Immortal Memory [1]

immortal_memory

Immortal Memory

by cloverqua | main casts Oh Sehun – Im Yoona

support cast Im Siwan – Im Juhwan – Kim Jongin – Byun Baekhyun and others

genre AU – Family – Romance | rating PG 17 | length Chaptered

disclaimer This fanfiction is purely my own. Cast belong’s God. I just borrowed the names of characters and places. Don’t plagiat this FF! Please keep RCL!

Happy reading | Hope you like it

2015©cloverqua

Introduce Cast

.

Kenangan akan selalu abadi, sekalipun kenangan terburuk yang membuatmu melupakanku

.

Oh Sehun adalah pewaris tunggal dari jaringan perusahaan terbesar di Korea Selatan—Kingdom Group. Perusahaan ini bergerak di bidang properti dan real estate. Tidak hanya sukses dalam negeri, Kingdom Group bahkan tengah berusaha menarik investor asing yang berminat untuk bekerja sama dengan mereka.

Selain latar belakang keluarga yang termasuk golongan chaebol, Sehun memiliki wajah tampan dengan ciri khas tulang rahangnya yang tajam. Perawakannya yang jangkung juga menambah daya tarik dari seorang Oh Sehun. Banyak wanita yang sudah jatuh cinta pada Sehun, namun tidak ada satupun yang berhasil membuatnya tertarik untuk ia kencani.

Entah sudah berapa kali Sehun mengikuti perjodohan yang berakhir dengan kegagalan. Setiap kali menemui wanita yang dijodohkannya, Sehun selalu berbuat hal di luar nalar yang membuat calon istrinya itu memilih mundur. Ia memang sengaja melakukannya demi menggagalkan perjodohan yang telah diatur oleh orang tuanya. Bagi Sehun, menemukan pasangan hidup dengan caranya sendiri jauh lebih baik daripada melalui perjodohan yang dianggapnya konyol.

Akhir pekan ini, ia terlihat mendatangi sebuah cafe yang berada di kawasan Cheongdam. Cafe itu terlihat ramai didatangi pengunjung, khususnya saat jam makan siang seperti sekarang. Tidak jauh berbeda dengan pengunjung lain, Sehun tengah menikmati waktu senggangnya dengan menempati salah satu meja kosong, sambil menyesap secangkir cappucino kesukaannya. Sesekali matanya memandang luar jendela cafe yang langsung menghadap jalanan kawasan Cheongdam.

Suara decitan pintu yang terdengar berhasil mengusik keasyikannya. Ia melirik sekilas pada sosok pria yang baru saja datang memasuki cafe hingga berjalan menghampirinya. Tanpa menunggu izin dari Sehun, pria itu langsung duduk di depannya.

“Ya, Oh Sehun! Tidak biasanya kau mengajakku makan siang bersama,” kalimat pertama yang keluar dari pria itu membuat Sehun hanya menyunggingkan bibirnya.

“Memangnya kenapa, Kim Jongin? Apa kau tidak suka jika aku mentraktirmu makan siang?” tanya Sehun sambil memperlihatkan senyum smirk-nya.

Kata ‘traktir’ yang diucapkan Sehun seolah mampu memperbaiki mood seorang Kim Jongin. Pria yang sudah berteman dengan Sehun sejak bangku SMA itu langsung tersenyum sumringah padanya.

“Kau mentraktirku?” Jongin mengganti ekspresi wajahnya yang semula masam menjadi cerah, “Tentu saja aku mau.”

Sehun mencibir, “Tadi saat datang ke sini, ekspresi wajahmu masam. Begitu tahu aku mentraktirmu, sekarang wajahmu terlihat senang.”

Jongin terkekeh pelan, “Maaf, aku hanya terlalu lelah bekerja. Hari ini aku tidak bisa menikmati hari libur karena harus lembur di perusahaan ayahku.”

“Lalu, Baekhyun?”

“Dia pergi menjenguk neneknya yang sedang sakit,” jawab Jongin sebelum kembali fokus dengan daftar menu yang dipegangnya. Ia tampak memanggil waiter untuk menyampaikan makanan dan minuman yang ingin dipesannya.

Sehun menyesap cappucino miliknya, sebelum memulai obrolan dengan Jongin.

DRRT!

Pandangan Sehun beralih pada ponsel yang ia letakkan di atas meja. Ia sedikit mendesah ketika melihat nomor kontak sang ibu yang muncul di layar ponsel.

Yeoboseyo,” sapa Sehun seramah mungkin. Walaupun ekspresi wajahnya terlihat malas, seolah tak ingin mendengarkan apa yang akan disampaikan ibunya.

Kau di mana sekarang?” tanya Seo Hyejin—ibu Sehun.

“Aku sedang makan siang bersama Jongin. Ada apa?”

Malam ini kita makan malam bersama dengan keluarga calon istrimu. Jangan terlambat pulang!

“APA?” Sehun sedikit berteriak karena terlalu kaget dengan ucapan Hyejin.

Kenapa reaksimu begitu kaget? Bukankah semalam kami sudah memberitahumu tentang rencana ini?” tanya Hyejin begitu santai. Sepertinya ia sudah bisa menebak reaksi Sehun sekarang ini.

“Tapi eomma tidak memberitahuku jika rencana itu akan berlangsung malam ini,” elak Sehun, “Ini benar-benar mendadak, eomma.”

Sebenarnya acara makan malam ini sudah kami rencanakan dari 1 minggu yang lalu. Kami memang sengaja merahasiakannya darimu karena kau pasti menolaknya,” terdengar tawa kecil dari Hyejin yang sukses membuat Sehun meradang.

