The Mysterious Ways

c0d861bf72aa693319c1b2e24965396e

THE MYSTERIOUS WAYS

by
Clora Darlene

starring
Im YoonA | Kim Jongdae

length | rating | genre
Oneshot (4644 words) | PG-15 | Romance

Inspired by Ed Sheeran's 'Thinking Out Loud' lyric and music video.

tumblr_n1pdyfxSYo1rkh709o3_r1_1280 (2)           

“Perkenalkan, ini Im Yoona. Dia yang akan menjadi partner-mu untuk video musikmu kali ini sekaligus pelatihmu.” PD Kim memperkenalkannya pada seorang solo singer terkenal Korea Selatan―Kim Jongdae.

Yoona membungkuk memberikan salam hormatnya. “Annyeonghaseyo, Im Yoona imnida.”

“Bisakah kita mulai sekarang? Aku memiliki janji.” Jongdae mengacuhkan perkenalan Yoona dan melirik arloji Hitam Metaliknya.

PD Kim memandang Yoona. “Apa latihannya bisa kita mulai sekarang, Yoona-ssi?”

“Tentu saja.” Yoona tersenyum ringan lalu menaruh tasnya di sudut ruangan dan berniat mengikat rambutnya namun suara emas Jongdae membuatnya menoleh.

“Jangan mengikat rambutmu,” Larangnya. “Aku tidak suka perempuan yang mengikat rambutnya.”

Kening Yoona mengerut dan akhirnya ia mengangguk kaku. “Ah, ne. Arasseo, Jongdae-ssi.”

“Kalian hanya memiliki satu minggu untuk berlatih dan setelah itu kita akan membuat video musiknya,” Beritahu PD Kim. “Aku akan meninggalkan kalian. Berlatihlah dengan baik dan bersikaplah yang ramah Jongdae-ya.”

Yoona melirik Kim Jongdae―laki-laki itu tidak mengindahkan ucapan PD-nya, malah mendengus setelah mendengar kalimat terakhir yang dikatakan PD Kim.

PD Kim menutup pintu dan tidak terlihat lagi. Membiarkan Yoona dan Jongdae berdua di dalam ruang latihan yang penuh dengan cermin itu.

“Kita harus stretching sebelum berlatih,” Beritahu Yoona lalu berdiri menghadap cermin. Ada Jongdae yang berdiri di belakangnya lalu mereka mulai meregangkan otot―well, untuk menghindari kram, bukan? “Kenapa kau ingin menari di video musikmu, Jongdae-ssi?” Tanya Yoona memecahkan keheningan dan melihat Jongdae dari cermin.

“Aku tertarik dengan menari.” Jawab Jongdae singkat.

“Benarkah?”

Wae?” Tanya Jongdae balik dengan ekspresi yang datar.

“Karena kau tidak terlihat tertarik dengan menari sama sekali.” Timpal Yoona lalu mulai meregangkan otot tangannya.

“Sudah berapa lama kau menjadi penari, Nona….?” Alis kiri Jongdae terangkat, membalas tatapan Yoona dari cermin.

“Yoona. Im Yoona.” Jawab Yoona cepat. Oh, ia bahkan baru mengenalkan dirinya tiga menit lalu kepada laki-laki ini dan menyebutkan namanya dengan―sangat―jelas.

“Sudah berapa lama, Yoona-ssi?” Tanya Jongdae lagi.

“Seumur hidupku.” Yoona terdengar sekali dengan jawabannya.

Kening Jongdae mengerut. “Benarkah? Bahkan selama di dalam kandungan kau menari?”

“Ibuku seorang penari dan selama dia mengandungku dia tetap menari,” Jelas Yoona singkat. “Bagaimana denganmu? Sejak kapan kau mulai menyanyi?”

“Empat tahun beranjak lima.” Jongdae menjawab singkat.

“Orangtuamu seorang penyanyi?”

“Sangat mengejutkan ada seseorang yang tidak tahu tentang diriku.” Mata Yoona menyipit dengan cepat. Oh, astaga, dengarlah. Sombong sekali, pikir Yoona.

“Tidak cukup mengejutkan untukku karena aku bahkan bukanlah penggemarmu,” Tukas Yoona kesal lalu membalikkan badannya, selesai melakukan pemanasan. “Kau pernah menari sebelumnya?”

Just for two minutes.” Jongdae menaikkan kedua bahunya.

Yoona menghela nafas. Satu minggu ini akan menjadi hari-hari yang sangat panjang untuknya, batinnya. “PD Kim meminta tarian romantic ballad untuk video musikmu, well, karena kudengar lagu barumu ini bertema ‘laki-laki yang sangat mencintai perempuannya’. Jadi, kuputuskan untuk membuatkanmu tarian yang mengandung unsur latin, jazz dan balet kontemporer.”

Mata Jongdae menyipit mendengar penjelasan Yoona―Apa dia mengerti? Tidak sama sekali. Ia tidak tahu sama sekali tentang berbagai macam jenis tari. Oh, ayolah, dia bukan penari. Tanyakan dia tentang apa saja yang menyangkut musik dan dia akan menjawabnya dengan lancer tanpa cacat.

Yoona menangkap ketidakmengertian Jongdae dan akhirnya menghela nafas. “Lebih baik kita mulai.”

tumblr_n1pdyfxSYo1rkh709o3_r1_1280 (2)            Yoona baru saja selesai membersihkan dirinya. Ia tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk lalu menyalakan TV dan duduk di sofa. Rasanya segar sekali―well, setelah seharian mengajarkan Jongdae menari.

