(Freelance) Oneshot : Eight Years

8

Eight Years

by GreenAngel

 

Cast

Xi Luhan | Im Yoona | Oh Sehun | Kwon Yuri

Genre

Romance | Friendship | Sad

Rating | Length

PG15 | Oneshoot

Warning

Typo bertebaran

Disclaimer

This story is mine! Happy reading🙂

…….

Luhan POV

“Luhan. Ireona.”

Sayup-sayup aku mendengar sebuah suara. Atau mungkin hanya imajinasi ku saja.

“Luhan! Xi Luhan! Cepat bangun!!”

Dan ternyata suara yang ku dengar tadi bukan imajinasi semata. Karena tak lama kemudian tubuh ku berguncang pelan. Ku buka mata ku dan hal yang pertama yang ku lihat adalah eomma yang sedang berdiri sambil berkacak pinggang.

Wae eomma?” tanyaku sambil menguap. Sungguh, aku masih mengantuk karena aku begadang menulis sebuah lagu.

Ireona. Ini sudah pagi. Jangan jadi anak yang pemalas.”

Eomma berjalan ke arah jendela kamar ku dan membuka jendela. Melihat hal itu tentu saja tak ku sia-siakan kesempatan ini, segera saja ku tarik selimut tebal ku dan kembali berbaring. Tidur.

Entahlah. Mungkin setelah beberapa detik aku memejamkan mata, eomma kembali mengganggu tidur ku. Kali ini eomma memukul bokong ku dengan keras. Segera saja ku buka mata ku cepat.

Eomma!” sungut ku kesal sambil beranjak bangun dari tempat tidur. “Tak tahukah anakmu yang tampan ini hanya tidur 3 jam saja?”

Eomma tidak tahu,” ucap eomma ku asal. Aish eomma ku ini benar-benar menyebalkan. “Salahmu sendiri kenapa tidur lewat tengah malam. Cepat mandi. Eomma akan menyiapkan sarapan.” lanjutnya dan tak lama kemudian eomma keluar dari kamar ku.

Jam di kamar ku menunjukkan pukul 05.40 pagi. Ku langkahkan kaki ku pelan menuju jendela kamar. Kamar ku yang berada di lantai 2 membuat ku bisa dengan leluasa mengamati kegiatan di sekitar kompleks perumahan.

Ku lihat Han ahjumma sedang menyapu halaman rumahnya. Kwon ahjussi yang sedang memanaskan mobilnya. Serta Im ahjumma yang membawa belanjaan penuh sayuran dari ujung jalan. Ku tarik nafas dan ku hembuskan pelan. Udara pagi hari memang menyegarkan. Terbukti dengan kantuk ku yang segera hilang setelah menghirup udara pagi ini.

Nafas ku tercekat saat aku melihat ke seberang jendela. Ya, rumah ku memang berseberangan dengan rumah seseorang. Seseorang yang diam-diam ku sukai. Dan biasa ku panggil dengan sebutan gadis cerewet. Ia Im Yoona.

Sama seperti yang ku lakukan, Im Yoona berdiri di depan jendela kamarnya setelah membukanya yang kebetulan berada di lantai 2, sama seperti kamar ku.

“Pagi Luhan!” teriak Yoona dari kamarnya. Dasar gadis bodoh, apa dia tak malu teriak-teriak seperti itu di pagi hari.

“Pagi Yoong,” teriak ku keras “Apa kau tak malu berteriak seperti itu? Kau ini yeoja apa bukan sih?” lanjut ku tak kalah keras dari sapaan ku tadi.

Yoona tertawa keras sampai memegang perutnya dan membungkukkan badannya. Mengeluarkan tawa alligatornya yang khas itu.

“Apa kau tak malu berteriak seperti itu juga Luhan-ssi? Kau ini namja apa bukan sih?” tanyanya membalas teriakan ku. Dasar, bisa-bisanya dia memutarbalikkan pertanyaan ku.

“Tentu saja aku namja. Aku heran dengan mu Yoong, mana ada yeoja yang tingkahnya seperti mu. Pagi-pagi sudah teriak seperti itu.”

Yak! Ah sudahlah lupakan. Apa tidur mu nyenyak?”

Sebelum sempat ku jawab, Han ahjumma sudah berada di jalan antara rumah ku dan rumah Yoona sambil berteriak, “Apa kalian harus berteriak seperti tadi setiap pagi?” masih memegang sapu yang tadi ia gunakan, Han ahjumma kembali berteriak “Jinjja. Sepertinya aku harus ke dokter THT jika kalian terus melakukan kegiatan kalian seperti itu setiap pagi.”

Tak ayal teriakan Han ahjumma membuat aku dan Yoona tertawa. Aku tahu Han ahjumma hanya bercanda tadi. Han ahjumma adalah tetangga yang ramah dan tidak mudah marah. Han ahjumma juga sering bergabung dengan kegiatan kami seperti tadi. Tidak bisa dibilang bergabung juga sebenarnya, lebih tepatnya Han ahjumma merecoki kegiatan kami. Saling berteriak di pagi hari.

Oke ini memang terdengar aneh. Tapi hal ini merupakan hal yang biasa, setidaknya di kompleks perumahan ini. Para tetangga yang berada di kompleks ini memang sudah terbiasa mendengar teriakan saling bersahutan di pagi hari antara aku dan Yoona. Tentu saja sudah terbiasa. Karena aku dan Yoona sudah hampir delapan tahun melakukan kegiatan ini.

“Bukan aku yang memulainya ahjumma. Luhan yang memulainya. Aku hanya ikut-ikutan.” Teriak Yoona sambil cengar-cengir ke arah Han ahjumma.

Mwo? Kau yang memulainya Yoong! Bukan aku!”

“Sudah-sudah. Mau sampai kapan kalian teriak-teriak seperti ini? Kalian akan terlambat kuliah kalau seperti ini terus.” Ucap Han ahjumma menengahi kami.

Ne Ahjumma. Yak Luhan. Cepat mandi. Bau mu sampai sini, tahu?” teriak Yoona sambil berpura-pura menutup hidungnya. Ck!

“Aku tidak bau. Hidungmu saja yang bermasalah.” Balasku kesal.

Omo ahjumma. Kau sependapat dengan ku kan? Luhan sangat bau.”

Setelah mendapatkan isyarat mata dari Yoona, Han ahjumma tiba-tiba menutup hidungnya dan berkata, “Ne Luhan. Yongie benar. Kau sangat bau.”

Dasar! Yoona dan Han ahjumma selalu saja menggoda ku.

Aish! Baiklah aku akan mandi.”

Ku langkahkan kaki ku menuju kamar mandi dan dapat ku dengar suara Yoona dan Han ahjumma yang tertawa terpingkal-pingkal.

Setelah selesai mandi. Ku rapihkan buku-buku yang akan ku bawa ke kampus nanti dan memasukannya ke dalam tas. Setelah itu aku berdiri di depan cermin. Menatap pantulan diri ku. Aku mengenakan jeans hitam dan kemeja biru yang ku gulung sampai siku. Tak lupa dengan sneakers, kado ulang tahun dari Yoona sebulan yang lalu.

“Kau tampan seperti biasanya Xi Luhan.” Ucapku sambil tersenyum pada bayangan ku di cermin.

Setelah itu, aku beranjak dari kamar menuju meja makan sambil membawa tas. Di meja makan sudah terhidang setangkup sandwich buatan eomma. Ku bawa sandwich itu ke ruang keluarga dan menghidupkan televisi. Ku cari channel berita sambil memakan sandwich yang eomma buat.

Tak lama kemudian eomma dan appa menghampiriku.

