The Dark

tumblr_m2ln72G7yk1qelgg3o1_500

qintazshk’s present

⌊ The Dark ⌋

Luhan and Im Yoona

T  | Romance-Sad | Oneshoot

enjoy this fanfiction and create your imagination ^^

Luhan adalah sosok yang sempurna. Rupa yang menawan, perangainya yang dapat membuat semua orang luluh dan jangan lupakan sudut bibirnya yang selalu melengkung sempurna jika namanya diserukan oleh semua gadis yang melihatnya memainkan bola basket dengan lihai.

“Luhan tidak pernah terlihat dekat dengan wanita, ya?”

“Apa dia seorang… gay?”

Luhan tidak pernah merasa ganjil saat kalimat itu terkadang masuk ke dalam indera pendengarannya. Ia sudah terbiasa. Sampai kapan pun, Luhan hanya akan tersenyum menanggapi segala ocehan orang-orang mengenai dirinya.

Tidak, bukannya Luhan tidak ingin meluruskan pikiran orang sinting seperti mereka. Hanya saja, Luhan tahu kalau tidak ada gunanya mengoceh panjang lebar untuk membicarakan hal yang tidak penting dengan orang tidak tahu malu seperti mereka.

Luhan mencintai kedamaian.

Sama seperti Luhan yang selalu mencintai senyum seorang gadis yang selalu duduk di bangku taman di bawah pohon ek dengan sinar matahari menyinari rambut panjangnya yang berwarna cokelat keemasan. Luhan suka itu.

 

 

“Luhan!”

Seruan seorang laki-laki dengan suara bass-nya berhasil membuat laki-laki bernama Luhan tadi berbalik lalu tersenyum pada orang yang memanggilnya.

“Kau mau ikut? Kau tahu, hari ini,” lawan bicara Luhan itu mendekati telinganya dan kembali berbisik, “aku dapat sesuatu yang bagus yang harus kutunjukkan padamu.”

“Jongin-ah,” Luhan menjauhkan jaraknya dengan lelaki itu lalu menarik lagi sudut bibirnya. “kalau yang satu ini mengenai hal-hal aneh tentang eksperimenmu lagi tentang kimia, aku bersumpah akan menghajarmu.”

“Tidak, Luhan hyung. Kali ini tentang sesuatu yang lain. Hyung pasti menyukainya.”

“Bukan eksperimen gilamu lagi?”

Lelaki jangkung bernama Jongin itu menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

“Aku berjanji kalau ini menyenangkan. Kalau hyung tidak suka, hyung boleh melakukan hal yang sudah hyung katakan padaku tadi.” Jongin melanjutkan kembali ucapannya sembari tersenyum tanpa ragu.

“Baik-“

“Aku tahu hyung pasti mau ikut!”

Tanpa menunggu lagi, Jongin sudah menarik paksa Luhan masuk ke dalam mobil sedan hitam terbarunya.

 

 

Gadis itu datang.

Gadis yang selalu Luhan perhatikan secara diam-diam ketika sore menjelang itu datang. Gadis itu datang dengan gaun pendek selutut dan bahu terbuka, memberikan senyum terbaiknya pada semua orang yang ia lihat. Persis seperti malaikat,  ulang Luhan berkali-kali dalam hati.

Luhan pun tak tanggung-tanggung menyunggingkan senyumnya ketika pandangan gadis itu bertubrukan dengan pandangannya yang semenjak tadi tak kunjung berpaling dari gadis itu. Degup jantung Luhan semakin cepat ketika gadis itu membalas senyumannya.

What a perfect day!”

Seruan Luhan yang terdengar cukup keras itu membuat Jongin menoleh.

“Ada apa, hyung?”

Luhan tidak menjawab pertanyaan Jongin. Bahkan menatap laki-laki yang sudah dianggapnya adik itu saja tidak.

Tatapan Luhan masih melekat untuk menatap gadis itu seorang. Hanya untuk malam ini saja Luhan ingin menikmati memandang gadis itu sampai ia puas. Walau ia tahu bahwa gadis itu takkan pernah membosankan untuk dipandang.

Luhan tidak bisa memalingkan wajahnya sedikit pun dari wajah seorang gadis barang sedetik –atau bahkan sepersekian detik yang berharga- semenjak ia sampai di rumah Jongin.

Alis Luhan mengerut ketika mendapati gadis itu menggerakkan jarinya. Meminta Luhan mendekat walau Luhan tidak yakin bahwa ialah sasaran gadis itu.

“Aku pergi.” Tanpa berbalik untuk menatap Jongin, Luhan melangkahkan kakinya mendekati gadis itu. Keraguan yang Luhan rasa sebelumnya pun langsung ia tepis begitu gadis itu tersenyum manis padanya.

“Selamat bersenang-senang, hyung.

Luhan tidak mengerti makna ucapan Jongin tadi.

“Im Yoona. Kau?”

Saat ini juga, ingin rasanya Luhan menerjunkan dirinya dari tebing tertinggi dunia. Meminta alam membuatnya sadar bahwa ini adalah kenyataan bukan sekedar mimpi yang selama ini ia bayangkan.

Namun, sentuhan lembut gadis itu di tangannya membuat Luhan tersadar dengan cepat. Cepat sekali.

“A-Aku Luhan. Senang-“

“Ugh, jangan terlalu formal seperti ini, Luhan.” Gadis tadi, Yoona, memamerkan deretan gigi putihnya. Membuat Luhan sedikit-banyak bergerak kikuk karena jarak tubuh mereka yang terlalu dekat. Salahkan orang-orang yang berdesakan untuk menikmati mewahnya pesta seorang Kim Jongin malam ini.

