No One Realize (Pt. 3)

poster40
3

by
Clora Darlene

Main Casts
Im YoonA | Oh Sehun

Supporting Casts
Byun Baekhyun | Kim Jongin | Calista Im
Kwon Yuri | Huang Zi Tao | Others

Genre | Length | Rating
School Life | 3shots | PG-15

Before Story: No One Knows

Series: Part 1 | Part 2

[Im Yoona dan Calista Im adalah orang yang berbeda]

“Sahabat kecil?” Tanya Yuri lalu tertawa kecil. “Oh, astaga. Maafkan aku, tetapi aku tidak lagi mengerti arti persahabatan saat Yoona semenjak dua tahun lalu telah mengetahui aku mencintai Kai dan kini dengan tanpa dosanya dia berpacaran dengan Kai.”

“Apa?” Mata Sehun tak berkedip. Otaknya mendadak tidak dapat mencerna apa yang dikatakan Yuri.

“Kau pasti terkejut, bukan?” Tebak Yuri. “Oh, dan satu lagi. Underwear yang kaukatakan itu―itu bukan milikku. Bye.” Yuri segera pergi dan melangkah menjauh meninggalkan Sehun yang masih terpatung di tempatnya ia berdiri.

Otaknya tidak dapat bekerja dengan cepat dan tepat. Kepalanya kembali terasa pusing hanya untuk memikirkan mana yang benar dan mana yang salah. Astaga, kenapa begitu rumit?! Sehun mendesah pelan lalu meraih ponselnya.

Yoboseyo?”

Kau dimana?! Aku sudah menunggumu lama sekali.” Baekhyun mengomel di ujung sana.

“Aku akan segera ke sana.”

            “Oh, astaga! Kau kenapa?” Baekhyun berteriak nyaring saat Sehun muncul di hadapannya. “Kau sakit?”

“Aku hanya tidak enak badan,” Gumam Sehun tak acuh lalu menerima tasnya yang disodorkan Baekhyun. “Thanks.”

“Kau baik-baik saja?”

“Aku baik-baik saja.” Sehun tersenyum kecil lalu meninju lengan Baekhyun pelan.

“Berikan kunci mobilmu,” Perintah Baekhyun lalu menengadahkan telapak tangannya. “Aku yang menyetir.”

“Baiklah, terserah kau.” Sehun memberikan kunci mobilnya pada Baekhyun lalu segera masuk dan duduk di kursi penumpang. Ia segera menyandarkan punggungnya dan menurunkan sandaran kursi. Pusing sekali rasanya.

“Kupikir kau hanya terkena flu biasa.” Ucap Baekhyun.

Sehun memejamkan matanya dan bergurau tidak jelas. “Kupikir juga begitu.”

“Bagaimana kabar Yoona?” Tanya Baekhyun mengganti topik pembicaraan.

“Kenapa kau harus menanyakan kabar Yoona kepadaku? Kau bisa bertanya kepada Yoona sendiri.” Bantah Sehun pelan.

“Aku tidak sempat bertemu dengannya.” Baekhyun membantah balik dengan santai.

“Semakin bodoh.” Jawab Sehun akhirnya.

“Whoa, itu sangat kasar, Oh Sehun-ssi.” Timpal Baekhyun.

“Aku hanya mengatakan yang sebenarnya.”

“Kenapa kau mengatakan seperti itu?” Tanya Baekhyun berbasa-basi lalu memutar setir mobil.

“Dia begitu mudahnya percaya dengan semua kebohongan yang Kai katakan,” Suara Sehun mendadak meninggi setelah menyebutkan nama Kai. Kepala Sehun menggeleng lalu ia membuka matanya. “Dia adalah orang terbodoh pada abad ini.”

“Lalu, kenapa kau tidak memberitahu Yoona? Kau tahu bahwa Kai berbohong kepadanya.” Ucap Baekhyun.

“Sudah kulakukan,” Sergah Sehun lalu terdengar suara gertakan gigi. “Aku sudah mengatakannya kepada Yoona, tapi dia berpura-pura tuli. Aku hanya perlu membuatnya percaya kepadaku.”

“Maka, lakukanlah.”