“Luhan. Eomma dan appa pergi ke kantor. Cepat habiskan sarapan mu dan jangan sampai terlambat.” Ucap eomma sambil mencium pipi ku.

“Ne eomma.”

“Belajar yang rajin. Kau harus jadi pengacara yang sukses nantinya.” Kali ini appa yang berbicara sambil menepuk pundak ku.

Ne appa.”

Eomma dan appa segera berangkat ke kantor tempat mereka bekerja. Eomma dan appa memang bekerja di perusahaan yang sama. Donggu Corporation. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang properti.

Setelah menghabiskan sarapan. Aku segera mematikan televisi dan berjalan ke luar rumah. Tak lupa ku kunci pintu dan berdiri di depan pintu rumah. Ku lihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiri ku. Dan seseorang yang ku tunggu akan muncul sekitar 5 detik lagi.

5…4…3…2…1… Bingo!

“Hai Luhan.” Yoona berdiri di depan pagar rumah ku. Aku beranjak ke arahnya.

“Hai Yoong. Bagaimana pagi mu?” tanyaku berbasa-basi.

“Seperti biasa.” Jawabnya acuh.

Kami berjalan menuju halte bus. Aku dan Yoona kuliah di universitas yang sama yaitu Seoul University. Yang membedakan adalah aku mengambil jurusan hukum dan Yoona mengambil jurusan manajemen bisnis. Setiap pagi aku dan Yoona akan berangkat bersama. Kecuali hari libur tentu saja. Rutinitas ini sudah kami lakukan sejak kami berada di kelas 2 junior high school sampai kami kuliah di tingkat akhir. Mungkin sudah sekitar delapan tahun.

Setiap pagi kami akan saling bercerita tentang hal-hal nonsense yang hanya kami saja yang mengerti sambil berjalan ke halte bus. Bukannya orang tua ku dan orang tua Yoona tidak memberikan fasilitas kendaraan. Buktinya Yoona diberi hadiah mobil oleh kedua orang tuanya saat berulang tahun dan appa membelikan ku mobil saat aku menjuarai lomba debat tingkat nasional. Yoona akan beralasan setidaknya ia akan mengurangi polusi udara di Seoul jika ia tidak menggunakan mobilnya dan memilih untuk naik bus. Dan aku juga diajak olehnya untuk alasan itu. Lebih tepatnya Yoona memaksa ku untuk menemaninya berangkat ke kampus. Tentu saja aku awalnya berpura-pura menolak, untuk mengerjainya. Tapi akhirnya aku mengalah setelah ia menunjukkan aegyo miliknya.

“Bagaimana dengan lagu yang aku request? Sudah membuatnya?” tanyanya antusias saat kami berada di dalam bus.

“Sudah. Kau tahu? Aku hanya tidur tiga jam mengerjakan lagu yang kau minta.” Jawabku malas.

“Aku tidak tahu,” Yoona menjulurkan lidahnya “Nyanyikan untukku Luhan.”

“Ani. Aku tidak mau.”

“Waeyo? Kau sudah membuatnya kan? Jeballll.” Pintanya sambil memelas. Dasar Yoona. Dia akan berubah jinak seperti ini jika menginginkan sesuatu.

“Baiklah. Datanglah ke atap rumah ku nanti malam. Arra?”

Yes sir.” Yoona mendekatkan telapak tangan pada keningnya, seolah-olah sedang melakukan hormat.

“Dasar kau ini.” Dengusku pelan sambil mengacak-ngacak rambutnya.

Yak! Kau merusak tatanan rambutku.” Sungutnya sambil memukul bahuku.

“Aw. Pukulanmu keras sekali. Kau ini yeoja apa bukan sih? Lagipula apanya yang tatanan rambut? Rambut acak-acakan seperti itu. Jangan-jangan kau tidak menyisir rambut mu.” Godaku sambil tertawa pelan.

Dan sekali lagi Yoona memukul bahuku dengan kekuatannya yang luar biasa itu. “Cih menyebalkan.”

Bus berhenti tak jauh dari kampus kami. Aku segera bangkit dari tempat duduk. Ku ulurkan tangan ku dan disambut dengan tangan Yoona yang menggenggam tangan ku. Kami berjalan keluar dari bus masih dengan bergandengan tangan. Hal tersebut terus berlanjut hingga kami sampai di halaman kampus.

“Wow wow wow! Romantis sekali kalian pagi-pagi sudah bergandengan tangan.” Goda Chanyeol sambil melirik ke genggaman tangan kami. Karena hal itu aku dengan terpaksa melepas genggaman tangan kami.

“Apa tangan mu mau ku gandeng Chanyeol-ssi?” balasku sambil mengulurkan tangan dan mendekat ke arahnya. Seketika Chanyeol memandang ku dengan tatapan ingin muntah.

“Tidak! Aku tidak mau! Lebih baik aku menggandeng tangan Yuri.” Chanyeol tiba-tiba menggandeng tangan Yuri yang berdiri di sebelah Yoona. Aku bahkan tidak sadar sejak kapan Yuri berada disini.

“Apa yang kau lakukan pabo!” Yuri melepaskan tangannya paksa dan memukul kepala Chanyeol.

Aku dan Yoona tertawa melihat tingkah mereka. Sementara Chanyeol mengaduh kesakitan akibat pukulan yang Yuri berikan. Sudah menjadi rahasia umum di kampus bahwa Chanyeol menyukai Yuri. Akan tetapi perasaan Chanyeol tak terbalaskan.

“Sudahlah Yul. Ayo kita pergi. Sebentar lagi kelas dimulai.” Yoona menarik tangan Yuri dan beranjak dari halaman kampus. Sebelum pergi Yoona sempat tersenyum ke arahku dan Chanyeol. Sementara Yuri terlihat enggan memberikan senyumnya untuk Chanyeol.

What’s up bro?” tiba-tiba Chanyeol merangkulku. Lihatlah siapa yang aneh disini. Tadi saat aku mengulurkan tangan, dia dengan tegas menolak. Dan sekarang dia merangkulku seperti ini.

I’m fine. Dan tolong lepaskan tanganmu dari pundak ku.”

Chanyeol segera menarik tangannya dari pundak ku sambil meringis. Setelah itu kami berjalan menuju fakultas kami. Aku dan Chanyeol mengambil jurusan yang sama. Sedangkan Yoona dan Yuri juga mengambil jurusan yang sama.

“Oh ya. Jelaskan padaku bagaimana status hubungan mu dengan Yoona sekarang. Apa sudah ada peningkatan?” tanya Chanyeol sambil memainkan ponselnya. Mengetikkan sebuah pesan. Mungkin untuk Yuri. Kebiasaannya setiap pagi yaitu mengirim pesan untuk Yuri semata-mata untuk mengganggunya.

“Menurutmu?” tanyaku balik. Aku paling malas jika ditanya hubunganku dengan Yoona.

Yoona POV

“Sudahlah Yul. Ayo kita pergi. Sebentar lagi kelas dimulai.”

Sebelum pergi, aku tersenyum ke arah Luhan dan Chanyeol menandakan pamit untuk pergi dari hadapan mereka.

Yuri masih menggerutu saat kami berjalan. “Dasar manusia tiang itu seenaknya saja memegang tangan orang.”

Aku hanya tersenyum mendengarnya, “Sudahlah. Lagipula hanya pegangan tangan saja. Kau kan tidak dicium olehnya.”

What? Aigo bahkan aku tidak bisa membayangkan jika hal itu sampai terjadi.” Jawabnya sambil menatapku ngeri. Sementara aku tertawa melihat responnya yang berlebihan itu.

