Precious

ss

|Precious | FN | sad, romance, angst, romance (litle?) | PG17 | Yoona and Lay| Chanyeol, Luhan, Xiumin, Sooyoung and others|

dont be silent readers, dont be plagiators and the story is mine🙂

enjoy!

—-

can’t you hear me? can’t you hear me?

—-

Hidup? Cih, persetan dengan hidup

Ya. Kata itu masih terngiang jelas di otaknya, setelah kepergian gadis itu dia merasa hidupnya benar-benar tak berguna

Lay

Zhang Yixing

Dia tak peduli lagi dengan sebuah kehidupan karena pada akhirnya dia akan menjadi abu yang dibuang ke laut atau disimpan didalam sebuah kotak kaca bersama dengan fotonya atau bahkan menjadi bangkai manusia didalam sebuah peti kubur di makam. Dia sangat membenci hidupnya, memang untuk semua materi fisik, dia mendapatkannya. Kedua orang tuanya memiliki sebuah perusahaan baju merk terkenal dan Lay sendiri dia bukan seorang lelaki yang main-main. Dia cerdas dan berwibawa seperti appanya bahkan kecerdasaannya melebihi hyungnya sendiri

“masih tetap setia disini, sayang?”

Lay menatap malas kearah wanita yang sekarang tengah mengelus pundaknya sambil melempar senyum (yang menurutnya) menjijikkan

Alih-alih tak merespon, Lay memesan sebotol vodka lagi untuknya

“kau tak ingin pergi bersamaku malam ini?” tanya wanita itu tak menyerah

“kau tak ingin bermain denganku lagi?”

Lay meletakkan gelasnya, “aku bosan denganmu” jawab Lay tajam, berteriak pada bartender bar untuk memasukkannya kedalam tagihannya dan menarik jaket hitamnya pergi dari klub malam itu. Ahh… membosankan. Dia melajukan mobilnya langsung ke apartemennya, apartemen hasil kerja kerasnya sendiri tanpa bantuan dari kedua orang tuanya.

Dia melemparkan tubuhnya ke sofa berwarna cokelat tua itu sambil merenggangkan ototnya yang terasa kaku. Dia mengingat semua yang dia lakukan.

Cassanova

Setelah wanita itu pergi, Lay berubah menjadi seorang cassanova, entah sudah berapa wanita yang dia ajak bermain bersamanya—contoh saja, wanita tadi. Selain itu dia juga seorang pengguna dan seorang peminum keras. Tubuhnya akan terasa bergetar jika dia tak minum sebotol minuman keras sehari, maka dari itu dia selalu menyediakan soju dikulka apartemennya

Drrtt…drrtt

Kau masih ingin menggunakannya? Atau kau berpikir untuk berhenti? Sebelum kau menjadi seorang pecandu?

Lay tersenyum mengejek membaca pesan singkat dari seorang Bandar langganannya

Aku tak akan berhenti dan aku tak akan sampai menjadi seorang pecandu. Jadi hentikan mulut sampahmu. Kau ingin aku berpindah?

Tak lama sebuah pesan kembali masuk ke ponselnya

Bahkan ketika wanita itu kembali padamu, kau tetap akan memesan obat-obatan ini dan tetap bermain dengan wanita-wanita malam itu?

Lay menggenggam ponselnya erat

Heh…dia tak akan pernah kembali, balas Lay

Kau tak tahu apa yang akan terjadi kedepannya

Sudahlah, Park Chanyeol bukan hanya aku yang senang dengan ini semua, balas Lay dan langsung melempar ponselnya asal

Dia tak akan kembali, aku yakin.

Seorang lelaki jangkung tengah menatap ponselnya dengan senyuman kecil. Dia sangat mengenal salah satu pelanggannya ini. Pelanggan sekaligus temannya sendiri. Dia selalu berpikir untuk membuat sahabatnya itu berhenti tapi—alasan lain selalu mendorongnya untuk menolak melakukan hal itu

‘dia memberikan pengaruh besar pada Lay’ gumamnya

“masih ingin memberikan obat itu padanya?” tanya seorang wanita yang tiba-tiba muncul dari pintu kamarnya

“dia menginginkannya” jawab Chanyeol

“aku pikir kau sudah berhenti” wanita itu berkata pelan

Chanyeol berdiri mendekati wanita itu dan menarik tangannya

“aku sudah berhenti tapi jika Lay pergi dan menjadi pelanggan orang lain, dosis yang akan mereka berikan pada Lay akan sangat banyak bahkan mungkin Lay bisa mati karena itu”

“bukankah dengan seperti ini saja kau sama dengan membunuh Lay?”

“Sooyoung-ah” panggil Chanyeol, “aku memang memberikannya pada Lay tapi jika Lay berpindah maka dosis yang akan mereka beri akan sangat tinggi. Aku juga tak mau dia berakhir seperti Changmin hyung”

Wanita bernama Sooyoung itu menarik nafasnya dalam dan mengangguk mengerti kemudian meninggalkan Chanyeol sendiri

Aku tak akan berusaha untuk menghentikannya, cukup pelampiasannya selama ini.

—-

“Yoong…Yoona…Yoong” lirih Lay terus menerus, entah sudah keberapa kali Lay bermimpi tentang gadis itu. Dia selalu bergumam dan terus memanggil namanya dengan hasil akhir dia terbangun dengan sumpah serapah karena dia hanya bermimpi

Pagi ini Lay masih bergelung lembut dengan selimut putih tebalnya, setelah dia sempat terbangun karena memimpikan gadis itu dia berusaha kembali tidur bahkan dering ponsel dari sekertarisnya tak dihiraukannya. Dia hanya lelah dan ingin tidur

Tidak

Sebenarnya kepalanya terasa sangat pusing ketika tadi malam Chanyeol membahas tentang wanita itu dan ketika mimpi itu kembali menyerangnya

AYO GG!!

Bahkan nada dering panggilan teleponnya masih lagu kesukaan wanita itu

AYO GG!!

