Sense of Love 4

sense_of_love_3a

Sense of Love

by cloverqua | main casts Kim Jongin – Im Yoona

support casts Xi Luhan – Tiffany Hwang and others

genre Angst – AU – Married Life – Romance | rating PG 17 | length Chaptered

disclaimer This fanfiction is purely my own. Cast belong’s God. I just borrowed the names of characters and places. Don’t plagiat this FF! Please keep RCL!

Happy reading | Hope you like it

2015©cloverqua

.

Synopsis | 1 | 2 | 3

.

 

30 menit berlalu semenjak Yoona dibaringkan di ranjang kamar. Belum ada tanda-tanda wanita itu akan membuka kedua matanya. Hal itu membuat Kai semakin kalut dan cemas terhadap kondisi Yoona. Belum hilang ingatan Kai saat Yoona jatuh pingsan sebelumnya, dengan darah yang keluar dari hidung. Kini untuk kedua kalinya, Yoona kembali jatuh pingsan.

“Kenapa dia belum sadar?” Kai bergumam frustasi. Hatinya berkecamuk melihat kondisi istrinya yang kembali drop seperti sekarang. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Yoona? Semua pemikiran buruk tentang kondisi wanita itu memenuhi pikirannya.

Mata Kai beralih pada hidung Yoona. Setidaknya ia bisa sedikit bernafas lega karena tidak melihat darah yang keluar seperti sebelumnya. Namun hal itu tak mengurangi rasa cemas yang terlanjur ia rasakan.

“Ngg ….,” suara pelan Yoona berhasil membuat Kai memusatkan pandangan pada dirinya. Ia mengeratkan genggaman tangannya pada tangan kiri Yoona. Raut wajahnya yang terlihat kacau semakin mempertegas keadaannya yang begitu mencemaskan Yoona.

“Yoona, kau bisa mendengarku?” Kai mencoba berinteraksi dengan Yoona, sambil menunggu reaksi selanjutnya ketika mulai ada pergerakan mata dari wanita itu.

Keheningan masih mendominasi di kamar Yoona. Belum ada respon yang keluar dari wanita itu. Yoona masih berupaya membuka matanya yang terasa sulit karena kondisinya yang begitu lemas.

“Yoona?”

Panggilan Kai yang kedua kalinya membuat Yoona memperoleh kesadarannya kembali. Ia sedikit memiringkan kepalanya agar bisa menatap Kai yang duduk di samping ranjang. Walaupun wajahnya terlihat pucat, Yoona masih bisa tersenyum hingga tidak mengurangi kecantikan yang ia miliki.

“Kai?”

Kai mengusap tangan Yoona yang digenggamnya, “Kau baik-baik saja?”

Anggukan pelan Yoona membuat Kai dilanda keraguan. Pasalnya wanita itu hanya tersenyum dan tidak mengatakan apapun. Kai bisa melihat wajah Yoona yang semakin pucat dengan keringat yang mulai bercucuran dari pelipis.

“Kita ke rumah sakit, ne?” Kai membujuk Yoona untuk menjalani pemeriksaan kembali terkait kondisi kesehatannya. Namun wanita itu menggeleng dengan ekspresi wajahnya yang berubah masam.

“Tidak perlu. Aku baik-baik saja,” jawabnya sambil memberikan senyuman untuk Kai.

“Tapi—” nafas Kai tertahan sejenak saat melihat Yoona kembali memejamkan mata, “Ini sudah kedua kalinya kau jatuh pingsan. Kita harus ke rumah sakit.”

Kai bangkit berdiri dan hendak keluar dari kamar Yoona. Namun langkah Kai terhenti ketika tangan Yoona menahan pergelangan tangannya. Kai menatap wajah pucat Yoona yang sedikit tertutupi oleh senyuman. Wanita itu menggeleng pelan untuk meyakinkan suaminya jika ia baik-baik saja. “Aku tidak mau ke rumah sakit,” ucapnya pelan.

Sekian detik, Kai terdiam dengan posisi berdiri dan tangan Yoona yang masih menahan dirinya. Sorot mata memohon dari Yoona membuatnya menyerah dan menuruti keinginan istrinya tersebut. Kai akhirnya kembali duduk di tepi ranjang Yoona. Ia mengusap kepala Yoona dengan lembut. Pertama kali bagi Kai memberikan kasih sayang pada Yoona.

“Kau baru makan sedikit saat makan malam tadi. Bagaimana jika kubuatkan bubur lagi untukmu?” Kai menawari bubur untuk Yoona agar kondisinya lekas pulih, ”Lalu kau baru bisa meminum—oh iya, suplement milikmu itu—kau taruh di mana?”

Mata Yoona sedikit melebar ketika mendengar Kai menanyakan suplement miliknya yang tidak lain adalah obat untuk penderita leukimia. Wanita itu hanya meringis dan mencoba bangkit dari posisinya, namun kondisinya masih terlalu lemas hingga membuatnya nyaris ambruk. Beruntung Kai dengan sigap menahan tubuh Yoona dan menyuruhnya untuk tetap berbaring.

“Jangan memaksakan diri. Kondisimu masih belum pulih,” pinta Kai dengan nada cemas. Perhatian yang ia berikan menunjukkan kesungguhan hati Kai yang ingin memulai kembali dengan Yoona. Sedari tadi, Yoona tak bisa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari sang suami. Kai terlihat sangat berbeda, jauh lebih perhatian dibandingkan sebelumnya.

“Aku siapkan bubur untukmu. Kau tunggu di sini,” lanjut Kai seraya bangkit lalu berjalan keluar dari kamar Yoona.

Yoona menatap pintu kamarnya yang baru saja dilalui Kai. Wanita itu menghela nafas pelan untuk melepaskan rasa gugup yang sedari ia tahan. Perhatian Kai membuatnya dilema. Ia tidak mampu lagi menahan diri untuk tidak jatuh cinta pada Kai, disusul pengakuan Kai yang menyatakan cinta padanya. Ingin rasanya Yoona segera mengiyakan permintaan Kai untuk memulai lagi kehidupan pernikahan mereka dari awal. Sayangnya, Yoona masih dibayangi-bayangi hal terpenting dalam pernikahan yang dijalaninya bersama Kai.

Perjanjian dengan Ji Hyun—sang ibu mertua, harus tetap diutamakan. Yoona tidak boleh melupakannya begitu saja. Larangan untuk tidak jauh cinta pada Kai dan masa pernikahan mereka yang hanya berlangsung selama 6 bulan. Perjanjian yang hanya menjadi rahasia mereka berdua tanpa diketahui siapapun, bagaimana bisa Yoona mengabaikannya? Ia tetap harus menepati janjinya sampai akhir masa pernikahannya dengan Kai. Barulah ia bisa mendapatkan uang secara penuh untuk biaya pengobatan dan operasi atas penyakit yang dideritanya.

