When You Come [PART 2]

when-you-come-by-qintazshk

qintazshk‘s present

 ⌊ When You Come ⌋

Im Yoona and Oh Sehun
Lee Taeyong as additional cast

PG-13 |  chaptered  |  Fantasy/Action/Romance |  Poster by missfishyjazz {Thanks Nana <3}

prequel fiction from [ficlet] You in here | PART 1

you can read with another pairing in here and here

Enjoy this fanfiction and create your imagination ^^

_yoona pov_

 

Noona, laki-laki itu siapa?”

Lelaki yang jangkungnya melebihiku itu, menunjuk Sehun yang sedang duduk di ruang makan. Raut wajahnya menunjukkan kebingungan saat melihat Sehun dengan santainya memakan sarapannya.

“Cobalah kenalan dengannya, Taeyong.”

Taeyong –adikku mengerutkan dahi. “Noona yang membawa laki-laki itu kemari?”

Aku mengangguk riang dan kembali menuangkan jus jeruk ke dalam gelas yang akan dipakai Taeyong. “Kau bilang saja kau oppa-ku, ya?”

Oppa? Yang benar saja, baby face seperti ini mana bisa terlihat lebih tua dari noona?

Aku menjitak kepalanya sebisaku –mengingat perbedaan tinggi kami yang signifikan. “Menyebalkan. Aku sudah terlanjur bilang kalau aku punya kakak laki-laki, bukan adik. Sudah sana kenalkan dirimu sebagai oppa­-ku, arra?”

ne, arra.” Taeyong melangkahkan kakinya mendekati Sehun. Sehun sempat mengerutkan dahinya bingung, tapi ia tersenyum juga setelah sempat menatapku.

“Aku Im Taeyong,”

“Oh Sehun. Kau oppa-nya Yoona, kan?”

“Aku adiknya. Kau ditipu, hyung.” Taeyong menunjukkan smirk-nya padaku. Uh, harusnya aku tahu kalau dia tidak akan pernah mau diajak kerja sama. Menyebalkan.

“Adik? Tapi kemarin Yoona bilang-“

“Aku lupa kalau aku punya adik, bukan kakak. Seumur hidupku, aku menginginkan kakak laki-laki, bukan adik. Apalagi yang seperti Taeyong.” aku tersenyum kikuk dan Taeyong sudah memandangku dengan tatapan tajamnya.

Aku memandang Sehun lekat-lekat. Siapa tahu ia marah atau menunjukkan reaksi yang aneh saat tahu kalau yang aku katakan salah. Tapi nyatanya tidak. Lelaki jangkung itu malah tersenyum lebar padaku.

God, I’m melting. Bagaimana bisa ia tersenyum semanis itu?

“Jadi, kalian berdua tidak akan sarapan?”

“Tentu saja aku mau sarapan. Tolong kemarikan serealnya, hyung.

“Kau memanggilku hyung, Taeyong?” Sehun menyodorkan kotak sereal cokelat kesukaan Taeyong beserta susu kotak. “Iya. Memangnya kenapa? Aku yakin kalau kau lebih tua dariku. Lagipula, memangnya aku terlihat lebih tua dari hyung, ya?”

“Iya.”

Pft. Aku memuncratkan guava juice yang ada di mulutku. Tak membiarkan sedetik pun terlewat untuk menertawakan kejujuran Sehun yang membuat Taeyong menatapnya kesal.

“Kau jujur sekali, hyung. Dasar menyebalkan,”

“Aku diajarkan jujur di duniaku. Makanya-“

“Duniaku? Memangnya hyung dari dunia mana?”

Sehun menggaruk tengkuknya bingung. Tapi tatapan penasaran Taeyong sepertinya membuat Sehun merasa harus untuk menjawab pertanyaan bocah itu.

“Memangnya kau bukan manusia biasa, hyung? Kau jatuh dari langit, begitu? Apa muncul dari tanah?”

Ya! Kau kira Sehun itu kentang, apa? Muncul dari tanah,”

“Aku hanya menanyakan kemungkinan saja, noona. Lagipula wajah Sehun hyung lonjong seperti kacang. Atau lebih mirip seperti-“

“Astaga, kenapa kalian jadi membandingkan aku dengan tanaman-tanaman, sih?”

Alih-alih meminta maaf, aku dan Taeyong memilih untuk tertawa setelah melihat ekspresi Sehun yang menunjukkan bahwa ia kesal karena obrolanku dengan Taeyong. Tapi detik berikutnya Sehun sudah ikut tertawa bersamaku dan Taeyong.

