(Freelance) Married Without Love (Chapter 4)

poster ff

Married without Love

 

By                   : DeerBurning

Main Cast        : Im Yoona SNSD, Wu Yi Fan a.k.a Kris

Other Cast       : Oh Sehun, Kwon Yuri as Im Yuri, Choi Soo Young, Park Chanyeol.

Genre              : Marriage life, romance, comedy.

 

Sorry for typo(s)…

Enjoy it….

 “Yoona POV”

“Oppa sudah bangun?” Aku melihat Kris berjalan mendekat, rambutnya masih basah, sepertinya dia baru saja selesai mandi. Penampilannya pagi ini tidak seperti biasa, yang selalu terlihat rapi, ia terlihat sedikit acak-acakan, tapi aku berani bersumpah, dengan keadaannya yang seperti ini Kris menjadi dua ah bukan, bukan hanya dua tapi berkali-kali lipat lebih tampan dari biasanya. “oppa mau kopi?”

“boleh.”Kris berjalan menuju lemari es, megambil sebotol air mineral dan meneguknya separuh. “kau memasak?”

“hem..” gumamku sebaga jawaban.

“Ahjumma tidak datang?” Kris duduk di kursi meja makan. “kau yakin akan memasak?” Aku dapat mendengar nada keraguan di setiap kalimat yang keluar dari bibirnya.

“Ahjumma cuti, beliau harus menjaga suaminya.”

“suaminya sakit lagi?”

“heem, sepertinya begitu. Dan mulai sekarang aku akan menjalankan peranku sebagai istri.”

Aku berjalan kearah Kris dan menaruh satu piring dihadapannya, lalu mengambil tempat di seberang pancake madu. Ini sangat baik untuk menambah energi oppa.”

“apakah ini hal terbaik yang bisa kau lakukan?” Kris menatapku. Mendorong piring dihadapannya. “kita harus makan nasi untuk sarapan.”

“haruskah makan nasi? Oppa tahu madu sangat baik untuk tubuh, dan hal terpenting adalah, kita tidak memiliki bahan makanan. Jadi, makanlah apa yang sudah aku buat untuk oppa.”

“bukankah masih ada beras?” Kris menatapku.”dan.. kimchi? Kau bisa membuat sup kimchi untuk sarapan.”

Kudongakkan kepalaku hingga bisa menatapnya penuh. Kukerutkan keningku tidak yakin. “apakah… Oppa yakin mau memakan masakanku?” menunggu reaksinya.

“wae? Kau tidak bisa memasak?”

Aku hanya bisa merigis. “bukan begitu.. Hanya saja.. Aku.. Aku.. Aku hanya tidak yakin jika perutmu akan baik-baik saja setelah memakan masakanku.”

“kau benar-benar tidak bisa memasak?”

Aku hanya bisa mengangguk sebagai jawaban.

Kris mendengus tak percaya. “bagaimana bisa, kau seorang wanita dan kau? Kau tidak bisa memasak?”

“eomma tidak pernah membiarkanku menginjak dapur, apa lagi menyentuh pisau. Eomma benar-benar akan marah jika aku melakukannya.”

Kris meremas rambutnya frustasi. “oh God! Berapa usiamu Im Yoona? Kau bukan anak kecil yang akan dengan mudah melukai dirimu sendiri hanya dengan memegang pisau,” Kris mengacak rambunya kasar. “Bagaimana bisa eomma menikahkanku dengan gadis seperti ini?”

Kris mengangkat kepalanya. “baiklah, tidak usah kimchi jjiggae, cukup buatkan aku nasi goreng kimchi. Tidak sulit kan?”

Oh ya tuhan. Aku akan melakukan apapun, mencuci, menyetrika bahkan membersihkan seluruh ruangan dirumah ini, asalakan tidak memasak. Bukan karena aku tidak suka memasak, hanya sajaa.. Aku benar-benar tidak bisa melakukan hal itu. “oppa..” panggilku lirih.

Kris berhenti sejenak sebelum berhasil meninggalkan meja makan, lalu menoleh kearahku. “wae?”

Aku hanya bisa meringis. “bisahkah kau… Memasakkan nasinya?”

 

Yoona POV end

.

.

 

 

 

Author POV

Selesai mecuci piring dan peralatan dapur Yoona menyusul Kris yang sedang asik menonton tv. Ia mendudukkan bokongnya disamping Kris sambil membawa keripik kentang ditangan kiri, sedangkan tangan kanannya membawa se cup es krim rasa coklat.

“geser sedikit oppa.” Yoona meletakkan keripik ditangannya.

Dengan berat hati Kris sedikit menggeser tubuhnya tanpa bersuara.”apa masakanku enak?” Tanya Yoona tanpa menoleh sedikitpun. Matanya masih terkunci pada sosok didalam benda persegi panjang yang berada dihadapannya.

“apakah kau menumpahkan garam kedalamnya? Kau tahu, lidahku sampai tak bisa merasakan rasa asin. Garam nya benar-benar berubah menjadi pahit. Apa kau sengaja ingin meracuniku?” Kris menatap Yoona geram. Ia begitu serius menceritakan rasa dari masakan Yoona, tapi apa? Lihatlah gadis ini tak memandang apa lagi mendengarkannya.