Nyatanya semua tidaklah berjalan mulus seperti yang diperkirakan Yoona. Kini ia merasa ragu, apakah akan melanjutkan kesepakatan dengan Ji Hyun hingga akhir? Sekeras apapun Yoona berusaha menghentikannya, namun perasaan cintanya pada Kai terus tumbuh hingga ia tidak sanggup untuk kehilangan sosok Kai dari hidupnya.

“Apa yang harus kulakukan sekarang?” gumam Yoona frustasi dengan kenyataan yang harus dihadapinya.

KLEK!

Suara yang terdengar saat Kai membuka pintu kamar membuat Yoona tersadar dari lamunannya. Wanita itu menoleh ke arah pintu di mana ia mendapati Kai sudah kembali sambil membawa semangkuk bubur di atas nampan.

“Tidak perlu bangun,” Kai segera memperingatkan Yoona saat sang istri berusaha bangun dari posisi tidurnya. “Biar kusuapi,” lanjutnya.

“Tapi—”

“Sudah, ikuti saja kata-kataku,” potong Kai sebelum Yoona kembali menginterupsi. Tangannya meraih sendok lalu perlahan mengambil bubur yang baru saja dimasaknya. Ia tidak peduli dengan sorot mata Yoona yang terlihat bingung dan tidak percaya terhadap perubahan sikapnya. Kai sendiri juga menyadari jika perubahan sikapnya terlalu cepat. Namun melihat kondisi Yoona seperti ini, hatinya bergejolak hingga mendorong Kai untuk memberikan perhatian penuh pada sang istri.

Kehangatan dari sorot mata Kai membuat Yoona tidak bisa menolaknya. Untuk pertama kalinya, Yoona melihat kesungguhan dari seorang Kim Jongin yang belum pernah dilihatnya selama ini. Tentu saja hal itu membuatnya merasa senang dan bersyukur karena bisa mendapatkan perlakuan yang baik dari sang suami.

Kai tersenyum setiap kali menyuapi bubur untuk Yoona. Hal itu membuat wajahnya terlihat semakin tampan.

Semburat rona merah menghiasi wajah Yoona. Ia gagal mengendalikan debaran jantungnya yang semakin tidak karuan. Berulang kali Yoona memalingkan wajah karena takut ketahuan oleh Kai. Namun pria itu justru mengira jika kondisi Yoona semakin parah. Wajah memerahnya diartikan deman oleh Kai.

“Apa kau demam? Wajahmu memerah,” Kai menyentuh kening Yoona dengan tangannya untuk memeriksa suhu tubuh istrinya. Secara spontan, Yoona justru memundurkan tubuhnya karena terlalu kaget dengan sentuhan tangan Kai.

“Aku tidak apa-apa,” jawab Yoona cepat sambil menundukkan kepala. Ia tak ingin sang suami melihat wajahnya yang kian memerah.

Reaksi Yoona membuat Kai terdiam, sebelum akhirnya hanya terdengar dehaman pelan darinya. Wajahnya sedikit memerah ketika ia menyadari sikapnya yang dirasa berlebihan terhadap Yoona.

“Apa aku membuatmu merasa canggung dan tidak nyaman?”

Mata Yoona membulat sempurna setelah mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Kai. Ia sadar jika sikapnya telah melukai perasaan Kai. Bahkan suaminya itu terlihat menundukkan kepala dengan rasa bersalah yang tergambar jelas di wajahnya.

“Tidak, bukan seperti itu, Kai,” Yoona berusaha menenangkan Kai yang terlihat murung, “Aku hanya sedikit terkejut dengan perubahan sikapmu yang drastis.”

Kai menatap bola mata Yoona secara intens. Ia menyadari jika Yoona berusaha menyesuaikan perubahan sikapnya. Rasa bersalah dalam diri Kai kian besar, tidak seharusnya ia bersikap terburu-buru pada Yoona. Istrinya memerlukan waktu untuk menerima perubahan sikapnya.

“Maaf, aku tidak bisa mengendalikan diri setiap kali melihat kondisimu seperti sekarang. Aku benar-benar khawatir jika terjadi sesuatu padamu,” Kai menundukkan kepalanya seraya menatap tangan Yoona. Tangan Kai kembali menggenggam erat tangan Yoona.

Yoona memandangi raut penyesalan dari wajah Kai. Hal itu membuat hatinya tersentuh. Tidak mudah bagi Kai untuk mengubah sikapnya dalam waktu relatif singkat. Sikap Kai yang sebelumnya begitu dingin bagai es, langsung berubah menjadi hangat.

Tangan Yoona mengusap punggung tangan Kai yang menggenggamnya. Ia tersenyum pada suaminya seraya berkata, “Terima kasih.”

Kai bisa merasakan hawa panas di sekitar wajahnya. Sungguh, Yoona terlihat sangat cantik setiap kali tersenyum. Kai merutuki kebodohannya sendiri yang sudah menyia-nyiakan waktu 2 bulan kehidupan pernikahannya dengan Yoona. Tidak seharusnya ia bersikap dingin pada wanita yang berharga seperti Yoona.

DRRT!

Keheningan di kamar Yoona langsung hilang ketika terdengar suara dering ponsel yang cukup keras. Kai bergegas merogoh ponsel yang ia masukkan ke dalam saku celana. Ia sedikit mengerutkan keningnya ketika melihat nomor tak dikenal yang tertera di layar ponsel.

“Tunggu sebentar,” Kai keluar dari kamar Yoona dan menyuruh wanita itu menunggunya.

Yoona hanya mengangguk tanpa bertanya apapun. Ia biarkan Kai keluar dari kamar untuk menerima telepon. Setelah meyakini situasi di sekitarnya aman, tangan Yoona meraih botol obat di laci meja—tepatnya pada obat khusus untuk penderita kanker yang diakui Yoona sebagai suplement kesehatan. Yoona menatap miris butiran-butiran kapsul di dalam botol. Perlahan matanya meneteskan air mata. Ia tidak tahu apakah ia bisa bertahan melawan penyakitnya. Haruskah ia memberi tahu kondisi yang sebenarnya pada Kai?

Pemikiran yang berkutat di dalam kepala Yoona buru-buru ditepisnya. Ia menggelengkan kepala lalu meneguk obat yang sudah diambilnya.

“Aku tidak boleh mengatakannya pada Kai. Tidak boleh,” gumam Yoona sembari menenangkan hatinya yang kembali berkecamuk. Perjanjian dengan ibu mertuanya lagi-lagi terlintas dalam benaknya. Yoona tak bisa lagi menahan perasaan dan menepati janji yang sudah disepakatinya.

Eomma, aku melanggar kesepakatan kita,” Yoona terisak sambil membenamkan wajahnya di balik selimut, “Aku sudah jatuh cinta pada putramu, maafkan aku.”

//

Langkah kaki Kai membawanya ke ruang tengah. Jarinya menyentuh layar ponsel, tepatnya pada tombol berwarna hijau sebelum ponsel itu berhenti berdering. Raut wajah Kai terlihat gugup saat ia mendekatkan ponsel ke telinganya.

Yeoboseyo,” suara pelan Kai sedikit memecah keheningan di ruang tengah.

Lama sekali kau mengangkat teleponku.”

DEG!