Tak lama kemudian ponsel Yuri berbunyi. Tatapannya horror saat memandang ponselnya. Karena penasaran, ku rebut ponsel dari tangannya. Ternyata Yuri mendapatkan pesan dari seseorang.

From : Manusia tiang pabo!!!

 

Hai chagi. Bagaimana rasanya menggenggam tanganku? Lain kali akan ku berikan ciuman spesial ku untuk mu :* semoga hari mu menyenangkan ^^

Aku meledakkan tawa sesaat setelah membaca pesan itu. Sungguh aku tak menyangka Chanyeol akan segila itu. Kini tatapan Yuri beralih ke arah ku. Ia menatap ku masih dengan pandangan horrornya, “Hentikan. Aku tak mau membahasnya.”

Dengan segera aku berdeham pelan. Berusaha menghentikan tawa ku.

“Kau tahu Yoong? Kelas kita kedatangan mahasiswa baru.” Ucap Yuri heboh.

“Lantas? Kenapa kau sampai heboh seperti itu?”

“Aku tidak akan heboh seperti ini jika ia tidak tampan, tidak cool dan tidak pintar. Kau harus melihatnya Yoong! Ku jamin kau akan meleleh saat melihatnya!”

Yuri masih menceritakan tentang namja yang ia ceritakan tadi. Sementara aku hanya mendengus pelan. Tidak tertarik dengan ucapannya.

“Oh Sehun imnida.” Seorang namja berkata dengan lantang sambil membungkuk di depan kelas jurusan Manajemen Bisnis. Sementara orang-orang yang berada di kelas tersebut seketika terdiam. Bagaimana tidak. Oh Sehun benar-benar tampan. Rahangnya yang kuat. Tatapan matanya yang tajam. Dan tanpa senyum. Benar-benar sempurna! Bahkan para yeoja di kelas ini sampai membelalakkan matanya saat melihat Oh Sehun. Kecuali satu yeoja. Yeoja yang sedari tadi sibuk mencorat-coret bukunya asal. Im Yoona.

Hal tersebut lantas tak luput dari pandangan Sehun.

Menarik. Hal itu yang terlintas di pikiran Sehun saat melihat Yoona. Sementara orang yang ditatap terlihat acuh tak acuh.

Tak lama kemudian kelas berjalan seperti biasanya setelah Sehun duduk di depan Yoona yang kebetulan saat itu tak berpenghuni.

Setelah kelas berakhir, para yeoja segera mengerubungi Sehun layaknya semut yang mengerubungi gula. Melihat hal itu, Yoona hanya menggelengkan kepalanya. Heran dengan tingkah laku yeoja di kelas ini. Terlebih lagi saat melihat Yuri bagian dari yeoja yang mengerubungi Sehun. Yoona menghampiri Yuri dan menarik tangannya. Berniat mengajaknya ke kafetaria kampus.

Setelah berhasil menarik Yuri dari kerubungan itu. Tiba-tiba saja langkahnya terhenti. Tangan Yoona yang bebas, dipegang seseorang. Dan seseorang itu adalah Sehun. Seketika kelas menjadi sunyi saat hal itu terjadi.

“Apa yang kau lakukan?” ucap Yoona datar. Sungguh ia tidak mengerti dengan namja ini. Ia tidak melakukan apa-apa dan kini namja ini memegang tangannya.

“Namamu. Siapa namamu?” tanya Sehun dengan ekspresi tak terbaca.

“Apa itu penting? Dan bisa kah kau melepas tangan mu Sehun-ssi.” Sehun masih memegang tangan Yoona dengan ekspresi yang sulit diartikan. Dan Yoona melepas tangan Sehun dari tangannya secara paksa.

“Dasar namja aneh.” Dengus Yoona sambil menatap tak suka kepada Sehun. Yoona langsung bergegas keluar kelas disusul Yuri.

Sementara Sehun masih terdiam di tempatnya. Berbagai macam pikiran hinggap di kepalanya.

Mungkinkah dia gadis itu? tanya Sehun dalam hati.

“Yoong, apa kau mengenal Oh Sehun?” tanya Yuri sambil memicingkan matanya kepada Yoona.

Sementara yang ditatap saat ini sedang menikmati jus melon yang dipesannya. Yoona dan Yuri saat ini berada di kafetaria kampus. Setelah kejadian yang menurut Yoona menyebalkan, mood Yoona langsung turun drastis.

Yoona tak segera menjawab pertanyaan Yuri. Karena sesungguhnya ia tidak tahu harus menjawab apa.

“Yoona! Jawab aku!” tanya Yuri sekali lagi dengan tak sabaran.

Yoona menumpu dagu dengan salah satu tangannya. “Tidak. Aku tidak mengenalnya.”

“Kau yakin?” cerca Yuri. Entah kenapa Yuri merasa bahwa Yoona sedang menyembunyikan sesuatu saat ini.

“Mungkin,” jawab Yoona acuh. “Akan tetapi, aku seperti pernah bertemu dengannya. Entahlah mungkin hanya perasaan ku saja.” Sambungnya.

“Menurutmu Sehun bagaimana?”

“Apanya yang bagaimana?” balas Yoona tak mengerti.

“Sehun tampan bukan Yoong?” Yuri kali ini memperjelas pertanyaannya.

“Untuk ukuran namja, dia memang tampan.”

“Bagaimana dengan Luhan? Lebih tampan siapa, Luhan atau Sehun?” goda Yuri sambil tertawa pelan.

Setelah berpikir lama. Yoona tersenyum dan menjawab, “Tentu saja Luhan.”

Malam ini langit tak berawan. Sehingga terlihat jelas bintang-bintang yang bertaburan. Cahayanya yang berkedap-kedip, tak jarang menimbulkan pertanyaan seperti apa rasanya terbang ke langit dan berada diantara bintang-bintang. Luhan duduk di atap rumahnya. Lebih tepatnya lantai 3 rumahnya. Lantai 3 rumahnya sebagian tak tertutupi atap yang sebenarnya dijadikan sebagai tempat menjemur pakaian. Sedangkan untuk Luhan dan Yoona sendiri, tempat ini dijadikan sebagai tempat mereka untuk menatap langit. Luhan dan Yoona sering menghabiskan malam mereka disini. Mengerjakan tugas, belajar bersama, bercanda atau menatap langit.

Terdengar suara langkah kaki berjalan menuju Luhan. Luhan yang sedang memetik gitarnya pun menghentikan kegiatannya dan menoleh ke asal suara. Dan terlihat Yoona sedang membawa sepiring potongan buah apel yang sudah dikupas dan teh hangat.

“Hei.” sapa Yoona sambil tersenyum dan meletakkan piring yang ia bawa.

Eomoni menyuruh ku membawa ini.” Lanjutnya sambil menunjuk piring buah yang ia bawa. Karena sangat sering Yoona berada di rumah Luhan, begitupun sebaliknya Luhan juga sering berada di rumah Yoona, Yoona tidak canggung memanggil eomma Luhan dengan panggilan eomoni dan Luhan yang memanggil eomma Yoona dengan sebutan eomoni juga. Mereka hanya bersahabat. Ya bersahabat, tak lebih. Meskipun keduanya saling memendam rasa.

Luhan kembali memetik gitarnya sedangkan Yoona menatap langit malam.

“Ku dengar dari Yuri ada mahasiswa baru di kelas mu tadi. Benarkah?” tanya Luhan memecah suasana. Sebenarnya Luhan penasaran dengan namja yang bernama Oh Sehun. Bagaimana tidak, tadi Yuri menceritakan mengenai Oh Sehun dan tak lupa dengan kejadian saat Sehun menahan tangan Yoona.