“haazzhh!” hardik Lay membuka selimutnya kesal, segera saja dia mengambil teleponnya yang berada dibawah kakinya

‘Kwon Yuri’

Itu yang tertera dilayarnya, Lay mendesah dan mengangkat telepon itu malas

“wae?” tanya Lay dingin

“sajangnim, apa sajangnim lupa dengan rapat hari ini? Ketua perusahaan dari Irlandia akan datang satu jam lagi”

“tsk, kau siapkan saja semuanya dulu” balas Lay menutup teleponnya tanpa ingin mendengar ocehan lebih panjang dari bawahannya itu

Lay membenarkan posisinya dan duduk disisi ranjang, rambutnya masih acak-acakan, matanya masih ingin menutup, dua kancing bagian atas kemeja putihnya terbuka. Dia menatap pantulan dirinya dicermin dan mengusap wajahnya sendiri dengan telapak tangannya

Kenapa denganku sekarang?

Flashback

“Lay” panggil seorang wanita tersenyum manis mendekati Lay

“kau terlambat 3 menit” kata Lay menatap wanitanya

“astaga, baru 3 menit” kata wanita itu mendesah, Lay tak menjawab dan mengalihkan pandangannya pada luar kaca restoran itu. Wanita itu menarik kursinya, menopang dagunya dan menatap Lay sambil berkali-kali mengedipkan matanya

“kau sudah tak tertarik lagi melihatku?” tanya wanita itu

Lay tak teralih sedikitpun

“Lay” panggil wanita itu pelan

Lay tetap tak menoleh

“tsk” desis wanita itu menyerah dan mengambil minuman Lay dan meminumnya dengan sekali teguk

Tapi Lay tetap tak merespon

“astaga Lay, baru tiga menit sesuai perjanjian. Oke, maafkan aku karena telat, ada sedikit urusan yang harus aku selesaikan tadi” jelas wanita itu

“urusan dengan Sehun?” respon Lay tanpa menoleh

“mwo? Kau masih saja cemburu dengan Sehun?” tanya  gadis itu tak percaya

“tentu saja, kalian berdua masih berhubungan selama ini. Dan banyak dari temanmu yang mengatakan bahwa seorang Im Yoona jauh lebih pantas dengan seorang Oh Sehun” tukas Lay cukup sarkatik

Gadis bernama Yoona itu menarik nafasnya dalam, “kenapa kau mendengarkan kata-kata mereka, seharus—”

“bagaimana tidak? Mereka mengira aku sepupumu. Apa terlihat tak begitu pantaskah aku menjadi kekasihmu?” potong Lay

“mereka tak pernah bertemu—”

“bahkan di hubungan kita yang hampir satu tahun lebih? Ahh… apa kau tak memberitahu mereka tentang hubungan kita?” tanya Lay terdengar kejam

“aku memberitahu mereka, aku tak mungkin menyem—”

“seharusnya mereka tak membahas tentang Sehun didepanku” potong Lay lagi

Yoona berusaha menahan nafasnya agar dia tak emosi seperti yang Lay lakukan saat ini, “aku sudah tak pernah berhubungan lagi dengannya” kata Yoona menegaskan

Lay menoleh menatap Yoona sambil tersenyum mengejek, dia mengambil ponsel disakunya membuka sebuah folder disana dan memberikan ponselnya pada Yoona yang masih diam menatapnya

Yoona mengambil ponsel itu dan menatap sebuah foto disana

“Lay, kami tak sengaja bertemu saat itu dan dia menyapaku. Apa aku tak boleh bersikap baik didepannya seperti tak pernah sesuatu terjadi diantara kami? Lagi—”

“jika bukan karena kejadian Sehun berusaha merebutmu dariku saat itu aku tak akan seperti ini” potong Lay dingin beranjak dari kursinya dan berjalan pergi, tak lupa dia mengambil ponselnya

Dia tak menatap Yoona sedikitpun

Dia tak mengatakan sepatah katapun pada Yoona

Dan Yoona, dia masih membeku ditempatnya.

Flashback off

Sebenarnya tak ada ungkapan kata perpisahan dari keduanya. Setelah kejadian itu Lay tak pernah lagi menghubungi Yoona begitupula dengan Yoona. Lay masih mengingat dengan jelas kemarahannya saat itu

Sehun masih sangat mencintai Yoona

Itu kenyataannya bahkan ketika Yoona sudah memiliki Lay tapi untuk saat ini Lay tak tahu tentang itu. Ini sudah sekitar 8 bulan sejak kejadian itu. Lay bagai menghilang ditelan bumi. Lay mulai mengunjungi tempat-tempat yang tak pernah dia kunjungi dan mulai bermain wanita apalagi soal narkoba yang biasanya dia gunakan

TING TONG!!!

Lay masih berada disisi kasurnya tak beranjak meskipun dia mendengar dengan jelas suara bel berdering yang memanggilnya untuk segera membuka pintunya

TING TONG!!!

Masih dengan wajah kusutnya dia membuka pintu dan mendapati Chanyeol—sang Bandar sekaligus temannya—tengah berdiri dengan jaket hitam khasnya serta rambut acak yang membuatnya benar-benar sangat keren. Berbeda dengan Lay yang terlihat sangat jelas kantung mata hitam yang tengah menggantung indah di pelupuk matanya

“kau tak kerja?” tanya Chanyeol langsung masuk begitu saja

“apa yang membuatmu datang kemari?” Lay sangat membenci basa-basi

“aku tahu kau akan menjadi seperti ini” Chanyeol berjalan mengambil sebotol soju dari kulkas Lay dan duduk disofa Lay, mengelus lehernya

“maksudmu?”

“aku tahu kau akan menjadi seperti ini ketika aku membalas tentang Yoona tadi malam”

“pulanglah, aku akan berangkat kerja sekarang” kata Lay mengusir Chanyeol, nadanya sangat rendah

“kau tak perlu bekerja hari ini”

“kau gila? Seorang investor datang hari ini”

“tuan Zhang sudah mengambil alih tentang ini, aku diberitahu tadi”

“jangan membual. Cepat keluar!” Lay hampir berteriak dan bersiap membuka pintu apartemennya

“kau tak merindukan Yoona?”

Diam, Lay langsung terdiam dari langkahnya tanpa memutar tubuhnya menatap Chanyeol yang masih menatap lurus keluar jendela kamar Lay

“kau tak ingin menyelesaikan kesalah pahaman ini?”

“kau tak ingin meluruskan semuanya?”

“aku tak ingin melakukannya” jawab Lay

“sampai kapan? Ini sudah 8 bulan kau berdiri teguh diatas keegoisanmu tentang hubungan Yoona dan Sehun yang sudah berakhir”

Lay diam dan menyandarkan tubuhnya di tembok dingin itu menarik nafasnya dalam

“bagaimana bisa kau berdiri ditengah hubungan yang bahkan mungkin keduanya masih saling mencintai?”

