Friendship

hsd-copy

Fumi Nakamura | Friendship | Baekhyun, Yoona, Sehun, Taeyeon | sad, hurt, angst (?) and find by your self | all rated |

big thanks to : deerkkamjong07 @ ARTFANTASY

I need your comment. and it’s not long fanfic🙂

—-

It Always Be Like That

—-

“cause I’m not fine at all”

“cause I’m not fine at all”

“cause I’m not fine at all”

“sampai kapan kau akan menyanyikan lirik lagu itu terus?”

Lelaki bersuara merdu itu hanya terdiam dan menatap temannya dengan senyuman kecil yang tak berarti sedikitpun. Temannya hanya menatapnya diam, dia tak pernah mendapatkan senyuman ini dari temannya yang satu ini. Biasanya lelaki didepannya ini akan selalu tersenyum dengan menampilkan deretan giginya yang putih. Lucu. Dia sangat lucu ketika tersenyum seperti itu apalagi ketika dia terbahak karena sesuatu yang bahkan menurutnya sendiri tak lucu

Karena aku tahu kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku

Hanya itu yang dipikirkan oleh gadis itu ketika melihat senyumannya. Lelaki itu tak pernah bercerita tentang apa yang sedang terjadi padanya dan juga sebaliknya, wanita itu tak akan pernah bertanya apa yang sedang melanda pikiran lelaki didepannya. Dia merasa ada yang salah dengan lelaki didepan piano itu

Ada sesuatu yang disembunyikan olehnya. Yang bahkan tak dia mengerti sedikitpun

“Baekhyun” wanita itu berlirih pelan dan menatap mata lelaki yang sedang didepan pianonya. Tangannya bergerak-gerak tak jelas memainkan sebuah melodi yang sangat aneh bahkan ditelinga wanita itu terdengar sangat sumbang

“hentikan Baekhyun”, lelaki itu tak merespon sedikitpun dia tetap memainkan pianonya tanpa beralih pada temannya yang terus berusaha memanggilnya meskipun hanyalah sebuah lirihan bukan teriakan seperti yang dilakukan eomma, appa dan hyungnya padanya

“sampai kapan kau akan seperti ini?”

Laki-laki itu tak menjawab, pianonya terus dia tekan hingga dia menangis dengan sendirinya. Dia menangis sangat keras diikuti dengan menekan tuts piano dengan sangat keras. Sesuatu sedang mengkoyak pikirannya. Semua orang yang melewati ruangan Baekhyun selalu menutup telinganya rapat. Bebeda dengan gadis itu. Dia tak menutup telinganya meskipun dia tahu gendang telinganya bisa kapan saja pecah akibat suara itu

Dia mencintai lelaki itu

Sejak dulu

Dan akan tetap selalu seperti itu

Ya

Akan tetap selalu seperti itu

Itulah yang sedang terjadi. Wanita itu hanya berdiri ditempatnya tanpa mendekat sedikitpun kearah lelaki didepannya. Dia takut. Dia takut jika lelaki itu menganggapnya orang lain. Orang lain yang bahkan wanita itu sendiri tak tahu keberadaannya setelah kepergiannya

Seseorang menggenggam tangan wanita itu—Yoona. Tunangan Yoona, Oh Sehun. Yang beberapa hari lagi akan menjadi suami Yoona karena mereka akan menikah

Laki-laki ini tahu bahwa wanitanya masih sangat mencintai lelaki didepannya meskipun Yoona tak pernah mengatakan padanya soal perasaannya sedikitpun

Tapi kenapa lelaki ini memiliki perasaan pada Yoona padahal mereka dijodohkan?

Hanya Sehun yang tahu tentang perasaan itu. Dia tak terlalu menceritakan bagaimana bisa dia jatuh kedalam perasaan Yoona.

