasukkan kata sandi pintu nomor 1177, sangat gampang bagi Sehun untuk diingat. Sebelas-Tujuh Puluh Tujuh. Lalu Sehun membuka pintu.

Bukannya TV yang menyalakan drama dan sosok Yoona yang sedang duduk diatas sofa berwarna maroon sambil memakan pizza, Sehun mendapati kekosongan diruang tamu. Sehun menaruh tasnya disofa, dan menutup pintu.

“Yoona?” tanya Sehun. “Kau …?”

Sehun membuka pintu kamarnya dan Yoona. Tolong, tolong. Kumohon jangan. Jangan! pekik Sehun dalam hatinya, jantung pria itu berdegup kencang.

Terdapat sosok yang dibungkus oleh selimut ungu kusam bekas milik Yoona, sosok itu tidak bergerak, berada diujung kasur. Mata pria itu membulat, lalu mendekat.

Tolong, tolong. Kumohon jangan. JANGAN! ulang Sehun, jemarinya perlahan membuka bungkusan itu, dia bisa merasakan bau anyir langsung keluar menyesaki ruangan itu, dalam sekejap mata. Mata pria itu basah.

Dan ketakutan Sehun menjadi nyata.

FIN

copyright © 2014 luckyspazzer

NOTE

Well, hello! Ini mungkin enggak horror. Awalnya, ini maunya jadi riddle, tapi yah, enggak jadi. Tapi kalian bisa menebak, apa yang terjadi sebenarnya dan kenapa Yoona meninggal, si ‘dia’ itu …, kalian bayangin cewek rambut hitam yang cantik—menurut kalian?

Pokoknya, buat cast cewek ini, itu member SNSD dan dia cukup dekat sama Yoona.

By the way, yang italic dan dikasih tanda petik (“), itu bisa jadi clue buat menebak.

Oke, ini enggak serem. Aku tahu. Dan ini juga enggak ada romantis-romantisnya, dan enggak masuk akal, iya, kan? Maaf kalau ada typo atau kawan-kawannya (enggak sempat cek, sori). Dan sekian, terimakasih!

luckyspazzer

29 thoughts on “Storm

  1. thooor……
    kenapa harus begini endingnya,,, hadhe hade,,,,
    ok ok…
    bagus critanya,,, bikin penasaran tanpa jawaban… hahaha
    keepting thoor

  2. Aduh… aku paling suka ama ff yg buat readersnya mikir…
    bhkn qw udh baca ini sampek 5x berturut2 biar ngerti ceritanya

    tapi ini bener2 sulit ditebak loh… yang dimaksud “Dia” itu bukan manusia ya? mksudnya ‘dia’ itu suka ama Sehun?

    soalnya ditanda petik itu, kok ada dua orang yang jelas salah satunya Vic,

    malaikat mautkah? tapi Yoona kok bisa mati? well. emg yoona phobia petir, tp kok smpek ada ‘bau anyir’ itu? Yoona bunuh diri? atau dibunuh?

    Authornim… pengen baca sequel ini lebih lanjut😀,

  3. Gak tau cast ceweknya siapa karna ada Yoona aja yang hinggap dikepala aku😀
    Mungkin Yuri? Tapi dia biasa aja wkwkwk *ditendangYurisistable*
    Apa Tiffany? Dia kan kebanyakan warna rambut *uhh* >.<
    Oke deh intinya cerita ini keren walaupun tanpa menyebutkan nama si 'dia'🙂
    Fighting!

  4. Yoong eonniiiii.. andweee..
    Ishh itukn sehun,hrusny ambil cutii..
    Eum apkh cast cwekny tiffany?
    Nth lh,tpi itu yg trlintas d pkirnku thor.hehe
    Jdi yoona mnggal krena si ‘dia’ itu mncntai sehun?
    Ngk rela jga aku yoona mggal d sni,hiks
    Daebak.. d tnggu krya lainny

  5. Aigoo, sehun ud d’blg jgn perg krja cuti ja, mlah gk mau. Akhrnya trjdi jg kan😥 gk ikhlas aku yoonanya meninggal d’sni😦
    horornya brasa sih thor,, daebak!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s