“jadi, kau tak mengerti tentang Yoona? Aku heran kenapa dulu Yoona mau menerimamu jika kau saja tak mengerti tentangnya sedikitpun” ejek Chanyeol

“apa maksudmu?”

“dia dulu memang mencintai Sehun tapi semuanya berubah saat Sehun mulai bertindak kasar padanya dan kau datang padanya” jelas Chanyeol

“heh… kau tak perlu melakukan hal ini, Chanyeol” kata Lay tersenyum smirk

“aku memang bukan teman Yoona tapi aku mengenalnya dan—Sooyoung adalah sahabat Yoona”

“Sooyoung? Kekasihmu itu?” tanya Lay tak percaya

“terserah kau percaya atau tidak tapi—Yoona akan segera dijodohkan dengan anak dari teman relasi bisnis appanya”

Lay diam tak merespon perkataan Chanyeol. Dia baru mendengar soal ini, baru mendengar soal kenyataan lain tentang Yoona

“dan lelaki yang akan dijodohkan dengan Yoona bukan Sehun ataupun Suho mantan kekasih Yoona sebelum Sehun tapi melihat keadaanmu yang sekarang, lelaki yang akan dijodohkan dengan Yoona jauh memiliki sifat yang lebih baik dibandingkan denganmu. Seorang cassanova, peminum berat dan seorang pengguna narkoba”

“kau sedang mengejekku sekarang?” Lay sedikit tersinggung

“aku tak mengejekmu, aku hanya tak ingin kau masuk kedalam lingkaran kehidupan yang kau jalani sekarang” jawab Chanyeol berdiri menghampiri Lay

“terima kasih untuk minumanmu, soju memang paling enak” Chanyeol tersenyum manis dan menepuk pundak Lay

Lay masih berdiri ditempatnya, dengan kemeja putihnya yang sudah kusut. Ponselnya kembali berdering, dengan malas dia mengambil ponsel dikamarnya dan menatap nama yang tertera dilayar

“wae?” tanya Lay

“datanglah ke café sekarang”

“café?” tanya Lay bingung, ada banyak café di Seoul

“café tempatmu biasanya membeli kopi” jawab Xiumin

“kenapa kau menyuruhku kesana?” tanya Lay

“jangan banyak bertanya, cepatlah kemari tadi Chanyeol mengatakan padaku kau tak bekerja hari ini”

“aku malas”

“jika kau tak datang dalam 30 menit lagi, aku yang akan kesana dan memaksamu datang kemari”

“kenapa kau menyuruhku kesana?” tanya Lay sedikit kesal

“kau tahu aku benci pertanyaan?”

“ne”

“ingat 30 menit!”

Lay kembali melempar ponselnya. Kenapa semua orang begitu menyebalkan hari ini?.

35 menit lebih 15 detik

Lay berjalan dengan pakaian formalnya mendekati sebuah meja bertuliskan angka 15 yang sudah diisi oleh 4 orang. Chanyeol, Xiumin, Luhan dan Sooyoung. Lay menatap mereka satu persatu dan kemudian menarik kursi duduk disebelah Luhan

“5 menit 15 detik” ungkap Xiumin mengecek melalui timer di handphonenya yang memang sengaja dijalankan untuk menunggu Lay, “itu kan yang sering kau lakukan pada Yoona ketika Yoona telat datang menemuimu?”

“apa yang kalian inginkan?” Lay tahu arah pembicaraan yang sedang mereka bahas

“ehem” kata Luhan berdehem pelan, “begini—ini soal—”

“kenapa kalian mengusik kehidupanku?” potong Lay tajam, “kalian hanya temanku tak lebih” lanjut Lay

“kami bukan bermaksud mengurusi kehidupanmu” Xiumin menyahut

“aku tahu kalian pasti ingin membahasku dan Yoona. Aku pulang!”

“kami tak ingin membahas tentangmu dan Yoona! Karena kami sudah bosan dengan topic itu” sahut Chanyeol yang mulai tak sabar dengan sikap Lay dan juga tak sabar dengan sikap teman-temannya yang senang berbasa-basi

Sooyoung berdiri dan menarik Lay untuk duduk kembali, “ibu Yoona sudah merencanakan tentang pertunangan Yoona dan dalam waktu dekat ini Yoona akan segera bertunangan dengan lelaki yang dijodohkan dengannya—mungkin sekitar 3 hari lagi, tak semua orang diundang hanya keluarganya saja dan termasuk aku didalamnya. Aku baru diberi tahu tadi” terang Sooyoung

Pandangan mata Lay yang semula mengkilat menjadi lebih diam sekarang, tak ada yang bisa membaca apa yang sedang dirasakan dan dipikirkan oleh Lay. Mereka berempat diam menatap Lay yang tak memberi respon, wajah Lay terlalu menyembunyikan semuanya

“kau benar-benar tak ingin mengejarnya?”

Diam

“kau pernah mengatakan padaku bahwa kau sangat mencintainya”

Diam

“lalu apa gunamu melakukan semuanya bahkan kau bertengkar hebat dengan Sehun hanya karena kau berusaha merebut Yoona kembali?”

Diam

“apa kau benar-benar sudah dibutakan oleh perlakuan bocah brengsek itu?”

Diam

“Lay”

“aku tak tahu” jawab Lay lirih, “aku harus pulang sekarang, kepalaku pusing” lanjut Lay

Lay berjalan cepat meninggalkan café itu dan kembali ke apartemennya. Sesampainya di apartemennya dia langsung menuju kotak obat dan mengambil sebuah pil penghilang rasa sakit disana dan segera meminumnya

“Aahhh…” desah Lay, kepalanya benar-benar terasa ingin meledak

Lay melirik kearah bubuk putih didekat obat yang dia minum tadi, dia memang membeli obat itu setelah dia merasakan untuk yang pertama kalinya tapi yang sebenarnya Lay tak pernah mengkonsumsinya setelah itu. Chanyeol mengira jika setelah dia memberikan obat itu pada Lay, Lay akan langsung menggunakannya tapi tidak Lay hanya menyimpannya di kotak obat tanpa dia sentuh sedikitpun dan Lay bukanlah seorang lelaki bodoh

Dia tahu jika didalam obat itu hanya ada sedikit kandungan narkoba. Dia tahu sahabatnya Chanyeol tengah berusaha membuatnya agar dia berhenti menggunakan obat itu

“Chorong” kata Lay menelpon seorang wanita, “kau bisa temani aku hari ini? Aku lipat gandakan bayaranmu nanti” lanjut Lay

“…”

“datang nanti malam”

Buntu

Pikiran Lay terasa sangat buntu hingga akhirnya dia menelpon seorang wanita malam yang dia kenal. Sebenarnya banyak wanita yang mengenal Lay hanya saja Lay hanya mengenal beberapa dari mereka sebab jika Lay sudah selesai dengan urusannya Lay tak akan memperdulikan tentang wanita itu lagi meskipun mereka baru saja melakukan hal yang sangat hina.

