(Freelance) Ficlet : Fault

poster fault

Author: Catur Anggraheni

Length: Ficlet

Rating: G

Genre: School-Life

Main Cast: Im Yoon Ah, Kim Suho

Disclaimer : thanks for readdd J. Btw aku bingung ini ficlet atau apa?/

.

.

.

Sekilas tak ada yang istimewa dari anak laki laki yang duduk di paling ujung kelas tersebut. Semenjak Yoona pindah ke SMA Kirin ia tak pernah sekalipun berkomunikasi dengan laki laki yang dipanggil Huang Zi Tao tersebut. Kata mereka –teman teman baru Yoona, laki laki itu orang China yang diasingkan ke Korea. Yoona hanya terdiam ketika mendengarnya. Bingung mau prihatin atau malah ikut-ikutan membencinya seperti anak anak yang lain.

Ya. Laki laki itu dibenci.

Yoona juga tak tahu alasannya apa. Setiap kali Yoona bertanya, ia akan selalu mendapatkan pengalihan topik yang sepertinya sudah direncanakan teman temannya.

“Sudahlah, kau akan menyesal jika dekat dengannya”

“Lebih baik jauhi dia”

“Dia itu tak pantas berada disini”

Kira kira ucapan seperti itulah yang teman temannya bilang.

Laki laki itu juga bukan tipe orang yang rendah hati sih, jalannya membusung, tatapannya tajam, dan ia suka melirik orang dengan tatapan merendahkan.

Yoona sangat penasaran, rasa itulah yang membawa langkah kakinya ke sebuah Guest House yang terletak tak jauh dari sekolah. Tempat tinggal Hung Zi Tao. Ia juga tak tahu apa yang ia lakukan disini. Yah, sepertinya menanyakan beberapa pertanyaan juga oke oke saja. Lagipula ia juga punya alasan yang kuat. Huang Zi Tao meninggalkan bukunya di perpustakaan tadi. Dan, Yoona dengan niat tulus ingin mengembalikannya. Yah, tidak begitu tulus juga sih. Biar bagaimanapun ia kesini dengan maksud lain.

Perpustakaan adalah tempat kedua yang sering Huang Zi Tao kunjungi selain kelasnya sendiri. Sama seperti Yoona. Kalau dipikir pikir laki laki itu punya cukup banyak kesamaan seperti Yoona. Mereka sama sama tidak mudah bergaul –kalau Yoona karena sesuatu, tapi kalau laki laki itu Yoona tak yakin. Ia sudah cukup lama bersekolah disini. Harusnya ia memiliki waktu untuk mendapatkan teman saat ini. Tapi dari pengamatan Yoona, laki laki itu tak pernah berbicara dengan teman sekelasnya, tidak juga anak dari kelas lain. Laki laki itu misterius. Ia hanya berbicara ketika ditanyai guru. Itu saja. Tak lebih.

Laki laki itu menutup pintu dengan asal. Sedikit membanting. Yoona agak takut ketika laki laki itu melakukan hal tersebut. Tapi, ia tak beranjak dari tempatnya. Di rapatkannnya blazer berwarna soft pink yang menutupi sebagian tubuhnya. Udara sehabis hujan yang semakin dingin menusuk kulitnya. Tapi rasa penasaran kali ini lebih memimpin.

Dengan langkah terseret Yoona melangkahkan kakinya ke depan pintu bercat putih tersebut. Dipeluknya erat erat buku milik Huang Zi Tao.

Tok tok tok

Genggaman tangannya dengan pelan mengetuk pintu tersebut. Dan tak ada respon. Apakah tidak ada orang di dalam rumah? Tapi, hei! Ia bersumpah ia melihat Tao masuk. Apa jangan jangan yang ia lihat tadi itu bukan Tao? Bulunya merinding ketika mengingat hal tersebut. Baru saja ia mau meninggalkan rumah tersebut ketika pintu itu terbuka. Yoona terkesiap dan segera membalikkan badan.

Namun beberapa detik kemudian perempuan berambut hitam itu segera menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

Laki laki itu. Huang Zi Tao. Membukakan pintu untuk Yoona. Dengan keadaan setelang telanjang.

Ia hanya mengenakan handuk berwarna putih. Tangannya ia silangkan di depan dada. Laki laki itu baru selesai mandi? Di cuaca sedingin ini? Gila. Benar benar gila.

“Ada apa?” Tanya laki laki itu kemudian.

“Kau boleh memakai bajumu terlebih dahulu.”ucap Yoona pelan.

