In Frame (Pt. 1)

in-frame1

IN  F R A M E

by
Clora Darlene

Main Casts
Kim Jongin | Im YoonA

Supporting Casts
Oh Sehun | Calista Im | Huang Zi Tao | Others

Length | Rating | Genre
2shots | PG-13 | School Life

postercredit; KaiHwa @ ArtFantasy1st

After Story of No One Realize The Series (Pt. 1 | Pt. 2 | Pt. 3)

[Im Yoona dan Calista Im adalah orang yang berbeda]

Yoona memacu kakinya secepat mungkin. Berlari menerobos kerumunan dan masuk ke dalam sebuah rumah besar yang terasa sesak. Tak peduli siapapun yang ia tabrak―tapi ia harus secepat mungkin bertemu dengan laki-laki itu. Oh, dadanya terasa ingin meledak. Semua perasaan menjadi satu, bercampur aduk.

Langkah Yoona memelan saat ia membuka pintu kamar tersebut. Laki-laki itu duduk di pinggir ranjang dengan rambut berwarna tembaga yang acak-acakan. Bajunya terlihat lusuh dan kepalanya ditundukan. Bahu laki-laki itu bergetar, membuat Yoona menghampiri laki-laki itu dan berdiri di hadapannya. Yoona memberanikan dirinya untuk mengelus pucuk kepala laki-laki itu, dan memanggilnya pelan nan lembut―menahan isakannya. “Sehun-ah…”

Yoona menahan tangisannya dan menggigit bibirnya, tidak membiarkan isakan itu keluar dan memperparah keadaan. Tapi, ia tidak dapat menahannya lebih lama, lalu akhirnya terdengar isakan dan air matanya meluncur tanpa hambatan. “A-Aku turut berduka…cita…”

Tangis Yoona meledak dan begitu juga Sehun. Perempuan itu menarik Sehun ke dalam pelukannya, membiarkan air mata laki-laki itu membasahi bajunya.

            Sehun tak banyak bicara selama prosesi pemakaman. Ia tampak diam selama berada di rumah duka―Yoona memerhatikannya begitu jeli. Perempuan itu selalu duduk di sebelah Sehun, menemani Sehun saat menyambut tamu atau hanya melangkah di sebelah laki-laki itu. Yoona tidak akan membiarkan Sehun sendirian, walaupun hingga saat ini tidak ada sepatah katapun yang diucapkan Sehun kepadanya.

“Tuan Sehun?” Seorang laki-laki berjas hitam menghampiri Sehun dan berdiri tegap di hadapannya.

“Ya?”

“Ada yang harus kita bicarakan, Tuan,” Laki-laki itu masih menatap Sehun. “Di luar.”

“Baiklah.” Baru saja ia ingin melangkah, tangan Yoona reflex menahannya. Membuatnya menoleh.

“Aku ikut.” Sergah Yoona.

“Ini adalah permbicaraan pribadi, Nona.” Ucap laki-laki-yang-Yoona-tidak-ketahui-namanya.

“Terserah, aku ik―”

“Jangan kekanak-kanakan, Yoong.” Potong Sehun tanpa ekspresi dan terdengar sinis pada telinga Yoona lalu melepaskan tangannya dari tangan Yoona dengan sekali sentakan dan akhirnya pergi.

Nafas Yoona masih tertahan hingga punggung yang mencoba tegar itu tidak terlihat lagi.

“Jangan kekanak-kanakan, Yoong.”

Oh, astaga. Yoona hanya ingin menemani laki-laki itu di saat Yoona tahu bahwa melangkah di masa kelam seperti ini sangat berat untuknya. Nyaris tidak mampu melangkah. Yoona berjalan lalu memyembunyikan dirinya di balik pintu. Ia tidak dapat mendengar, tapi matanya dapat menangkap Kai juga ikut di dalam permbicaraan itu.

“Yoong?”

Yoona terlonjak kaget lalu berbalik saat seseorang memanggilnya dan menepuk bahunya. “Cale?”