Eomma!

Sudahlah, kali ini eomma tidak mau mendengar kata penolakan darimu. Kau harus ikut dan hadir dalam acara makan malam nanti. Titik.

“Tapi—” Sehun mengerutkan dahinya ketika mendengar sambungan telepon terputus, “Aish! Kenapa teleponnya diputus? Eomma benar-benar merusak mood-ku!”

Jongin yang sedari tadi hanya fokus dengan pesanannya yang baru saja datang, kini menatap Sehun dengan ekspresi bingung.

“Ada apa? Barusan ibumu yang meneleponmu?” tanya Jongin penasaran.

Sehun mengangguk pelan, “Makan malam bersama lagi, seperti biasa.”

“Ah, kali ini siapa yang mereka jodohkan denganmu?” tanya Jongin antusias. Agaknya ia sudah hafal dengan cerita perjodohan yang dialami Sehun.

Sehun terdiam sejenak untuk mengingat obrolan yang ia lakukan semalam dengan orang tuanya.

“Kalau tidak salah, namanya Im Yoona,” jawab Sehun.

Uhuk!” Jongin tiba-tiba tersedak saat meneguk minuman yang sudah dipesannya. Pria itu segera mengusap mulutnya yang terkena air minum. Pupil matanya sedikit membesar, tanda bahwa ia begitu kaget dengan penuturan Sehun.

“Im Yoona?”

Sehun mengerutkan dahinya ketika melihat ekspresi wajah Kai, “Memangnya kenapa? Kau mengenalnya?”

Aigo, kau tidak tahu siapa Im Yoona?” Jongin mencibir Sehun sambil melahap makanannya. Setelah ia menghabiskan satu suapan, Jongin kembali melanjutkan ucapannya, “Dia berasal dari kalangan chaebol, sama sepertimu. Im Yoona adalah cucu ketiga dari pendiri Empire Group, mendiang Im Haryong.”

Sehun menatap takjub kepada Jongin, “Sepertinya kau tahu banyak soal wanita itu.”

“Tidak ada orang yang tidak tahu tentang Im Yoona kecuali kau, pabo!” sindir Jongin yang membuat rahang Sehun mengeras karena kesal.

“Ya! Berhenti mengejekku!” Sehun mengangkat kepalan tangan yang bersiap melayang di kepala Jongin, “Cepat ceritakan soal wanita itu! Atau aku tidak akan membayar makan siangmu ini?”

Jongin kembali tersedak karena ancaman yang dilontarkan Sehun. Makanan yang baru saja dilahapnya tertahan sejenak di kerongkongan, hingga membuatnya harus segera meneguk air minum.

“Aish, kau benar-benar—” Jongin kehabisan kata-kata untuk membalas sikap temperamental Sehun yang tidak pernah bisa ditebak kapan akan muncul. Jika sudah seperti ini, Jongin memilih untuk mengalah dan menuruti kemauan Sehun.

“Kakek Yoona mempunyai 3 putra, yaitu Im Hyunsik, Im Hyunsung dan Im Hyunjae yang merupakan ayah Yoona. Sekarang Empire Group dipimpin oleh Im Hyunsik, putra tertua dari Im Haryong. Im Hyunsik mempunyai putra yang bernama Im Juhwan. Selanjutnya Im Hyunsung, putra kedua dari Im Haryong yang kini menjabat sebagai wakil presdir di Empire Group. Dia juga memiliki seorang putra yang bernama Im Siwan,” Jongin terlihat seperti pembaca cerita yang membuat Sehun begitu tertarik dengan apa yang diucapkannya. Wajahnya yang begitu ekspresif saat menjelaskan latar belakang keluarga calon istrinya—Im Yoona, mampu menghipnotis Sehun sehingga ia begitu fokus mendengarkan semua yang diucapkan Jongin.

“Lalu, Im Hyunjae yang tidak lain adalah ayah Yoona, merupakan putra bungsu dari Im Haryong. Kudengar dari ayahku, orang tua Yoona sudah meninggal karena peristiwa perampokan yang terjadi di kediamannya. Sekarang Yoona tinggal bersama pamannya, Im Hyunsung,” lanjut Jongin.

“Ayahmu tahu banyak soal keluarga mereka?” Sehun berdecak kagum sambil membulatkan matanya.

Jongin terkekeh, “Keluarga kami adalah keluarga pengacara yang sudah lama mengabdi kepada mereka. Kakekku dulu adalah pengacara pribadi kakek Yoona. Itulah sebabnya, kami seperti terikat dan hingga sekarang masih bekerja dengan mereka. Tidak heran jika aku tahu banyak soal latar belakang keluarga Yoona.”

“Ah, pantas saja. Kenapa kau tidak pernah menceritakannya padaku?” tanya Sehun yang membuat kerutan di dahi Jongin kembali terlihat.

“Sebelumnya aku tidak cerita karena kupikir tidak ada untungnya bagimu. Tapi, setelah tahu kau akan dijodohkannya dengan Yoona, kurasa aku perlu menceritakan apa yang aku tahu tentang wanita itu,” jawab Jongin enggan disalahkan.

Sehun terdiam sejenak, berusaha merekam semua yang diceritakan Jongin padanya.

“Selain itu, apalagi yang kau tahu soal Yoona?” tanya Sehun penasaran.

Jongin meletakkan peralatan makannya begitu selesai melahap satu suapan terakhir. Ia tersenyum menyeringai ke arah Sehun, “Kau masih ingin tahu?”

