Fever

star9-001002

FEVER

by cloverqua | main casts Park Chanyeol – Im Yoona

genre Fluff – Romance | rating PG 17 | length Ficlet

disclaimer This fanfiction is purely my own. Cast belong’s God. I just borrowed the names of characters and places. Don’t plagiat this FF! Please keep RCL!

Happy reading | Hope you like it

2015©cloverqua

[A/N : Foto di atas hanya untuk memberi gambaran cerita ini😀 ]

 

Jari-jemari Yoona bergerak lincah menekan tombol kode pintu apartemen. Setelah terdengar suara, ia segera membuka pintu dan bergegas masuk ke dalam apartemen tersebut. Kini ia tengah mencari keberadaan sang penghuni kamar apartemen. Kerutan di dahi wanita itu sedikit terlihat, ketika ia menyadari suasana apartemen terasa sunyi dan sepi.

“Chanyeol?” Entah sudah berapa kali Yoona memanggil sang kekasih, namun tak kunjung mendapatkan respon. Kecemasan seketika melanda diri Yoona, mengingat ia baru saja menerima kabar dari Minseok—teman Chanyeol, jika kekasihnya itu pulang bekerja lebih awal karena merasa tidak enak badan.

“Di sini . . .” Tiba-tiba terdengar suara serak dari arah kamar tidur. Secepat kilat Yoona mendekati sumber suara. Ia tercengang setelah mendapati Chanyeol terbaring lemas di ranjang. Wajah pria itu dipenuhi keringat. Nafasnya pun tak beraturan, seiring tubuhnya yang terus menggigil.

Yoona berlari mendekati ranjang Chanyeol untuk memeriksa kondisinya. Ia duduk di sebelah tepi ranjang—tepat di sebelah Chanyeol. Kondisi kekasihnya itu membuat Yoona semakin cemas. Apalagi Chanyeol sampai tidak kuat untuk membuka matanya karena terlalu lemas dan tidak bertenaga.

“Astaga, demammu tinggi sekali,” ucap Yoona panik setelah merasakan hawa panas dari kening Chanyeol. Ia menarik selimut agar tidak terlalu menutupi tubuh Chanyeol. Tindakan ini bisa membantu menguapkan udara panas pada tubuhnya.

Yoona pergi ke dapur untuk mengambil air dan handuk kecil. Ia bermaksud membuat kompres untuk Chanyeol. Ia juga mengambil madu dan obat penurun demam. Awalnya Yoona berpikir hanya memberikan madu untuk menurunkan demam Chanyeol. Jika tidak berhasil, barulah ia menggunakan obat penurun demam sebagai alternatif lain.

Dengan cekatan, Yoona segera memberikan perawatan untuk Chanyeol. Ia memasukkan handuk ke dalam baskom berisi air, kemudian meletakkannya di atas kening Chanyeol. Sesekali Yoona mengamati raut wajah Chanyeol yang masih terbaring di ranjang. Bibir pria itu bergetar hebat, sama halnya dengan tubuhnya yang terus menggigil.

Yoona beralih pada madu yang sudah dibawanya dalam mangkuk kecil. Ia akan menyuapkan madu itu untuk Chanyeol.

“Minum madu ini perlahan-lahan,” ucap Yoona dengan penuh perhatian menyuapkan madu ke mulut Chanyeol. Ia tahu jika Chanyeol masih memiliki kesadaran, meski tengah terbaring di ranjang dalam kondisi lemas. Oleh karenanya, Chanyeol harus segera meminum madu tersebut agar lebih mudah menurunkan demamnya.

Selesai menyuapkan madu, Yoona berulang kali mengganti kompres di kening Chanyeol. Ia terus menunggu di samping ranjang Chanyeol, sampai pria itu tertidur.

“Sekarang aku harus membuat bubur untuknya. Begitu Chanyeol bangun, dia harus makan agar kondisinya lekas pulih,” gumam Yoona. Ia bangkit dari posisinya, kemudian merapikan mangkuk yang digunakannya untuk membawa madu, serta beberapa peralatan lain.

Selanjutnya Yoona terlihat sibuk di dapur, memasak bubur untuk Chanyeol. Bubur memang menjadi makanan wajib dikonsumsi oleh orang yang sakit. Kebiasaan seperti ini sering Yoona lakukan setiap kali Chanyeol jatuh sakit. Terkadang Yoona merasa gemas dengan kebiasaan Chanyeol yang kerap kali mengabaikan kesehatan, lantaran terlalu sibuk bekerja.