Sehun menggeram. Ingin sekali ia menendang temannya yang satu ini. “Aku telah kehabisan akal―”

Wait,” Baekhyun menghentikan ucapan Sehun lalu menempelkan ponselnya pada telinganya. “Yoboseyo?…Aku sedang dijalanBenarkah?…Baiklah, aku mengerti…”

Baekhyun masih asik berbicara dengan seseorang di ujung sana di saat Sehun hanya melamun memandangnya lalu beralih pada ponsel silver laki-laki itu. Kening Sehun mengerut. Otaknya kini bekerja lebih cepat, ada sesuatu yang sedang dirancang di dalamnya. “Kau sangat pintar, Baekhyun­-ah.” Sehun memukul bahu Sehun dan membuat Baekhyun terlonjak lalu menatapnya.

What?”

“Aku mendapat ide.”

            “Jangan ditutup, Yoong! Kumohon, sekali ini saja.” Sergah Sehun sebelum Yoona kembali menutup telponnya.

Apa yang kauinginkan?

“Aku hanya ingin kau tidak menutup telponnya. Hanya sekali ini saja, dan silakan jika kau tidak ingin berbicara denganku seumur hidupmu.” Jelas Sehun sembari matanya mengedar mencari seorang laki-laki di sekolahnya.

Cepatlah.” Akhirnya Yoona memutuskan.

“Jangan menutupnya sebelum aku menyuruhmu. Kau mengerti?”

Cepat.” Ucap Yoona lagi yang tidak mengindahkan ucapan Sehun.

Arasseo.” Timpal Sehun lalu melangkah cepat. Ia harus menemukan Kai―secepat mungkin. Sehun menaruh ponselnya di dalam saku jaketnya lalu berjalan santai―layaknya tidak ada yang terjadi―dan menghampiri Kai.

“Sehun-ah? Tumben.” Kai tersenyum simpul mendapati Sehun mendatanginya.

“Hey, aku hanya ingin bertanya kepadamu,” Beritahu Sehun ringan. Wajahnya polos sekali―ia terlalu pintar berakting. “Apa kau akan datang ke pesta Aaron bersama Yoona?”

“Ya, tentu saja, aku akan datang bersamanya. Wae?”

Sehun membasahi bibirnya. “Hanya memastikan.”

“Kau ingin datang bersama Yoona?” Tanya Kai lagi.

“Tidak, bukan itu maksudku,” Sehun menggeleng pelan dan terkekeh kecil. “Aku kira kau akan datang bersama Yuri.”

“Yuri?” Kening Kai mengerut dan mendapat anggukkan dari Sehun. “Mengapa kau berpikiran bahwa aku akan datang bersama Yuri?”

“Entahlah, mungkin karena aku pernah melihat kalian berdua candle light dinner di Seoul Park Hyatt Restaurant.” Sehun memasukkan kedua tangannya pada saku celana yang ia kenakan dan menaikkan kedua bahunya.

“Aku dan Yuri?” Kai menunjuk dirinya sendiri.

“Awalnya, kupikir aku salah lihat, tetapi” Sehun menelan salivanya. “Saat aku melihatmu mencium kening Yuri, aku yakin itu kau dan Yuri” Sehun tersenyum lebar―oh, polos sekali rupanya seperti anak kecil yang tidak berdosa.

“Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, Sehun-ah.” Kai tertawa hambar.

“Setelah itu, aku menyempatkan diriku untuk bertanya pada Yuri―apa kalian sedang berkencan? Lalu, dia menjawab ‘Kau bisa mengatakannya seperti itu’” Sehun menirukan gaya bicara Yuri.

“Aku sungguh tidak mengert―”

“Jangan malu seperti itu, Jongin. Kita sudah lama mengenal satu sama lain, kau tidak perlu malu seperti itu kepadaku,” Sehun tersenyum lebar. “Jadi, apa itu semua benar? Kau dan…Yuri?”

“Aku hanya mencintai Yoona.” Bantah Kai.

“Oh, itu sangat manis,” Sergah Sehun lalu menjentikkan jarinya. “Dengarkan aku. Aku tidak peduli underwear siapa yang berada di dalam mobilmu, tapi level kebrengsekkanmu meningkat pesat, Jongin-ah.”

Kai mendengus. “Kau sekarang terdengar iri kepadaku.”

“Iri?” Sehun lalu tertawa keras. “Kosakatamu pasti sangat minim. Aku mengenalmu bahkan sebelum kita berdua lahir. Aku tahu siapa dirimu.”