20.00 KST

Ruangan apartement Lay kembali berdering menandakan seorang tengah datang untuk bertamu. Lay tahu siapa yang datang dan tebakannya memang benar—Chorong—wanita itu datang dengan pakaian yang sangat memperlihatkan bentuk tubuhnya. Chorong langsung memeluk Lay dan mencium bibir Lay sekilas

“kau merindukanku?” tanya Chorong

“kajja, kita jalan-jalan” ajak Lay menarik jaket cokelat disofa depan TV tanpa merespon pertanyaan Chorong

Chorong hanya tersenyum manis menatap Lay dan mengapit lengan tangan Lay sambil tersenyum manis.

Lay dan Chorong berjalan-jalan disebuah taman, layaknya seperti seorang pasangan normal tapi Lay dia terlalu sering menatap ponselnya yang membuat Chorong kesal

“tak bisakah kau meninggalkan ponselmu?” tanya Chorong

“diamlah” balas Lay, “kita kesana” kata Lay memasukkan ponselnya menuju sebuah café yang membuat Chorong tertarik karena tangannya masih menggantung di lengan tangan Lay.

“kau ingin memesan apa?” tanya Chorong

“sama sepertimu” jawab Lay tak peduli

“baiklah, 2 tenderloin steak dan anggur merah” pesan Chorong

“ganti dengan jus buah” sahut Lay

“wae? anggur merah jauh lebih baik daripada jus”

“pikirkan kesehatanmu, sayang” kata Lay bersikap manis yang membuat Chorong mengulum senyum

“baiklah” kata Chorong mengalah

Lay mengutuk dirinya sendiri ketika dia sadar tengah mengatakan sebuah kata-kata yang sangat manis pada wanita didepannya. Bukan Chorong yang dia maksud tapi—Yoona. Pikirannya terlalu kalut dengan kabar yang mengejutkannya

Lay berharap dia tak memikirkan tentang Yoona tapi otaknya berkata lain. Dia tetap saja memikirkan tentang gadis itu. Gadis yang menghilang dari kehidupannya selama 8 bulan ini

“kau melamun?” tanya Chorong, Lay menatap Chorong diam dan menggeleng

“selamat datang”

Entah apa yang dipikirkan Lay, ketika dia mendengar suara pelayan menyambut seorang pelanggan masuk dia langsung menoleh dan wajahnya tiba-tiba saja mengeras, tangannya menggenggam erat, siulet matanya benar-benar sangat marah

“kita pulang” ajak Lay

“mwo? Tapi—”

“kita pulang! Aku tak ingin makan!” potong Lay tajam, mengeluarkan dompetnya dan meletakkan beberapa lembar won yang mungkin lebih dari harga yang seharusnya dia bayarkan.

Chorong hanya mengikuti arah pergi Lay tapi setelah Lay menjalankan mobilnya, Lay tak menuju kerumahnya melainkan ke klub malam.

Lay benar-benar mabuk bahkan Chorong yang membawa mobil Lay dan mengantarkan Lay pulang. Ingin saja Chorong tak melakukannya tapi karena dia sedang butuh uang jadi dia melakukannya karena dia berencana untuk tetap menarik biaya karena mengurus Lay yang tengah mabuk berat

“WAE?!” teriak Lay didalam mobil

“diamlah, sebentar lagi kita sampai di apartemenmu” kata Chorong

Chorong membantu Lay untuk sampai kekamar Lay dengan susah payah. Tentu saja Chorong kesusahan, dengan gaun ketat dan dengan sebuah heels dengan tinggi sekitar 10 cm itu dia berusaha membuat Lay berjalan

Setelah merebahkan tubuh Lay dikasur kamarnya, Chorong berniat pulang tapi tidak ketika tangan Lay menariknya begitu keras hingga Chorong tersentak kaget

“kau mau kemana?” tanya Lay setengah sadar

Chorong tak menjawabnya hanya diam menatap Lay, “aku—”

“kau mau pergi?!” tanya Lay sedikit membentak

“Apa yang kau inginkan?” tanya Chorong melipat tangannya, “aku ingin pergi dan mendapatkan job lain” lanjut Chorong

“Yoona” lirih Lay

“mwo?! Yoona?” tanya Chorong bingung

“kajima! KAJIMA!” teriak Lay menarik tangan Chorong dan melemparkan tubuh Chorong keatas ranjang kemudian menindihnya

“aku bukan Yoona” kata Chorong pelan

“Yoong” lirih Lay dan kemudian melumat bibir Chorong penuh nafsu hingga Chorong mendorong tubuh Lay paksa

“kau kasar sekali malam ini, waeyo?” tanya Chorong masih mengambil nafasnya, tangan Chorong beralih pada wajah Lay dan mengelusnya

“baiklah, anggap saja aku adalah gadis bernama Yoona itu” kata Chorong dan mulai mencium bibir Lay dan tentu saja Lay membalas lumatan itu hingga tangannya membuka gaun yang Chorong gunakan dan Chorong membuka kancing kemeja yang Lay gunakan

“Yoong” lirih Lay lagi sedangkan Chorong hanya tersenyum dan menarik tengkuk Lay, memaksa Lay menikmati leher indahnya

BRAK!

