(Freelance) Night Changes

night-changes-by-nikkireed

written by Nikkireed

Im Yoona / Do Kyungsoo / Park Chanyeol 

Huang Zitao / Kim Joon Myeon / Kim Jongdae

Teen – Romance – Ficlet set

inspired by One Direction – Night Changes

Going out tonight, changes into something red
Her mother doesn’t like that kind of dress
Everything she never had, she’s showing off

 Malam itu tidak biasanya, aku menerima pesan singkat dari seorang Do Kyung Soo yang menyuruhku memakai gaun berwarna merah yang ia kirimkan untukku lewat asistennya, beserta sebuket bunga mawar merah dan undangan di selipan bunga tersebut.

Ya, Do Kyung Soo-lah pilihanku. Seorang aktor muda yang sekaligus merangkap menjadi penyanyi pendatang baru industri musik, tampan dan mapan diusianya yang terlalu muda, berbakat dan uh.. ia segalanya untukku.

Walaupun ibuku menolak hubungan kami.

Tapi kami tetap menjalankan hubungan ini secara diam-diam. Jelas, pertama karena menjauhi ibuku yang memaksaku untuk dijodohkan, dan kedua karena Do Kyung Soo adalah seorang publik figur yang harus menjaga poularitasnya dengan status yang seharusnya masih ‘single’.

Padahal kenyataannya, Do Kyung Soo-lah milikku seorang.

Ia menggenggam tanganku saat kami masuk ke dalam sebuah restoran Italia. Tangannya menuntunku untuk duduk di meja yang.. oh yang ternyata sudah disiapkan olehnya.

Tuxedo hitam dengan dasi kupu-kupu yang menghiasi lehernya, membuat jakunnya kelihatan jelas, terkesan seksi dan manis disaat yang bersamaan.

“Kau cantik, Yoong.”

Hanya mendengar pujian tersebut, kurasa aku menang.

Aku tersipu. Tidak lama kemudian, seorang waiter yang asumsiku adalah seorang Italian, datang membawa baki yang berisi spaghetti bolognese kesukaanku, spicy tuna kesukaannya dan sebotol wine. Waiter itu tersenyum saat menuangkan wine digelasku dan gelas Kyung Soo.

Grazie.” Ucap Kyung Soo, tanpa melihat ke arah waiter tersebut. Ia menatapku. Bahkan sedari tadi ia menunggu ekspresiku.

Waiter tersebut berlalu setelah membungkukkan diri.

“Wow. Italiano. Kyung Soo-ah, ada apa ini?” Tanyaku sambil tersenyum.

“Apa?” Ia malah berbalik tanya padaku dengan senyum termanisnya. Apa ada larangan untuk manusia dewa seperti itu untuk tersenyum pada seseorang sepertiku?

Aku memandang meja di hadapanku, aku mengakui aku mulai kikuk lalu dengan sengaja aku mengedarkan pandangan di sekelilingku. Beberapa tamu lain di restoran menikmati makan malamnya dan berbicara dengan normal. Apa mereka tidak menyadari dengan siapa aku sedang makan malam?

“Makanlah, Yoong.” Ajak Kyung Soo sambil meraih garpu dan mulai mengaduk pastanya.

Aku mengikutinya mengambil garpu dan sendokku untuk mengaduk spaghetti-ku. Kami makan dalam diam beberapa saat.

Dan astaga apa aku masih tersenyum di sepanjang acara makan malam ini?

Tidak  lama kemudian, Kyung Soo meraih tangan kiriku. Aku menghentikan semua aktifitasku, bahkan spaghetti yang masih kukunyah, dengan paksa aku telan.

Dengan sambil menatapku, ia meraih gelas wine. Aku mengikutinya mengambil gelas wine-ku. Ia mengangkat gelas kaca tersebut di tengah meja dan mengajak cheers.

Dua gelas kaca bertemu di udara. Ting!

Aku tidak terbiasa minum wine. Tapi karena aku tahu ini acara khusus, maka kupaksakan menelan cairan berwarna merah keunguan tersebut.

Aku tidak bisa menyembunyikan ekspresi ketidaksukaanku, membuatku mengernyitkan wajahku. Kyung Soo yang melihat menahan tawanya sampai tubuhnya bergetar.

“Jangan dipaksa, Yoong.” Ia mendorong segelas air putih yang berada di sebelah kirinya. Aku meraih gelas tersebut dan minum sedikit.

Kyung Soo masih tersenyum saat aku meletakkan kembali gelas air itu. “Aku harap kau menikmati malam ini.”

“Apa?” Tanyaku, setelah menggunakan serbet menghapus bibirku.

“Aku minta maaf jika aku sering melewatkan malamku tanpamu, Yoong.”

Aku meletakkan serbet itu. “Kau seorang artis. Jadwalmu padat. Aku mengerti, Kyung Soo-ah.” Aku mencoba mengeluarkan suaraku sedatar mungkin.

Brak! Pintu restoran terbuka dengan paksa. Dan masuklah seorang wanita tua dengan penampilannya yang heboh beserta dengan dua orang bodyguard-nya.

Eomma!” Seruku sambil berdiri. Dan detik itu juga semua mata tertuju pada wanita tua itu yang berjalan menghampiri mejaku dan Kyung Soo.