“Im Yoona.. Yoong.. Yoona! Kau tak mendengarkanku?” Kris memanggil-manggil nama Yoona, ia geram karena tak segera mendapat respon darinya, sebenarnya ingin sekali Kris mengganggu Yoona, tapi lihatlah bahkan Yoona tak menghiraukannya sama sekali. Pandangan Kris mengikuti arah pandang Yoona, ‘sebenarnya apa yang menarik dari benda persegi panjang itu hingga gadis ini tak menghiraukanku’ batin Kris kesal.

Chocolater muda berwajah menawan yang sekali lagi berhasil mengharumkan nama Korea. Bukan hanya memiliki wajah dan senyum yang rupawan, keahliannya membuat coklat tak bisa dipandang sebelah mata, ia kembali memenangkan perlombaan pembuatan coklat yang diadakan di Swiss.”

Klik.

Yoona melongo, ia sedikit panik ketika dengan tiba-tiba channel berubah, ia mencari-cari remot untuk segera memindah channel, lalu ia memandang tajam kearah Kris, senyum yang sedari tadi terpampang diwajahnya memudar seketika.

“wae?”

Yoona langsung naik keatas sofa dan mencoba menubruk tubuh Kris hingga jatuh. “apa yang kau lakukan?” Tanya Kris bingung.

Yoona semakin brutal. Ia tetap tak mau menyerah untuk merebut remot yang berada digenggaman Kris. “apa yang aku lakukan? Oppa bertanya apa yang sedang aku lakukan? Baiklah aku akan menjawabnya..” Yoona menggigit lengan kanan Kris hingga ia menjatuhkan remot itu kelantai.

“ya! Kau gadis gila!” teriak Kris kesakitan.

Dengan segera Yoona mengganti channel untuk mencari berita yang sempat terpotong berkat ulah Kris. Tapi nihil. Sepertinya berita itu telah selesai, karena sekarang hanyalah iklan sabun mandi yang berada dilayar tv.

“Ya! Kris Wu!” Yoona berteriak kalap. Ia terus memukul Kris kesal.

“ya ya ya! Im Yoona apa yang kau lakukan?”

.

.

.

 

”kau terlihat semakin kurus Yoong,” Kata Chanyeol pada Yoona. Siang ini Chanyeol mengunjungi butik untuk mengantarkan makan siang. Ia tahu betul jika saat ini kekasihnya Soo Young dan Yoona sangat sibuk menyiapkan fashion show pertama Yoona, dan ia tahu betul jika sudah seperti ini, dapat dipastikan dua sahabat itu akan melewatkan waktu makan mereka. “apa kau ingin dirawat dirumah sakit lagi?”

“aku rela dirawat dirumah sakit lagi, asalkan oppa yang akan merawatku. Ingat aku tidak akan melewatkan kesempatan untuk dirawat dokter setampan oppa,“ Yoona terkekeh geli, ia memang sudah terbiasa melontarkan hal manja seperti ini pada Chanyeol, bahkan ia tak sungkan melakukan hal itu di depan banyak orang. “kekasih oppa lebih kurus dariku. Lihatlah dia terus tumbuh keatas, semakin hari tubuhnya semakin memanjang.” Yoona mengalihkan pandangannya pada Soo Young yang sedikit merengut karena pernyataan Yoona tadi.

“tetapi semua orang iri dengan kakiku yang jenjang. Kau harus catat itu rusa nakal.” Balas Soo Young tak terima.

Chanyeol meletakkan sumpitnya dimeja, lalu melipat kedua tangannya didepan dada. Ia tahu bahkan ia hafal, jika sudah seperti ini pasti mereka akan berdebat habis-habisan. Benar-benar kekanak-kanakan. Dan seperti ini lah dia, Chanyeol hanya akan menonton adegan ini sampai habis, toh jika sudah seperti ini tak akan ada salah satu dari mereka yang mau mengalah. Yoona dan Soo Young, mereka berdua sama. Sama-sama berkepala batu.

“aku rasa aku benar-benar menyesal telah mengenalkan eonni pada Chanyeol oppa.. Eonni benar-benar seperti nenek sihir.”

“Mwo? Apa kau bilang? Nenek sihir?”Soo Young masih mencoba menahan amarahnya yang sudah sampai di ubun-ubun.

“ne.. Apa kau tidak dengar? Kau mirip nenek sihir. Kau hanya bersikap baik dihadapan kekasihmu saja.” Yoona menjulurkan lidahnya, menambah amarah Soo Young.

“Ya! Im Yoona! Kau benar-benar..”

Drrtt.. Drrtt..

Yoona segera mengambil ponselnya yang bergetar, lalu menaruh tangannya didepan wajah Soo Young, menginteruksinya untuk diam. Walaupun Soo Young berhasil diam, tapi hal itu malah semakin membuat ia merasa kesal dengan sikap Yoona.

yeobosseyo. Sehun-Ah! Wae geurae?” Tanya Yoona berbinar. Tak biasanya Sehun menghubunginya dijam sibuk seperti ini. Karena Yoona tahu betul, Sehun adalah seorang jaksa, dapat dipastikan ia selalu sibuk dengan kasus-kasus kejahatan yang memang ironisnya semakin marak di negaranya.

“—“

“kau mau ke butik? Benarkah?” Bangkit dari tempat duduk. Menyeruput orange juice yang beberapa detik lalu masih berada diatas meja. “baiklah aku akan menunggumu. Hati-hati Sehun-ah.” Lalu berteriak girang setelah memastikan sambungan teleponnya telah benar-benar terputus.