Seseorang tengah mendobrak paksa sebuah pintu apartemen mewah dan membuat seorang didalamnya kaget berusaha menghentikan aktivitasnya. Seorang lelaki dengan perawakan jangkung dan ada dua orang lelaki dibelakangnya memasuki kamar yang ada di apartemen itu dan mendapati sahabatnya berdua dengan seorang wanita dengan posisi menindih

Lelaki berwajah flower boy itu langsung dengan segera menarik tubuh Lay kasar dan melemparkan tubuh Lay hingga menatap tembok, sedangkan lelaki dengan perawakan jangkung itu mengusir wanita yang ada disana dan memberikan beberapa lembar won

“cih, ini kurang. Dia akan melipat gandakan bayaranku” kata wanita itu

“kurang? Bahkan dia belum menikmati tubuhmu secuil pun, jadi sekarang kau pergi daripada aku mengambil uang itu lagi!” ancam Chanyeol

Chanyeol mendekat kearah Lay yang terduduk diam sambil menunduk. Chanyeol benar-benar amat sangat marah sekarang, dia menarik baju Lay dan memukul wajah Lay hingga sang empunya wajah menjadi ungu membiru

“Chanyeol! Berhentilah! Kau justru menyakitinya!” teriak Xiumin berusaha menghentikan Chanyeol

“apa dia ingin menjadi sepertiku dulu? Menjadi seorang berandalan?!” tanya Chanyeol marah

Sedangkan Luhan dia menuju kotak obat Lay dan mengambil obat itu dan langsung membuangnya ke kloset kamar mandi, dia cukup kaget karena terlalu banyak obat itu disana. Setelah selesai dia menatap Xiumin yang memegangi tubuh Chanyeol untuk berusaha memukul Lay

“Chanyeol! Berhentilah!” seru Luhan, “kau tak menyelesaikan apa-apa jika kau melakukan ini! Dia sedang mabuk!”

“dia itu manusia lugu yang sekarang berubah menjadi bajingan karena kesalahannya sendiri! Jika dia bisa lebih menahan rasa egoisnya dia tak akan menjadi seperti ini dan menganggap wanita murahan seperti tadi adalah Yoona!” amuk Chanyeol

Luhan mendekati Lay dan mengangkat wajah Lay, benar-benar menyengat, bau alcohol yang melekat pada Lay benar-benar menyengat

“Lay, kau tahu aku?” tanya Luhan berusaha menyadarkan Lay

“nuguseyo? Yoona, eodiga?” tanya Lay tanpa sadar

“lihat! Bahkan dia masih mencintai gadis itu! Seharusnya dia bisa melakukan hal yang lebih masuk akal daripada memuaskan kemarahannya pada wanita murahan tadi!”

“Lay!” bentak Xiumin, “kau juga pernah mengalami ini! Seharusnya kau tahu!”

“karna aku pernah mengalami ini aku ingin dia tak mengalami hal yang sama sepertiku! Berakhir seperti Seohyun yang meninggalkanku!” seru Chanyeol

“percuma kita berdebat, jadi diamlah kalian berdua” potong Luhan, “Xiumin bantu aku memindahkan Lay” kata Luhan

Xiumin melepaskan tangannya dari Chanyeol dan membantu Luhan meletakkan tubuh Lay ke ranjangnya

“apa aku perlu menelpon Yoona?” tanya Xiumin

“jangan, Lay masih diluar batas sadarnya, jika Yoona datang kemari Lay justru akan melakukan perbuatan itu pada Yoona” jawab Luhan

“lalu apa yang akan kita lakukan?” tanya Xiumin

“aku akan mengobati lukanya dan biarkan dia sadar sampai esok hari baru setelah itu kau—Chanyeol, hubungi Yoona” Luhan menatap tajam kearah Chanyeol

“apa Yoona tahu tentang semua sikap Lay selama ini?” tanya Xiumin

“molla” jawab Luhan pelan sedangkan Chanyeol hanya menggeleng

“aku harap tidak” kata Chanyeol pelan.

Berulang kali Chanyeol meneguk soju yang sambil menonton acara TV yang membosankan tak ada pilihan lain selain itu. Chanyeol bisa mendengar suara Lay bergumam cukup keras tapi dia tak peduli, setelah Luhan mengobati bekas pukulan dari Chanyeol, Luhan langsung pulang karena dia tak ingin meninggalkan eommanya sendirian sedangkan Xiumin sudah tertidur lelap di sofa sebelah Chanyeol duduk

Dia mengambil ponselnya dan menatap layar wallpapernya dengan Sooyoung

‘gumawo, kau berhasil mengubahku’ gumam Chanyeol pelan

Chanyeol mengetik sebuah pesan singkat disana dan mengirimkannya pada Sooyoung. Dia tahu Sooyoung tak akan membukanya sekarang

Aku tak akan membiarkanmu menjadi jauh lebih parah dariku.

—-

“Yoona, kau akan pulang sore nanti?” tanya ny. Im pada putri sulungnya

“entahlah eomma, jika ada yang memesan gaun lagi mungkin aku akan pulang malam. Entah kenapa akhir-akhir ini banyak orang yang memesan gaun pesta” jawab Yoona mengunyah roti selai yang disiapkan eommanya

“bagaimana denganmu dan Kris?” tanya tuan Im

“appa, tak bisakah kita batalkan saja?” tanya Yoona sedikit memelas

“appa tak akan membatalkannya sebelum Kris menolak” jawab tuan Im

“appa, Kris mungkin sudah menolak dan pasti tuan dan ny. Wu tak enak mengatakan hal itu pada appa bahkan mungkin mereka menunggu appa untuk mengatakan pada mereka jika aku menolak tentang perjodohan ini”

“Yoona, appa tak ingin memaksa tentang perjodohan ini, appa dan tuan Wu akan tetap berusaha mendekatkan kalian meskipun akhirnya nanti kalian akan tetap menjadi seorang teman” jelas tuan Im tersenyum

Yoona hanya manggut-manggut dan menghabiskan lagi roti selainya.

Ketika dia selesai sarapan dia bergegas berangkat kerja tapi ketika dia akan memasuki mobilnya ada mobil lain yang sedang terparkir dihalamannya dan seseorang tengah bersandar disebuah mobil berwarna hitam itu melipat kedua tangannya sambil menunduk

“ah… kau sudah selesai?” tanya lelaki itu

“Chanyeol?” tebak Yoona kaget.