Mata Kai melotot hingga bola matanya nyaris keluar. Ia sangat mengenali suara seseorang yang baru saja meneleponnya. Suara yang tidak asing dan sejujurnya Kai tidak ingin mendengarnya lagi.

“Mau apa kau meneleponku, Tiffany?” Kai mengepalkan tangan dan meruntukki kebodohannya sendiri. Ia menyesal sudah mengangkat telepon dari sang mantan kekasih.

Aku hanya ingin mendengar suaramu. Tidak boleh?” Tiffany membalas ucapan dingin Kai dengan nada santai.

Kai mendesis dan hanya bisa mengumpat Tiffany dalam hati. Ia menyadari Tiffany tidak main-main dengan ucapannya saat mereka kembali bertemu.

“Aku hanya akan mengatakan satu kali. Jangan pernah menghubungiku lagi atau kau—”

Aku tidak peduli dengan apapun yang kau katakan. Kau sama sekali tidak bisa melarangku untuk menemui ataupun menghubungimu,” Tiffany memotong ucapan Kai dan semua ucapannya itu meluncur dengan bebas tanpa jeda.

Leher Kai serasa tercekat mendengar rentetan kalimat yang diucapkan Tiffany. Wanita itu tidak hanya memotong ucapannya, tapi berani melawan peringatannya.

Dengar, aku tidak akan pernah berhenti untuk membuatmu kembali padaku. Apapun akan kulakukan, termasuk menyingkirkan istrimu asalkan kau bisa kembali ke sisiku. Camkan itu,” Tiffany memberikan penegasan di setiap kata yang ia ucapkan.

“Apa katamu?” Kai terkejut dengan ancaman yang disampaikan Tiffany. Kekesalannya semakin memuncak ketika Kai menyadari Tiffany sudah memutus obrolan mereka.

“Sial!” Kai mengumpat sambil menggenggam erat ponselnya. Ia memutar tubuhnya menghadap tangga menuju kamarnya dan kamar Yoona. Sesekali Kai menarik nafas panjang lalu menghembuskan perlahan. Tiffany berhasil mengacaukan suasana hatinya, namun Kai tidak mau terlarut dalam situasi tersebut. Ia mencoba menenangkan diri sebelum mantap melangkah naik menuju kamar Yoona.

KLEK!

Tangan Kai menarik pelan kenok pintu kamar sebelum ia menyembulkan kepala dari balik pintu kamar sang istri. Tepat dugaanya, Yoona sudah tertidur hingga tidak mengetahui kehadirannya. Kai berjalan pelan agar tak menimbulkan suara yang bisa membangunkan Yoona. Matanya beralih pada mangkuk bubur yang sudah kosong. Kai menyunggingkan bibirnya karena senang Yoona menghabiskan bubur buatannya.

Sebelum keluar dari kamar, Kai duduk di tepi ranjang Yoona untuk beberapa menit. Ia menatap wajah Yoona yang begitu tenang saat tertidur. Tangannya menarik selimut hingga menutupi dada Yoona, sebelum ia beralih membelai kepala Yoona dengan lembut. Kai mendekatkan wajahnya pada wajah Yoona hingga ia bisa merasakan desahan nafas dari sang istri. Kai kembali menyunggingkan bibirnya lalu dalam hitungan detik ia mengecup kening Yoona.

.

.

.

.

.

Cahaya matahari menembus celah jendela dan membuat kamar terasa hangat. Yoona mengerjapkan matanya ketika ia tidak sengaja mendengar kicauan burung. Helaan nafas pelan keluar dari sela-sela bibirnya saat Yoona mencoba untuk bangun dari tidur. Raut pucat masih menyelimuti wajahnya, meskipun sudah terlihat lebih baik dibandingkan semalam.

Yoona terlihat menguap beberapa kali karena masih mengantuk. Setelah semua energi terkumpul, ia beranjak dari ranjang sambil menahan rasa lemas yang masih mendera tubuhnya. Yoona berhati-hati ketika menuruni anak tangga lalu berjalan menuju ruang makan.

Langkah Yoona terhenti ketika aroma wangi makanan merasuki indra penciumannya. Wanita itu mengalihkan pandangannya pada sebuah tudung saji yang berada di atas meja makan. Ia berjalan mendekati meja lalu membuka tudung saji tersebut.

Mata Yoona membulat sempurna ketika melihat sebuah hidangan makanan yang berada di balik tudung saji. Bubur abalon dalam panci berukuran kecil, serta peralatan makan yang sudah tertata rapi. Secarik kertas yang terselip di bawah peralatan makan juga tak luput dari pandangan Yoona.

Selamat pagi, istriku

Aku sudah menyiapkan bubur untukmu. Kau mungkin menginginkan sarapan yang lebih dari ini. Tapi, kurasa ini jauh labih berkhasiat untuk memulihkan kondisimu. Segera makan lalu minum obat. Beristirahatlah.

-Kai-

Isi pesan yang ditulis Kai membuat Yoona terharu. Ia tidak pernah tahu jika Kai bisa bersikap romantis seperti ini. Sungguh moment yang membahagiakan baginya. Dari sinilah, Yoona bisa melihat ketulusan dari Kai. Waktu sekarang masih menunjukkan jam setengah 7 pagi. Sepertinya Kai sudah berangkat ke kantornya usai menyiapkan sarapan untuk Yoona. Biasanya pria itu akan berangkat ke kantor jam 7 pagi.

“Kau rela bangun pagi-pagi sekali hanya demi menyiapkan sarapan untukku? Terima kasih, Kai,” ucap Yoona sembari tersenyum menatap meja makan.

KRING!

Yoona segera berlari ke ruang tengah saat mendengar bunyi telepon yang berdering. Kedua alisnya bertaut karena tidak biasanya ia menerima telepon sepagi ini.

Yeoboseyo,” Yoona menyapa seramah mungkin meskipun dengan volume suara kecil.

Ini aku,” suara yang membalas Yoona membuat wanita itu terlihat gugup. Ia tidak menduga jika si penelepon adalah ibu mertuanya.

Ne, eomma. Ada apa meneleponku?” Yoona sedikit menaikkan volume suaranya agar bisa didengar oleh Ji Hyun.

Kau tentu tidak lupa dengan ucapanku kemarin, ‘kan?” tanya Ji Hyun dengan nada penegasan.

Yoona sempat terdiam untuk mengingat ucapan Ji Hyun sebelumnya. Setelah berhasil mengingatnya, barulah Yoona hanya membulatkan bibirnya hingga membentuk huruf ‘O’.

Ne, aku tidak lupa. Jam 10 nanti aku akan tiba di sana,” jawab Yoona sambil memposisikan diri untuk duduk di atas sofa. Ia tidak kuat jika harus berdiri terlalu lama karena tubuhnya masih sedikit lemas.

Ya sudah, aku hanya ingin mengingatkanmu saja. Sampai nanti,” Ji Hyun mengakhiri pembicaraan singkat dengan Yoona.

