(Freelance) Possessive and Obsession (Chapter 1)

poster ff possessive 2 (YoonHunYeol ) copy copy

Possessive and Obsession { Chapter 1 }( Remake : YoonHunYeol Version )

A Story by Vifasha Flory

Starring Im Yoona, Oh Sehun, Park Chanyeol

Support Cast : Ahn Jaehyun, Kwon Yuri, Kim Soohyun

With Genre Romance, AU

Length : Chapter

Rating : PG 16

Disclaimer : The Cast Is Belong To God. I Just use Their Name to My Story. The Story is PURE Mine. It is PURE from my IMAGINATION. DON’T PLAGIAT THIS STORY WITHOUT MY PERMISSION!!!.

DON’T BE SILENT READERS! LEAVE A COMMENT OR LIKE IT! BE A GOOD READER

 

Note : Sebelumnya, ff ini juga pernah di publish disini dengan versi YoonYeolHo. Karena udah boleh publish ff yang pairingny ada Sehunnya, jadi aku kirim ulang. Dan aku akan ngelanjutin ff ini dengan YoonHunYeol ^_^ dan bukan lgi versi YoonYeolHo… Dan Chanyeolnya juga masih muncul,tetapi kali ini dengan peran yang berbeda.. Hehe. Dan juga kesalahan marga dan nama ‘Kyuhyun’ juga udah aku benerin ko^^ Dan maaf karena posternya sama.. Hehe… Semoga komentarnya meningkat^^

Sorry for Typo(s). Kesalahan tanda baca, alur cerita yang kurang disukai readers, cerita yang menurut kalian kurang menarik, kurang kreatif dan lain sebagainya.

 

Dipublish juga di storyofyoonhae.wordpress.com

 

Hope You Like It ^_^

 

Yoona POV

 

Aku berjalan seorang diri. Menyusuri jalan ini. Menuju halte bus yang sudah mulai terlihat dari sudut mataku. Terus melangkahkan kedua belah tungkai kaki ini.

 

Sebenarnya ini pertama kalinya aku berangkat menggunakan bus atau kendaraan umum. Biasanya Kim ahjussi selalu setia mengantarku kemanapun tempat yang inginkan. Biasanya kemanapun aku pergi, BMW Metalic Blackku selalu menemaniku.

 

Namun kini tak ada lagi. BMW itu sudah dijual oleh appaku. Bahkan kini Kim ahjussipun menjadi seorang pengangguran. Alasannya? Karena appaku telah ditipu oleh seseorang. Orang tersebut menawarkan sebuah penawaran yang sangat menggiurkan yang ( katanya ) akan mendapatkan sebuah keuntungan yang sangatlah besar. Appaku tergiur. Tentu saja appaku langsung menerimanya tanpa berpikir panjang ataupun mencurigainya yang notabonenya orang itu hanyalah seseorang yang baru dikenalnya. Bodoh memang.

 

Hal itu membuat perusahaan appaku nyaris bangkrut. Uang perusahaan itu menipis. Para karyawannya selalu berdemo tanpa henti – hentinya di depan perusahaan. Menuntut gaji yang belum kunjung mereka terima.

 

Hal yang ada di otaknya hanyalah uang – uang dan bisnis. Bahkan ia sangat jarang mencurahkan kasih sayangnya ke eommaku dan aku. Berangkat pagi buta dan pulang tengah malam. Entah apa yang dikerjakannya. Pastinya ia selalu berkutat dengan setumpuk berkas – berkas memusingkan yang selalu tersusun rapih di meja kerjanya.

 

Appaku frustasi. Bahkan hampir gila mungkin. Ia sangat – sangat menyesal. Sangat menyesal atas kebodohonnya yang sudah mempercayai orang yang sama sekali belum dikenalnya. Namun, apa yang bisa dibuatnya? Apa ia bisa memutar waktu untuk memperbaiki semuanya? Penyesalan memang selalu datang di akhir bukan?

 

Kemudian appakupun menjual hartanya. Termasuk mobil BMW itu. bahkan rumah kamipun hampir disita. Hutang piutangnya terlilit dimana – mana. Para pekerja di rumahkupun banyak yang di PHK. Miris bukan?

 

Semoga saja Tuhan memberikan sebuah kejutan indah dibalik kesulitan yang dihadapi keluarga kami…

 

.

 

Sebenarnya ada alasan lain mengapa aku begitu bersemangat berangkat menggunakan bus dan setia menunggunya di halte ini. Itu semua karenanya… Aku ingin melihatnya… Seorang pria berkulit putih bagaikan porselen berperawakan cukup tinggi. Rambut coklat gelap dan mata hazelnya yang sangat indah semakin menambah ketampanannya.

 

Ya. Park Chanyeol. Atau akrab dipanggil Chanyeol. Sunbae yang kusukai – ani – kucintai. Jantungku selalu berdegup kencang jika memandanginya. Apalagi jika melihatnya tersenyum. Tapi sayang…. Iris hazelnya belum pernah sekalipun bertemu pandang dengan iris hitamku. Padahal, aku ingin sekali ia menatapku dan tersenyum manis kepadaku. Beruntung jika aku dapat berbicara dengannya. Dan lebih beruntung lagi jika ia yang mengajakku berbincang disertai senyum manis yang tak pernah hilang dari bibirnya.

 

Berhentilah berkhayal Im Yoona! Lihat tiang halte di depanmu! Kau hampir menabraknya!

 

Terlambat! Kau sudah menabraknya!
Memalukan! Sungguh memalukan! Aku terjatuh di halte bus yang cukup ramai ini! Membuat beberapa orang mentertawakanku! Dan belum lagi Chanyeoln sunbae juga melihatmu!