Laki-laki itu seperti mimpi buruk untuk Yoona―tidak dapat menari dan kaku―dan membuat Yoona membuang tenaganya dua kali lebih banyak untuk membantu laki-laki itu menari dengan gerakan dan posisi yang benar. Dan mereka hanya memiliki waktu satu minggu di mulai dari hari ini―itu mimpi buruk yang lebih buruk. Pikir Yoona.

“Penyayi solo terkenal―Kim Jongdae―terlihat sedang mabuk di sebuah klub dan terlibat dalam perkelahian malam ini.”

 

Mata Yoona terpaku pada layar TV sejenak. Ia memandang TV dengan kening yang mengerut saat siaran berita itu memutarkan sebuah video amatir yang memperlihatkan Jongdae―yang memang benar―terlibat dalam sebuah perkelahian. Laki-laki itu menonjok seorang laki-laki lainnya dan akhirnya membuat keributan yang lebih besar.

“Pihak Kim Jongdae memberikan konfirmasi bahwa artis mereka―”

 

Yoboseyo?” Yoona menempelkan ponselnya pada telinga kirinya.

Yoona-ya?

“PD Kim? Ne? Ada yang bisa kubantu?” Tanya Yoona.

Ini mengenai Jongdae.” Beritahu PD Kim singkat sebelum menjelaskan lebih jauh.

“Aku sudah melihat beritanya.” Iris madu Yoona kembali melirik layar TV.

Kau tetap bisa mengajarkan Jongdae menari, bukan? Jangan terpengaruh pada berita tersebut.” Beritahu PD Kim.

“Tidak masalah bagiku untuk tetap mengajarkannya menari, tetapi Jongdae-lah yang menjadi masalahnya,” Jelas Yoona. “Apa dia baik-baik saja?”

Akan kupastikan dia baik-baik saja. Kami memutuskan untuk memberikan tambahan waktu satu hari. Dan, satu lagi―tegaslah kepadanya. Jongdae bukanlah tipe orang yang suka mendengarkan orang lain. Itu saja yang ingin kukatakan, Yoona-ya.” Setelah membalas salam PD Kim, Yoona menaruh ponselnya di sebelahnya.

tumblr_n1pdyfxSYo1rkh709o3_r1_1280 (2)Yoona mendorong pintu studionya dan mendapati Jongdae telah duduk di lantai bersandar pada cermin. Laki-laki itu menengadah dan Yoona terkejut melihatnya―wajah laki-laki itu penuh dengan luka memar.

“Kau baik-baik saja?” Yoona menghampiri Jongdae, mendudukkan dirinya di hadapan laki-laki itu dan memerhatikan luka memar pada wajahnya.

“Menurutmu?”

“PD Kim mengatakan padaku bahwa dia akan memastikan kau baik-baik saja.” Ucap Yoona.

“Memastikan?” Tanya Jongdae membuat kening Yoona mengerut dan menatapnya. “Dia memaksaku untuk baik-baik saja.”

Mulut Yoona menutup dan ia menelan salivanya dengan susah payah. “Kau bisa berlatih dengan keadaan seperti ini?”

“Menurutmu?”

“…Dan, satu lagi―tegaslah kepadanya.”

Yoona menghela nafas lalu berdiri. “Berdirilah. PD Kim berbaik hati memberikan kita tambahan waktu satu hari untuk berlatih.”

Jongdae mendengus dengan senyuman masam. “Berbaik hati? Sungguh?”

“Berdirilah.” Perintah Yoona lagi.

Senyum masam Jongdae tak lagi menyungging, digantikan oleh rahangnya yang mengeras lalu garis rahangnya menegas. Ia berdiri dan menatap iris madu Yoona. “Kau tidak perlu repot-repot untuk menyuruhku dua kali. Aku pendengar yang baik.”

Terlalu angkuh. Batin Yoona singkat, cukup mendeskripsikan seorang Kim Jongdae.

Yoona melakukan pemanasan sejenak sebelum akhirnya ia dan Jongdae kembali melatih tarian mereka. “One and two and three and―Kau lupa?”

“Apa menurutmu aku bisa menghafal semua gerakan tersebut dalam waktu empat jam?” Tanya Jongdae balik.

“Jangan balik bertanya.” Tukas Yoona.

“Ya, aku belum menghafalnya. Apa itu sudah cukup menjawab pertanyaanmu, Im Yoona-ssi?” Tanya Jongdae lagi.

“Kau akan syuting video musikmu minggu depan.”

Jongdae menarik nafas panjang lalu menghelanya pelan. “Aku sudah tahu itu dengan pasti.”

“Dan kau terlihat tidak berusaha keras untuk itu.” Bibir Yoona mengatup setelah mengucapkan kalimat tersebut dengan tajam.

Jongdae memandangnya dalam lalu melangkah mendekat―dekat sekali―dan berdiri tepat di hadapan Yoona. “Bisa kauulangi apa yang baru saja kau katakan?”

Mata Yoona membalas tatapan Jongdae namun mulutnya tak menjawab permintaan Jongdae.

“Kita baru bertemu selama dua hari dan kau berbicara seakan kau telah mengetahui diriku selama seumur hidupmu.”

tumblr_n1pdyfxSYo1rkh709o3_r1_1280 (2)            Seperti biasa, Yoona baru saja selesai membersihkan dirinya dan kini tengah mengaduk kopi kesukaannya―kopi selalu menjadi sahabat terbaiknya untuk setiap malam. Setelah yakin bahwa kopinya telah teraduk dengan rata, Yoona membawa cangkir Hijau tersebut dan duduk di depan TV.

When your legs don’t work like they used to before. And I can’t sweep you off of your feet. Will your mouth still remember the taste of my love? Will your eyes still smile from your cheeks?