“IM YOONA! SEKARANG JUGA KAU PULANG! CEPAT PULANG DENGANKU!” Teriak Eomma dengan nada memaksa, membuat Kyung Soo ikut berdiri ingin menghentikan aksi ibuku.

Eomma! Aku sedang makan malam dengan Kyung Soo.” Rengekku pelan. Tamu-tamu lain memperhatikan drama yang seru ini.

Kyung Soo berdiri menahan tangan ibuku, “Eomunim, saya bisa–“

“Untuk apa kau memegangku? Kau Do Kyung Soo, jauhi putriku jika kau masih ingin hidup!” Eomma menepis tangan Kyung Soo dengan keras. Lalu Eomma mengambil segelas air dan menyiram wajah Kyung Soo dengan cepat.

Eomma!” Teriakku sekali lagi. Aku merasa malu karena beberapa tamu akhirnya menyadari bahwa itu Kyung Soo, seorang artis yang tengah naik daun dan sedang di permalukan oleh seorang wanita tua.

Aku menarik ibuku untuk keluar dari tempat itu juga, hendak meninggalkan semuanya. Tapi Eomma masih menahan diri ditempatnya dan mengambil piring spaghetti-ku lalu kembali menuangkan diatas kepala Kyung Soo, “Jauhi putriku, atau kau akan lebih malu dari ini!”

Tamu-tamu yang lain terkesiap dengan aksi ibuku. Aku tidak tahu lagi dimana wajahku akan kuletakkan setelah ini.

Kyung Soo, yang rambutnya sudah basah dan dipenuhi spaghetti beserta sausnya, masih tersenyum canggung saat aku meliriknya sebelum Eomma yang menarikku keluar dari restoran tersebut.

Going out tonight, changes into something red

Her mother doesn’t like that kind of dress

Reminds her of the missing piece of innocence she lost

========================================

 

Chanyeol menarik tanganku saat kami memasukki taman festival tersebut. Mungkin hanya dengan wajah riang dan senyum manisnya, kurasa taman festival tersebut sudah lenyap dari duniaku.

“Malam ini, kita habisi semua permainan disini, Yoong.” Serunya sambil berteriak. Aku melihatnya tertawa memandang ke atas langit gelap yang hanya dihiasi bulan itu. Ia bahkan sudah berlari beberapa langkah di depanku.

Kami begitu excited sampai-sampai beanie yang kupakai sempat terlepas dari kepalaku. Karena Chanyeol yang menyadari aku tidak mengikuti di belakangnya, ia berjalan menghampiriku lagi.

Dengan sekejap ia mengambil beanie tersebut dari tanganku dan memakaikan di kepalaku. Sentuhan-sentuhan lembutnya membuatku bergidik, karena kupu-kupu diperutku membuatku ingin muntah kegirangan.

“Sudah?” Tanyanya pelan. Ia menepuk-nepuk kepalaku lembut saat aku mengangguk pelan.

Lalu ia merangkul pundakku dan mengajakku berjalan lagi, “Kau mau naik itu?”

Ia menunjuk pada komedi putar. Masa bodo dengan usia, kami menikmati kesenangan di taman festival yang ramai ini. Lampu-lampu berwarna kuning menghiasi tiang besi sana-sini, balon berwarna-warni dimana-mana, serta harum permen kembang gula yang manis. Sangat menyenangkan!

Aku mengangguk dan tersenyum lagi, dibalas dengan senyuman Chanyeol yang menampilkan gigi putih ratanya.

Bisa dibayangkan seperti apa menghabiskan malam dengan Chanyeol di taman festival? Tidak lepas dari kamera. Ya, Chanyeol sengaja membawa handy-cam untuk merekam aktifitasnya selama di taman festival ini.

Karena taman festival ini adalah acara tahunan yang diselenggarakan, maka kami tidak mau melewatkan sedetikpun tanpa bersenang-senang.

Setelah selesai menaiki komedi putar tersebut, dengan handy-cam di tangan kiri Chanyeol dan tangan kanannya yang merangkulku, “Kau lelah?”

Aku menggeleng pelan, “Tidak.” Bukan belum. Karena berlari sana-sini dengan Chanyeol yang girang itu sudah cukup melelahkan.

Chanyeol menyalakan handy-cam-nya, “Sekarang ini, Princess Yoona sedang kelelahan. Walaupun ia bilang tidak. Tapi coba kalian lihat ini wajahnya,” ia mengarahkan handy-cam padaku, “Wajahnya lelah, kan?”

Kamipun tertawa, “Dan sekarang, kami mau main……,” Chanyeol memutar kepalanya mencari permainan seru lain yang tidak terlalu melelahkanku.

Aku baru menyadari bahwa ia sedikit berkeringat. Bahkan ini sudah malam, dan udara sedikit dingin. Tapi ia malah berkeringat. Rambutnya terlihat sedikit lepek karena basah oleh keringat.

“Chanyeol-ah.” Panggilku

“….Sekarang kita main itu!” Chanyeol tidak menghiraukan panggilanku, ia malah menunjuk pada sebuah stand.

“Chanyeol-ah.”

“Apa?”

Aku menghapus beberapa titik keringat di dahinya, “Kau kelelahan.” Komentarku sambil menghapus dahinya.

Gumawo, Yoong.” Ia kembali menarik tanganku berjalan menuju stand tersebut.