Yoona hanya bisa mendengar suara beep dari telepon setelah sambungan terputus. Sambil menyeka keringat yang keluar dari pelipisnya, ia menghela nafas sebelum meletakkan telepon kembali ke tempat semula.

//

Suasana kantor yang terlihat sepi membuat Kai merasa bosan. Ia bahkan berulang kali menguap lantaran rasa kantuk yang masih menghinggapinya. Beruntung kondisi ini sama sekali tidak memberatkan bagi Kai. Sebaliknya, ia justru senang karena telah melakukan sesuatu untuk Yoona.

KLEK!

Suara terdengar saat seseorang membuka pintu ruang kerja Kai. Pria itu mendapati Sekertaris Cho baru saja datang dengan raut bingung di wajahnya. Ekspresi wajah yang sudah bisa ditebak oleh Kai. Ia sendiri menyadari jika hari ini ia berangkat lebih pagi dari biasanya.

“Manager Kim, saya tidak tahu jika Anda sudah berada di kantor,” Sekertaris Cho sedikit membungkuk untuk memberi hormat pada Kai.

Kai meringis kemudian menutup mulutnya saat kembali menguap karena mengantuk. Reaksinya itu membuat Sekertaris Cho kembali mengerutkan dahinya.

“Anda membutuhkan sesuatu? Wajah Anda terlihat lelah,” tawar Sekertaris Cho penuh perhatian. Sosoknya yang cepat tanggap itulah yang membuat Kai senang memiliki sekertaris pribadi sepertinya. Kai mengangguk dan tersenyum ke arah pria tersebut.

“Aku ingin kopi,” jawab Kai yang segera dibalas anggukan dari Sekertaris Cho. Selanjutnya pria itu keluar lalu berjalan menuju meja kerja yang berada di dekat pintu ruang kerja Kai. Ia meraih telepon kemudian menghubungi bagian pantry.

Tak lama setelah ia menghubungi pantry, seorang pria yang mengenakan seragam office boy datang sambil membawakan secangkir kopi yang sudah dipesannya. Sekertaris Cho menyuruh pria itu segera masuk ke dalam ruang kerja Kai untuk menyerahkan minuman tersebut.

Kai yang tengah memejamkan matanya sambil duduk di kursi kerja, sedikit terkejut ketika menyadari ada orang lain di ruangannya. Ia mendapati office boy sudah masuk sambil membawakan secangkir kopi yang diinginkannya.

“Terima kasih. Kau boleh keluar,” titah Kai dengan sopan. Aroma dari kopi yang begitu wangi mampu menghilangkan rasa kantuknya. Kai meniup asap yang masih mengepul dari kopi tersebut, sebelum ia menyesapnya secara perlahan.

DRRT!

Kai mengalihkan pandangannya sejenak saat mendengar suara dering ponsel. Ia mengamati ponselnya yang sengaja diletakkan di atas meja. Nama Eunhyuk tertera di layar ponsel dan membuat dahinya sedikit berkerut.

Yeoboseyo,” sapa Kai.

Aku ingin bertemu denganmu. Ada sesuatu yang harus kuberitahu padamu,” nada bicara Eunhyuk terdengar cemas. Kai terdiam sejenak, mencoba menebak apa yang akan diberitahukan sahabatnya itu. Sedetik kemudian, Kai langsung mengerti dengan arah pembicaraan Eunhyuk.

“Soal Tiffany?” Kai bisa mendengar suara pekikan dari Eunhyuk.

Bagaimana kau tahu?

Kai menghela nafas sejenak sembari memijat pelipisnya, “Kemarin dia datang ke kantor dan rumahku,” jawabnya. Secara spontan Kai menjauhkan telinganya dari ponsel begitu mendengar teriakan Eunhyuk.

Jadi, dia benar-benar datang ke rumahmu untuk menemuimu?

Kedua alis Kai bertaut setelah mendengar pertanyaan Eunhyuk, “Jangan katakan—kau yang memberitahu alamat rumahku pada wanita itu?” tanya Kai dengan nada meninggi.

Demi Tuhan aku tidak memberitahu alamat rumahmu pada Tiffany. Setelah dia datang menemuimu di kantor, dia memang datang ke tempatku dan menanyakan alamat rumahmu. Tapi, aku sama sekali tidak memberitahunya. Percayalah,” jelas Eunhyuk panjang lebar.

Arraseo. Kau bisa datang menemuiku jam 10 nanti,” ucap Kai sebelum mengakhiri obrolannya dengan Eunhyuk.

KLIK!

Kai meletakkan ponselnya kembali di atas meja, kemudian ia menyenderkan kepala pada sandaran kursi. Desahan nafas keluar dari sela-sela bibir Kai. Sejujurnya ia merasa cemas dengan kedatangan Tiffany yang kembali hadir dalam hidupnya. Ia takut jika wanita itu akan melakukan hal buruk pada Yoona, agar bisa kembali ke sisinya.

“Aku tidak akan pernah membiarkanmu mengganggu kehidupanku lagi, Tiffany,” gumam Kai sambil mengepalkan tangan. Ia sudah bertekad untuk menjalani kehidupannya bersama Yoona, wanita yang telah mengganti posisi Tiffany dalam hatinya.

//

Sebuah taksi berhenti di depan salah satu rumah mewah yang berada di lingkungan Cheongdam. Yoona terlihat keluar dari taksi tersebut, kemudian berjalan memasuki halaman depan rumah yang begitu luas. Ia tampil elegan dengan mengenakan dress warna krim yang dibalut dengan mantel hitam.

“Nona Yoona?” Sekertaris Seo yang tengah menunggu di dekat mobil Presdir Kim sedikit terkejut dengan kehadirannya. Pria itu segera memberi salam dan membungkuk hormat pada Yoona.

“Apa kabar, Sekertaris Seo?” Yoona memberikan senyuman hangat kepada Sekertaris Seo dan memperlihatkan sikapnya yang ramah.

Sekertaris Seo tersenyum, “Saya baik-baik saja, Nona. Apakah Nona ingin bertemu dengan Presdir?”

Yoona menggeleng pelan, “Tidak, aku ingin bertemu eomma. Tapi setelah itu aku akan menemui harabeoji.”

“Nyonya Ji Hyun sedang berada di paviliun taman belakang rumah. Mari saya antar,” tawar Sekertaris Seo.

Yoona mengangguk kemudian berjalan mengikuti Sekertaris Seo dari belakang. Sesekali ia bertemu dengan pelayan di rumah kakek dan ibu mertuanya. Yoona membalas salam yang diberikan mereka dengan ramah. Hal itu membuat mereka sangat senang dengan kepribadian Yoona.

Sekertaris Seo membawa Yoona menuju tempat Ji Hyun berada. Keduanya telah sampai di taman belakang rumah yang berdekatan dengan kolam renang. Perhatian Yoona tertuju pada seseorang yang tengah menikmati waktu bersantai di paviliun taman.

“Permisi, Nyonya Ji Hyun?” Sekertaris Seo menyapa Ji Hyun dengan formal, lalu melirik Yoona yang berada di sebelahnya. Ji Hyun mengikuti arah pandangan Sekertaris Seo.

