(Freelance) Oneshot : Can’t You Turn Back

1504039_786332688050142_1517522057_n - Copy

Can’t You Turn Back? (Yoona version)

By. FLYers

Cast : Im YoonA | Xi Luhan

Genre : Romance-Fluff-Sad

Rating : 15+

Happy Reading! Hope yu like it ^^

***

            “Maaf…”

Dapat kurasakan mataku memanas detik itu juga. Satu kata yang baru terucap dari bibir tipismu seakan memperjelas segalanya. Aku bergetar hingga tanpa sadar aku melangkah mundur membentur dinding pembatas atap gedung. Udara malam yang begitu dingin membuatku seakan membeku di tempat. Suasana sunyi semakin memperkelam keadaan di sekitarku. Bahkan dentuman music dari Bar di lantai bawah tak terdengar seperti biasanya –ada apa dengan malam ini?

Hatiku hancur hanya karena sebuah kata ‘maaf’ darimu. Sebuah kata singkat yang sungguh bagaikan godam besar yang dalam sekejap menghancurkan segalanya. Memberiku sakit yang entah bagaimana cara mendeskripsikannya.

Aku tertunduk, membiarkan setetes cairan bersuhu hangat itu lolos dari mataku –melewati pipi kiriku dan berakhir di rahang bawahku sebelum menghilang bersama angin malam yang tak memberi kesempatan bagiku untuk merasakan kehangatan.

Deti demi detik terus berlalu dan tak ada satupun dari kita yang mengeluarkan suara, hanya deru kendaraan yang terdengar samar dari kejauhan di bawah sana. Keadaan yang seakan mengerti kebekuan yang melanda. Rambutku yang tergerai menari seirama arah angin yang berhembus –dan kau masih berdiri di hadapanku.

“Maafkan aku, aku pergi” kau berucap pelan –terlampau pelan hingga membuatku merasa ragu dengan pendengaranku sendiri. Bolehkah aku berharap untuk tuli di saat ini juga?

Aku mendongak, menatap punggungmu yang mulai menjauh. Kedua tanganku mengepal kuat di kedua sisi tubuhku yang semakin mendingin dalam balutan mantel putih hadiah darimu.

Semudah itukah kau pergi?

Takkah kau memikirkan aku yang kau tinggal di sini? Tinggal bersama memori-memori indah yang selama 3 tahun ini kita ukir bersama? Takkah kau memikirkan itu? ataukah kau memang telah menghapus segala tentang kita?

Berbaliklah, kumohon …

Tak dapatkah kau berbalik? Berlari padaku dan mengatakan kau masih mencintaiku, selalu dan selamanya? Seperti apa yang sering kau ucapkan padaku dulu –seharusnya seperti itu.

Tanganku dengan cepat bergerak mengusap jejak cairan di pipiku. Jika kau tak akan berlari padaku, maka izinkan aku untuk berlari padamu. Jika kau tak akan mengucapkan kata cinta padaku, maka izinkan aku untuk mengucapkan kata “Aku mencintaimu” –sedikit gila, namun itulah yang ku pikirkan.

Dan benar saja, tubuhku bergerak pasti meski hatiku belum mengiyakan.

Aku berlari ke arahmu yang belum jauh meninggalkanku. Memelukmu dari belakang dengan erat –menyandarkan kepalaku di punggungmu yang tak sehangat dulu lagi. Kau tersentak kaget.

“Aku masih mencintaimu, Luhan. Sekarang dan selamanya” aku bergetar dalam ucapanku yang diselingi isakan dari bibirku.

Sungguh, aku belum mampu untuk sendiri.

Belum mampu tanpamu, Xi Luhan.

“Kumohon jangan mempersulitku Yoong” kau mulai melepas dekapanku. Membuatku menggeleng kuat, berusaha keras mempertahankan kedua lenganku yang melingkar di pinggangmu – jangan menyalahkanku yang mencoba mempertahankan sesuatu, sesuatu yang memang seharusnya menjadi milikku.