“Hey,” Sapa Calista pelan. Tersirat raut kesedihan pada wajahnya. “Kau melihat Sehun? Aku belum bertemu dengannya semenjak…kau tahu, maksudku.”

“Dia ada di sana bersama Kai.” Yoona menunjuk Sehun beserta Kai―beserta si orang asing, lebih tepatnya.

“Baiklah, thanks.” Calista tersenyum simpul lalu segera melangkahkan kakinya, menuju ke arah yang ditunjuk Yoona. Lagi, Yoona hanya dapat melihatnya dari kejauhan saat kaki jenjang Calista menapak tanah dan menghampiri Sehun lalu berbincang sejenak dan akhirnya memeluk laki-laki itu cukup lama.

Yoona segera memejamkan matanya dan berbalik. Menyandarkan dirinya dan menghela nafas pelan lalu membuka matanya.

Sekarang bukan saat yang tepat untuk hal cinta-cintaan, Yoong. Sehun sedang terpuruk dalam, batin Yoona.

            Yoona berjalan sendirian di sepanjang koridor. Ia baru saja kembali dari kafetaria―yang dimana ia terlihat seperti anak perempuan berponi yang hilang di tengah lautan manusia dan mencari sang ibu―setelah tidak menemukan apapun untuk dimakannya. Well, hanya masalah selera.

“Cale?” Manik madu Yoona bertemu dengan iris kelabu setelah tak sengaja melirik.

“Yoong.” Calista tersenyum ramah.

“Kantung matamu menghitam.” Gumam Yoona tak sadar seraya memerhatikan wajah Calista yang pucat dan lesu.

“Aku tidak bisa tidur semalaman.” Beritahu Calista.

Gwenchanayo?” Oh, Yoona tidak suka jika sesuatu mengusik ketenangan Calista, terutama hingga membuat perempuan ini kehilangan waktu istirahatnya.

“Aku baik-baik saja, sungguh.” Calista tertawa kecil, mencoba meyakinkan Yoona bahwa ia seratus persen baik-baik saja dan tidak seperti apa yang dipikirkan Yoona.

Yoona menghela nafas lega. Setidaknya, ia sudah memastikan, bukan? “Mengapa kau tidak bisa tidur?”

Calista menelan salivanya lalu nafasnya tertahan di dada. “Aku memikirkan Sehun. Bagaimana keadaannya, kesedihannya, kesendiriannya―aku memikirkan semuanya,” Calista membasahi bibirnya dan berujung pada menggigit bibir bawahnya. “Dan aku memutuskan untuk kembali ke rumahnya, membawakannya makan malam dan berbincang sebentar. Oh, Yoong, aku bahkan ingin menangis di hadapannya melihatnya tersenyum palsu seperti itu.”

Ya, sama denganku―aku juga ingin menangis di hadapannya karena melihatnya terus-menerus terpaksa tersenyum untuk meyakinkan semua orang di sekitarnya bahwa ia baik-baik saja.

“Kau pasti sangat mencintainya.” Gumam Yoona tanpa sadar dan terdengar oleh Calista.

“Kau sudah tahu itu.” Calista tersenyum kecil.

“Aku harus kembali ke kelas. See you, Cale.” Yoona melambaikan tangannya lalu kembali melangkah, bergegas menuju kelasnya.

“Dan aku memutuskan untuk kembali ke rumahnya, membawakannya makan malam dan berbincang sebentar…”

Langkah Yoona terhenti di depan kelas Sehun. Ia menoleh sejenak. Sehun tidak masuk hari ini―mungkin ia masih harus mengurus beberapa hal setelah pemakaman orangtuanya. Tapi, mengingat ucapan Calista membuatnya kesal. Laki-laki itu mengobrol dengan Calista, sedangkan tidak mengucapkan sepatah katapun kepadanya? Oh, astaga, Oh Sehun.

“Yoong?”

Yoona tersentak kaget. Seseorang dengan suara rendah memanggilnya dan membuatnya menoleh. “Hey, Kai.”