Pagi yang menyenangkan.

 

 

Hyung, bantu aku mencuci mobil!”

Teriakan Taeyong membuat kegiatan Sehun yang sedang menyiram tanaman terusik. Lelaki itu berhenti bersenandung –dan aku menjamin bahwa suaranya patut diperhitungkan untuk menjadi seorang penyanyi.

Ya ampun, anak itu benar-benar bersikap seolah punya kakak lelaki sungguhan.

Ya! Kau seenaknya sekali menyuruh Sehun. Kerjakan sendiri!” Aku memuncratkan beberapa tetes air sabun dari emberku. Sebenarnya hari ini jadwal aku dan Taeyong mencuci mobil kami masing-masing. Mengingat tidak ada orang lain di rumah kami selain aku dan Taeyong.

Dan Sehun.

“Aku hanya perlu bantuannya sebentar, noona. Kalau Seulgi meneleponku, bagaimana?”

“Oh, jangan berlebihan, Im Taeyong. Sudah selesaikan dulu-“

“Bagian mana yang harus kubersihkan?”

“Jendelanya saja, hyung. Setelah itu tolong bilas semuanya dengan air. Oke? Gomawo, hyung!” Sehun belum menyetujui ucapannya dan Taeyong sudah melesat seperti ceetah ke dalam rumah.

“Maafkan Taeyong, Sehun. Dia memang-“

“Aku senang.” Sehun mempertemukan tatapannya denganku lalu tersenyum lebar. Lebar sekali. Sampai rasanya kebahagiaan Sehun tercurah dalam setiap detik senyumannya.

“Hah? Senang katamu?”

“Iya. Kau tahu, aku tidak punya adik laki-laki dan aku bersyukur aku akhirnya punya adik laki-laki di bumi. Setidaknya Taeyong bisa diajak main basket bersama, ‘kan?”

Bahkan ia sudah menganggap Taeyong sebagai adiknya sendiri.

“Boleh ‘kan aku jadikan Taeyong sebagai adikku selama di sini?”

“Memangnya seberapa lama kau akan di sini?” Aku tak dapat menahan rasa penasaranku jika sudah berhubungan dengan Sehun. Sehun, laki-laki yang baru aku temui beberapa hari lalu, namun sudah terasa seperti keluarga sendiri.

“Entahlah. Sampai waktu yang belum ditentukan. Tapi aku akan segera pergi dari rumahmu jadi-“

“Tidak perlu,” aku menelan ludahku saat tenggorokanku tercekat. Aku menggaruk tengkukku bingung. Jawabanku terlampau cepat untuk menolaknya pergi. “kau tidak perlu pergi. Kau baru saja bilang kalau kau senang punya adik laki-laki, ‘kan? Sepertinya Taeyong juga senang punya hyung.

Dan aku pun senang kau disini.

“Memangnya orangtua kalian dimana?”

“Sibuk mengurusi pekerjaan di China. Karena aku tak mau ikut mereka, jadi aku tetap tinggal dan kuliah di sini. Dan Taeyong hanya mengikuti apa yang noona-nya lakukan. Selalu. Tipikal seorang adik yang menyebalkan.”

“Bukan menyebalkan,” Sehun tersenyum tipis dan menepuk bahuku cepat. “tapi adik yang sangat menyayangimu. Kau tahu itu dengan pasti, Yoona-ya.

Rasanya aku ingin melawan mendengar perkataan Sehun yang terdengar sangat bijak itu. Tapi, itu semua benar dan aku tidak menyangkal. Taeyong memang adik yang baik.

“Membayangkan bisa disayangi seorang adik saja sudah sangat menyenangkan.”

Pandangan Sehun menerawang. Entah benda atau apapun yang sedang ia tatap. Namun, sinar di matanya yang meredup membuat aku yakin bahwa ia hanya sedang membayangkan sesuatu.

“Aku bisa berbagi kasih sayang Taeyong denganmu.”

Sehun membalikkan badannya cepat dan menatapku tak percaya. Seolah ia baru saja mendapat sebuah hadiah yang luar biasa bisa menyenangkan hatinya.

“Kau bisa tinggal di sini. Menjadi kakak untuk Taeyong. Bagaimana?”