“Aku mohon, jangan pergi. Jangan tinggalkan aku, Xi Luhan” percuma. Kau seorang lelaki dengan tenaga berkali lipat di atasku. Dalm sekali hentakkan kau mampu membebaskan diri dariku. Dari dekapanku yang haus akan kehangatanmu seperti dulu.

Cairan itu kembali lolos dari bola mataku. Kau berbalik –menatapku lembut –seakan membagi keyakinan yang kau tuangkan dalam mata rusamu. Namun parahnya bukan keyakinan itu yang kutangkap, melainkan sebuah rasa yang semakin lama semakin membuatku sesak.

Aku tak merelakanmu pergi. Tidak!!

“Maafkan aku, Deer. Tapi sungguh, aku tak bisa terus begini. Aku tak bisa terus menjadi lelaki bejat yang berpura-pura menjadi malaikat di depanmu”

“Tapi jika kau melakukan ini, itu akan menjadikanmu lebih dari sekedar lelaki bejat!” aku kembali menunduk dalam tangisku –membiarkan diriku menjadi gadis rapuh malam ini. Berusaha keras menahan isakan dengan menggigit bibir bawah kuat –hingga aku sendiri dapat merasakan cairan asin di lidahku –bibirku berdarah.

Aku tersentak kaget ketika kedua lenganmu merengkuhku dalam, menyandarkan wajahku di pundak kirimu dan perlahan mengusap rambutku.

Akankah esok sapuan jemari tanganmu ini masih terasa di setiap hariku? Ataukah ini yang terakhir? –pertanyaan semacam itu semakin membuatku bergetar –aku sunngguh tak akan sanggup tanpamu, Lu.

“Aku mencintaimu, tapi aku lebih mencintainya” samar aku mendengar kata demi kata yang kau lontarkan langsung. Masih dalam dekapanmu, aku enggan membalasnya. Kedua lenganku masih menggantung di kedua sisi tubuhku. Membiarkanmu yang semakin mengeratkan dekapan yang sungguh membuatku semakin sakit.

Esok, masihkah dekapan ini menjadi milikku?

Aku terisak seiring dengan gerakan bibirmu yang secara lincah mengungkapkan segalanya. Segala bentuk rasa yang ada dalam dirimu. Aku mungkin bodoh, atau memang aku ini bodoh.

Kau dan dia…

Kau dan sahabatku sendiri…

Aku tahu segalanya, mengetahuinya jauh sebelum kau berucap dengan sendirinya. Aku tahu, kalian menjalin hubungan special di belakangku. Kalian kejam, tapi aku terlalu bodoh hanya sekedar untuk menjauh darimu dan dirinya. Aku bahkan tak mampu untuk melakukan apapun selain diam dan mengikuti sandiwara yang kalian lakoni. Berpura-pura tak tahu apapun dan menjadi gadis terbodoh yang pernah ada.

Kalian, dua orang yang kusayangi…

Dua orang tempatku berbagi selama ini…

Tapi….

Kalian pula yang menghianatiku, kalian pula yang melukaiku, dan kalian pula alasan di balik derai air mataku di setiap harinya.

“Biarkan aku pergi dengan pilihanku, Deer. Jangan menangis dan berbahagialah. I’ll always Love you, Deer..” kau berbisik pelan setelah mengecup singkat keningku. Kemudian kembali melangkah meninggalkanku sendiri dalam kesunyian malam.

Kakiku lemas seketika, tumpuanku serasa melayang entah ke mana. Aku jatuh tersungkur di atas dinding berlapis salju yang serasa menusuk tulangku. Aku tersedu, berharap semua ini hanya bunga tidur semata. Bunga tidur yang akan terlupakan ketika sang mentari menampakkan wujudnya. Bunga mimpi yang tak akan mengubah apapun di hidupku.

Namun harapan hanyalah harapan, harapan yang kini telah berubah menjadi sebuah impian tak berwujud. Karena pada realitanya inilah yang terjadi.