Ne.” jawab Yoona datar, tak tertarik dengan apa yang Luhan tanyakan.

“Pasti aku lebih tampan dari namja itu. Kau bahkan terlihat malas saat membicarakannya.”

Luhan diam-diam menghela napas lega saat mengetahui reaksi Yoona. Setidaknya ia tak ingin melihat ekspresi Yoona yang bahagia saat bercerita tentang namja lain. Karena itu akan berdampak buruk untuk Luhan, tentu saja mengingat Luhan sangat menyukai gadis di sebelahnya ini. Gadis yang sedang asyik melahap apel-apel yang kini tinggal setengahnya. Gadis yang selama delapan tahun ini selalu menemaninya. Gadis yang selama delapan tahun ini memberi warna di hari-harinya. Gadis yang selama ini diam-diam ia cintai.

“Percaya diri sekali kau tuan Xi. Sehun lebih tampan dari mu, kau tahu?” ucap Yoona santai. Sebenarnya Yoona berbohong, di matanya satu-satunya namja yang menurutnya tampan hanya Xi Luhan.

Jeongmal?” Luhan secara tiba-tiba mendekatkan tubuhnya ke tubuh Yoona. Jarak diantara mereka hanya beberapa centimeter. “Lihatlah wajah tampan ku ini nona Im. Dalam waktu tiga detik, kau akan jatuh cinta padaku.” Sambungnya.

Yoona menatap mata luhan. Seolah-olah tersihir dengan tatapan mata yang dalam milik seorang Xi Luhan.

“Tiga…dua…satu…bingo!” Yoona dapat merasakan wajahnya memerah dan jantungnya berdetak tak beraturan dan tak lama setelah itu Luhan menjauhkan tubuhnya dan tertawa keras.

“Hahahahahaha wajahmu merah sekali Yoong.”

Melihat hal itu, Yoona memukul kepala Luhan dengan keras dan disambut dengan rintihan Luhan.

Yak! Tenagamu besar sekali!”

“Rasakan itu tuan Xi. Siapa suruh menggodaku seperti tadi!”

“Oh…jadi kau mau ku goda seperti apa nona Im?” Luhan menatap mata Yoona dengan pandangan menggoda.

Sementara Yoona hanya bisa memberikan death glare untuk Luhan. Tak berniat membalas perkataan Luhan.

“Nyanyikan lagu buatan mu yang aku request.” ucap Yoona sambil tersenyum.

“Kau berani bayar aku berapa? Lagu-lagu yang ku ciptakan selalu bagus. Aku harus dapat imbalan jika kau mau aku menyanyikannya.” Luhan memetik gitarnya pelan. Mencari nada yang pas untuk lagu yang akan ia nyanyikan.

“Kau kan sudah berjanji tadi pagi Xi Luhan!” kesal Yoona. Ia melipat kedua tangannya di dada dan mempoutkan bibirnya. Merajuk.

“Baiklah. Aku akan menyanyikannya untuk mu, nona cerewet.”

Yoona secara seketika tersenyum lebar saat Luhan menyerah dan mengabulkan permintaannya.

Petikan-petikan gitar mulai terdengar. Menciptakan nada-nada yang indah. Seolah-olah menyatu dengan langit malam. Tak lama kemudian terdengar suara Luhan menyanyikan bait-bait lirik yang telah dibuatnya. Indah dan sangat enak didengar. Dan perlahan Yoona memejamkan matanya. Menikmati dan meresapi makna yang tersembunyi di balik lagu tersebut.

Lagu tersebut di akhiri dengan tepuk tangan Yoona yang heboh sambil berteriak, “Daebak! Kau hebat! Aku suka lagunya!”

Luhan hanya tersenyum menanggapi teriakan Yoona. “Bagaimana menurut mu lagunya?”

“Bagus! Apa benar kau yang menciptakan lagu itu?”

“Tentu saja. Memangnya siapa lagi?” tukas Luhan bangga.

Yoona mendesis pelan melihat Luhan yang tiba-tiba saja narsis. “Apa kau berencana mengikuti festival kampus? Ku dengar akan ada lomba menciptakan lagu.” tanya Yoona antusias.

Sesungguhnya Yoona sangat ingin Luhan mengikuti lomba ini. Sungguh kesempatan yang bagus untuk menyalurkan hobi Luhan yang selain gemar bermain sepak bola, tetapi juga menciptakan lagu.

“Entahlah. Aku belum yakin. Memangnya kapan acara itu diadakan?”

“Sekitar dua bulan lagi. Oh ayolah. Kau harus ikut. Kau berbakat menciptakan lagu.”

“Baiklah. Tapi dengan satu syarat.” Luhan kembali memetik gitarnya sekilas.

“Apa?”

“Kau harus melihat ku bernyanyi. Bagaimana?”

“Ah tentu saja. Itu bukan sebuah syarat. Aku memang ingin melihat mu bernyanyi di depan umum.”

“Janji?”

“Ya. Aku berjanji.” ucap Yoona sambil tersenyum manis. Dan hal itu cukup membuat tidur Luhan malam ini nyenyak.

Rutinitas pagi hari Yoona dan Luhan tidak jauh berbeda dengan pagi di hari yang lain. Saling berteriak melalui jendela kamar masing-masing. Han ahjumma yang merecoki kegiatan mereka. Luhan yang menunggu Yoona di depan pintu rumahnya. Serta Luhan dan Yoona yang berangkat bersama ke kampus. Namun cuaca hari ini cukup mendung, seolah-olah mengisyaratkan hal buruk akan terjadi.

Sudah seperempat jam Yoona menunggu Luhan di depan perpustakaan kampus. Ia berdiri sambil menatap tetesan hujan yang membasahi bumi. Gerimis. Yoona bisa saja langsung pulang mengingat hanya gerimis yang terjadi. Bukan hujan deras atau badai yang menyulitkannya untuk pulang. Sayangnya ia menunggu Luhan. Tadi Luhan sempat mengajaknya untuk pulang bersama. Dan mereka sepakat bertemu di depan perpustakaan.

Karena bosan, ia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tak ada siapapun pada sore hari yang gerimis ini. Ia kembali menatap gerimis dihadapannya sembari menunggu Luhan. Ada yang mengusik pikirannya. Akan tetapi Yoona tak tahu persis apa yang mengusik pikirannya.

“Kau menunggu seseorang?” tanya seseorang yang berdiri di sampingnya. Yoona menolehkan kepalanya mencari tahu siapa yang bertanya padanya. Jangan lupakan bahwa Yoona tadi hanya sendiri disini. Sebelum seseorang ini datang.

Yoona segera berdecak pelan. Berpikir ulang hal yang terjadi hari ini. Dan sebagian besar adalah hal yang menyebalkan. Namja yang kemarin bertingkah aneh, hari ini mengganggu Yoona dengan bertanya hal-hal yang tidak masuk akal dan tidak penting serta mengikuti Yoona kemanapun ia pergi. Dan seolah-olah dewi fortuna sedang tidak berpihak padanya, kini ia kembali diganggu oleh namja ini lagi. Siapa lagi jika bukan Oh Sehun.

“Kau bertanya padaku?”

“Tentu saja. Memangnya siapa lagi orang disini selain kau dan aku.”

Yoona yang tak berniat membalas pernyataan Sehun hanya diam.

“Kau menunggu seseorang?” Sehun bertanya sekali lagi.

“Bukan urusanmu.” Jawab Yoona ketus.

“Baiklah.” Sehun mengendikkan bahunya asal.