 

Dan lihat sunbae yang kucintai itu berjalan mendekatimu!

 

Apa? Su…Sunbae?

 

.

 

.

 

Gwenchana?” Ia menjulurkan tangannya. Hendak membantuku berdiri. Bibirnyapun membentuk sebuah lengkungan manis.

 

Apa aku bermimpi?

 

Ya Tuhan… Kumohon jangan bangunkan aku dari mimpi terindah ini…

 

Kuulurkan tanganku menerima bantuannya. Tangannya.. Terasa hangat sekali.

 

Aku menyentuh tangannya untuk pertama kali! Dan… Khayalanku tadi menjadi kenyataan!

 

Ya Tuhan… Terimakasih…

 

.

 

Gumawo…” Aku tersenyum kecil. Disertai sebuah bungkukan kecil pula. Kedua tanganku sibuk membersihkan pakaianku yang kotor terkena debu lantai halte ini. Aku tak berani menatap kedua iris hazelnya. Aku takut, jantungku akan berdebar semakin kencang…

 

Aku merasa ia masih memperhatikanku. Tak berapa lama kemudian, ia berjalan menjauh. Ke sisi lain halte bus ini. Memakai earphone hijaunya, dan bersandar di tiang. Jemarinya ia gerakkan memainkan ponsel putihnya. Ia terlihat sangat tampan! Benar – benar tampan!

 

Bus pertamapun datang. Orang – orang berdesak – desakkan masuk ke dalam bus. Kulangkahkan kakiku masuk ke dalam bus yang penuh sesak itu. Tak apa. Yang penting aku bisa sampai ke kampusku.

 

.

 

Mataku mencari – cari sebuah bangku yang kosong. Menelisik setiap inchi bagian bus ini. Akhirnya aku mendapat sebuah tempat duduk. Satu – satunya tempat duduk yang tersisa di dalam bus ini hanyalah tempat duduk di samping Chanyeol Sunbae.

 

Apa? Apa ini sebuah kesempatan? Sepertinya aku sangat beruntung hari ini….

 

“Permisi… Apa tempat ini masih kosong? Bolehkah saya duduk disini?” Jantungku berdetak sangat cepat. Tanganku sedikit gemetar.

 

Lagi – lagi ia tersenyum. Senyum yang penuh kelembutan.

 

Ne.. Silahkan”

 

.

 

Akhirnya akupun duduk di sampingnya. Sesekali aku mencuri pandang dengannya. Namun, sepertinya ia lebih memperhatikan ponsel putihnya. Eugh…. Entah mengapa aku merasa iri dengan ponsel itu. Gila memang.

 

Mataku tanpa sengaja menangkap seorang ahjumma di sampingku. Ahjumma itu terlihat sudah cukup tua. Badannyapun sudah sedikit ringkih dan rambutnya sedikit berwarna putih. Sepertinya ia tak cukup kuat jika terlalu lama berdiri.

 

“Permisi….” Ahjumma itu menoleh. Menatapku sambil tersenyum ramah.

 

Ne?”

 

“Ahjumma boleh bertukar tempat duduk denganku. Ahjumma silahkan duduk di tempatku. Biar aku yang berdiri” Tawarku sambil tersenyum.

 

“Benarkah? Ah tidak apa – apa… Aku berdiri saja”

 

“Tak apa ahjumma. Mari ahjumma duduk disini” Aku berdiri. Mempersilahkan ahjumma itu duduk disini. Kemudian bertukar tempat dengannya. Tidak apa – apa jika aku harus berdiri sepanjang perjalanan menuju kampusku dibanding melihat ahjumma ini berdiri yang sepertinya tujuannya memakan waktu lebih lama jika dibanding ke kampusku.

 

Gumawo… Kau memang anak yang sangat baik. Sudah sangat jarang sekarang menemukan anak muda berhati mulya sepertimu” Ucap ahjumma itu setelah duduk di bangku yang kutempati tadi. Aku hanya tersenyum kecil menanggapinya.

 

Kurasakan sepasang mata menatapku. Dalam. Sangat dalam. Entah siapa pemilik sepasang mata itu.

 

“Chanyeol?”

 

“Eomma?”

 

Apa? Ahjumma itu eomma Chanyeol sunbae?

 

<<<<<<.>>>>>>

 

Author Pov

 

“Jadi bagaimana? Apa kau menerima kesepakatan ini?”

 

Seorang pria paruh baya menyeringai. Seorang pria dengan balutan jas hitam dan kacamata hitam. Merasa jika pria dihapannya akan menerima kesepakatan yang dibuat olenya.

Pria lain yang memakai kemeja putih namun tanpa balutan jas dan kacamata hitam terlihat berfikir keras. Berusaha menimbang – nimbang kesepakatan yang dibuat pria itu yang notabonenya adalah teman lamanya sekaligus direktur perusahaan saingannya. Perusahaan yang selalu menempati urutan kedua dibawah perusahaannya. Namun kini perusahaan itu menempati urutan pertama karena perusahaannya terjatuh begitu saja. Karena kebodohan yang dilakukannya.

 

“Oh ayolah Im Jaehyun…. Terima saja kesepakatan ini. Aku berjanji akan membantu perusahaanmu bangkit kembali asal kau mau menikahkan putrimu yang bernama Im Yoona dengan putraku. Ya… putraku yang menderita cacat fisik tentu saja”

 

“Mengapa tidak Im Yuri saja?”

 

“Tidak. Aku ingin Yoona yang bersanding dengan putraku di pelaminan nanti”

 

Lagi – lagi pria paruh baya itu berfikir keras. Ingin rasanya ia menerima kesepakatan itu. Namun ia juga memikirkan perasaan putrinya.