“Sebagai gantinya, aku akan mendapatkan boneka teddy itu untukmu.” Chanyeol dengan girang mengecup pipiku lalu menyerahkan handy-cam-nya padaku. Aku hanya tersenyum. Sebisa mungkin menyamarkan pipi merahku yang bersemu tidak jelas ini.

Ia menunjuk boneka teddy besar itu yang tergantung disana. Baru kusadari jika ini adalah stand memecahkan balon untuk mendapatkan hadiah.

“Kau lihat ini ya.” Chanyeol menghampiri penjualnya.

Ia datang kembali dan membawa lima benda tajam seperti paku. Ia kembali tersenyum padaku sebelum melemparkan benda tajam itu pada balon yang jaraknya mencapai 2 meter jauh darinya.

Bayangkan bagaimana ia melempar paku tersebut membuatku tertawa. Paku pertama gagal. Paku kedua hampir mendekati. Paku ketiga meleset jauh. Paku keempat mengenai balon tersebut tapi tidak pecah. Dan berhasil di paku kelima.

Jujurnya, itu bukan paku kelima di ronde pertama. Tapi itu paku kelima di ronde keempat. Jadi jika ditotal, pada paku ke-duapuluh baru ia berhasil memecahkan balon yang seukuran gepalan tangannya itu.

Aku yang merekamnya bahkan sudah tertawa dari ronde pertama ia gagal.

Tapi aku menghargai ketulusannya mendapatkan boneka teddy itu untukku.

Beberapa titik keringat muncul lagi di dahinya, aku kembali menghapus keringatnya dengan tanganku. “Kau tidak lelah, apa?”

Ia menatapku sambil tersenyum menampilkan gigi putihnya, “Tidak. Ayo kita naik itu.”

Chanyeol sudah berlari menjauhiku lagi. Dan aku harus mengejarnya lagi. “Chanyeol-ah. Tunggu aku!”

Kali ini saat aku berhasil menyusulnya, ia menatap pada bangunan roller coaster yang luar biasa tingginya. “Kau mau naik ini? Yakin?” Aku bertanya dengan nada meremehkan.

“Yakin. Kau tidak takut tinggi seperti Luhan Hyung kan?”

Nama itu lagi.

“Tidak.” Jawabku cepat. Chanyeol tahu Luhan adalah bagian dari masa lalu-ku. Tapi seharusnya ia tidak menyebut nama itu lagi.

“Yakin?” Kali ini ia yang meremehkanku.

Karena merasa diremehkan dan ditantang seperti itu, aku yang menarik tangannya. “Baik. Ayo kita naik.”

Chanyeol menyalakan handy-cam-nya lagi, “Sekarang kita akan naik roller coaster itu.” Ia mengarahkan handy-cam pada bangunan tinggi itu diatasnya.

Karena peraturan memaksanya untuk menyimpan handy-cam tersebut (dan ini pertama kalinya ia naik roller coaster dan tidak memiliki peralatan memadai untuk membawa kamera ke wahana), dengan kecewa Chanyeol menitipkan handy-cam-nya pada penjaga.

Kami berteriak. Tidak bukan kami, tapi hanya aku. Karena setelah putaran pertama roller coaster itu, aku menoleh pada Chanyeol yang terdiam. Wajahnya sudah memutih membuatku panik. Tapi masih ada satu putaran lagi. Chanyeol terdiam menutup matanya.

Aku menggunakan tenaga terakhirku untuk memapahnya turun dari roller coaster setelah putaran terakhir. “Chanyeol-ah, gwenchana?”

Chanyeol jalan dengan lunglai di rangkulanku. Oh siapa sangka namja tampan ini ternyata mabuk angin.

“Uh.. ugh.. Yoona.” Chanyeol menutup mulutnya yang seperti ingin muntah itu.

“Chanyeol-ah. Kita pulang saja?” Aku khawatir jika ia pingsan siapa yang menggendongnya. Tubuhku terlalu kecil untuk menggendongnya.

“Uh.. uh.. uhwekkkkkk…”

Akhirnya suara menjijikan itu keluar dari mulut Chanyeol beserta isinya.

“Chanyeol-ah?” Panggilku pelan. Ia membungkuk sambil memegang perutnya.

“Malam ini.. sampai.. disini.. aku merasa.. tidak.. enak.. badan.” Chanyeol menjawab dengan terbata-bata. Wajahnya sudah tidak sepucat tadi. Dan ekspresinya membuatku tertawa.

“Apa yang lucu, Yoong?”

“Tadi kau menantangku naik roller coaster, dan sekarang kau muntah karena naik roller coaster. Yang benar saja!” Aku tertawa sambil berlari menjauhinya yang hendak membagiku isi perutnya tadi.

Driving too fast, moon is breaking through her hair

She’s heading for something that she won’t forget

Having no regrets is all that she really wants

========================================

 

“Ini untukmu, Yoong.”

Sebuah lengan mengarahkan sepasang sepatu skating berwarna putih yang rasanya nyaman dipakai.

Aku mendongak pada si pemberi dengan tatapan bingung. Ini bahkan bukan ulang tahunku, kenapa tiba-tiba ada hadiah?

“Untuk apa?” Tanyaku bingung.

“Tentu saja untuk main skating. Bersamaku. Pakailah.” Ia menggerakkan sepatu skating tersebut lagi.

Aku menerimanya dan menurutinya memakai sepatu tersebut. Benar-benar nyaman. Walaupun memakai sepatu ini harus berhati-hati karena tumpuan dibawahnya hanya sebilah pisau tajam. Bukankah sepatu skating memang didesain seperti itu?