Mata Yoona memandang layar TV dengan cangkir yang masih berada pada pegangannya. Ia menikmati sejenak―membuktikan, sebenarnya―suara emas Jongdae. Laki-laki itu tengah tampil di sebuah acara yang disiarkan secara langsung dan membawakan lagu Ed Sheeran berjudul Thinking Out Loud. Luka memar yang ia lihat tadi pagi tak tampak karena ‘keajaiban’ makeup

And, darling, I will be loving you ’till we’re seventy. And, baby, my heart could still fall as hard at twenty-three. And I’m thinking ’bout how people fall in love in mysterious ways.
Maybe just the touch of a hand. Well, me—I fall in love with you every single day and I just wanna tell you I am…

“Kita baru bertemu selama dua hari dan kau berbicara seakan kau telah mengetahui diriku selama seumur hidupmu.”

Yoona langsung mengganti channel TV-nya dan mendengus pelan.

Di balik suara emasnya, di balik tampang romantisnnya, di balik tampang manisnya―ada keangkuhan tinggi yang tersembunyi. Dan Yoona tidak beruntung karena telah melihatnya.

tumblr_n1pdyfxSYo1rkh709o3_r1_1280 (2)            Yoona sampai di studionya empat puluh lima menit lebih awal dari biasanya. Ia mengenakan short training pantwell, sebenarnya lebih terlihat seperti hotpants―berwarna hitam dan jaket berwarna neon. Yoona mendorong pintu studionya dan telah menemukan Jongdae.

“Apa yang kau lakukan?” Tanya Yoona reflex.

“Menurutmu?” Tanya Jongdae balik. “Kau tahu bahwa aku tidak suka perempuan yang mengikat rambutnya.” Jongdae berdecak setelah menyadari Yoona yang mengikat rambut Hitamnya.

Iris madu Yoona terputar kesal. Laki-laki ini akan selalu balik bertanya kepadanya―tidak menjawab pertanyaannya dengan pasti. “Sejak kapan kau di sini?”

“Tepat lima belas menit sebelum kau datang.” Akhirnya, laki-laki itu menjawab pertanyaannya, pikir Yoona.

“Tarianmu membaik?” Tanya Yoona lalu membalikkan badannya dan memandang Jongdae.

“Kau ingin melihatnya?”

“Aku sudah tahu jawabannya.” Tukas Yoona. “Memburuk?”

Jongdae mendengus kasar lalu tertawa hambar. “Kau suka sekali merendahkan orang lain, Im Yoona-ssi.”

“Aku hanya membicarakan fakta.” Timpal Yoona.

“Kau ingin melihatnya? Mungkin gerakanku akan lebih bagus dari gerakanmu.” Gumam Jongdae. Oh, lihat ekspresinya, menantang sekali. Jongdae terlalu berani.

Yoona memandang Jongdae beberapa saat dan bibirnya melengkung kecil. “Baiklah,” Jawabnya seraya menanggalkan jaket neon-nya lalu melepaskan ikat rambutnya. Oh, kali ini Yoona yang terlalu berani―ia hanya mengenakan sport bra berwarna hitam, memamerkan perutnya yang datar dan lekuk tubuhnya yang sexy. “Tanpa musik. Suara langkah kaki terdengar lebih merdu.” Ucap Yoona membuat Jongdae yang ingin menyalakan musik mengurungkan niatnya dan memandang Yoona.

Laki-laki itu tersenyum kecil. “Kau mempunyai selera musik yang tidak buruk. Aku baru tahu.” Gumam Jongdae lalu menyodorkan tangannya dan diraih oleh Yoona. Dengan cepat Jongdae menarik perempuan itu ke dalam pelukannya dan memutar perempuan itu. Badan Yoona seperti tidak bertulang. Dengan mudahnya perempuan itu terbang di udara seperti kupu-kupu setelah Jongdae melemparnya. Laki-laki itu kembali menangkapnya lalu berputar dengan Yoona yang berada pada gendongannya.

Yoona melingkarkan kedua kakinya pada pinggang Jongdae dan merengkuh wajah laki-laki itu dengan kedua tangannya. Menatap iris gelap milik Jongdae―menyelam dalam di dalamnya. Yoona menurunkan kedua kakinya lalu tangannya dan tangan Jongdae dengan sigap saling meraih. Laki-laki itu menariknya mendekat, hingga kedua hidung mereka saling bersentuhan dan diam dalam posisi tersebut dalam waktu sejenak.

Strawberry?” Tanya Jongdae.

“Ya.” Jawab Yoona singkat.

“Aku menyukainya.” Gumam Jongdae mengomentari aroma rambut Yoona.

“Kau telah menghafal hampir setengahnya.”

“Sebenarnya, aku melupakan gerakan setelah ini.” Beritahu Jongdae pelan.

Yoona menghela nafas lalu menarik tangannya dari genggaman tangan Jongdae. “Berapa lama kau menghafalnya?”

“Empat jam?” Jongdae terlihat menimbang-nimbang.

Yoona tersenyum kecil. “Setidaknya ada kemajuan.”

“Kau ingin menarik perkataanmu yang mengatakan bahwa aku tidak berusaha dengan keras?” Alis kiri Jongdae terangkat.

Bibir Yoona tersungging tipis. “We’ll see, Jongdae-ssi.”

tumblr_n1pdyfxSYo1rkh709o3_r1_1280 (2)            Yoona masih asik menikmati acara TV saat ponsel emasnya berdering. Ia meraihnya lalu tertera nomor tak dikenalnya. Kening Yoona mengerut kemudian menekan layarnya yang berwarna Merah. Ia kembali menaruh ponselnya di sebelahnya, namun sedetik kemudian ponselnya kembali berdering. Lagi, Yoona mematikannya. Untuk ketiga kalinya, ponselnya berdering. Yoona mendengus kesal kemudian menempelkan ponselnya pada telinga kirinya.