Yoona dan Sehun memandangi gerimis yang turun dan mereka sibuk dengan pikiran mereka sendiri, yang tanpa mereka berdua tahu sama-sama memikirkan hal yang serupa. Yoona merasa bahwa hal seperti ini pernah terjadi. Gerimis, suasana yang sepi dan seseorang di sampingnya. Tapi ia tidak dapat mengingat dengan pasti apakah hal seperti ini memang pernah terjadi atau tidak.

Cukup lama mereka terdiam hingga akhirnya Sehun memecah keheningan diantara mereka.

“Apa kau mengingatnya?”

“Apa?” tanya Yoona tak mengerti.

“Lupakan.” Sehun kembali menatap gerimis di depannya sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

“Kau bisa berdansa?” Yoona menatap Sehun dengan tatapan yang sulit diartikan. Entah kenapa, ia benar-benar merasa bahwa hal ini pernah terjadi sebelumnya.

“Ya. Aku bisa.” Jawab Yoona ragu.

Setelah mendengar jawaban Yoona, Sehun mengeluarkan tangannya dari saku celana dan mengulurkan tangannya seolah-olah meminta persetujuan dari Yoona.

May I?”

Dan Yoona menyambut uluran tangan Sehun. Bersedia dengan ajakannya.

Sambil menuntun tangan Yoona, Sehun mengajak Yoona berjalan ke halaman perpustakaan. Gerimis kecil dapat mereka rasakan mengenai tubuh mereka. Namun mereka seolah-olah tak peduli. Seakan-akan mencari pembenaran akan hal yang menjadi pertanyaan mereka di benak masing-masing.

Sehun meletakkan tangan kanannya dipinggang ramping Yoona dan tangan kirinya menggenggam tangan kanan Yoona. Ia mulai menggerakkan kakinya pelan, seakan-akan menyamakan langkah kaki dengan gerimis yang turun. Keduanya semakin larut dalam suasana ini. Mereka pun semakin tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hingga keduanya menyadari bahwa hal seperti ini pernah terjadi. Diantara mereka.

Namun Yoona masih belum yakin. Mungkin hanya kebetulan. Akan tetapi hal tersebut terpatahkan saat Sehun mulai bersenandung pelan. Lagu yang seolah-olah menjadi pengiring dansa mereka. Lagu kenangan mereka berdua. Tak salah lagi, Sehun adalah namja yang sama yang mengajak Yoona berdansa dibawah gerimis sepuluh tahun yang lalu. Namja yang menjadi cinta pertamanya.

Saying ‘I love you’ is not the words

I want to hear from you

It’s not that I want you

Not to say but if you only knew

How easy it would be to show me how you feel

More than words

Is all you have to do to make it real

Then you wouldn’t have to say that you love me

Cause I’d already know

 

Sehun mengakhiri lagu yang ia nyanyikan. Berharap gadis yang ada di hadapannya segera mengingatnya. Tak lama setelah itu, Yoona memeluk Sehun erat. Menghentikan dansa mereka.

“Kenapa kau tidak mengatakannya dari awal bahwa kau yang mengajakku berdansa sepuluh tahun yang lalu.” Lirih Yoona sambil berusaha menahan tangis. Akhirnya ia menemukan cinta pertamanya.

Sehun membalas pelukan Yoona. Ia tersenyum. Bahagia ketika akhirnya Yoona menyadari siapa sesungguhnya dirinya.

“Kau yang sejak awal melupakan aku.” Ucap Sehun pelan.

“Aku hanya tidak menyadarinya. Mianhae.”

It’s okay. Finally I found you.”

Jika ada yang mengatakan ‘First Love Last Forever’, maka keduanya akan membenarkan. Yoona dan Sehun bertemu sepuluh tahun di bawah gerimis yang turun ke bumi. Sehun saat itu berinisiatif mengajak seorang gadis yang baru saja dikenalnya secara tak sengaja. Sehun mengajak Yoona berdansa untuk menghentikan tangis Yoona saat terjatuh. Dan dibalas Yoona dengan gelengan kepala. Bukannya tidak mau, ia tidak bisa berdansa. Tetapi Sehun mengulurkan tangannya dan entah dengan dorongan apa Yoona menyambutnya. Dibawah gerimis yang turun dan lagu yang Sehun senandungkan, keduanya menikmati dansa yang mereka lakukan. Hal itu terhenti saat suara seseorang memanggil Yoona. Dan Yoona pergi begitu saja.

Keduanya kini berpelukan. Saling melepas rindu yang tersimpan erat dalam dada.

Tanpa mereka ketahui, seseorang memperhatikan mereka dari kejauhan sambil menggenggam erat payung yang ia gunakan. Seolah-olah menyalurkan semua rasa sedihnya setelah melihat Yoona dan Sehun berdansa serta saat melihat Yoona yang secara tiba-tiba memeluk Sehun. Perlahan Luhan meninggalkan tempat itu dengan perasaan terluka. Jika hati dapat diibaratkan sebagai kertas, maka hati Luhan saat ini tak ayal hanyalah sebuah kertas kosong yang telah dirobek, diremas dan dibakar menjadi abu.

Luhan menyadari perubahan itu. Ia memang masih saling berteriak dari jendela saat pagi hari, tapi mereka tidak akan berangkat ke kampus bersama. Luhan setiap pagi akan menunggu Yoona di depan pintu rumahnya, namun yang ditunggu tak kunjung datang. Sehun kini setiap pagi menjemput Yoona, sehingga otomatis Yoona tidak bisa bersama Luhan menuju kampus. Pernah suatu hari Luhan berjalan ke halte bus. Sendiri, tanpa Yoona. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti disampingnya dan membuat langkahnya terhenti. Kaca mobil terbuka dan terlihatlah Sehun di kursi pengemudi dan Yoona di kursi penumpang sebelah Sehun. Saat itu Yoona mengajak Luhan berangkat bersama, dengan menaiki mobil Sehun. Tapi dengan halus Luhan menolak. Ia lebih nyaman menggunakan bus.

Hingga akhirnya perubahan-perubahan mulai benar-benar terlihat diantara mereka. Yoona dan Luhan tak sedekat dulu. Yoona akan lebih sering bersama Sehun. Dan hal itu semakin membuat Luhan merasa tersisihkan. Bahkan Han ahjumma menyadari perubahan itu. Bagaimana tidak, Luhan dan Yoona yang setiap pagi akan membuat keributan di kompleks perumahan mereka, kini tidak saling berteriak dari masing-masing jendela. Bahkan jendela Yoona dan Luhan tertutup rapat. Tak seperti biasanya yang selalu terbuka lebar.

Han ahjumma pernah bertanya perihal rutinitas pagi Luhan dan Yoona yang kini tidak mereka lakukan saat Luhan melintas didepan rumah Han ahjumma. Dengan sopan, Luhan hanya bisa tersenyum dan mengatakan bahwa ia bangun kesiangan akhir-akhir ini. Sedangkan Yoona, saat Han ahjumma menanyakan hal serupa, hanya dibalas cengiran lebar dan ucapan Yoona yang menjelaskan bahwa ia sangat sibuk beberapa hari terakhir.

Yoona yang merasa bahwa akhir-akhir ini ia mengabaikan Luhan, mulai merasa bersalah. Ia tak bermaksud mengabaikan Luhan. Hanya saja ia kini lebih sering menghabiskan waktunya bersama Sehun. Dan Yoona sudah berinisiatif untuk mengunjungi Luhan mala mini. Setidaknya untuk memperbaiki persahabatan mereka yang mulai terasa hambar.

Yoona melangkahkan kakinya menuju atap rumah Luhan. Sambil membawa sepiring potongan semangka. Tadi sebelum Yoona naik ke atap, eomma Luhan sempat menyuruh Yoona membawa sepiring buah sambil mengatakan bahwa sudah lama Yoona tidak main ke rumah.