“Siapa? Sehun?” Tanya Chanyeol setengah menyelidik. Yoona hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, lalu kembali melanjutkan acara makannya yang sempat tertunda akibat perdebatannya dengan Soo Young. “Oppa.. Kau tahu buah jeruk yang dibawa Yuri eonni dari bulan madunya di Jeju?”

Chanyeol terlihat mengingat-ingat sesuatu. Buah jeruk? Yuri? Bulan madu? Jeju? Ia tak yakin jika ia mengingatnya.

“jeruk yang kau bawa kebutik 2 tahun lalu? Yang kau gunakan untuk mengerjaiku?” Soo Young angkat bicara.

Yoona meringis. Ia ingat dulu ia sempat mengerjai Soo Young dengan jeruk itu, walau berakhir dengan membelikan obat mag untuk sahabatnya itu, tapi ia benar-benar puas karena telah berhasil menyalurkan hobi jahilnya pada Soo Young. “eonni ingat?”

“bagaiamana aku bisa lupa?” Soo Young sedikit geram mengingat kejadian itu. “wae? Kau ingin mengerjaiku lagi?”

Anieyo!” Yoona mebantahnya cepat. “Kenapa eonni selalu berfikir negatif tentangku? Aku tidak sejahat itu.” Protes Yoona tak terima. Walau memang pada kenyataannya Yoona jahil, tapi ia tak akan mengulangi hal yang membahayakan seperti itu lagi.

“lalu? Kau ingin mengerjaiku?” kini Chanyeol ikut membuka suara.

anieyo oppa.. Walau aku ingin, tapi aku tidak akan melakukannya.”

“Ya! Jadi kau juga ingin mengerjaiku juga?” teriak Chanyeol. “Aish.. anak ini. Jadi kenapa kau menanyakan itu?”

“apakah jeruk itu hanya bisa didapatkan di Jeju? Aku menginginkannya oppa.”

“Kau menginginkannya?” Koor Chanyeol dan Soo Young. Mereka berdua saling bertukar pandang. “wae? Kau sedang mengidam?”

Kedua mata Yoona melebar mendengar pertanyaan yang terdengar lebih mirip dengan pernyataan itu. Dengan segera ia membantahnya. “Ani! Kenapa aku harus mengidam?”

“karena kau sudah menikah bodoh.” celetuk Soo Young.

Tak ingin kalah dari kekasihnya kini Chanyeol ikut menggoda Yoona. “waah.. Dongsaeng kesayanganku sedang mengidam rupannya. Haruskah aku menghubungi suamimu? Aku harus memberi tahukan berita bahagia ini.” Chanyeol mengeluarkan ponsel dari saku celananya.

“hubungi saja pria es itu. Aku tidak perduli.” Jawab Yoona acuh, lalu kembali menyuapkan potongan kimbab kedalam mulutnya.

“wae?” Chanyeol mencondongkan tubuhnya, lalu menepuk keningnya “ah.. Aku lupa, bahkan sampai sekarang Kris belum menyentuhmu sama sekali.”

Yoona nampak geram. Ingin rasanya ia memukul pria dihadapannya ini, tapi apa yang dikatakan Chanyeol memang benar, dan dia.. Yoona tak ingin terjebak dalam permainan Chanyeol, ia tahu betul apa yang akan tetrjadi jika dia menanggapi celotehan bodoh oppanya itu. Sungguh, ia tak ingin tejebak dalam permainan sepasang kekasih ini. “terserahlah..” Jawab Yoona acuh.

Tok.. tok.. tok…

anyyeonghasseyo..” sapa seseorang didepan pintu ruang kerja Yoona.

“Sehun-Ah!” teriak Yoona girang. Ia tak menghiraukan Chanyeol dan malah berlari kearah pintu dan membukakannya untuk Sehun.

“selalu saja.” Desah Chanyeol.

“oh.. annyeonghasseyo. “ Sehun membungkukkan tubuhnya. “Hyung disini rupanya. Sudah lama tak bertemu, bagaimana kabarmu hyung?”

Chanyeol berdiri untuk membalas salam Sehun.“baik, kau sendiri bagaimana? Sepertinya menjadi jaksa membuatmu semakin sibuk.”

Yoona mengambil alih kantong plastik dari tangan Sehun, menaruhnya diatas meja lalu mulai mengorak abrik isi didalamnya. “bento? Lagi? Aku baru saja memakan kimbab Sehun-ah.” raut kecewa nampak diwajahnya.

Sehun mendudukkan diri di samping Yoona. “aku baik hyung, menjadi jaksa memang sedikit menyita waktuku, tapi aku menikmatinya.” Sehun tersenyum tulus.

“kau harus pintar menjaga kesehatan Sehun.”

Sehun tersenyum membalas perhatian yang diberikan oleh Chanyeol, yang memang sudah ia anggap sebagai hyung nya sendiri.

“aku sudah makan nasi, haruskah aku makan nasi lagi? Aku bisa gendut.”

“aku tidak tahu kalau kau sudah makan. Seharusnya tadi kau bilang ingin memakan apa nona Im.” Sehun mengacak rambut Yoona gemas. Melihat itu Chanyeol dan Soo Young hanya saling bertukar pandang.