“Kau pasti ragu untuk menyapaku.” Tebaknya lalu menyeringai dan terkekeh pelan.

“Ah, ani,” Yoona tersenyum kikuk. “Aku tidak bermaksud seperti itu, maafkan aku jika aku menyakiti hatimu karena bersikap tidak sopan.”

“Akulah yang seharusnya meminta maaf kepadamu atas, kau tahu, perlakuanku kepadamu.” Kai tersenyum manis. Well, he’s a mannered-playboy, not bad, pikir Yoona.

Yoona menghela nafas dan akhirnya tersenyum kecil. “Aku sudah tidak memikirkannya lagi.”

“Baiklah, aku harus pergi.”

Can I ask you something?” Tanya Yoona sebelum Kai beranjak dari tempatnya berdiri.

“Tentang apa? Jika aku tahu, aku akan menjawabnya.” Ucap Kai.

“Ini tentang Sehun,” Yoona membasahi bibirnya. “Apa dia baik-baik saja?”

Kai terdiam sejenak. Keduanya beradu pandang hingga akhirnya Kai mengalah untuk mengalihkan pandangannya. “Kurasa, tidak.”

“Apa ada sesuatu yang terjadi padanya?”

“Banyak hal yang telah terjadi kepadanya semenjak kejadian itu. Aku harus pergi dulu, Yoong.” Kai melambaikan tangannya dengan senyum kecil lalu akhirnya menghilang dari hadapan Yoona. Perempuan itu masih berdiri dengan diam, memikirkan ucapan Kai.

Sehun sedang tidak baik-baik saja. Itulah kesimpulan yang Yoona dapat.

            Kai mendorong pintu rumahnya lalu melangkah masuk dengan santai.

Keadaan rumah ini begitu berbeda dari hari-hari sebelumnya. Well, walaupun memang akan selalu terasa sepi―karena biasanya orangtua Sehun akan selalu melakukan perjalanan bisnis dan hanya akan tersisa Sehun beserta beberapa pelayan―tapi ia tidak pernah membayangkan bahwa akan sesepi ini. Ada yang terasa beda dari biasanya. Dan, sebenarnya, ini bukanlah rumahnya. Ini rumah keluarga Sehun, lebih tepatnya. Sepeninggal orangtuanya, laki-laki jangkung berambut tembaga itu meminta ia dan ibunya untuk tinggal di rumah besar tersebut.

Kai melangkah menuju dapur dan menemukan Sehun tengah makan dengan diam. Ia meraih gelas lalu membuka pintu kulkas, mengambil sebotol air mineral dingin untuk menyegarkan tenggorokannya.

“Kau tidak pergi ke sekolah lagi hari ini.” Gumam Kai sembari menuangkan air mineral tersebut ke dalam gelas beningnya.

“Ada beberapa hal yang harus kuurus.” Sanggah Sehun singkat.

“Kontrak baru itu?” Sebelum kecelakaan terjadi, Ayah Sehun telah menandatangani sebuah kontrak eksklusif bernilai miliaran Won, dan kini membuat Sehun harus mengurusnya dengan tangannya sendiri.

“Kau sangat perhatian sekali.” Bantah Sehun.

Iris chestnut brown Kai berotasi kesal. Oh, astaga, apakah ia salah jika ia perhatian kepada saudaranya sendiri? “Yoona mencarimu tadi.” Beritahu Kai lalu memilih untuk meninggalkan Sehun. Ia kesal sekali, sungguh. Jika Sehun bukan saudara, ia―Kai menarik nafas panjang lalu menghelanya. Ia tidak ingin memikirkannya lagi.

Kai melirik ruang tengah rumah.

Wow.

Sangat berantakan.

Berbagai kertas dan map berserakan dimana-mana. MacBook silver milik Sehun masih menyala di atas meja dan sepertinya akan segera mati karena kehabisan baterai. Tapi, mata Kai tidak sengaja melirik sebuah map krem dengan logo sekolahnya di atas sofa―Asia Pacific International School. Ia meraihnya lalu membukanya, membaca berbagai lembaran yang berada di dalamnya dan mencernanya.