Sehun mengangguk, “Tentu saja. Beritahu aku apakah wanita itu memiliki kelemahan atau tidak. Supaya aku bisa menolak perjodohan ini.”

Bibir Jongin melengkung sempurna. Ia tidak segera menjawab dan memilih menikmati minumannya hingga habis. Setelah puas membuat Sehun menunggu, barulah Jongin memberitahu rahasia soal calon istrinya itu.

“Yoona memiliki paras wajah yang cantik, sangat natural. Siapapun yang melihatnya akan terpesona oleh kecantikan yang ia miliki. Tapi, begitu mereka mengetahui rahasia dari wanita itu, mereka memilih mundur dan enggan untuk menikahinya. Sama seperti dirimu, Yoona juga berulang kali gagal dalam acara perjodohan. Kebanyakan pihak pria yang menolak untuk menikahinya,” ucap Jongin.

“Karena ‘rahasia’ yang kau bilang tadi?” tanya Sehun lagi.

Jongin mengangguk sambil mengeluarkan senyum smirk-nya.

“Memangnya—apa rahasia dari wanita itu?”

Jongin menggerakkan jari tangan agar Sehun mendekatkan wajahnya. Pria itu memandangi sekeliling, sebelum membisikkan sesuatu di telinga Sehun.

“Maaf, aku tidak bisa memberitahumu. Sebaiknya kau cari tahu sendiri,” bisik Jongin terkekeh.

“APA?” Sehun menaikkan nada bicaranya yang membuat semua orang di cafe menatapnya kaget. Sebelum terkena amukan Sehun, Jongin sudah berjalan menuju pintu cafe. Ia melambaikan tangan ke arah Sehun yang masih terpaku di tempatnya.

“Jangan lupa bayar makan siangku! Terima kasih!” ucap Jongin sebelum keluar meninggalkan cafe.

Selanjutnya hanya terdengar umpatan kesal dari Sehun. Ucapan Jongin yang terkesan tidak tuntas, membuat Sehun semakin penasaran dengan sosok calon istrinya. Seperti apakah wanita yang bernama Im Yoona? Rahasia apa yang dimiliki wanita itu hingga selalu gagal dalam acara perjodohan?

//

Seorang pria yang mengenakan jas abu-abu dengan dalaman kemeja putih, tampak memasuki sebuah rumah mewah yang terletak di Sangji Ritzville. Rumah yang berada di kawasan elite distrik Gangnam itu dihuni oleh salah satu putra dari pemilik Empire Group, yaitu Im Hyunsung beserta istri dan putranya. Tidak lupa dengan keponakannya yang kini tinggal bersama mereka, setelah menjadi yatim piatu pasca kematian orang tuanya.

Pria itu—Im Siwan, baru saja selesai menghadiri meeting yang dilakukan bersama ayahnya. Siwan memang bekerja sebagai manager di sebuah divisi perusahaan yang didirikan oleh mendiang kakeknya. Saat jam makan siang, ia akan menyempatkan waktu untuk pulang ke rumah menemui adik sepupunya—Im Yoona. Tapi untuk hari ini, Siwan bisa pulang lebih cepat karena hari ini adalah hari istimewa bagi Yoona. Ia tidak perlu lagi kembali ke tempat kerja, karena permintaan sang ayah yang menyuruhnya segera pulang untuk menemani Yoona.

“Selamat datang, Tuan Muda,” sapa Baek Seungjo, pria yang bertugas sebagai kepala pelayan di rumah Siwan.

“Di mana Yoona?” tanya Siwan pada Kepala Pelayan Baek.

“Nona Yoona sedang bermain piano di ruang tengah,” jawab Kepala Pelayan Baek, “Perlukah saya memberitahunya jika Tuan Muda sudah pulang?”

Siwan menggeleng pelan, “Tidak perlu. Kau bisa kembali bekerja.”

Kepala Pelayan Baek mengangguk sambil menerima jas yang baru saja dilepas oleh Siwan. Setelah melepas dasi yang dikenakannya, Siwan berjalan menuju ruang tengah tempat Yoona berada. Samar-samar ia bisa mendengar dentingan piano ketika semakin mendekati ruang tengah. Bibir pria itu melengkung sempurna, ia selalu takjub dengan permainan piano adik sepupunya tersebut.

Siwan berhenti di dekat pintu ruang tengah, sambil memandangi sosok wanita bersurai cokelat yang tengah asyik memainkan piano. Ia benar-benar larut dalam permainan piano yang dilakukan Yoona. Alunan musik yang begitu lembut dari dentingan piano itu, membuat siapa saja yang mendengarnya akan merasakan kedamaian.

Tepuk tangan terdengar setelah Yoona selesai bermain piano. Wanita itu menoleh ke arah pintu ruang tengah. Ia tersenyum simpul begitu mendapati Siwan sudah berjalan menghampirinya.

“Seperti biasa, permainan piano yang sangat indah. Kau benar-benar selalu membuatku kagum dengan kemampuanmu ini, Yoong,” puji Siwan. Yoona hanya membalasnya dengan wajah yang tersipu.

“Apa kau sudah makan siang?” tanya Siwan sambil mengusap bahu Yoona. Wanita itu menggeleng pelan sambil memegangi perutnya yang terasa lapar.

“Kalau begitu, kita makan siang bersama. Aku baru saja pulang usai meeting bersama ayahku,” jawab Siwan sambil menarik tangan Yoona. Tiba-tiba saja langkah Siwan terhenti ketika tangan Yoona menahan pergelangan tangannya. Wanita itu tampak mengeluarkan benda seperti notes kecil beserta pena yang ia selipkan pada notes tersebut.