Tepat setelah aku mengikat tali sepatu tersebut, Tao mengulurkan tangan kanannya padaku.

Aku menerima uluran tangan tersebut dan berjalan bersama Tao menuju lapangan es yang dingin. Musim dingin awal tahun membuatku bergidik pelan.

Tao menegadah ke langit malam yang turun salju tipis. Beberapa butir salju mengotori hoodie bulunya. Tanpa melepaskan tautan tangan kami, ia mengulurkan tangannya menunggu salju tipis mendarat di atas tangannya.

“Cantik, bukan?” Ia tersenyum. Walaupun pujian itu untuk salju, tapi aku merasa tersipu.

“Ayo kita kesana.” Tao menarik tanganku mengarah ke tengah lapangan. “Aku suka ice-skating. Suka sekali. Walaupun Eomma melarangku.”

“Karena dingin?” Tebakku. Memang, Nyonya Huang sangatlah protektif terhadap putra tunggalnya ini. Ditambah dengan sikap manja Tao.

Tao menggeleng dan tersenyum, “Aniyeo. Eomma melarangku ice-skate karena waktu itu Luhan Hyung pernah terjatuh di atas es keras ini.” Ia menendang es batu yang beku di lantai dengan pelan.

Aku hanya mendongak terdiam, menunggunya melanjutkan.

“Luhan Hyung terjatuh dan mengalami gegar otak karena berbenturan dengan es cukup kencang. Bahkan sempat, Luhan Hyung tidak mengenali siapa namanya, siapa keluarganya. Eomma khawatir aku akan mengalami hal yang sama.” Jelasnya sambil menatap kejauhan.

Beberapa orang menikmati lapangan es ini. Dua pasang muda-mudi bergandengan tangan berjalan bersamaan di atas es. 3 anak kecil saling dorong-dorongan dan canda tawa. Sebuah keluarga yang membentuk kereta panjang berjalan melewati kami.

“Tapi itu sudah lama. Luhan Hyung juga sudah tidak ada.” Aku kurang mengerti dengan maksud ‘tidak ada’, apa maksudnya meninggal?

Dan sekarang kami sama-sama terdiam.

“Kau melamun?” Tao menggerakkan tangannya tepat di hadapanku. Membuatku tersadar.

Aku sedikit gelapan seperti ketahuan melamun sambil menatapi dia. Akhirnya aku hanya tersenyum.

“Kita kesana.” Ajaknya sambil menarik tanganku.

Tao menuntunku ke sebuah keramaian ternyata disana ada beberapa atraksi ekstrim orang-orang yang sedang ice-skating. Beberapa namja berputar sambil mengangkat sebelah kakinya, tapi ada namja lain yang mengelilinginya berlawanan arah sambil membawa sebuah tongkat ski.

“Kau mau coba?” Tantang Tao sambil tersenyum padaku.

“Ehm, kurasa tanpa tongkat ski itu.” Aku tertawa, karena khawatir dengan tongkat ski yang berbahaya itu. Karena jika dilihat dari permainan namja di keramaian itu guna tongkat ski tersebut adalah untuk ‘menyengkat’. Oleh karena itu yang berputar di tengah tidak boleh salah fokus dan harus memperhatikan tongkat ski tersebut.

“Baiklah.” Tao berjalan agak menjauhiku lalu ia menarik nafas pelan. Kemudian ia berputar di tempatnya, awalnya pelan. Tapi semakin cepat mengikuti salju tipis yang turun malam itu.

Sedangkan aku yang berputar mengelilinginya berlawanan arah, mengikuti irama Tao yang awalnya pelan lalu menjadi agak cepat.

Sialnya, aku tergelincir karena tidak menyadari ada air bekas lelehan es di dekatku.

Bruk!

Kakiku sedikit menyengkat Tao yang masih berputar sehingga ia ikut terjatuh bersamaku. Karena aku yang terjatuh duluan, merasa kakiku sedikit basah di tumit, aku bangun dan ingin menghampiri Tao yang juga terjatuh tidak jauh dariku. Tapi ternyata tumitku sakit saat aku ingin berdiri. Jadi belum sempat aku bangkit berdiri, aku hanya melihat Tao yang sama dengan posisi tertidur dari tempatnya.

Untungnya ia tidak membenturkan kepalanya pada permukaan es itu.

Gwenchana?”

Gwenchana?”

Tanya kami berbarengan. Akhirnya kami bangun bersamaan dan tertawa. Memastikan tidak ada yang salah dengan diri kami masing-masing.

Nyatanya, aku melihat darah segar mengalir di ujung pelipis mata Tao, “Kau berdarah, Tao!” Seruku melihat segores darah mengalir di dekat matanya.

Tao menyentuh alisnya, “Oh! Berdarah. Mungkin tergores dengan es?” Ia malah berbalik tanya padaku.

Aku dengan sekuat tenaga kaki kananku berjalan lebih dekat padanya. Melihatku jalan tergopoh-gopoh, Tao yang mendekatiku.

“Kau terluka, Yoong?” Ia berjongkok di hadapanku dan langsung menyentuh tungkai kakiku. Seolah ia melupakan pendarahannya.

“Argh!” Seruku saat ia menekan tumit kiriku.

