(Freelance) Oneshot : Back for Me, Yoong?

PicsArt_1420036990475

Author: Catur Anggraheni

Length: Oneshot?

Rating: G

Genre: Sad, Romance

Main Cast: Im Yoon Ah, Kim Joonmyun

Disclaimer : Aku harusnya buat sequel A Window, tapi malah buat ginian?/ sequelnya masih on the way ya chingu~~~ maaf buat sad story yang gagal(?)

 

“Yoong” laki laki berwajah pucat itu memanggil wanita disampingnya lemah. Wanita itu menoleh tersenyum. Manis sekali. Kanvas berwarna biru dipegangnya erat. Benda itu adalah favorit Yoona.

“Yoong” ucapnya lagi. Wanita itu sekali lagi menoleh. Dan, lagi lagi hanya tersenyum. Laki laki itu tersenyum miris.

“Yoong”Laki laki itu berjanji ini yang terakhir ia memanggil gadis itu. Yang terakhir untuk saat ini. Setidaknya hari ini istrinya itu tersenyum.

Setelah mengecup gadis itu singkat, ia beranjak pergi.

“Aku pergi ke kantor dulu, Yoong”

Tapi, wanita itu tak menyahut. Ia masih asik dengan lukisannya.

Aku mencintai Yoong. Tak peduli keadaannya. Aku harap kau dapat kembali.

.

.

.

“Bagaimana keadaan istrimu, hyung?” Tanya laki laki berambut pirang platinum itu pada Joonmyun.Laki laki bermarga Kim itu hanya menggeleng lemah.

“Masih belum ada perubahan” balas Suho aka Joonmyun. Kai, sang laki laki berambut pirang menepuk nepuk punggung hyungnya pelan. Ia salut. Ia terharu pada kebesaran cinta hyungnya pada gadis itu. Gadis yang dulu bahkan tak sudi menyebut nama Suho.

Lalu Kai pun pergi. Kim Joongmyunn termenung sendiri di ruangan besar itu. Di meja kerjanya ia melihat fotonya dan Yoona ketika mereka menikah. Tanpa sadar laki laki berusia akhir 20-an itu meneteskan airmatanya. Pikirannya kembali ke beberapa tahun silam. Ia melayang.

Suasana makan malam itu terasa sangat canggung. Memang, daritadi kedua orangtua dari laki laki dan perempuan itu mencoba untuk mencairkan suasana. Tapi, tetap saja. Suasana malam itu masih jauh dari kata santai.

Dan, tanpa mereka sadari hidangan yang disajikan para pelayan telah habis tak bersisa. Seakan ingin memberi ruang untuk Suho dan Yoona. Orangtua mereka meninggalkan anak masing masing di meja besar itu.

“Aku tak pernah suka dan setuju atas perjodohan ini”ucap wanita bersurai coklat itu blak-blakkan. Ia mengatakannya dengan sedikit membanting garpu dan sendok di hadapannya.

“Batalkan.” Ucap wanita itu melanjutkan ucapannya. Kali ini suaranya tegas. Tapi, laki laki berwajah imut itu malah tertawa. Wanita itu seketika memasang wajah marah di wajahnya.

“Kenapa aku?” Tanya laki laki itu. Tsk. Laki laki ini terlalu polos atau apa, pikir Yoona.

“Karena jika aku yang meminta, orangtuaku tak akan pernah mangabulkannya.” Ucap Yoona lemas. Ia sudah punya kekasih. Ia sangat mencintai kekasihnya dan ia tak mau meninggalkannya. Matanya memohon, bibirnya dikerucutkan. Suho lagi lagi tertawa.

“Maafkan aku Nona Im. Tapi, salahmu sendiri karena sudah terlalu jauh mendorongku kedalam pesonamu” Laki laki itu membalas. Yoona terperangah.

.

.

.

Istrinya itu –Yoona, sudah beberapa bulan ini mengidap Alzheimer, penyakit mematikan, mimpi buruk bagi setiap orang. Awalnya, istrinya itu sering mengaku bingung dan lupa. Ia lupa menaruh kunci rumah, ia lupa cara menggunakan mesin cuci, ia lupa dimana ia meletakkan buku kesukaannya, sampai akhirnya sore itu Suho menemukan istrinya di perempatan jalan,tak jauh dari rumah mereka, sambil terduduk dan menangis. Persis seperti yang anak kecil lakukan ketika ia tak mendapatkan ice cream. Tapi, ini lebih dari kasus tak mendapatkan ice cream. Istrinya itu lupa jalan pulang.

 

Jalanan kota Seoul tadi cukup bisa membuat seorang Kim Joonmyun kesal. Pukul 7 malam dan ia baru sampai. Ia hanya menghawatirkan satu hal. Bagaimana keadaan istrinya?