Kenapa oppa tidak makan siang di kantor?

Siwan tersenyum membaca pesan yang baru saja ditulis Yoona. Ia membelai lembut kepala Yoona sambil menyentuh pipinya.

“Aku sengaja pulang untuk makan siang bersamamu. Hari ini adalah hari istimewa bagimu. Malam nanti, kau akan dipertemukan dengan keluarga calon suamimu. Kau ingat?” tanya Siwan sambil mengusap wajah Yoona.

“Kau sudah tahu siapa calon suamimu? Dia adalah pewaris tunggal dari Kingdom Group—Oh Sehun,” lanjut Siwan.

Yoona mengangguk pelan. Ada gurat kesedihan yang tergambar jelas di wajahnya.

“Ada apa?” Siwan tampaknya berhasil menangkap raut kesedihan dari Yoona. Ia menunggu wanita itu menyelesaikan tulisannya.

Kenapa ahjussi tetap memaksaku untuk mengikuti perjodohan ini? Sudah jelas jika pria itu akan menolakku.

Siwan terdiam cukup lama. Ia tahu, Yoona lelah menghadapi semua acara perjodohan yang selama ini dirancang oleh orang tuanya. Jika mengingat kejadian sebelumnya, Siwan pun sangat membenci perjodohan yang diatur untuk Yoona. Mereka yang dijodohkan dengan Yoona, kebanyakan hanya tergiur dengan latar belakang keluarga maupun kecantikan Yoona. Tapi, mereka sama sekali tidak bisa menerima kekurangan yang ada dalam diri Yoona.

“Kita lihat saja nanti. Siapa tahu, dia akan menerimamu apa adanya,” jawab Siwan berusaha menenangkan Yoona.

Yoona menggeleng, lalu kembali menuliskan sesuatu pada notes-nya.

Aku ini bisu, tidak bisa bicara. Tidak ada seorang pun yang mau menerimaku apa adanya.

Hati Siwan terasa pilu melihat isi pesan yang ditulis Yoona. Ia bisa melihat tubuh Yoona yang gemetar karena wanita itu berusaha menahan tangis. Kondisi Yoona yang begitu emosional itu membuat Siwan tidak tega. Satu hal yang bisa ia lakukan hanyalah menenangkan wanita itu dengan pelukan hangat. Siwan sudah menganggap Yoona seperti adik kandungnya sendiri, sekalipun wanita itu adalah anak dari pamannya—Im Hyunjae.

Siwan kembali teringat peristiwa kelam yang menimpa keluarga Yoona 15 tahun silam. Orang tua Yoona—Im Hyunjae dan Kim Yunhi, meninggal dalam peristiwa perampokan di kediaman mereka. Yoona yang saat itu berusia 10 tahun, bersembunyi dalam lemari kamar untuk menghindari para perampok itu. Sungguh menyedihkan karena Yoona melihat dengan mata kepalanya sendiri saat orang tuanya meregang nyawa di tangan para perampok itu. Akibat trauma yang dialaminya itu, Yoona kehilangan kemampuan bicaranya hingga sekarang.

Menurut apa yang dikatakan ayah Siwan, ada kejanggalan dalam peristiwa perampokan yang menimpa keluarga Yoona. Saat dilakukan penyelidikan, tidak ada barang satupun yang hilang dibawa mereka. Muncul dugaan yang kuat jika peristiwa itu sebenarnya adalah pembunuhan berencana terhadap orang tua Yoona. Sampai sekarang kasus ini masih diselidiki oleh pihak yang berwenang. Tidak mudah menemukan petunjuk untuk memecahkan kasus ini karena para pelaku melakukan aksinya dengan begitu rapi.

“Percayalah padaku, Yoong. Suatu saat nanti, akan ada orang yang menerimamu apa adanya. Dia akan mencintaimu dan menjagamu untuk selamanya,” ucap Siwan sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh Yoona.

Siwan mengangkat dagu Yoona agar wajah wanita itu terlihat, tidak lagi menunduk seperti sebelumnya. Perlahan tangannya menyeka air mata Yoona yang membasahi wajah cantiknya.

“Kita makan siang bersama, ne?” ajak Siwan kepada Yoona. Wanita itu mengangguk pelan sambil tersenyum. Siwan merasa lega saat melihat ekspresi wajah yang diperlihatkan Yoona

Ajakan Siwan itu membuat Yoona melupakan sejenak keadaannya yang memiliki kekurangan dalam kemampuan bicara. Siwan tidak mau jika Yoona terus-menerus larut dalam kesedihan yang berkepanjangan. Ia ingin Yoona hidup dengan bahagia, bersama pria yang benar-benar tulus mencintainya.

//

Pandangan semua orang tertuju pada sosok pria yang tengah berjalan menyisiri lorong gedung perusahaan Empire Group. Mereka membungkuk hormat pada cucu pertama dari pendiri perusahaan tersebut, yakni Im Juhwan.

Dengan langkah tergesa-gesa, Juhwan mendatangi ruangan ayahnya yang menjabat sebagai presdir dari Empire Group. Sama seperti Siwan, ia juga bekerja sebagai manager yang berbeda divisi dengan Siwan. Satu hal yang membuat posisi Juhwan lebih tinggi dari Siwan, ia sudah ditetapkan sebagai pewaris selanjutnya dari Empire Group.

Jika ditelusuri dari garis keturunan, seharusnya ayah Siwan yang berhak untuk menjadi pewaris selanjutnya, mengingat statusnya yang merupakan adik dari Hyunsik dan posisinya sekarang sebagai wakil presdir dari Empire Group. Tapi Hyunsung menolaknya dan memilih Juhwan yang menjadi pewaris selanjutnya.