“Oh, kau sudah datang,” Ji Hyun meletakkan secangkir teh yang baru saja diteguknya, kemudian memberi isyarat pada Sekertaris Seo untuk meninggalkannya berdua saja dengan Yoona.

“Duduklah,” Ji Hyun menyuruh Yoona untuk duduk di depannya. Yoona mengangguk dan mengikuti apa yang disampaikan ibu mertuanya. Matanya tertuju pada sebuah amplop kecil yang diletakkan di atas meja. Ia bertanya-tanya dalam hati, apakah isi amplop tersebut adalah uang yang dijanjikan Ji Hyun padanya?

“Ternyata matamu cukup jeli,” Ji Hyun sepertinya menyadari arah pandangan Yoona. Ia tersenyum remeh sambil menyodorkan amplop tersebut pada Yoona yang tertunduk di depannya.

“Maaf, eomma,” ucap Yoona dengan suara pelan. Kepalanya masih menunduk dan ia hanya menatap pada tanah yang dipijaknya.

“Jujur saja mendengarmu memanggilku seperti itu membuatku tidak nyaman,” kata Ji Hyun sarkastik, “Sampai sekarang pun, aku belum sepenuhnya menganggapmu sebagai menantuku. Tapi—”

Yoona mengangkat wajahnya hingga ia bertatapan dengan Ji Hyun. Ia merasa gugup ketika mendapatkan tatapan sinis dari Ji Hyun. Entah sudah berapa kali Ji Hyun menghadiahi sorot mata seperti ini, rasanya Yoona sudah sangat hafal dengan kelakuan ibu mertuanya tersebut. Tetap saja hal itu membuatnya merasa terintimidasi oleh Ji Hyun.

“Ayah mertuaku begitu menyukaimu. Tidak salah jika aku memilihmu sebagai pendamping Kai, meski kau hanya menikah dengannya selama 6 bulan sesuai kesepakatan awal,” lanjut Ji Hyun sambil kembali meneguk teh. Dari balik cangkir yang menutupi sebagian wajah Ji Hyun, Yoona tetap bisa merasakan tatapan tajam menusuk dari wanita itu.

“Ini sudah memasuki bulan ke-3 pernikahan kalian. Tentunya kau masih ingat dengan batasan yang tidak boleh kau lakukan selama menjalani peran sebagai istri Kai,” Ji Hyun memperlihatkan senyum sinisnya.

Yoona menelan saliva-nya dengan tatapan yang terus tertuju pada Ji Hyun. Ia tahu arah pembicaraan ibu mertuanya. Sudah jelas jika Ji Hyun sedang mengingatkannya soal larangan Yoona yang tidak boleh jatuh cinta pada Kai. Alih-alih Yoona bisa menepati janjinya pada Ji Hyun, kenyataan justru berkata lain. Ia sudah jatuh cinta pada Kai, terlebih pria itu telah menyatakan perasaan cinta lebih dulu kepada Yoona.

Ne, aku masih mengingatnya,” jawab Yoona pasrah. Ia tidak tahu lagi harus menjawab apa. Sekalipun ia mengingatnya, hati kecilnya pun tidak bisa berbohong jika ia merasa bersalah karena melanggar salah satu kesepakatannya dengan Ji Hyun.

“Astaga, rupanya cucu menantuku datang ke sini,” sebuah suara menginterupsi pembicaraan Ji Hyun dan Yoona. Sadar jika sang pemilik suara adalah kakek mertuanya, Yoona meraih amplop yang diberikan Ji Hyun dan dengan cepat memasukkannya ke dalam tas. Ia mengikuti Ji Hyun yang sudah berdiri sambil memberi hormat pada Presdir Kim.

Presdir Kim tersenyum hangat pada Yoona, bahkan tanpa ragu memberikan pelukan untuk cucu menantunya itu. Sesaat Yoona merasa canggung dengan perlakuan Presdir Kim. Meski sudah 2 bulan menikah dengan Kai, Yoona terus memendam rasa bersalah pada kakek mertuanya karena menyembunyikan sesuatu yang hanya diketahuinya bersama Ji Hyun.

“Bagaimana kabarmu, harabeoji?” tanya Yoona sambil menghadiahi sorot mata hangat. Sikapnya itu membuat Presdir Kim kembali tersenyum padanya.

“Seperti yang kau lihat, aku masih sehat di usiaku yang semakin menua,” Presdir Kim melemparkan gurauan hingga membuat Yoona dan Sekertaris Seo tertawa kecil.

“Tapi … wajahmu terlihat sedikit pucat. Apa kau sedang sakit?” tanya Presdir Kim yang sukses membuat Yoona melebarkan matanya.

“Tidak, aku baik-baik saja. Harabeoji tidak perlu mengkhawatirkanku,” sanggah Yoona meyakinkan Presdir Kim.

“Kau yakin?” Presdir Kim kembali memastikan kondisi Yoona. Anggukan pelan yang diberikan wanita itu membuat hatinya menjadi lebih tenang. Sesaat, ia memang sempat mengkhawatirkan kondisi Yoona setelah mendapati wajah pucat dari cucu menantunya tersebut.

“Sekertaris Seo bilang, kau datang ke sini untuk bertemu ibu mertuamu. Apa ada masalah?”

Yoona melirik Ji Hyun yang sedari tadi hanya diam sambil mendengarkan pembicaraan keduanya.

“Tidak ada, appa. Kami hanya melakukan pembicaraan yang biasa dilakukan oleh ibu mertua dan menantunya. Bukan begitu, Yoona?” Ji Hyun bisa melihat dari mata ekornya jika Yoona tengah menatapnya dengan mata melebar. Isyarat yang ia berikan tampaknya berhasil dipahami oleh wanita itu.

Ne, itu benar. Kami hanya mengobrol bersama saja, harabeoji,” lanjut Yoona sambil menyunggingkan bibirnya.

“Lain kali datanglah ke sini bersama Kai. Sudah lama kita tidak makan malam bersama, ‘kan?” pinta Presdir Kim sambil membelai kepala Yoona.

Yoona mengangguk, “Ne, akan kusampaikan padanya.”

Presdir Kim tersenyum lalu melirik jam tangannya, “Sebentar lagi jam makan siang. Apa kau mau ikut ke kantor bersamaku? Kita ajak Kai untuk makan siang bersama.”

“Apa?” Yoona tidak menduga jika Presdir Kim akan mengajaknya ke kantor. Sejujurnya ia ingin menolak ajakan tersebut karena tidak mau membuat Kai khawatir. Semalam ia jatuh pingsan dan dalam kondisi kurang baik. Apa kata suaminya jika tahu Yoona justru berpergian keluar di saat seharusnya beristirahat total di rumah.

“Kau tidak mau?”

Yoona terkesiap saat mendengar suara Presdir Kim. Secepat kilat ia menganggukkan kepala, tanda bahwa ia menyetujui ajakan Presdir Kim.