Luhan masih memetik gitarnya. Kebiasaannya saat malam hari masih terus berlanjut. Meskipun kini Yoona tak lagi menemaninya. Sebenarnya Luhan tahu bahwa seseorang berjalan menuju ke arahnya. Dan Luhan tahu bahwa itu adalah Yoona. Tapi Luhan berusaha mengabaikannya, karena Luhan sudah sering berkhayal melihat Yoona yang datang menemaninya saat malam hari. Seperti melihat fatamorgana.

“Hei.”

Luhan menghentikan kegiatannya dan menoleh ke sumber suara. Dapat ia lihat kini Yoona duduk sambil meluruskan kakinya. Dan memakan buah semangka. Mungkin hanya halusinasinya saja melihat Yoona disini. Luhan pun melanjutkan kegiatannya yang terhenti tadi.

Karena tak mendapat balasan dari Luhan, Yoona pun melanjutkan, “It’s been a while.”

Dan lagi, Luhan mengentikan petikkan gitarnya dan menatap tak percaya ke Yoona. Ternyata bukan hanya halusinasinya saja. Yoona memang benar-benar duduk disampingnya.

You’re right.” Diam-diam Luhan tersenyum. Setidaknya Yoona menemaninya malam ini dan sedikit mengobati rasa rindu yang ia rasakan karena hilangnya Yoona dari pandangannya akhir-akhir ini.

How’s life?” tanya Yoona canggung. Beberapa hari tak bertegur sapa dengan Luhan membuatnya bingung memulai pembicaraan.

“Menurutmu?”

“Mian.”

Luhan mendengus kesal. “Tidak masalah. Kau terlalu sibuk. Tentu saja dengan pangeran baru mu.”

“Bukan seperti itu. Akhir-akhir ini dosen memberikan tugas yang benar-benar banyak. Oleh karena itu Sehun sering membantu ku.”

Mwo? Kau bahkan tak meminta bantuan ku Im Yoona. Bagaimana aku bisa membantu mu jika kau saja tak memintanya.” Ucap ku tak percaya.

“Kau tahu kan aku dan Sehun satu jurusan. Jadi akan lebih mudah untuk mendiskusikannya bersama Sehun.”

“Apa kau tak mengerti maksud ku Yoong? Mungkin aku memang tak bisa membantu banyak. Tapi aku masih memberikan dukungan untuk mu. Tak tahukah kau Yoong?”

“Aku tahu. Hanya saja keadaannya tak memungkinkan.”

“Baik. Aku mengerti. Kau sepertinya lebih senang bersama dengan pangeran baru mu. Apa kau tahu setiap malam aku menunggu mu disini. Sekedar bercerita tentang hari-hari yang telah kita lalui. Sekedar menanyakan kabar. Sekedar bercanda dan talk about nonsense thing.”

Mianhae. Aku tak bermaksud.”

“Sudahlah lupakan. Mungkin kau lebih nyaman bersama Sehun. Daripada dengan ku. Apalah arti diriku di mata mu Yoong. Hanya sebuah kertas kosong tak berguna. Nikmati waktu mu dengan Sehun.”

Dengan cepat Luhan melangkahkan kakinya sambil membawa gitar menuju kamarnya. Sementara Yoona merasa tertampar akan kalimat Luhan. Memang benar Yoona mengabaikannya. Dan hal itu membuat Yoona merasa bersalah. Dan tanpa ia sadari, ia sudah terisak “Mianhae…mianhae Luhan.”

Yoona sudah bersiap berangkat ke kampus. Mengabaikan fakta bahwa jendela Luhan pagi ini tak terbuka. Padahal Yoona sudah berdiri di balik jendelanya menunggu Luhan membuka jendelanya dan melakukan rutinitas mereka. Dengan perasaan kecewa, Yoona beranjak dari jendela kamarnya. Mungkin ini yang dirasakan Luhan setiap paginya saat Yoona tak membuka jendela kamarnya. Bukannya ia tak mau melakukan rutinitas seperti biasanya. Karena biasanya Sehun akan rajin menelpon Yoona setiap pagi sekedar memastikan bahwa gadis itu sudah bangun. Padahal Yoona bukan tipe gadis yang bangun siang. Entah kenapa ia tak bisa menolak telepon dari Sehun dan akhirnya membuatnya melupakan rutinitas paginya bersama Luhan.

Yoona bersenandung pelan sambil melangkahkan kakinya ke rumah Luhan setelah menghabiskan sarapannya. Ia berniat untuk berangkat bersama dengan Luhan. Ia bahkan menolak tawaran Sehun yang akan menjemputnya. Saat sampai di depan rumah Luhan, Yoona melihat eomma dan appa Luhan yang hendak berangkat kerja.

Annyeong eomoni. Annyeong abonim.” Sapa Yoona ramah.

Annyeong Yoona. Sudah lama kau tak main ke sini.” Sahut appa Luhan ramah. Appa Luhan bahkan sudah menggap Yoona sebagai anaknya karena seringnya Yoona berada di rumah Luhan. Dan itu dulu.

Ne. Aku sibuk mengerjakan tugas abonim. Aku akan sering berkunjung kesini. Apa Luhan masih di dalam?”

“Sayang sekali Yoona. Luhan sudah berangkat baru saja. Entah kenapa sekarang ia lebih awal berangkat kuliah dan menggunakan mobilnya.”

“Oh geurae. Aku permisi dulu eomoni abonim.” Pamit Yoona sambil tersenyum dan dibalas dengan senyuman eomma dan appa Luhan.

Yoona berjalan menuju halte bus. Biasanya ia akan berjalan bersama Luhan. Mungkin ini yang dirasakan Luhan saat Yoona dijemput Sehun. Merasa sendiri dan waktu terasa lebih lama. Dan perlahan Yoona mulai merasakan apa yang Luhan rasakan, saat ia secara tak sengaja mengabaikan Luhan.

Perubahan-perubahan itu benar-benar terasa. Rutinitas pagi Luhan dan Yoona seolah-olah tak pernah mereka lakukan. Tak ada teriakan antar dua penghuni rumah yang berseberangan. Tak ada Han ahjumma yang ikut merecoki kegiatan mereka. Tak ada Luhan yang setia menunggu Yoona di depan rumahnya.

Yang ada hanya jendela kamar yang masing-masing saling tertutup rapat. Seolah-olah menyembunyikan pemiliknya. Yang ada hanya Luhan yang setiap pagi berangkat lebih awal. Yang ada hanya Yoona yang tak kunjung melihat Luhan setiap pagi di depan pintu rumahnya. Yang ada hanya Sehun yang selalu menjemput Yoona setiap pagi.

Bahkan di kampus pun, Yoona dan Luhan tak pernah berpapasan. Tak sekali dua kali Yoona mencari Luhan ke gedung fakultasnya. Tetapi Luhan tak pernah ia temukan. Dan sepertinya, Luhan masih menghindarinya.

Hal itulah yang membuat Yoona dan Luhan mulai terbiasa dengan perubahan itu. Tak benar-benar terbiasa. Tak semudah itu bukan mengubah kebiasaan mu selama delapan tahun terakhir?

Saling menjaga jarak. Meskipun diam-diam keduanya saling merindukan.

“Sampai kapan kau akan menghindari Yoona seperti ini?” sebuah suara diserta tepukan ringan mendarat di pundak Luhan.

