(Freelance) Light

light-by-nikkireed

written by Nikkireed 

Im Yoona and Byun Baekhyun

Kim Suho / Do Kyungsoo / Park Chanyeol / Kim Xiumin as additional

Fantasy/Campus Life – Poster by qintazshk

inspired by I Am Number Four Movie

Aku yakin sekali ini mimpi. Karena aku melihat Nomor 1. Yang jelas-jelas sudah tiada.

“Suho! Cepat!”

 

Yang bernama Suho – Nomor 1, berlari sekuat tenaga. Susahnya berlari di hutan daerah Asia yang tanahnya lembab dan lembek seperti adonan kue. Ditambah dengan gerimis hujan yang membasahi bumi. Rasanya sedikit sulit.

Rambut emasnya sedikit menyala saat ia sedang berpacu keras menjauhi Kaum Ganymede.

Nah, sekilas tentang Kaum Ganymede. Orang-orangnya berkepala botak. Badannya tinggi besar dan berotot. Senang dengan seni termasuk tato atau pelukisan diri atau apapun istilahnya. Dahulu sebelum aku, maksudku – kami, bermusuhan dengan Kaum Ganymede ini, kami merupakan bagian dari mereka. Ya, sebelum Aboji berselisih dengan ketua Kaum Ganymede.

Ketua Kaum Ganymede ingin mengambil ahli seluruh angkasa. Yang jelas-jelas menentang peraturan kerja sama lintas angkasa. Karena keserakahannya, Aboji terpaksa harus mengungsi  ke galaxy lain. Dan dengan membawa Sembilan orang dari kami, Aboji menemukan Tempat Kosong yang hampir dekat dengan Kehidupan.

Kembali ke Nomor 1, Suho berlari sekuat mungkin. Aku tahu ini bermimpi karena aku hanya sebagai penonton. Aku sangat ingin membantu.

Kau tahu, ia adalah Hyung-ku. Atau sebut saja kakak tertuaku yang aku tidak tahu sudah meninggal. Karena berdasarkan sejarah, jika Nomor tersebut mati, maka Nomor lain akan ditemukan. Dan waktu itu aku belum ditemukan.

Karena aku tahu ini bermimpi, aku hanya membuang muka tidak ingin melihat kelanjutannya. Walaupun aku belum mengetahui motif meninggalnya Suho.

Aku menghampiri tubuhnya yang sudah tidak bernyawa. Yang aku lihat, tubuhnya tertancap sebuah tombak yang terbuat dari besi yang asumsiku cukup runcing karena jelas menusuk hingga menembus tubuh Suho.

Karena kaum kami, jika meninggal akan menjadi debu. Lalu hilang karena tiupan angin. Dan angin yang membawa debu tersebut akan menunjukkan pada Nomor selanjutnya.

Aku masih ditempatku sebagai penonton. Berlanjut ke Nomor 2.

Debu tiupan angin tersebut membawaku ke daerah yang dingin. Kemungkinan Eropa Utara menjelang musim salju.

D.O – Nomor 2, sedang berdiri dan bersandar pada tembok itu menunggu kereta bawah tanah. Subway. Eropa sekali!

Ia memasukkan tangannya kedalam mantel tebalnya dan bersenandung pelan. Ia menggigil gelisah walaupun bernyanyi pelan tidak membuatnya berhenti bergetar.

Subway. Terlalu banyak besi. Itu yang mengganggu pikiran D.O. Bukannya ia tidak mau mencari transportasi lain. Tapi karena ia terburu-buru. Ia sedang diburu.

D.O membuka pintu kaca toko tersebut sehingga menimbulkan suara lonceng selamat datang. Ia langsung disambut oleh pelayan toko tersebut. Ia hanya bermaksud untuk membeli beberapa buku resep makanan. Karena menjelang Thanksgiving, ia berpikir untuk membuat inovasi baru untuk makanannya.

Tapi nasib sialnya mempertemukan ia dengan salah satu Kaum Ganymede.

Maka dengan terburu-buru D.O harus mencari jalan sejauh mungkin untuk pulang agar Kaum Ganymede tersebut tidak mengetahui keberadaannya. Sampai ia terdampar di terminal subway yang banyak besi ini.

Dan nasib sial kembali membantu Kaum Ganymede tersebut bertemu dengan D.O dalam kereta tersebut.