“jadi, apa yang membuatmu menjemputku? Sooyoung yang menyuruhmu?” tanya Yoona yang sudah duduk manis dikursi penumpang dengan Chanyeol yang sibuk menyetir disebelahnya

“aniyo, ini keinginanku” jawab Chanyeol tersenyum penuh arti

“kau ada urusan denganku?” tanya Yoona pelan

“aiggo, kau sangat pintar Yoona-ya”

geez, urusan apa?” tanya Yoona

“kita lihat saja nanti” jawab Chanyeol melempar senyum manis yang hanya dijawab Yoona dengan tatapan aneh.

Mobil Chanyeol berhenti didepan sebuah apartemen mewah, Yoona masih penasaran kenapa Chanyeol membawa Yoona kemari. Dan yang paling aneh, Yoona tak begitu dekat dengan Chanyeol. Dia mengenal Chanyeol karena Chanyeol adalah namjachingu Sooyoung

“kenapa kau membawaku kemari?” tanya Yoona masih mengikuti langkah Chanyeol

“benar kata Sooyoung, kau itu banyak bertanya” candanya

“aku tak akan bertanya jika kau tak menjelaskan padaku kenapa kau membawaku kemari” kata Yoona

“baiklah, kau akan mendapat jawabannya sebentar lagi” jawab Chanyeol

Pintu lift yang mereka naiki berhenti dilantai 8, lorong apartemen itu cukup sepi hanya ada beberapa orang yang mulai keluar dari kamar untuk melakukan aktivitasnya. Mereka berhenti didepan sebuah kamar dengan nomor 58, Chanyeol segera menekan tombol password disana dan mengajak Yoona masuk

“masuklah” kata Chanyeol

“kenapa?” tanya Yoona

“jangan banyak bertanya” jawab Chanyeol menarik tangan Yoona

Yoona melihat ruangan apartemen itu, sangat tidak rapi dan banyak botol bekas minuman diatas meja didepan TV

“jangan hiraukan kaleng itu, karena aku dan kedua temanku yang meminumnya” kata Chanyeol yang mengerti tatapan Yoona

Chanyeol menuju sebuah kamar dan membuka pintunya, “masuklah” kata Chanyeol lagi

“apa yang akan kau lakukan?” tanya Yoona mulai curiga

“tenang saja, aku tak mungkin melakukan itu padamu” jawab Chanyeol tertawa kecil

Karena Yoona tak segera mendekat, Chanyeol langsung menarik tangan Yoona dan mendorong tubuh Yoona hingga masuk kedalam kamar dan kemudian Chanyeol menutupnya

Yoona kaget dengan perilaku Chanyeol dan berusaha membuka pintu berwarna putih itu tapi—terkunci hingga dia menyadari sebuah gumaman tak jelas dibelakangnya. Yoona tahu ada orang sedang bergumam dan Yoona mulai sadar ada seseorang tidur diranjang, dengan pelan Yoona mendekatinya dan menutup mulutnya rapat-rapat

Lay?!

Yoona benar-benar tak ingin bersuara karena dia takut lelaki itu terbangun dan menemukannya berdiri disana. Dia segera berbalik tapi dia mendengar suara—suara yang dia kenal—suara Lay yang sedang memanggilnya pelan, ingin dia menghiraukannya tapi suara Lay tetap memanggilnya walaupun lirih

Terpaksa, Yoona memutar langkahnya dan mendekati Lay, wajah Lay masih tertidur dengan  bekas luka membiru diwajahnya dan Lay tak menyadari kedatangan Yoona sedikitpun. Lay hanya bergerak bingung dan merintih kesakitan sambil terus memanggil nama Yoona

Ada apa denganmu?

Yoona menangis mendengarnya, dia tak bisa percaya jika Lay terus menyebut namanya bahkan Yoona tahu ada keringat bercucuran diwajah Lay begitupula dengan luka diwajah Cina itu

“kajima” lirih Lay, “Yoong, kajima” ulang Lay

“mianhe”

Yoona semakin menangis mendengarnya, Lay dia masih memikirkan Yoona, itu yang membuatnya benar-benar bahagia. Yoona duduk disisi ranjang Lay masih memperhatikan Lay yang terus bergumam tak jelas tangan Yoona bergerak menyentuh tangan Lay dan tangan Yoona bergerak mengelus kepala Lay

Lay mengatakan maaf dalam mimpinya

Yoona berusaha menahan isakan tangisnya dan berniat pergi tapi tangan Lay menahannya dan membuat Yoona berbalik menatap Lay

“kau—kau kemari?” tanya Lay sayup, Yoona hanya menutup mulutnya

“aku tak bermimpi bukan?” ulang Lay, Yoona masih tetap diam

“jika ini mimpi, aku ingin meminta maaf padamu, Yoong. Maafkan aku karena aku tak mempercayaimu saat itu” kata Lay

Tumpah sudah pertahanan Yoona, dia menangis dan langsung memeluk Lay yang sudah duduk terdiam diatas kasurnya. Lay masih berusaha mengembalikan kesadarannya sendiri

“ini—bukan mimpi?” tanya Lay tepat ditelinga Yoona tapi Yoona tak menjawabnya, wanita itu tetap menangis sambil memeluk Lay

“Yoona, kau—kau berada disini?” tanya Lay

Tapi Yoona tak menjawabnya. Yoona benar-benar ada disini, didalam apartemennya dan sekarang Yoona tengah memeluknya. Lay langsung melingkarkan tangannya, bahkan dia memeluk Yoona sangat erat dan mulai menghirup wangi tubuh wanita yang sudah lama tak bersamanya itu

“mianhe, jeongmal mianhe” kata Lay

Yoona melepaskan pelukannya dan menatap wajah Lay yang benar-benar sangat kusut, Yoona kembali menangis karena dia baru menyadari tentang perubahan yang terjadi pada tubuh Lay. Kantung matanya semakin hitam, bibirnya pucat, tubuhnya terasa lebih kurus daripada sebelumnya dan ada banyak luka diwajahnya

“Yoona, maafkan aku. Jebal, maafkan aku. Aku gila tanpamu disini, aku menjadi orang lain ketika kau tak bersamaku, aku menjadi seorang iblis ketika kau tak bersamaku, aku menjadi seorang penuh dosa ketika aku tak bersamamu. Yoong, maafkan aku” suara Lay sangat pilu ketika mengatakan hal itu

Yoona mengangkat wajah Lay yang menunduk mengatakan semua yang dirasakannya, “baru kali ini aku mendengarmu mengatakan semua perasaanmu”

“aku tahu apa yang terjadi padamu selama ini” kata Yoona

Lay mengangkat wajahnya, “kau—kau mengetahuinya? Semuanya?”

