A Simple Word

Yoona SNSD Girls' Generation Flawless Skin Beauty Innisfree GIF

A Simple Word

by cloverqua | main casts Im Yoona – Zhang Yixing

genre AU – Fluff – Romance | rating PG 15 | length Ficlet

disclaimer This fanfiction is purely my own. Cast belong’s God. I just borrowed the names of characters and places. Don’t plagiat this FF! Please keep RCL!

Happy reading | Hope you like it

2015©cloverqua

.

Satu kata sederhana yang kau ucapkan, selalu membuatku tersenyum

.

Sepi.

Itulah yang dirasakan Yoona saat tetap tinggal di dalam kelas setelah jam kuliah berakhir. Jika diperhatikan lagi, suasana kelas tidak benar-benar sepi. Selain Yoona, masih ada orang lain yang bersamanya.

Entah sudah berapa lama Yoona berkutat di depan layar netbook untuk mengerjakan tugas kuliah bersama temannya—seorang pemuda yang memiliki darah keturunan China. Keduanya tengah mengerjakan tugas kelompok yang diberikan dosen mereka.

Apa kalian tahu? Sejujurnya mereka tidak hanya teman sekelas. Hubungan mereka bisa dikategorikan termasuk hubungan special—yaitu sepasang kekasih.

“Aish,” Yoona mendesah pelan saat helaian rambutnya tertiup angin hingga menutupi wajahnya. Tangan Yoona bergerak mengais isi tas untuk menemukan ikat rambut yang biasa digunakannya. Rambut terurai seperti itu terkadang memang menyusahkan, khususnya saat tertiup angin yang dapat mengganggu penglihatan mata.

Saat Yoona bersiap mengikat rambut, ia merasakan sentuhan tangan yang menahan pergelangan tangannya. Yoona menoleh pada pemuda di sebelahnya yang sedari tadi terus menatap padanya. Sorot mata hangat yang diperlihatkan pemuda itu membuat Yoona tertegun untuk beberapa detik.

“Biarkan saja. Aku lebih suka rambutmu terurai seperti ini,” ucap pemuda itu sambil menyunggingkan bibirnya. Lesung pipinya kembali terlihat dan membuat jantung Yoona berdebar-debar.

“Zhang Yixing?” Yoona selalu memanggil nama lengkap pemuda itu jika merasa kesal. Tangannya menyilakan beberapa helai rambut ke belakang telinga. Kini pandangan Yoona sepenuhnya tertuju pada pemuda itu.

“Ada apa, Im Yoona?”

Yoona mendesah pelan ketika pemuda itu membalasnya dengan hal serupa. Ia bahkan kembali memperlihatkan senyum manisnya yang membuat kekesalan Yoona sirna seketika.

“Lay?” Yoona menghadiahi sorot mata serius pada pemuda itu.

“Ada apa, Yoong?” ekspresi wajah Lay tidak berubah, tetap tenang dan hanya mengulum senyum pada Yoona.

“Berhenti memandangiku,” pinta Yoona sambil menundukkan kepala, “Itu membuatmu tidak fokus.”

Lay menggeleng, “Tidak, memandangimu seperti ini justru membuatku fokus.”

Yoona mencibir tatapan tanpa dosa yang diberikan Lay, “Maksudku, kau tidak fokus dengan tugas kuliah ini. Kau lupa tujuan awal kita tetap tinggal di kelas setelah jam kuliah selesai? Kita akan mengerjakan tugas kelompok yang diberikan Dosen Kang tadi pagi.”

Lay terdiam sejenak sebelum akhirnya tertawa pelan, “Aku tidak lupa, Yoong. Aku hanya tidak bisa menahan diri untuk tidak memandangimu seperti ini.”

Yoona bisa merasakan hawa panas yang mengitari wajahnya. Gadis itu mengibas-ibaskan tangannya untuk menenangkan diri.

“Kau tahu, aku sangat senang bisa satu kelompok denganmu,” lanjut Lay.

“Aku justru benci satu kelompok denganmu,” balas Yoona sarkastik.

“Kenapa?” Lay melototi Yoona dengan ekspresi kagetnya.

Yoona terdiam sejenak sambil memasang mimik wajah datar. Sebenarnya dalam hati gadis itu, ia menahan tawa karena berhasil membuat kekasihnya cemberut. Lay terlihat seperti anak kecil yang sedang merajuk.

“Setiap kali mengerjakan tugas kuliah bersama, kau selalu memandangiku hingga tidak fokus dengan tugas kuliah. Jika seperti ini terus, kita tidak bisa menyelesaikan tugas kuliah tepat waktu, Lay,” ucap Yoona panjang lebar, berusaha mengingatkan pemuda itu tentang kejadian-kejadian sebelumnya. Beberapa kali Yoona mendapat tugas satu kelompok dengan Lay yang selalu berakhir dengan hal serupa. Bukannya mengerjakan tugas, pemuda itu justru memandangi Yoona tanpa henti.