Luhan tidak tahu harus bergerak atau tidak saat Yoona menyentuh lengannya dan membawanya dengan segera keluar. Luhan yakin Yoona tidak menculiknya karena gadis itu membawanya ke taman belakang rumah Jongin. Hanya sampai situ lalu gadis itu diam.

Mulut Yoona membuka, hendak memulai obrolan mereka setelah sunyi senyap di antara mereka yang cukup panjang terjadi. Namun, Luhan tidak menyangka bahwa bibir tipis Yoona yang dipolesi lipstick merah muda itu akan berkata kata-kata yang tidak diduganya.

“Sudah lama tidak bertemu, Luhan.”

 

 

Yoona memainkan jemarinya yang lentik tanpa sedikit pun menatap laki-laki yang sudah menatapnya dengan rasa penasaran yang sudah membakarnya sedari tadi. Yoona gentar dengan pendiriannya untuk tidak menatap laki-laki itu.

“Aku masih menunggumu untuk menjelaskan maksud dari ucapanmu tempo hari, Im Yoona.”

Luhan menatap Yoona intens. Tak berniat sedetik pun terlewat untuk menatap Yoona yang masih diam sejak tiga jam yang lalu. Tiga jam yang membuat Luhan frustasi bukan main.

“Apa kau tidak lelah berdiam diri seperti ini?” Luhan tak tahu kalau suaranya melembut. Suara lembutnya membuat Yoona mau-tak-mau menatap Luhan penuh pengharapan.

“Syukurlah kau mau menatapku. Itu lebih baik daripada diam menunduk.”

Yoona sadar ada yang tidak beres dengannya. Luhan hanya mengulum senyum tipis, tapi rasanya Yoona sudah melayang ke langit ketujuh. Seketika, pendiriannya runtuh setelah membalas senyum Luhan.

“Apa kau tidak mau menjelaskan apa maksud dari ucapanmu waktu itu?” Luhan mendesahkan nafas kecewa –lagi- saat Yoona kembali menunduk menghindari tatapannya. “Baiklah, aku tidak akan memaksa.”

“Pulanglah secepat yang kau bisa. Hari sudah akan malam.”

Mata rusa Luhan memandang langit luas yang sudah berwarna gelap. Luhan tak sadar kalau pemandangan kesukaannya –langit malam dengan bintang yang bertaburan dan bulan yang bersinar terang- bisa terlewat begitu saja karena sibuk mengoceh satu arah dengan Yoona.

“Aku pergi. Kau hati-,”

“Amnesia.”

“Hah?”

Luhan membalikkan lagi badannya menghadap Yoona. Satu kata saja dari Yoona yang bersuara lembut itu bisa membuat Luhan terdiam. Kini, Luhan justru terdiam sendiri memikirkan gadis cantik di hadapannya ini. Apa suara lembut Yoona yang menghentikannya atau justru kata yang keluar dari bibir gadis itu?

“Kau mengalami kecelakaan tiga tahun lalu. Kecelakaan yang kau inginkan sendiri. Kecelakaan yang akhirnya membuat kau kehilangan ingatanmu secara total. Kau…,” Yoona menarik nafas panjang-panjang ketika tenggokannya tercekat karena menahan tangis. “bahkan melupakan aku. Melupakan kita.”

Luhan memandang Yoona tak percaya.

“Apa maksudmu dengan ‘kita’?”

“Masa lalumu yang kelam merenggut kebahagian kau, Luhan. Masa lalu yang sudah kita coba hapus bersama dan memulai lagi hidupmu dari awal. Kau bahkan berkata bahwa kita bisa hidup bahagia lagi setelah itu.”

Tidak seharusnya Yoona menitikkan air mata di hadapan Luhan kali ini. Benar-benar bukan saat yang tepat untuk menangis ketika dirinya harusnya bahagia bertemu seseorang yang selalu ia ingin temui selama ini.

“Nyatanya, kau pergi tanpa pernah kembali. Kau pergi dan benar-benar memulai hidupmu yang baru. Hidup baru dengan identitas baru dan memori yang baru. Setidaknya, kau bisa menyimpan memori tentang aku dan Luna. Tentang keluarga keci kita.”

“Aku tidak mengerti maksud dari ucapanmu, Yoona. Siapa Luna? Keluarga kecil, katamu?” Luhan menatap manik Yoona. Tetapi, bukannya mendapat jawaban, Luhan malah mendapati dirinya sendiri menitikkan air mata ketika mata Yoona menatapnya sedih. Menatapnya seperti sudah banyak penderitaan yang Yoona alami tanpa Luhan ketahui.

“Siapa yang kau maksud dengan ‘kita’? Aku benar-benar tidak-“

Bibir Yoona yang menempel di bibir Luhan, menghentikan ucapan lelaki itu. Bibir tipis Yoona mencium bibir Luhan dengan penuh perasaan. Terlalu banyak perasaan yang Yoona rasakan. Saking banyaknya sampai Yoona tidak bisa menjabarkannya dalam untaian kata-kata.

Detik demi detik sudah berlalu sejak pertama kali kedua bibir itu berpagut. Yoona berusaha menghargai setiap detiknya yang ia lewatkan untuk mencium Luhan yang sama sekali tidak melawan tindakannya yang terang-terangan bersikap kurang ajar padanya.

“Jangan pergi lagi, Luhan.”

END

Hai!

Rasanya udah lama banget ngga baca FF LuYoon di sini -_- so here i am with LuYoon fanfiction! as always lah gaje nya ngga ketulungan hohoo semoga suka deh😀

Papoi!❤

22 thoughts on “The Dark

  1. Need a sequel! Author harus kasih sequel buat ff ini. Masalahnya gak enak nih endingnya gantung.,gak mau kan digantung gantung :3
    Harus ada sequelnya ya!
    Harus! wkwk
    Ditunggu lohhj😉

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s