Memories [PART 1]

memories-yoonlay

qintazshk’s present

⌊ Memories ⌋

Zhang Yixing as Lay and Im Yoona
and

Zhang Yoon Ha (OC) as additional cast

PG-17  | Chaptered | Marriage Life-Romance | poster by here

enjoy this fanfiction and create your imagination ^^

Matahari sore di musim gugur memberi warna oranye pada langit yang semula berwarna biru. Jenis pemandangan yang sangat disukai wanita itu dan aku juga, tentunya.

“Zhang Yixing!”

Perhatianku beralih pada seorang perempuan yang sedang duduk di hadapanku dengan segelas jus jeruk kesukaannya yang bertengger manis dalam genggaman eratnya.

“Lihat anakmu! Astaga, Yoon Ha mirip sekali denganmu, sih.” Perempuan itu berdumel lagi saat seorang anak kecil –yang ia panggil Yoon Ha- tadi kembali mengacak-acak bubur sayurnya.

“Yoon Ha juga mirip denganmu, Im Yoona.” Ujarku sembari mengambil selembar tisu basah untuk mengelap sisa bubur sayur yang menempel di mulut Yoon Ha. Anak itu masih saja asyik memindahkan bubur sayurnya ke piring Yoona yang bahkan sudah mengomeli anak itu.

“Yoon Ha sayang, eomma tidak makan bubur sayur, oke?” Yoona berujar lembut pada anak semata wayang kami sembari menjauhkan piringnya dari jangkauan Yoon Ha agar anak itu tidak kembali menaruh bubur sayurnya ke dalam piring Yoona.

“Yoon Ha tidak suka bubur sayur ini, eomma. Rasanya pahit.” Komentar Yoon Ha tak ayal membuat aku dan Yoona tertawa keras. “Lain kali akan eomma buatkan bubur sayur yang enak untuk Yoon Ha, bagaimana?”

“Tidak. Yoon Ha tidak suka sayur. Yoon Ha ingin makan ayam saja, seperti paman Jongin.” Bibir tipis Yoon Ha menyunggingkan senyuman lebar saat membicarakan salah satu paman kesukannya.

“Itu tidak sehat, Yoon Ha-ya.” Yoona mengelus lembut kepala Yoon Ha. Usapan lembut khas seorang ibu. “Satu kali dalam sehari makan bubur sayur, bagaimana?”

“Dan Yoon Ha bisa makan ayam tiga kali dalam sehari, ‘kan, eomma?”

“Ugh, Jongin ini benar-benar.”

“Baiklah, appa setuju.” Aku mengacungkan tanganku, mengajak Yoon Ha melakukan hi-five denganku dan anak berambut hitam legam itu menyambutnya antusias.

Appa yang terbaik!”

Yoon Ha berseru keras sembari melangkahkan kaki kecilnya mengitari pohon tempat kami berteduh.

Mata Yoon Ha yang besar itu menjelajah setiap sudut taman. Iris matanya yang berwarna hitam itu bersinar terang tertempa sinar matahari. Pemandangan yang indah apalagi saat ia berusaha memetik bunga dengan tangan mungilnya.

“Kenapa kau tersenyum seperti itu, Lay?”

“Kau lihat saja kelakuan Yoon Ha. Bagaimana bisa anak berusia tujuh tahun terlihat begitu menggemaskan?” Aku menatap Yoona dan kembali menatap Yoon Ha yang masih sibuk dengan dunianya sendiri.

“Kapan-kapan kita harus mengajak Yoon Ha jalan-jalan seperti ini, Lay-ah. Dia mungkin bosan kita hanya bekerja terus.”

“Baiklah, akan aku jadwalkan acara keluarga kita.” Aku tersenyum senang padanya lalu mengecup bibirnya cepat. Yoona membelalakkan matanya, menatapku tak percaya.

“Jangan di sini!” Seru Yoona dengan suaranya yang melengking itu. “Kalau Yoon Ha lihat, bagaimana? Kau berusaha meracuni pikiran anakmu sendiri, hem?”

“Kecantikanmu meluntur kalau marah begini.” Aku mencubit pipinya yang kemerahan gemas. “Lagipula, Yoon Ha sedang sibuk sendiri. Apa salahnya kalau aku mencium bibirmu saja?”

