Again (Again)

ibzzRnZN4re2n2

title : Again (Again)

author : FN

cast : Yoona and one of EXO’s members

genre : sad, hurt, romace (little), angst

rating : G

note : sorry for typos

desclaimer : simple, mine

(all of them is Yoona’s pov)

—-

it never happ–or am I wrong?

—-

 Aku berdiri di balkon apartemenku memandang sejauh mataku memandang. Bulan desember dan aku yakin salju pasti juga akan segera turun. Aku hanya merapatkan jaket tipisku, tak ingin aku beranjak dari sana, aku merasa sangat menikmati angin sejuk yang menembus disetiap helai pakaian yang aku gunakan

Hari natal dan tahun baru yang akan aku jalani sendirian, seperti tahun sebelumnya dan sebelumnya. Menghabiskan dengan menikmati cokelat hangat di balkon apartemen ditemani dengan hawa dingin menusuk ke palung. Bisa saja aku menikmati waktu bersama mereka tapi—yang saat ini kuinginkan bukan mereka tapi orang lain yang sekarang aku tak tahu entah berada dimana

Aku tak bisa terus memikirkannya karena semuanya telah berakhir daripada yang aku bayangkan

Dan tak seharusnya aku masih mengharapkannya

Drrt…drrt…ddrrtt

Aku merogoh ponselku dan membaca sebuah email dari Chanyeol bahwa nanti malam kami memiliki jadwal di café Black Bullet. Aku tak membalas pesannya dan langsung melemparkan ponselku ke sofa didalam apartemenku

Tak bisakah aku mendapat ketenangan selama sehari?.

Aku kembali mengecek penampilanku didepan cermin yang ada di café yang sudah ramai pengunjung itu. Aku kembali membaca ulang lirik lagu yang akan aku bawakan nanti. All My Love Is For You-Girls’ Generation

“sudah siap?” Chanyeol melongok dari arah pintu

Aku sedikit menghembuskan nafasku dan mengangguk

“gwenchana?” Chanyeol menyentuh pundakku

Dia selalu tahu apa yang sedang terjadi denganku, “gwenchana” lirihku

“sudah 3 tahun, berhentilah memikirkannya”

Aku hanya tersenyum getir menatapnya.

Jika saja apa yang dikatakan Chanyeol mudah untuk dilakukan maka aku sudah melakukannya sejak dulu. Aku tak akan terbayang dengan lelaki itu. Semua kenangannya, semua ucapan manisnya, semua perlakuannya, sifat kekanakannya, sifat dewasanya, sifat berlebihannya, sifa—sifat—sifat—

banyak sifat darinya yang tak bisa aku lupakan

banyak sifat darinya yang tak bisa menghilang begitu saja dari otakku

banyak sifat darinya yang tak bisa membiarkan relung hatiku terbuka untuk orang lain

banyak sifat darinya yang tak bisa membuat perasaanku berhenti untuk terus berteriak ‘AKU MERINDUKANMU, BODOH’

pernah suatu ketika aku mendapatinya tengah berdiri dengan sebuket bunga mawar didepanku. Aku tak menyukai bunga dan dia sangat tahu akan hal itu tetapi dia terus memaksaku agar aku menyukai bunga karena pada lazimnya, wanita selalu menyukai bunga apalagi bunga itu berasal dari kekasihnya—itu hanya halusinasiku—itu hanya ketidakmungkinan yang selalu aku semogakan akan terjadi—tapi itu tak akan pernah terjadi karena dia tak pernah memberiku bunga disepanjang hubungan kami

aku terlalu berharap dan itu menyakitkan

aku ingat terakhir kali saat dia meninggalkanku dengan memberikan sebuah cincin couple yang memang sengaja kami gunakan bersama. Itu bukan cincin mahal berbahan permata atau emas atau bahkan berlian

itu hanyalah sebuah cincin murah yang kami beli di pinggir jalan ketika kami sedang berkencan, tak ada yang mahal tetapi itu merupakan suatu hal yang sangat berharga untukku

aku tak butuh barang berharga agar aku bisa selalu bersamanya

aku hanya butuh dia selalu bersamaku

tapi aku tak bisa melawan takdir

dia pergi dan aku tak tahu kemana dia pergi. Kata terakhir yang dia ucapkan padaku hanyalah

maafkan aku dan hiduplah dengan baik

Time Machine

Aku menangis menyanyikan lagu ini, aku mengingatnya, aku mengingat lelaki itu, lelaki yang meninggalkanku tiga tahun yang lalu

Tak bisakah dia pergi dengan membawa perasaanku?

Tak bisakah dia pergi dengan membawa semua kenangan yang dia tinggalkan bersamaku?

Tak bisakah dia pergi dengan membawa semua senyumannya yang bahkan selalu datang dalam mimpiku?

Aku tak bisa mengharapkannya kembali karena itu adalah sebuah hal yang sangat mustahil

Bukankah seseorang yang pergi tak akan pernah kembali lagi?