“Kau benar-benar memperbolehkanku tinggal di sini? Di rumahmu dengan Taeyong?” Aku hampir saja terkikik saat melihat wajah penuh pengharapannya yang seperti anak kecil.

“Tentu saja, kenapa tidak?”

Belum sempat aku bernafas setelah ucapanku barusan, tiba-tiba kedua lengan Sehun sudah meraihku untuk mendekatkan tubuhku padanya. Kedua lengannya itu memelukku erat.

Sehun memelukku.

Aroma maskulin yang datangnya dari tubuh Sehun itu sesaat membuatku melupakan semua hal. Berkali-kali ia mengucapkan terima kasih dan aku hanya bisa mengangguk membalasnya.

Pipiku makin memanas ketika Sehun mengelus lembut rambut cokelat panjangku. Dengan seluruh keberanian, aku mengangkat tanganku. Mencoba untuk membalas pelukan erat Sehun. Dan-

“Maafkan aku,” tanpa aba-aba, Sehun melepaskan pelukannya. Aish. Aku baru saja akan membalas pelukannya dan dia dengan seenaknya langsung melepaskan erat tangannya di bahuku.

“Kau kenapa?”

Apa aku terlalu lama berhalusinasi dengan imajinasi membalas pelukan Sehun?

Ya! menyebalkan!Aku mengambil keran yang masih tersalurkan air dari keran dan menyemprotkan air itu ke tubuh Sehun.

“Im Yoona! Apa yang kau lakukan?” Sehun berusaha menghadang air yang menyiprati tubuhnya dengan kedua tangannya yang kekar. Walaupun kepalanya memang terlindungi, tapi badannya masih saja basah. Itu tujuanku untuk membalaskan ‘dendam’-ku.

“Usahamu gagal, Oh Sehun! Lihat saja rambutmu basah begitu,”

Aku terkikik geli melihat reaksi Sehun yang menurutku lucu. Dia bahkan tak membalas sedikit pun perlakuanku. Permainan ini mulai menyenangkan. Aku memutuskan untuk menyemprotkan lebih banyak lagi air ke tubuhnya yang kini mulai terlihat di balik kaus putihnya yang transparan.

“Im Yoona, stop!

“Tidak! Sampai kau-“

Aku menganga lebar saat melihat cahaya putih yang menyelimuti badan Sehun secara perlahan. Lapisan itu terlihat seperti balon membungkus yang Sehun dan udara di sekitarnya. Air yang aku semprotkan pun malah jatuh begitu saja di tanah, mengalir di balon itu.

‘Pertunjukkan’ tadi tak ayal membuatku menghentikan gerakanku untuk mengganggu Sehun.

“Jadi,” balon itu meletus dan Sehun tersenyum senang. “kau masih ingin melakukan itu padaku, nona Im?” Ada rasa yang aneh menjalari tubuhku saat melihat senyum jahilnya itu.

“Wah, balon tadi besar sekali, oppa!

Aku membeku ketika melihat Sehun seperti kehilangan nyawa. Expressionless. Anak-anak yang lewat tadi pasti telah melihat balon yang Sehun ciptakan dan ia tahu itu tak bagus.

Tiba-tiba aku merinding saat memikirkan bagaimana nasib Sehun jika saja ia dianggap makhluk asing yang mengganggu.

“Aku mau lihat lagi balon itu, oppa!”

 

 

 

“Maaf.”

Aku menoleh untuk melihat Sehun yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk. Sehun menatapku dengan pandangan penuh rasa bersalah, sedikit-banyak membuatku merasa bersalah. Ayolah, bahkan tidak ada satupun di antara kami yang melakukan kesalahan.

“Maaf? Kenapa? Kau ‘kan tidak melakukan kesalahan.”

“Tadi kau harus berurusan dengan anak-anak kecill yang sudah mengerubungiku seperti aku ini satu-satunya mainan yang ada. Kau sibuk menjelaskan penjelasan masuk akal untuk mereka. Aku tahu itu merepotkan. Jadi, maafkan aku.”

Aku tersenyum senang saat Sehun menatapku putus asa. “Tak perlu minta maaf. Dan, jangan menatapku begitu. Aku jadi merasa bersalah juga, tahu.”

“Benarkah? Maafkan-“

“Hey,” aku menempatkan jari telunjukku di bibirnya. Tak membiarkannya meneruskan perkataannya tadi. “jangan meminta maaf terus. Kau tidak bersalah. Sungguh. Aku berani bersumpah kalau kau tidak melakukan kesalahan apa pun.”