“apa kalian sedang berkencan?” celetuk Chanyeol.

“apa terlihat seperti itu hyung?” reflek Sehun mengacak-acak pelan rambut Yoona. Lagi.

Yoona menatap tajam kearah Chanyeol. “sekali lagi kau bicara seperti itu, aku akan memukulmu.” Yoona mengangkat majalah dihadapannya dan siap untuk memukul Chanyeol. Seperti sudah terbiasa, Chanyeol menaruh kedua tangannya diatas kepala untuk melindunginya.

Ia kembali memeriksa isi kantong plastik dihadapannya. “oh..jjajjangmyeon?” teriaknya girang.

Sehun mengambil alih cup ditangan Yoona dan menggantinya dengan sebuah kotak makan. “kau harus makan nasi nona Im. Jjajjangmyeon tidak baik untuk kesehatanmu.“

Yoona memicingkan matanya tidak suka. “lalu.. untuk apa kau membawanya kesini, jika aku tak boleh memakannya?” balas Yoona ketus dengan tetap berusaha merebut kembali jjajjangmyeon ditangan Sehun.

Sehun membuka bento yang khusus ia bawakan untuk Yoona, mengambil tempura didalamnya dan menjejalkan kedalam mulut mungil Yoona. “ini lebih enak dan baik untukmu. Dan untuk ini..” Sehun membuka kertas pebungkus sumpit dan menariknya hingga terbelah menjadi dua bagian. “untukku. Soo Young dan Chanyeol Hyung” Sehun mencampur saus kacang hitam, lalu menyuapkan jjajjangmyeon kedalam mulutnya.

Yoona melotot, sebenarnya ia ingin sekali memakan jjajjangmyeon, tapi ia tahu Sehun sama keras kepalanya dengan dia. Jadi tak mungkin Sehun akan memperbolehkannya untuk menyentuh apalagi memakan benda bersaus hitam itu. “arrasseo.. aku akan memakan ini.”

Sehun tersenyum puas mendengar jawaban Yoona.

omo omo omo.. Apa yang kalian lakukan? Kalian benar-benar berkencan?” Teriak Soo Young.

anieyo..” Jawab Yoona cepat.

Berbeda dengan Yoona, Sehun malah tersenyum dan mengangguk.”Ya! Kenapa kau membantahnya nona Im?”

Yoona sedikit bingung mendengar jawaban Sehun. ‘Kencan apa? Siapa yang kencan dengan siapa? Jangan bodoh Oh Sehun.’jerit Yoona dalam hati.

“kau tidak ingin mengakuinya? Kau mematahkan hatiku.”

Blush..

Pipi Yoona sedikit merona. “ya.. Oh Sehun apa yang kau bicarakan?”

“sepertinya Yoona bahagia dengan jawabanmu. Lihat pipinya memerah.” Chanyeol menunjuk wajah Yoona dengan sumpit. “kurasa Yoona menyukaimu.”

“Ya! Oppa apa yang kau bicarakan?!” Yoona masih mencoba menenangkan suasana.

Sehun menaruh sumpitnya dimeja. Mengunyah seluruh makanan dimulutnya, dan dengan perlahan ia mulai membuka suara. “seingatku tidak ada pasal yang menyatakan cinta itu melanggar hukum, aku benar kan?”

Hening.

Channyeol, Soo Young dan Yoona terdiam. Mereka masih mencerna perkataan Sehun beberapa detik yang lalu. Apakah seorang Oh Sehun benar-benar menyukai, ah maksudku mencintai Im Yoona?

 

Author POV end

.

.

.

Kris POV

Hari ini aku pulang lebih awal. Meeting dengan salah satu desainer yang dijadwalakan pukul 6 sore nanti telah dibatalkan karena alasan pribadi yang entah itu apa. Dan hari ini, aku benar-benar free. Semua pekerjaanku telah selesai sejak pukul 3 tadi.

Drrrt.. Drrtt..

Alis kiriku terangkat ketika membaca nama yang tertera di layar ponselku. “eomma?”

yeobosseyo. Wae eomma?”

“Kris-ah.. Dimana Yoona?”

Yoona? Kenapa eomma meneleponku jika ingin mencari Yoona? Apakah eomma tidak memiliki nomor ponselnya? “Yoona? Sepertinya dia belum pulang. Ada apa eomma mencari Yoona?”

Aku berjalan kearah sofa dan mendudukkan tubuhku diatasnya. Rasanya lebih nyaman.

“besok malam kami akan berkunjung kerumah kalian. Jadi pastikan kalian menyiapkannya dengan baik.”

“kami?” aku sedikit bingung dengan kata kami. Apakah appa dan eomma atau abeonim dan eommonim juga yang akan kemari.

“ne.. Kami, appa, eomma, kedua mertuamu serta kakak sepupumu, Yuri dan Jong In.”

“wae? Kenapa kalian kesini? Bukankah eomma tahu jika aku dan Yoona sangat sibuk akhir-akhir ini?”

“ya! Anak nakal. Setelah kalian berdua menikah, kami belum mengunjungi kalian sama sekali, dan kalian? Kalian juga tidak pernah mengunjungi kami.”

“kami sibuk eomma.”

“eomma tidak mau tahu, eomma hanya ingin tahu besuk kami datang kesana dan semua sudah siap. Arra?”