Yoona mendekati Baekhyun perlahan hingga kedua manic mata itu menatapnya sembari tersenyum penuh arti, Baekhyun kembali memainkan pianonya dengan lembut. Dia berusaha menahan air matanya yang terus memaksa keluar

“Yoona, kau kemari? Kau mendengarkan lagu yang aku ciptakan?”, dia terdengar sangat ceria

Yoona mengangguk dan duduk disamping Baekhyun yang masih tersenyum padanya

“aku ingin Taeyeon mendengarkan lagu ini”

Jleb

Sesuatu terasa sangat menusuk dadanya saat ini, meskipun dia akan menikah perasaannya pada temannya ini tak akan pernah bisa digantikan. Meskipun nanti Baekhyun sudah sembuh dari depresi karena Taeyeon meninggal akibat penyakit leukemia, Yoona akan tetap mencintai lelaki itu meskipun dia harus menelan kenyataan pahit bahwa dia harus lebih mencintai calon suaminya yang sekarang tengah berdiri diambang pintu tempat Baekhyun dirawat

Tak ada yang menjenguk Baekhyun selain eommanya. Terakhir kali tuan Byun dan Baekbom, kakak Baekhyun, datang mengunjungi Baekhyun adalah ketika dokter mengatakan kondisi Baekhyun jauh lebih baik daripada ketika Baekhyun dibawa kesana

Yoona sedikit menyeka air mata diwajahnya yang turun perlahan dan menatap Baekhyun yang masih memainkan pianonya dengan nada pelan. Entah apa yang dimainkan oleh Baekhyun tetapi Yoona bisa mengikutinya

Mereka berdua adalah seorang pianis, mereka bermain bersama sejak dibangku sekolah. Permainan mereka sangat indah. Baekhyun dan Yoona sering mendapatkan job di sebuah café untuk mengiringi penyanyi mereka sampai akhinya Baekhyun bertemu dengan Taeyeon

“kau masih mengingat lagu ini? Lagu yang dinyanyikan oleh Taeyeon. Ah… kenapa dia tak pernah datang kemari? Aku merindukannya. Jika kau bertemu dengannya tolong beritahu dia untuk datang kemari” Baekhyun dengan bodohnya berkata hal yang membuat Yoona semakin ingin menangis

“Baekhyun” Yoona berlirih

“Taeyeon—dia—sudah mati, kau harus bisa merelakannya, kumohon”

Diam

Diam

Diam

Diam

Diam

Yoona menghitung selama 5 detik tapi Baekhyun tak bereaksi sedikitpun. Yoona menghentikan permainannya dan menatap Baekhyun yang masih tersenyum—tolol. Ini bukan seperti Baekhyun. Jika Yoona mengatakan hal itu pada Baekhyun, dia pasti akan marah dan berteriak dalam hitungan 5 detik. Membuang semua benda yang ada didekatnya, memaki-maki Yoona kasar, membenturkan kepalanya ke tembok ruangan itu tapi—kali ini Baekhyun bersikap sangat tenang, bahkan dia tetap bermain piano lagu pertama dia berduet dengan Yoona ketika mereka bertemu di ruang music saat pertama kali mereka bertemu

“aku tahu, Yoong” lirihnya

Yoona terkesiap, “k—kau—”

“aku tahu tentang hal itu dan—aku sengaja melakukan ini”

“mwo?!” Yoona hampir berseru

“aku—hanya tak bisa menerima kenyataan tentang Taeyeon. Jika mereka menganggapku gila, mereka pasti akan membawaku kemari dan aku memiliki tempat untuk menenangkan diriku tanpa suara-suara mereka yang selalu mengangguku dengan berkata aku akan baik-baik saja tanpa Taeyeon”

“mereka selalu berkata seperti itu padaku sedangkan kau—ketika kau tahu aku menjadi seperti ini kau justru menangis dan memelukku erat. Kau bahkan mendatangkan piano ini sebagai temanku setiap hari. Kau tak pernah membahas Taeyeon didepanku. Kau datang mengunjungiku setiap hari tak seperti keluargaku. Aku tahu mereka malu karena aku menjadi seperti ini”

“kau sabar menghadapi semua kebohonganku” lirih Baekhyun

“kau—”

“biarkan aku menyelesaikan perkataanku—mianhe, jeongmal mianhe” potong Baekhyun

“mak—maksudmu?” Yoona menatap Baekhyun dengan air mata dipelupuknya yang sudah siap mengalir begitu saja

“mianhe—aku menyakitimu selama ini. Bahkan setelah Taeyeon meninggal kau tetap bersikap baik padaku”

“aku tem—”

“aku bukan lelaki bodoh yang tak bisa menyadari perasaanmu padaku”

Yoona terdiam seketika. Dia tak bisa mengelak tentang hal itu. Dia ingat dengan perlakuannya pada Baekhyun. Dia begitu sangat baik pada Baekhyun meskipun dia tahu bahwa Baekhyun sangat mencintai Taeyeon