Luhan menolehkan kepalanya sekilas ke sumber suara, Chanyeol. Lalu melanjutkan tugasnya. Tugasnya memang masih dikumpul minggu depan. Tetapi karena tidak ada kegiatan, ia akhirnya mengerjakan tugas tersebut. Tak biasanya Luhan serajin ini. Biasanya ia akan menghabiskan waktu dengan Yoona. Tetapi itu dulu. Sekitar dua bulan yang lalu.

Aish anak ini. Bisa-bisanya tak menjawab pertanyaanku.” Sungut Chanyeol.

“Kurasa aku tak perlu menjawab pertanyaan mu.”

“Kau dan Yoona harus segera berbaikan. Selesaikan masalah kalian. Yuri bahkan sampai cerita pada ku bahwa Yoona uring-uringan karena kau selalu menghindarinya.” Keluh Chanyeol.

Luhan meletakan bolpoin dan menutup bukunya. Ia jadi malas mengerjakan tugasnya karena kalimat Chanyeol. “Aku tidak menghindarinya. Aku hanya menjaga jarak darinya.”

“Itu sama saja bodoh.” Umpat Chanyeol kesal sambil memukul kepala Luhan dengan buku yang ada di dekatnya.

“Lagipula ada masalah apa sih kau dengan Yoona? Apa karena Sehun?” sambungnya.

Tatapan Luhan menjadi tak terbaca. Dan rahangnya mengeras. Berusaha menyembunyikan amarahnya. Amarah karena Sehun merebut Yoona darinya.

“Tidak baik seperti ini terus Luhan. Lagipula, seharusnya kau bertindak cepat jika kau tak mau Yoona diambil Sehun. Ku lihat mereka semakin dekat. Selalu pergi berdua.”

Luhan menghembuskan napasnya kesal. Lelah akan percakapan ini. Sejujurnya ia tak bermaksud menghindari Yoona. Hanya saja Luhan berusaha memberikan waktu untuk Yoona. Mungkin Yoona memang sedang sibuk. Atau mungkin Yoona memang sudah tak peduli dengan Luhan.

Dan sialnya selama beberapa hari mengamati Yoona dan Sehun secara diam-diam. Harus Luhan akui bahwa mereka memang serasi. Cantik dan tampan. Pasangan yang sempurna. Dari gossip yang beredar, Yoona dan Sehun sudah menjalin sebuah hubungan. Hubungan yang akhirnya membuat Luhan tersenyum kecut. Ia kalah dari seorang Oh Sehun.

“Bukankah kau ikut festival kampus bagian menciptakan lagu?” tanya Chanyeol mengalihkan topik pembicaraan saat ia rasa Luhan semakin kesal dengan ucapannya tadi.

“Aku tidak tahu.”

Wae? Ku dengar dari Yuri yang tahu dari Yoona bahwa kau akan ikut lomba menciptakan lagu.”

Seketika Luhan mengingat janjinya dengan Yoona. Ia bahkan hampir melupakannya.

Luhan segera membereskan barang-barangnya dan bergegas meninggalkan Chanyeol di taman kampus. Dan Chanyeol hanya bisa berteriak kesal saat Luhan meninggalkannya sendirian. Entah apa yang ada di pikiran Luhan.

Festival kampus di Seoul University sangat meriah. Stand yang menjajakkan berbagai macam makanan yang dijual secara murah meriah hingga buku-buku dan baju-baju yang dijual setengah dari harga awal.

Tak terasa hari beranjak malam. Dan sebagai penutup festival kampus, panitia sudah menyiapkan panggung hiburan dengan pengisi acara yang menarik dan memukai penonton. Malam semakin larut, dan tibalah di puncak acara. Akan di umumkan pemenang drai lomba menciptakan lagu.

Hanya ada tiga orang yang lolos dan berhak tampil sebagai pengisi acara mala mini. Dan pemenangnya akan ditentukan oleh respon penonton yang melihat penampilan.

Xi Luhan lolos dalam seleksi tersebut bersama dengan Byun Baekhyun dan Kim Jongdae. Byun Baekhyun tampil sebagai kontestan pertama, Kim Jongdae sebagai kontestan kedua dan Xi Luhan sebagai kontestan terakhir.

Lantunan lagu yang dinyanyikan Baekhyun membuat orang ceria. Begitu juga dengan Kim Jongdae. Hingga tiba giliran Luhan.

Saat MC meneriakkan namanya, Luhan segera naik ke atas panggung. Tak lupa dengan gitar kesayangannya. Malam ini ia akan menyanyikan lagu ciptaannya. Segala perasaannya ia tumpahkan dalam lagu tersebut. Berharap seseorang yang kini dirangkul oleh Sehun mengerti maksudnya.

Sebelum memulai, Luhan mengatur posisi duduknya agar ia nyaman saat bernyanyi pada kursi yang telah disediakan.

“Lagu ini aku persembahkan untuk seseorang yang selama delapan tahun ini selalu berada di samping ku, mewarnai hari-hari ku dan selalu menjadi bagian dari hidup ku. Dan sekarang, I’ll let you fly away.

Petikan gitar mulai terdengar. Dan tak lama kemudian suara Luhan mengalun mengiringi gitar yang dipetiknya.

Sudah sewindu ku di dekatmu

Ada di setiap pagi, di sepanjang hari mu

Tak mungkin bila engkau tak tahu

Bila ku menyimpan rasa yang ku benam sejak lama

Setiap pagi ku menunggu di depan pintu

Siapkan senyum terbaikku agar cerah harimu

Cukup bagiku melihatmu tersenyum manis

Di setiap pagimu, siangmu, malammu

Sesaat dia datang pesona bagai pangeran

Dan beri kau harapan bualan cinta di masa depan

Dan kau lupakan aku semua usahaku

Semua pagi kita, semua malam kita

Oh tak akan lagi ku menemuimu di depan pintu

Dan tak ada lagi tutur manis ku merayumu

 

Penonton semakin hanyut dalam lagu yang Luhan nyanyikan. Perasaan yang ingin Luhan utarakan terwakili lewat lagu yang yang ia nyanyikan. Bahkan tak sedikit yang mengangkat tangannya dan melambaikan ke kanan dan ke kiri secara berulang-ulang. Terbawa suasana yang Luhan ciptakan.

Jujur memang sakit di hati

Bila kini nyatanya kau memilih dia

Takkan lagi ku sebodoh ini

Larut di dalam angan-angan tanpa tujuan.

Oh tak akan lagi ku menemuimu di depan pintu

Dan tak ada lagi tutur manis ku merayumu

Oh tak akan lagi ku menemuimu di depan pintu

Dan tak ada lagi tutur manis ku merayumu

 

Dan lagu tersebut diakhiri dengan sorak sorai penonton yang terhibur dengan penampilan Luhan. Lagu yang Luhan nyanyikan benar-benar menyentuh. Bahkan tak sedikit penonton yang sampai meneteskan air matanya.

Luhan bangkit dari duduknya dan membungkukkan badan sambil mengucapkan terima kasih. Setelah itu, ia turun dari panggung dan beranjak pulang. Bahkan ia tak menunggu pengumuman pemenangnya. Baginya hal itu tidak penting. Yang terpenting saat ini, ia akhirnya menyampaikan perasaannya untuknya. Untuk Yoona.

Jam sudah menunjukkan pukul 22.31 malam. Entah kenapa Luhan tidak bisa tidur malam ini. Ada sesuatu yang mengganjal. Entah apa itu. Seharusnya ia merasa tenang karena sudah mengungkapkan seluruh perasaannya. Meskipun hanya lewat lagu. Tapi tak apa, setidaknya ia sudah mengungkapkannya. Setidaknya Yoona harus tahu.