Yoboseyo?”

Kenapa kau tidak mengangkat telponku? Apa kau tidak tahu bahwa aku lelah mengetik nomor ponselmu?” Jongdae terdengar kesal sekali di ujung sana.

“Aku tidak menyimpan nomormu di ponselku dan aku tidak tahu jika kau yang menelponku. Bagaimana jika yang menelponku ternyata orang jahat dan aku dihipnotis via telpon?” Iris madu Yoona terputar, tak kalah kesalnya dengan Jongdae.

Kau terlalu banyak menonton drama,” Gumam Jongdae. “Datanglah ke apartemenku sekarang.

“Sekarang?” Suara Yoona meninggi dan reflex ia memandang jam dindingnya. Jam telah menunjukkan pukul delapan malam. “Kau gila.”

Yoona dapat mendengar dengusan Jongdae di ujung sana. “Datang saja. Cepatlah, kutunggu kau di apartemenku.”

“Aku tidak tahu dimana apartemenmu.” Bantah Yoona.

Akan kukirimkan alamatnya. Hal ini sungguh-sangat-mendesak, Yoona-ya.

tumblr_n1pdyfxSYo1rkh709o3_r1_1280 (2)            Hal mendesak macam apa yang membuatnya harus datang ke apartemen penyanyi solo terkenal Korea Selatan malam-malam seperti ini? Ia sungguh bertanya-tanya.

Yoona menutup mulutnya dengan scarf ‘Blanc & Eclare’ berwarna Navy dengan garis Merah dan Putih sebagai perpaduan. Udara malam ini begitu menusuknya. Well, dingin sekali. Yoona masih menunggu setelah menekan bel, beberapa detik kemudian terdengar suara knop pintu terputar dan pintu itu terbuka.

“Kau benar-benar datang.” Ucap Jongdae.

“Kau ingin aku pulang sekarang?” Tanya Yoona tak acuh.

“Masuklah.” Jongdae meminggirkan tubuhnya, memberikan Yoona jalan masuk ke dalam apartemennya yang hangat―well, memang hangat. Yoona dapat merasakannya. Ada beberapa heater di dalam ruangan besar tersebut. Yoona melepaskan scarf-nya lalu berbalik memandang Jongdae.

“Ada apa?”

“Aku lupa gerakan setelah ini,” Jongdae menarikan beberapa gerakan lalu setelah selesai ia menatap Yoona polos. “Lalu, bagaimana?”

Mata Yoona menyipit. “Kau menelponku dan menyuruhku datang ke sini hanya karena kau lupa gerakan tarianmu?”

“Kita tidak punya banyak waktu, Yoong.”

“Yoong?” Alis kiri Yoona terangkat.

“Apa itu terdengar aneh?” Tanya Jongdae balik.

Yoona menghela nafas. Ia berjalan mendekati Jongdae dan meraih kedua tangan laki-laki itu dengan kedua tangannya. “Seperti ini,” Yoona mencontohkan gerakan selanjutnya. Jongdae terdiam melihati Yoona. Yang benar saja, tubuh perempuan itu seakan bercerita saat ia menari. “Kau ingat?”

Lemme try,” Ucap Jongdae lalu mengikuti gerakan Yoona tadi. Ia menggenggam tangan Yoona lalu menggerakkan kakinya. Menarik Yoona lalu melingkarkan tangannya pada pinggang Yoona dan seakan berdansa dengan perempuan itu. “Tidak susah.”

“Tapi kau tidak mengingatnya.” Tukas Yoona ringan.

“Jika kau menyuruhku untuk menghafal sebuah lagu dalam waktu enam menit akan kulakukan dengan senang hati.” Bantah Jongdae masih dengan tangannya yang melingkar di pinggang Yoona dan bergerak pelan.

“Apa kau sehebat itu dalam bernyanyi? Aku meragukannya.” Gumam Yoona.

Kening Jongdae mengerut. “Kenapa kau ragu?”

“Kau terlihat seperti lip-sync.” Jawab Yoona santai.

“Oh, itu sangat kejam sekali. Sungguh,” Jongdae melepaskan tangannya dari pinggang Yoona. “Duduklah. Aku akan menampilkan special performance malam ini hanya untukmu.” Jongdae pergi dari pandangannya―entah kemana. Yoona duduk di sofa abu gelap di tengah-tengah ruangan. Ia memandangi apartemen Jongdae sembari menunggu laki-laki itu datang. Well, apartemen ini bisa dikatakan ‘rapih’ untuk ukuran laki-laki.

“Kau ingin pamer kelebihanmu?” Tanya Yoona lalu tertawa kecil saat mendapati Jongdae kembali dengan membawa gitar dan duduk tak jauh darinya.

“Aku ingin merubah pikiranmu.” Jongdae membenarkan. “Kau ingin aku menyanyi lagu apa?”

“Aku yang memilih?” Yoona menunjuk dirinya sendiri lalu diikuti anggukan Jongdae. Yoona terdiam sejenak, memikirkan beribu judul lagu yang bersarang di otaknya. “Thinking Out Loud?”

“Kau pasti menontonku saat itu.” Jongdae langsung mengambil kesimpulannya dengan cepat kemudian mulai memetik senar gitarnya.