 

Name    : 오세훈 / Se Hun, Oh.

            Status : External Mutation.

 

Kening Kai mengerut. Mutasi eksternal? Kai melangkah cepat dengan tangan yang masih membawa map tersebut, kembali ke ruang makan dan akhirnya menaruhnya di dekat Sehun yang masih makan. “Kau pindah sekolah?”

“Aku tidak pindah sekolah,” Sehun menyesap green tea hangatnya. “Aku hanya keluar dari APIS.”

“Itu sama saja,” Sergah Kai lalu mendengus kasar. “Kenapa kau melakukannya?”

Sehun menghela nafas lalu menaruh cangkirnya kembali di atas meja makan tanpa suara. “Aku tidak bisa mengurus perusahaan jika aku masih sekolah. Aku sudah berkonsultasi dengan Minseok hyung dan memutuskan untuk melaksanakan long distance education. Aku tidak akan lagi pergi ke sekolah.”

(Long Distance Education: Pembelajaran jarak jauh)

Kai menghela nafas kasar lalu kembali ke kamarnya. Ia seharusnya tidak peduli dengan apapun keputusan yang diambil Sehun―bahkan tidak peduli dengan anak dungu itu―tapi, Kai sadar bahwa beban yang ditanggung Sehun dipundaknya kini begitu berat. Beban yang belum tentu bisa ia tanggung di pundaknya sendiri. Laki-laki itu sudah mulai mengambil beberapa langkah untuk meringankan apa yang dibawanya hingga masa mudanya habis kelak.

            Hari ini tepat satu minggu Sehun tidak kembali ke sekolah. Well, Yoona menghitungnya. Ia telah mencoba menghubungi Sehun banyak kali, tapi tak satupun panggilannya terjawab. Sangat menyebalkan sekaligus membuat Yoona bertanya-tanya.

“Hey, kau melamun?”

Yoona terlonjak saat seseorang menepuk bahunya dari belakang dan akhirnya berjalan bersamanya di sebelahnya. “Oh, hai. Kau mengejutkanku.”

Kai tertawa kecil. “Maafkan aku.”

Yoona tersenyum kecil. “It’s okay.”

“Kau kembali berpacaran dengan Yoona, Kai?” Huang Zi Tao yang dengan tidak sengaja berpapasan dengan mereka bertanya dengan nada mengejek.

“Pergilah kau.” Kai memukul bahu Tao lalu keduanya tertawa.

“Selamat!” Teriak Tao keras lalu kembali terdengar tawanya dari kejauhan.

“Jangan dengarkan dia.” Gumam Kai membuka pembicaraan.

Yoona hanya tersenyum kecil. “Sehun juga menyuruhku untuk tidak mendengarkannya.”

Kai menaikkan kedua bahunya. “Sehun benar.”

Yoona membasahi bibirnya, ada satu pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada Kai. Ia menimbang-nimbang apakah lebih baik ia tanyakan atau ia diam saja. Satu detik kemudian, perasaan ingin tahunya tak dapat dibendung lagi, akhirnya Yoona kembali membuka mulutnya. “Mengapa Sehun belum kembali ke sekolah?”

Kai memandang Yoona. Mulutnya belum terbuka untuk menjawab pertanyaan Yoona―di saat ia tahu jawabannya. “Kai?” Panggil Yoona lalu menghentikan langkahnya.

Kai menghela nafas. “Sehun tidak akan kembali ke sekolah lagi.”

Mata Yoona membulat. “Apa maksudmu?”

“Eksternal mutasi.” Jawab Kai singkat, tapi Yoona langsung mengerti makna di baliknya.

“Kau yakin?” Suaranya meninggi dan menatap mata Kai intens. Matanya masih belum berkedip, takut jika ia berkedip nanti, ia masih berdiri di tempatnya sekarang dan memandang Kai―tersadar bahwa ini nyata.