 

Ia tahu. Putrinya pasti mengharapkan seorang pemuda tampan yang sempurna tanpa cacak fisik sedikitpun.

 

Tapi ingat prinsip hidupnya? ‘Uang dan bisnis lebih penting dari segalanya’

 

Begitulah jika seseorang sudah sangat tergila – gila dengan harta dan kekayaan. Yang hidupnya selalu bergelimang harta.

 

“Baiklah. Aku terima kesepakatan ini”

 

Uang telah membuatnya menjadi pria egois

 

Pria yang bahkan merelakan anaknya demi ‘Uang’

 

Pria berkacamata hitam itu menajamkan seringainya. Tatapan matanya sangatlah sinis. Ia sudah menduga ini sejak awal.

 

“Baiklah tanda tangani surat ini kemudian suruh anakmu ke ‘Starlight Caffe’ besok jam 8 malam”

 

.

 

.

 

Ruang makan itu terasa sangat sepi. Masing – masing belum ada yang memulai percakapan. Hening. Hanya terdengar bunyi peralatan makan yang salin bersentuhan satu sama lain.

 

“Yoona, Ada yang ingin kubicarakan denganmu” Im Jaehyun memulai pembicaraan setelah menghabiskan makan malamnya.

 

Yoona mulai menatap pria paruh baya itu waswas. Pasalnya, jika ada yang ingin ia bicarakan kepadanya, pasti suatu hal yang amat besar dan penting.

 

“Tapi kuharap kau mengerti” Yoona menatap pria itu dalam. Menunggu kemunculan kata – kata yang keluar dari bibirnya.

 

“Aku ditawari sebuah kesepakatan oleh teman lamaku sekaligus direktur perusahaan saingan kita. Perusahaan yang selalu menempati urutan kedua dibawah perusahaan kita. Namun kini perusahaan itu menempati urutan pertama karena masalah yang dialami perusahaan kita”

 

“Ya… Karena kebodohanmu yang ditipu oleh orang yang bahkan belum aku kenal hanya karena sejumlah ‘Uang’” Celetuk Yuri yang masih menikmati hidangan makan malamnya tanpa sedikitpun menatap pria itu.

 

“Kesepakatan apalagi? Tak cukupkah kau ditipu? Yang menyebabkan banyak masalah dan kesulitan? Jangan sampai kau ditipu lagi kali ini! ‘Im Jaehyun, yang dikenal dengan julukan ‘Raja Bisnis’ direktur perusahaan tersukses di Korea oh tidak, sekarang tidak lagi! Ditipu untuk yang kedua kalinya’!!! Apa kau tidak malu, eoh?” Sambungnya. Perkataannya benar – benar sangat tajam dan bahkan tidak pantas dikatakan oleh seorang anak kepada appanya.

 

Im Jaehyun hanya mendengus kasar. Sembari menatap gadis itu tajam. Merasa malas menanggapi ucapan gadis itu. Ia sudah memahami sifat putri sulungya. Termasuk perkataan tajam nan menusuk yang sering keluar dari bibir tipis gadis itu.

 

“Kesepakatan itu adalah temanku berjanji akan membantu perusahaan bangkit kembali asal aku mau menikahkan putriku dengan putranya. Tetapi putranya menderita cacat fisik. Dan aku ingin menikahkan Yoona dengan putranya. Sebab kau tak pantas bersanding dengan putra temanku!”

Yoona tertegun.

 

“APA?”

 

Yuri menghentakkan pisau dan garpu yang ia pegang. Sehingga terdengar suara nyaring meja kaca yang menjadi tempat dihentakkanya kedua benda tersebut. Matanya membulat sempurna. Tatapan matanya sangat tidak percaya dengan apa yang telah dilakukan oleh pria paruh baya dihadapannya.

 

“APA KAU GILA, EOH???!!!” Amarahnya benar – benar sudah tersulut. Sangat kesal dengan pria paruh baya dihadapannya karena telah melakukan sesuatu yang sangat ‘Gila’.

 

“Kau rela mengorbankan Yoona hanya untuk perusahaanmu itu? Astaga…. Setan apa yang telah memasukki tubuhmu itu…”

 

“Dan terlebih lagi putranya itu cacat fisik? Ya ampun… Aku juga tidak mau bersanding dengan putranya yang cacat itu!”

 

“Oh ya. Aku tahu. Kau tak pernah kerasukkan setan jenis apapun. Karena setanpun juga tak mau memasukki tubuh kotormu itu! Sifatmu memang sudah gila dan egois sejak lahir!” Yuri tak peduli dengan status pria itu yang notabonenya adalah appanya. Ia berani berkata tajam kepadanya jika pria itu benar – benar melakukan yang sudah melewati batas. Melakukan sesuatu yang gila.

 

“TUTUP MULUT KOTORMU ITU IM YURI!!!” Pria itu akhirnya bangkit berdiri dari kursi yang didudukinya. Tangannya mengepal keras. Giginya bergemeletuk menahan amarahnya yang sudah siap keluar kapanpun ia mau. Ia sangat geram akan tingkah anak sulungnya.

 

Mungkin saja gadis itu tak pantas disebutnya anak. Karena gadis itu senantiasa selalu menghinanya dan berkata tajam kepadanya.

 

“Kau tahu mengapa aku bersifat seperti ini? ITU SEMUA KARENA KAU! KAU YANG SUDAH MEMBUATKU BISA MEMBUNUH ORANG DENGAN LIDAH TAJAMKU! TERMASUK KAU! INI SEMUA KARENA KEEGOISANMU! KAU YANG TAK PERNAH MEMIKIRKAN PERASAAN KAMI! DI OTAKMU HANYALAH UANG DAN BISNIS! BAHKAN EOMMA MENJADI GILA KARENA KAU!”