Noona! Kenapa kau menyentuh bibir Sehun hyung? Astaga! Apakah kalian-“

“Berisik!” Aku melemparkan bantal sofa ke wajah Taeyong yang baru saja datang ke ruang tengah. “Aku tidak melakukan apa pun. Kau terlalu mendramatisir, Im Taeyong.”

Dengan gugup, aku mundur dan duduk cukup jauh dari Sehun. Apa yang tadi kau lakukan, Im Yoona? Memalukan sekali.

“Ngomong-ngomong, apa yang terjadi barusan? Aku sampai tidak bisa mendengar suara Seulgi di telepon karena suara berisik anak-anak di depan tadi. Kalian tidak melakukan hal yang aneh, ‘kan?”

Sehun yang sedang mengeringkan rambutnya berhenti lalu menatapku. Tatapannya itu aku artikan bahwa ia ingin aku yang menjawab dengan jawaban yang sama seperti yang aku beri kepada anak-anak tadi.

“Hal aneh apa yang bisa kami lakukan di depan rumah, hah?”

“Oh, jadi,” Taeyong menatapku dan Sehun penuh kecurigaan yang berkilat di matanya. “kalian melakukan hal aneh di dalam rumah begitu?”

“Bukan! Astaga, Im Taeyong. Kau menyebalkan sekali. Jadi begini,” dengan ragu aku mulai berbicara pada Taeyong. “tadi Sehun-“

“Aku ingin jawaban dari Sehun hyung, bukan noona.

Sehun meminta lagi bantuanku menggunakan tatapannya. Aku sendiri masih tak tahu atas keajaiban apa ia bisa memunculkan balon sebegitu besarnya. Taeyong bukan anak kecil yang bisa dengan mudahnya menerima cerita karanganku.

Akhirnya aku menggedikkan bahu, menyerah.

“Jelaskan saja pada Taeyong. Aku sendiri juga belum tahu apa yang sebenarnya terjadi tadi. Kau berhutang penjelasan untukku juga.”

“Kenapa sih manusia bumi suka ingin tahu urusan yang sama sekali bukan urusan mereka?” Ucapan Sehun membuatku berhenti ingin tahu walaupun ucapannya tadi hanya bisikan pelan yang aku yakin hanyalah ucapannya untuk dirinya sendiri. Posisi dudukku yang ada di sebelahnya membuatku mendengar semua itu. Menyebalkan.

Hyung, kau benar-benar membuatku penasaran. Sekarang hyung ceritakan padaku dan Yoona noona seperti apa dunia-tanpa-rasa-penasaran yang hyung tinggali. Dan semua beres.”

“Semua tidak akan pernah beres jika sudah tersentuh tangan manusia bumi.”

“Aku akan menceritakannya pada kalian, dengan satu syarat,”

Perkataan Sehun sukses membuat Im bersaudara menatap laki-laki itu antusias.

“Tidak ada pengkhianatan setelah ceritaku selesai. Kalian bisa berjanji mengenai hal yang satu ini?”

Kedua mata bulat Sehun menatap Yoona dan Taeyong dengan cermat. Yang ditatap hanya mampu mengangguk sembari menatap Sehun penuh harap. Sehun berusaha mencari sinar yang menyiratkan kejahatan di kedua mata Yoona dan Taeyong, namun ia tidak menemukannya.

“Dunia asalku bernama ‘Almaiscript’. Dunia penuh keteraturan, kedamaian, dan kebahagiaan. Fisik dunia kami tidak jauh berbeda dengan bumi, hanya saja dunia kami terlihat lebih baik dari segala sisi daripada bumi kalian yang penuh kejahatan.”

Kedua mata Yoona dan Taeyong masih terlihat penasaran dengan penjelasan Sehun. Mata mereka begitu bersinar terang, seolah meminta Sehun melanjutkan ceritanya.

“Seluruh kehidupan di dunia kami sudah diatur dalam sebuah script. Sesuai dengan nama dunia kami. Masalah pada script dunia kamilah yang membuatku harus datang kemari.”

“Kenapa harus hyung yang datang ke bumi? Ah, maksudku bukannya aku tidak suka hyung datang, tapi ada manusia lain dari dunia Almaiscript, bukan?”

“Aku pangeran tunggal Almaiscript.”