Juhwan tiba di ruangan Hyunsik begitu sang ayah meminta untuk bertemu dengannya.

Appa,” Juhwan memanggil Hyunsik yang dilihatnya tengah menatap ke luar jendela. Sadar jika putranya sudah datang, Hyunsik hanya tersenyum sambil berjalan mendekatinya.

“Apa aku mengganggumu?” tanya Hyunsik saat melihat wajah lelah dari Juhwan yang sudah datang ke ruangannya.

Juhwan hanya menggeleng, “Ada apa appa memanggilku?”

“Kau sudah dengar tentang Yoona? Kudengar adik sepupumu itu akan kembali dijodohkan oleh pamanmu,” ucap Hyunsik sambil tersenyum kecut.

“Benarkah? Kali ini dengan siapa?” tanya Juhwan penasaran.

“Oh Sehun, pewaris tunggal dari Kingdom Group,” jawab Hyunsik sambil duduk kembali di kursinya.

“Pihak Oh Sehun menerima perjodohan ini?”

“Menurutmu bagaimana?” Hyunsik mengembalikan pertanyaan yang dilontarkan Juhwan.

“Aku tidak tahu,” jawab Juhwan cuek.

Hyunsik tertawa sinis, “Kudengar orang tua Sehun menerimanya. Tapi untuk Sehun sendiri, aku yakin dia akan menolaknya. Kurasa dengan kondisi Yoona yang seperti itu, tidak ada satupun pria yang mau menikahinya.”

Juhwan terdiam saat melihat sang ayah justru tertawa senang dengan penderitaan yang dialami Yoona, yang notabene adalah keponakannya sendiri.

“Tidak seharusnya appa menertawakan Yoona seperti itu. Bagaimana pun, dia adalah keponakan appa,” ucap Juhwan terdengar membela Yoona.

Hyunsik mengerutkan dahinya ketika mendengar nada kecewa yang terselip dari ucapan Juhwan.

“Kenapa? Kau tidak suka dengan apa yang appa lakukan ini? Sejak kapan kau peduli dengannya?” tanya Hyunsik sinis.

“Meskipun kami bukan saudara kandung, Yoona tetap adik sepupuku. Sama seperti Siwan, aku juga mempunyai kewajiban untuk melindunginya. Mendiang kakek sudah berpesan pada kami untuk tetap selalu utuh sebagai saudara,” lanjut Juhwan sebelum bersiap keluar meninggalkan ruangan Hyunsik.

“Apa kau melupakan kesalahan yang pernah dilakukan Yoona pada keluarga kita?”

Tubuh Juhwan menegang saat mendengar pertanyaan Hyunsik. Langkahnya terhenti di dekat pintu ruangan Hyunsik.

“Kau tidak boleh melupakannya, Juhwan. Apa yang sudah Yoona lakukan di masa lalu, kau tidak boleh melupakannya,” lanjut Hyunsik dengan nada berat.

Tangan Juhwan mengepal, ia berusaha mati-matian menahan perasaan berkecamuk dalam dirinya.

“Aku memang masih mengingatnya, appa. Tapi, aku sudah memaafkan Yoona. Karena aku sadar, dia sama sekali tidak bersalah,” ucap Juhwan sebelum akhirnya keluar meninggalkan ruangan Hyunsik.

Suara keras yang ditimbulkan saat sang putra menutup pintu, membuat Hyunsik mendesah kesal. Ia kembali tersenyum menyeringai setiap kali mengingat perjodohan yang direncanakan adiknya untuk Yoona. Ia sama sekali tidak mengerti dengan sikap Hyunsung yang begitu perhatian terhadap Yoona, padahal wanita itu hanyalah keponakan mereka, putri dari adik bungsu mereka yang sudah meninggal.

Kebencian Hyunsik terhadap Yoona bukan tanpa alasan. Ada kejadian menyakitkan yang melibatkan Yoona di masa lalu, hingga Hyunsik harus kehilangan seseorang yang sangat dicintainya.

//

Tiba saatnya bagi Sehun dan orang tuanya untuk mengikuti acara makan malam bersama keluarga Yoona. Mobil yang mengantar mereka baru saja berhenti di depan sebuah hotel mewah yang terkenal di distrik Gangnam. Acara makan malam itu digelar dalam restoran yang dimiliki hotel tersebut. Keluarga Yoona sudah memesan ruang VVIP, khusus untuk menjamu Sehun dan keluarganya.

“Kenapa kau diam saja? Ayo cepat turun!” titah Hyejin saat mendapati Sehun masih tetap bertahan di dalam mobil. Suaminya—Oh Taekyung, hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan putranya yang tengah merajuk. Ia masih ingat, beberapa jam sebelum mereka tiba di hotel. Sehun sempat berniat kabur karena enggan mengikuti acara makan malam ini. Taekyung harus mengerahkan semua pengawal di kediamannya untuk mengawasi Sehun agar tidak melarikan diri.

“Oh Sehun, inikah sikap seorang pewaris dari Kingdom Group? Kau bukan lagi anak kecil yang bisa bersikap sesuka hati. Mulai sekarang, kau sudah harus siap untuk memimpin Kingdom Group. Itulah sebabnya, kau harus segera menikah dan nantinya memiliki anak yang bisa menjadi pewaris Kingdom Group selanjutnya,” jelas Taekyung panjang lebar.

Aigo, sudah berapa kali appa mengatakan hal itu? Aku sampai bosan mendengarnya,” balas Sehun sarkastik.