Chanyeol memang beruntung memiliki kekasih seperti Yoona. Tidak hanya paras cantik dan kepribadian yang baik, Yoona sangat cekatan dalam memasak dan perhatian terhadapnya, apalagi jika ia jatuh sakit. Banyak orang yang sangat iri terhadap Chanyeol, termasuk teman Chanyeol sendiri. Mereka menilai, Yoona adalah istri idaman bagi semua pria.

Hampir 1 jam Yoona menghabiskan waktunya di dapur. Kini bubur untuk Chanyeol telah siap untuk disajikan. Wanita itu tengah sibuk menuangkan bubur ke dalam mangkok. Kemudian dengan menggunakan nampan, ia membawa bubur itu ke kamar Chanyeol. Pria itu masih tertidur dan Yoona enggan untuk membangunkannya.

Yoona meletakkan nampan yang dibawanya ke atas meja kecil di sebelah ranjang Chanyeol. Wanita itu kembali memeriksa suhu tubuh Chanyeol. Ia mengambil kompres lalu meletakkan tangannya di atas kening Chanyeol. Yoona kemudian memeriksa suhu tubuh Chanyeol dengan termometer yang sudah diambilnya dari kotak obat. Hanya untuk memastikan jika demam Chanyeol memang sudah turun.

“37,5 derajat. Syukurlah demamnya sudah turun,” ujar Yoona senang. Ia pun membelai kepala Chanyeol dengan lembut. Tidak lupa ia juga mengecup kening pria itu.

Tanpa sengaja, apa yang baru saja dilakukan Yoona membuat Chanyeol terbangun. Kini keduanya saling bertatapan satu sama lain. Yoona tampak kikuk dan merasa malu dengan apa yang dilakukannya.

“Kau sudah bangun?” tanya Yoona. Raut kaget, malu dan senang bercampur menjadi satu di wajah Yoona.

Chanyeol mengangguk dan tersenyum, “Lakukan lagi.”

“Apa?” Yoona mengernyitkan dahinya karena tidak mengerti dengan permintaan Chanyeol.

“Mencium keningku. Lakukan lagi,” pinta Chanyeol sambil tersenyum lebar.

Mata Yoona membulat sempurna, “Sejak tadi kau sudah sadar?” tanyanya kaget. Chanyeol hanya terkekeh menanggapi reaksi kagetnya itu.

“Aish, dalam kondisi sakitpun kau masih sempat menggodaku. Dasar,” umpat Yoona kesal.

“Kau tidak boleh marah-marah pada pasien. Jika semakin parah bagaimana?” Chanyeol justru semakin senang menggoda kekasihnya. Ia selalu sukses membuat wajah Yoona merah padam dalam situasi apapun. Ini memang sudah menjadi hobi Chanyeol yang tidak boleh dilewatkannya.

Arraseo. Sekarang waktunya pasien untuk makan,” Yoona duduk di tepi ranjang Chanyeol. Tangannya mengambil mangkok berisi bubur yang sudah dimasaknya. Aroma bubur itu membuatnya nafsu makan Chanyeol yang sempat hilang kembali muncul.

“Suapi aku,” pinta Chanyeol. Ssepertinya Chanyeol tak ingin melewatkan kesempatan untuk bermanja ria dengan Yoona. Apalagi ketika ia jatuh sakit seperti ini.

Yoona memejamkan matanya sejenak, karena tidak sanggup melihat ekspresi wajah Chanyeol yang menggemaskan. Sekarang Chanyeol benar-benar persis seperti anak kecil dengan sifat manjanya.

“Kau benar-benar memanfaatkan kesempatan untuk bermanja denganku, Tuan Park,” cibir Yoona. Pada akhirnya ia memang tidak bisa menolak permintaan Chanyeol.

Chanyeol tersenyum puas saat Yoona menyuapi bubur untuknya. Baginya, tak ada obat yang lebih manjur selain perhatian yang diberikan Yoona. Separah apapun rasa sakit yang dideranya, jika hanya ada Yoona di sisinya, rasa sakit itu akan langsung hilang seketika.

“Malam ini kau menginap, ne?

Bibir Yoona melengkung saat mendengar Chanyeol kembali mengucapkan permintaanya. Wanita itu hanya mengangguk, menyanggupi kemauan Chanyeol yang begitu ingin agar ia menginap di apartemennya.