 

Im Jaehyun berjalan mendekati Yuri yang berada di seberangnya. Langkahnya penuh amarah. Wajah dan matanyapun sudah mulai memerah.

 

PLAK

 

Satu tamparan keras diterimanya. Pipi mulus gadis itu memerah seketika. Bahkan kepalanyapun terlempar keras ke belakang karena kerasnya dorongan tangan pria paruh baya itu.

 

Yoona yang berada di samping gadis itu menutup mulutnya yang menganga lebar. Airmatanya bercucuran. Merasa tidak percaya akan yang dilakukan pria paruh baya itu. Sebab ini adalah pertama kalinya ia melihat eonni satu – satunya dan kesayangannya ditampar oleh ayah kandungnya sendiri.

 

“Jika kau tak tahu apa – apa, lebih baik tutup mulut kotormu itu! KAU TAHU MENGAPA KAU BISA HIDUP SEJAUH INI? KAU TAHU MENGAPA KAU BISA MAKAN SETIAP HARI? KAU TAHU MENGAPA KAU TINGGAL DI RUMAH MEWAH INI? INI SEMUA KARENA UANG! KARENA BISNISLAH PENGHASIL UANG! KARENA PERUSAHAANKU!”

“Aku lebih suka hidup sederhana dibandingkan hidup di rumah mewah yang kotor ini!” Balas Yuri tajam.

 

PLAK

 

Satu tamparan lagi – lagi diterima gadis berkulit tan itu. Kali ini di sisi lain pipinya. Tamparannyapun tak kalah keras dari yang pertama. Menimbulkan bekas tangan Im Jaehyun yang memerah di pipinya.

 

“Dan apa kau tega, eoh? Melihat para karyawan itu menjadi pengangguran? Dan para pekerja di rumah kita di PHK? Apa kau tahan melihat mereka semua selalu demo di depan kantor setiap hari? APA KAU TEGA, EOH?”

 

Yuri terdiam. Kepalanya tertunduk

 

“Dan satu lagi. Penyebab eommamu menjadi gila bukan hanya karena aku saja. Melainkan juga karena IA TIDAK BISA HIDUP MISKIN”

 

Im Jaehyun menghembuskan nafasnya kasar. Memandang Yuri dengan tajam. Amarahnya sudah ia lampiaskan. Kemudian, Matanyapun beralih memandang Yoona datar.

 

“Yoona, besok datanglah ke Starlight Caffe jam 4 sore. Jangan bertanya mengapa kau kusuruh datang ke caffe itu. turuti saja permintaanku”

Kemudian Im Jaehyun berbalik dan pergi entah kemana.

 

Yuri memandang Yoona. Mata kedua gadis itu sama – sama berkaca – kaca. Kemudian memeluk adiknya lembut.

 

“Yoona-yya, kau tidak apa – apa?” Ujar Yuri setelah memeluk adiknya. Kedua tangannya mencengkram kedua pundak Yoona.

 

“Ya… Aku tidak apa – apa” Ucap Yoona sembari memasang senyum palsunya.

 

“Jangan berbohong! Kau tidak bisa berbohong padaku Im Yoona” Tangan kanan Yuri terulur mengusap airmata Yoona.

 

“Aku tahu ini berat untukmu… Namun seperti yang appa katakan tadi, kau juga harus memikirkan para karyawan dan pekerja rumah kita. Yang hidupnya bergantung pada perusahaan appa”

 

“Ya.. Aku mengerti eonni… Aku sudah siap. Walaupun aku masih kuliah, tapi tak apa”

 

“Biar aku saja yang menjalani ini semua Yoona-yya… Aku akan memohon pada appa agar… Agar aku saja yang menggantikanmu Yoona-yya” Ujar Yuri sambil terisak.

 

“Tidak! Jangan lakukan itu eonni… Biar aku saja yang menjalani ini semua. Lagipula, yang appa inginkan untuk menikahi putra temannya itu aku bukan? Kumohon jangan lakukan itu eonni…”

 

“Tapi aku… Tapi aku tidak mau melihat kau tersiksa adikku tersayang…”

 

“Aku tidak tersiksa eonni… Aku berjanji tidak akan tersiksa… Aku akan menjalani semua ini dengan ikhlas. Dengan sepenuh hatiku… Jangan menangis eonni…” Kali ini Yoonalah yang menghapus jejak airmata Yuri. Gadis itu menatap Yuri dalam.

 

“Bukankah kau sudah memiliki Minho? Kau tidak mau mengecewakannya bukan? Biarlah ini semua aku yang menjalani. Lagipula aku belum memiliki kekasih”

 

Tapi aku sudah mempunyai orang yang kucintai

 

^^^^^^^^

 

Yoona menutup pintu kamarnya. Kemudian mulai melangkah mendekati ranjangnya. Ia berbaring di atas ranjang empuk itu. Perlahan – lahan liquid bening itu kembali mengalir. Matanya kembali memerah. Ia kembali terisak.

 

Sejujurnya ia masih mencintai Chanyeol. Sangat mencintai pria itu. Namun ia sadar. Ia tak mungkin bisa bersama namja itu. Namja itu bahkan tak mengenalnya.

 

Pertemuan mereka di halte busa dan bus itu belum memberikan tanda apapun

 

Dengan menikah dengan pria yang sudah dijodohkan olehnya, itu berarti menghilangkan kesempatan bersanding dengan namja itu.