Ia tidak mungkin berlari. Karena ini adalah tempat umum. Ia akan dikira gila jika berlari sana sini dalam gerbong. Dan kenyataan tiang besi yang banyak ini membuatnya diam tidak bergerak. Tapi tiang besi sekitarnya yang seharusnya diam juga malah bergerak. Terlalu halus, sampai tidak kasat mata jika sebenarnya tiang besi tersebut bergerak.

Sampai Kaum Ganymede itu berhenti dibelakang D.O dan memegang pundaknya. D.O dengan segala ketakutannya berbalik ke belakang dan sebuah pisau besi menusuk perutnya.

Dan begitulah kematian Nomor 2.

Aku belum memberitahukan tentang keberadaan kami? Kami manusia, seperti manusia. Kami bisa makan, bergerak, bernafas – persis seperti manusia. Yang membedakan hanya kami masing-masing mempunyai Kekuatan yang tidak seperti manusia pada umumnya.

Debu tiupan angin Nomor 2 membawaku ke –

“Baekhyun? Baekhyun? Gwenchana?” Aku terbangun. Benarkan jika yang tadi itu mimpi?

“Baekhyun?”

Aku membuka mata dan wajah Soo Man Ahjussi berjarak terlalu dekat denganku. Aku membangunkan diriku dan duduk bersandar di sofa.

“Kau bergerak gelisah dalam tidur? Hebat.” Komentar Soo Man Ahjussi berjalan sambil membawa koper besar.

Aku melihatnya sibuk memasukkan kertas dan beberapa helai baju ke dalam koper. Itu koperku!

“Kau mau kemana?” Tanyaku pelan setelah membenarkan pandanganku.

“Kau dan aku. Kita. Sudah harus pergi. Aku melihat salah satu Kaum Ganymede menyadari keberadaanmu, Baekhyun-ah.”

“Tapi kita baru disini beberapa minggu, Ahjussi, jinjja!” Sergahku malas. Aku baru merasakan hangatnya matahari Meksiko dan sekarang aku harus pergi lagi.

Ya, kami nomaden. Berpindah sana-sini agar menjauhi Kaum Ganymede itu. Jika mereka mendapati bahwa keturunan Callisto, sepertiku, masih berkeliaran di Kehidupan, Kaum Ganymede akan terancam. Karena tidak ingin merasa terancam, Ketua Kaum Ganymede harus mengerahkan anak buahnya untuk menemukan Callisto-callisto yang lain. Termasuk aku.

“Baekhyun-ah. Ini demi kebaikanmu. Sekarang, hafalkan ini dan berperanlah dengan baik.” Soo Man Ahjussi memberikanku dua lembar kertas. Data baru.

Aku menuruti perkataan Soo Man Ahjussi.

Dan oh apa aku sudah memperkenalkan siapa dia? Soo Man Ahjussi bukan keluargaku. Dia juga bukan Kaum Callisto sepertiku. Ia hanya seorang Penjaga yang ditugaskan Aboji untuk menjagaku. Kau tahu, karena kematian dua anak pertamanya membuat Aboji memutuskan untuk menyembunyikan Callisto-callisto yang lain. Lagi-lagi, termasuk aku.

“Kurasa aku bermimpi.” Aku hanya mengeluarkan kalimat itu begitu Soo Man Ahjussi menutup pintu mobil dan keluar dari mobil. Tangannya membawa koper besar dan sebuah tas laptop. Sedangkan aku hanya membawa ranselku.

Soo Man Ahjussi berhenti sebentar melirikku sebelum melangkah masuk ke dalam sebuah rumah. Rumah baru. Yang hampir seluruhnya terbuat dari kayu. Jenis rumah yang rindang, kurasa.

“Callisto tidak bermimpi.” Hanya itu yang keluar dari mulut Soo Man Ahjussi sebelum ia mengeluarkan kunci pintu. Ia melangkah masuk ke dalam rumah.

Aku dengan gelisah mengikutinya, “Tentu, aku yakin sekali bermimpi. Aku melihat Nomor 1 dan Nomor 2. Mereka mati karena –“ kalimatku terhenti karena Soo Man Ahjussi berhenti dan berbalik menatapku.