Setidaknya itu yang menjadi pelajaran dalam hidupku

Appaku pergi dan dia tak kembali

Nenekku pergi dan dia tak kembali

Eommaku pergi dan dia tak kembali

Aku seseorang yang terbuang sejak dulu, tak ada yang mengakuiku, aku terlantar tapi aku menemukan jalanku ketika dia datang padaku dan menawariku untuk bergabung dengan band temannya

Tidak—aku tak bisa terus seperti ini

Hidup dalam kenangan masa laluku sendiri

“Yoona?” suara Lay mengalihkan pandanganku

“kau benar-benar sangat hebat hari ini” pujinya, aku hanya tersenyum tipis dan berpamit pulang pada mereka. Setidaknya dalam pikiranku sekarang, aku membutuhkan tidur yang sangat nyenyak. Meskipun aku tak yakin aku akan bisa tidur.

Aku menatap cucianku, aku bersiap ke laundry pagi ini setelah itu aku akan berbelanja beberapa keperluanku dan malam harinya aku akan pergi ke café Peach utuk kembali bekerja seperti biasanya. Aku adalah seorang penyanyi dan aku juga menciptakan sebuah lagu untuk bandku sendiri, kadang aku bekerja sama bersama Chanyeol

Semuanya tak jauh dari kenangan dengan lelaki itu

Dia yang memberiku inspirasi selama ini, dia yang selalu membuatku tersenyum saat goresan pena milikku menggesek permukaan putih kertas. Seakan aku melihat not-not lagu yang aku ciptakan menari-nari diatas kepalaku yang kemudian aku tuangkan disana

Aku berhalusinasi bukan?

Ya. Itu sering aku lakukan ketika aku tahu semua orang mulai meninggalkanku dan harapanku satu-satunya hanyalah pada band yang sekarang aku geluti. Hanya mereka yang aku punya saat ini, meskipun aku tak terlalu terbuka dengan mereka tetapi mereka tetap memperlakukanku dengan hangat.

Brokoli, kentang, keju, yogurt, susu, kedelai, cumi-cumi, udang, sosis, cokelat, snack kentang, merica bubuk, garam, gula dan beras

Aku menatap kearah keranjang belanjaanku, aku berkata puas karena meskipun aku tinggal sendirian tanpa keluarga tapi aku masih bisa hidup dengan layak. Aku masih bisa membeli sesuatu yang aku butuhkan

“Yoona!”

Aku menoleh. Baekhyun, Lay dan Chanyeol—bersama kekasih mereka tentu saja

“sendirian?” mereka sudah berdiri didepanku, aku hanya mengangguk dan tersenyum kecil

“ingin kami temani?” tawar Yuri—kekasih Lay

Aku menggeleng, “aniyo, gumawo, aku sudah selesai dengan belanjaanku” tolakku halus.

Aku kembali berdiri di balkon kamar apartemenku, udara dingin itu kembali menusuk tulang-tulangku. Aku tak peduli, aku hanya ingin menatap langit malam dari tempatku berdiri. Tak ada yang special dengan langit itu, tak ada yang berubah hanya saja warnanya yang selalu berubah mengikuti jam selalu berganti

Aku menatap kebawah, ada yang berubah dengan penampilan apartemenku. Sebuah pohon natal berukuran raksasa dengan hiasan gemerlap yang sangat cantik berada disana. Indah. Benar-benar sangat indah

“uhuuk…uhuukk…”

Aku terlalu kuat menghirup udara malam hingga membuatku tersedak. Aku melihat beberapa orang mulai keluar dari apartemen dan berjalan-jalan bersama keluarganya . ada yang mengambil foto didepan pohon natal raksasa itu dan ada beberapa dari mereka yang keluar bersama dengan kekasihnya

Kekasih?

Aku tak punya—tapi jika berjalan-jalan saja di sekitar apartement menikmati pohon natal indah itu tak ada salahnya kan?.

Aku berpapasan dengan beberapa orang dan mereka menyapaku hangat. Mereka mengenalku karena kebanyakan dari mereka sering datang ke café Peach, Black Bullet dan Nowhere. Aku penyanyi di tiga café itu

“nona Im, selamat malam”

Aku mengangguk dan tersenyum simpul

“nona Im, apa anda akan keluar dengan pakaian seperti itu? Diluar benar-benar sangat dingin” Kim ajhussi, salah satu petugas jaga di apartement menghentikan langkahku

“aniyo ajhussi, aku hanya sebentar dan aku tahan dengan udara dingin”

Aku berjalan keluar, semua orang sibuk dengan merapatkan jaket yang mereka gunakan tetapi aku, aku hanya menggunakan jaket tipis milikku karena ringan. Jika aku menggunakan jaket musim dingin akan terasa sangat berat ditubuhku dan membuatku susah untuk bernafas