Klik. Eomma sudah lebih dulu menutup sambungan teleponnya sebelum aku sempat mengajukan protes padanya. Jujur, sebenarnya ada sedikit perasaan tak enak yang menggangguku. Eomma pasti sedang merencanakan sesuatu, tidak mungkin eomma mengajak makan malam dirumah, apa lagi dirumah kami. Aku yakin, appa belum bangkrut hingga tak kuat untuk menyewa restoran untuk acara makan malam keluarga. Dan lagi, restoran di hotel appa memiliki menu yang tak bisa dianggap remeh. Makanan disana benar-benar lezat, hal itulah yang menjadi salah satu alasan hotel appa masih berjaya hingga saat ini.

Aku mendengar seseorang membuka pintu depan. “aku pulang.” Ternyata gadis ini sudah pulang. Aku melirik jam dinding besar diatas tv. Pukul 6 lebih 17 menit, dan dia baru pulang?

“oh oppa sudah pulang rupanya.” Yoona berjalan menghampiriku.

“hem.. Dan kau? Baru pulang?”

Yoona meletakkan tasnya dimeja, lalu menjatuhkan tubuhnya diatas sofa, ia sedikit menggeliat sebelum menjawab pertanyaanku. “aku harus mempersiapkan fashion show pertamaku bulan depan, jadi aku sangat sibuk oppa. Dan oppa?”

“pertemuan dengan klien dibatalkan, dan seluruh pekerjaanku sudah selesai.”

Yoona hanya ber Oh ria sebagai jawaban.

Ah aku ingat. “eomma baru saja menghubugiku.”

“eommonim? Wae geurae?” selalu, memotong pembicaraanku.

“dengarkan dulu Yoong.”

Yoona hanya meringis, lalu mengangguk menurut. “hehe, mian.”

“eomma baru saja menghubungiku, eomma bilang besuk malam mereka akan mengunjungi kita.”

“mereka?”

“hhsstt.. Dengarkan dulu, aku belum selesai.” Lagi, dia hanya meringis.”appa, eomma, eommonim, abeonim, Yuri, Jong In dan Mungkin Minji. Eomma bilang akan kemari mengunjungi kita sekaligus makan malam disini, itu artinya kita harus menyiapkan makan malam untuk mereka. Apa kau tahu maksudku?”

“kenapa harus disini? Tidak biasanya..”

Yoona bangkit dari sofa dan menyambar tasnya cepat. “kau mau kemana?” aku menarik lengannya, mencegahnya untuk pergi.

“aku mau ganti baju, bukankah artinya kita harus berbelanja?” Yoona melepaskan cengkraman tanganku dilengannya.

Benar juga, kenapa kau bisa seceroboh ini Kris. Runtukku. “aku akan memasak oppa.” Aku menatap Yoona tak percaya. Bukan, bukan seperti itu. Tapi.. Bukankah kalian juga mengetahuinya? Yoona memasak? Apakah dia mau membakar rumahku ini? Aku masih ingat dengan jelas, kemarin pagi dia mencoba untuk membuatkanku sup, tapi apa? Dia merebus sup itu hingga airnya habis dan hangus, seandainya aku tak segera pergi kedapur mungkin rumah ini sudah terbakar. Tidak tidak, aku akan membiarkannya berbelanja, tapi tidak untuk memasak.

“biar aku yang memasak. Kau… Cukup ganti baju, dan kita berbelanja.”

Aku bisa menangkap raut kecewa diwajahnya. “wae? Kau takut aku akan menghanguskan dapur?”

Aku menghela nafas berat. “menghanguskan rumah lebih tepatnya.”

 

Kris POV End

.

Yoona POV

Gerbang besar timur, Dongdaemun terlihat. Ada lebih dari dua puluh gedung mall berdiri dikawasan Dongdaemun. Aku melirik pria yang berada disampingku, ia masih diam, sama seperti sebelumnya. Sepertinya pria ini masih sebal padaku. Kejadian beberapa saat yang lalu, benar-benar membuat moodnya turun dan mendiamiku.

Sebelum berangkat berbelanja, kami sempat bersitegang, Kris menentang keinginanku untuk berbelanja di pasar tradisional, ia menginginkan untuk berbelanja di swalayan, selain lebih praktis jarak dari rumah kami ke swalayan tidaklah sejauh ke pasar tradisional. Sebenarnya bukan tanpa alasan aku menginginkan berbelanja dipasar tradisional, selain bisa mendapatkan seafood yang masih segar, harga di pasar tradisional jauhlah lebih murah jika dibandingkan dengan di swalayan. Apa pria ini lupa? Dia hampir bangkrut dan harus rela menikah denganku untuk mendapatkan donasi dari ayahnya serta ayahku. Dan aku? Aku baru saja menghabiskan seluruh tabunganku untuk mengambil alih butik. Awalnya butik itu dibangun dengan uangku dan Soo Young, tapi sekarang butik itu telah resmi menjadi milikku.

Sebenarnya aku sedikit terganggu dengan wajah masamnya, tapi aku tak perduli, aku tetap tersenyum senang. Sungguh hari ini aku ingin sekali menyantap makanan tradisional di Dongdaemun.

“oppa masih marah?” Kris tak menjawab, ia malah mengarahkan pandangannya kesembarang arah. Menghindari kontak mata denganku. “oppa benar-benar masih marah? oppaa..” aku mengeluarkan jurus andalanku, seperti biasa aku akan merengek ketika dalam keadaan seperti ini. Aku tidak tahu, hal ini akan mempan atau tidak pada pria es ini, yang jelas hal ini menjadi jurus terampuhku ketika bersama eonni dan oppadeul.