Sehun tidak akan pernah lagi datang ke sekolah ini.

“Aku telah melihat berkasnya,” Gumam Kai lalu bel masuk berbunyi. “Kita harus masuk kelas.”

Yoona meraih lengan Kai saat laki-laki itu baru mau beranjak pergi dan akhirnya Kai kembali menoleh memandangnya. “Kudengar sekarang kau tinggal di rumah Sehun. Apa aku bisa ikut bersamamu saat pulang nanti?”

            “Thanks.” Yoona tersenyum kecil saat Kai membukakannya pintu mobil dan ia beranjak keluar dari mobil.

Anytime.” Timpal Kai ringan.

Oh, demi langit dan tanah, Kai adalah mantan kekasihnya dan mengapa mereka begitu terasa canggung? Mereka telah menghabiskan banyak hari bersama-sama sebelumnya, dan sekarang―Yoona hanya bisa menghela nafas. Mungkin karena faktor ‘insiden telepon’ itu, pikir Yoona.

“Selamat Sore, Tuan Kim.” Seorang pelayan membukakan pintu rumah.

“Bibi Ahn?” Senyum Yoona mengembang saat mengenali wanita paruh baya tersebut.

Bibir wanita itu juga tak kalah manisnya memamerkan senyumnya. Matanya berbinar bahagia bertemu Yoona―perempuan yang dulu sering sekali bermain di rumah ini bersama Sehun. “Annyeonghaseyo, Nona Yoona.”

“Sudah lama sekali aku tidak pernah bertemu dengan bibi.” Yoona tertawa kecil. Setelah berbincang sejenak, Kai mengajaknya masuk lebih dalam. Well, tidak ada yang berubah dari rumah ini, batin Yoona. Semuanya masih sama seperti terakhir kali ia datang.

“Tuan Sehun ada di ruang makan, Tuan, Nona.” Beritahu Bibi Ahn.

Gomawo, Bibi.” Yoona kembali tersenyum, membuat Kai meliriknya.

“Kau terlalu sering berterimakasih dan meminta maaf.” Kai berkomentar.

Yoona menolehkan pandangannya. “Bukankah itu wajar?”

Kai menunjuk Yoona. “Tidak untukmu, Nona Muda,” Kai memalingkan wajahnya dan melihat punggung Sehun―laki-laki itu tengah menikmati makanannya sendirian. “Yoona ingin bertemu dengammu.” Beritahunya.

“YA! Oh―” Nada tinggi Yoona tiba-tiba terpotong saat Sehun membuka suaranya.

“Aku sedang tidak ingin menerima tamu.”

Yoona membungkam mulutnya dan terkaget. Tamu? Yoona adalah seorang tamu? Yoona adalah temannya, sahabatnya, dan kini Sehun menyebutnya sebagai ‘tamu’? “Dia hanya ingin bertemu denganmu.” Ucap Kai.

“Tapi, aku tidak ingin.”

“Temui dia.” Titah Kai tegas.

Sehun akhirnya bangkit dan berbalik. Ia membalas tatapan mata Kai tak kalah tajamnya. “Harus kukatakan berapa kali agar kau dengar?” Tanya Sehun.

“Bisakah kau menghargai tamumu sendiri?” Tanya Kai balik.

“Bisakah kau menghargai keputusanku bahwa aku sedang tidak ingin menerima tamu?” Sehun sedang tidak ingin kalah berdebat kali ini. Terlalu egois. Sehun akhirnya melangkah pergi, namun Yoona meraih lengannya dan membuatnya berbalik. Rahangnya tiba-tiba mengeras dan garis rahangnya menegas―Yoona menyadarinya.

“Apa benar kau akan pindah?” Tanya Yoona menatap iris pure hazel Sehun dalam.

Cukup lama mereka beradu pandang. Tidak ada satu dari mereka yang ingin mengalah ataupun kalah. “Apa itu penting untukmu?”