“Callisto tidak pernah dan tidak akan pernah bemimpi. Kalian melihat masa depan. Bukan bermimpi. Ingat itu.” Kecam Soo Man Ahjussi masuk ke ruang makan sebelah dapur.

“Sekarang, kau berbenah. Kamarmu diatas. Biar aku yang dibawah.” Soo Man Ahjussi menuding tangga putar yang mengarah ke sebuah pintu kayu.

Dan aku hanya menurutinya.

Tangga putar tersebut langsung mengarah pada satu pintu yaitu kamarku. Seusai meletakkan semua barang-barangku, aku duduk lemas di ranjang. Kebetulan jendela kaca di kamar tersebut terbuka dan aku bisa melihat rintik-rintik hujan turun.

Hujan. Air. Mengingatkanku pada Suho Hyung.

Aku menghempaskan tubuhku di kasur. Apa benar Callisto tidak bisa bermimpi? Jika itu bukan mimpi, lalu? Masa depan? Apa aku bisa melihat Kematian saudaraku sendiri?

Ponsel di saku celanaku berdering. Aku sudah tahu siapa.

“Turunlah. Makan malam.”

Dan aku melangkahkan kaki dan seluruh badanku untuk turun.

Ahjussi, aku ingin bertanya.” Aku sengaja menyelesaikan makan malamku dengan cepat agar bisa bercerita dengannya.

Soo Man Ahjussi yang masih menikmati makan malamnya hanya meng-hem-kanku.

“Apa Suho Hyung..” Aku bertanya dengan pelan karena Ahjussi menghentikan makannya dan terdiam sebentar. Ia menatapku penasaran dengan wajah yang pasrah.

“Ah tidak, Ahjussi. Aku hanya ingin bertanya. Mengenai, kau tahu, Suho Hyung dan D.O yang sudah..” Aku menggantung kalimatku. Ahjussi beranjak mengambil piring dan alat makan tersebut berjalan menuju westafel.

“Kau mau mendengar jika aku bercerita?” Tanyaku pada punggung Soo Man Ahjussi yang berbalik untuk mencuci piring.

Soo Man Ahjussi selesai mencuci piring dan mengeringkan tangannya. Ia kembali duduk di tempatnya tadi. Dengan tangan dilipat, ia duduk seperti ingin mendengarkan.

“Aku bermimpi. Oh oke, aku melihat. Aku melihat Suho Hyung dan D.O mati oleh Kaum Ganymede. Mereka mati karena besi. Suho Hyung yang berlari sana-sini menjauhi Kaum Ganymede yang berusaha melemparinya dengan tombak besi sedangkan D.O yang tertusuk pisau besi. Apa.. apa Callisto pantang dengan besi? Atau apa?”

Soo Man Ahjussi menghembuskan nafas panjang. Ia duduk bersandar, masih dengan tangan terlipat di dada.

“Kalian, Kaum Callisto, memiliki segalanya di Kehidupan ini. Segalanya. Bahkan dengan Kekuatan kalian, kalian bisa saja menang melawan Kaum Ganymede. Tapi ayahmu, tidak mengijinkan itu terjadi. Ayahmu memberikan kalian Kekuatan yang berbeda-beda. Apa kau sadar itu?” Soo Man Ahjussi mengerutkan keningnya bertanya.

Aku hanya menggeleng.

“Kau akan tahu jika Nomor sebelum-mu meninggal. Dan jika kau merasa ada debu angin berputar didekatmu, itu artinya Nomor sebelum-mu sudah meninggal dan membawanya padamu.” Jelas Ahjussi mengecilkan suaranya.

Kali ini aku mengangguk setuju. Karena yang baru aku mimpikan seperti itu.

“Nomor 1, menggunakan Kekuatannya untuk melawan Kaum Ganymede waktu itu. Dan Kaum Ganymede tahu kelemahan Callisto, yaitu besi. Ah, rasanya jika aku bercerita kau akan menganggapku gila.”

“Aku memang sudah gila, Ahjussi-ah.”

Soo Man Ahjussi menarik kursinya mendekat dan duduk dengan serius. “Kaum Ganymede, melihat air hujan yang diwaktu itu hanya turun di beberapa daerah. Itu air hujan buatan Nomor 1 dengan menggunakan Kekuatannya.”