Appa juga bosan mengatakan hal ini berulang kali padamu. Cepat turun!” suara Taekyung yang sedikit meninggi membuat Sehun terkesiap dan segera keluar dari mobil. Sesekali pria itu masih mengeluarkan umpatan kesal yang ia tujukan pada orang tuanya. Namun saat kembali melihat sorot mata tajam dari sang ayah, Sehun langsung bungkam dan berjalan di belakang mereka.

Petugas hotel yang sudah menunggu, segera mengantarkan mereka menemui keluarga Yoona. Saat menaiki lift menuju lantai 18, Sehun berulang kali menghela nafas. Ia tidak tahu kenapa ada perasaan gugup yang menghinggapinya. Sehun kembali teringat ucapan Jongin yang memberitahunya informasi seputar sang calon istri.

“Selama di hadapan keluarga calon istrimu, kau harus bersikap baik. Jika sampai kau mempermalukan kami lagi, awas kau!” Hyejin mengepalkan tangan yang ia arahkan ke wajah Sehun.

Sehun mendesis kesal sambil memandangi wajah ibunya yang terlihat menakutkan. Sementara ayahnya hanya terkikik geli saat melirik ke arahnya. Pandangan Sehun beralih pada dua pria yang berada di belakangnya. Mereka adalah pengawal pribadi yang sengaja disiapkan Taekyung agar Sehun tidak melarikan diri dalam acara perjodohan nanti.

TING!

Pintu lift terbuka saat tiba di lantai 18. Petugas hotel segera mengantar mereka menuju sebuah ruangan VVIP yang sudah dipesan keluarga Yoona. Semakin mendekati ruangan, Sehun bisa merasakan keringat dingin yang mulai keluar dari pelipisnya. Ia tidak tahu kenapa dirinya merasa sangat gugup. Padahal dalam acara perjodohan sebelumnya, Sehun tidak pernah merasakan apa yang ia rasakan sekarang.

“Silakan,” petugas hotel mempersilakan Sehun dan keluarganya untuk masuk ke dalam sebuah ruangan VVIP. Ada sebuah meja makan besar yang berada di tengah ruangan. Sehun bisa melihat sosok pria dan wanita yang tengah menunggunya sambil tersenyum. Sepasang suami-istri itu langsung berdiri untuk menyambut mereka.

“Sehun, beri salam pada Tuan Im Hyunsung. Beliau adalah wakil presdir dari Empire Group, sekaligus paman dari calon istrimu,” bisik Taekyung.

Sehun terdiam sejenak, sebelum akhirnya membungkuk hormat pada Im Hyunsung dan istrinya—Lee Nayoung.

“Senang bertemu dengamu, Sehun-ssi,” ucap Hyunsung dengan senyum hangatnya.

“Wajahmu benar-benar tampan,” puji Nayoung sambil mengusap bahu Sehun.

Ne, senang bertemu dengan kalian, ahjussi, ahjumma,” balas Sehun tak kalah ramah. Ia melirik pada orang tuanya yang langsung memberi salam pada paman dan bibi Yoona. Setelah cukup lama saling memberi salam, mereka kembali duduk di tempat yang sudah disediakan. Mereka menunggu kedatangan Siwan dan Yoona.

Sehun melirik jam tangan yang dikenakannya. Baru beberapa menit duduk di kursinya, Sehun sudah merasa bosan. Dalam hati ia merasa kesal karena masih harus menunggu kedatangan calon istrinya. Tidak tepat waktu, termasuk salah satu hal yang paling dibenci oleh Sehun.

“Ah, itu mereka!” seru Hyunsung yang langsung mengalihkan pandangan semua orang, tak terkecuali Sehun. Pria itu langsung memusatkan pandangannya pada pria dan wanita yang baru saja datang.

Sepersekian detik, Sehun terpaku pada sosok wanita yang terlihat anggun dengan balutan gaun panjang berwarna krim. Rambut cokelatnya yang terurai panjang, serta polesan make up sederhana yang semakin mempertegas kesan natural pada wajahnya. Bibir mungil serta sorot mata teduh dari wanita itu, membuat penampilannya terlihat sempurna.

Jongin benar. Dia memang benar-benar cantik, batin Sehun sambil menelan saliva-nya.

“Dia adalah Im Siwan, putraku. Lalu Im Yoona, keponakanku yang sudah kuanggap seperti anakku sendiri,” ucap Hyunsung memperkenalkan Siwan dan Yoona pada keluarga Sehun. Keduanya membungkuk hormat kepada Taekyung dan Hyejin, sebelum beralih memandangi Sehun yang sedari tadi hanya diam memandangi Yoona.

Hyejin yang sadar dengan reaksi sang putra, segera menyikut lengan Sehun agar kembali fokus. Sehun terkesiap dan melirik kesal pada Hyejin, sebelum akhirnya memilih meneguk segelas air putih yang sudah tersaji di atas meja. Dengan kedatangan Siwan dan Yoona, acara makan malam pun dimulai.

Pengelola restoran di hotel itu menyuguhkan hidangan terbaik yang mereka miliki, sesuai permintaan Hyunsung. Suasana makan malam pun terasa hangat, meski tetap terlihat berkelas dan mewah.

Hyunsung dan Nayoung terlihat asyik mengobrol bersama Taekyung dan Hyejin. Sementara Siwan memilih fokus dengan Yoona. Pria itu terlihat membantu Yoona memotong hidangan steak yang tengah mereka nikmati.

Sehun yang duduk di depan Siwan dan Yoona, sedikit cemburu dengan perlakuan Siwan yang begitu perhatian terhadap Yoona. Pandangannya tidak beralih sedetik pun dari Yoona. Ia terus mengamati setiap gesture yang diperlihatkan wanita itu.

