(Freelance) Oneshot : A Reality

a reality

A Reality

Author

Sopia Miranda

Cast

Im Yoon Ah | Jessica Jung | Kim Jongdae |

Kim Junmyeon | Zhang Yixing

Genre | Rating

Sad, Angst | PG-13

Lenght

Oneshoot ( 1889)

 

Musim gugur telah kembali menjatuhkan daun-daun disepanjang jalan. Ia benci musim gugur dan ia sangat ingin pergi dari negara yang mempunyai empat musim dalam satu tahun. Ia ingin pergi meninggalkan kenangan pahitnya tapi tidak bisa. Karena apapun yang terjadi dia harus menghadapi itu semua, sanggup tak sanggup. Siap tak siap. Dan ia tak bisa berkata apa-apa lagi.

 

“ Ini sudah tiga bulan dan kapan kau akan siap bertemu dengannya!?” teriak Jessica.

 

Yoona tersenyum getir dan melambaikan tangannya tanda ia baik-baik saja walaupun sebenarnya hati hancur tanpa sisa dan egonya terlalu tinggi untuk mengalah pada waktu dan nasib hidupnya.

 

“ Yoona, kau harusnya tau, seberapa kerasnya manusia menghindar hari-hari yang dilewatkan akan semakin buruk. Tak ada yang sempurna dan tanpa sadar kau memperlihatkan ketidaksempurnaan mu pada dunia,” ucap Jessica dengan menggenggam erat tangan gadis itu.

 

Mata Yoona mendadak berkunang dan badannya terasa sangat ringan hari ini. Demi Tuhan ia tak mau pingsan atau sejenisnya yang merepotkan karena melupakan makan paginya, baginya hari ini perutnya terasa penuh seperti sudah diisi,padahal tidak.

 

“ Kau mendengarkan ku, Yoona?”

 

“ Aku terlalu mendengarkanmu hingga rasanya tak ada lagi matahari terbit besok,” Yoona menatap dalam sahabatnya tersebut. Ia melanjutkan, “ Aku pergi dulu.”

 

~~

 

Matanya memandang kosong ke arah bangunan tua di hadapannya, tidak ada yang menarik hanya saja terlalu menyimpan luka dan duka yang tak bisa dijabarkan olehnya. Terlalu sakit untuk diceritakan tapi terlalu pedih untuk ditutupi.

 

Aku baik-baik saja.

 

Ia berjalan pelan ke arah bangunan itu tanpa tahu seseorang memperhatikannya dengan tatapan merindu, ia terlalu tidak peka untuk daerah sekitarnya untuk saat ini.
“ Yoona?”

 

Hatinya Yoona berdenyut ketika mendengar suara itu, kenapa harus dia? “ Ah, Minseok. Apa kabar?” tanyanya dengan senyum paksanya yang terlihat mengerikan untuk orang itu.

 

Minseok hanya tersenyum tipis sedikit berharap senyum itu akan menyebar ke wajah gadis tersebut, tapi tidak. “ Seperti yang kau lihat. Kupikir kau tidak baik—“

“ Aku tak mau membahas itu sekarang. Maaf aku harus pergi,” Yoona dengan cepat pergi dari hadapan Minseok tanpa rasa hormatnya pada tak pernah diajarkan sopan santun.

 

Ia kemudian menatap kebelakang dengan penuh luka dan ia sadar jika orang yang ditatap juga menatapnya dengan cara yang sama tapi dibumbuhi dengan rasa penyesalan dan kepasrahan.

 

“ Padahal aku selalu mengajarkanmu untuk selalu sopan pada semua orang, meskipun kau akrab dengan orang itu”

 

Angin menerpa wajah pucat Yoona membuat ia seperti mayat hidup yang berjalan di tengah-tengah lautan manusia yang sibuk dengan urusan mereka sendiri. Ia tak perduli.

 

Drrt..drrt..

 

“ Hallo?”
Tak ada suara lain selain suara angin membuat Yoona merasa jengkel sendiri, ia menatap nomor tak dikenal itu dengan mata tajamnya. Tak adakah yang bisa mengerti dirinya?

“ Kalau tidak berbicara le—“

“ Aku merindukanmu,”

 

Oh kumohon, jangan lagi. Hati Yoona berjengit ketika mendengar suara yang terdengar begitu halus untuknya. Bahkan mereka baru bertemu beberapa menit yang lalu—walau tak menapik bahwa ia juga merindukannya.

 

“ Tak bisakah kita sudahi semua ini? Tidakkah kau lelah? Aku lelah,”

 

Yoona mencoba mengeratkan pegangan teleponnya mencoba untuk tidak bergetar atau apapun yang membuatnya terlihat aneh dan lemah di hadapan banyak orang. Gadis itu mencoba menggerakkan mulutnya agar bersuara tetapi ia mendadak bisu.