Dengan pelan, ia membuka pintu besar bercat putih itu. Rumah yang telah ditempatinya selama dua tahun itu terlihat sepi. Suho mengerti. Sejak, Yoona divonis mengidap Alzheimer tak ada lagi canda dan tawa di rumah itu. Terlebih lagi mereka belum memiliki seorang anakpun.

Tapi, ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Dapur rumah itu terdengar lebih bernyawa. Kentara sekali ada orang yang memasak di dalamnya. Jung ahjuma? Bukannya ia kembali ke Busan dua hari yang lalu? Dengan khawatir, ia berjalan ke dapur dengan langkah cepat. Terakhir kali Yoona mencoba memasak semenjak ia mengidap Alzheimer, dapur itu hangus. Ia lupa cara mematikan kompor.

“Yoong?” ucap Suho pelan, ketika sudah sampai di dapur.

Syukurlah, tak ada sesuatu yang buruk. Suho malah menemukan Yoona sedang memasak di dapur. Tanpa ada keanehan di dalamnya. Gadis itu membelakangi Suho. Suho terperangah? Yoona…ingat cara memasak?

“Yoong?” panggil Suho untuk yang kedua kalinya. Ia harap kali ini bukan hanya senyuman yang ia dapatkan.

Dan, bingo! Gadis itu membalikkan badannya, lalu tersenyum. Bukan hanya itu, ia menghampiri Suho lalu memeluknya.

“Ah, kau sudah pulang. Aku siapkan makan malam untuk kita. Kau tunggu disini saja, okay? Tidak biasanya kau pulang kelewat sore begini” ucap Yoona lalu kembali sibuk dengan masakannya.

Suho mencubit lengannya keras. Sakit. Ini berarti ia tidak sedang bermimpi. Ini ucapan pertama Yoona semenjak dua bulan yang lalu. Dan, demi Jenggot Dumbledore! Istrinya itu memeluknya, mengingatnya, dan berbicara seperti dulu. Ini keajaiban. Suho rasa ia harus ke gereja minggu nanti.Mungkin Siwon benar yang ia butuhkan sekarang hanyalah mendekatkan diri kepada Tuhan. Dan keajaiban akan datang.

Tak beberapa lama, istrinya sudah selesai memasak. Suho hanya memperhatikan gerakan istrinya itu dengan kagum. Ia tak ingin merusak suasana ini.

“Tadaaaa~, nasi goreng kimchi ala Chef Yoona!” ucap Yoona pada Suho sambil memamerkan masakannya. Sungguh, Suho ingin menangis. Nasi goreng itu sempurna. Tanpa cacat sedikitpun. Sama seperti nasi goreng buatannya dulu.

“Wahh, aku semangat sekali!” balas Suho riang, ia lalu menggulung lengan kemeja cepat, seakan belum makan 3 hari. Ia dengan cekatan mengambil sendok dan garpu.

“Setidaknya, kau harus melepaskan dasimu terlebih dahulu, Sehun-ah”

Duar, Suho tercekat. Ini bagai petir di siang bolong. Sehun-ah? Mana panggilan ‘pendek’ yang diberikan Yoona dulu? Jadi, istrinya menganggap Suho itu Sehun? Kenapa harus laki laki itu? Suho hanya meringis pelan, ketika Yoona dengan telaten membukakan ikatan dasi suaminya itu. Ini momen yang langka, aku tak boleh menyia-nyiakannya, pikir Suho.

“Masitaaa” ucap Suho riang. Mulutnya tak berhenti menguyah. Ia mencoba sebisa mungkin berakting sedang menikmati makanannya. Nyatanya, nafsu makannya telah hilang semenjak Yoona menyebutkan nama laki laki terkutuk itu.

“Kau tahu aku pandai memasak” balas Yoona bangga, ia lalu memakan makanannya dengan tenang. Matanya tertuju kepada tayangan televisi di depannya.

“Yoong” panggil Suho.

“Nde?” sahut Yoona, ia menoleh dengan cantik dan anggun. Perempuan itu selalu terlihat menawan.

“Bagaimana kalau kita jalan jalan?” Tanya Suho. Yoona terlihat berfikir. Bahkan, ia terlihat sangat cantik ketika sedang berfikir, batin Suho.

“Kemana?” Tanya Yoona balik pada akhirnya.

“Kemana saja yang kau suka” jawab Suho sekenanya, sebenarnya ia juga bingung mau pergi kemana. Tapi, sungguh ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan berharga ini. Ia hanya tak mau, istrinya itu besok bangun dan tak mengenalinya.

“Kau tak lelah?” Tanya Yoona. Aku tak pernah lelah saat bersamamu Yoong, ucap Suho dalam hati. Suho hanya menggeleng geleng pelan. Membuat perempuan yang telah ia rubah marganya itu kegirangan. Tangannya sibuk bertepuk tangan.