“Mungkin.” Elak Yoona.

Sehun melepaskan lengannya dari cengkraman tangan Yoona dengan sekali sentakan kasar dan keras, berhasil membuat Yoona terlonjak dan meringis kesakitan. “Ya, aku akan pindah. Kau sudah puas?”

“A―”

“Pertanyaanmu sudah kujawab. Kau bisa keluar,” Potong Sehun. “Sekarang!” Suaranya tiba-tiba meninggi dan menunjuk pintu rumahnya.

“YA!” Teriak Kai.

Sedetik, Yoona membeku di tempatnya berdiri. Ujung jarinya mendadak bergetar kecil tanpa alasan. Nafasnya tertahan di dada, tidak bisa ia hela. Siapapun, tolong, ia tidak bisa bernafas. Yoona tersenyum getir. “Go..mawo.” Lalu ia melangkah pergi dengan jantung yang mati rasa.

            Kai berdiri di hadapan adik tirinya itu. Di dalam iris chestnut brown-nya ada api yang mengibar merah. Tangannya mengepal emosi. “MENGAPA KAU MENERIAKINYA?!”

“JANGAN MENERIAKIKU!” Balas Sehun tak kalah besar.

“Apa-apaan kau tadi? Yoona datang ke sini untuk menemuimu!”

“Tidak bisakah kau hanya berterimakasih kepadaku karena aku mengizinkanmu tinggal di sini dengan ibumu itu dan menanggung tanggung jawabmu sebagai pemilik aset perusahaan setengahnya?” Sehun menatap mata Kai intens. Tidak ada dari kedua iris laki-laki itu yang bergerak.

“Terimakasih atas apa yang telah kau lakukan kepadaku,” Ucap Kai. “nae dongsaeng.” Kai akhirnya melangkah pergi. Membanting keras pintu rumah hingga tertutup dan berlari mengejar Yoona.

Dan, persetan dengan hujan ini.

“Yoong!”

“Yoong!”

“Hey,” Kai menghadang jalan perempuan itu. Keduanya sudah sama-sama basah, tapi Yoona terlihat lebih menyedihkan. Oh, ayolah, Sehun bertindak tidak sopan kepadanya dan sekarang ia harus berhujan-hujanan seperti ini. “Akan kuantar kau pulang―”

Yoona mencoba tersenyum kecil di saat bibir tipis pink-nya itu sudah mulai membiru. “Aku akan…pulang sendiri.”

Kai meraih tangan Yoona lalu menariknya. “Keputusan yang sangat bodoh.” Kai menarik perempuan itu hingga masuk ke dalam mobilnya dan ia pun juga ikut duduk di balik kemudi. Kai meraih jaketnya yang berada di kursi penumpang belakang lalu menyodorkannya pada Yoona.

“Aku baik-baik saja.” Gumam Yoona.

“Aku tidak menanyakan keadaanmu. Pakailah.” Perintah Kai.

Yoona menggeleng pelan. “Ani, kau saja.”

“Aku kepanasan.” Elak Kai lalu tertawa kecil dan menutupi badan depan Yoona dengan jaket marun kesukaannya.

“Sehun benar, you are a mannered-playboy.” Canda Yoona lalu mengundang tawa Kai lagi.

“Terimakasih atas pengapresiasiannya,” Kai menyalakan mesin mobil lalu mulai mengendarainya. “Tapi, aku bukan playboy. Aku hanya mampu membuat para perempuan nyaman denganku tanpa embel-embel ‘playboy’.”

“Semua laki-laki akan berkata seperti itu.” Iris madu Yoona terputar.

“Kau tidak percaya? Wow, itu sebuah kesalahan besar, Yoong.” Timpal Kai.

“Aku mengetahui dirimu, Kai-ssi.”

“Jadi, siapa diriku?” Tanya Kai ringan.

“Saudara tiri Sehun?” Jawab Yoona ragu dan terdengar seperti sebuah pertanyaan.