“Kurasa kau mengalami ankle. Lebih baik kuantar kau pulang.” Tao mengangkat tangan kananku agar bisa merangkulnya yang lebih tinggi dariku. Aku merasa canggung karena berada terlalu dekat dengannya.

Angin malam berhembus dan salju sudah berhenti turun. Tapi tiupan angin membuat beberapa salju yang masih berterbangan di sekitar kami membuat kakiku dingin.

Sesampainya di mobil, aku dan Tao duduk di jok belakang. Karena Tao tidak diijinkan membawa kendaraan sendiri. Jadi saat ia bilang maksudnya mengantarku pulang artinya adalah pulang bersama. Ke rumahnya.

“Huang Zi Tao? Kau kemana saja? Ohhhhhh astaga! Apa yang terjadi pada…. ASTAGA kau berdarah, Tao-ah!” Itu yang kudengar saat sampai di depan rumah Tao. Nyonya Huang yang protektif langsung memanggil dokter pribadi untuk datang memeriksa Tao.

“Hanya tergores, Eomma. Yoona yang terkilir.” Tao menudingku dengan dagunya.

Aku hanya tersenyum canggung dengan Nyonya Huang, “Aigoo, seharusnya kau jangan mengajak Tao untuk ice-skating.”

Jika aku tidak salah dengar, barusan Nyonya Huang menyalahkanku.

Eomma! Aku yang mengajaknya ice-skating. Jangan marahi dia. Dia bahkan terluka lebih parah dariku.” Tao mengoceh setelah dokter menempelkan plaster di pelipis matanya.

Lalu dokter tersebut menghampiriku. Tapi setelah beberapa menit aku berteriak kesakitan dan membuat gaduh di teras rumah Tao, tumit kaki kiriku di perban. Membuat jalanku menjadi kaku.

“Maafkan aku. Karena aku, kau jadi terluka.” Tao duduk di sebrangku dan wajahnya muram meminta maaf padaku.

Aku hanya tersenyum, “Asal bisa melewatkan malam ini denganmu, aku senang.”

We’re only getting older baby

And I’ve been thinking about it lately

Does it ever drive you crazy

Just how fast the night changes

Everything that you’ve ever dreamed of

Disappearing when you wake up

But there’s nothing to be afraid of

Even when the night changes

It will never change me and you

========================================

 

Aku terburu-buru berlari saat aku menghampiri sesosok manusia berwajah malaikat itu berdiri menungguku bersandar dekat mobilnya. Karena long dress tipis yang kupakai ini tidak membantuku, maka aku melepaskan high heels dan sedikit menarik bagian bawah dress-ku, agar tidak menghalangiku berlari.

“Maaf.. aku sedikit.. terlambat.. Joon Myeon-ah.” Jujur, aku kehabisan nafas. Ditambah dengan tangannya yang melingkar pada tubuhku langsung menyambutku dengan senyuman ala malaikatnya.

“Kau tidak akan berlari dan terlambat seperti ini jika kau tidak menolakku menjemputmu.” Ia memutar bola matanya dan masih dengan senyuman malaikatanya ia membuka pintu mobil penumpang untukku.

Aku masuk dan duduk di jok penumpang, lalu meletakkan high heels-ku di samping kakiku. Kuharap ia tidak memasalahkan kaki telanjangku.

“Kita mau kemana?” Tanyaku ketika ia duduk di jok pengemudi dan memakai seatbelt.

Ia hanya tersenyum menggodaku. Ia menyalakan mesin mobil dengan halus.

Porsche 911 Convertible Silver miliknya berjalan diatas aspal dengan sangat mulus. Tanpa melepaskan setirannya, tangan kirinya menggegam tangan kananku.

“Bagaimana harimu?” Tanya Joon Myeon membuka pembicaraan.

Aku mengangguk dan tersenyum secerah sinar bulan diatas kami, “Baik. Bagaimana denganmu?”

Joon Myeon melirik spion tengah dan tersenyum menampilkan gigi putihnya, “Aku baik.”

Kemudian hening lagi.

Jalanan yang kami lewati terlalu hening, ditambah dengan mobil tanpa atap ini, udara angin malam menusuk kulitku yang hanya ditutupi potongan long dress chiffon berwarna aqua.

Tapi dilihat dari pakaian Joon Myeon, ia mengenakan kemeja putih lengan panjang tanpa dasi dan celana hitam. Kemejanya tidak rapi seperti biasa ia pulang dari kantor, tapi lengan kemejanya digulung sebatas siku, menampilkan sisi seksinya. Membuat pikiranku melayang.

“Joon Myeon-ah?”

“Ya?”

“Apa yang istimewa dari hari ini? Bukan ulang tahunku, atau kau, bukan anniversary kita juga. Lalu apa?” Aku mencoba mendatarkan suaraku, menebak kemana ia akan membawaku dan mengapa hari ini.

Joon Myeon melirik spion tengah lagi sebelum berbelok pada sebuah jalan setapak satu arah yang mengarah pada hutan. Ia masih menggenggam tanganku dan tersenyum seperti malaikat.

“Kita sampai. Nanti akan kuberitahu.” Tidak tahukah dia bahwa jantungku sudah bekerja tidak normal setiap kali ia mengedipkan matanya padaku?

Ia melepaskan seatbelt dan keluar dari mobil. Aku melirik wajahku di spion tengah, memastikan tidak ada yang salah dengan wajahku.