“Okay, tunggu aku sebentar. Aku akan keatas untuk berganti baju” lalu gadis itu pergi. Kim Joonmyun terdiam masih dengan senyum yang mengembang di wajahnya.

.

.

.

Malam itu mereka pergi berdua. Mereka pergi ke rumah orangtua mereka, pergi ke rumah sahabat sahabat mereka dulu, semua terkejut melihat Yoona mengingat kembali ke masa masa indah tersebut. Malam itu rasanya cepat sekali berakhir. Sudah jam 11 malam waktu Korea. Dan entah mengapa Suho malah memberhentikan mobilnya di taman kanak kanak yang terletak tak jauh dari rumah mereka.

Disana mereka bermain. Yoona terlihat seperti balita yang baru tahu dunia. Kelihatan sekali ia exited dengan permainan yang ada di taman kanak kanak tersebut.

Gadis itu kemudian meminta Suho untuk mendorong ayunan yang sedang Yoona duduki.

Hushh

Setiap dorongan yang diberikan Suho memberi sensasi dingin tersendiri bagi Yoona. Angin malam yang sudah lama sekali ia rindukan.

“Ini tempat yang sering kau datangi jika kau mengambek dulu, kau ingat Yoong?” Tanya Suho tiba tiba. Ia menghentikan dorongannya. Lalu berjalan pelan ke arah ayunan disampingnya.

“Tentu saja aku ingat! Kau kira aku ini nenek nenek tua yang tidak bisa mengingat dengan baik? Ah, aku senang kau membawaku kesini” Yoona berucap sambil memainkan pasing pasir halus yang mengenai kaki mungilnya. Ia tak memakai alas kaki. Ia menyuruh Suho menggendongnya tadi.

Suho lagi lagi hanya tersenyum. Setidaknya, ia tak mengingat penyakitnya, pikir Suho.

“Ehm.. maafkan aku” kata kata itu terlontar begitu saja dari bibir gadis itu. Suho mengeryitkan alisnya bingung.Belum sempat ia bertanya, gadis itu sudah melanjutkan ucapannya.

“Aku sendiri juga tidak tahu sebenarnya kenapa aku meminta maaf. Haha. Aku bodoh sekali bukan?” Suho membiarkan gadis iitu tetap bicara.

“Aku merasa telah melakukan sebuah kesalahan yang aku sendiri tak tahu apa. Kau tahu, perasaan seperti itu, apa kau pernah merasakannya?” Gadis itu berkata dengan polos. Sekali lagi hatinya teriris. Kesalahan? Karena ia sudah melemparkan cat air ke wajahnya? Karena ia sudah mencoret coret berkas Suho? Atau karena ia sudah salah menyebut nama suaminya sendiri? Ayolah. Suho akan sangat menyukai kasalahan kesalahan tersebut asal istrinya bisa kembali. Seperti dulu.

“Aku maafkan. Aku mencintaimu, Yoong. Tak peduli seberapa besar salahmu, atau seberapa sering kau melakukannya. Aku akan tetap mencintaimu” ucap Suho sambil berdiri dari ayunannya. Ia lalu menjongkokkan tubuhnya di depan gadis itu.

“Kita pulang sekarang Yoong” ucap Suho. Yoona menurutinya. Dengan canggung ia membiarkan suaminya itu menggendoongnya.

“Aku juga mencintaimu” bisik gadis itu ditelinga Suho. Suho tersenyum. Udara musim panas itu semakin malam semakin hangat.

.

.

.

2 bulan Kemudian

Lelaki itu membuka pintu besar berwarna putih itu dengan lemas. Membuat matahari beawarna kekuningan menerobos masuk.

Kosong

Tak ada lagi tangis, kegaduhan, canda apalagi tawa

Rumah itu benar benar kehilangan pesonanya. Gadis itu telah pergi. Bukan untuk sementara. Selamanya. Mengingat kembali mengenai hal itu, hati Suho terasa teriris dan perih.

Yoong..

Tes tes..

Air mata laki laki itu akhirnya tumpah juga. Sudah 2 bulan sejak kepergian Yoona. Penyakit itu merengutnya.

Dengan ragu, ia melangkahkan kaki ke tangga menuju kamar mereka dulu. Ia berharap, ketika ia membuka pintu ia akan menemukan Yoona. Sedang melukis bersama senja dengan kanvas birunya. Lalu memandang Suho dengan senyum manisnya.

Sudah 2 bulan Yoona pergi.

Begitu cepat. Begitu tiba tiba. Suho bahkan belum sepenuhnya bahwa gadis penyuka ice cream itu telah pergi.

Lagi, airmata itu menetes.