“Apa Suho Hyung, ah maksudku Nomor 1 tidak mengetahui –“

“Tahu. Jelaslah. Ayahmu menetapkan beberapa orang sepertiku untuk mengawasi dan melindungi kalian. Tentu Nomor 1 tahu apa yang diperbolehkan dan apa yang tidak diperbolehkan.”

Aku hanya mengangguk. Ternyata.

“Ia terdesak. Jadi ia menggunakan Kekuatannya.” Simpulku pelan.

Soo Man Ahjussi mengerutkan keningnya, “Bagaimana? Maksudku, kau seharusnya melihat masa depan, Baek.”

Aku mundur menyandarkan badanku ke kursi, “Mwolla.”

Soo Man Ahjussi menilik ke mataku dengan serius, “Sejak kapan kau bisa melihat peristiwa Nomor 1 itu?”

“Entahlah, kurasa aku tidur. Dan aku masuk ke sebuah alam lain, lalu tiba-tiba saja Su – Nomor 1 berlari-lari melewatiku, dan aku berteriak padanya tapi tidak keluar suara.” Jelasku. Aku ingat sekali Suho Hyung berlari melewatiku seperti tidak ada yang salah.

“Dan bagaimana kau melihat Nomor 2?”

“Debu. Debu yang berputar seperti yang kau bilang itu membawaku ke tempat yang dingin, banyak salju.”

“Lalu?” Soo Man Ahjussi semakin bersemangat mendengar ceritaku.

“Ya, aku melihat D.O mati tertusuk di dalam sebuah kereta bawah tanah yang banyak besi.”

“Kau melewatkan sesuatu.” Komentar Soo Man Ahjussi singkat.

Aku mengerutkan keningku, tidak mengerti dengan maksud Soo Man Ahjussi.

“D.O menggunakan Kekuatannya.” Penjelasan Ahjussi membuatku tersadar dengan tiang-tiang besi yang bergerak tidak kasat mata.

“Jadi, Kekuatan D.O itu..” Aku kembali menggantung kalimatku.

Soo Man Ahjussi menatapku pasrah dan mengangguk setuju dengan pendapatku yang belum selesai itu, “Kau juga akan mengetahui apa Kekuatanmu, Baek. Setelah nomor sebelum-mu mati. Dan kau harus siap.”

Aku terdiam memandangi meja didepanku. Aku harus siap.

“Sekarang, kau hafalkan ini. Data baru. Dan besok kau mulai sekolah lagi. Seperti biasa.” Ahjussi memberikanku selembar kertas mengenai data baruku dan 2 buah buku tebal.

“History? Oh, tidak!” Aku memutar bola mata sebentar sebelum berbalik menuju tangga.

“Tunggu, Baek. Aku harus mendapatkan foto terbarumu, kurasa.” Ahjussi mengambil kamera yang entah darimana ia dapatkan.

“1.. 2..” JPRET

“Terima kasih, sangat membantu.” Soo Man Ahjussi menepuk pundakku dan tersenyum.

Hari pertama sekolah, dan dimulai dengan subject History – yang menurutku sangat membosankan, aku harus memperkenalkan diri. Seperti anak baru pada umumnya.

Annyeonghasseo. Namaku Byun Baekhyun.” Aku membungkukkan diri sopan di depan kelas. Dan tepat disaat itu juga lampu-lampu di kelas itu berkedip dua kali. Beberapa mengerjapkan mata seperti ketakutan, beberapa merasa cuek. Aku juga tidak tahu apa yang salah dengan lampu-lampu tersebut.

Setelah mendapat tempat duduk yang menurutku terlalu strategis, baris pertama, kursi pertama dekat jendela. Karena hanya disitu tempat duduk yang kosong. Dan jauh dari segala macam peralatan besi.

Dan setelah 3 jam melewati subject History yang membosankan itu, aku membawa berkas data dan refleksiku ke ruang akademis. “Byun Baekhyun.” Tepat setelah aku mengucapkan namaku, lagi-lagi lampu-lampu di ruang akademis  berkedip seperti di kelas History tadi.

Guru Jang bagian akademis menyadari lampu tersebut berkedip tapi ia menggeleng pelan lalu tersenyum ramah padaku.

“Bagaimana hari pertamamu?”

“Baik.” Jawabku bohong.