“Baiklah, kita pergi sekarang. Kajja,” ajak Presdir Kim kemudian berlalu meninggalkan taman belakang rumah. Sebelumnya ia sempat melirik sekilas pada Ji Hyun yang diketahuinya hanya menatap ke arahnya. Presdir Kim menyunggingkan bibirnya, memberikan senyum remeh yang selalu diberikan pada menantunya itu.

Kontan saja sikapnya itu membuat emosi Ji Hyun kembali terpancing. Namun ia memilih diam karena keberadaan Yoona. Ia ingin menjaga harga dirinya di depan Yoona, agar wanita itu tidak tahu jika selama ini hubungannya dengan sang mertua sangatlah buruk.

//

Hampir setengah jam suasana di ruang kerja Kai terasa tegang. Semua hal yang didengarnya dari Eunhyuk, membuat pria itu meradang, Begitu tiba di kantor tempat Kai bekerja, Eunhyuk segera menjelaskan pada Kai tentang pertemuannya dengan Tiffany tanpa ada hal yang terlewat.

Kai tidak habis pikir dengan kelakuan Tiffany yang memaksa Eunhyuk untuk memberitahu alamat rumahnya yang baru. Eunhyuk mengaku jika ia amat menjaga rahasia alamat rumahnya dari wanita itu. Lalu, bagaimana Tiffany bisa mendapatkannya?

“Kurasa dia datang menemui staff di kantormu untuk mencari informasi alamat rumahmu,” Eunhyuk menyesap secangkir teh yang sudah disediakan selama ia berada di ruang kerja Kai.

“Sepertinya begitu,” Kai mengiyakan ucapan Eunhyuk, kemudian menghela nafas kasar sambil mengusap wajahnya, “Aish, wanita itu benar-benar pantang menyerah.”

“Itulah sebabnya, kau harus berhati-hati pada Tiffany. Aku tahu persis bagaimana sifatnya. Saat dia menginginkan sesuatu, berbagai cara akan dilakukan untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, sekalipun itu menggunakan cara yang salah. Sekarang yang aku khawatirkan adalah kehidupan rumah tanggamu dengan Yoona. Tiffany mengatakan padaku jika dia tidak benar-benar menganggap hubungan kalian sudah berakhir. Mungkin saja, dia akan melakukan sesuatu pada istrimu,” jelas Eunhyuk panjang lebar.

Kai mengangguk-anggukan kepalanya, mencermati setiap kalimat yang keluar dari Eunhyuk. “Aku tahu. Dia sudah menelepon dan mengancamku. Dia bilang akan menyingkirkan Yoona asalkan dia bisa kembali ke sisiku. Kurasa otaknya benar-benar sudah tidak waras,” ucapnya.

“Tiffany meneleponmu? Dari mana dia mendapatkan nomor ponselmu?” Eunhyuk terdiam sejenak saat melihat sorot mata bertanya dari Kai, “Sungguh, aku tidak memberitahunya, Kai. Aku mengunci rapat bibirku agar tidak mengatakan apapun pada Tiffany.”

Bibir Kai melengkung saat melihat ekspresi wajah Eunhyuk, “Aku tahu. Kau mengira jika aku mencurigaimu, Lee Hyukjae?”

“Siapa suruh sorot matamu terlihat menakutkan,” amuk Eunhyuk kesal sekaligus bernafas lega. Ia berpikir jika Kai akan kembali salah paham terhadapnya.

KLEK!

Tiba-tiba terdengar suara decitan yang membuat Kai dan Eunhyuk menoleh ke arah pintu. Keduanya menatap kaget pada sosok wanita yang tanpa ragu langsung berjalan menghampiri mereka.

“Untuk apa kau datang ke sini?” Kai tidak bisa lagi menahan emosinya setiap kali bertemu dengan Tiffany. Entah kenapa wanita itu selalu muncul di saat yang tidak tepat. Khususnya saat ia dan Eunhyuk tengah membicarakan Tiffany.

“Kenapa? Kau tidak suka?” Tiffany tersenyum cuek lalu dengan santainya menggamit lengan Kai. Ia juga menyenderkan kepalanya di bahu kiri Kai tanpa rasa malu. Tak pelak sikapnya tersebut memancing kemarahan Kai sekaligus kekesalan Eunhyuk.

“Apa yang kau lakukan?!” Kai meradang sambil menepis tangan Tiffany. Matanya berkilat menunjukkan kemarahan yang tengah dirasakannya.

Tiffany sepertinya sudah tidak terlalu memikirkan reaksi penolakan Kai. Wanita itu sudah memasang tameng di wajahnya agar tidak terpengaruh dengan perlakuan kasar yang diberikan oleh Kai. Menurutnya jika ia terus bertahan, Kai akan melunak dan kembali lagi padanya. Itu menurut Tiffany.

“Kau tidak perlu malu seperti ini. Bukankah kita biasa melakukannya?” tangan Tiffany kembali bersiap meraih lengan Kai, namun segera ditepis oleh pria itu.

“Itu dulu. Sekarang tidak lagi,” balas Kai ketus sambil menatap tajam pada mantan kekasihnya tersebut. Ia mendengus kesal dan memejamkan matanya rapat-rapat saat Tiffany justru beralih menyentuh wajahnya. Kai hanya diam sambil mengepalkan tangan, berusaha mati-matian menahan emosinya yang siap meledak kapan saja.

SET!

Hampir saja Tiffany terjatuh ketika Eunhyuk menarik tubuhnya menjauh dari Kai. Reaksi pria itu tak kalah berbeda dengan Kai. Ia pun terlihat marah dengan sikap Tiffany.

“Hentikan! Jaga kelakuanmu!” bentak Eunhyuk.

“Kau ini sahabatku, beraninya membentakku seperti ini?” Tiffany terpancing emosi dan menghadiahi sorot mata tajam pada Eunhyuk.

“Justru karena aku sahabatmu, aku tahu mana yang benar dan mana yang salah,” suara Eunhyuk naik satu okftaf. Sikap Tiffany membuat kesabarannya di ambang batas.

“Sadarlah, Tiffany! Hubungan kalian sudah berakhir dan Kai sudah menikah. Tidak sepantasnya kau bersikap seperti ini,” tegur Eunhyuk dengan tegas.

“Aku tidak peduli,” Tiffany tetap pada pendiriannya. Sekeras apapun Eunhyuk mencoba untuk menghentikannya, Tiffany akan tetap berusaha membuat Kai kembali lagi ke sisinya.

Kai tidak bisa lagi menahan emosinya. Ia menyesali sikap Sekertaris Cho yang membiarkan Tiffany masuk begitu saja ke ruang kerjanya. Kehadiran wanita itu tak ubahnya seperti pengganggu yang mengacaukan suasana hatinya.

//

Yoona terdiam sambil memandangi jalanan kota yang terlihat ramai dilalui kendaraan. Ia duduk bersebelahan dengan Presdir Kim selama perjalanan menuju kantor tempat kakek mertua dan suaminya bekerja. Sesekali ia memijat keningnya saat merasakan pusing di kepalanya.