 

“ Kau masih disana?”

 

“ hmm,”

Ia dapat mendengar helaan napas lelah disebrang telepon tersebut, ia juga sama lelahnya tapi ia lebih memilih untuk egois dan mencoba bertahan.

 

“ Kita harus bertemu,”

 

“ Tidakkah kau sadar? Aku tak bisa dan aku tak mau! Terlalu banyak hal aneh di hidupku seolah-olah aku adalah seorang artis yang sedang bermain drama picisan menjijikan saat ini. Tidakkah kau sadari bahwa waktu seperti mempermainkan kita?” bibirnya bergetar dan ia mencoba mengendalikan air matanya yang siap untuk tumpah kapan saja.

 

Tolong katakan padaku, bahwa kita akan baik-baik saja.

 

“ Kau harus mengunjunginya, Yoona”

“ Kau tidak merasa sakit?”

“ Sedikit, tapi bukankah kenyataan harus dihadapi? Hidup terus berjalan tinggal memilih untuk terus ditempat, berlari atau berjalan tanpa beban”

 

 

~~

 

“ Kau sudah memutuskannya?”

 

Yoona menggeleng lemah dan menatap kopi nya yang bergambar daun semanggi berjari tiga. Hatinya teriris ketika mengingat itu semua, betapa sukanya orang itu pada gambar daun semanggi. Tak ada gambar lain yang ia gambar di dalam kopi seakan ia buta seni.

 

“ Kau sudah bertemu Minseok?” tanya Jessica.

 

Ia mengangguk dan menatap ke depan dengan mata yang menerawang jauh, “ Tapi aku belum berbicara banyak padanya”

Jessica mengernyitkan dahinya ketika mendengar itu, “ Kenapa?”

 

“ Karena dia mengetahui yang semua orang tidak tahu tentang aku dan orang itu.”
“ Lalu kau sudah bertemu dengan—“
Yoona memotong perkataan Jessica dengan lemahnya, entahlah hari ini ia mendadak pusing kembali. “ Hanya berbicara lewat telepon saja, tapi membuatku begitu lelah”

 

Jessica menghela napasnya sejenak dan menepuk pundak sahabatnya dengan pelan, “ Apa yang kau takutkan sebenarnya?”

“ Sebuah kenyataan.”

 

“ Kenapa kau masih disini?”

 

Yoona mendongak dan mendapati Minseok menatapnya dengan tatapan kesalnya. “ Ia sudah memberitahuku jika ia sudah ikhlas dengan segalanya. Tapi kini kaulah yang selalu di tempat. Kau tahu? Cerita ini sungguh bertele-tele membuatku muak. Cepat akhiri Yoona!”
“ Terkadang aku menyesal karena kau menyaksikan semua itu dengan kepala mu,” desah gadis itu pelan. Ia melanjutkan, “ aku seperti pencuri yang selalu mematai saksi mata, walau sudah berjanji tapi tetap saja aku tak bisa melupakan begitu saja.”

 

“ Cepat akhiri sebelum kau sendiri yang menyesal, Yoona. Kesempatan tak akan pernah datang dua kali, sekarang atau tidak sama sekali.”

“ Cepatlah Yoong, kenapa kau lelet sekali!?”

Yoona menggerutu kesal dan membuatnya menendang pantat orang di depannya dengan kasar, “ kenapa tak sabaran sekali sih?”

 

Ia tersenyum manis sekali seolah gula-gula berada disekitarnya, “ Sekarang atau tidak sama sekali.”

 

Oh sial, kepalanya sakit sekali sekarang. Kata-kata minseok membuat ia kembali mengingat kata-kata Zhang Yixing—Kakaknya—.

 

Sekarang atau tidak sama sekali.

 

 

“ Kau tidak apa?” Jessica menatap khawatir terhadap Yoona yang kini tengah memegang kepalanya yang terasa berdenyut.

 

“ Aku akan mengakhiri dengan cara ku sendiri”

 

~~

Junmyeon tidak menyangka bahwa keadaan gadis itu lebih buruk saat beberapa hari lalu ia menemukan gadis itu berbicara tanpa minak pada Minseok dan saat ia menelpon gadis itu. Ini jauh dari yang ia inginkan. Gadis itu terlalu menderita di usia mudanya membuatnya kini prihatin.

 

Bagaimanapun gadis ini pernah—tetap—mengisi hatinya, meski kenyataan pahit menamparnya.