Yoona mengangguk, “kenapa kau melakukan itu? Bukankah Lay yang aku kenal adalah seorang namja yang sangat baik? Dan dia tak akan menghianati Tuhannya” tanya Yoona

Lay menunduk, “mianhe, jeongmal mianhe” kata Lay berulang-ulang

“jangan terus meminta maaf Lay” kata Yoona mengelus wajah Lay, “kau tak sakit kan?” tanya Yoona

“jangan mengalihkan pembicaraan” jawab Lay

“wajahmu pucat, apa kau baru saja bertengkar? Lihatlah bahkan aku tak bisa melihat ketampananmu lagi” kata Yoona tersenyum kecil

“aku rasa—dia memukulku semalam” kata Lay yang terdengar seperti gumaman tak kentara

Yoona masih menatap Lay dengan jemari tangannya mengelus rambut Lay dan menatanya hingga benar-benar menjadi sediki tertata. Lay menatap Yoona tanpa berkedip sedikitpun,  dia hanya terdiam membisu. Dia menarik pelan tangan Yoona yang tengah menata rambutnya dan menggenggamnya

“saranghae” ucap Lay, Yoona sedikit kaget mendengarnya tapi kemudian dia tersenyum simpul, “nado” jawab Yoona

Lay mendekatkan wajahnya perlahan begitu pula dengan Yoona hingga akhirnya bibir mereka bertemu. Tak ada nafsu seperti yang Lay lakukan pada wanita-wanita itu dan bibir Yoona terasa begitu hangat ketika dia mulai mengulumnya pelan. Lay merindukannya sungguh, jauh didalam hatinya terasa begitu sangat melegakan ketika dia bertemu dengan wanita ini daripada ketika dia menjalani kehidupannya selama 8 bulan terakhir ini

Yoona menjauhkan wajahnya sambil tetap tersenyum manis menatap Lay, Lay langsung menarik tangan Yoona agar dia bisa memeluk Yoona lebih lama. Untuk melepas semua kerinduannya, untuk melepas semua kerisauan yang dia rasakan berbulan-bulan ini

“kau ingin memelukku terus?” tanya Yoona

“aku merindukanmu, sangat” kata Lay menekankan suara pada kata terakhirnya

Yoona ingin melepaskan pelukannya tapi Lay menahannya sambil terus menenggelamkan kepalanya ke bahu Yoona. Aroma tubuh Yoona yang membuatnya ketagihan

“aahh…” rintih Lay tiba-tiba

“gwenchana?” tanya Yoona

“gwenchana” jawab Lay, “maafkan aku sekali lagi”.

2 years later….

“chukkaee!!!!” seru Yoona tersenyum senang menatap kedua pasangan pengantin yang sekarang tengah berpesta karena mereka sudah sah menjadi sepasang suami istri

Park Chanyeol dan Choi Sooyoung

Yoona tersenyum dengan segelas minuman ditangannya, dia sekarang sedang berbincang dengan Chanyeol dan Sooyoung. Yoona terus saja menggoda Sooyoung hingga wajah wanita itu memerah malu

“jangan menggodanya, seharusnya kau juga harus cepat menikah” kata Chanyeol membela istrinya

“bagaimana bisa menikah? Lay saja pergi meninggalkanku” jawab Yoona mengerucutkan bibirnya

“siapa yang bilang aku meninggalkanmu?” sahut Lay yang tiba-tiba datang sembari memeluk Yoona dari belakang

“whooa! Lay! Kau sudah datang?” seru Chanyeol heboh

“tentu saja, aku tak mungkin melewatkannya” jawab Lay tersenyum dan melepaskan pelukannya pada pinggang Yoona, “kemana Luhan dan Xiumin?”

“entahlah, tadi aku melihat mereka tapi sekarang entah dimana lagi mereka berada” jawab Chanyeol

Lay meletakkan telapak tangannya dipuncak kepala Yoona sembari tersenyum, “kau cantik sekali, sungguh” pujinya sedangkan Yoona hanya tersipu mendengarnya

“itu disana” kata Sooyoung menunjuk segerombol—2 pasang sedang berjalan mendekati mereka

“hey! Kau datang rupanya” kata Luhan melempar senyum, “aku lihat tadi Yoona hanya sendirian” lanjutnya

“Dia baru saja pulang” jawab Yoona

“ahh… kenalkan, ini Jessica, tunanganku” kata Luhan memperkenalkan tunangannya

“dan ini Hyoyeon, tunanganku” kata Xiumin

“annyeonghaseo” kata mereka berdua bersamaan

“annyeong, Yoona imnida” jawab Yoona tersenyum manis, “Lay imnida” imbuh Lay tersenyum

“mereka juga sepasang suami-istri?” tanya Jessica

“aniyo, kami hanya teman” jawab Yoona, Lay langsung menoleh tajam pada Yoona sedangkan Yoona hanya membalas mehrong

“aniyo, mereka sepasang kekasih” ralat Chanyeol

“kau jahat sekali Yoong” kata Sooyoung

“bercanda” jawab Yoona tersenyum kecil, “dia namjachinguku” jelas Yoona akhirnya.

Setelah acara pesta, Lay mengantar Yoona pulang. Tak cukup malam karena semua keluarga Yoona sedang berkumpul diruang tengah. Appa Yoona melihat Yoona datang hanya tersenyum simpul begitu pula dengan eomma dan adiknya

“sudah pulang?” tanya tuan Im, “seperti yang appa lihat” jawab Yoona

“jika kau mengatakan pada appa bahwa kau sudah memiliki namjachingu appa tak akan menjodohkanmu”

“tak apa appa, lagipula aku dan Kris masih berhubungan sebagai seorang teman. Appa sudah tahu Kris akan menikah?” tanya Yoona

“tentu saja, appa Kris sahabat appa, jadi appa tahu tentang itu” jawab tuan Im

“lalu kapan noona akan menikah?”