“Ya, lalu?” Kai memutar setir mobilnya.

“Sehun tidak pernah menceritakanku tentang hubungan darah antara kau dan dia.” Yoona tanpa sadar mengalihkan topik pembicaraan. Tapi, ia memang benar, bukan? Sehun tidak pernah menceritakannya apapun tentang hubungannya dengan Kai. Yang ada hanyalah Sehun yang selalu menjelek-jelekkan Kai di depannya. Dan kini, Yoona bertanya-tanya akan hal tersebut.

“Dan sekarang kau berharap aku menceritakannya kepadamu?” Tanya Kai balik lalu menginjak pedal rem di depan pagar rumah Keluarga Im.

“Aku akan memintanya kepadamu.”

Alis kiri Kai terangkat dengan sebuah senyum misterius yang tersungging. “Bagaimana jika aku tidak memberimu?”

“Aku akan membuatmu memberikannya kepadaku,” Balas Yoona ringan dengan sebuah senyuman yang tak kalah misteriusnya dan wajah yang menggoda, lalu akhirnya ia tertawa keras. “Sudah kukatakan, aku mengetahuimu, Kim Jongin-ssi. Terimakasih karena telah mengantarkanku.” Yoona melambaikan tangannya lalu keluar dari mobil Kai dan segera masuk ke dalam rumahnya.

            “Buka buku kalian, Chapter 6―Ancient Rome and Early Christianity, section 4―The Fall of the Roman Empire.” Beritahu Miss Gracie di saat Yoona masih memandang jendela dengan butiran hujan yang terjun dari ketinggian sana.

Yoona menghela nafas lalu membuka buku. World History biasanya akan menjadi pelajaran kesukaannya di setiap Hari Kamis seperti ini, tapi, untuk pagi ini tidak. Dan untuk pagi seterusnya―tidak.

“Ya, aku akan pindah. Kau sudah puas?”

Ia sudah tidak lagi menemukan alasan mengapa ia harus pintar di pelajaran World History ini. Ia tidak lagi menemukan semangatnya untuk datang ke sekolah. Semuanya terasa aneh semenjak ia tidak ada.

Di saat alasannya itu sudah pergi.

“Yoona-ssi?”

Yoona menengadah saat Miss Gracie memanggilnya. “Ne?”

“Apa kau melamun?” Oh, Miss Gracie terlalu benci dengan muridnya yang melamun selama pelajarannya berlangsung.

Ani,” Yoona tersenyum kecil. “Kurasa, mataku kelilipan. Apa aku bisa izin pergi ke unit kesehatan, Miss?”

Miss Gracie terdiam sejenak, lalu melirik arlojinya. “Sepuluh menit.”

Yoona bergegas berdiri. “Thank you, Miss.” Lalu berjalan keluar kelas. Ia menghela nafas lega saat berhasil keluar dari malapetaka―Yoona menyebutnya seperti itu.

“Permisi, Nona.” Seorang pramubersih menyapu di sekitar Yoona dan membuat debu itu berterbangan di sekitarnya.

Dan, “Oh, shit.” Umpatnya saat sesuatu masuk ke dalam matanya. Yoona reflex mengucek matanya, namun yang ada hanyalah matanya terasa perih. Yoona setengh berlari menuju unit kesehatan dengan satu mata yang tertutup. Yoona merasakan jari-jarinya basah akibat air matanya yang keluar.

Bruk!

“Maafkan aku.” Ucap Yoona cepat-cepat.

“Kau baik-baik saja, Yoong?” Yoona menengadah saat pertanyaan itu dilempar untuknya. “Kau menangis?” Tanya Kai lalu melangkah lebih dekat, memperhatikan mata Yoona.

“Aku hanya kelilipan―Aw!” Yoona setengah menjerit saat matanya kembali terasa perih dan panas lalu setetes air mata meluncur dari matanya.