Terdengar suara pintu yang di ketuk disusul suara eommanya. “Luhan. Kau sudah tidur?”

Luhan beranjak dari tempat tidurnya dan membuka pintu kamarnya. “Belum eomma. Ada apa?”

“Tadi Yoona datang kemari membawa ini untukmu.” Eomma menyodorkan sebuah piagam, sertifikat dan dua buah amplop. Mungkin isinya uang.

Luhan mengambil benda-benda tersebut dan menutup pintunya setelah eommanya pergi dari kamarnya.

Dibukanya salah satu amplop. Dan benar saja, ternyata amplop tersebut berisi uang. Kemudian ia membuka amplop yang satunya. Hanya ada selembar kertas dengan tulisan. Sepertinya Luhan mengenali tulisan tersebut. Dibacanya kertas itu.

Hei Luhan

 

Apa kau masih mengingat tulisanku? Tulisan cakar ayam, begitulah yang selalu kau katakan setiap kali melihatnya. Sungguh jahat. Padahal tulisan ku bagus, yah meskipun tak sebagus tulisan mu hehehe

 

Apa kabar? Bahkan untuk sekedar menanyakan kabar saja harus lewat sebuah surat dulu. Padahal dulu kita sering saling berteriak di pagi hari. Dulu. I miss that moment so bad. Sebenarnya tidak, yang benar adalah aku benar-benar rindu rutinitas kita Lu.

 

Selamat Lu! Lagu ciptaan mu selalu bagus ^^ dan kau adalah pemenangnya. Sayangnya kau langsung pulang setelah tampil.

 

Aku suka lagu mu Lu. Terasa familiar di telinga ku. Apakah lagu itu untuk ku?

 

Sudah delapan tahun kita bersama Lu. Kau teman ku, kau sahabat ku, kau keluarga ku, dan kau segalanya untukku. Kau selalu ada di setiap pagi, siang bahkan malam ku. Mana mungkin aku tak tahu perasaan mu Lu? Aku tahu itu.

 

Aku juga tahu kau selalu menunggu ku di depan pintu rumah mu dan kita akan berangkat bersama. Dan dengan senyuman mu di setiap pagi, aku mampu melangkah dengan ringan kemanapun. Aku pun memberikan senyuman ku untuk mu, berharap agar hari mu indah setelah melihat senyum ku kekekeke :p

 

Aku dan Sehun. Kau tahu? Dia cinta pertama ku. Aku belum sempat menceritakan hal ini pada mu, tapi ku yakin kau pasti tahu tentang cinta pertama ku yang pernah ku ceritakan. Dan ya, dia datang dengan sejuta pesonanya. Aku hanya menganggap Sehun sebagai teman ku. Yah walaupun dia juga cinta pertama ku ahahahaha dia seringkali membantu ku dan jangan pernah katakan bahwa aku melupakan mu. Tentu saja tidak bodoh. Bagaimana mungkin seorang Im Yoona melupakan Xi Luhan?

 

Aku mulai kehilangan mu saat kau tak lagi menunggu ku Lu. Bahkan untuk bertukar sapa saja kita tidak pernah lagi Lu. Apakah kau sudah tak mau menemui ku? Aku merindukan mu. Sangat. Dan karena sebulan ini kau menghindar, aku dan Sehun semakin dekat. Aku menyukainya. Tetapi aku lebih menyukai mu. Hingga beberapa hari lalu dia mengungkapkannya pada ku. Aku bisa apa Lu? Aku kira kau menyukai ku, tapi melihat tingkah mu membuat ku berpikir bahwa apa yang ku kira semua salah. Kau membuat ku tak mempunyai pilihan selain merimananya.

 

Kau tahu apa yang membuat ku marah? Kau, selama delapan tahun ini, kenapa tak pernah sekalipun kau mengatakannya pada ku? Kau, selama delapan tahun ini, kenapa hanya memendamnya saja? Dan kau, selama delapan tahun ini, kenapa hanya mengungkapkan lewat lagu tanpa meminta jawaban ku?

 

Dan apa kau tahu? Aku menyukai mu. Aku mencintai mu, selama delapan tahun ini.

 

Kau bodoh Xi Luhan. Aku tak pernah melupakan semuanya, kau yang tak berani mengambil langkah. Kau bodoh.

 

Luhan memegang surat dari Yoona dengan tangan bergetar. Ia sungguh tak menyangka. Ia kira Yoona lebih menyukai Sehun. Tetapi yang dia pikirkan salah.

Dan dia benar-benar menjadi manusia yang bodoh selama delapan tahun ini.

 

.

 

.

END

Author’s note:

Hai. Ada yang inget aku? Wkwkwkwkwk aku hadir kembali dengan membawa ff baru. One shoot, jadi awas aja ya kalo ada yang bilang ini kependekan. Ini udah panjang lho. Hohoho sekalian aku mau ngasih tau kalo ff ku yang secret abal2 itu, terpaksa nggak aku lanjutin. Karena komen yang menurun dengan indahnya~~ yah walaupun ff ini juga abal2 sih hehehe -_- sumpah aku geli sendiri baca ulang ff ini -_- mau aku rombak tapi nanti makin aneh. Yasudahlah~ mau dikatakan apa lagi~

Dan sebagai penggantinya, aku bawa ff yg baru ini. Eight years. Ada yang nyadar kalo ff ini terinspirasi dari lagunya Tulus-Sewindu? Pasti nggak ada yang nyadar hahahahahaha paling kalo ada, nyadarnya di akhir doang.

Sebenernya sih kalo dari judulnya, aku plesetin gitu jadi eight years. Abisnya kan sewindu itu kan udah masuk (?) bahasa Indonesia. Jadi kalo aku bikin judul sewindu tuh agak gimanaaaaa gitu, makanya aku jadiin inggris aja.

Yah namanya juga ide memberontak keluar (?) aku bisa apa? Selain menuangkannya dalam ms.word hahaha padahal di tengah-tengah UAS 3 minggu. 3 minggu coy~~ duh kejiwaan gue -_-

Semoga ff ku bisa dimengerti oleh kalian yang membaca. Dan satu lagi aku pake lagunya westlife yang more than words, entah kenapa tiba-tiba pengen lagu itu aja gtu.

Intinya, dibalik ff ini ada makna tersembunyi, yaitu kalo suka sama seseorang, bilang aja. Daripada nyesel, siapa tahu orang itu juga suka. Kalo engga ya gapapa, cari yang baru (?)

Sekian dan annyeong ^^

Jangan lupa RCL!!!!!

32 thoughts on “(Freelance) Oneshot : Eight Years

    • serius aku ngakak bacanya😀 sejujurnya ini ff berantakan banget, aku malah gak nyangka ff ini bakal di post, karena sebelum pengumuman ff yg dibatasi sampe akhir februari itu, aku sempet nulis di box author freelance kalo ini ff jangan di publish. eh ternyata pas bulan maret dipublish -_- pas pertama di publish sempet heran ngomong “kok kayaknya ini gue kenal sama ni cerita” eh ternyata ff buatan sendiri -_- gubrak banget😀 miskom sama adminnya. tapi yaudahlah gapapa *kok gue jadi curhat-_-*
      hehehe makasih tanggapannya. makasih loh udah mau baca😀

      • Haha aku ga nyangka dibales komennya sama sang author lho. Hahaha.
        Ini ff bagus bgt. Direkomendasiin sama salah satu freelancer juga disini nih.
        Katanya, ada ff sewindu di yoongexo. Lah, aku adminnya malah gak tau.
        Jehhehe iya ni miskom semoga di depannya lagi gak bakal ada miskom deh yah.
        Semangat nulis! Fighting!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s