Sebuah bantal terlempar keras mengenai wajah Baekhyun yang sedang asyik dengan cemilan ditangannya

“diam kau anak kecil!” seru Yoona

“yah… aku pikir kan sekarang seharusnya noona sudah menikah” kata Baekhyun tanpa dosa

“BAEK—”

“Baekhyun benar Yoong, kapan Lay akan melamarmu?” tanya ny. Im, Baekhyun tersenyum penuh kemenangan

“aissh…. Aku sedang tak memikirkan hal itu eomma” jawab Yoona beranjak pergi kekamarnya dilantai dua

“noona!! Kau ingin menjadi seorang perawan tua?” goda Baekhyun, Yoona langsung berlari turun tapi kalah cepat dengan Baekhyun yang sudah berlari lebih dulu untuk menyelamatkan dirinya

Dikamarnya Yoona segera mengganti gaun pesta yang dia kenakan tadi dengan piyama berwarna kuning dengan gambar rilakuma kesukaannya. Dia mengambil ponselnya dan mendengarkan lagu I Got A Boy dari Girls’ Generation kesukaannya

12.00 KST

Tepat tengah malam, Yoona mematikan ponselnya dan berniat tidur tapi keinginannya terhenti tatkala dia mendengar sebuah genjrengan gitar pelan. Bulu kuduknya terasa merinding ketika mendengarnya

Siapa yang tega bermain gitar pada tengah malam seperti ini?

Yoona menarik selimut tebalnya dan menutupi wajahnya tapi suara gitar itu masih terus bermain hingga membuat Yoona penasaran. dia membuka selimutnya pelan dan berjalan mengitari kamarnya mencari sumber suara tapi tak menemukannya hingga pikiran akhirnya pada korden kamarnya

Dia berjalan perlahan karena dia takut jika tiba-tiba saja ketika dia membuka kordennya sesuatu muncul dan membuatnya mati kutu tanpa mengeluarkan sepatah katapun dari bibirnya. Dia mengintip sedikit pada ujung korden untuk bisa melihat dengan jelas dan matanya terfokus pada seorang lelaki tengah duduk dengan sebuah gitar acoustic sambil menyanyikan Music Of My Heart yang dinyanyikan oleh N*Sync ft Gloria Estefan dan juga Just The Way You Are milik Bruno Mars

L—Lay?

Yoona segera menyibak seluruh kordennya hingga dia bisa melihat dengan jelas Lay sedang bermain gitar dan menyanyi.

Lay menatap kearah Yoona yang sekarang tengah memperhatikannya dari kamarnya, Lay melemparkan senyuman manisnya dan tetap bermain. Hingga sesuatu membuatnya takjub dan menutup mulutnya karena terlalu kaget

Ada banyak lampu menyala terang yang membentuk sebuah tulisan

Im Yoona, will you marry me?

Yoona hampir menangis melihatnya sedangkan Lay tetap memainkan gitarnya yang sekarang sudah berganti menjadi Marry You milik Bruno Mars. Yoona segera berlari turun dari kamarnya dan menemui Lay yang berada di pekarangan rumahnya

Lay meletakkan gitarnya dan berjalan mendekati Yoona yang berdiri tak jauh darinya sambil tersenyum dan membawa sebuah balon berwarna merah ditangannya

“jadi? Will you marry me?” tanya Lay

“yes, I do” jawab Yoona tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya

Lay menarik tangan Yoona dan menyematkan sebuah cincin silver yang terhubung dengan balon berwarna merah yang dibawa Lay. Lay melepas ikatan balon itu, tepat ketika balon berwarna merah itu terbang tinggi tiba-tiba banyak balon yang mengikuti terbang setelahnya. Beraneka warna yang mampu membuat Yoona terperangah tak percaya

“mianhe, tak ada kembang api. Tak mungkin bukan aku mengganggu tetanggamu?” kata Lay menampilkan senyuman manisnya

Yoona langsung berhambur kepelukan Lay karena rasa haru dan kebahagiannya hanya berbeda tipis. Lay tentu saja membalas pelukannya sedangkan tuan dan ny. Im beserta Baekhyun hanya melihat mereka dari balik kaca rumah mereka

“kajja, tinggalkan mereka” ajak ny. Im, “besok aku akan bertemu dengan ny. Zhang dan membicarakannya” lanjut ny. Im tersenyum menarik tangan tuan Im dan Baekhyun agar meninggalkan Yoona dan Lay berdua.

Ketika dia pergi layaknya hampir seluruh kehidupanku menghilang meninggalkanku seorang diri dengan keadaan sangat mengenaskan-Lay

Ketika aku tak melihatnya lagi di sekelilingku, aku hanya bisa terdiam dan berharap suatu saat aku akan bertemu dengannya lagi. Dan Tuhan sudah menjawab permintaanku-Yoona

Hari ini kami menikah setelah sekitar 5 bulan keluarga kami menyiapkannya-Lay

Aku bahagia dengannya, meskipun dulu kami pernah merasakan saling kehilangan satu sama lain untuk beberapa saat-Yoona

Aku akan menjaganya sepanjang hidupku, jikapun aku harus ingkar maka aku ingin Tuhan mengambil nyawaku saat itu juga-Lay

Aku mencintaimu-Yoona

Aku lebih mencintaimu-Lay.

THE END

hai…hai…haoo…. aku balik lagi :d dengan ff LaYoong karena entah kenapa lagi ngefeelnya sama Lay😀 (biasanya si Suho, Sehun atau nggak ya Chanyeol :p ). ini adalah ff pertama yang berhasil aku buat dengan main cast Lay hehehe. dulu aku pernah coba buat tapi–yah–taulah pastinya, nggak dapet feel sama sekali padahal word-nya udah hampir 3000 dan terpaksa langsung aku hapus semua karena waktu aku baca ulang rasanya freak banget😀. oke segitu dulu aja dari aku, buat yang lagi kelas 3 SMA yang semangat ajaa ya (saya juga sama :D). See Yaa!!!

♥♥

32 thoughts on “Precious

  1. thoor,,,,,
    bagus bagus bagus,,
    pengen dong yang kayak gini,,
    wah wah wah, nasibnya sehun gemana yaaa,,,
    jangan2 sehun juga nyesel uda kasar sama yoona….
    uni beruntung banget sih,,,

  2. huuhuhuu dari awalnya udah bagus bikin penasaran, bikin sedih,dan kirain gabakal balik lagi sama yoona. Ternyata akhirnya happy ending, feelnya lepas. Tapi gpp ff ini udah bagus , krna aku jrang baca ff cast lay yg genre romance dan bagus. Keep writing🙂

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s