“gumawo—gumawo karena kau mencintaiku dengan caramu yang berbeda. Bukan seperti Nara, bukan seperti Ahra dan bukan seperti Taeyeon. Jika pun aku menyadari perasaanmu dari dulu mungkin aku akan mencintaimu dan aku akan bersamamu sampai sekarang”

“tapi—dengan bodohnya takdir Tuhan mempertemukanku dengan Taeyeon dan membuatku mencintainya. Mungkin—Tuhan memang mentakdirkan kita untuk jadi seorang teman bukan sepasang pasangan yang saling mencintai satu sama lain. Karena Dia sudah menciptakan orang lain yang akan memilikimu seutuhnya dan selalu akan menjagamu. Bukan sepertiku”

“kau akan menikah 3 hari lagi bukan?” tanya Baekhyun tersenyum

Yoona terisak—dia menangis dan bertambah keras sejak Baekhyun membongkar perasaannya. Dia mendengarkan semua cerita Baekhyun tapi dia tak berniat menjawab sedikitpun pertanyaan dari lelaki berkulit putih itu

“Oh Sehun, seorang lelaki sukses dengan tubuh tinggi tegap, berahang tegas, berkulit putih pucat, berwajah dingin dan lonjong dengan tatapan tajam yang mampu memikat semua orang. Bibir tipisnya yang selalu terkatup rapat dan hanya memberikan senyumannya pada seorang gadis yang baru dikenalnya selama 3 bulan bernama Im Yoona yang sebentar lagi akan menjadi istri sahnya”

“aku tahu semua tentangmu bahkan jika orang lain bertanya tentang kau, mungkin hanya aku saja yang bisa menjawab paling detail diantara semua orang. Yoona yang tidak menyukai wortel. Yoona yang tidak suka film romance. Yoona yang sangat tidak suka dengan putih telur. Yoona yang sangat suka dengan lagu ballad. Yoona yang sangat ngefans dengan Whitney Houston dan Westlife. Yoona yang selalu berolahraga pada pukul 3.45 pagi. Yoona yang tak pernah bisa tidur tanpa music yang mengiringinya. Yoona yang sangat menyukai bunga tulip. Yoona yang sangat suka makan—ahh… aku terlalu banyak menyebutkan apa yang aku tahu tentangmu”

“wae? kenapa kau melakukan hal ini? Semua orang khawatir padamu” lirih Yoona

“aku hanya ingin menenangkan perasaanku, itu saja” jawab Baekhyun, “menjauh dari semua orang” imbuhnya

“termasuk aku?”

Baekhyun sedikit tergelak dengan pertanyaan Yoona, “sekuat apapun aku menjauh darimu kau akan tetap datang kemari dan sekuat apapun aku mencoba aku akan selalu merindukanmu”

Yoona langsung memeluk Baekhyun. Menangis dibahu lelaki itu. Lelaki berkaos putih yang ditutupi dengan hoodie berwarna hitam. Baekhyun—dia menangis—dia menangis karena dengan bodohnya dia tak menyadari perasaan wanita yang sedang memeluknya sekarang

Oh…ya, ingatkan Baekhyun tetang takdir yang sudah Tuhan putuskan untuk setiap umatnya dimuka bumi ini. Dia tentu tak bisa melawan takdir yang sudah dia lewati dengan jatuh cinta pada gadis benama Taeyeon

Tapi mencintai Taeyeon bukanlah suatu kesalahan untuk Baekhyun. Dengan semuanya dia tahu apa arti kata mencintai, terlambat dan kehilangan. Baekhyun tak menyesal, dia hanya terlalu terpukul dengan kehilangan seseorang yang baru saja mengisi relung hatinya

“uljima” Baekhyun membalas pelukan Yoona dan mengusap punggung gadis itu sayang

Ya, dia sangat menyayangi teman—ralat—sahabatnya ini

“uljima”

Baekhyun melepaskan pelukan mereka dan menghapus air mata yang terus turun dari mata madu milik Yoona

“kau ingin calon suamimu khawatir padamu dan menuduhku telah melakukan suatu hal yang sangat jahat padamu?”