“bersikaplah dewasa Im Yoona. Kau sudah tua.” Kris oppa menghentikan langkahnya dan memandangku tajam.

“aku akan terus bersikap seperti ini jika oppa masih marah padaku.”

Kris tak memandangku sama sekali. Ia bahkan berjalan mendahuluiku dan meninggalkanku sendiri. Aish bagaimana bisa seorang pria bersikap seperti itu? “oppa tunggu aku..” teriakku yang tak bisa meghentikan langkah penjangnya.

.

Hari sudah mulai gelap, tapi pasar Dongdaemun justru semakin ramai. Banyak gang yang berisi warung makanan. Warung makan daging ayam dan ikan panggang sangat terkenal di Dongdaemun. Pasar Dongdaemun pada malam hari diwarnai cahaya lampu neon yang mewah. Suara keras para pedagang yang menawarkan dagangannya, terdengar agak berisik. Namun, justru terlihat sebuah kehidupan rakyak yang akrab.

“oppa, bisakah kita berhenti sebentar?” teriakku, kali ini Kris berhenti, berbalik dan menatapku sebal. Tidak, tatapannya lebih sebal dari yang pertama tadi. “aku ingin makan itu?” aku menunjuk sebuah kedai kecil yang menjajakan Ho ddeok. Ho ddeok dengan kayu manis dan gula sangatlah enak. Fikirku.

“bukankah kau sudah makan tteokpokki dan soondae?”

Aku hanya meringis,lalu berlari kearah kedai Ho ddeok dan membelinya beberapa.

.

Malam ini aku tidak mengajak Kris makan di warung-warung yang sejak tadi ramai oleh suara pedagang yang menjajakan dagangannya. Aku membawanya ke restoran kecil yang menjajakan masakan tradisional khas Korea, aku tahu Kris sangat menyukai makanan tradisional dibandingkan makanan western, oleh sebab itu aku mengajaknya kemari. Dari luar restoran tercium aroma masakan yang sangat lezat, dan hal itu berhasil membuat air liurku nyaris berceceran.

“duduklah. Oppa mau makan apa?”

Kris menatapku bingung, ia tidak tahu tempat ini mejajakan apa dan tiba-tiba aku bertanya ia ingin makan apa. Kris hanya mengangkat bahu, bingung.

“mau coba kimchi jiggae?”

Sup pedas yang direbus dalam panci bersama kimchi dan air cabai dari kimchi. Sup yang berisi sawi putih, daun bawang, tahu, lobak, dan makanan laut atau daging, benar-benar pas dimakan saat malam hari seperti ini.

“kichi jiggae? Boleh juga.”

“very spicy kimchi jiggae?”

no!” Kris menyilangkan kedua tangannya didepan dada.

wae?”

“aku tidak bisa makan makanan yang terlalu pedas.”

“baiklah..” aku mengalah.

“Ah! Tunggu!”

Aku kembali berbalik saat mendengar Kris memanggilku. “wae?”

“jangan seafood. Aku ingin kimchi jiggae dengan daging.”

Alis kiriku terangkat. “baiklah.” Aku kembali berjalan ke meja tempat pemesanan.

Tidak lama kemudian semangkuk besar kimchi jiggae tersaji. Asap kecil megepul. Aku menyuapkan sesendok nasi lalu sesendok kimchi jiggae kedalam mulutku. Tidak terlalu pedas, tapi enak. Cukup untuk menghangatkan tubuhku yang sedikit mengigil.

Aku bersukur, sepertinya semangkuk kimchi jiggae ini berhasil membuat mood Kris sedikit membaik. Thanks kimchi jiggae..

 

Yoona P.O.V end

.

.

.

 

Author P.O.V

“wow.. sup ini benar-benar lezat,” puji nyonya Im. “Kris, apakah kau yang membuatnya?”

Kris mendongakkan kepalanya ketika mendengar nyonya Im menyebut namanya. “Ah, ne eommonim. Apakah rasanya sesuai dengan selera anda?” Sebenarnya Kris tidak begitu yakin dengan rasa masakannya. Besar di Amerika membuatnya lebih sering menyantap masakan western, tapi berkat kecintaannya terhadap masakan tradisional, membuatnya tak lupa akan cita rasa masakan khas negaranya.

“hem.. Tentu saja. Aku merasa bersyukur memiliki menantu sepertimu. Yoona memang bukan gadis yang sempurna, dia ceroboh, pelupa dan tidak pandai memasak, dia juga tidak pandai melakukan pekerjaan rumah, tapi aku yakin, perlahan,dia pasti bisa menjadi istri yang baik untukmu. Jadi, aku titipkan Yoona padamu, tolong jaga dia.”

Kris berdiri dan sedikit menunduk untuk memberikan penghormatan. “tentu saja eommonim. Seharusnya aku yang berterimakasih kepada anda, karena telah mempercayakan Yoona kepadaku. Dia sungguh gadis yang manis.” Kris merangkul pundak kanan Yoona dan sedikit meremasnya hingga Yoona meringis.