“Tadi, kau datang ke rumah naik apa?” Presdir Kim tiba-tiba bertanya pada Yoona. Suaranya yang terdengar berat mampu mengalihkan pandangan wanita itu.

“Taksi,” jawab Yoona singkat sambil meringis.

Aigo, istri dari pewaris Kim Corporation berpergian dengan menaiki taksi? Kai sungguh keterlaluan,” ujar Presdir Kim dengan sorot mata kecewa, “Seharusnya dia mengatakan padaku jika membutuhkan supir pribadi untuk mengantar ke manapun kau pergi.”

Mata Yoona melebar setelah mendengar penuturan Presdir Kim, “Tidak perlu, harabeoji. Naik taksi saja bagiku sudah cukup.”

“Aish, mana mungkin aku membiarkanmu berpergian menaiki taksi. Apa kata orang terhadapku? Mereka akan menganggapku tidak memberikan perhatian pada cucu menantuku sendiri,” sergah Presdir Kim.

“Tapi—”

“Aku tidak mau mendengar penolakan darimu. Mulai besok, aku akan menyuruh seseorang untuk bekerja sebagai supir pribadi kalian. Khususnya untukmu,” lanjut Presdir Kim.

Yoona bisa melihat kesungguhan dari sorot mata Presdir Kim. Ia pun tidak bisa menolak dan menghargai pemberian dari kakek mertuanya tersebut.

DRRT!

Yoona sedikit kaget saat menyadari ponselnya bergetar. Untungnya ia sudah mengatur ponselnya dalam keadaan silence. Buru-buru Yoona membuka layar ponsel yang sedari tadi digenggamnya. Ia melihat ada pesan masuk dari Luhan.

            From : Luhan

            To : Yoona

            Bagaimana kondisimu? Kau baik-baik saja?”

Yoona tersenyum saat membaca pesan dari Luhan. Ia bersyukur mempunyai sahabat seperti Luhan yang begitu memperhatikannya.

            From : Yoona

            To : Luhan

            Aku baik-baik saja. Maaf sudah membuatmu khawatir.

“Kita sudah sampai,” Presdir Kim menepuk bahu Yoona hingga membuat wanita itu menoleh padanya. Yoona memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia tersenyum pada supir pribadi Presdir Kim yang segera membukakan pintu untuknya. Ia pun berjalan bersebelahan dengan kakek mertuanya, sementara Sekertaris Seo mengikuti keduanya dari belakang.

Mereka menaiki lift menuju lantai tempat ruang kerja Kai berada. Entah kenapa perasaan Yoona begitu gugup. Sesekali ia menyisir rambutnya dengan jemari tangan. Ia membayangkan bagaimana reaksi Kai setelah mengetahui kedatangannya bersama Presdir Kim.

TING!

Pintu lift terbuka dan memperlihatkan beberapa orang yang bersiap turun dengan menaiki lift tersebut. Saat mengetahui mereka bertemu dengan pemilik perusahaan beserta cucu menantunya, semua orang secara kompak membungkuk hormat pada Presdir Kim dan Yoona. Keduanya pun berjalan beriringan hingga sampai di depan ruang kerja Kai.

Sekertaris Cho terkejut dengan kedatangan Presdir Kim dan Yoona. Raut wajahnya terlihat panik. Berulang kali ia melirik ke arah pintu ruang kerja Kai. Tanpa diketahui atasannya, Sekertaris Cho sempat melihat sikap Tiffany yang bergelayut manja di lengan Kai. Ia tidak tahu ada hubungan apa antara Tiffany dengan atasannya tersebut. namun dengan melihat sekilas, Sekertaris Cho bisa menebak jika hubungan keduanya bukan hanya sekedar berteman. Tapi ia tidak mau berspekulasi terlalu jauh, mengingat Kai sudah menikah dengan Yoona.

“Selamat datang, Presdir Kim dan Nona Yoona,” sapa Sekertaris Cho dengan ramah.

“Apa Kai ada di ruangannya?” tanya Presdir Kim.

Sekertaris Cho mengangguk pelan, “Ne, beliau sedang bersama kedua temannya.”

“Teman?” Presdir Kim mengerutkan dahinya, “Maksudmu Eunhyuk?”

“Dan seorang wanita,” lanjut Sekertaris Cho yang membuat Presdir Kim dan Yoona saling menatap kaget.

“Seorang wanita?” tanya Presdir Kim dengan kerutan di dahinya. Tanpa basa-basi, ia langsung masuk ke ruang kerja Kai. Sementara Yoona berjalan di belakangnya. Ia sendiri turut penasaran dengan sosok wanita yang dikatakan Sekertaris Cho. Mungkinkah wanita itu adalah wanita yang dilihatnya dalam foto yang berada di kamar Kai?

Rasa penasaran Yoona pun terjawab ketika ia memasuki ruang kerja Kai. Ia melihat seorang wanita tengah memeluk lengan suaminya dengan mesra. Yoona tidak dapat menyembunyikan raut kaget sekaligus rasa sesak di dada. Bagaimana tidak? Yoona mengenali sosok wanita itu. Ia sangat yakin jika wanita itu adalah wanita yang dilihatnya dalam foto yang ditemukannya di kamar Kai.

Kenapa wanita itu bersama Kai? Apakah mereka memang menjalin hubungan special yang selama ini tidak diketahuinya? Atau jika mereka sudah berpisah, mereka bersiap merajut kembali hubungan mereka?

Yoona buru-buru menepis semua pemikiran yang berkutat di dalam kepalanya. Ia memfokuskan pandangannya pada Presdir Kim yang terdiam. Yoona bisa menangkap sorot kemarahan dari cara Presdir Kim menatap wanita yang tidak lain adalah Tiffany Hwang.

“Kau sedang ada tamu?”

Suara Presdir Kim berhasil mengalihkan perhatian Kai, Eunhyuk, dan Tiffany. Kai terkejut luar biasa menyadari sang kakek sudah berada di ruang kerjanya. Tidak hanya itu, bola mata Kai membulat ketika ia juga melihat keberadaan Yoona yang berdiri di samping kakeknya.

Harabeoji?” Kai terlihat gugup kemudian dengan cepat melepaskan tangan Tiffany dari lengannya. Ia mengalihkan pandangannya pada sang istri yang tengah menatapnya, “Yoona?”

Presdir Kim berjalan santai mendekati Kai, Eunhyuk, dan Tiffany. Ia tersenyum ke arah Eunhyuk yang langsung menyapanya, walaupun sesekali sahabat Kai itu masih terlihat kikuk di depannya.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Presdir Kim pada Eunhyuk.

“Kabarku baik. Senang bisa bertemu kembali denganmu, harabeoji,” jawab Eunhyuk seramah mungkin. Ia lalu melirik Yoona dan juga memberikan wanita itu sapaan dalam bentuk senyuman.

“Lalu, kau—”

“Tiffany, dia teman kami saat kami duduk di bangku kuliah,” potong Eunhyuk sebelum Presdir Kim menyelesaikan pertanyaannya.