 

Tapi ada yang jauh lebih berarti di dalam lubuk hatinya. Pangeran masa kecilnya. Ia tak akan pernah bisa melupakan pangeran masa kecilnya.

 

Pangeran yang tiba – tiba muncul begitu saja di saat ia membutuhkannya.

 

Ia menatap sebuah gelang yang terletak di tangan kanannya. Sebuah gelang sederhana yang terbuat dari kayu lengkap dengan ukiran – ukiran indah di atasnya dan ada ukiran namanya.

 

Barang terakhir yang diberikan ‘Pangeran’nya sebelum ia pergi meninggalkannya begitu saja.

 

Ia bahkan belum pernah melihat lagi wajah Pangerannya saat ini

 

Ia merindukannya

 

Sangat merindukannya

 

Tapi ia juga mencintainya

 

.

 

“Kau dimana? Aku merindukanmu….” Gumamnya smabil mengusap gelang itu.

 

“Aku ingin melihat wajahmu lagi…. Apa kau semakin tampan? Seberapa tinggi tubuhmu sekarang?”

 

“Aku ingin memelukmu lagi… Aku ingin menatap mata teduhmu lagi…”

 

“Dan aku ingin menciummu…” Yoona mencium legmbut gelang kayu itu. Airmatanya menetes makin deras.

 

“Bahkan kecupan terakhirmu dulu di bibirku masih bisa kurasakan… Dan tak akan pernah kulupakan” Yoona mengusap bibirnya pelan. Pandangan matanya menerawang kosong entah kemana.

 

“Aku merindukanmu ‘BlueIce’ Oppa”

 

“Sampai sekarang aku bahkan belum tahu siapa nama aslimu”

 

*******

 

“Ada apa?”

 

“Aku ingin menjodohkanmu dengan putri seorang teman lamaku”

 

“Apa? Aku tidak mau!” Seru seorang pria sambil memalingkan wajahnya. Seorang pria nyaris sempurna yang bernama ‘Oh Sehun’. Oh lihatlah! Pria paruh baya itu berbohong! Oh Soohyun berbohong! Oh Sehun bukanlah seorang pria yang menderita cacat fisik! Ia seorang pria yang nyaris sempurna tanpa menderita cacat fisik sedikitpun.

 

“Dengarkan aku dulu” Oh Soohyun menghela nafas. Siap memulai ceritanya.

 

“Aku menjodohkanmu dengan putri teman lamaku yang bernama Im Yoona. Dia putri bungsu teman lamaku itu. Tadinya aku berniat menjodohkanmu dengan putri sulungnya. Tapi sayangnya ia sudah mempunyai kekasih. Aku tidak ingin menjadi perusak hubungan orang lain. Jadi, aku menjodohkanmu dengan putri bungsunya. Yoona. Alasannya? Karena aku ingin membantu perusahaannnya yang nyaris pailit. Meskipun ia saingan kita, bagaimanapun juga ia pernah menjadi sahabatku. Apa salahnya membantu sahabat?”

 

“Dan apa kau tahu? Im Yoona sangatlah cantik! Aku sudah menyelidiki segala hal tentang gadis itu. Aku rasa ia cocok untukmu. Sebentar, akan aku ambilkan dokumen tentang dirinya beserta fotonya” Oh Soohyun berlalu pergi.

 

Sehun terlihat memikirkan sesuatu. Otaknya memaksanya memutar memori – memorinya di masa lalu.

 

“Kau punya nama? Siapa namamu?”

 

“Im Yoona. Lalu, siapa namamu?”

 

“Ehm… Aku tidak akan memberitahu siapa namaku…” Ucap seorang anak sambil menjulurkan lidahnya.

 

“Kau jahat! Ayo biarkan aku mengetahui siapa namamu!” Ujar seorang gadis kecil sambil menggelitikki teman barunya.

 

“Aaaaa… Itu geli kau tahu? Panggil saja aku Pangeran ‘BlueIce’”

 

“BlueIce?”

 

“Ya… Biru warna kesukaanku dan Ice? Itu karena sifatku dingin seperti es.. Haha”

 

“Dingin? Tapi kenapa kau-“

 

“Aku bersifat hangat hanya pada orang yang kucintai”

 

Anak laki-laki itu menatap gadis kecil disampingnya dalam. Menelusuri setiap inchi dari bola mata hitam itu.

Gadis kecil itu terlihat kebingungan. Tak mengerti apa maksud perkataan anak disampingnya.

 

Kemudian, sang anak yang berada disampingnya mendekatkan wajahnya ke gadis kecil disampingnya. Sang gadis kecil yang tidak tahu apa – apa hanya bisa menatapnya polos.

 

Lelaki kecil itu mencium bibir gadis kecil disampingnya cukup lama. Kemudian menjauhkan kepalanya setelah merasa puas membuat pipi gadis kecil itu bersemu merah. Ia tertawa kecil.

 

“Wae?”

 

“A..Aniyo”

 

“Mengapa pipimu merah?”

 

“Merah? Benarkah?”

 

“Nde… Disini. Semuanya merah” Lelaki kecil itu menangkup kedua pipi gadis itu. kemudian menatap mata rusanya lekat – lekat.

 

“Aku akan memanggilmu ‘Deer’…”

 

“Deer… Berjanjilah padaku jangan pernah tinggalkan aku. Tetaplah disisiku untuk selamanya. Saranghae… Aku akan selalu mencintaimu”

 

“Hahaha… Kau pasti bercanda Oppa… Kau seperti orang dewasa saja… Usiamu bahkan masih 10 tahun… Kau belum tahu apa itu cin-“ Ucapan gadis kecil itu terputus ketika merasakan sebuah bibir kembali mengecupnya. Menghentikan ucapannya secara tidak sopan.