Sekian detik tidak ada reaksi dari Lay, sebelum akhirnya terdengar tawa dari pemuda itu. Reaksi yang sudah diduga Yoona sebelumnya. Lay memang pintar membuat kekesalan Yoona menghilang dalam sekejap, walau hanya dengan memperlihatkan senyuman atau tawa. Gadis itu benar-benar tidak tahan dengan lesung pipi yang sangat khas dari kekasihnya tersebut.

“Maafkan aku,” ucap Lay sambil membelai kepala Yoona. Gadis itu hanya terdiam dan terus fokus pada layar netbook.

“Tapi—bukan hanya aku saja yang tidak fokus setiap kali mengerjakan tugas kuliah bersamamu. Diam-diam kau juga selalu mencuri pandang ke arahku, ‘kan?”

Mata Yoona membulat sempurna ketika mendengar pertanyaan Lay. Bibir Yoona bahkan sampai menganga lebar karena terlalu kaget dengan apa yang dilontarkan pemuda itu.

“Bagaimana—kau tahu?” Yoona bertanya dengan mimik wajah kaget, seperti pencuri yang tertangkap basah setelah melakukan aksinya.

“Tentu saja aku tahu. Aku bisa melihatnya dari ekor mataku,” jawab Lay jujur sambil tersenyum lebar.

Kontan saja wajah Yoona memerah akibat pengakuan Lay yang begitu jujur. Terlebih saat Lay memasang ekspresi wajah yang menggodanya.

“Aish, itu juga alasan lain kenapa aku benci satu kelompok denganmu. Kau membuatku tidak bisa konsentrasi,” Yoona memalingkan wajah ke arah lain, bukan hanya karena kesal melainkan wajah merahnya yang terlihat mirip seperti kepiting rebus.

Aigo, kenapa kau begitu kesal? Aku hanya bercanda, Yoong,” ucap Lay lembut. Tangannya bergerak mengusap bahu Yoona. Ia mencoba mengembalikan mood gadis itu yang terlanjur rusak karena ulahnya sendiri.

“Hei, kau benar-benar marah?” Lay menaikkan volume suara ketika Yoona masih membelakanginya.

Tanpa sepengetahuan Lay, Yoona sedari tadi menyembunyikan senyum smirk-nya. Pemuda itu tidak tahu jika Yoona tengah mengerjainya. Salah satu kelemahan Lay adalah ia tidak bisa membiarkan orang lain marah karena sikapnya. Itulah sebabnya, Lay akan terus memohon dan berulang kali mengucap kata maaf.

“Aku minta maaf, Yoong. Lihatlah ke sini,” ucap Lay memohon.

Yoona memutar kedua bola matanya dengan malas, setelah itu ia tersenyum kegelian, membayangkan bagaimana wajah Lay yang begitu memelas saat meminta maaf padanya. Setelah puas menertawai Lay tanpa diketahui pemuda itu, Yoona kembali memasang wajah serius untuk memperlihatkan raut kemarahannya. Tentu saja hanya sekedar berpura-pura di depan kekasihnya itu.

Saat Yoona menoleh ke arah Lay, ia merasakan ada sesuatu yang basah di bibirnya. Mata gadis itu membulat sempurna ketika menyadari Lay baru saja melumat bibirnya.

Sekian detik Yoona tertegun memandangi Lay yang tersenyum padanya. Tangan Yoona bergerak menyentuh bibirnya yang baru saja dilumat habis oleh pemuda itu. Semburat rona merah kembali menghiasi wajah Yoona. Ia masih merasakan ciuman yang baru saja mereka lakukan. Rasanya benar-benar manis.

Lay mendekatkan wajahnya dan bersiap membisikkan sesuatu di telinga Yoona, “Saranghae.”

Satu kata sederhana namun sarat makna yang diucapkan Lay, berhasil membuat bibir Yoona melengkung sempurna.

­-THE END-

A/N : Kembali lagi membawa ficlet dengan pairing YoonLay. Semoga suka😉❤

29 thoughts on “A Simple Word

  1. Yayayaya….
    YoonLay sweet abis. Gila! Dari awal sampai akhir aku baca sambil mesam-mesem sendiri. Ckckckk. Efek baca ff sampe segitunya euyy..

    Eonni.. Aku juga suka sm Pairing ini.
    Lay Lay Lay auhh lesung pipinya emang ngga nahan.
    Lain kali bikin lagi ff dengan pairing ini yah?

    Fighting!!!!!!?!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s