Saja? Oh, yang benar saja, Zhang Yixing. Kalau orang lain yang melihat lebih memalukan lagi.” Yoona memutar bola matanya kesal. Kenapa perempuan ini sungguh menggemaskan?

“Tidak apa, kau ‘kan istriku, yeobo.

“Zhang Yixing! Hentikan!”

 

 

Suara burung yang bersiul-siul merdu membuatku akhirnya membuka mata tanpa menundanya lagi. Pemandangan langit saat suara burung semerdu ini, pastinya terlihat indah.

Matahari memang belum keluar dari tempat persembunyiannya, tapi langit sudah sedikit terang. Pemandangan sebelum matahari terbit seperti ini, apalagi jika dilihat dari balkon rumahku yang memang memliki halaman yang luas, memberi kesan menyejukkan yang tidak pernah aku dapatkan dari tempat lain.

Atau mungkin, ini nama lain dari home sweet home?

Appa! Eomma!”

Teriakan Yoon Ha dari luar pintu kamar membuatku berbalik dan bergegas menghampiri pintu. Meninggalakan Yoona yang masih tertidur pulas sembari memeluk boneka Rillakuma kesukaannya.

“Yoon Ha!”

Aku terlonjak ketika melihat Yoon Ha berdiri di depan pintu kamarku dengan keringat yang bercucuran di dahinya yang lebar.

“Kau kenapa, Jagoan?”

“Yoon Ha mimpi buruk, appa. Aku tidak mau lagi tidur di kamar sendirian.”

Mendengar penuturan Yoon Ha yang begitu terdengar ketakutan, membuatku membawanya dalam gendonganku.

“Yoon Ha mimpi apa?”

Mata kecil Yoon Ha bergerak-gerak gelisah. Jelas ada kekhawatiran di sana. Walau aku masih belum tahu apa yang sebenarnya dikhawatirkan Yoon Ha, yang jelas hal itu pasti bersangkutan denganku ataupun Yoona karena matanya itu kerap memandang kami bergantian.

“Yoon Ha mimpi buruk tentang eomma.

Seorang ayah selalu benar, ‘kan?

“Mimpi buruknya seperti apa?”

Aku membiarkan Yoon Ha berbaring di sebelah Yoona yang sedari tadi masih saja sibuk berkutat dengan alam mimpinya. Entah sampai kapan Yoona akan tetap tidur walaupun suara Yoon Ha menggelegar di dalam kamar kami.

“Tidak,” Yoon Ha menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Menandakan bahwa ia tidak akan bercerita padaku sampai kapan pun. Persis seperti ibunya yang memang keras kepala. “kata halmeoni, kalau mimpi buruk diceritakan, mimpi itu bisa terjadi.”

Halmeoni bilang seperti itu?”

Aku tak tahu harus tertawa atau ikut gelisah seperti yang Yoon Ha sekarang rasakan. Well, ibuku selalu berkata begitu padaku, makanya aku tak pernah bercerita tentang mimpi-mimpiku pada ibu karena beliau meyakini bahwa mimpi akan menjadi kenyataan. Klise.

Appa akan menjaga eomma dengan baik, ‘kan? Yoon Ha takut sekali.”

Aku merengkuh tubuh mungil Yoon Ha dalam dekapanku ketika manik mungilnya itu berair. Seburuk apa mimpinya sampai-sampai ia bisa menangis seperti ini?

“Tentu saja,” aku sendiri mendapati suaraku tersendat. Menahan sesak ketika air mataku mengalir begitu saja melihat Yoon Ha yang makin mengeratkan pelukannya. “Appa berjanji akan menjaga eomma dan Yoon Ha dengan baik.”

Perlahan, senyum di bibir tipis Yoon Ha mulai mengembang. Menampilkan deret giginya yang belum rapih dengan sempurna. Senyumannya yang membentuk eye smile itu membuatku juga otomatis tersenyum membalasnya.

“Sekarang,” mataku mendapati jam dinding di kamarku menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Time flies fast. “Yoon Ha mandi lalu kita sarapan, oke? Yoon Ha tidak mau terlambat datang ke sekolah, ‘kan?”

Anak lelaki yang cukup tinggi untuk ukuran seusianya itu langsung turun dari pelukanku dengan semangat. Kaki kecilnya melangkah menuju kamar mandi dengan riang. Lucu sekali.