Yoona tertawa canggung, sedikit merasa perih karena cengkeraman dipundaknya. Dan sebenarnya dia juga terkejut, sungguh ia tak menyangka jika pria disampingnya ini sangatlah pintar berakting, bahkan ia sempat mengira jika suaminya ini adalah seorang aktor. Sangat berlebihan mungkin, tapi melihat kealamiannya sungguh tak ada yang menyangka jika Kris sedang berakting. “haha, aniyo. Aku sedang belajar untuk menjadi istri yang baik untuk Kris oppa.”

“jangan sungkan nyonya Im, justru kamilah yang seharusnya berterimakasih karena telah merelakan putri cantikmu untuk putraku yang dingin ini. Senyum manisnya sungguh bisa membuat suasana disekitarnya menjadi ceria.” Kali ini Nyonya Wu lah yang memberikan pujian kepada Yoona, ia menggenggam tangan Yoona dengan lembut, sorot matanya menunjukkan ketulusan yang luar biasa.

“ah.. Kenapa suasananya menjadi seperti ini? Bukankah ini hari yang bahagia? Sangat jarang kita bisa berkumpul seperti ini. Jadi buatlah suasana menjadi gembira,” Tuan Im mengangkat gelas berisi anggur tinggi-tinggi. “sekarang, mari kita bersulang untuk kebahagian kita semua.”

Semua orang berdiri, mengikuti apa yang tuan Im lakukan. Mengangkat gelas anggur mereka tinggi-tinggi dan menyatukannya hingga menimbulkan bunyi yang sedikit memekakkan telinga. “bersulang.” Teriak mereka bersama.

.

“Yuri-ah, berapa usia Minji sekarang?” Tanya nyonya Wu kepada Yuri.

Setelah acara makan malam berakhir, mereka semua menyepatkan diri untuk bersantai bersama. menikmati acara Tv dan memakan beberapa kudapan sambil berbincang ringan.

“hampir 3 tahun imo. Aku rasa dia tumbuh menjadi gadis yang sehat.” Yuri tak menyangka, kini ia sudah menjadi seorang ibu dari anak yang cantik seperti Minji. Terkadang ia hampir menangis jika mengingat perjuangannya dulu untuk menikah dengan Kim Jong In suaminya. Walau bukan anak dari seorang pengusaha atau politikus kaya, tapi Jong In punya segalanya, ia memiliki pesona yang tak dimiliki oleh pria lain didunia ini. Semua perhatian dan ketulusannya kepada Yuri lah yang akhirnya membuat kedua orang tua Yuri dan Yoona luluh.

“dan aku rasa dia juga cantik sepertimu.” Puji tuan Wu.

animida. Yoona bilang Minji cantik sepertinya.” Membuat tawa semua orang.

“eonni, kapan aku bilang begitu.” Sebenarnya Yoona tidak memungkiri, bukan sekali atau dua kali ia mengatakan hal seperti itu, tapi sungguh ia tak serius mengatakan hal itu. Ia tak bisa memungkiri kecantikan kakaknya Im Yuri, tapi ia terlalu gengsi untuk mengakuinya.

“kau sering mengatakannya Yoong.” Kali ini Kim Jong In atau Kai lah yang ambil suara.

“Ya! Kim Jong In!” Yoona memandang tajam kearah Kai tak terima.

Nyonya Wu hanya bisa terkekeh geli melihat sikap kekanakan dari menantunya. “Kau benar-benar gadis yang manis Im Yoona, aku benar-benar merasa beruntung bisa memiliki menantu sepertimu,” nyonya Wu memeluk tubuh Yoona. Ia merasa terhibur dengan sikap manis dan polos Yoona. Sudah lama ia menginginkan seorang anak perempuan, walau kenyataannya takdir berkata lain. Tuhan hanya memberikannya dua orang putra, Wu Yi Fan dan adiknya Wu Yi Tao yang lebih memilih menikah dan tinggal di Cina untuk mengurus hotel milik ayahya di sana. Tapi sungguh, demi apapun dengan kehadiran Yoona sudah cukup bisa membuat hatinya terhibur. “lalu…” ia menggantungkan kalimatnya. “kapan kalian akan memberikan adik yang tampan untuk Minji?”

Sederet kalimat itu berhasil membuat Yoona mematung. Dan Kris, reflek menghentikan aktifitas meminum soda dalam genggamannya. Jika saja ia tak mengontrol dirinya, saat ini dapat dipastikan ia sudah terbatuk-batuk akibat tersedak. “ne?” ucap Yoona dan Kris bersamaan.

“kapan kalian akan memberikan adik untuk Minji?” ulang Yuri setengah menggoda. Sebenarnya ia sudah tahu jika hal ini akan terjadi, bahkan kalau boleh jujur, Yurilah yang merencanakan semua ini. Ia tak tahan karena Kris yang belum juga menyentuh adiknya. Oleh sebab itu ia bekerja sama dengan eomma dan nyonya Wu untuk berkunjung kerumah Yoona dan memaksanya untuk segera memberikannya keponakan.

“ne?” ulang Yoona.

“benar.. Kapan kau akan memberikan kami cucu?” kali ini nyonya Im yang bersuara. “aku merasa kasihan pada Minji, ia begitu kesepian. Aku rasa ia membutuhkan adik untuk dijadikannya teman.”