Kau pergi meninggalkanku dan lebih memilih dirinya.

Sebuah fakta yang sangat sulit di terima akal sehatku. Sebuah fakta yang bagaikan benda magic penghilang oksigen di sekitarku. Aku sesak, menarik nafaspun serasa menarik batu besar dari kaki gunung menuju puncaknya.

Kau mengatakan agar aku membiarkanmu pergi, namun bagimana mungkin aku melakukannya ketika hatiku dengan jelas berada dalam genggamanmu?

Kau mengatakan agar aku tak lagi menangis, namun bagaimana mungkin aku melakukannya ketika dengan jelas kau mencuri hatiku, membanya lari bersama gadis lain?

Kau mengatakan agar aku berbahagia, namun bagaimana mungkin aku melalkukannya ketika dengan jelas kau meninggalkanku bersama luka besar yang menganga dalam hatiku?

Kau mengatakan bahwa kau akan selalu mencintaiku, namun bagaiman mungkin itu terjadi ketika dengan jelas kau mengakhiri kisah cinta ini –mengakhirinya dan lalu memulai kisah baru bersama sahabatku sendiri.

Kau plin-plan. Kau mengatakan mencintaiku tetapi kau bahkan memilih untuk bersamanya. Oh, aku lupa! Kau mencintaiku tapi kau lebih mencintainya –miris sekali.

Mataku masih tertuju pada punggungmu yang semakin menjauh. Sekelebat memori menari-nari di ujung sarafku. Bagaimana ketidak sengajaan mengantarku bertemu denganmu, bagaimana cinta ini berawal, dan bagaimana hari ini terjadi. Aku masih mengingat dengan jelas semua tentang kita.

Xi Luhan dapatkah kau berbalik? Memandang kembali pada kenangan indah yang telah terpahat sempurna di masa lalu?

Xi Luhan dapatkah kau berbalik? Kembali padaku dan mengatakan bahwa ini hanyalah sebuah lelucon tak bermakna?

Xi Luhan dapatkah kau berbalik? Memandangku yang kini tengah menangisi keputusanmu? Memandangku yang mencintaimu dengan tulus?

Xi Luhan …. Ku mohon berbaliklah…

Kembali menjadi Luhan-ku yang dulu. Xi Luhan yang lebih mencitai Im YoonA dari apapun di dunia ini.

Berbaliklah, karena aku masih di tempat ini bersama dengan ribuan kenangan di antara kita.

Namun ketika punggungmu menghilang di balik pintu gedung, aku sadar kau sungguh telah pergi. Pergi meninggalkanku.

==FIN==

Mohon maaf yang sebesar-besarnya yah, padahal maunya ngepost sequel “I Don’t Know” tapi apa daya ffnya belum bisa kelar. Heheheh, moga yg ini gk jelek-jelek amat buat bacaan yah readers ^^

31 thoughts on “(Freelance) Oneshot : Can’t You Turn Back

  1. makasi thooor gag nyebut merk,, karna kalo sampe nyebut merk pasti aku bakal benci sama itu merk,,,,
    hehehe
    bagus thoor,,,
    ditunggu lanjutannya,,
    keepting thoor…

  2. Nyesek banget bacanya. Feelnya dapet banget. Sampai terbawa suasana.next ff ditunggu jangan lama-lama unn Fighting!!!!!!

  3. astagaaa~~ nangia thor!! hueeee sumpah air mata tumpah seketika. sumpah demi apapun nyesek banget, ditunggu Luhan side nya😀

  4. Thor anda harus tanggung jwb, stok tisu saya habis gara1 baca ni ff, sumpah nyesek banget, sakitnya pas bgt ngena di hati:( kasian bgt yonh eonni,

  5. huh ingin rasanya aku nyekik luhan waktu bilang “aku mencintaimu tapi aku lebih mencintainya ” nyesek banget, sequel nya thor.!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s