 

“Apa aku terlalu dewasa ya?” Ujar Blueice kecil sambil terkekeh kecil. Yoona hanya cemberut mendengarnya.

 

“Kau pasti terlalu banyak menonton drama korea.. Atau film – film yang romantis” Sungutnya pelan. Blueice semakin tertawa keras.

 

“Tak ada yang lucu”

 

“Memang”

 

“Lantas mengapa kau tertawa”

 

“Aku? Entah”

 

“Bodoh”

 

.

 

“Yoona…Dengarkan aku” Sang lelaki kecil menatap manik mata gadis kecil disampingnya penuh keseriusan.

 

“Mungkin tak berapa lama lagi aku akan pergi..”

 

“Apa?”

 


“Tapi kau tenang saja. Aku akan memberikan gelang ini untukmu sebagai petunjuk” Sang lelaki kecil mulai memasangkan gelang kayu dengan ukiran – ukiran yang amat indah ke lengan mungil sang gadis. Memang masih sangat besar untuk ukuran lengannya yang masih amat mungil.

 

“Blueice, ini terlalu besar…”

 

“Aku sengaja membuatnya sedikit longgar. Agar masih bisa dipakai saat kita sudah dewasa nanti”

 

“Aku akan pergi… Sebenarnya aku juga tidak mau.. Tapi karena paksaan kedua orang tuaku, aku bisa berbuat apa?”

 

“Aku berjanji jika aku kembali bertemu denganmu di masa depan, aku akan menikah denganmu”

 

“Aku akan memilikimu sepenuhnya…Karena kau adalah MILIKKU. Dan tak ada yang bisa merebut kau dariku satu orangpun”  

 

“Tak peduli jika aku sampai terobsesi untuk memilikimu. Aku berjanji akan menemukanmu kembali di masa depan. Dan selalu pakailah gelang itu.. Jangan pernah kau melepasnya, Arachi?” Yoona kecil hanya mengangguk pelan. Lelaki kecil disampingnya terssenyum kecil. Kemudian memeluk tubuh gadis disampingnya. Dan mengusap lembut surai sutranya.

 

“Aku berjanji…Aku berjanji atas perkataanku tadi Yoona…”

 

………….

 

“Chanyeol-ah, apa kau mengenal yeoja tadi?”

 

“Yeoja?”

 

“Ne… Yeoja yang menawarkan tempat duduk kepada Eomma di bus pagi tadi?”

 

“Tidak… Aku tidak mengenalnya?”

 

“Benarkah? Tapi apa kau pernah melihatnya di kampusmu?”

 

“Tidak”

 

“Ah… Sayang sekali… Padahal jika kau satu kampus dengannya, kau bisa mendekatinya”

 

Mwo?”

 

“Ya… Mendekatinya. Aku lihat ia yeoja yang cantik, sopan, dan baik hati”

 

“Maksud eomma apa?”

 

“Aku setuju jika ia menjadi kekasihmu” Eomma Chanyeol menatap manik mata Chanyeol yang terdiam mematung. Bahkan Chanyeol sama sekali belum menyentuh secangkir teh hangat yang disajikan eommanya di meja ruang keluarga ini. Kedua manusia itu memang sering mengobrol atau membicarakan sesuatu di ruangan ini jika mereka punya waktu senggang.

 

“Mungkin kau bisa mencari sesuatu tentangnya Chanyeol-ah”

 

“Dari pertama kali bertemu dengannya, entah mengapa aku sudah menyukainya….”

 

“Aku rasa ia cocok denganmu Chanyeol-ah”

 

“Aku harap kau bisa dekat dengannya…”

 

“Tapi sepertinya ia berasal dari keluarga berada… Apa sudi ia menjadi kekasihmu yang berasal dari keluarga sederhana?”

 

“Ah… Mengapa aku jadi bicara asal seperti ini… Aku terlalu berharap…”

 

“Chanyeol-ah” Chanyeol tersadar dari lamunannya. Ia refleks menatap iris coklat eboni ibunya.

 

“Aku harap kau bisa mengajaknya berkenalan… Lalu ajaklah ia untuk menjalin hubungan yang lebih serius…”

 

“Apa kau keberatan?” Bibir eomma Chanyeol belum henti- hentinya mengeluarkan ratusan kata tentang ‘Im Yoona’. Sepertinya wanita itu benar – benar menyukai Yoona sejak pertama kali bertemu pandnag dengannya.

 

“Aku? Ah tentu saja tidak, Eomma…” Chanyeol tersenyum sekilas. Namun entah mengapa ia merasakan hatinya terus bergetar selama ibunya menceritakan tentang gadis itu.

 

Eomma Chanyeol tersenyum lembut. Iris hazelnya menatap Chanyeol penuh kelembutan.

 

“ Aku akan menunggunya Chanyeol-ah”

 

^

 

^

 

^

 

^

 

Lonceng caffe itu berbunyi. Saat seorang gadis memasukki caffe itu. Sebuah caffe mewah dengan berbagai hiasan luxury di setiap jengkal dindingnya. Bercat putih merah dan beralaskan karpet beludru berwarna merah maroon semakin membuat caffe itu semakin menawan. Belum lagi para pelayannya yang sangat ramah dan selalu menebarkan senyum lembut di setiap detiknya. Dan masakan – masakan yang tersedia di caffe itu patut diacungkan jempol karena rasanya yang benar – benar ‘istimewa’.

 

Seorang gadis bersurai coklat keemasan memasukki caffe itu. Suara dentingan high heels merah mudanya mengiringi setiap langkahnya. Gadis itu tampak anggun dengan dress pink rose selututnya dan make up naturalnya. Gelang kayunya masih melingkar di tangannya. Iris hitam arangnya tampak mencari – cari sebuah kursi dan meja yang masih kosong.