“Ini kunci lokermu dan ini daftar buku untuk subject lainnya.” Guru Jang memberikanku sebuah kunci dengan nomor 67 dan selembar kertas. Aku menerimanya dan membungkuk pelan, “Gamsahamidda.”

Setelah berjalan melewati sepanjang lorong yang dihujam puluhan pasang mata, aku tetap berfokus pada angka di lemari loker. Sialnya, ada seseorang yang berdiri tepat di depan pintu loker bernomor 67.

Tidak! Bukan seseorang. Seseorang yang berkacamata, didorong secara paksa membentur pintu lokerku dan empat orang berbadan agak besar dan tinggi sedang menahan pundak si kacamata.

Aku menghampiri mereka dengan tatapan sedatar mungkin. Ini bukan pertama kalinya aku melihat yang seperti ini.

“Eeeeeh, kalian menghalangi pintu lokerku.” Kataku dengan sopan.

Mereka yang berbadan tinggi dan besar tersebut melepaskan tangannya dari si kacamata. Dan si kacamata membenarkan bajunya yang sedikit kusut.

“Kau Byun si anak baru itu kan?” Tanya laki-laki yang perawakannya tinggi dengan rambut keriting. Gigi ratanya tampil saat ia tersenyum. Membuatku bergidik.

“Baekhyun.” Bisikku pelan. Aku hendak memasukkan kunci di pintu lokerku, lampu di sepanjang koridor ini berkedip sekali. Aku sadar. Kali ini beberapa pasang mata yang menyaksikan kami ikut menegadah ke atas untuk melihat apa yang salah dengan lampu. Atau ada yang salah dengan mata mereka.

Dan satu hal yang kusyukuri adalah, ini loker kayu. Bukan loker besi yang biasa aku temukan di sekolah lama. Atau loker pada umumnya.

Tapi laki-laki berambut keriting itu dengan tangannya, menjatuhkan kunci yang hendak kumasukkan ke pintu loker tersebut. “Senang bertemu denganmu.” Ia sedikit tertawa dan berjalan menjauh.

Aku menghela nafas panjang dan memutar bola mataku.

Si kacamata merunduk ke lantai mengambil kunci tersebut untukku. “Gumawo.”

“Dia Park Chanyeol. Anak pemilik sekolah ini.” Si kacamata mengeluarkan kunci loker bernomor 65 yang artinya ia hanya berbeda dua loker dariku.

Aku memasukkan kunci ke lokerku dan terdiam. Akhirnya kau mendongak ke arahnya terang-terangan.

“Aku Xiumin. Semester akhir.” Xiumin itu memberikan tangan kanannya untuk berjabat denganku. Aku menerima jabatan tangannya. Saat hendak menyebutkan namaku, aku berpikir tentang lampu tersebut. Jika aku menyebutkan namaku lampu tersebut akan berkedip dan aku tidak tahu apa artinya itu.

“Kau sudah tahu namaku.” Aku tersenyum pelan.

Xiumin melepaskan tangannya dan kembali pada lokernya, ia memasukkan semua barang-barang yang ia bawa ke dalam loker. “Ini sudah biasa, kan? Seorang yang kutu buku dan seorang anak pemilik sekolah. Pembulian.”

Aku meletakkan tasku ke dalam loker dan mengambil kertas daftar buku.

Xiumin menutup pintu loker kayunya dengan sekali dorong. Ia berlalu.

“Apa yang salah dengan namaku, Ahjussi?”

Kami sedang makan malam. Karena merasa ada yang salah dengan lampu di sekolah, aku menceritakan tentang lampu yang berkedap-kedip dan bertanya tentang namaku.

Soo Man Ahjussi yang sedang membaca sesuatu dari ponselnya, perhatiannya tertarik ketika aku mengatakan, “Lampu itu berkedip ketika aku mengucapkan nama lengkapku.”

Soo Man Ahjussi hanya berkata, “Mungkin ada seseorang yang memainkan saklarnya?” – ia terseyum, “Kau terlalu serius, Baek.”

Aku bukannya terlalu serius. Ini aneh.

“Tapi kenapa lampu disini tidak berkedip ketika aku mengucapkan nama lengkapku?” Aku melirik lampu diatas meja makan, “Byun Baekhyun.”

Lampu tersebut tetap menyala tanpa berkedip.