Tanpa sengaja, Yoona melirik ke arah Sehun yang membuat keduanya saling bertatapan. Sehun langsung terdiam dan kembali fokus pada hidangannya. Sementara Yoona hanya tersenyum menanggapinya.

Senyuman Yoona itu berhasil dilihat oleh Sehun yang membuat wajahnya terasa panas. Walaupun enggan untuk mengakuinya, tapi Sehun tidak bisa mengelak jika saat tersenyum, Yoona semakin terlihat cantik. Benar-benar sempurna. Tidak ada yang kurang satupun, kecuali—tunggu. Sehun mendadak teringat dengan ucapan Jongin soal rahasia yang ada pada Yoona. Rahasia yang membuat wanita itu selalu gagal dalam acara perjodohan.

Ketika memasuki hidangan penutup, Sehun memberanikan diri untuk memulai pembicaraan dengan Yoona. Bukan hanya perkenalan secara basa-basi yang ingin ia lakukan, tapi Sehun ingin mencari tahu rahasia yang dimaksud Jongin tentang wanita itu.

“Senang bertemu denganmu, Im Yoona,” untuk beberapa saat, Sehun menyesali kebodohannya sendiri yang begitu jujur mengungkapkan apa yang ia rasakan ketika bertemu pertama kali dengan Yoona.

Yoona sedikit terkejut dengan sikap Sehun yang secara tiba-tiba mengajaknya bicara. Ia pun hanya mengangguk pelan, sebelum beralih melirik Siwan yang sedari tadi mengawasi keduanya.

“Boleh aku tahu, hal apa yang paling kau sukai?” tanya Sehun lagi.

Yoona terdiam dan hanya menatap lurus ke arah Sehun. Pria itu terlihat menunggu jawaban darinya.

“Yoona paling suka bermain piano,” ucap Siwan justru menjawab pertanyaan Sehun.

“Benarkah?” Sehun melirik Siwan sambil mengerutkan dahinya. Ia kembali memandangi Yoona yang hanya menganggukan kepala.

“Kalau begitu, apa boleh jika sesekali aku melihatmu bermain piano?” tanya Sehun lagi.

“Datang saja ke rumah jika kau mau,” jawab Siwan untuk kedua kalinya dan membuat Sehun terpancing emosi.

“Maafkan aku, hyung. Aku sedang berbicara dengan calon istriku, kenapa kau yang dari tadi menjawabnya?” Sehun mulai kesal dengan sikap Siwan. “Apa dia tidak bisa bicara sehingga harus kau yang menjawabnya?”

DEG!

Pandangan semua orang langsung tertuju pada Sehun ketika mendengar pertanyaan yang dilontarkan pria itu. Sadar dengan pandangan semua orang, Sehun kembali mengerutkan dahinya.

“Hei, ada apa dengan kalian semua?” tanya Sehun bingung.

Siwan tersenyum sinis, “Kukira kau sudah tahu kondisi calon istrimu ini. Tapi melihat reaksimu ini, aku yakin kau belum mengetahuinya.”

“Apa maksudmu, hyung?

Mata Siwan melirik Hyunsung dan Nayoung yang sedari tadi hanya diam sambil menundukkan kepala. Reaksi yang tidak jauh berbeda juga diperlihatkan oleh Taekyung dan Hyejin.

“Bukankah orang tuaku sudah memberitahukan semua tentang Yoona pada orang tuamu? Apakah orang tuamu sama sekali tidak memberitahumu?” tanya Siwan lagi.

“Siwan, cukup! Hentikan ucapanmu!” pinta Hyunsung berusaha meredam situasi yang terlanjur tidak terkendali.

“Tidak, appa. Calon suaminya harus tahu kondisi Yoona yang sebenarnya,” tolak Siwan tegas.

Sehun memandangi Yoona yang hanya menunduk di depannya. Tubuh wanita itu terlihat gemetar. Sehun tidak tahu pasti bagaimana ekspresi wajahnya, tapi ia bisa melihat kedua mata Yoona yang mulai berkaca-kaca.

Appa, eomma, bisakah kalian jelaskan padaku? Apa yang sebenarnya tidak kuketahui tentang kondisi Yoona?” tanya Sehun penasaran. Mungkinkah hal yang dimaksud Siwan adalah rahasia yang sudah disampaikan Jongin sebelumnya?

“Sehun sebenarnya—” Hyunsung mencoba mengambil alih untuk memberikan penjelasan pada Sehun.

“Yoona kehilangan kemampuan bicaranya. Dia bisu,” suara Siwan yang memotong ucapan Hyunsung membuat semua orang menatap kaget ke arahnya.

“APA?” suara Sehun naik satu oktaf, tanda bahwa ia benar-benar kaget dengan pengakuan Siwan. Matanya membulat sempurna dengan ekspresi wajah yang tidak bisa dijelaskan. Ia menatap tak percaya ke arah Yoona yang begitu tampak sempurna di matanya, tapi ternyata mempunyai kekurangan yang tidak pernah ia duga.

“Kau bisu?” Sehun bertanya pada Yoona, tapi ia sama sekali tidak mendapatkan jawaban apapun dari wanita itu. Yoona terus menunduk, tidak berani menatap ke arahnya.

Sehun beralih menatap tajam pada orang tuanya. Kali ini ia merasa telah dibohongi dan tidak terima dengan perjodohan tersebut.

“Bagaimana bisa kalian menjodohkanku dengan wanita seperti dia?” Sehun mengeluarkan kalimat sarkastik yang begitu menyakitkan.