 

Setelah matanya menemukan meja yang ia cari, ia melangkahkan kedua belah tungkainya ke arah meja tersebut dan mendudukkan dirinya di atas kursinya. Sebuah meja yang bersampingan langsung dengan sebuah jendela besar yang di dalamnya terdapat sebuah taman yang sangat indah.

 

Lonceng caffe itu kembali berbunyi. Matanya refleks memandang pintu caffe itu. Dua orang pria berjas hitam tampak berjalan memasukki caffe itu. Seorang pria paruh baya dan seorang pria yang terlihat masih muda yang keduanya sama – sama memiliki paras tampan. Mereka berjalan mendekatinya.

 

Yoona Pov

 

Kudengar lonceng itu berbunyi. Tampak dua orang pria memasukki caffe itu. Mereka menatapku sesaat, kemudian melangkah mendekati mejaku. Aku sudah bisa menyimpulkan bahwa pria paruh baya yang berjalan di depan adaah teman appaku walalupun aku belum pernah melihatnya. Tapi, dimana anaknya yang cacat fisik? Apakah pemuda yang berjalan di belakangnya? Tapi tak mungkin!

 

Yang berjalan dibelakangnya adalah seorang pria berperawakan tinggi dan berparas tampan tampa cacat fisik sedikitpun. Aku menyukai mata teduhnya. Rambut hitam kecoklatannya ditata rapi ke atas. Hidung runcing bagaikan pahatan seniman terbaik dunia. Parfum maskulinnya yang beraroma vanila dengan cepat menyebar ke seluruh caffe ini.

 

Tapi tatapan matanya terkesan dingin dan menusuk. Bibirnyapun bergaris rata tanpa lengkungan manis sedikitpun.

 

Apa mungkin ia yang akan menjadi suamiku?

 

Tapi jika aku benar – benar dijodohkan dengannya, bagaimana dengan Chanyeol Sunbae? Aku masih mencintainya…

 

Bagaimana kehidupanku di masa depan?

 

Apa mungkin pria itu berbohong pada appaku?

 

Dan juga aku dan Yuri eonni?

 

.

 

Author Pov

 

Annyeong Haseyo…” Sapa Yoona sambil membungkukan badannya setelah kedua pria itu sampai di hadapannya.

 

“Silahkan duduk”

 

“Apa kau Im Yoona?” Tanya pria paruh baya sambil menatapnya intens.

 

Ne…”

 

“Ah… Kenalkan Aku Oh Soohyun. Teman appamu yang akan memabntu perusahaan ayahmu bangkit kembali. Dan ini anakku Oh Sehun” Ucap pria itu sambil menjulurkan tangannya ke arah Yoona. Mengajak gadis itu berjabat tangan.

 

Setelah ketiga insan itu saling berjabat tangan, entah mengapa pandangan Sehun sedari tadi setelah berjabat tangan dengannya, matanya terus terpaku ke gelang kayu Yoona. Yoona hanya menatap Sehun bingung. Kedua iris teduh Oh Sehun kemudian menatap Yoona dalam. Yang ditatap menautkan alisnya tak mengerti.

 

Yoona melihat Sehun menyembunyikan sesuatu di dalam lengan jasnya yang panjang. Entah Yoona tak tahu apa benda itu.

 

Gadis itu terlalu bodoh karena tak dapat menyimpulkan apa yang terjadi

 

“Apa kau sudah tahu? Ini putraku, Oh Sehun yang akan dijodohkan denganmu”

 

“Mwo?!”

 

“ Tapi bukankah….”

 

“Ya… Kau pasti sudah dengar dari ayahmu, jika anakku ini cacat fisik. Tapi kenyataanya… Sama sekali tidak. Ia sempurna”

 

Yoona tertegun mendengarnya. Ia masih memandang Sehun tak percaya. Sehun hanya menatapnya datar.

 

“Tapi mengapa anda….”

 

“Aku berbohong pada appamu’

 

“Aku sengaja berbohong padanya, karena aku ingin mengujinya”

 

“Aku ingin tahu apakah ia lebih mementingkan perusahaannya ataupun perasaan putrinya”

 

“Hhhhh… Ternyata ia lebih mementingkan uang dan bisnis. Ck… Sungguh miris” Pria paruh baya itu berbicara sambil mendelik ke arah Yoona. Yoona hanya menerawang kosong entah kemana.

 

“Oh ya! Sebelumnya aku mau kau menandatangani ini” Oh Soohyun mengeluarkan sebuah map dan sebuah pena dari tas yang dibawanya. Kemudian memeberikannya ke Yoona.

 

“Apa ini?”

 

“Sebuah perjanjian. Selebihnya baca saja…”

 

Yoona membuka map hijau itu. matanya ergerak kekanan – kekiri membaca setiap kata yang ada di kertas itu. Hatinya mencelos. Demi perusahaan dan karyawan serta para pekerja di rumahnya, ia harus rela melakukan ini semua. Meskipun harus mengorbankan perasaannya.

 

Ia tak mau menyalahkan siapapun. Ia harus rela dan ikhlas sepenuh hati melakukan ini semua.

 

Ia menarik nafas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan – lahan. Mencoba menormalkan jantungnya yang berdebar – debar.

 

Jari jemari lentiknya bergerak menandatangi selembar kertas itu. kertas yang benar – benar penting yang menentukan masa depannya dan banyak orang.