Yoona sontak menggeleng

“jadi, berhentilah menangis. Aku akan selalu disisimu sebagai sahabatmu”

“apapun yang terjadi?” Yoona bertanya sendu

Baekhyun tersenyum kecil, “ne, apapun yang terjadi aku akan selalu disisimu untuk membantumu”

Mereka masih bertatapan satu sama lain, sebesit perasaan tak ingin meninggalkan diantara keduanya pun tak bisa terhindarkan hingga akhirnya Baekhyun yang menyudahinya

“pulanglah” Baekhyun mengelus pipi Yoona lembut

Yoona mengangguk dan bersiap pergi tapi dia tetap saja menoleh kearah Baekhyun yang masih terduduk di kursi depan pianonya. Dengan senyuman mengembang dia mengantar Yoona ke ambang pintu

“aku—mungkin tak bisa menghadirinya”

Yoona tahu apa yang dimaksud oleh lelaki dibelakangnya itu—pernikahan—tentang pernikahannya. Dan itu menjadi sebuah tombak yang menusuk jantungnya ketika dia mendengar dengan telinganya sendiri bahwa Baekhyun tak akan datang kepernikahannya

Yoona tak menjawab, air matanya kembali turun dan berjalan cepat keluar dari ruangan tempat Baekhyun. Kembali… dia tak menghiraukan tatapan khawatir Sehun.

The wedding day…

Seluruh tamu undangan sudah duduk ditempat mereka masing-masing. Pengantin pria sudah berdiri didepan seorang pendeta yang siap mengesahkan penikahannya dengan sang pengantin wanita yang masih belum menandakan kehadirannya

5 menit

Yoona menatap kearah jam bundar yang terpasang didinding tempatnya dirias. Dia kembali teringat dengan Baekhyun

Aku mungkin tak bisa menghadirinya

Kata-kata itu kembali dalam ingatannya. Kata-kata yang Baekhyun ucapkan dengan sangat ringan, tanpa beban. Kata-kata yang membuat Yoona merasa sakit dengan itu. Dia ingin sahabatnya datang, hanya itu meskipun nanti dia akan menangis karena dorongan perasaannya sendiri

Cklek

“sayang, sudah siap?”

Suara tuan Im membuyarkan lamunan Yoona, gadis itu berdiri dan menatap dirinya terakhir kali sebelum dia berjalan menuju altar bersama appanya

Aku tak boleh menangis.

Suara pintu tampak dibuka dan seorang pengantin wanita dengan seorang pria paruh baya tengah berjalan pelan menuju altar yang terpasang rapi didepan mereka. Gugup, takut, sedih, semua perasaannya menjadi satu

Yoona melihat keluarga Byun disana (kecuali Baekhyun tentu saja), kedua orang tua Taeyeon, beberapa temannya SMU nya bersama keluarganya, beberapa teman kerjanya, keponakannya, kakek neneknya, sepupunya. Semuanya berkumpul, begitu juga dengan keluarga Sehun yang tersenyum kearahnya

Dia benar-benar tak datang?

Yoona tepat berdiri disamping Sehun yang sangat tampan dengan jas putihnya. Dia tersenyum pada Yoona. Senyuman hangat yang hanya dia berikan pada Yoona, seperti yang dikatakan oleh Baekhyun. Meskipun Yoona tak pernah membalas senyumannya dengan cara yang sama

Acara sacral itu berlangsung lambat, itu yang dipikiran Yoona. Setidaknya dia berpikir agar bisa segera duduk. Berdiri dengan gaun panjang dan heels sekitar 15 cm itu tak mudah bagi Yoona

“bagaimana pengantin wanita?” pendeta itu bertanya persetujuan pada Yoona tentang menerima Sehun sebagai suaminya dalam keadaan suka maupun duka

Yoona terdiam, pikirannya benar-benar kalut

Sehun hanya menatapnya diam—sedih. Dia benar-benar takut jika Yoona mengatakan sesuatu yang sangat tak diinginkannya tapi dia tak bisa melakukan apa-apa jika itu benar terjadi

Yoona menatap Sehun yang menatapnya sendu dan kemudian menjadi sebuah senyuman manis yang justru sangat menyiksanya

“bagaimana pengantin wanita?” pendeta itu mengulangi pertanyaannya

“sa—saya—”

BRAK!

Tap…tap…tap…

Semua orang menoleh kearah pintu yang dibanting cukup keras. Seorang lelaki dengan setelan jas berwarna hitam serta rambut cokelat yang ditata rapi sedang berusaha mengatur nafasnya yang memburu

“mianhe, aku telat. Silahkan dilanjutkan”

“Baekhyun?” lirih Yoona terharu

Baekhyun tersenyum menatap Yoona yang sangat cantik dengan gaun pengantinnya. Kau sangat cantik. Baekhyun bergumam pelan yang mampu dimengerti oleh Yoona. Yoona menatap Sehun yang hanya melayangkan tatapan datar padanya dan kembali menatap kearah pendeta didepannya dengan senyuman mengembang yang membuat Sehun sedikit terperangah. Senyuman yang baru ditampilkan Yoona didepannya

“ne, saya bersedia” ungkap Yoona yang membuat semua orang disana bernafas lega.