Pandanganku beralih pada Yoona yang masih terlelap dengan nyenyak.

“Apa kau sebegini lelahnya, Yoong?”

Aku mengelus puncak kepala Yoona lembut. Merapihkan surai cokelatnya yang terlihat kusut saat sinar matahari menyinari rambutnya.

“Kau,” suara serak –khas bangun tidur milik Yoona masuk ke dalam pengendaranku. Membuatku menarik tanganku cepat. “berlebihan tadi malam.” Bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang manis –benar-benar manis.

Aku mencium bibir pink-nya yang merekah. Bahkan aku masih bisa mencium aroma mint yang menyegarkan.

“Kau yang memintanya!” Seruku tak terima. “Oke, oke… aku yang memintanya. Tapi, sepertinya bisa lebih pelan sedikit.”

“Aku melakukan sesuai apa yang kau mau, Nyonya Zhang.”

Entah kenapa, aku malah menyunggingkan senyum miring padanya. Membuat Yoona membeku beberapa detik. Oh, terpesona rupanya.

“Kalau begitu,” Yoona membawaku ke dalam pelukannya secara tiba-tiba. Benar-benar tidak diduga. Yoona yang penggoda memang menyebalkan. “malam ini kita ulangi lagi?”

“Kau kenapa, sih?” Aku mendorong pelan tubuhnya. Sikap Yoona yang seperti ini bukanlah seperti yang biasanya. “Jangan menggodaku lagi, Yoong. Kau tahu ‘kan apa yang akan terjadi kalau kau memintanya?”

Kuelus wajahnya yang putih mulus bak porselen dengan sentuhan yang paling ‘menggoda’ yang aku bisa. Ini perbuatan paling menjijikan yang pernah aku lakukan, apalagi pada istriku sendiri. Sadarlah, Yixing.

Tahu-tahu, bibir Yoona sudah menyentuh permukaan bibirku yang pucat. Mengalirkan panas tubuhnya yang menyegarkan untuk suhu tubuhku yang begitu dingin.

Appa! Yoon Ha tidak bisa membuka keran airnya!

Ugh, terganggu lagi.

 

 

“Entahlah, sekitar…,” Yoona memijit kepalanya sebentar sembari melihat pemandangan yang ada di luar jendela. “jam tiga sore, mungkin?”

“Jadi kau belum menjadwalkan akan pulang jam berapa?” Aku memandangnya aneh lalu kembali fokus menyetir.

Designer itu bebas.” Lihatlah wajahnya yang sombong itu. Menggelikan. “Aku hanya harus menyelesaikan beberapa gaun yang sudah dipesan, setelah itu aku bisa menjemput Yoon Ha sebelum pulang. Bagaimana?”

“Aku setuju!”

“Kau pulang jam satu siang, Nak. Mana bisa kau menunggu dua jam di sekolah?”

“Yoon Ha mau menunggu dua jam asal eomma yang menjemput.” Pipi tembam Yoon Ha mendapat cubitan gemas dari Yoona. Membuat kulitnya yang berwarna putih itu sedikit memerah.

“Gombal! Yoon Ha sama saja dengan appa.

Like father, like son. Benar, Yoon Ha?”

Right!” Yoon Ha mengacungkan tangannya lalu kami menepukkan tangan kami bersama. Tawa Yoon Ha yang terdegar bahagia begitu menggemaskan.

“Nah, Yoon Ha sudah sampai. Mau diantar oleh eomma sampai kelas?”

Yup!” Anak lelaki itu mengambil tas kecil berwarna biru tuanya dengan semangat membara diikuti Yoona. “Ah, appa bisa menunggu sebentar, tidak?”

Why?” keningku berkerut, memikirkan apa yang akan Yoon Ha lakukan bersama Yoona sampai-sampai aku harus menunggu sedikit lebih lama dari biasanya. Oh, ayolah, meeting pagi ini begitu penting.

Eomma harusnya bertemu dengan Kim sonsaengnim minggu kemarin, tapi Yoon Ha lupa. Kata Kim sonsaengnim, ada yang harus dibicarakan dengan eomma. Atau appa mau ikut juga dengan eomma?

“Ikut? Tidak, terima kasih.” Aku mengelus rambut Yoon Ha yang lembut dan beraroma buah melon. “Yoon Ha tidak tahu mengapa eomma dipanggil oleh Kim sonsaengnim?”