Joon Myeon tahu-tahu sudah berada di samping pintu mobil dan membukakan pintu tersebut untukku.

Aku menatapnya sebentar, “Tidak apa-apa jika aku tidak beralas kaki?”

“Wae? Kau tersiksa dengan high heels-mu?” Wajah terkejut, tapi ia menahan tawanya, kutahu.

“Apa boleh?” Tanyaku sekali lagi.

Ia berpikir sejenak, “Kau mau aku gendong? Tempatnya diujung sana setelah melewati hutan ini. Aku tidak mau kakimu terluka dan ber –“

Akhirnya tanpa menunggunya menyelesaikan kalimat, aku keluar dari mobilnya dengan menggunakan heels itu lagi. Aku tersenyum saat ia terdiam menatapku.

“Bisakah kau menahan pesonamu itu hanya untukku?” Bisiknya ditelingaku, suaranya bagaikan desiran air yang biasa kudengar dipantai.

Aku memutar mataku, “Oh ayolah. Kau memaksaku memakai pakaian seperti ini.”

“Kuharap kau menikmati malam ini bersamaku.” Ia meraih tanganku. Kami berjalan masuk ke hutan tersebut. Bukan hutan basah melainkan hutan yang penuh dengan daun kering. Jenis hutan dengan pohon tinggi yang rindang. Bahkan sudah semalam ini, hutan kayu ini masih terlihat bercahaya.

Kami berjalan menyusuri hutan sampai akhirnya, aku melihat bayangan bulan seperti berceceran dan meleleh di air. Itu danau.

Di samping danau itu, terdapat sebuah meja dan dua buah kursi. Meja tersebut hanya terdapat beberapa bungkus burger dan coke. Makan malam diluar dugaan. Baiklah, Kim Joon Myeon kau berhasil mengejutkanku.

Ia menuntunku duduk di salah satu kursi. Lalu ia juga duduk di kursinya di hadapanku.

“Aku mau melewatkan semua malamku setelah ini bersamamu, Yoong.” Kalimat pengantar itu membuat keningku berkerut. Tidak, bukan karena aku tidak mengerti maksudnya. Tapi karena terlalu mengerti maksudnya.

Bagaimana bisa manusia setengah malaikat ini ingin menghabis malamnya bersamaku. Dengan berstatus Presiden Direktur sebuah perusahaan produk parfum terkenal yang jadwal meeting-nya melebihi jadwal makanku setiap hari, bertemu dengan orang penting, pakar, konsultan, dan lain-lain pada jam malam biasanya. Bagaimana bisa ia ingin menghabiskan semua malamnya denganku.

Malam ini saja aku terkejut saat ia bilang akan menjemputku dirumah, yang langsung kutolak. Karena berdasarkan pengalaman menjemput, ia akan terlambat 1 jam dari waktu yang ia janjikan. Dan aku menghindari pembatalan acara, aku lebih baik berjalan beberapa blok dari rumahku untuk menemuinya saat ia menungguku tadi.

“Pekerjaanmu?” Tanyaku.

Joon Myeon membuka kaleng coke untukku lalu ia mengambil sebuah bungkus burger, “Makanlah.” Aku menerima coke itu, menyesapnya sedikit. Kemudian aku mengambil burger dan makan sepertinya.

“Aku akan mengatur jadwal pagi untuk pekerjaanku. Dan aku akan bekerja dirumah pada malam hari. Dengan begitu, kita lebih banyak waktu bersama.” Ia tersenyum padaku.

Tapi apa bisa?

“Aku akan mengusahakan sebisa mungkin, Yoong.” Katanya, seakan membaca pikiranku.

Kami makan dalam diam.

Angin malam berhembus kembali menusuk kulitku, karena menyadari aku sedikit kedinginan, ia menggenggam tanganku dengan erat, “Mari kuantar kau pulang. Jangan menolak.”

Ia langsung mengancam ketika aku hendak membuka mulut untuk menolak. Senyumnyalah yang membuatku tidak bisa menolak.

“Baik jika kau menggendongku.” Aku melirik kakiku, ia mengikuti arah pandangku. Ia menahan tawanya.

Ia berjongkok di depanku. Segera aku membuka high heels ini dan langsung mengambilnya. Aku merasakan kebebasan di kakiku saat aku menginjak tanah. Lalu aku menarik ujung dress yang panjang ini dan mengambil aba-aba untuk naik ke punggungnya.

“Apa aku berat?” Tanyaku ragu-ragu saat ia berdiri sambil sudah menggendongku.

Ia sedikit bergetar dan tertawa, “Eoh, kau berat, Yoong.”

Aku mencubit lengannya pelan dan kami tertawa.

Sesampainya dimobil, ia duduk di kursi pengemudi tanpa memakai seatbelt. Ia tahu sejauh apapun tujuannya, aku tidak akan mengenakan seatbelt. Tidak sepertinya yang selalu memakai seatbelt. Tapi tidak kali ini.

“Kau tidak memakai seatbelt-mu?” Tanyaku setelah meliriknya sebentar.

Ia tersenyum sambil melirik spion tengah, hendak memundurkan mobilnya karena ini jalan setapak satu arah dan tidak ada tempat untuk memutar.

“Sekali-kali.” Jawabnya dan tersenyum. Lalu Joon Myeon meraih jasnya di jok belakang dan memberikan padaku, “Pakailah.”