Yoona memerhatikan jemari lentik laki-laki itu. Menari bersama iringan gitar―seperti Yoona menari dengan musiknya. Jongdae dengan cekatan memainkan gitar cokelat yang berada di pangkuannya dan mengalunkan nada-nada merdu.

When my hair’s all but gone and my memory fades. And the crowds don’t remember my name. When my hands don’t play the strings the same way. I know you will still love me the same…”

Iris madunya masih memandang permainan tangan Jongdae lalu beralih menatap mata Jongdae yang―ternyata―sudah menatapnya lebih dulu.

Cause honey your soul could never grow old, it’s evergreen. And, baby, your smile’s forever in my mind and memory. I’m thinking ’bout how people fall in love in mysterious ways. Maybe it’s all part of a plan. Well, I’ll just keep on making the same mistakes. Hoping that you’ll understand…”

So, baby, now. Take me into your loving arms. Kiss me under the light of a thousand stars. Oh, darling, place your head on my beating heart. I’m thinking out loud. That maybe we found love right where we are. Oh, baby, we found love right where we are. And we found love right where we are.”

Yoona terdiam beberapa saat setelah Jongdae menyelesaikan lagunya. Matanya tak berkedip, masih ikut di dalam alunan gitar Jongdae. Suara laki-laki itu―tak diragukan lagi mengapa ia bisa mendapat julukan ‘National Golden Voice’.

Lipsync?” Tanya Jongdae memecahkan lamunan Yoona.

“Pasti ada alatnya di sekitar sini,” Gumam Yoona lalu terkekeh pelan. “Aku baru tahu jika kau bisa memainkan gitar.”

“Kau tidak bisa?” Tanya Jongdae cepat dan tak tanggung-tanggung.

“Tapi aku bisa menari.” Balas Yoona.

“Kemarilah, giliranku untuk mengajarimu.” Jongdae melebarkan kedua kakinya lalu mengisyaratkan Yoona untuk duduk di tengah-tengahnya.

Yoona mengernyitkan alis dan dahinya kemudian menunjuk. “Di…situ? Kau yakin?”

“Ya, tentu saja.”

Yang benar saja.

“Kau bercanda?”

“Apa aku terlihat seperti sedang bercanda?” Tanya Jongdae balik―seperti biasa.

Yoona bangkit dengan ragu lalu melangkah pelan dan duduk di antara kedua kaki Jongdae yang lebarkan. Dari arah belakang Jongdae menyodorkan gitarnya. Yoona memangku gitar tersebut lalu menempatkan jemarinya pada fingerboard.

Jongdae menyisipkan tangan kirinya dari belakang tangan Yoona lalu meraih jemari perempuan itu. Ia menempatkan jemari Yoona pada fret dan menekan senar gitar. Tangan kanannya menggerakkan tangan Yoona serta membantu perempuan itu memetik senar gitar. “Chord C,” Lalu ia kembali memindahkan jemari Yoona, menekannya dan membantunya lagi memetik senar gitar. “Chord D,” Jongdae kembali memindahkan jemari Yoona, kini lebih cepat dan laki-laki itu beberapa kali melakukannya. Tangan kanannya masih membantu Yoona memetik senar gitar. “And I’m thinking ’bout how people fall in love in mysterious ways. Maybe just the touch of a hand. Well, me—I fall in love with you every single day and I just wanna tell you I am.” Jongdae bernyanyi pelan tepat di telinga Yoona. Perempuan itu dapat merasakan hembusan nafas mint yang menyentuh daun telinganya—sejenak membuat Yoona merasakan degup jantungnya yang mendadak tak beraturan.

“Bukankah tidak susah?” Yoona mengedipkan matanya beberapa kali setelah mendengar pertanyaan Jongdae.

“Ada berapa banyak chord?” Tanya Yoona pelan, mencoba merendam suara detak jantungnya dan menyembunyikan suaranya yang bergetar.

“132, maybe?” Yoona dapat merasakan Jongdae menaikkan kedua bahunya―menandakan laki-laki ini juga tidak tahu pasti.

Yoona menghela nafas lalu segera bangkit. “Aku harus pulang.”

“Akan kuantar.” Ucap Jongdae cepat lalu bangkit.

“Tidak perlu. Aku akan naik taxi.”

Alis kiri Jongdae terangkat dan ia melirik arloji Hitam metaliknya. “Sekarang sudah pukul sembilan lebih dan kau ingin naik taxi? Bagaimana jika kau bertemu orang jahat dan mereka menghipnotismu?”

“Bagaimana jika orang jahatnya adalah kau dan ternyata kau ingin menghipnotisku?”

“Bagaimana jika kau saja yang menghipnotisku agar aku bisa menghafal seluruh gerakan tarian kita karena sepertinya kita sudah kehabisan waktu?”

Yoona tertawa mendengarnya dan diikuti tawa Jongdae.

tumblr_n1pdyfxSYo1rkh709o3_r1_1280 (2)            “Aku ingin istirahat sebentar. Sebentar saja.” Nafas Jongdae terengah-engah dan ia langsung terduduk di lantai. Keringat bercucuran dari tubuhnya dan membasahi bajunya. Ini adalah kesebelas kalinya ia mengulang tariannya secara keseluruhan—bukankah Yoona cukup kejam untuk memintanya berlatih terus-menerus dengan alasan ‘kau bilang kita sudah kehabisan waktu’?

Jongdae mulai menyesal dengan ucapannya semalam dan mengutuk dirinya sendiri—bodoh.

“Ayolah, Jongdae-ssi.” Yoona berdiri di hadapan Jongdae dan berkacak pinggang.