Yoon Ha menggelengkan kepalanya. “Terlalu pintar, mungkin.”

“Yixing! Mengapa anakmu bisa sebegini percaya dirinya? Benar-benar mirip sepertimu!” aku dan Yoona tertawa geli setelah mendengar kalimat Yoon Ha yang begitu penuh percaya dirinya. Anak-anak.

“Ya sudah, ayo kita cepat turun. Appa tidak boleh terlambat datang meeting pagi ini, ‘kan?”

“Benar sekali.” Kudekatkan wajahku pada wajah Yoon Ha dan mengecup pipi Yoon Ha cepat sebelum ia melakukannya. “Eomma juga tidak dicium?”

“Ugh, lebih baik tidak-“

CUP! Belum selesai Yoona melanjutkan kalimatnya, aku sudah terlebih dahulu mengecup pipinya, sama seperti apa yang sudah aku lakukan pada Yoon Ha.

YA!” Lengan kurus Yoona memukul tanganku kuat-kuat –aku yakin pasti akan memerah nanti. “Jangan lakukan itu di depan Yoon Ha!”

“Dia sendiri yang memintanya, chagi.

“Yoon Ha sayang,” Yoona mengelus lembut pipi Yoon Ha. Membuat anak itu menjauhkan kepalanya geli. “jangan meminta hal seperti itu lagi pada appa, okay?”

“Siap, eomma!”

“Sekarang, kita harus benar-benar turun, Yoon Ha. Appa bisa diamuk massa jika terlambat datang.” Yoona membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan anak semata-wayangnya untuk turun terlebih dahulu.

“Mana ada direktur yang bisa di-“

“Sudah diam!” Yoona menatapku galak padahal ia tak bisa marah sekalipun dalam hidupnya bersamaku.

“Hati-hati menyebrangnya!”

Aku berteriak keras sebelum Yoona menutup pintu mobil dan melambaikan tangannya bersama Yoon Ha. Setelah aku membalas lambaian tangan mereka, mereka berbalik hendak menyebrang.

Yoon Ha menggenggam tangan Yoona erat sekali, seakan tidak mau melepaskan tangan ibunya barang sedetik. “Dasar menggemaskan.” Ucapku pada diriku sendiri.

Aku membulatkan mata saat Yoon Ha berjalan mendahului Yoona. Membawa badan mungilnya dan Yoona menuju tengah jalan tanpa aba-aba dari Yoona. Istriku itu segera berlari mengejar Yoon Ha yang sedang berlari tanpa ampun.

“Yoon Ha!” bodoh. Teriakanku tak akan terdengar walaupun aku berteriak sekencang apapun. Dengan segera, aku berusaha membuka kunci seat belt-ku untuk mengejar Yoon Ha dan Yoona.

BRUM!

Aku menoleh dan mendapati sebuah mobil sedan hitam sedang mengemudikan mobilnya kencang-kencang mendekati Yoona yang sedang berlari mengejar Yoon Ha. TIDAK!

“YOONA!!”

 

Hai!

Siapa yang masih inget sama ini? Duh, teaser-nya udah lama banget keluar tapi part 1-nya lama banget ya -__- Semoga suka yaaa

Papoi!❤

20 thoughts on “Memories [PART 1]

  1. Marriage-Life aku suka~ YoonHa itu boy ya? Aku kira dia girl ._. Mimpinya YoonHa apa? Apa kejadian buruk itu? Next juseyo🙂

  2. Kkyyyaaa!!! Apakah mimpinya Yoon Ha itu jd kenyataan ya? Menurut perkiraan ku sih YoonA yang kena tabrak lgpula ngapain sih mobilnya itu nabrak? #emosi_nih_ceritanya
    Keep writing ya Thor cepet2 dilanjut ffnya kalau nggak nnti banyak readers yang lupa ama ceritanya T^T kan sayang..

  3. Aigoo, critanya neomu Daebak!
    Aku ud lama thor, nunggu part 1 nya saat teasernya kluar..
    Mwo? YOONA knp?
    Bru sja Yoon Ha mimpi bruk tntg Yoona, eh mlah ud trjd.
    Aku suka karakter Lay d’sini🙂

    chap 2 nya d’tnggu yah😉
    fighting!
    Keep writting Thor!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s