Ini aneh.

Soo Man Ahjussi ikut menegadah lampu diatas meja makan tersebut, “Menurutmu apa?”

“Aku tidak tahu makanya aku bertanya padamu.”

Soo Man Ahjussi bangkit berdiri dan membereskan piring bekas makannya ke westafel, “Cari tahulah.”

“Apa itu pertanda akan ada Callisto lain yang mati?”

Soo Man Ahjussi mematikan kran air dan berdiri bersandar di westafel sambil melipat tangannya di dada. “Kalau begitu, kau seharusnya merasakan debu berputar di sekitarmu.”

“Apa manusia bisa melihat debu itu?”

“Tidak. Hanya Callisto. Atau mungkin Kaum Ganymede.” Soo Man Ahjussi melangkah menuju meja kerjanya.

“Baiklah, aku ke atas. Selamat malam, Ahjussi.” Aku berbalik dan naik menuju kamarku.

Brak! Aku menutup pintu loker kayu bernomor 67 tersebut dengan pelan mencabut kunci yang tergantung disana.

“Hai. Aku Im Yoona. Aku ketua panitia acara penyambutan akhir tahun senior di sekolah ini. Kau pasti anak baru disini?” Seorang perempuan yang perawakannya tinggi putih, dengan rambut warna coklat lembut yang dikuncir rapi, poni halus yang membingkai wajah, sepasang mata lentik menyerupai mata rusa, hidung yang kurus dan mancung serta bibir pink yang tipis – menyapaku tepat setelah aku menutup pintu lokerku.

Sedangkan aku yang terkejut seperti ini, “Eh, iyah. Aku” – berikan aku satu menit untuk mengeluarkan buku dan menulis namaku.

“Ah. Byun Baekhyun.” Im Yoona itu menyebutkan dengan rapi setelah aku selesai menulis. Aku menegadah ke atas lampu dan lampu itu berkedip sekali.

“Aku akan memberikanmu ini,” Ia memberiku selembar brosur, “Dan ini. Terimalah. Kau secara khusus aku rekrut sebagai bagian dari acara ini. Kau tidak masalah kan?” Ia memberikanku sebuah peta. Ia tersenyum ramah, jelas aku mengetahui mengapa ia bisa menjadi ketua panitia acara tahunan seperti ini.

“Ah, ya kurasa ba – baiklah.” Jawabku terbata-bata.

“Okay. Aku tunggu hari ini jam 3 di Auditorium.” Im Yoona itu pergi meninggalkan senyum. Yang menurutku, cantik.

“Dia cantik, bukan?” Xiumin membuka pintu loker kayunya bernomor 65. Ia seperti bicara sendiri.

“Eh?”

“Berhati-hatilah. Karena itu.” Xiumin menuding ke arah Park Chanyeol dengan kelompoknya yang berdiri di ujung belokan dengan dagu.

Aku melirik sekilas. Dan berjalan mengikuti Xiumin.

“Memangnya kenapa?”

“Im Yoona, bukan gadis biasa. Park Chanyeol sudah mengincarnya sejak dulu. Mungkin sebelum sekolah ini berdiri.” Xiumin berjalan pelan dengan membawa buku Biology di dekapannya.

“Lalu?”

“Ditolak. Satu sekolah ini menganggap Im Yoona seorang wallflower yang hebat dalam olahraga, nilai prestasi, popularitas, kreatifitas. Semua.” Xiumin masuk ke kelas. Aku mengikutinya. Duduk di sebelahnya.

“Tapi dia aneh. Setiap kali ada acara, ia mengajukan diri menjadi seorang ketua. Tapi ketika acara tersebut berlangsung, ia tidak hadir. Sampai acara selesai, ia hadir hanya untuk membereskan acara. Itu aneh.” Xiumin membenarkan posisi kacamatanya. Dan tepat setelah itu guru Biology masuk ke kelas.

Aku melirik jam tanganku, 14.53. Seharusnya aku sudah berlari mencapai lift untuk naik ke lantai 8 auditorium. Tapi karena melihat gerombolan Park Chanyeol yang masuk terlebih dahulu, aku terpaksa mengambil jalur tangga.

“Hoahhhh. Akhirnya.” Aku bersuara dengan lelah. Sedikit membungkuk untuk mengatur nafasku.