 

“ Sebaiknya kau pulang, keadaanmu seperti mendekati gila saat ini.”

 

“ Aku ingin menyelesaikan sekarang saja,” ucap Yoona pelan. Ia menatap Junmyeon dalam ia merasa bodoh telah membuat Lelaki ini terluka hatinya, “ Sejak kapan kau tahu?”

“ Well, tidak lama. Saat kau tengah dipeluk olehnya di ruang lukis dan—“

 

“ Kau melihatnya menciumku?”

Junmyeon mengangguk membuat perasaan bersalah kembali datang, “ Kenapa kau diam saja dan tak memutuskan ku? Aku seperti gadis brengsek karena mempermainkan hati tulusmu,” ucap Yoona pelan.

 

“ Karena aku terlalu mencintaimu,” jelasnya tegas, “ dan kini aku melepasmu, karena aku tahu satu hal yang pasti. Kau tidak ditakdirkan untukku, sesederhana itu.”

 

“ Dan aku tak ditakdirkan bersamanya juga berdosa pada Tuhan.”

 

Junmyeon memegang tangan dingin itu dan menatap wajah kusut Yoona ia ingin menangis saja jika seperti ini, wajah Yoona tidak lagi wajah yang baby face tapi kini terlihat menua sebelum waktunya.

 

“ Mungkin sudah banyak yang mengatakannya dan aku ingin mengatakannya juga padamu. Temui dia,” ucap Junmyeon lirih, “ apapun yang kau bayangkan itu hanya akan memperburuk suasana. Setidaknya beri dia apa yang ia inginkan jika ia tak mampu membuka matanya kembali.”

 

Dia tak boleh pergi, karena itu aku tak ingin menemuinya.

 

~~

 

Orang tuanya menatapnya terkejut ketika ia datang karena Yoona hanya datang satu kali kerumah sakit ini lebih tepatnya tiga bulan yang lalu. digenggamnya terdapat bunga lily kesukaannya, membuatnya hanya dapat merematkan bunga itu seolah mencoba meminta kekuatan disaat kakinya yang seperti jelly.

 

“ Kau datang, sayang?” suara Ibunya ia abaikan begitu saja ketika melihat Yixing terbaring tak sadar kan diri.

 

“ Aku butuh privasi, tolong.”

 

Orang tuanya pergi dan memberikan anaknya kesempatan bicara, tanpa disadari olehnya air mata Ibunya jatuh begitu saja melihat Yoona mau menemui Kakaknya yang sudah diujung maut.

 

“ Badanmu semakin kurus saja ayo bangun aku akan memberikan mu makan banyak,” ia benci menangis maka ia mencoba sekuat tenaganya untuk tak menangis.

 

“ Saat orang-orang mengatakan padaku jika kau tak bisa bertahan lebih dari dua puluh empat jam membuat tulang ku seperti menghilang. Tapi aku tahu kau menunggu untuk mengatakan sesuatu padamu maka itu aku tidak ingin datang padamu.”

 

“ Karena aku ingin kau bertahan lama.”

Tak bisakah kau tidak meninggalkanku? Aku kesepian.

 

Yoona menghela napasnya pelan dan melanjutkan, “ selama ini aku berpikir apa yang harus ku katakan padamu. Apa yang ingin kau dengar dari ku dan mati-matian bertahan hidup untuk mendengar suaraku. Tolong katakan, apa yang ingin kau dengar!”

 

Bahunya terguncang pelan dan air matanya menetes tanpa bisa berhenti, ia benci menjadi lemah tapi ia tak bisa mementingkan egonya untuk saat ini.

 

“ Selama aku berpikir dalam tiga bulan ini aku menyadari kita terlalu dekat untuk dikatakan Kakak-Adik, aku bahkan terlalu sadar jika aku lebih mementingkan Kakak ku dibandingkan kekasihku. Aku bahkan lebih menerima ciuman mu disaat aku mati-matian agar Junmyeon tidak menciumku,” Yoona menatap air mata yang kini jatuh dalam diam di mata Yixing. Ia melanjutkan, “ Aku tak bisa berkata apa-apa. Aku bukan Tuhan yang mengulur sesuatu yang seharusnya pergi. Jadi sebelum terlambat aku ingin menjawab pernyataan mu saat itu.”

 

“ Junmyeon marah padaku karena lebih memilih untuk makan malam bersama mu dibandingkan dengannya, tidakkah dia terlalu kekanakan?”

“ Putuskan saja dia dan jadi pacarku!”

“ Jangan bercanda, aku sedang kesal, Yixing gila!”

 

“ Hei, aku lebih tua dari mu, rusa. Sudahlah jadi pacarku ya? Mau ya,ya,ya?”