Yoona dan Taeyong hanya bisa berdecak kagum begitu Sehun menyebut kata ‘pangeran”. Tahu-tahu, Yoona sudah membayangkan pangeran berkuda putih yang selalu ada di bayangannya selama ini.

“Aku bukan pangeran berkuda putih, Yoona-ya. Aku pangeran bersayap putih.”

Yoona menatap Sehun kaget. “Ka-kau bisa membaca pikiranku?”

“Itu salah satu kelebihan yang diturunkan oleh ayahku, raja Almaiscript. Ada banyak jenis kelebihan yang dimiliki oleh manusia Almaiscript. Tapi, biasanya kelebihan membaca pikiran orang itu diturunkan oleh keturunan raja.”

“Jadi hyung tahu apa yang sedang kupikirkan?”

“Kau memikirkan seseorang. Tunggu,” Sehun memejamkan matanya lalu membukanya dan langsung tersenyum girang. “Seulgi? Kekasihmu?”

“Astaga, hyung!” Taeyong membelakkan matanya sembari menghampiri Sehun lalu memukul lengan kekar Sehun. Mata Taeyong yang tajam itu memandang Sehun penuh misteri. “Kau menyeramkan, hyung.

Sehun dan Yoona tertawa keras ketika Taeyong secara mengejutkan bangkit dari duduknya agar berjauhan dengan Sehun.

“Jangan pikirkan yang tidak-tidak dengan Seulgi, oke? Aku masih membaca pikiranmu, Im Taeyong.”

Ucapan Sehun terdengar seperti seorang ayah yang sedang menasihati anak laki-lakinya. Dan hal itu membuat Taeyong sedikit-banyak senang.

“Tidak, hyung. Aku tidak melakukan apa pun, aku janji.”

Sehun mengulum senyum tipis lalu beralih Yoona yang sedang menatap lekat dirinya. Tatapan gadis itu bahkan tidak berpaling barang sedetik pun walaupun sudah jelas yang dipandangnya sedang menatapnya penuh tanda tanya.

“Im Yoona,”

Panggilan dari Sehun tidak juga membuat Yoona tersadar.

“Yoona-ya,

Kali ini Sehun menaikkan volume suaranya, tapi Yoona tak kunjung menatap mata Sehun.

Dear?

“Hem?”

“Kau menyebalkan sekali noona. Sehun hyung sudah memanggilmu ribuan kali tapi noona tidak menyahut. Giliran dipanggil ‘dear’ dengan suara merdu Sehun hyung, noona langsung menjawab. Apa maksudnya itu?”

Pertanyaan sarkatik dari mulut Taeyong membuat Yoona –yang baru saja mendapat kesadarannya kembali- mendelik tajam, sedangkan Sehun tertawa renyah mendengar rentetan kata dari Taeyong yang seolah mengintimidasi Yoona.

“Sekarang kau sudah tahu, ‘kan, hyung? Yoona noona itu seorang dreamer. Dreamer yang aneh.”

“Aku bukan dreamer, Im Taeyong. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu.” Ucapan Yoona terdengar makin pelan hingga akhir kalimatnya, membuat Sehun harus menajamkan pendengarannya untuk mengetahui apa yang diucapkan oleh Yoona.

“Jadi sebenarnya, apa tujuanmu datang ke bumi, Sehun?”

Pertanyaan yang keluar dari bibir tipis Yoona tak ayal membuat Sehun membulatkan mata dengan sempurna. Lelaki itu menggaruk tengkuknya tanpa sadar sembari menatap Yoona penuh keraguan.

“Aku tidak memaksamu untuk memberitahuku. Aku hanya penasaran.” Yoona tersenyum lebar penuh ketulusan. “Kalau kau keberatan, kau tidak perlu memberitahuku soal tujuanmu datang kemari.”

Karena kedatanganmu saja sudah membahagiakan, Oh Sehun.

“Kenapa kau senang dengan kedatanganku?”

Kali ini, Yoona yang langsung menutup mulutnya, tidak percaya dengan yang barusan Sehun katakan.

“Ka-kau tahu?!”

“Aku sudah bilang kalau aku punya kemampuan untuk membaca pikiran seseorang dan kau juga manusia. Tentu saja aku bisa tahu apa yang sedang kau pikirkan.” Jawab Sehun lamat-lamat lalu menunjukkan senyumannya pada Yoona.