“Jadi, siapa diriku?” Kai melipat kedua tangannya di depan dadanya dan memandang Sehun enteng. Senyum misteriusnya tergantung di wajahnya.

Sehun terdiam. Mulutnya tiba-tiba menutup rapat. Matanya menatap mata Jongin begitu dalam dan tajam. Sejenak, mereka berdua bertahan dengan keadaan seperti ini, hingga Sehun akhirnya angkat bicara dengan nada dingin. “Jauhi Yoona. Aku tahu apa yang akan kau lakukan padanya.” Oh, sialan. Ini sudah di luar dari skenario yang dibuatnya.

Kai tertawa renyah. “Apa kau sebegitu tahunya tentang diriku?”

Sehun meraih kerah baju Jongin lalu menarik laki-laki itu dengan kasar dan hampir mengangkatnya. “Jauhi dia, atau aku yang akan menjauhkan kalian berdua”

“Whoa, easy, bro,” Kai memamerkan gigi putih sempurnanya. “Aku akan segera mengakhiri hubunganku dengannya bahkan tanpa kau memintanya. Yoona bukanlah tipeku. Ambil saja dia jika kau mau. Dan masalah Yuri―ya, aku sekarang mendekatinya. Dia perempuan yang menyenangkan, namun tak kalah bodohnya dengan Yoona. Kau pasti iri kepadaku, karena aku lebih pintar merebut hati perempuan ketimbang dirimu,” Kai tersenyum. “Saudara tiriku”

“Aku tidak pernah menjadi saudaramu!” Gertak Sehun penuh penekanan.

“Oh, aku hampir lupa. The underwear, itu milik Zoe―dia adalah perempuan keturunan Amerika yang bertemu denganku di club. Dia tidak sengaja meninggalkan underwear-nya di dalam mobilku, setelah, kau tahu” Kai terkekeh nakal. “Kau sudah puas?”

Sehun menurunkan Kai dengan kasar lalu mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan layar ponselnya. Masih ada tulisan ‘Im Yoona’ pada layar. “Thanks for your attention.”

              Apa perempuan ini marah? Yang benar saja. Perempuan itu tidak menjawab telponnya.

Iris pure hazel Sehun terputar kesal.

Ia menginjak pedal remnya dan memakirkan mobilnya di depan rumah Keluarga Im. Dengan sekali sentakan, pintu mobilnya terbuka dan ia berjalan masuk ke dalam pekarangan rumah tersebut dengan santai.

“Tuan Sehun?” Seorang pelayan Keluarga Im membukakannya pintu setelah menderingkan bel.

Sehun tersenyum hangat. “Annyeonghaseyo, Bibi Kim. Apa Yoona ada di rumah?”

“Nona Yoona ada di kamarnya, Tuan.” Beritahu Bibi Kim.

“Apa aku boleh masuk?” Tanya Sehun lalu tertawa kecil.

“Silakan, Tuan,” Bibi Kim ikut tersenyum lalu memberikan Sehun akses jalan masuk ke dalam rumah. “Apa Anda ingin secangkir cokelat hangat, Tuan Sehun?”

“Bibi selalu tahu kesukaanku. Aku akan ke kamar Yoona sebentar.” Sehun masih tersenyum saat ia pergi dan menapakkan kakinya pada tangga lalu melangkahi anak tangga satu per satu. Ia berjalan santai lalu akhirnya mengetuk pintu kamar Yoona.

“Yoong?”

            Tok…Tok…

“Yoong? Yoona-ya?” Panggil Sehun.

Satu kali, dua kali, tiga kali―tidak ada jawaban. Apa perempuan itu sudah tidur? Pikir Sehun. “Yoon―Hey,” Sehun reflex tersenyum lebar saat Yoona membuka pintunya dan menampilkan dirinya. Sehun terlalu bahagia untuk menyadari pipi Yoona yang basah. “Kau su―”

“Apa kau sudah puas?” Potong Yoona pelan, namun terdengar tajam. “Apa kau sudah puas menghancurkan segalanya?!”

“Yoong―”

“Hubunganku dan Kai sudah berakhir, begitu juga dengan Yuri,” Sehun mematung saat melihat setetes air mata terjun dari mata Yoona lalu jatuh di pipinya. “APA KAU SUDAH PUAS SEKARANG?!!”