Aku menurutinya. “Aku boleh tidur sebentar? Beritahu aku jika sudah sampai.”

Ia tersenyum lagi dan mencium pipiku, “Baik Nyonya Kim.”

“Ya! Aku belum siap dengan nama baruku.” Aku menyandarkan kepalaku, menyamankan posisiku.

“Tidurlah, sayang. Aku membangunkan jika sudah sampai.”

Itu kalimat terakhir yang aku dengar. Entah mengapa aku merasa perjalanan pulang lebih cepat dari datang, karena setelah beberapa menit menutup mata (aku yakin aku sudah tertidur), aku mendengar suara yang berisik.

“Maaf, Pak. Tapi Anda tidak membawa surat.”

“Ya benar. Karena saya terburu-buru.”

“Anda juga tidak memakai seatbelt. Ini sudah jam malam. Apa Anda masih dibawah umur?”

Aku membuka mataku melihat Kim Joon Myeon sedang berbicara pada 3 orang polisi di samping mobil. Joon Myeon terlihat panik dan mengacak rambutnya.

“Kenapa, Joon Myeon-ah?” Aku keluar menghampirinya tanpa mengenakan alas kaki.

“Maaf, Anda harus menyelesaikan masalah ini di kantor. Anda bisa menjelaskannya di kantor.” Seorang polisi menahan tangannya.

“Kim Joon Myeon. Apa-apaan ini!” Teriakku menahan polisi itu membawanya.

“Hubungan Anda?” Seorang polisi bertanya padaku.

Aku menoleh, “Aku tunangannya. Mengapa tunangan saya harus dibawa?”

“Tunangan Anda tidak mematuhi peraturan lalu lintas. Tidak memakai seatbelt, tidak membawa surat, mengebut di jalan raya.” Jelas polisi tersebut.

“Maka dari itu, tunangan Anda kami bawa ke kantor untuk menyelesaikan masalah ini.” Polisi lain mengakhiri kalimat tersebut.

Aku melihat Joon Myeon yang masih tersenyum ala malaikatnya padaku saat ia digiring masuk ke mobil polisi.

Chasing here tonight, doubts are running ‘round her head

He’s waiting, hides behind his cigarette

Heart is beating loud, but she doesn’t want it to stop

========================================

 

Aku mengetuk pintu utama rumah itu. Setelah ketukan kedua barulah pintu tersebut terbuka untukku.

“Masuklah, Yoong. Kau tidak perlu mengetuk pintu.” Suara merdu itu langsung menghantam gendang telingaku. Aku terdiam saat melihatnya mengenakan sweater tebal berwarna hitam dan celana training abu sambil membawa gitarnya.

Ia menarikku masuk ke rumah. Aku merasa canggung karena ini pertama kalinya aku datang kerumahnya.

Ya, secara tiba-tiba aku menerima telepon darinya yang memintaku datang kerumahnya. Karena ia ditinggal sendiri oleh orangtuanya yang sedang dinas urusan pekerjaan di luar kota. Dan disinilah aku, dirumahnya.

“Kau temani aku malam ini, please?” Ia menyatukan kedua telapak tangannya dibawah dagu setelah ia meletakkan gitarnya, dengan ekspresi memohon yang membuatku menahan tawa.

Tapi tawa itu lolos dari mulutku, “Hahahaha, baiklah.”

Ia sedikit meloncat kegirangan. “Jadi kita akan bermain monopoli, makan ramen, mencoba lagu baruku, lalu..”

“Baiklah. Baiklah. Lakukan sesuai jadwalmu, Jongdae-ah.” Kataku memotong pembicaraannya.

Ia mengajakku duduk di sofa depan perapian. “Aku mulai duluan?”

Aku duduk di hadapannya, dengan meja kopi yang membatasi depan kami, papan monopoli beserta perlengkapannya, kotak catur, makanan ringan yang berantakan, dan beberapa potongan lego.

Dan kami mengawalinya dengan bermain monopoli.

Kemampuan bermain monopoli kami bisa diadu. Karena kami sama-sama memiliki strategi yang menurutku cukup kuat. Ia mempertahankan semua spot negara yang strategis sedangkan aku menahan keuanganku, yang kusimpan untuk membeli negara-negara besar.

“Ya, kau menginjak tanahku. Cepat bayar.” Teriaknya begitu pionku jatuh ke spot negaranya. Sambil mengulurkan tangannya, ia menampilkan wajah smirk-nya yang menggemaskan.

Dengan setengah hati aku memberikan bayaran itu karena telah menginjak tanahnya. Aku meraih dadu dan melempar lagi karena aku mendapat angka double sebelumnya.

Aku melangkahkan tiga langkah pion milikku, jatuh di negara terakhir yaitu negara termahal. Sial untuk pion lain yang akan menginjak tanah itu. Dengan segera aku membeli tanah itu, berharap Jongdae akan menginjaknya suatu saat. Karena mengingat ia berada di belakangku beberapa langkah.

“Wah, kau benar-benar beli negara-negara besar itu, Yoong.” Ia seperti kaget melihatku mengeluarkan uang besar untuk membeli negara terakhir tersebut.

“Tentu saja. Semoga kau menginjaknya Tuan Kim.” Aku tersenyum, dalam hati berdoa ia akan menginjaknya suatu saat.

Dan benar saja, setelah dadu hasil kocokan Jongdae keluar, ia melangkah dan berhenti tepat diatas negara mahal yang barusan kubeli.