Setelah itu, Tao meninggalkan Yoona dan menemuinya beberapa saat kemudian. Tentu saja dengan pakaian lengkap. Sebuah kaus hitam dan celana jeans selutut membuatnya berkali kali lebih tampan dibanding dengan seragam usangnya ketika di sekolah.

“Apa aku mengenalmu?” Tanya Tao kemudian. Pertanyaan itu membuat Yoona shock seketika.

“Eh?” Hanya itu yang ia mampu keluarkan dari mulutnya. Demi Tuhan! Yoona memang siswa baru, tapi ini sudah hampir satu bulan semenjak ia menginjakkan kakinya ke SMA Kirin. Ayolah.

“Ehm, aku teman sekelasmu. Kau tidak ingat? Mungkin kau lupa. Aku hanya ingin mengembalikan ini, kau meninggalkannya di Perpustakaan tadi.” Yoona berucap sambil menyerahkan buku bersampul kuning itu. Tapi laki laki itu menggeleng.

“Itu bukan milikku. Perpustakaan memiliki hak penuh atas buku itu.”

Yoona mematung. Rona merah tercipta di pipinya yang mulus. Gabungan antara rasa dingin dan malu.

“Eh?” lagi lagi hanya itu yang mampu ia keluarkan.

Dan tanpa berbasa-basi laki laki itu segera membanting pintunya. Ia bahkan tak menyuruhku masuk.

.

.

.

Pelajaran olahraga selalu menjadi mimpi buruk bagi Yoona. Tidak, ia tidak membencinya. Hanya saja ia selalu mendapat nilai merah di pelajaran yang salah satunya mengandalkan ketangkasan tersebut. Dulunya ia selalu menjadi yang pertama dalam pelajaran ini. Dulunya.. sebelum, ah sudahlah.

Untuk sekarang berlari 15 meter saja Yoona sudah sesak.

Lompat jauh yang Yoona lakukan tadi benar benar buruk. Ia bahkan tak bisa mencapai 2 meter. Payah, benar benar payah. Karena kesal, ia meneguk habis air mineral di dalam botolnya. Lalu iseng memperhatikan teman temannya.

Taeyeon sedang asik ber- ah, Yoona benci harus mengatakan ini. Bagaimana bisa ia dan anak kelas 10 berciuman di siang terik begini? Yoona tak habis pikir.Ia tidak iri. Tapi, hei! Setidaknya mereka tahu kalau ini bukan waktu yang tepat untuk melakukan itu. Melihatnya sekali lagi membuat Yoona ingin mengeluarkan isi sarapannya tadi pagi.

Yuri dan Sooyoung seperti biasa sedang membahas gossip artis terbaru yang sedang panas.

Seohyun si kutu buku sedang membaca bukunya. Oh ayolah, bahkan ia membaca buku ketika jam pelajaran olahraga. Yoona juga suka membaca, tapi tak terlalu terobsesi seperti Seohyun yang menganggap dunia akan hancur jika tak ada buku.

Jessica dan Tiffany sedang terlibat seru dengan percakapan bahasa inggris mereka.

Hyohyeon dan Sunny sedang meliuk-liukkan tubuh mereka dengan asyik. Yoona sangat iri dengan mereka. Mereka bisa bebas manari nari tanpa khawatir dengan apapun. Tapi, saat ini ia sudah cukup bersyukur. Ia mempunyai keluarga yang sayang padanya dan teman teman. Yah, walaupun ia tak yakin teman teman-nya akan selalu bersamanya ketika tahu keadaan dirinya yang sesungguhnya.

Dan tatapannya terhenti pada Tao yang terlihat lelah. Ia duduk dengan lemas di bawah pohok eek. Yoona tertawa dalam hati. Badannya saja yang besar, nyatanya baru lompat seperti itu saja ia sudah terlihat ingin mati. Ditambah lagi, jarak lompatan laki laki itu. Sama sepertinya. Tak lebih dari 2 meter. Menggelikan.

Yoona ingin membalas dendam atas perlakuan laki laki itu kemarin dengan mengacuhkannya. Tapi, ia tak bisa. Laki laki itu butuh air. Peluhnya membasahi dahinya. Ia mangap mangap. Ia terlihat sangat sangat lelah. Yoona mempoutkan bibirnya kesal. Akhirnya ia putuskan untuk mengambil botol air mineral yang terletak di tasnya. Ia memang selalu membawa 2 botol air mineral. Untuk alasan pribadi yang menyebalkan. Ia sebenarnya sangat membutuhkan air ini. Tapi, karena hatinya yang ia yakin pantas menjadi hati malaikat ia malah beranjak dari tempatnya duduk dan menghampiri Tao.