“AKU MEMPERLIHATKAN KEBENARAN PADAMU DAN KAU MASIH SAJA BUTA?!!” Bentak Sehun lebih keras. “BUKA MATAMU YOONG!”

“Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu. Jika aku tidak memberitahumu, Yuri mungkin tidak hanya akan menusukmu dari belakang tetapi juga akan membunuhmu pelan-pelan, cepat atau lambat.” Sehun berbalik lalu segera pergi.

“Tuan Sehun, cokelat panas Anda―”

“Berikan saja pada Yoona, Bibi.” Sehun segera melangkah keluar dari rumah Yoona dan menancap pedal gasnya. Pergi sejauh mungkin, entah kemana, untuk melepaskan amarahnya yang masih meluap.

              Sehun menaruh tasnya di atas bangku lalu duduk. Ia belum membuka mulutnya sedari ia bangun―semenjak semalam, sebenarnya. Ia masih tidak percaya dengan reaksi Yoona kemarin malam dan membuatnya tidak dapat tertidur.

Kesal. Marah. Semuanya bercampur menjadi satu dan membentuk, entahlah, apapun namanya yang sedang Sehun rasakan.

“Kau kenapa?”

Sehun mendongak, menatap Baekhyun yang duduk di atas mejanya seperti biasa. “Apa kau pernah merasakan, kau ingin melindungi seseorang agar orang tersebut tidak perlu merasakan sakit?” Tanya Sehun keluar dari topik pembicaraan―dan, oh, dia tidak mabuk.

“Mungkin.” Jawab Baekhyun menggantung, menurunkan nada suaranya.

“Aku merasakan kegagalannya,” Lanjut Sehun, menatap kosong manik mata Baekhyun. “Aku tidak pernah melarangnya menjalin hubungan dengan siapapun, tapi aku akan menentang jika ada seseorang yang menyakitinya.” Sehun seakan-akan berbicara pada dirinya sendiri. Tidak ada yang tahu pasti apa yang ia lihat, termasuk dirinya. Iris pure hazel-nya terus begerak, dan tidak pernah berhenti untuk melihat sebuah objek dalam waktu dua detik.

Bel istirahat berbunyi, namun Sehun masih duduk di bangkunya―kini tanpa headset dan iPod yang biasanya senantiasa menemaninya.

Lalu, hingga bel pulang berbunyi. Ia meraih tasnya kemudian segera menuju parkiran sekolah. Sudah tidak ada lagi yang perlu ia lakukan di sekolah. Sehun mengeluarkan kunci mobilnya lalu menekan tombol unlock, tetapi saat ia menengadah memandang mobil, perempuan itu berdiri di sana. Di dekat mobilnya. Dengan rambut yang digerai dan membawa tasnya yang berwarna soft pink.

Ingin rasanya Sehun berlari lalu memeluk perempuan mungil itu, tetapi yang dilakukannya hanyalah berjalan dan memasang mimik semua setidakpeduli mungkin―setelah apa yang dikatakan oleh perempuan itu semalam kepadanya.

“Apa kau bisa mengantarkanku pulang?” Pintanya.

Sehun tidak menjawab dengan cepat. “Masuklah.”

Gomawo.” Sehun dapat mendengar ucapan perempuan itu, tapi ia tidak mengindahkannya. Sehun segera menyalakan mesin mobilnya, menginjak pedal gas dan memutar setir mobil. Segera mengantar Yoona pulang―si perempuan yang kini tengah duduk di kursi penumpang di sebelahnya.

Tidak ada percakapan selama perjalanan. Pandangan mata Sehun hanya terfokus pada jalanan, sedangkan Yoona sesekali melirik Sehun. Yoona akhirnya berdehem pelan, lalu membuka suaranya. “Aku ingin berterimakasih atas cokelat panasnya dan aku ingin minta maaf kepadamu atas insiden semalam,” Yoona menimbang-nimbang kata yang tepat. “Kau benar tentang semuanya. Semuanya,”

“Apa kau tidak ingin memaafkanku?” Tanya Yoona memberanikan dirinya memandang Sehun.

“Kau bahkan marah kepadaku berhari-hari.” Tukas Sehun.