“Apa kau tidak lelah? Yang benar saja.” Jongdae merebahkan tubuhnya di atas lantai dan melebarkan tangannya. Ia menatap langit-langit ruang latihan dengan nafas yang masih menderu. Rasanya paru-parunya memanas dan mati rasa. Kini ia seakan melihat bintang-bintang bertebaran di atas kepalanya.

“Jongdae-ssi.”

“Jongdae-ssi.”

“Jongdae-ya.”

Jongdae mengerang. “Oh, ayolah, Yoong. Sebentar saja. Sebentar. Saja,” Ucap Jongdae penuh penekanan. Oh, lihatlah, kini ia terlihat seperti seorang anak kecil yang merengek kepada ibunya. “Kau tidak lelah? Istirahatlah. Jangan terburu-buru.”

“Kita kehabisan waktu, kau sendiri yang mengatakan itu.” Kalimat itu lagi, batin Jongdae. Laki-laki itu kembali mengerang lalu mengulurkan tangannya—mengisyaratkan Yoona untuk menariknya dan membantunya berdiri.

Yoona berdecak melihat tingkah Jongdae. Ia meraih tangan Jongdae lalu mengaitkan jemarinya dengan jemari laki-laki itu lalu menariknya—tapi, justru, malah Yoona yang tertarik oleh Jongdae.

Perempuan itu jatuh tepat di atas Jongdae dan membeku saat kedua iris beda warna itu saling mengunci. “Bisakah kita istirahat sebentar saja? Rasanya aku ingin mati.” Ucap Jongdae pelan pada Yoona. Wajah mereka hanya berjarak sekitar tiga sentimeter dan itu membuat Yoona—lagi—dapat menghirup aroma mint Jongdae. Rasanya Yoona ingin mati di saat itu juga. Ia takut jika Jongdae dapat merasakan degup jantungnya yang tak karuan dan begitu cepat.

“Hanya sebentar.” Tegas Yoona lalu segera menyingkir. Ia segera keluar dari ruangan dan mengambil sebotol air minum mineral. Jantungnya masih berdegup kencang dan rasanya ingin melompat keluar saat laki-laki itu menariknya dan menatap iris madunya.

Oh, astaga, Yoong.

tumblr_n1pdyfxSYo1rkh709o3_r1_1280 (2)            “Kau siap?” Tanya Yoona memastikan.

“Ya, tentu saja.” Jawab Jongdae seraya menutup botol mineralnya dan menaruhnya di atas meja. Mereka berdua memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan tersebut bersamaan. Di dalam ruangan tersebut sudah ada PD Kim dan beberapa kru lainnya―well, mereka ingin melihat hasil latihan Jongdae dan Yoona selama delapan hari terakhir.

Music!” PD Kim menjentikkan jarinya, mengisyaratkan untuk mengalunkan lagu terbaru Jongdae.

“Apa bisa tanpa musik?” Sela Jongdae sebelum laki-laki yang mengenakan hoodie abu menyalakan speaker. “Suara langkah kaki terdengar lebih merdu.”

Yoona memandang Jongdae. Laki-laki itu sedang memperhatikan satu-satu wajah krunya. “Baiklah, tanpa musik.” PD Kim memutuskan.

“Kau tahu apa yang harus kau lakukan?” Tanya Jongdae pelan menatap Yoona.

“Menjadi partner menarimu.” Jawab Yoona.

“Tidak hanya itu,” Bantah Jongdae lalu berdiri di tengah ruangan bersama Yoona―bersiap-siap. Kening Yoona mengerut seraya Jongdae meraih tangannya. “Kau harus jatuh cinta kepadaku.”

Yoona menatap mata Jongdae tak berkedip, mencoba menalan salivanya dengan susah payah. “Aku mengerti.” Ucap Yoona seraya membasahi bibirnya.

Yoona menggigit bibir bawahnya untuk menahan detakan jantungnya yang berdetak berkali-kali lipat lebih cepat dari biasanya―dan hal ini terus-terusan terjadi dengan alasan yang sama ‘karena Kim Jongdae’. Jongdae menarik tangannya, memasukkannya ke dalam dekapan laki-laki itu. Jongdae melingkarkan tangannya pada pinggang Yoona, sedangkan Yoona menaruh tangannya pada bahu Jongdae―berdansa. Yoona meraih tangan Jongdae lalu menggenggamnya dan berputar. Ia melingkarkan satu kakinya pada pinggang Jongdae dan laki-laki itu berputar kemudian melemparnya.

Yoona seperti kupu-kupu. Ia terbang. Ia bebas. Ia indah. Menari di udara tak berwarna tanpa hambatan.

Jongdae kembali menangkapnya. Yoona langsung melingkarkan kedua kakinya pada pinggang Jongdae lalu merengkuh wajah laki-laki itu dengan kedua tangannya.

Menatap iris gelap Jongdae dengan jantung yang berdegup kencang. Dengan tatapan yang Yoona tak ingin alihkan. Dengan iris yang terpaku menatap iris lain di hadapannya.

“Kau harus jatuh cinta kepadaku.”

Mungkin Yoona sudah jatuh cinta dengan seorang Kim Jongdae.

tumblr_n1pdyfxSYo1rkh709o3_r1_1280 (2)          And, D-day.

            Yoona sedang berada di ruang tata rias. Ia mengenakan flowy lyrical berwarna putih bersih. Poni yang biasanya menggantung di depan wajahnya kini sudah tak ada lagi. Well, hairstaylist-nya mengatakan ia terlalu ‘cute’ dengan poni tersebut dan tidak cocok dengan konsep music video kali ini. Jadi, Yoona beserta hair-stylist-nya memutuskan untuk melakukan hair extensions.