Setelah acara sacral itu selesai, Yoona dan Sehun berganti menjadi pakaian pesta yang jauh lebih memudahkan mereka untuk bergerak dan tentu saja heels yang digunakan oleh Yoona. Yoona langsung menghampiri Baekhyun dan memeluk sahabatnya itu

“kau berbohong lagi padaku” lirih Yoona

Baekhyun hanya tersenyum simpul, “suamimu akan membunuhku setelah ini” kekehan kecilnya membuat Yoona melepaskan pelukannya

“kau mengatakan padaku tak akan datang” lirih Yoona

“aku tak akan pernah melewatkan acara sekali seumur hidup yang dilakukan oleh sahabatku. Tak akan pernah”

Baekhyun melirik Sehun, “senang bertemu denganmu Sehun-ssi, aku harap kau menjaga sahabatku ini dengan sangat baik”

“tentu” jawab Sehun tersenyum.

—-

Baekhyun tak sakit, orang pertama yang mengetahui hal itu adalah Yoona dan kedua adalah ibunya. Keluarga Baekhyun tak percaya ketika mereka tahu yang sebenarnya tapi akhirnya mereka meminta maaf pada Baekhyun.

Yoona, dia masih tetap berhubungan baik dengan Baekhyun. Keadaan keluarganya juga berjalan baik dengan Sehun. Yoona mulai bisa menerima Sehun dengan perlahan meskipun sedikit membutuhkan proses yang sangat menyiksa Yoona saat dia merasa bingung dengan perasaannya sendiri.

Mereka hidup dengan baik. Baekhyun sudah menjadi seorang pianis terkenal, begitupula dengan Yoona tapi pekerjaan Yoona tak sepadat milik Baekhyun karena bagaimanapun Yoona harus tetap memperhatikan rumah tangganya dengan Sehun.

“kau akan menamainya siapa ketika lahir?” tanya Baekhyun setelah mereka pentas diajang sebuah seni nasional yang menempatkan mereka sebagai tamu terhormat

“aku dan Sehun belum memikirkan nama untuknya” jawab Yoona menatap perutnya yang masih rata, “ah… kapan kau akan menikah?” alih Yoona

“besok aku akan melamarnya” Baekhyun tersenyum.

FIN~

maaf kalo cerita ini gak masuk banget dan agak nggak ‘ngeh’. gumawo yang udah baca see yaa *kaburrr😀

31 thoughts on “Friendship

  1. Baekhyun bakal ngelamar siapa ya hehe.-. Aku kira pas baekhyun dateng ke acara pernikahan yoona dia bakalan ngebatalin pernikahan mereka karena baekhyun cinta sama yoona eh ternyata engga dan juga baekhyun engga pernah nganggep yoona lebih dari sahabat ya.-. Tapi aku suka banget sama ceritanya, keep writing thor^^

  2. Q tidak begitu menyukai BaekYeon couple. Melihat karakternya Baekhyun yg begitu mencintai Taeyeon. Sakit banget. Kkk

    aku kira bakal berakhir dengan Yoona, tp malah Yoona dengan Sehun.
    Eningnya masih kurang greget. Menurutku sih.
    Ditunggu karya selanjutnya. Yaah

  3. mereka memang gag boleh bersama,,
    bagaimanapun baekhyun itu cocok jadi adik yoona,,
    tapi kasian sehun, cuma dikin partnya,,,

  4. yoona,baekhyun,Taeyeon.. okee BaekYeon itu. couple fav aku❤

    akuu sedih waktu Baek main piano sampe nangis karena Taeyeon 😂😂

  5. Aku pikir Yoona bakal sama Baek, tapi ternyata.. kan judulnya Friendship, Pengennya sih Yoona sama Baek, entah kenapa masih penasaran sama karakter Baek disini, sequel boleh? ceritain lagi tentang Baek lebih detail sama siapa orang yg bakal Baek lamar, tpi kayanya sih aku -eh
    oke ditunggu karya selanjutnya, keep writing.. fighting!!!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s