“Jadi, kau ingin marah kepadaku berhari-hari? Kau balas dendam kepadamu? Oh, astaga, apa kau perempuan? Gunakan saja rok ke sekolah mulai dari sekarang.” Yoona mulai mengomel, melupakan tujuannya bertemu dengan Sehun―meminta maaf, tentu saja.

Sehun melirik Yoona dengan kesal dan berdecak. Yoona mendengarnya, ia kemudian tertawa dan merangkulkan tangannya pada lengan Sehun. “Hey, lihatlah! Si Pangeran Asia Pacific International School ini sedang marah!” Teriak Yoona dari dalam mobil begitu girang. “Sehun-ah, kau marah?” Yoona kembali tersenyum lebar dan tiba-tiba ia mengendus Sehun.

“Apa yang sedang kaulakukan?” Tanya Sehun risih.

“Aroma parfummu berbeda. Apa kau mengganti parfummu?”

“Tentu saja. Aku tidak sudi berbagi aroma parfum dengan Kim Jongin.” Tukas Sehun.

Kim Jongin. Yoona memandang Sehun sejenak, lalu kembali membuka suaranya. “Apa benar Kai adalah saudara tirimu?”

Oh, sialan. Terkutuklah mulut ini yang menyebut nama Kai, batin Sehun. “Kau sudah tahu sendiri jawabannya”

“Mengapa kau tidak pernah memberitahuku?” Yoona merendahkan suaranya.

“Tidak ada gunanya memberitahumu.”

“Bagaimana bisa Kai menjadi saudara tirimu?” Tanya Yoona lagi. Perempuan ini terlihat bertanya-tanya sekali mengenai fakta yang satu itu.

“Aku bisa mendongengimu semalaman hanya untuk menceritakan sejarah keluargaku, seperti World History.”

“Apa serumit itukah?” Yoona lagi-lagi bertanya dengan tampang polosnya dan menarik perhatian Sehun.

“Serumit hubungan persahabatanmu dengan Yuri” Sela Sehun.

Kening Yoona mengerut. “Persahabatanku dengan Yuri tidak serumit itu. Dan, bagian mananya yang rumit?”

Sehun menghela nafas lalu mengalihkan pandangannya dari jalanan dan memandang Yoona sebentar. Sehun membasahi bibir bawahnya. “Yuri menyukai Kai, dan kau―kau berpacaran dengan Kai. Apa kau tidak memedulikan perasaan Yuri?”

Mata Yoona membulat. “Yuri masih menyukai Kai?!”

“Apa menurutmu Yuri sudah tidak lagi menyukai Kai?” Tanya Sehun balik.

“Ya!” Yoona setengah berteriak―demi apapun Yoona sangat kaget. Sungguh. “Aku kira dia tidak lagi menyukai Kai. Aku tahu bahwa Yuri pernah menyukai Kai, dia menceritakannya sendiri padaku. Tapi, itu sudah sangat lama sekali, dan hubunganku dengan Yuri beberapa bulan ini sudah tidak lagi…seperti dulu. Dan itu yang membuatku berpikir ‘mungkin dia sudah tidak lagi menyukai Kai’,” Yoona menghela nafas. Ia telah melakukan kesalahan besar, pikir Yoona. “Yuri pasti sangat marah kepadaku. Mengapa kau baru memberitahuku sekarang?!” Yoona kembali berteriak dan memukul bahu Sehun.

“Im Yoona” Panggil Sehun.

Ne?” Suara Yoona masih meninggi.

“Apa kau tidak menyadarinya?”

“Menyadari apa?”

Bahwa aku mencintaimu.

“Bahwa kau sangat bodoh sekali, Kai benar.”

“YA! OH SEHUN!”

END

64 thoughts on “No One Realize (Pt. 3)

  1. Astaga Astagaaaaa
    kenapa endingnya manisss bgt :v
    walaupun gantung tapi w yakin mereka bakal together forever hehehehehe.
    awalnya sempet gregetan sama Yoona, sempet jengkel juga dan ingin berpaling ke Calista.
    Tapi klo endingnya memuaskan kaya gini…
    Balik suka Yoona lagi deh hehe😀

  2. Woaa keren (y) . Yoong kenapa baru nyadar juga klo kai itu bo’ongin elu , yoong elu gak peka banget sehun itu ada feel ama elu elah /guling2/ .

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s