Setelah Chanyeol menghabiskan bubur, Yoona kembali ke dapur dan membereskan semua peralatan masak dan makan yang tampak kotor. Untung saja sebelum Yoona datang ke tempat Chanyeol, ia sudah makan sebelum jam makan malam. Kini ia bisa lebih fokus untuk merawat Chanyeol.

“Naiklah . . .” Yoona terkesiap saat ia kembali ke kamar Chanyeol. Kekasihnya itu tiba-tiba menyuruhnya untuk naik ke ranjang. Chanyeol bahkan dengan sengaja menggeser tubuhnya dan menyisakan ruang untuk Yoona di sebelahnya.

“Aku bisa tidur di sofa,” ucap Yoona sambil menunjuk sofa di kamar Chanyeol.

“Bagaimana bisa aku membiarkan kekasihku tidur di sofa? Sudahlah, ayo naik,” titah Chanyeol tak sabar.

Yoona menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Ia tak punya alasan lain untuk menolak perintah Chanyeol. Ia segera menempatkan posisinya di sebelah Chanyeol. Sesaat tangannya menyentuh kening pria itu untuk memeriksa kembali kondisinya.

“Demamku sudah turun,” ucap Chanyeol meyakinkan Yoona.

“Memang sudah turun. Tapi suhu tubuhmu masih hangat,” balas Yoona.

Chanyeol terkekeh pelan. Kemudian ia meluruskan tangan kirinya ke arah Yoona.

“Letakkan kepalamu di atas lenganku ini,” Chanyeol menepukkan tangan kanan pada lengan kirinya. Senyum Yoona kian mengembang akibat ulah Chanyeol itu.

Chanyeol menarik selimut agar menutupi tubuh Yoona. Kini tangan kiri Chanyeol sudah melingkar pada tengkuk Yoona. Tangannya lalu memperlihatkan gesture untuk membuat tubuh Yoona menghadap ke arahnya. Tanpa diperintah Chanyeol, kedua tangan Yoona secara refleks langsung memeluk tubuh Chanyeol.

“Kau ingin aku melakukan ini ‘kan?” tebak Yoona sambil melirik Chanyeol yang sedari tadi terus tersenyum.

Ne, pintar sekali. Kau sudah melakukannya sebelum aku memintanya,” jawab Chanyeol.

“Dasar . . .” cibir Yoona gemas.

Chanyeol semakin mengeratkan pelukannya pada Yoona, “Aku tidak butuh obat untuk menyembuhkan penyakitku. Cukup dengan kau berada di sisiku seperti ini, akan lebih cepat bagiku untuk mengobati penyakitku.”

Ne, arraseo. Sudah berapa kali kau mengatakannya setiap kali jatuh sakit, Park Chanyeol?” balas Yoona sambil menggelitiki bidang dada Chanyeol. Pria itu tertawa kegelian akibat ulahnya.

Chanyeol pun membalas perlakuan Yoona. Ia abaikan kondisinya yang masih lemas hanya untuk menikmati kebersamaannya dengan wanita yang dicintainya. Begitu pun juga dengan Yoona. Kebiasaan manja Chanyeol setiap kali jatuh sakit sama sekali tidak menyulitkannya. Ia justru senang menuruti permintaan Chanyeol ketika merawat pria itu. Apapun akan dilakukan Yoona untuk pria yang dicintainya.

Ketika mengalami demam seperti ini, Chanyeol selalu meminta Yoona untuk tidur di sampingnya. Ia bahkan memeluk Yoona dengan sangat erat, karena ia menganggap Yoona adalah obat terbaik untuk menurunkan demamnya.

-THE END-

A/N : Kembali lagi dengan cerita singkat yang ditulis dalam waktu singkat pula *author mulai ngaco* ^^’

Haha, maaf kalau ceritanya absurd. Ide cerita ini muncul begitu saja ketika nggak sengaja inget adegan dari drakor You Who Came from The Star, di mana pas Do Min Joon demam dan lagi dirawat sama Chun Song Yi 😄

Mungkin ada yang sudah baca FF ini, karena sebelumnya aku publish di blog pribadi. Tadinya mau aku publish bersamaan tapi aku malah kelupaan (maaf hehe).

Jangan lupa kunjungi blogku yang baru di FICTION 92 . Terima kasih sudah membaca😉❤

30 thoughts on “Fever

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s