Kris sedikit mengerang. Sebenarnya ia sudah mengira hal ini terjadi, tidak mungkin secara tiba-tiba appanya yang sibuk bersedia meluangkan waktunya yang berharga hanya untuk mengunjunginya dan Yoona. “Kris, segeralah berikan kami cucu. Bahkan adikmu Tao sudah memilikinya.”

Kris sedikit gugup, tubuhnya menegang. Ia harus berfikir cepat untuk memberikan jawaban yang tepat agar eomma tak menuntutnya terus menerus. “kami sedang berusaha!” refelek, jawaban itu mencul begitu saja dari mulutnya.

“ne?” Yoona memandang tak percaya kearah Kris. ‘apa yang pria ini bicarakan?’ batinnya. ‘apa aku tak salah mendengar?’

“benar, kami sedang mengusahakannya eomma, eommonim. Jadi aku harap bersabarlah. Lagi pula, kami berdua masih terlalu sibuk, terlebih Yoona, satu bulan lagi fashion show pertamanya.”

“benarkah?” jawab nyonya Wu meyakinkan.

“ne eomma.”

“apakah itu benar Yoona?” kali ini tuan Im yang meminta jawaban.

“N.. Ne.. Ne Appa. Kam.. Kami sedang mengusahakannya.” Yoona tertawa canggung. Ia mengambil segelas orange juice dan meneguknya separuh, mencoba menetralkan degup jantungnya yang mulai tak beraturan. ‘apa yang kau bicarakan Im Yoona? Mengusahakan apa? Menyentuhmu pun tak pernah.’ Runtuknya dalam hati.

“kalau begitu kami sangat menantikan hal itu terjadi. Kami harap, kalian akan melakukannya dengan segera.” Harap tuan Wu.

“ne abeoji.” Jawab Kris mantap.

 

Author P.O.V End.

.

.

.

Yoona P.O.V

Hari ini begitu melelahkan. Setelah acara makan semalam, aku langsung mengerjakan sketsaku yang sedikit tertunda karena harus menyiapkan acara keluarga semalam. Aku menguap dan sesekali meregangkan otot-otot ditubuhku yang mulai terasa kaku.

“jam berapa ini?” aku melirik jam tangan di tangan kananku. ‘omo! Sudah jam 2?’ lagi, aku melewatkan jam makan siangku. Sungguh dalam keadaan seperti ini, perutku tidak pernah berontak lapar, sehingga hal ini akan selalu terjadi. Melewatkan jam makan siang bahkan makan malam.

Aku mendorong kursiku kebelakang, berdiri dan meregangkan otot-otot tubuhku yang kaku. Dengan sesekali menguap, menarik kedua tanganku keatas dan menariknya kekanan dan kekiri. “Omo!” aku terlonjak kaget saat menyadari ada seorang pria yang tengah berdiri menatapku dengan senyum manis yang terukir diwajahnya.

“oppa?!”

.

.

Kkeut!

 

Hay hay…

Aku kembali lagi. Adakah yang menantikan FF ini? Atau bahkan uda pada lupa kalau ad ff ini? Keke~

Sebelumnya aku mau minta maaf karena keterlambatan yang berlebihan ini, dan untuk readers yang uda mau ngerelain waktunya buat baca ff in,aku mau ngucapin banyak-banyak terimakasih *Bow.

Mungkin banyak readers yang kecewa sama part ini, mungkin ga sesuai keinginan, ga asik, ngebosenin dan sebagainya. Disini aku cuma mau jelasin, mungkin di part ini konfliknya masih sedikit atau bahkan enggak ada, karena aku pengennya nunjukin kehidupan rumah tangga YoonKris dulu, dan kemungkinan besar di chap berikutnya baru muncul konflik-konflik dan tentang masa lalu Yoona dan Kris. Dan untuk poster? Haha, mian aku emang ga bias buat poster yang bagus-bagus, dan akhirnya.. Yaudah deh, ngambil foto Yoon/Kris aja..

 

Dan untuk terakhir..

Leave ur comment please…

 

55 thoughts on “(Freelance) Married Without Love (Chapter 4)

  1. Wah kenapa yoona ngk bisa pegang piso.mungkin golok kali ya.tapi aku juga salah satu readers yang setuju yoonkris buat anak.

  2. Pdhl cocok bgt jd kakak adek tp no.. Mdh2 nnti di chap slanjutnya yoonkris bs slg jtuh cinta n bneran “sdang brusaha” dpt anak…kkk

  3. maaf ya…tp menurut aku ceritanya msh terlalu flat…mungkin di chapter selanjutnya konfliknya akan semakin menggigit bukan berarti engga bagus lho,ini juga baru chapter 4,wajar saja kalau konfliknya belum begitu terlihat…semangat terus ya….

  4. aku baca ff ini dr chap.1 smpe chap.4 ini dari bangun tidur
    lumayan lah untk penambah semangat pagi ni, n aku jga koment dlm wktu yg berdekatan biar skalian. heeee (sorry ya author bru bisa komen skrg)

  5. ……….

    sempet lupa sama ini ff *tbh 😀
    kurang moment YoonKris, jadi suka acuh tak acuh sama ffnya *tbh ✌
    kalo di liat2 sih banyaknya yoona sehun, dan itu pun romance lagi..
    ada luhan.. makin2 nanti romance nya di mereka lagi 😭

    tapi aku tetep baca ko, cuma to be honest aja suka di skip kalo lagi yoona sehun moment ><✌

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s