“Selesai.”

Yoona memandang cermin di hadapannya. Ia terpaku sejenak. Seseorang di hadapannya kini adalah seseorang yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. The other side of her. Rambut hitam tanpa poni yang sengaja digerai, make-up ringan dan natural, bibir pink tipis yang menggugah―tidak sangat ‘Im Yoona’.

“Kau menyukainya?” Penata riasnya tersenyum semangat menunggu jawaban Yoona.

Yoona tersenyum manis. “Sangat. Aku sangat menyukai. Gamsahamnida.”

Penata riasnya menghela nafas lega. “Baiklah, kurasa kau harus segera ke ballroom. Kru yang lain pasti sudah menunggumu.”

Arasseo, eonni.” Yoona beranjak dari tempat duduknya dan segera menuju ballroom. Yoona mendorong pintu besar di hadapannya dan menyembulkan kepalanya untuk mengintip. Lampu-lampu besar sudah di pasang untuk menarangi dan berbagai jenis kamera sudah di siapkan di lokasi. Para kru masih menyibukkan diri mereka untuk mempersiapkan peralatan mereka―tidak ingin ada kendala saat syuting nanti.

Yoona menutup pintu ballroom tanpa suara dan melangkah dengan hati-hati.

Ia berdiri cukup dekat dengan lantai dansa yang besar itu. AC ruangan tersebut telah dinyalakan sedari tadi dan kini berhasil membuat Yoona mengusap-usap lengannya―kedinginan. Well, ia hanya mengenakan sleeveless dress.

“Kau siap?” Suara itu datang tepat saat Yoona merasakan ada sebuah jas hitam yang tiba-tiba menggantung di bahunya. Yoona menoleh, memandang laki-laki yang berdiri di sebelahnya. Laki-laki itu terlihat terkejut melihatnya. “Dimana ponimu?”

Hair-stylist-ku mengatakan poniku tidak cocok untuk konsep music videomu ini.” Beritahu Yoona tanpa mengedipkan matanya. Ia terpaku dengan sosok laki-laki yang kini berada di sebelahnya. Riasan yang hampir tidak terlihat, rambut hitam yang dimodel spikey, dan ditambah dengan senyuman yang tengah menggantung kali ini―sempurna sekali, batin Yoona.

Jongdae tertawa kecil. “Sayang sekali, padahal aku menyukainya.”

“Jongdae-ya! Yoona-ya! Kalian sudah siap?” PD Kim di seberang sana berteriak.

Yoona dan Jongdae menoleh bersamaan. “Ya, kami sudah siap!” Balas Jongdae berteriak. “Kajja.” Jongdae langsung menarik tangan Yoona menuju lantai dansa. Seorang kru melepaskan jas hitam yang menggantung pada pundak Yoona dengan cepat.

Yoona menarik nafas panjang seraya ia berjalan menuju tengah-tengah lantai dansa. Tapi nafasnya tiba-tiba tertahan di dadanya saat lampu itu menyinari Jongdae. Matanya terpaku sejenak. Laki-laki itu juga seperti ikut bersinar. Ada cahaya di sekitarnya.

“Kau terlihat sangat gugup.” Gumam Jongdae.

“Sangat.” Yoona membenarkan.

Jongdae tertawa di hadapannya setelah mendengar ucapannya. “Jangan gugup. Aku tahu kau bisa melakukannya, Yoong.”

“Aku bahkan tidak tahu itu.” Bantah Yoona.

“Dan sekarang aku memberitahumu.” Jongdae tersenyum kecil menatap Yoona.

“Kamera siap?” PD Kim kembali berteriak lalu disauti oleh kru-kru yang lainnya. Indera pendengaran Yoona rasanya mati seketika. Kupu-kupu di perutnya―entahlah, tidak ada kata yang tepat untuk mendeskripsikan perasaannya kali ini.

Gugup karena harus berlaga di depan kamera sekaligus karena harus berjarak begitu dekat dengan Jongdae―entah mana yang memiliki skala lebih besar. “Kau tahu apa yang harus kau lakukan?”

“Jatuh cinta kepadamu.”

Jongdae meraih tangan Yoona lalu mendekap perempuan itu. Hidung mereka saling bersentuhan, membuat Yoona―lagi―dapat menghirup aroma mint khas Jongdae. Iris madunya menatap dalam iris gelap milik Jongdae. Jongdae kini menempelkan dahinya pada dahi Yoona dan memejamkan matanya.

Dan Yoona sudah jatuh cinta dengan seorang Kim Jongdae―yang bahkan Yoona tidak tahu jalan misterius mana yang ia lewati kali ini untuk membawanya ke perasaan seperti ini.

tumblr_n1pdyfxSYo1rkh709o3_r1_1280 (2)            “Untukmu, Yoona,” Seorang perempuan menyodorkannya sebuah kotak berpita kepadanya setelah ia menyelesaikan syuting video musik Kim Jongdae―si penyanyi solo terkenal Korea. Yoona meraihnya dengan kening mengerut. Belum ia membuka mulutnya untuk bertanya, perempuan itu berkata lebih dulu. “Semua kru akan pergi ke Club Answer untuk merayakan ulang tahun sekaligus comeback Jongdae. Kau ikut?”

“Apa aku diundang?” Tanya Yoona. Bukankah ia harus memastikan? Akan sangat lucu jika ia datang namun namanya tak masuk dalam daftar para tamu undangan.

“Tentu saja.” Perempuan itu tersenyum lebar lalu pergi.

Yoona beralih pada kotak dengan ukuran lumayan besar yang berada di atas kedua tangannya. Ia menarik pita tersebut lalu membuka penutupnya.