“Wow. Kau lewat tangga? Wae? Tidak bayar uang gedung?” Im Yoona tahu-tahu sudah berdiri di depanku. Ia membawa semua peralatan dalam satu kotak kardus berwarna coklat seukuran TV 21 inch.

Aku masih mengatur nafasku. “Ya.. aku tidak.. mengira.. akan.. sejauh ini..”

Im Yoona menaikkan alisnya, “Well –“ ia terdiam. Lalu meletakkan kotak kardus yang penuh barang tersebut di lantai dan mengambil sebotol air, “Minumlah dulu.”

Aku menerima, “Gumawo.” Lalu terduduk di lantai.

Tanpa kusadari ternyata ini auditoriumnya. Tangga tersebut langsung mengarah pada ruang auditorium tanpa pintu. Karena aku melihat sebuah panggung besar diujung sana.

“Dimana yang lain?” Tanyaku begitu aku selesai mengatur nafasku menjadi normal.

Im Yoona yang mencari sesuatu dalam kardus tersebut, langsung menoleh padaku. “Apanya?”

“Maksudku, yang lain?” Aku jadi ikutan tidak mengerti karena ia bertanya ‘apanya’.

Im Yoona mendeham pelan. Ia mengeluarkan sebuah gunting, “Kau ingin tahu dimana yang lain?”

Ia berjalan mendekatiku sambil membawa benda tajam dari besi tersebut. Langkahnya panjang dan tanpa kusadari ia sudah mendekat dengan sambil mengacungkan gunting tersebut. Aku sampai terpaksa menarik tubuhku menjauhi dia.

Dengan masih menatapku dengan tatapan tajam, setajam gunting yang ia pegang, “Kau takut dengan gunting?” Lalu ia tertawa bergema memenuhi ruang auditorium.

Aku dengan canggung ikut tertawa pelan.

“Yang lain sudah pulang. Hmm, sebelumnya aku ingin bertanya padamu. Kalau kau tidak keberatan.” Im Yoona kembali pada kotak kardus tersebut. Menaruh guntingnya dan mengambil beberapa kertas karton besar.

Aku membantunya mengeluarkan peralatan dari kotak kardus itu.

“Kau menyadari bahwa ada lampu berkedipkan?”

Author’s note :
Rumah author lagi keseringan mati lampu. Jadi keinget si Baekhyun.
Sorry ya, efek mati lampu dan gelap authornya jadi suka ngayal makanya bikin fantasy.
Dan author juga lagi kangen kuliah, jadi pake campus-life.
Thanks for reading. *doakan rumah author biar engga mati lampu lagi” :’)
XOXO, nikkireed

18 thoughts on “(Freelance) Light

  1. Waaa bagus thor critanya😀
    Masih bingung knapa yoona bisa tau2 tanya tentang lampu ke baekhyun😮
    Ceritanya menarik thor hehehe
    Keren banget…
    Ditunggu klanjutannya🙂

  2. oh my god wkwkwk😄 saya terhura(?) baca ff ini inget film i am number four :v (btw kapan film itu bkal di sequel lagi ya(?) -_-) Lanjut.

  3. ini chapter kn thor ?? soal ny ga ad tlisan end nya😀
    hmm , yoona it seorang ganymede ato callisto??
    klo yoona ganymede brti yoona msuhan sma bngsa ny baekhyun dong ??
    waa , ff ny bkin kepo
    sequel thorr ..

  4. Ini udh end atau msih ad lnjutnny thor?
    Smoga aj ad ya,, msih pnsaran,,
    Oh ya, jdi yoona itu seorang ganymde kh ato callisto?
    Klo xiumin psti seorng callisto jga kn?
    Lalu knpa nma hyung2 ny baek itu ngk bleh d pnggil,,
    Pnsrn nih, d lnjut yaaa

  5. Aigoo kyaknya critanya bkal seru dhec😉
    nhe ff chapterkn?! Kyaknya yoona sama dgn Baekhyun.
    Aigoo park chanyeol Cs nkal skali ngeganggu Xiumin, n kshan yeol oppa yg d’tolak cintanya ma yoona😀
    truz knp lampunya slalu brkedip jika menyebt nama Byun Baekhyun tp d’rmhx tdk?

    Keep writting thor!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s