 

“Baiklah… Aku akan mengurus semuanya. Termasuk kapan kalian akan melangsungkan pernikahan. Atau mungkin, jika kalian ingin bertunangan terlebih dahulu? Itu tidak masalah…”

 

. Yoona dan Sehun terdiam membisu. Sibuk dengan pikiran masing – masing. Mendadak suasana menjadi hening. Sehun masih menatap Yoona lekat – lekat. Pikirannya berkecamuk. Sedangkan Yoona? Ia menunduk sambil memainkan jari –jarinya.

 

Apa ia Yoona yang dulu?

 

Bagaimana masa depanku nanti? Apakah ia akan mencintaiku?

 

.

 

“Ah.. Kalian memutuskannya ya…” Oh Soohyun tersenyum canggung. Memandang kedua insan itu bergantian.

 

“Ani appa… Sepertinya lebih jika kita bertunangan terlebih dahulu. Lagipula, sepertinya Yoona maish kuliah bukan? Ia masih terlalu muda untuk berkeluarga”

 

“Apa kau keberatan, Noona?” Sehun menatap Yoona intens. Yoona segera tersadar dari lamunannya.

 

“Tidak… Tentu saja tidak”

 

“Ah… Baiklah jika begitu. Lusa atau mungkin kapanpun kau mau, kau bisa mengajak Yoona memilih cincin pertunangan kalian bukan? Aku akan menyiapkan pestanya semeriah mungkin”

 

“Apa tidak merepotkan?” Yoona bertanya dengan hati – hati.

 

“Tidak sama sekali tidak” Ucap Oh Soohyun sambil menggelengkan kepalanya.

 

“Baiklah. Sehun, kau antarkan Yoona pulang. Aku akan menghubungi Jo Ahjussi agar segera menjemputku”

 

.

 

.

 

.

 

Suasana di dalam mobil itu terasa hening dan canggung. Masing – masing belum ada yang memulai percakapan. Hanya suara Yoona yang memberitahu dimana letak rumahnya. Kemudian setelah itu hening kembali. Hawa dingin yang berasal dari air conditioner terasa semakin menusuk saat bercampur juga dengan hawa malam yang memang sudah dingin.

 

Sehun hanya memfokuskan perhatiannya kepada jalanan di depannya. Tanpa sekalipun menoleh ataupun melirik sekilas ke gadis di sampingnya.

Yoona memandang pemandangan di luar jendela. Sambil beberapa melirik Sehun. Berharap pria itu akan bertemu pandang dengannya ataupun berbicara kepadanya. Ah… Tapi ia terlalu berharap.

 

.

 

Mercy hitam keluaran terbaru itupun sampai di depan rumah Yoona. Yoona menolehkan kepalanya. Ia tersenyum kecil. Bahkan pria itu tak sedikitpun mengeluarkan kalimat basa – basi seperti contohnya ‘Kita sudah sampai’.

 

Gumawo…” Ujar Yoona singkat sambil tersenyum kecil. Pria itu masih tak mengeluarkan suaranya. Pandangan matanya masih lurus ke depan. Benar – benar pria yang sangat dingin!

 

Gadis yang memakai dress rose pink itu kemudian keluar dari Mercy tersebut. Badannya berbalik menatap kepergian mobil itu.

 

“Mengapa ia dingin sekali?”

 

“Entah mengapa aku menjadi tak yakin ia akan mencintaiku…”

 

“Sepertinya ia tak menyukai perjodohan ini… Atau ia tak menyukaiku?”

 

“Apa penampilanku salah?”

 

Aku tak yakin dengan perasaanku di masa depan nanti…

 

Aku tak yakin ia akan mencintaiku…

 

Sepertinya ia tipe pria yang sulit didekati…

 

 

To Be Continue

 

Hai!!! Ketemu lagi dengan saya😀 lagi – lagi aku bikin ff tentang ‘Obsesi’ -____- #lirikffChance :v

Maaf ya.. Bahasanya campuran… ada Indonesianya ada Koreanya.. Dan yang di italic juga campuran.. Hehe…

 

Iya kalo yang kaya panggilan gitu emang sengaja gak aku italic. Kebanyakan…

 

Maaf atas segala kesalahan yang terdapat di ff ini… Maaf ya…

 

Komen or Likenya jangan lupa… Ok?

 

See you in next chapter ^_^

 

 

34 thoughts on “(Freelance) Possessive and Obsession (Chapter 1)

  1. sulit untuk menentukan pilih yg mana YoonHun apa YoonYeol, karena keduanya pairing favoritku😀
    kasian Yoona harus jd korban/? buat keluarganya:/ Sehunnya dingin banget sih.:/

  2. Izin baca lagi thorrr wekwekk , ceritanya seru ihhh , oh jadi ini ep ep pernah diposting dengan cast yang beda tak apalah yang ini lebih menarik

  3. aku suka karakter sehun yg dingin thor, dingin dan terobsesi. apakah sehun cuek dan dingin thd yoona utk menguji yoona, semoga next chap alurnya banyak yoonhun nya ya thor 😄 goodjob thor. keep writing!

  4. Welehhh welehh.. Ahn jaehyun yg masik muda di rubah jd ahjussi” kim soo hyun juga (‾▽‾”) astagaa masik kecil udh main civok” aja (‾⌣‾”٥) semoga aja yoona+sehun cepet nyadar klo mereka tuh berjodohhhhh.. Ffx bagus kok ^^ next chap update asap!

  5. Sehun dingin banget huaaa😦 tapi cocok sama yoona ehehe. Aku ngeshipnya yoona sama sehun…maaf chanyeol oppa😦 smgt unni!<3

  6. Kenapa sehun dingin banget.-. Penasaran nanti yoona bakalan sama chanyeol atau sehun hihi. Ditunggu lanjutannya thor^^

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s