“Kau pasti sangat cocok mengenakan dress ini ke acaraku nanti.”

Jongdae K.

            Yoona tidak memikirkan bagaimana rupa dress hitam yang dilipat di dalam kotak atau seberapa mahal Jongdae membelinya―apa arti dari dress ini? Mengapa Jongdae memberikannya? Apa sebagai bentuk ‘terimakasih’? Ia tidak tahu pasti.

Yoona menelan salivanya dengan susah payah kemudian memutuskan untuk mengganti bajunya. Beberapa saat kemudian, ia berdiri di depan cermin. Dress hitam yang ia kenakan cukup terbuka―bagian belakangnya memamerkan hampir setengah dari punggungnya dengan model jaring-jaring, sedangkan bagian depannya memiliki belahan dada yang panjang.

Yoona membiarkan make-up natural-nya dan hanya menambahkan lipstick merah merekah pada bibir tipisnya. Ia ingin mengikat rambutnya tetapi sebuah kalimat terlintas di kepalanya.

“Aku tidak suka perempuan yang mengikat rambutnya.”

Kalimat tersebut berhasil mengurungkan niat Yoona untuk mengikat rambutnya. Ia kembali menaruh ikat rambut hitamnya dan memandangi cermin. Ada seorang perempuan lainnya yang sebelumnya tak pernah Yoona kenali―Another-of-the other side of her.

tumblr_n1pdyfxSYo1rkh709o3_r1_1280 (2)

Yoona dengan high heels tinggi runcingnya melangkah masuk ke dalam club malam tersebut. Ramai dan berisik, itu adalah dua ungkapan dari Yoona untuk tempat ini. Yoona menyapu tempat tersebut dengan pandangannya dan sesekali bertemu dengan para kru yang ia kenal cukup dekat atau mereka hanya menyapa Yoona tanpa Yoona mengetahui namanya. Yoona melangkah masuk lebih dalam dan menyelipkan helaian rambutnya di belakang telinga.

Ia duduk di sebuah kursi putar dan memesan segelas bir beralkohol rendah pada bartender. “Kau tahu, minuman beralkohol untuk penari sepertimu tidak baik.”

Yoona menoleh dan mendapati Jongdae dengan rambutnya yang acak-acakan telah duduk di sebelahnya. “Lalu, mengapa kau mengundangku ke sini?”

“Jangan balik bertanya, Yoong.” Bantah Jongdae lalu iris gelapnya terputar.

“Itu kata-kataku.” Ucap Yoona kemudian menerima segelas bir dari bartender.

“Kau sangat hebat tadi,” Balas Jongdae mampu membuat Yoona memandangnya tak berkedip dan menahan nafasnya. Suara berisik yang mengganggunya tak lagi dihiraukannya― seorang Kim Jongdae mampu menarik seluruh inderanya. “Sungguh.”

Bibir merah merekahnya tersungging kecil. “Kau juga. Dan terimakasih atas little black dress-nya.”

“Sudah kukatakan bahwa dress itu sangat cocok untukmu.”

Yoona tertawa kecil mendengarnya. “Aku baru tahu jika hari ini kau ulang tahun.”

Alis kiri Jongdae terangkat dan memasang raut wajah menggoda. “Kau tidak mengucapkanku ‘selamat ulang tahun’?”

Hap―”

“Jongdae! Hey, honey.” Seorang perempuan berambut pirang nyaris emas datang dan langsung mencium bibir Jongdae dengan panas.

Yoona masih memandang Jongdae saat waktu berhenti begitu saja. Mereka berciuman tepat di depan mata Yoona. Tepat di depan iris madu Yoona yang jatuh cinta pada iris gelap milik seorang laki-laki bernama Kim Jongdae. Tangan yang menggenggam gelas bir itu terjatuh di atas meja bartender―tak mampu hanya untuk memegangnya. Ia ingin mengalihkan pandangannya, tetapi matanya sudah membeku terpaku. Ada bagian dalam diri Yoona yang rasanya patah dan pecah dalam sekejap―hatinya.

the end

37 thoughts on “The Mysterious Ways

  1. Aaaaa…apaan noh? Honey honey?! Chen cuma buat Yoona (di ff ini)! Chen suka sama Yoona, yakin gua. Tapi rada kecewa karena cm sekedar hug moment, need more *plak._.v Jadi, ini to penyebab Yoona broken heart? Dan di MOVIE jg masih butuh sequel lg. Hwaiting eon! Keren😉

  2. ini nyesek. banget.
    aku kira happy end. Tapi ternyata….
    di luar dugaan lah ff-nya.
    Dan aku juga suka bgt sama lagu itu! xD
    Ngebayangin Chen nyanyi lagu itu huaaa bakal jadi argh.
    btw keep writing AKu biasanya jarang minta sequel. Tapi buat yang ini. Sequel plis?._.

  3. knp sad ending… dari awal ceritanya berharap banget mereka bersatu…
    padahal lagi suka bgt sama Jongdae, gak tau knp sekarang dia makin cute ya.

  4. Jongdae ngasih Yoona harapan palsu banget disini -_-”

    uuugh sumpah nyesek banget jadi Yoona disini😦 Jongdae jahat banget😥

  5. Omg ini keren. Suka bgt sama karakter jongdae walaupun akhirnya..yaahh..gitu. Cuman ini keren! Aku rasa kak clora udh balik lgi kyk yg dulu walaupun sempat kena writer’s block

  6. Ceritanya bagus, dan konflik antara kedua cast dapat banget tapi aku kira tdi happy ending ternyata sad ending need sequel juseyo

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s