“Tujuanku untuk memperbaiki masalah script dunia kami, tentu saja. Aku hanya harus menyelesaikan masalah itu secepatnya, setelah itu pergi tanpa jejak kembali ke dunia asalku.”

Yoona tidak tahu mengapa, tapi saat Sehun –dengan suara tegasnya- berkata kalau ia akan kembali dengan cepat membuat dada Yoona terasa sesak.

“Sekarang, apa yang akan hyung lakukan?”

“Aku harus menemukan seseorang, secepat mungkin.”

“Apa hyung membutuhkan bantuanku dan Yoona noona? Ya, aku tahu kalau hyung bisa melakukan apa pun sendiri dengan kekuatan hyung, tapi aku hanya menawarkan bantuan saja.”

“Aku tidak tahu,” Sehun menggaruk tengkuknya –lagi.

“Kehadiran kalian tidak ada dalam script hidupku.”

 —

Hai!

Masih ada yang inget FF ini? Maafkan untuk yang mungkin saja menunggu kelanjutan FF ini🙂 Untuk Misconception dan Memories, as always, masih dalam pengerjaan dan revisi. tapi aku ngga janji bakal publish dalam waktu dekat ^^

Papoi!❤

21 thoughts on “When You Come [PART 2]

  1. Wow, jadi slma ini sehun bisa ngebaca pikiran yoona? haha lucu ngebayangin yoona nya yg agak innocent disni xD Tugas sehun apaan un?._. Next chap 3 ya eon. aku tnggu~

  2. Kya!!! Ini ff udah aku tunggu lama.. Gilakkk!! Keren bangettt.. Aku baru buka yoongexo jadi baru tau ternyata ff ini udah dipost, swear.. Next chapter jan lama-lama dong, please.. Udah penasaran. Good Job!

  3. Wah! Yoona-Taeyeong udh tau tuh tentang Sehun sebenarnya! Yoona.. udah mulai jatuh hati duluan sama Sehun ya, terus disitu tugas Sehun adalah menemui seseorang tapi dia justru ketemu Yoona-Taeyeong dan mereka gak ada dalam script kehidupan Sehun? Mungkin pertemuan itu bukan bagian dari script Sehun tapi dari takdir YoonHun -apadeh-_– bikin penasaran sama kelanjutannya masaaa, next chap soon ya Fighting!!

  4. Woaaw dunia sehun cuman sebatas script doang? Heoll… tapi bagus ceritanya lanjyt ya eon^^ aku tunggu kan cerita aslinya dari ff you kan? Semoga ada sequelnya nanti yoonhun bersatu🙂

  5. Agh!! Lumutan nih ff jiahaha becanda😜
    Bener bener kecewa, kenapa Yoona dan TaeYong gak masuk dalam script Nya Sehun 😭
    Seseorang, siapa seseorang itu? Jadi Yoona gak jodohan ama sehun? #nianakrempongbangetdeh
    Berharap author cepat next-in nih ff
    Aus banget sama ff yoonhun, lama banget update nya – taulah karna pengen nyimbangin tag member exo lainnya.
    Gakpapa dah.. Asal di next nih ff
    Author punyak tw / ig / line? Minta unamenya / id nya donk☺️

  6. Siapa orang yg harus dicari sm Sehun??pasti org itu ada kaitannya dgn Yoona-Taeyeong kan??
    Cepet dilanjut thor, semangat…

  7. Hwaaa. . .sehun bsa baca pkran. . Waduuh gmana nasib yo0na? Apa sehun juga tau kalo yo0na sering mikirin sehun. . .sehun nyari siapa ya? . .wah wah mkin penasaran. .ditnggu update an lnjtannya

  8. Aigoo, stelah sekian lama menunggu akhrnya chap 2 nya d’publish jg.
    Wah, hebat bnget. Bisa bca pkiran org dan pangeran tunggal pula..
    Wah, jd klu yoona ma taeyong gak ad dlm script sehun, jd dlm scipt kehidupan sehun it apa sih maksudnya?
    Next chap ditnggu n ff lainnya jg d’tnggu thor trutama as Always nya🙂
    keep writting thor!

  9. wehh lama amat lanjutan nih ff author??
    lumutan loh jadinya :p /becanda/
    wooah keren sehun bisa baca pikiran orang ya?? tapi jangan dingin-dingin dong sama yoona.. kasian kan dia suka sama kamu.. heheh
    ok aku bingung mau komen apa.. cepet lanjut aja yappp… semangat buat authornya^^

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s