“Apa maksud ucapanmu?” Siwan langsung berdiri dari posisinya begitu mendengar ucapan Sehun, “Aku tidak peduli jika kau menolak perjodohan ini. Tapi, aku tidak terima jika kau menghina Yoona.”

“Kau benar, hyung. Aku memang akan menolak perjodohan ini. Hanya saja, tadinya aku tidak mempunyai alasan untuk menolaknya. Tapi sekarang, aku sudah mendapatkan alasannya,” balas Sehun tak kalah ketus. Ia pun melakukan hal serupa dengan Siwan. Semua orang kini memandangi Sehun yang sudah berdiri di depan mereka.

“Aku tidak bisa menerima perjodohan ini. Alasannya sudah jelas, aku tidak bisa menerima keadaan Yoona. Maafkan aku,” kalimat Sehun terdengar lancar tanpa jeda. Semua orang menatap tak percaya ke arah Sehun, bahkan ketika pria itu langsung pergi meninggalkan ruangan tanpa sepatah katapun.

“Oh Sehun!” Taekyung berusaha memanggil putranya agar kembali duduk, namun Sehun mengabaikannya. Ia hanya bisa berharap kedua pengawal yang menunggu di luar ruangan, berhasil menghalangi Sehun.

BRAK!

30 menit berlalu semenjak kepergian Sehun, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kedatangan seorang pria yang berjalan masuk ke dalam ruangan mereka. Pria itu adalah salah satu dari pengawal yang dibawa oleh Taekyung.

“Maafkan kami. Tuan Muda berhasil melarikan diri. Kami sudah berusaha mencegah dan mengejarnya, tapi beliau memberikan perlawanan kepada kami,” ucap pria tersebut.

Taekyung mendesah kesal sambil menggebrak meja. Lalu ia menundukkan kepala di hadapan keluarga Yoona. Reaksi serupa juga diperlihatkan Hyejin.

“Kami benar-benar minta maaf atas sikap Sehun. Kami sama sekali tidak bermaksud menghina Yoona. Hanya saja, kami memang belum sempat memberitahunya,” ucap Hyejin menyesali atas kesalahannya yang tidak segera memberitahu kondisi Yoona pada Sehun sejak awal.

“Jika kalian memberitahunya sejak awal, apakah acara makan malam ini tetap dilaksanakan? Aku yakin, dia akan menolaknya mentah-mentah,” ucap Siwan ketus.

“Im Siwan!” Hyunsung mulai emosi dengan sikap Siwan yang terkesan berbicara tanpa berpikir terlebih dahulu akibatnya. Sementara Nayoung sudah berpindah di sebelah Yoona. Ia memeluk Yoona dengan erat, berusaha menenangkan wanita itu yang kembali menangis setelah ditolak untuk kesekian kali oleh calon suaminya.

Acara makan malam itu pun berakhir kacau akibat keputusan Sehun yang langsung meninggalkan ruangan. Secara terang-terangan, ia memutuskan untuk menolak perjodohannya dengan Yoona.

-TO BE CONTINUED-

A/N : FF ini sengaja dipublish untuk menggantikan FF Destiny yang sebentar lagi selesai (sekitar 2-3 chapter lagi). Oh iya, untuk FF 2 Hearts mohon maaf saya pending dan saya tarik kembali dari peredaran (kalau ditanya alasannya, saya juga bingung jawabnya gimana *maaf*)

Review sedikit untuk FF ini, secara keseluruhan saya sudah membuat garis besar dari cerita ini. Saya sengaja menambah karakter dari aktor yang menjadi saudara sepupu Yoona di sini (Im Juhwan dan Im Siwan).

juhwan-siwanAduh, dua abang ini emang cakep dan manis ya *ketahuan authornya nge-fans*. Kenapa pakai mereka berdua? Supaya lebih variasi dan memang akan menonjolkan konflik keluarga yang dialami Yoona di sini. Sekaligus yang marganya sama kayak Yoona😄

Tambahan lagi, maaf untuk alurnya yang aneh (kayaknya sih rada kecepetan, tapi saya tetep nekat buat karena penasaran dengan respon kalian^^’ ) Jika ada typo yang bertebaran, mohon dimaklumi karena saya nulisnya juga termasuk sks (sistem kebut semalam *halah*😄 )

Terima kasih sudah membaca❤😉

132 thoughts on “Immortal Memory [1]

  1. Baru baca ini seru banget
    Sehun sumpah kata-katamu itu loh pedes banget kasian yoonanya tapi yoona bisu bkn bawaan dari lahirkan berarti masih bisa sembuh
    Ijin baca next chap ya thor

  2. Kerenn.. Momentnya asikk thor.. Baru baca dichap ini.. Mudah.mudahan aja ada keajaiban penyakit yoona bisa sembuh.. Krna kan itu bisunya gak bawaan dari lahir hehehe😀

  3. Itu Sehun pengen ditimpuk siwan ya,,kasian yoona dihina gtu >,< Im Hyunsik benci sma Yoona knp ,?? Jadi Yoona itu trauma gra2 pmbunuhan ortuny, aq kira dri lahir -_- berarti bisa sembuh dong.. Ffny keren thor,,feelny dpt bngt..
    Keep Writing thor ^^

  4. Nangis bacanya . .
    Gak tau knapa sakit bgt yo0ngNie d gtuin hunpPa . .
    Buat yo0ngNie bisa bicara donk unN.Feelnya dpet bgt . .
    Suka ma krakter siwan dsini . .
    LIKE IT pkok.nya

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s