 

“ Aku berpikir-pikir dulu ya, habisnya kau menyebalkan sih. Haha”

 

“ Bahkan sampai menuju kematian pun aku akan tetap bertahan untuk menunggu jawabanmu.”

 

Yoona mengusap air matanya dan menggenggam erat tangan Kakaknya yang mulai mendingin,” Aku mencintai mu, Yixing. Kau selalu berkali-kali mengatakan itu tapi aku tak pernah membalasnya. Karena aku ragu, tapi sekarang aku sadar bahwa yang kucintai hanya dirimu. Tak ada yang lain.”

 

Ia perlahan menunduk dan mencium tepat di bibir Lelaki itu dan walaupun samar entah kenapa ia merasakan bahwa Lelaki itu membalasnya pelan. Apakah ia bermimpi? Sepertinya memang mimpi karena saat itu ia mendengar bunyi lurus dari monitor tersebut membuat tangis pecah.

 

Dengan sekuat tenaga yang meredam isakannya dan membisikan kata-kata untuk terakhir kalinya. “ Aku mencintaimu, sesederhana itu.”

 

 

End

 

Epilog

 

“ Yoona apa yang kau lakukan!!?”

“ Kim Minseok!”

Yoona berlari mengejar sahabatnya yang kini telah masuk kedalam lift, semuanya hancur sahabatnya mengetahui jika ia hampir bercinta dengan Kakaknya sendiri. Ia menatap Yixing yang menyenderkan badannya di pintu apartement mereka.

 

“ Apa yang kau takutkan?” bisikan lirih itu membuat Yoona tenang untuk sesaat.

 

“ Sebuah kenyataan.”

~~

“ Apa-apaan kalian!! Ya Tuhan, apa aku salah mendidik anak sampai mereka berciuman seperti itu!?”

“ Ibu, aku mencintai Yoona!”

“ Dia Adikmu, kau gila!! Pergilah jauh-jauh dari sini kalian tak akan Ibu satukan mulai saat ini”

Yoona memegang tangan Ayahnya yang hanya diam dengan tangan terkepal, “ Ayah jangan lakukan ini! Biarkan tetap seperti ini, kumohon.”

 

“ Yixing kemasi barang-barangmu dan kau akan kembali ke China tempat lahirmu.”

“ Kalian tak bermaksud menelantarkan ku, kan!?”

“ Ini demi kebaikan kalian berdua.”

 

~~

 

“ Apakah ini keluarga dari Tuan Yixing?”

“ Benar saya Adiknya, ada apa ya?”

“ Tuan Yixing mengalami tabrakan dan membuatnya kritis nyaris kehilangan nyawa. Bisakah anda datang kerumah sakit?”

 

“ A-aapaa!!?”

 

**

 

Drama sekali ya? Ini pertama dan terakhir kalinya saya buat fanfiction seperti ini. ngomong-ngomong ini oneshoot terpanjang saya. Saya berharap anda tidak bosan hehe. Love ya❤

Btw, Mr. Kim series tinggal tunggu waktu aja, lagi gak mod buat poster soalnya.

23 thoughts on “(Freelance) Oneshot : A Reality

  1. Nyesekk bcany..
    Awalny sih smpet bngung..tpi udh bca dngn tliti tau deh mksudny..
    Jdi mreka saudara y?tpi sling ska kn??
    Wuahhh rbet jga y klo kyk gtu..
    Gmnapun ff ny daebak

  2. Huraa sad ending.. Yeayy ..🙂😉
    Jdi hubungan trlarang itu tak mngkin terjalin kan ?? hhahaha. dtunggu krya slnjutnya thor !!

  3. Uwah.. Yixing meninggal?😥
    thor, buat aku patah hati deh..
    Aigoo Yoona ma Lay npa pke adik-kakak/saudara sgala sih😦😥
    akhrnya nyesek jg tp emang sih YoonLay gak bsa brsama..
    Nice.. Good. Feelnya dapet, walau awalnya rada bingung hbs ad nama jongdae tp ia gk n0ngol pdhl bnar it typo🙂
    n sequel dri series Mr. Kim nya d’tnggu

  4. Sad ending. ?0mo yo0nlay kakak adik? Suka walau sad tpi te2p kece ditnggu karya kamu yg lain keep writing. .walau j0ngdae diganti minseok typo kali ya tp te2p suka

  5. kirain minseok… terus aku ga kpikiran bahwa lay jadi PU nya.. aku juga bingung kok ada kim jongdae? haha mungkin typo tapi keren kok fanfictnya.. sukses bikin aku bingung.. ditunggu karya lainnya,, fighting!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s