“Benarkah? Tapi aku tidak pernah melihatmu selama ini,” Presdir Kim kembali mengerutkan dahinya, tanda jika ia sedang berusaha mengenali Tiffany.

“Itu karena—” Tiffany menahan nafasnya sejenak saat melihat sorot mata tajam dari Presdir Kim, “Aku baru saja kembali ke sini setelah tinggal selama 3 tahun di Perancis.”

“Kau tinggal di Perancis selama 3 tahun?”

Tiffany mengangguk, “Ne, aku bekerja sebagai perancang busana di sana.”

“Ah, jadi begitu rupanya,” Presdir Kim tersenyum menyeringai. Ia lalu menarik Yoona agar berpindah posisi di sebelah Kai.

“Karena selama ini kau tinggal di Perancis, kupikir kau belum tahu jika Kai sudah menikah,” Presdir Kim kembali memperlihatkan senyum smirk-nya. Tangannya terarah pada Yoona yang sudah berdiri di sebelah Kai.

“Dia adalah Im Yoona, istri Kai dan cucu menantuku. Mereka sudah menikah sejak 2 bulan yang lalu,” lanjut Presdir Kim.

Yoona merasa canggung dengan sikap Presdir Kim yang secara terang-terangan memperkenalkan statusnya pada Tiffany. Ia tahu jika wanita di depannya itu tengah menatapnya dengan penuh kemarahan.

Dengan hati-hati, Yoona mengulurkan tangannya ke arah Tiffany, “Yoona.”

“Tiffany,” secepat kilat Tiffany segera melepas tangannya usai bersalaman dengan Yoona. Matanya tidak lepas sedetik pun dari Yoona. Ia terlihat mengamati penampilan Yoona, mulai dari atas kepala hingga ujung kaki. Tiffany bisa melihat jika Yoona memiliki selera penampilan yang sederhana, namun tetap terlihat elegan.

“Kenapa kalian bisa datang bersama?” Kai mencoba mengalihkan pembicaraan yang sebelumnya terpusat pada Tiffany dan Yoona.

“Kebetulan Yoona datang ke rumah untuk bertemu ibumu,” jawab Presdir Kim, “Sekalian saja aku mengajaknya ke sini untuk makan siang denganmu.”

Kai melirik Yoona dengan sorot mata bingung, “Kau datang ke rumah?”

Yoona hanya mengangguk pelan tanpa mengatakan apapun. Sesekali ia melirik Tiffany dengan ekor matanya.

Kajja, kita harus bergegas. Aku sudah memesan tempat untuk makan siang bersama,” ujar Presdir Kim. Pandangannya beralih pada Eunhyuk dan Tiffany, “Apa kalian mau ikut?”

“Tidak, harabeoji. Aku dan Tiffany sudah ada janji akan makan siang bersama,” sambar Eunhyuk cepat tanpa meminta persetujuan dari Tiffany. Pria itu langsung mendapat tatapan tajam dari Tiffany. Sementara Kai tersenyum tipis pada Eunhyuk, memberi isyarat pada sahabatnya bahwa ia sangat berterima kasih karena Eunhyuk telah menyelamatkannya dari Tiffany.

“Benarkah? Terserah kalian saja,” Presdir Kim bersiap keluar dari ruangan dengan didampingi Sekertaris Seo. Sementara Kai, ia memandangi Yoona yang sedari tadi hanya diam di sebelahnya. Pria itu memposisikan tangan Yoona agar memeluk lengan kirinya. Ia menepuk-nepuk tangan Yoona, berusaha meyakinkan sang istri jika ia sama sekali tidak melakukan apapun dengan Tiffany.

Yoona tersenyum lega saat melihat ekspresi wajah Kai yang tengah menatapnya dengan hangat. Ia pun mengangguk, seolah mengerti dengan isyarat yang diberitahukan suaminya. Usai berpamitan dengan Eunhyuk dan Tiffany, Kai dan Yoona berjalan keluar dari ruangan untuk menyusul Presdir Kim.

Kini yang tertinggal di ruangan hanya Eunhyuk dan Tiffany. Eunhyuk tahu jika Tiffany berusaha mati-matian menahan amarahnya. Bisa dilihat dari tangan Tiffany yang sedari tadi terus mengepal kuat.

“Lebih baik kau lupakan saja rencanamu itu. Sebelum nantinya situasi semakin runyam,” tegur Eunhyuk sambil berjalan melewati Tiffany dan mendahuluinya keluar dari ruangan.

Tiffany mendesah kesal dengan mata yang terus tertuju pada pintu. Ia benar-benar marah dengan apa yang baru saja dilihatnya. Terlebih ketika ia menyadari sorot mata kebencian yang diberikan Presdir Kim kepadanya.

“Kita lihat saja nanti. Aku tidak akan menyerah begitu saja,” gumam Tiffany.

-TO BE CONTINUED-

A/N : Saya minta maaf atas keterlambatan FF ini yang super duper lama (sekitar 6 bulan). Bukan maksud saya mengabaikan kelanjutan FF ini, tapi memang ada beberapa hal yang sempat mengusik imajinasi saya sehingga ya . . . jadinya sedikit terlambat untuk melanjutkannya^^’

Saya tidak akan memaksa kalian untuk menyukai kelanjutan FF ini, karena saya menyadari mungkin ada di antara kalian yang kurang bisa atau bahkan tidak bisa mendapatkan feel cerita lagi karena sudah terlalu lama tidak dilanjut dari part sebelumnya. Maaf jika hasilnya mengecewakan *bow*

Terima kasih sudah membaca❤🙂

35 thoughts on “Sense of Love 4

  1. Aku sampe lupa kalo aku salah satu readers ff ini jd aku baca yg chapter 4 deh.
    Perubahan kai dastris bgt ya? Tp suka kok. Wkkwkwkw
    Tiffany, nyebelin bgt dah!!!
    Kepp writing kakkkk ♡

  2. Harabeoji suka ama yoona kalo ama kai…
    Ehm yeyy harabeoji gk suka ama tiffany berarty tiffany gk bakal direstui ama harabeoji…
    Karedene Kai kan udah demen ama yoona😛
    Udah deh nyerah aja lu tiffany…😛
    Cpet dilanjut ne keren banget alurnya…

  3. Presdir kim baik banget,, mudah2an kalo tau alesan yoona bikin perjanjian sm nyonya jihyun dy nggak terlalu kecewa terutama kai jugaa,,and nggak kehasut sm tingkah laku tiff..
    Jangan sad ending yaaa..
    D tunggu kelanjutannyaa.. Hwaitiinggg…

  4. Keren bgt thor
    Akhirnya kai ngaku kalo cinta sama yoona
    Tiffany ngeselin bgt disini –”
    Nekat bgt mau ganggu rumah tangga nya kai sama yoona
    Ditunggu chapter slanjutnya ya thor

  5. aku malah nunggu nunggu kooo!! seneng bgt bisa di publish lagi… kesel ama tiffany, mau dia apa sih?! bete! duuuhh itu kai emang sweet bgt dah.. aaaa jadi baperrr hahaha oke ditunggu kelanjutannya, fighting!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s