“Kuantar kau ke unit kesehatan.” Kai menuntun Yoona hingga masuk ke dalam unit kesehatan dan mendudukannya pada pinggir ranjang. Yoona duduk dalam diam―well, sebenarnya ia sedang mengumpat di dalam hatinya dan bertanya-tanya apakah ini yang disebut dengan ‘karma’ karena telah berani membohongi gurunya―hingga Kai kembali menghampirinya dengan membawa obat tetes mata dan menyuruhnya membuka mata.

Yoona mencoba membuka matanya pelan, namun malah air matanya yang keluar dan kembali perih yang ia rasakanya. “Aku tidak bisa. Terlalu perih.” Ucap Yoona.

“Pelan-pelan, Yoong,” Kai mengingatkan dengan lembut. “Aku tidak bisa meneteskan obatnya jika kau tidak membuka matamu.”

Yoona menelan salivanya dengan susah payah lalu mencoba membuka matanya, walaupun sangat pelan sekali. Dengan cepat Kai meneteskan obat yang berada di tangannya setelah Yoona berhasil membuka matanya.

Thank you.” Ucap Yoona sembari mengedipkan matanya dengan cepat, mencoba membersihkan pandangannya.

“Kau harus membayarku untuk ini.” Gumam Kai lalu menyeka obat tetes mata yang membasahi pipi Yoona. Well, mungkin ia terlalu banyak meneteskan obat tersebut.

“Bukankah kau berhutang penjelasan kepadaku?” Alis kiri Yoona terangkat. “Mengenai kau dan Sehun beserta hubungan darah kalian.”

Kai berdecak. “Aku menyesal bertemu denganmu, Yoong.”

            “Pergilah lebih dulu, aku harus mengurus sesuatu.” Beritahu Kai.

Yoona menyipitkan matanya. “Kau tidak akan kabur begitu saja, bukan?”

“Kau terlalu banyak menonton drama.” Tangkas Kai.

Yoona menaikkan kedua bahunya. “Baiklah, aku tunggu kau di atas.” Yoona menaiki elevator lebih dulu lalu berdiam seraya elevator bergerak naik. Kemudian Yoona melangkah keluar setelah pintu elevator terbuka. Baru beberapa langkah memasuki restaurant tersebut, seorang perempuan yang ia kenal memenuhi pandangannya.

Kwon Yuri.

“Yul?” Senyum Yoona mengembang lebar, bahkan matanya berbinar bertemu sahabatnya yang satu ini. “Aku senang sekali bertemu denganmu di sini. Kita sudah lama sekali tidak bertemu.”

“Ya, tentu saja, kau terlalu sibuk mengurus hubunganmu dengan Kai.” Tukas Yuri tak tanggung-tanggung.

Yoona yang awalnya tersenyum cerah, kini senyumnya sudah tak tampak lagi. Berubah menjadi raut bersalah. “Aku minta maaf atas…aku tidak bermaksud menyakitimu. Sungguh. Jeongmal mianhae, Yu―”

“Yoong?” Yoona dan Yuri bersamaan menoleh pada sumber suara. Ada sosok Kai tengah berjalan menuju Yoona dan ikut berdiri di hadapan Yuri. Raut wajah laki-laki itu mendadak berubah―terkejut. “Yuri?”

tbc

44 thoughts on “In Frame (Pt. 1)

  1. Knpa Sehun kesanny jdi jahat sma Yoona disini… Skrng Sehun jdi dingin bnget ke Yoona tpi ke Calistany engga.. -_-

  2. Woaa sehun , sehun ayo jangan berubah pikiran wehh , sehun dingin banget ama yoonaa. , hiks hiks , gua ga rela /plakk/

  3. Belum ada lanjutannya kaah?? Ayooo saengi d lanjuut,,penasaraan sm sikap sehun,,apa alesannya dy berubah spti ituu?? Dn kai gag sprti yg sehun bilang dg menjelek2annya,issshhh penasaraaan akuuut…ada hub apa kai dn yuri?kok smpe kaget gtu kai nyaa? Ayooo saengi semangaaatt!!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s