Yoong, aku merindukanmu, batin Suho. Hari ini ia berjanji untuk segera membereskan semua tentang Yoona. Buku bukunya, kanvasnya, bahkan piring bekas ia makan. Ia harus bangkit. Ia yakin Yoona juga akan sedih jika melihatnya sedih terus.Ya, seama dua bulan ini, hidup laki laki itu tak teratur, tak karuan. Ia datang dan pergi ke kantor sesuka hatinya, makan hanya jika ia merasa teramat lapar, di hari libur laki laki itu memilih untuk memandangi foto Yoona seharian.

Orang orang tahu laki laki itu sedang tidak baik. Dan untungnya mereka memahaminya.

Ketika akan membuka laci, Suho menemukan sesuatu. Amplop berwarna biru tua. Warna kesukaan Yoona. Di depannya terdapat tulisan “Bacalah!!!”

Apakah ini dari Yoona? Apakah ini surat dari surga yang Yoona kirim khusus untuknya?

Ah, Kin Joonmyun kau terlalu bodoh. Mana ada hal seperti itu. Lalu secara perlahan ia membuka amplop itu. Dan menuruti kata surat itu, Suho pun membacanya.

Dear suamiku tercinta Suho.

Aku harap kau tidak menangis saat membaca ini. Hahaha

Hi pendek, siang ini –Aku lupa hari ini tanggal berapa, aku ingat semuanya. Keajaiban bukan? Aku mengingatmu. Aku mengingat namamu. Aku mengingat setiap detail dirimu yang aku harap bisa aku ingat selamanya. Aku mengingat semua tentang kita. Aku juga mengingat penyakitku. Tentu saja. Pendek, maafkan aku..

Maafkan aku karena aku tak bisa menjadi seperti yang istri lain lakukan. Maafkan aku.
Maafkan aku karena tak bisa memasak setiap hari untukmu. Maafkan aku.                                                      Maafkan aku, karena belum bisa memberi seorang malaikat untuk mu, Untuk kita. Kau tahu rumah besar ini semakin sepi saja bukan? Aku tahu aku tak sempurna. Aku sakit , kau tahu itukan? Jadi aku mohon maafkan istrimu yang sedang sakit ini. Setelah sembuh nanti mari kita adopsi seorang anak yang lucu.                                                                              

Maafkan aku yang waktu itu salah memanggil namamu. Aku mencoba keras untuk mengingat namamu tapi aku tak bisa mengingatnya. Aku benar benar payah bukan? pendek, ketika kau memanggilku aku hanya bisa tersenyum. Aku tak tahu siapa dirimu saat itu. Harusnya jika aku tak mengenal seseorang aku mengacuhkannya saja bukan? Tapi aku tahu itu kau Suho-ya. Aku punya firasat kalau kau adalah seseorang yang penting. Tapi, sekali lagi aku melupakan namamu.

Pendek~ kau pasti merindukan saat saat aku memanggilmu seperti itu kan? Hahaha,tak apa, akupun juga rindu mengucapkannya. Bagaimana mungkin aku mempunyai suami yang pendek sepertimu. Aku bahkan tidak bisa memakai heels-ku lagi karenamu. Keh keh xD (Aku hanya bercanda, berhentilah cemberut)

Dan yang terpenting adalah, aku mencintaimu. Aku tidak peduli kau pendek, aku tidak peduli kau cengeng, aku tidak peduli pada kekurangan yang kau miliki. Karena aku dan semua orang juga pasti punya kekurangan. Dan aku mencintai semua kekuranganmu itu dengan tulus. Aku tahu kau pasti sudah tahu hal ini. Tapi, aku hanya ingin bilang kalau cintaku padamu akan semakin membesar setiap harinya, setiap menitnya, bahkan setiap detiknya. Cintaku akan semakin membesar walau aku sudah tak berada di Planet yang sama lagi denganmu.

Pendek, Semua mahluk yang bernyawa pasti akan mati bukan? Ini hanya masalah waktu. Maaf, jika nanti aku meninggalkanmu duluan. Selamat bertemu di surga^^

P.S : Aku sangat ingin kau membacanya. Tapi, aku pasti akan lupa bahwa aku pernah menulis ini.

Surat itu basah. Tak henti hentinya airmata itu mengalir. Ia laki laki. Tapi, semua orang juga bisa jadi rapuh bukan? Ya, Kim Joonmyun kembali menangis sore itu.

Im Yoona, terima kasih untuk segalanya. Dan ya, selamat bertemu di surga, ucap Joonmyun dalam hati. Senja terus berjalan. Laki laki itu lalu memejamkan matanya. Rapat dan jauh.

Selesai

.

.

.

Sekedar info, Yoona itu mandul. Keh keh xD

Thanks for read everyoneee~~~~~

               

 

 

 

 

 

45 thoughts on “(Freelance) Oneshot : Back for Me, Yoong?

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s