“Wahhhhhh! Benar saja. Kau menginjaknya?”

Aniyo.” Ia mengambil pionnya, menghitung ulang dari langkah sebelumnya.

Aku sudah tertawa melihatnya tidak percaya bahwa ia harus membayarku karena menginjak tanahku. “Ya, Jongdae kau jangan curang. Jelas-jelas kau menginjaknya.”

Ani. Ani. Ini pasti salah hitung.” Ia menggeleng, kembali menghitung langkah pionnya.

“Cepat bayar, Tuan Kim.” Aku mengulurkan tanganku sambil menahan tawa. Karena melihatnya kehabisan uang. Uangnya sudah menipis karena membeli banyak negara.

“Ini.” Akhirnya ia menyerahkan uang itu padaku. Aku tertawa menerimanya. Ekspresinya cemberut membuat perutku geli menahan tawa.

Disertai canda tawa, permainan monopoli ini kita akhiri.

“Kuambilkan kau minum ya, Yoong.” Jongdae berlalu kedapur. Aku memerhatikan ruang tamu rumahnya. Jenis ruang tamu yang hangat untuk akhir musim dingin awal tahun seperti ini. Ditambah perapian batu-bata didepan sofa empuk ini.

Jongdae kembali keruang tamu dan duduk di sofa sebelahku setelah meletakkan dua kaleng minuman. Ia menghempaskan badannya ke badan sofa.

Aku menyesap kaleng minuman itu lalu kembali meletakkannya di meja. Kemudian aku menggosok kedua telapak tanganku, tidak dingin. Hanya aku mempunyai kebiasaan menggosok telapak tanganku.

“Kau kedinginan?”

Aku menggeleng, “Tidak.”

“Aku bisa menambah api perapian tersebut, tunggu sebentar.”

Aku yang baru mau memotong perkataannya, ia malah bangkit berdiri dan berjalan menuju perapiannya. Ia mengambil beberapa potongan kayu kecil di samping perapian lalu memasukkan beberapa potongan kayu tersebut.

Ia mengatur kayu-kayu kecil tersebut agar tersusun rapi tapi siapa sangka tangannya terlalu masuk ke dalam lubang perapian tersebut. Membuat siku sweaternya terambat api.

“Hoah. Api, Yoong api! Tolong aku! Api! AAAAAAAAAAA!!!!” Jongdae berteriak. Aku berteriak. Kami panik, sama-sama panik.

Aku berdiri mencari sesuatu untuk mematikan api yang menempel di sweater bagian sikunya. Aku meraih bantal sofa dan melemparkan pada siku (malah meleset mengenai wajahnya), aku mengambil papan monopoli mengibas-ngibaskan agar apinya hilang, aku kesana kemari mencari sesuatu.

“AIR YOONG AIRR! CEPAT! TOLONG AKU!” Jongdae kembali histeris, aku memutar pandanganku lalu mengambil kaleng minuman yang masih ada isinya.

Byur!

Aku menyiram Jongdae dengan minuman yang manis itu. Ruang tamu itu menjadi kacau. Basah. Lengket. Bau hangus. Bisa dibayangkan bagaimana keadaan Jongdae yang barusan kusiram itu.

Wajahku terkejut, aku bahkan tidak mengira akan menyiramnya, “Maaf. Aku – aku tidak –“

Jongdae pun tertawa kencang membuatku canggung.

“Hahhahahahahahaahahhaa! Yoong, kau ketakutan seperti habis membunuh orang.” Ia menunjukku sambil tertawa lepas.

Aku tersenyum canggung, mengikutinya tertawa, “Kau yang hampir terbunuh, Jongdae.”

“HAHAHAHHA.” Jongdae kembali tertawa. Lalu ia menatapku, “Terima kasih, Yoona. Untuk malam ini, karena sudah datang, karena sudah bermain bersamaku, karena sudah hmm.. sudah menyiramku. Hahahahahahaahaha.”

Malam itu, kami tertawa bersama sambil membereskan keadaan ruang tamu yang berantakan itu.

Even when the night changes,

It will never change me and you

END

Author Note:

I fell in love with this song at the first hearing. Dan langsung kepikiran buat bikin ff dengan banyak pairing. Maaf kalo rada maksa gitu. My fave is DOyoong. How about u guys?🙂

XOXO, Nikkired

15 thoughts on “(Freelance) Night Changes

  1. Keren!
    Aku suka pas scene YoongTAO, ChanYOONG N yoongCHEN nya🙂
    Suka suka suka.. Joha.. Joha.. Joha..
    Keep writting Thor!

  2. pertama tama. aku suka banget sama posternya❤
    paling suka yang pairing nya chanyeol-yoona
    dan pas baca sambil denger lagunya wow. feel nya kerasa bgt deh hehe
    sekian and keep writing!

  3. Keren thor iya pas pertama kali aku dengerin lagu ini juga akuu suka bangetttt,,,itu ngegemesin semuaaaa paling suka pas bagian d.o sama chen :):)

  4. Aku suka bagian Chanyeol sama Chen,kenapa? Utk bag. Chanyeol aku suka sama adegan yg dia muntah itu. Utk bag. Chen aku gk bisa nahan ketawa waktu dia hampir kebakar… Keren thor,kapan2 buat yg kayak gini lagi tapi pemerannya Yoong sm EXO OT12 ya…

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s