“Minumlah.” Ucap Yoona sambil menyerahkan botol yang masih terisi penuh tersebut. Enggan melihat wajah garang Tao, Yoona mengalihkan pandangannya pada anak laki laki yang sedang bermain sepak bola di lapangan.

Semula laki laki itu tak mau menerima airnya. Tapi sepertinya ia menyerah. Tao akhirnya mengambil air Yoona dengan setengah hati. Yoona lalu duduk disamping laki laki itu. Lalu secara tak sengaja melihat laki laki menyisakan air pemberiannya tadi. Ia hanya meminum setengahnya. Oh ayolah. Dasar tak tahu diri, seharusnya ia menghabisi air pemberiannya tadi. Gerutu Yoona dalam hati.

“Mereka hebat bukan?” Yoona berkata asal, seraya tetap melihat teman teman sekolah barunya bermain bola. Tao menatap Yoona, seakan berkata “siapa yang kau maksud?”. Yoona yang mengerti maksud tatapan Tao pun menjawab.

“Tim sepak bola sekolah kita. Hei, kau tahu nama laki laki yang sedang mengoper bola sekarang? Ia terlihat keren. Dan sepertinya ia orang yang baik.” Yoona lalu menoleh ke arah Tao.

Awalnya Yoona kira Tao tak akan menjawab pertanyaannya. Tapi, dugaannya salah.

“Luhan. Nomor punggung 7 bukan? Dan sekedar informasi saja, sikapnya tidak sebaik wajahnya” ucap Tao kemudian. Tanpa sadar, bibir Yoona membentuk huruf o, entah mengapa Yoona langsung mempercayai omongan Tao.

Hening beberapa saat.

“Ah, aku haus lagi. Aku butuh minum. Bolehkan?” Yoona dengan santai langsung mengambil botol air mineral itu lalu meneguknya sampai habis.

“KAU BODOH! MENGAPA KAU MELAKUKAN ITU?” Yoona tersentak kaget ketika mendengar laki laki itu berteriak. Dan dengan emosi pergi meninggalkannya.

Sebenarnya ia salah apa? Hanya gara gara air minum, ia sebegitu emosinya? Oh ayolah.

.

.

.

Ini bukan pertama kalinya Yoona membututi Tao ke tempat tinggalnya, sehingga ia merasa kali ini ia lebih santai. Ia mengikuti Tao lagi lagi karena penasaran. Segala hal tentang laki laki tersebut selalu membuatnya penasaran.

Sepertinya Tao tahu ia sedang diikuti karena laki laki itu segera membalikkan badan dan menemukan Yoona. Bagus, ia terlihat seperti penguntit sekarang. Yoona menunduk malu.

“Berhentilah mengikutiku” Ucap Tao kemudian meninggalkan Yoona.

Tapi Yoona tak mau mendengarkan dan malah mengikuti laki laki itu lagi. Kali ini dengan langkah lebih cepat agar ia bisa menyamai laki laki itu.

“Mengapa kau begitu marah tadi siang?” Tanya Yoona seraya menarik lengan laki laki itu agar menghadap ke arahnya. Tao melihatnya dengan pandangan datar.

“Karena kau bodoh”

“Kenapa aku bodoh? Kau tak tahu di sekolah sebelumnya aku selalu mendapatkan peringkat pertama? Kau benar-benar tidak tahu teri- ” belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, ketika tangan Tao menutup mulutnya.

“KAU BODOH KARENA KAU MINUM DI BOTOL YANG SAMA DENGAN ORANG PENDERITA AIDS. KAU BODOH KARENA KAU MENDEKATIKU. KAU BISA SAJA TERTULAR ! KARENA ITULAH KAU BODOH.” Tao berteriak nyaris histeris ketika mengatakan hal itu pada Yoona. Jalanan itu sepi, jadi Yoona yakin tak ada yang mendengar ucapan Tao.

Yoona tercengang.

Selama 1 menit keheningan menyelimuti mereka sampai akhirnya Yoona membuka suara.

“Akhirnya, aku menemukan orang yang sama sepertiku.”

.

.

.

 

 

40 thoughts on “(Freelance) Ficlet : Fault

  1. Pertamanya bingunng karna knpaa yoona kayak nyembunyiin sesuatu dikirain tao marah karena ciuman ga langsung ternyata tao penderita AIDS and ga nyangka yoona juga sakit AIDS butuh sequel nih Thor.. Jebal

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s