Aku berdiri tepat didepan pohon natal yang bergemerlip indah dimalam hari. Aku mengambil ponselku dan mengambil foto dari pohon itu serta menjadikannya sebagai wallpaper ponselku. Entah kenapa—perasaanku menjadi sangat tenang

Aku melipat tanganku dan merasakan sesuatu menjatuhi ujung kepalaku

“salju?” aku bergumam dan mulai mengadahkan tanganku

Benar—ini sudah kembali pada musim salju—musim dimana saat dia meninggalkanku di hari pertama salju turun—sudah 3 tahun. Benar-benar menyedihkan

Aku mulai merasakan ada seseorang berdiri tak jauh dariku, didepan pohon natal berukuran raksasa itu dan itu membuatku menghentikan aktivitasku dengan salju dan menatapnya

Sebuah jaket tebal yang menggelung tubuhnya, sepatu boot berwarna hitam, rambut berwarna hitam dengan gaya rambut Mohawk dengan tangan bersembunyi didalam mantel hangatnya

Tampan

Ma—mata itu?

Dia—dia bukan—

Dia berjalan  mendekat kearahku, pelan hingga dia berdiri tepat didepanku

Aku membeku, tubuhku terasa tak bisa bergerak, mulutku terasa kaku dan kakiku terasa berat untuk diangkat. Aku mulai merasa—kedinginan

“kau tak bisa keluar dengan pakaian seperti itu, kenapa kau tak pernah mendengarkan perkataanku, hm?”

Suaranya—tetap seperti dulu—dan—tubuhku menghangat

Aku menatapnya berdiri dengan setelan jas yang membuatnya tampak menawan tanpa mantel hitam yang sekarang sudah berganti menyelimuti tubuhku

Bau ini—aku sangat mengenalnya—bahkan sangat merindukannya

“k—kau—kau—”

“mianhe—aku meninggalkanmu selama ini” dia memelukku

“aku pergi karena aku harus menyelesaikan sesuatu”

“aku terpaksa meninggalkanmu karena—aku takut jika aku tak bisa kembali menemuimu”

“aku mengejar pembunuh appaku dan aku berhasil memasukkannya kedalam penjara”

Aku mengingat ceritanya tentang appanya. Dia tak bernasib sama sepertiku, dia hanya kehilangan appanya, appanya dibunuh oleh seseorang dan dia berjanji akan mengejar pembunuh appanya saat dia dewasa

“mianhe” lirihnya

Dan air mataku mulai turun. Aku memeluknya, terisak didalam pelukannya yang mengahangatkanku. Aku terisak dalam pelukan yang telah sekian lama tak aku rasakan lagi

Apa ini benar-benar dirinya? Apa dia benar-benar kembali?

Aku melepaskan pelukannya, aku masih belum bisa mengeluarkan sepatah katapun

Tak ada yang bisa aku katakan selain perasaan terkejutku yang sudah tergambar jelas diwajahku

“in—ini—benar—k—kau?” tanganku yang membeku mengelus pipinya yang terasa sangat hangat

Dia tersenyum. Dia menarik tanganku dan meciumnya berkali-kali juga meniupnya. Dia mengusap-usap tanganku terus menerus dan menempelkannya dipipinya

Hangat, benar-benar hangat

“kau kedinginan”

Tak ada niatku untuk menjawab, aku hanya ingin menangis

Dia kembali tersenyum, “ne, ini aku dan aku kembali. Mianhe”

Aku langsung memeluknya (lagi)—aku merindukannya dan aku mencintainya—masih sangat mencintainya hingga saat ini—perasaan itu tak bisa hilang begitu saja—aku mencintainya dan semakin membesar sampai saat ini

“masih adakah tempat untukku?”

Selalu

Aku memeluknya semakin erat, aku tak ingin melepaskannya. Aku tak ingin dia hilang lagi dari kehidupanku. Aku tak ingin dia hilang dari pandanganku. Aku tak ingin dia hilang dari setiap langkahku berjalan. Aku tak ingin kehilangan orang yang sangat berarti dalam kehidupanku (lagi)

Dan dia pasti tau dari apa yang aku lakukan padanya saat ini

“saranghae” bisiknya membalas pelukanku

“aku berjanji tak akan pernah meninggalkanmu lagi untuk sekarang dan untuk hari-hari selanjutnya” lanjutnya

“nado”.

Tao, dia kembali padaku.

END

heyaaa…akhirnya selesai xD. mian buat little freak story ini. tiba-tiba aja ini ide muncul begitu aja😀. gumawo yang udah nikmatin cerita singkat ini. gumawo yang udah ngeluangin waktunya buat baca cerita singkat ini. gumawo yang udah komen cerita singkat ini. gumawo yang udah like cerita singkat ini. pokoknya gumawo buat semuanya aja deh😀

haha…oke segitu dulu aja bye…byee😀

35 thoughts on “Again (Again)

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s